Tampilkan postingan dengan label Gus Dur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gus Dur. Tampilkan semua postingan

22.12.11

SYI'IRAN GUS DUR




Ngawiti ingsun nglaras syingiran
Kelawan muji maring pengeran
Kang paring rohmat lan kanikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syariat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro

Akeh kang apal Quran Hadise
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepahese gebyareng dunyo
Iri lan meri sugieh tonggo
Mulo atine peteng lan nisto

Ayuh sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sa'pranatane
nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine

Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan sari ngelmune
Laku torikot lan ma'rifate
Ugo hakikot manjing rasane

Al Quran Qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangan gusu waskito
Den tanjebake ing jero dodo

Kumantil ati lan pikiran
Ngrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu'jizat rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Alloh kang moho suci
Butuh rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadlohi
Dzikir lan suluk jog nganti lali

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo nadjan pas-pasan
Kabeh dinakdir saking pengeran

Kelawan konco dulur lan tonggo
Podo rukuno
Iku sunnaeh rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito

Ayuh ngelakoni sekabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senadjan asor toto dzohire
Ananging mulyo makom drajate

Lamon palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh suwargo manggone
Utuh mayite ugo ulese

24.10.11

Kisah Gus Dur ,,, Oleh-oleh Dari Wonosobo


Perjalanan Gus Dur Menziarahi Makam Syeikh Hubbudddin (Wonosobo)

Tak peduli di tengah hutan atau diatas gunung, jika ada makam wali, Gus Dur akan berusaha menziarahinya, sekalipun dengan segala keterbatasan fisik yang dialaminya. Dengan tekad kuatnya tersebut, segala rintangan dapat dilaluinya.

Di Wonosobo, daerah yang menjadi atap langitnya Jawa Tengah, terdapat seorang wali bernama Syeikh Hubbuddin yang dimakamkan di daerah tersebut. Tak ada orang yang tahu dimana makam yang sebenarnya.

Sastro Al Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur menuturkan, bersama Gus Dur mereka sampai di Wonosobo hampir subuh, lalu mampir di salah satu pesantren di kota tersebut.

Ditemani beberapa Gus (putra kiai), mereka berangkat ke sebuah daerah yang diyakini masyarakat menjadi makam wali tersebut, posisinya tepat dibawah sebuah pohon besar tetapi Gus Dur tak menghiraukannya.

Lalu mereka segera berjalan menuju lokasi lain, ditengah-tengah perjalanan tersebut, rombongan tersebut bertemu dengan orang tua. Dalam suasana yang masih sepi tersebut, mereka mengamati orang tua yang terus berjalan di tengah-tengah sawah. Tiba-tiba saja, ketika ditengah sawah itu orang tua tersebut menghilang.

Gur Dur pun berujar, "Ya itu tadi Syeikh Hubbuddin dan ditengah-tengah sawah tadi makamnya," katanya.

Di Desa Candirejo Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah terdapat sebuah makam kuno. Konon, makam tersebut bersemayam jazad seorang tokoh pembawa alirah Tarekat Naqsbandiyah pertama kali di tanah Jawa yaitu Syekh Abdullah Qutbudin . Dia berasal dari Iran dan menyebarkan agama Islam dengan membawa bendera tarekat yang kemudian menyatu dengan kehidupan masyarakat Jawa. Bahkan diyakini, Candirejo sendiri merupakan desa Islam pertama di Jawa karena kedatangan Syekh Abdullah Qutbudin ini.


Belum ada penelitian ilmiah yang mengupas Syekh Abdullah Qutbudin ini. siapa dirinya dan bagaimana sepak terjangnya dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, khususnya di Wonosobo. Hingga kini cerita tentang tokoh tersebut masih dari mulut ke mulut saja.

Sebelumnya masyarakat tidak mengetahui siapa yang dikuburkan di makam tersebut, sehingga makam itu seakan dibiarkan saja. Sampai akhirnya pada tahun 1994, Alm. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur datang ke Desa Candirejo mengunjungi makam.

