14.6.10

Mengenal BID'AH (2) Counter Argument


Hanya pada zaman modern ini saja bid'ah tiba2 menjadi justifikasi ampuh dari sebagian muslimin untuk menyerang sebagian saudaranya sendiri. Tepatnya, sejak Muhammad bin Abdul Wahab berkongsi dengan bani Saud dalam mengembangkan wilayah kekuasaannya mulai pertengahan abad 18. Tahta memang godaan yg sangat ampuh. Karena itu, kaum muslimin yang suka banget menuduh bid’ah terhadap saudara2-nya itu sering diasosiasikan dengan Wahabiyah.
Anyway, satu contoh cara berargumen Imam Ali KW dengan menggunakan premis lawannya adalah ketika Muawiyah menolak membai’at Amirul Mu'minin Ali setelah meninggalnya Utsman. Imam Ali tidak menggunakan argumen bahwa beliau adalah Imam Zamannya, i.e. ulil amri yang sah di jaman itu dalam meneruskan kepemimpinan Muhammad SAW (lihat An-Nisa: 59) , sebab Muawiyah nggak meyakini akidah ini.
Tercatat di Nahjul Balaghah, argumen Amirul Mu'minin adalah mengingatkan Muawiyah bahwa beliau AS dibai’at oleh orang2 yg sama dengan yg membai’at tiga khalifah sebelumnya, yaitu orang2 yg punya keyakinan sama dg Muawiyah, yaitu yang berkeyakinan bahwa kepemimpinan umat ditentukan oleh musyawarah penduduk Hijaz, dan beranggapan bahwa jika umat sudah menetapkan maka itu pertanda ridha Allah (semacam vox populi vox Dei -nya Yunani), dan tiada alasan bagi penduduk luar Hijaz untuk menolaknya. Jadi, jika Muawiyah telah membai’at ketiga khalifah sebelumnya, maka tiada alasan baginya untuk tidak membaiat Amirul Mu'minin AS. Toh, ketika Utsman terpilih (melalui musyawarah terbatas 6 orang dg hak veto pada Abdurrahman bin Auf), atau ketika Umar terpilih (melalui wasiat Abu Bakar), dan juga ketika Abu Bakar terpilih (melalui musyawarah sangat terbatas pula di Saqifah), Muawiyah nggak ikut andil dalam pemilihan2 itu, dan toh dia mau membaiat mereka. Jadi, ketika Muawiyah tetap nggak mau membaiat Ali AS dan memilih berperang melawan Imam Ali, terlihat jelas apa motif dia yg sesungguhnya, yakni kekuasaan alias tahta. Contoh lainnya, ketika Imam Ali mengutus Abdullah bin Abbas RA untuk berunding dg Khawarij, beliau berpesan agar "berargumenlah menggunakan Sunnah Nabi SAW, jangan menggunakan Al Quran sebab ayat2 yg kita pahami seperti ini akan mereka tentang dg pemahaman mereka sendiri, tapi kalau sunnah Nabi SAW mereka nggak bisa berkilah, sebab sebagian mereka adalah sahabat Nabi SAW yang mana sunnah beliau masih melekat dalam ingatan". Tercatat Ibnu Abbas sukses dalam membawa sebagian besar Khawarij untuk bertaubat, sedangkan sebagian kecil lainnya yg masih mbandel kemudian tumpas dalam peperangan Nahrawan. Oke, kembali ke topik. Perlu kiranya kita mengetahui pemahaman para penuduh bid’ah itu seperti apa:
1. Setiap bidah adalah dhalalah, jadi nggak ada bidah hasanah.
2. Definisi bid'ah adalah: hal2 baru, invention ataupun inovasi berkaitan dg ibadah (dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah) yang nggak ada tuntunannya secara syar'i di Al Quran maupun sunnah Rasul SAW DAN KHULAFA ARRASYIDIN. Menurut Syaikh Utsaimin: “According to Sharee'ah, the definition is 'Worshipping Allah in ways that 'Allah has not prescribed.' If you wish you may say, 'Worshipping 'Allah in ways that are not those of the Prophet ( peace and blessings of Allah be upon him) or his rightly guided successors (al-khulafaa' alraashidoon).'” (Majmoo' Fataawa Ibn ' Uthaymeen, vol. 2 , p. 291). Berdasarkan ini, maka mereka men-bid'ah dhalalah-kan majelis2 tahlil, ratib, shalawat, maulud, asyura, dll yang daftarnya makin hari makin panjang aja. Bahkan mengucap shadaqallah al azhim setelah membaca ayat Quran pun dianggap bid'ah. Yang lebih heboh lagi, mereka sekarang udah mulai membidahkan pemikiran, yg notabene adalah non-kasat mata. Jadi, hanya dengan berpikir saja, anda bisa menjadi ahli bidah dan memesan tiket gratis ke neraka, misal berpikir menta'wilkan ayat2 Quran ataupun berpikir kontekstual macam caranya Islam liberal itu :-).
3. Sebagai tambahan penting, para pengusung anti-bid'ah ini mengklaim bahwa mereka mengikuti manhaj Salaf ash-shaleh. Konsekuensinya, mereka meyakini bahwa generasi Salaf (tiga generasi pertama muslimin: sahabat, tabi'in dan tabi'i-tabi'in) adalah yang terbaik, dan TIDAK ADA SEORANGPUN di antara mereka yang ahli bid'ah.

