26.4.10

Kisah Pengemis dan Seorang Saudagar.


Seorang pengemis datang mengetuk pintu sebuah rumah salah seorang saudagar kaya. Ia meminta sepotong roti untuk dimakan. ”Ini bukan toko roti,” kata saudagar kaya itu dengan ketus. ”Jika demikian, apakah kau memiliki sedikit daging,” ujar pengemis memohon. ”Memangnya rumah ini terlihat seperti tempat jagal,” kata saudagar kaya itu lagi. ”Dapatkah kuminta sedikit tepung?” ”Memangnya kau dengar suara penggilingan di rumah ini?” ”Kalau begitu seteguk air saja…” ”Di sini tak ada sumur.”

Apapun yang diminta si pengemis selalu dijawab oleh saudagar kaya itu dengan ucapan yang menyakitkan. Pada dasarnya, saudagar kaya itu tak mau memberikan apapun untuk si pengemis itu.
Akhirnya si pengemis itu berlari masuk ke dalam rumah saudagar tersebut, mengangkat jubahnya dan berjongkok seolah-olah hendak buang hajat.
”Hai, apa yang kau lakukan,” ujar saudagar kaya itu dengan nada marah dan heran.
”Diam kau orang yang menyedihkan. Tempat kosong seperti ini hanya pantas untuk menjadi tempat buang hajat. Karena tak ada seorang pun atau apapun yang ada di sini. Jadi harus diberi pupuk biar subur.” Pengemis itu kemudian berkata,
”Jika kau burung, jenis apakah kau ini? kau bukan elang yang dilatih untuk jadi peliharaan bangsawan, bukan pula merak yang mempesona setiap yang memandang, bukan juga kakaktua yang berkisah lucu. Kau bukan kutilang yang bernyanyi kasmaran, kau bukan Hud hud yang membawa pesan Sulaiman, atau bangau yang membangun sarang di tepi tebing. Lalu apa kau ini? Kau spesies yang tak dikenal. Kau berdalih untuk mempertahankan harta milikmu. Kau telah melupakan Dia Yang tak peduli pada harta benda, Yang tak mengambil keuntungan sedikitpun dari setiap hubungan-Nya dengan manusia…."

(http://majelisalanwar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Get this blog as a slideshow!