Penduduk setempat sebelumnya tidak tahu ada makam tokoh terkenal Islam karena makamnya tidak sendirian, tapi menjadi satu dengan kuburan masyarakat desa. Tidak seperti tokoh-tokoh lain, yang makamnya berada di ketinggian atau sendirian. Makam Syekh Qutbudin ini campur dengan makam desa.

Sejak dikunjungi Gus Dur, makam Syekh Abdullah Qutbudin mulai ramai peziarah. Gus Dur yang menemukan makam tokoh yang bersejarah dalam perkembangan Islam di Jawa ini. Menurut cerita KH Chabibullah Idris selaku ulama terkenal di Wonosobo, Gus Dur pada tahun 1994 meminta dirinya untuk menemani mencari makam Syekh Abdullah Qutbudin yang berada di candi.

KH Chabibullah Idris saat itu tidak paham betul yang dimaksud candi itu nama desa atau kawasan candi di Dataran Tinggi Dieng. Menurut Gus Dur, Islam pertama kali masuk ke Jawa di candi. KH Chabibullah Idris ini tidak tahu candi itu mana, apakah komplek candi Dieng atau di mana. Gus Dur datang ke Wonosobo dan memintanya untuk menemani mencari makam tokoh Islam ini tersebut.

Peristiwa tersebut jauh sebelum Gus Dur menjadi Presiden RI. Tokoh kharismatik ini memang memiliki kepedulian tinggi terhadap peninggalan bersejarah termasuk mencari makam-makam yang memiliki nilai sejarah tinggi. Seperti halnya makam Syekh Abdullah Selomanik di Dusun Kalilembu, Dieng Wetan yang juga merupakan tokoh religius.

Menurut cerita Gus Dur, Syekh Abdullah ini mendirikan pesantren di Desa Candirejo namun karena tidak memiliki keturunan, lama-kelamaan pesantrennya tersebut hancur. Ini bisa dilihat dari banyaknya batu-batu candi yang berada di sekitar makam.

Diawali dari kedatangan Gus Dur tersebutlah, makam akhirnya banyak diziarahi masyarakat, terutama dari kalangan pondok pesantren. Dikatakan KH Chabib mengutip pengakuan warga Candirejo, bertahun-tahun lalu, makam itu pernah didatangi orang asing yang juga berprofesi sebagai antropolog dari Eropa yang tengah mengadakan penelitian.

Muncul Cahaya di Atas Makam
Desa Candirejo Kecamatan Mojotengah tidak terlalu jauh dari Kota Wonosobo. Hanya sekitar 8 kilometer, dapat ditempuh dengan mobil maupun kendaraan roda dua. Jalan menuju desa tersebut cukup bagus, sudah beraspal meskipun tidak terlalu lebar.

Namun ada sebagian jalan desa yang masih berbatu-batu. Makam Syekh Abdullah Qutbudin sendiri berada agak jauh dari desa. Lokasinya di tengah-tengah areal persawahan bercampur dengan makam umum warga setempat.

Letak makam dari perkampungan Candirejo sekitar 1 kilometer, sepanjang jalan menuju makam pengunjung akan disuguhi pemandangan hamparan tanah pertanian berupa tanaman kol, padi dan jagung. Banyak juga pohon-pohon albasia yang tumbuh subur disana.

Di dekat makam terdapat sumber air yang sangat jernih dan dingin serta terus mengalir sepanjang waktu tak pernah kering meskipun musim kemarau. Ketika memasuki makam biasanya akan terkesan dingin dan sunyi lantaran komplek tersebut termasuk makam kuno yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. Makam Syekh Abdullah Qutbudin sendiri berada persis di sebelah kiri pintu masuk dan berada di tengah-tengah akar yang bertonjolan. Sangat sederhana tidak ada cungkup atau kijing mewah hanya berupa gundukan tanah yang pinggir-pinggirnya diberi batu-batu. Selain itu terdapat dua batu nisan berukir di kanan dan kirinya serta ada dua makam di sana yang berdampingan. Menurut warga, satunya adalah makam istri Syekh Abdullah Qutbudin.

Di sekitarnya berserakan batu-batu tua berbentuk persegi panjang seperti bata. Diyakini batu tersebut adalah bekas bangunan pondok pesantren milik Syekh Abdullah. Konon, Syekh Abdullah tidak mau makamnya dibangun mewah lantaran lebih memilih apa adanya berupa batu nisan yang berbentuk seperti candi.