Dari ketiga point di atas, kita nggak bisa mendebat point 1 , sebab haditsnya disepakati oleh semua madzhab (termasuk Syi'ah). Tapi berkaitan dg point 2 dan 3 , kita boleh mengajukan pertanyaan2 berikut:
Q1. Apa sebetulnya definisi bid'ah menurut Rasul SAW? Apakah definisi Rasul SAW sama dg definisi para penuduh bid’ah ini (lihat definisi dari Syaikh Utsaimin di atas)? Apakah Rasul SAW mengatakan bahwa memperkenalkan sesuatu yang baru dalam ibadah itu sama sekali terlarang (totally prohibited) sepeninggal beliau dan khulafa arrasyidin, ataukah justru beliau mengindikasikan bolehnya hal ini dilakukan asal memenuhi syarat2 tertentu? Maka jika ditemukan ada hadits, yang diakui sahihnya oleh para penuduh bid’ah, yang mengatakan bolehnya ber-inovasi dalam ibadah dg syarat2 tertentu, akan goyahlah pondasi pembid'ahan yang mereka lakukan. Hal ini berarti mereka telah melakukan bid'ah dalam mendefinisikan bid'ah :-).
Q2. Jika hal2 baru yang dilakukan oleh para khalifah yang empat dianggap sebagai sunnah khulafa yang boleh diikuti, bagaimana dg hal2 baru yang dilakukan para sahabat (selain dari khalifah yang empat) dan generasi Salaf lainnya? Maka jika ditemukan ada riwayat, yang diakui sahihnya oleh para penuduh bid’ah, yang menceritakan inovasi2 para sahabat dan Salaf, akan porak-porandalah tiang pancang bangunan pembid'ahan mereka. Jika mereka meyakini tidak ada satupun dari sahabat dan generasi Salaf yang melakukan bid'ah, berarti hal2 baru yang mereka lakukan itu tidaklah termasuk bid'ah. Konsekuensinya, generasi selanjutnya pun boleh melakukan hal2 baru dalam ibadah, asal masih dalam koridor prinsip2 dasar dari hal2 barunya pada sahabat dan salaf itu. Dalam hal ini, berarti para penuduh itu telah melakukan bid'ah pula ketika nggak mau mengakui bahwa sahabat dan generasi salaf pun ada yang berbid'ah ria :-).
Q3. Benarkah para penuduh bid’ah ini telah konsisten berpegang pada pemahaman mereka? Apa nggak ada satu saja ibadah mereka yang sebetulnya adalah bid'ah jika diukur menggunakan kriteria mereka itu? Maka jika ditemukan ada praktek ibadah yang dilakukan oleh para penuduh bid’ah yang boleh masuk kategori bid'ah versi mereka sendiri, tapi mereka ngotot nggak mau mengakuinya sebagai bid'ah, maka akan hancur luluhlah seluruh bangunan pembid'ahan mereka itu.
Nah, saya yakin sobat-sobit nahdhiyin di milis ini lebih tahu tentang hadits2 berkaitan dg Q1 , riwayat2 terkait Q2 , dan berita2 terkait Q3 yang kita perlukan untuk meruntuhkan keyakinan mereka dgn menggunakan pemahaman mereka sendiri itu.
Saya ada sedikit hadits dan riwayat yg, insya Allah, akan kita bahas nanti. Tulisan berikutnya akan fokus pada detail dari Q1 sampai Q3 , tapi sebelum itu, perlu diingat bahwa sebetulnya masih bisa dikembangkan Qs lainnya. Misal seperti di bawah ini.
