11.4.10

Ribuan Umat Islam Pekalongan Hadiri Tahlil Akbar 100 Hari Gus Dur


Ribuan umat Islam Kota Pekalongan dan sekitarnya Kamis (8/4) malam kemarinmenghadiri tahlil akbar dalam rangka memperingati 100 hari wafatnya Presiden Ri ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur.

Acara yang ditempatkan di Masjid Syuhada' tidak saja dihadiri warga pengurus NU, Banom, Lembaga, Lajnah dan warga nahdliyyin saja, akan tetapi para umaro dan pejabat muspida Kota Pekalongan nampak larut dalam kalimat 'Laa ilaaha Illallah' untuk bersama-sama mendo'akan Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid.

Cuaca yang cukup cerah tadi malam salah satu penyebab ribuan ummat Islam berbondong-bondong mendatangi Masjid Syuhada' yang berada di tegah-tengah Kota Pekalongan. Apalagi di kegiatan tahlil akbar, pihak panitia juga memamerkan foto-foto Gus Dur yang dikemas dalam bingkai yang menyebabkan setiap pengunjung yang hadir sebeum masuk ke arena tahlil akbar menyempatkan diri melihat lebih dekat sosok Gus Dur dalam bingkai foto.

Kegiatan yang digelar PCNU Kota Pekalongan kerjasama dengan Yayasan Syuhada' Kota Pekalongan menghadirkan pembicara Habib Ja'far Shodiq Al Munawar dan DR HM. Arja' Imroni keduanya dari Semarang untuk memberikan tausyiyah dihadapan ribuan warga nahdliyyin.

Dalam tausyiyahnya, DR. HM Arja' Imroni mengatakan, kegiatan peringatan haul seperti peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur memiliki dua tujuan, yakni di samping untuk mendo'akan Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid yang bertepatan dengan 100 harinya, juga untuk mengingatkan kepada manusia yang masih hidup bahwa sesungguhnya setiap makhluq ciptaan Allah SWT pasti mati.

Dikatakan, tidak hanya manusia saja yang pasti mati, akan tetapi binatang, tumbuh-tumbuhan hingga benda-benda tak bernyawa sekalipun ada batasnya, sehingga hal semacam ini tidak perlu disesali, karena kalau sudah sampai pada saatnya, semua yang ada di bumi ini pasti akan berakhir, ujar Dosen Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo Semarang ini.

"Kita harus bisa mencontoh Gus Dur, lihat saja hingga sekarang meski sudah mati tetap saja makam Gus Dur tetap ramai dikunjungi banyak orang untuk mendo'akannya," tandasnya.

Sementara itu, Walikota Pekalongan dr. H. Basyir Ahmad dalam sambutannya mengatakan, sosok KH. Abdurahman Wahid tidak cukup hanya dikagumi saja, akan tetapi yang lebih penting ialah meneladani sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Basyir, Gus Dur adalah figur yang bisa diterima oleh semua pihak, baik kalangan muslim maupun non muslim, sehingga sikap toleransi, mengakui keberagaman budaya maupun agama diterima dengan baik menjadikan masyarakat aman dan tenteram.

Membludaknya jama'ah yang hadir meski telah diantisipasi panitia, tetap saja hal ini di luar dugaan. Pasalnya, pihak panitia hanya menyebarkan undangan sekitar 400 undangan, akan tetapi yang hadir lebih dari 2000 ummat Islam yang tersebar di Kota Pekalongan dan sekitarnya. Ini membuktikan bahwa sosok Gus Dur masih menjadi magnit bagi ummat meski sudah meninggal.

Hal tersebut dibenarkan Mohammad Luthfi aktifis Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan yang juga hadir bersama-sama jama'ah lainnya mendo'akan Gus Dur.

Menurutnya, hal terpenting ialah bagaimana ke depan kita-kita yang masih hidup tidak cukup hanya dengan bisa mengagumi tokoh pluralis ini, akan tetapi kita dituntut bisa mengimplementasikan sikap dan perilaku Gus Dur dalam kehidupan sehari-hari.

0 komentar:

Poskan Komentar

Get this blog as a slideshow!