Menurut KH Chabibullah Idris, masyarakat sini sering melihat ada cahaya yang muncul dari makam. Pernah petani cabe menunggui tanamannya, tiba-tiba ada cahaya terbang dari makam. Pernah juga ada seorang pimpinan pondok pesantren bersama 12 santrinya berziarah. Lalu hujan sangat deras. Anehnya, mereka tidak kehujanan sama sekali.

Dalam waktu dekat, jalan menuju makam akan diaspal agar memudahkan peziarah datang ke makam sekaligus didirikan tempat representatif. Apabila mulai ramai, diharapkan direspon warga dengan mendirikan tempat berjualan baik makanan maupun suvenir. Tidak ketinggalan dibangun juga tempat parkir yang memadai. Oleh sebab itu Pemerintah Kabupaten Wonosobo saat ini berusaha mengembangkan wisata religius dengan mengangkat potensi lokal setempat.

Makam Syekh Abdullah Selomanik, Dikunjungi Gus Dur dan Tokoh Nasional.

Syekh Abdullah Selomanik adalah keturunan Brawijaya V dari Majapahit. Putra Raden Bintoro I yang bergelar R Lembu Peteng (Kyai Tarup). Diyakini tokoh merupakan penyebar agama Islam pertama di Lembah Dieng. Sampai sekarang makamnya kerap dikunjungi para peziarah.Peziarah datang dari berbagai kota di luar Wonosobo. Makam ini menjadi terkenal setelah mantan Presiden RI Gus Dur berkunjung beberapa kali.

Konon sebelum menjadi presiden Gus Dur kerap berziarah ke makam Syekh Abdullah Selomanik atau warga menyebutnya Mbah Abdullah. Biasanya ia datang malam hari atau dini hari dengan rombongan beberapa mobil. Sebulan bahkan bisa 3-4 kali datang. Saat suasana Jakarta memanas, konon Gus Dur memilih ziarah selama 4 hari di makam itu.


Pada saat khaul, tidak kurang 10 ribu orang hadir di makam. Mereka berasal dari luar Kota Wonosobo. Makam Mbah Abdullah Selomanik dipugar tahun 2000. Pada saat digali terdapat kain kafan dan jenazahnya masih utuh. Konon, jenazah ini adalah para santri Abdullah Selomanik.

Di sebelah bangunan makam terdapat pohon besar. Pada saat terjadi angin lisus besar, dahan ranting yang patah seharusnya jatuh tepat di makam di bawahnya. Anehnya, dahan justru menimpa makam di depannya agak jauh. Sementara makam tua di bawahnya tetap utuh.

Untuk mencapai makam tersebut, pengunjung melewati rumah penduduk yang berdesak-desakan karena minim lahan pemukiman. Kemudian menaiki tangga yang telah dibangun sedemikian rupa. Sebelum berziarah, pengunjung disarankan untuk berwudlu agar bersih.

Bangunan makam cukup besar, di tengahnya terdapat kijing besar yang ditutup kehttp://www.blogger.com/img/blank.giflambu. Ruangan dibagi dua untuk putra dan putri. Mereka dapat berdoa khusyuk di depan makam.

Bila ingin menikmati pemandangan pegunungan, pengunjung dapat duduk-duduk di luar bangunan makam. Angin dingin khas pegunungan menghujam kulit. Kelelahan selama perjalanan bakal sirna melihat berderet-deret tanah pertanian di atas perbukitan.

Berkunjung ke makam Abdullah Selomanik ini dapat dipadukan dengan wisata alam lain. Dari makam, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke Dataran Tinggi Dieng. Lalu lewat Desa Sembungan melihat Telaga Cebong, turun ke Desa Mlandi, mampir sejenak di curug Sikarim. Setelah itu singgah di Telaga Menjer yang airnya tenang.

