14.5.10

Mempertahankan NU Sebagai Organisasi Umat



(Oleh:Abdul Mun’im DZ)
Sudah lama kalangan dalam NU sendiri menginginkan agar NU meningkatkan khidmahnya pada umat atau warga. Setidaknya selama ini ada dua kesan pertama seolah NU hanya berurusan dengan kelompok elit politik di luar NU. Hal itu tidak sulit dibuktikan sehari-hari kantor PBNU diisi dengan tamu dari kalangan mereka.

Kedua ada kesan bahwa NU telah menjadi organisasi yang mengurus para pengurusnya sendiri. Hanya pengurus yang terus mengalami mobilitas sementara warganya tertinggal di landasan. Karena itu dorongan untuk memperkuat pengabdian pada umat belakangan ini sangat kuat.

Sepopulis apapun organisasi pasti punya kecenderungan ke arah elitisme, termasuk NU sendiri. NU didirikan para ulama yang berpendidikan tinggi dari Timur Tengah, mereka terdiri dari para saudagar yang bergelar haji seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Asnawi, adalah kelas elit pada masanya. Tetapi karena kepeduliannya yang tinggi pada umat, maka para ulama pendiri NU ini mengabdikan seluruh hidupnya pada warga. Pada masa awal-awal tahun berdirinya, Muktamar NU hanya dibiayai oleh dua tiga orang warganya yang saudagar yang kaya, sehingga bisa menyelenggarakan acara di hotel besar di Surabaya, Semarang atau di Magelang.

Mengingat dominannya kelas ulama dan pengusaha dalam pengurusan awal NU maka elitisme sangat kelihatan, sehingga ketika dalam Muktamar NU Ke-13 di Menes Banten Kiai Machfudz Siddiq mengingatkan pada para pimpinan NU agar NU tetap dipertahankan sebagai organisasi Rakyat yang sejati. Saat itu orang-orang dari kota kelihatan agak kurang pas dengan penempatan Muktamar di daerah pedalaman itu. Karena itu Ketua Umum PBNU mengingatkan agar para pimpinan NU harus mampu hidup bersama rakyat, tidur bersama rakyat dan makan apa yang dimakan rakyat, agar tahu persoalan rakyat dan itu tanggung jawab NU kata Kiai dari Jember ini.

Apalagi saat ini dalam kehidupan sosial yang cenderung kapitalisme, kecenderungan pada materialisme sebenarnya merupakan kecenderungan pada elitisme, bahkan pada individualisme. Kesemuanya itu merupakan penyakit dalam organisasi. Bagaimanapun organisasi adalah wadah hidup bersama, sehingga semuanya dipastikan bisa bekerja sama. Kerjasama bukan untuk menyejahterakan diri sendiri dalam kelompok, tetapi untuk menyejahterakan seluruh warga atau anggota organisasi.

Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena semakin besarnya pengaruh NU baik secara nasional maupun internasional, akhirnya kepengurusan NU lebih banyak disibukkan menerima tamu dari berbagai lembaga nasional dan internasional, sehingga kalau tidak diatur atau dibatasi, bisa jadi pekerjaan pengurus NU hanya menerima tamu, sehingga mengurangi kesempatan memikirkan warga NU dan bangsa Indonesia yang hidup masih dalam kemiskinan dan keterbelakangan yang justeru mereka lebih membutuhkan santunan dan uluran tangan.

Dalam kepemimpinan KH Said Aqil Siradj dengan tema kembali ke pesantren merupakan langkah tepat dan strategis untuk meningkatkan kepedulian NU pada masyarakat, sebab kembali ke pesantren pada dasarnya adalah kembali nilai dasar NU yaitu kejujuran, pengabdian dan kesederhanaan. Langkah ini dinilai strategis justru di tengah suasana semua organisasi baik sosial maupun politik tidak mempedulikan rakyat, begitu pula hamper seluruh kebijakan pemerintah tidak ada yang berpihak dan menguntungkan rakyat.

Sebagai organisasi sosial keagamaan yang menjunjung nilai keadilan dan kejujuran serta kesederhanaan maka NU-lah yang harus mempelopori kembali peduli pada rakyat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Get this blog as a slideshow!