Q4. Jika sunnah khulafa arrasyidin tidak termasuk bid'ah, lalu apakah khulafa arrasyidin itu hanya yang EMPAT itu saja? Jangan2 ada pula khulafa arrasyidin lainnya, yang malah dituduh sebagai ahli bid'ah oleh para penuduh bid’ah itu...? Lho kok bisa? Ya, mari kita simak. Hadits2 , yang diakui pula oleh para penuduh bid’ah itu, justru mengatakan jumlah para khalifah setelah Rasul SAW adalah 12 , semuanya dari Quraisy, dan yang terakhir adalah Imam Mahdi AS.
Disebutkan di sahih Bukhari, pada bagian awal dan akhir Kitab Al Ahkam, bab Al Umara min Quraisyi, juz IV. Sedangkan di shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Al- Imarah, juz II. Masih ada lagi hadits2 serupa di Musnad Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi. Bunyinya kuranglebihnya sbb. “Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 Khalifah, semuanya dari Quraisy.” Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Setelahku akan datang 12 Amir.' Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar, tapi ayahku berkata: 'Semuanya dari Quraisy'.”
Jadi menurut pemahaman ini, setelah Imam Ali (khalifah ke-4) masih ada lagi 7 khulafa arrasyidin almahdiyyin*) lainnya sebelum turunnya Khalifah ke-12 yang terkenal karena diprediksi akan menegakkan keadilan dan membebaskan seluruh dunia dari kezaliman itu. Dan inovasi ketujuh khulafa ini pun jelas bukanlah bid'ah. Maka jangan-jangan, apa yang selama ini mereka tuduhkan sebagai bid'ah2 itu sebetulnya adalah sunnahnya 7 khulafa ini, hanya saja mereka tidak mengenali ketujuhnya sebagai para khulafa urrasyidin almahdiyyin.
Mungkin akan timbul sanggahan dari mereka, “lho, gimana mungkin kami tidak mengenali seorang khalifah kaum muslimin yang rasyid dan mahdi?” Jawabannya, ini suatu hal yg bukan tak mungkin. Ingat, banyak sahabat (i.e. Muawiyah, Amr bin Ash dan kubunya) pun tidak mengenali (baca: mengakui dan membai’at) Imam Ali AS sebagai khalifah yang arrasyid wal mahdi. Bahkan, seorang sahabat yang wara dan zuhud, Abdullah bin Umar pun (correct me if i'm mistaken) tidak ikutan membai’at Imam Ali AS, whatever his reason was. Nah, kalau orang2 selevel sahabat saja bisa tersilap tidak mengenali seorang khalifah seperti itu, apalagi para penuduh bid’ah itu yang mereka sendiri mengklaim bahwa generasi Salaf adalah jauh lebih baik dari mereka, bukan? Jadi, kemungkinan mereka salah menuduh dan salah men-judge mengenai bid'ah itu ada, bahkan probability-nya sangatlah besar. Hal ini mengingat tanda2 zaman di banyak hadits, sekarang ini adalah jamannya Imam Mahdi AS. Suatu hal yang musykil kiranya kalau kita masih mengharapkan adanya 7 khulafa arrasyidin almahdiyyin lagi sebelum munculnya Imam Mahdi AS.
Jadi, yang 7 ini sudah lewat kemarin2 , cuma orang2 , khususnya para penuduh bid’ah itu nggak mengenalinya saja.

0 komentar:

Posting Komentar

Get this blog as a slideshow!