(sumber)

9.4.11

Gus Dur dan Tamu dari Aceh


Sebagai tokoh yang dihormati dan dikagumi oleh banyak orang dari berbagai kalangan, rumah Gus Dur tak pernah sepi dari kunjungan para tamu , baik dari warga NU sendiri, pejabat , politisi, aktivis , wartawan dan sebagainya. Gus Dur menerima tamu - tamunya biasanya dengan pakaian non formal . Karena kondisi fisiknya yang sudah lemah , biasanya para tamu diajak mengobrol sambil tiduran.

Adalah Nuruddin Hidayat, salah satu santri Gus Dur suatu ketika merasa terheran-heran ketika ada tamu , Gus Dur minta untuk digantikan pakaiannya dengan kain sarung dan peci, seperti ketika mau sholat Idul Fitri. Seumur -umur ia belum pernah melihat Gus Dur seperti itu . Rombongan tamu tersebut sampai ditahan -tahan agar tidak masuk rumah dahulu , bahkan Gus Dur dipinjami salah satu sarung milik santrinya agar bisa cepat berganti pakaian.
Tamu tersebut, yang diketahuinya ternyata dari Aceh itu berpakaian sederhana ,lumayan dekil dan memakai celana seperti yang biasa dipakai oleh bakul dawet ( penjual dawet ) . Tamu tersebut diantar oleh aktivis Aceh.
Perilaku Gus Dur dan tamunya juga aneh. Setelah keduanya bersalaman layaknya tamu dan tuan rumah, Gus Dur pun duduk di karpet, demikian pula tamunya , tetapi tak ada obrolan diantara keduanya. Lalu Gus Dur tidur, tamunya juga tidur, suasana menjadi sunyi senyap dan berlangsung sekitar 15 menit.
Setelah sang tamu bangun, tamu itu langsung pamit pulang , tak ada pembicaraan kedua orang tersebut.

Udin, panggilan akrab Nuruddin , merasa penasaran , segera setelah tamu pergi bertanya kepada Gus Dur ; “Gus, nggak biasanya menerima tamu seperti ini”
Gus Dur menjawab: “Tadi itu Wali ”
Udin bertanya lagi: “Apa ada wali seperti itu selain beliau di Indonesia ? ”
Gus Dur : “Tidak ada , adanya di Sudan ” .

Orang yang sangat dihormati Gus Dur tersebut ternyata adalah almarhum Tgk Ibrahim Woyla dari Woyla Aceh Barat. Tokoh ini merupakan orang yang sangat dihormati di Aceh. Masyarakat Aceh memanggilnya " Tgk Beurahim Wayla" dan percaya bahwa ia sering menunaikan sholat Jum’at di Makkah dan kembali pada hari itu juga.
Menurut Cerita masyarakat disana , dia bisa berjalan cepat bahkan lebih cepat dari mobil. Dia jarang naik bus, tapi lebih senang berjalan kaki. Dia juga dipercaya bisa menghilang , Dan ada pula orang yang menyebutnya sebagai "dewa tidur" , yang menghabiskan hari-harinya dengan tidur.
Tgk. Ibrahim Woyla juga bisa mengetahui perilaku seseorang dan seringkali orang yang menemui beliau dibacakan kesalahannya untuk di perbaiki. Sebelum terjadinya tsunami , Abu Ibrahim yang pernah mengatakan ''air laut bakal naik sampai setinggi pohon kelapa , nyatanya benar di Aceh terbukti tsunami. Posisi tidur Abu Ibrahim yang dianggap aneh ( melengkung / meukewien ) ucapannya sedih melihat manusia banyak seperti hewan serta mengatakan dunia ini sudah semakin sempit dan masih banyak cerita gaib yang menjadikan ulama kharismatik ini selalu dicari -cari hanya untuk dimintai berkahnya.
Tokoh kharismatik ini wafat pada Juli 2009 lalu, dalam usia 90 tahun di kediamannya di Desa Pasi Atceh, Kecamatan Woyla Kabupaten Aceh Barat dan dikebumikan tak jauh dari rumahnya. Ribuan pelayat memberinya penghormatan terakhir.Lahumul faatihah!.... (mkf/NU Online)

6.4.11

Gus Dur dan Doa Seorang Pemulung

Almaghfurllah KH.Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) menghormati siapa saja , tak peduli pangkat , jabatan dan asalnya . Bahkan untuk urusan doa,asal orang tersebut dekat dengan Allah , Gus Dur akan memintakan doa kepada orang tersebut .
Nuruddin Hidayat , salah satu santri Gus Dur di Pesantren Ciganjur menuturkan pengalamannya yang sangat berkesan ketika ia diminta oleh Gus Dur untuk mencari pemulung yang menyampaikan salam kepadanya.
Udin, panggilan akrab Nuruddin, menceritakan , kisah ini bermula ketika ia berada di sebuah warung dekat Mall Cilandak sekitar tahun 2003 yang lalu. Ketika hendak pergi dari warung tersebut, ia bertemu dengan seorang pemulung , seorang bapak -bapak yang sudah berusia tua dengan keranjang di pundaknya , sementara tutup kepalanya memakai caping.
Dengan tiba -tiba , orang tersebut memberi salam “ Assalamu’alaikum ”
Udin menjawab “Wa'alaikum salam ”
Ia bertanya lagi “Mas dari pesantren Ciganjur ya?”
Udin menjawab “ Iya. Dalam hati Udin agak heran , kok tahu kalau dirinya dari Pesantren Ciganjur tempatnya Gus Dur ”.
Selanjutnya orang itu hanya bilang , "Sampaikan salam saya kepada Gus Dur , " dan Udin pun mengiyakan.
Orang tua itu kemudian memperkenalkan namanya, sebut saja HMZ . ( nama sebenarnya sengaja dirahasiakan karena orang tersebut masih hidup). Karena terburu- buru, dan mengingat hanya seorang 'pengemis' saja yang ingin menyampaikan salam kepada Gus Dur sehingga Udin tidak begitu memperhatikan dan langsung pergi.

Baru seminggu kemudian , pagi-pagi ketika Gus Dur berolahraga , salam tersebut disampaikan. “Gus dapat salam dari HMZ ”
Gus Dur bertanya "HMZ yang mana ?" ( karena banyak orang dengan nama HMZ )
“HMZ yang pemulung ” jawab Udin.
Gus Dur bilang “Kon rene, lho kuwi sing tak golei” ( Suruh ke sini, orang itu yang saya cari -cari )
Udin mengaku kebingungan untuk mencari pemulung tersebut karena ketemunya saja di jalan. tapi ia terus berusaha mencari HMZ , berkeliling mencari di 'basechamp - basechamp' pemulung .
Setelah berusaha keras , akhirnya sebulan kemudian , baru ketemu di daerah Ragunan , tepatnya di Kampung Kandang . Esok harinya orang tersebut diajak untuk bertemu dengan Gus Dur . Pagi harinya , ketika sudah sampai di Ciganjur, Gus Dur bilang kepada pemulung tersebut agar mendoakan bangsa Indonesia .
“Orang tersebut yang membaca doa dan Gus Dur yang mengamini, ” terangnya .
Pertemuan dengan Gus Dur berakhir disitu dan kemudian HMZ diantar pulang , tetapi Udin mengaku terus menjalin komunikasi .
Saat Idul Qurban , Udin mengaku mengirimkan daging kepada orang tersebut malam-malam. “Entah bagaimana, saya belum datang, ia sudah mempersiapkan diri seolah -olah tahu akan ada tamu yang datang dan meskipun dagingnya belum saya serangkan , ia bahkan sudah bilang terima kasih , ” ujar Udin menceritakan . (mkf / NU Online).

1.4.11

LSM LINTAS PELAKU Pemalang Menyayangkan Pembuatan Soal Ujian yang Mendiskreditkan Gus Dur



Koordinator LSM Lintas Pelaku Pemalang Andi Rustono mengemukakan , soal ujian sekolah bagi siswa SMP yang mendiskreditkan mantan Presiden RI KH.Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) dinilai sebuah sikap yang tidak sepatutnya untuk diberikan kepada para siswa.
Materi soal ujian mengenai Presiden Indonesia yang diturunkan karena tersandung kasus Bruneigate dan Buloggate itu meyinggung masyarakat, terutama para pengikut setianya,terlebih,dua kasus tersebut hingga kini tidak benar-benar bisa dibuktikan di pengadilan,karena kasus tersebut sarat bernuansa politik belaka. Bahkan yang lebih parah perihal pembuatan materi soal tersebut akan membuat para siswa timbul rasa benci kepada Gusdur .
“Pembuatan soal itu jelas tidak ada kepatutan , dan kami sebagai salah satu penganut demokrasi dan pengagum Gusdur setelah melihat soal itu sangat menyayangkan dan mestinya tidak perlu terjadi, ” ucapnya.
Penemuan soal UAS SMP yang mengangkat permasalahan Gusdur itu berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun oleh Radar Tegal. Soal itu dibuat oleh guru-guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran ( MGMP ) bidang studi IPS.
Dalam lembar soal ujian, pada soal pilihan ganda nomor 43 disebutkan Presiden Indonesia yang diturunkan karena tersandung kasus Bruneigate dan Buloggate. Menurut Andi , bagiamanapun , tokoh Gusdur harus dihormati dan masyarakatpun harus menghormati jasa -jasanya . Termasuk para guru yang sepatutnya berterima kasih kepada Gusdur yang telah banyak memberikan perubahan terhadap kesejahteraan para guru. “ Pertanyaan dalam soal itu jelas tidak etis , mestinya guru berterima kasih , bukan malah mengajari siswanya agar membenci Gusdur, ” ujarnya.

Dalam soal ujian pada nomor 43, dimana disitu tertulis: “Presiden Indonesia yang diturunkan karena tersandung kasus Bruneigate dan Buloggate adalah Presiden . .. ” Opsi jawabannya ada empat, yaitu a . Soekarno , b. Abdurrahman Wahid, c. Megawati Soekarno Putri dan d . Soeharto . Tentu si pembuat pertanyaan , mengarahkan jawabannya itu pada Abdurrahman Wahid yaitu Gus Dur .
Hal ini pun terungkap dalam klarifikasi wakil tim perumus naskah soal yaitu Ketua Umum Musyawarah Guru Mata Pelajaran ( MGMP ) IPS , Priyatno SPd saat dikonfirmasi sejumlah wartawan pada Kamis siang . Priyatno berdalih , soal itu ada karena memang dalam buku pelajaran dari kemendiknas memang ada tema dimaksud. Pernyataan Priyatno ini juga ditambahi pernyataan Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Drs Sapardi MPd . Dan Sapardi meminta maaf atas adanya soal tersebut .

MENDAPAT REAKSI DARI NU
Namun apakah persoalan itu selesai? Ternyata tidak . Sejumlah organisasi di bawah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pemalang langsung menggelar rapat di Kantor PCNU Jalan Pemuda, Jumat sore kemarin . Mereka adalah dari GP Anshor, LP Maarif , PMII, IPNU IPPNU dan lainnya . Mereka berkumpul secara khusus untuk membahas soal itu.
Disebutkan , sampai munculnya soal itu patut ditelusuri itikad yang ada di belakangnya . Karena jangan sampai tujuan pendidikan dikotori dengan kepentingan politis, atau bahkan kepentingan untuk memojokkan kelompok tertentu , yaitu NU misalnya.
Pemimpin Rapat Imron Khudlori SAg yang juga ketua GP Anshor Pemalang menegaskan , telah disepakati dibentuknya Kaukus Muda NU dari perwakilan oraganisasi di bawah NU yang akan merumuskan sejumlah langkah yang akan ditempuh . “Yang jelas akan kita sikapi. Kita akan kaji secara komprehensif , dan kita siapkan sejumlah langkah untuk kita tempuh ke depan, ” jelas Gus Im , panggilan akrabnya.
Gus Im yang juga menantu kiai ternama Kedawung Comal, Mbah Dimyati (alm) ini menjelaskan , sejumlah langkah akan diambil ,salah satunya bisa turun ke jalan mendemo Dinas Pendidikan. ”Ya kita harapkan demo itu langkah terakhir, jika memang pihak Dinas Pendidikan tidak bisa menetralisir efek soal yang kini telah merasuki otak para siswa SMP kelas IX yang kemarin ikut ujian ,” tegasnya .
Disebutkan Gus Im, yang masih membuat mereka (Nahdliyyin) bereaksi adalah , sikap tidak merasa bersalah yang ditunjukkan Ketua Umum MGMP IPS saat menjelaskan kepada wartawan yang fotonya termuat di surat kabar. “Sejumlah tokoh NU memberikan dukungan penuh atas langkah yang akan kita ambil. Kita ingin generasi muda di Pemalang tidak dirusak secara sistemik dengan fakta yang salah melalui soal ujian ,” jelasnya.
Seperti diketahui,Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Pemalang Drs Sapardi MSi ketika dikonfirmasi terkait masalah pembuatan soal UAS SMP IPS yang menyangkut Gusdur , pihaknya telah mengklarifikasi dengan pihak MGMP , bahwa soal itu tidak ada unsur kesengajaan tetapi karena ada kekhilafan. Selain itu MGMP telah mengakui kesalahan dan akan dijadikannya sebagai pelajaran yang sangat berharga bagi para guru yang ada agar ke depan tidak akan terulang lagi.
Sumber:(apt/jpnn)radartegal.com

19.1.11

Mengganti Assalamu'alaikum Dengan Selamat Pagi, Menyingkap salah satu Kontroversi Gus Dur


Kulo Ndherek, Gus
Oleh : Ahmad Tohari

Adalah Edy Yurnaedi almarhum . Suatu siang , pada 1987, wartawan Majalah Amanah itu bergegas masuk ke ruang redaksi di Jalan Kramat VI Jakarta. Dengan wajah gembira dia meminta beberapa redaktur, di antaranya saya, mendengarkan laporannya . Dia baru selesai mewancarai KH Abdurrahman Wahid di Kantor PBNU . Topik wawancaranya adalah pluralitas internal umat Islam Indonesia . Maka rekaman wawancara pun diputar . Intinya , Gus Dur mengatakan, kemajemukan di dalam masyarakat muslim di Indonesia sudah menjadi kenyataan sejak berabad lalu . Meskipun sebagian besar umat Islam Indonesia menganut Mazhab Syafi’ i namun ada juga yang mengambil mazhab lain. Bahkan penganut Islam Syi’ ah , Ahmadiyah, abangan pun ada .
Menurut Gus Dur tingkat penghayatan umat pun amat bervariasi dari yang hanya berkhitan dan bersyahadat waktu menikah sampai yang bertingkat kiai. Namun , ujar Gus Dur kemajemukan itu harus tetap terikat dalam ukhuwah islamiyah atau ikatan persaudaraan Islam. Artinya, sesama umat Islam yang berbeda aliran maupun tingkatan pemahaman seharusnya saling menyambung rasa saling hormat . Gus Dur sangat tidak suka terhadap istilah Islam KTP atau Islam abangan .
Baginya, semua orang yang sudah bersyahadat dan berkelakuan baik ya muslim. Mereka yang ketika bertamu masih memberi salam dengan ucapan kula nuwun ( Jawa ) , punten ( Sunda ) atau selamat pagi , ya muslim karena syahadatnya . ” Kalau begitu Gus, ucapan assalamu alaikum bisa diganti dengan selamat pagi?” tanya Edy Yurnaedi . ” Ya bagaimana kalau petani atau orang -orang lugu itu bisanya bilang kula nuwun , punten atau selamat pagi? Mereka kan belum terbiasa mengucapkan kalimat dalam bahasa Arab kayak kamu?” Itulah inti pendapat Gus Dur dalam wawancara dengan Edy Yurnaedi.
Edy kemudian mengusulkan wawancara itu dimuat dalam Majalah Amanah edisi depan dengan penekanan bahwa Gus Dur menganjurkan mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi .
MENAIKKAN OPLAH PASAR.
Alasannya cukup konyol . Menurut Edy , Majalah Amanah yang kala itu baru berumur satu tahun harus membuat gebrakan dalam rangka menarik perhatian pasar. ” Kan nanti Gus Dur akan membantah . Dan bantahan itu kita muat pada edisi berikut. Nah, jadi malah ramai kan ? Ini cuma taktik pasar kok ,” Edy ngotot.

Drs H Kafrawi Ridwan MA yang waktu itu jadi pemimpin redaksi lebih suka mengambil sikap momong kepada yang muda. Maka usul Edy ditawarkan kepada rapat . Tentu ada yang pro dan kontra. Celakanya lebih banyak yang pro . Mereka beralasan seperti Edy , cuma taktik pemasaran , dan Gus Dur mereka yakini akan membantah .
Dan terbitlah edisi assalamu alaikum itu. Benar saja, masyarakat riuh. Gus Dur menuai kecaman . Oplah majalah terdongkrak . Dan Edy melanjutkan aksinya dengan mewawancarai kembali Gus Dur . Diharapkan Gus Dur akan membantah bahwa dia telah menganjurkan mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi .
Tapi Edy amat terkejut ketika Gus Dur dengan enteng menjawab, buat apa membantah . ” Biarin, gitu aja kok repot . ” Edy pulang ke kantor dengan wajah lesu. Oleh pemimpin redaksi dia dianggap telah gagal menyukseskan strategi pemasaran . Memang , oplah naik tetapi makan korban berupa terjadinya fitnah di tengah masyarakat. Secara pribadi saya pernah minta Gus Dur berbuat sesuatu untuk menghentikan fitnah yang sebenarnya tidak perlu terjadi . Tapi dasar Gus Dur . Dia tetap pada pendirian akan membiarkan fitnah itu berhenti sendiri . Sayang fitnah itu ternyata berumur panjang.

Setelah Gus Dur wafat kemarin masih terdengar suara penyiar yang mengatakan Gus Dur pernah ingin mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi .

Maafkan kami para wartawan dan redaksi Majalah Amanah yang telah bermain api yang ternyata membakar kami sendiri . Gus Dur sendiri tetap berjiwa besar , tetap bersahabat , meskipun banyak yang terpaksa salah faham. Gus Dur tidak pernah mengusulkan mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi . Untuk hal ini saya akan menjadi saksi bagi Gus Dur .
Dia, dengan kebesaran jiwa hanya ingin mengajak siapa pun untuk menghargai sesama muslim yang bisanya mengucap salam dengan kula nuwun , punten, atau selamat pagi .

Ini adalah sikap dasar Gus Dur yang mencintai semua muslim dari yang hanya bermodal khitan sampai yang bergelar kyai. Bahkan ukhuwwah basyariyah ( persaudaraan kemanusiaan) yang berkembang dari iman membuat Gus Dur memiliki rasa cinta kepada siapa saja, tak pandang ras, agama, maupun status sosial .

Sugeng tindak , Gus, insya Allah kula ndherek . ( 35 ) http: //suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/01/02/93511/Kula.Ndherek Gus

15.1.11

Bahkan,Tokoh Agama Budha Taiwan pun Ziarahi Makam Gus Dur


Tokoh perdamaian dunia dari agama Budha, Prof Dr (HC) Venerable Master Chin Kung, berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang ada di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jum'at (14/1/2011). Kawan dekat Gus Dur ini datang dengan menggunakan tiga bus atau sekitar 50 orang.

Begitu datang, para tokoh agama Budha ini langsung disambut oleh pengasuh Ponpes Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) beserta istri. Selanjutnya, mereka menuju makam mantan presdien ke-empat tersebut. Nah, di depan pusara tokoh pluralis itu mereka memanjatkan doa. Ziarah tersebut berlangsung khidmat dan sakral.

Para tokoh agama yang sebagian besar berkepala plontos ini ditemui di ruang KH Yusuf Hasyim. "Meskipun Gus Dur sudah tidak ada, namun saya sangat gembira bisa berziarah ke makam beliau. Selama Gus Dur hidup, saya sudah 10 kali bertemu dalam forum international," kata Master Chin Kung ketika diminta memberikan sambutan didepan hadirin.

Ia menjelaskan, baginya Gus Dur bukan akan seorang sahabat. Namun mantan presiden ke-empat itu juga sosok guru bagi Chin Kung. Maklum saja, antara ia dengan Gus Dur merupakan tokoh yang mendirikan forum perdamaian dunia. Master Chin Kung juga masih ingat bahwa pernah berkunjung ke Vatikan, Cairo, serta Cina bersama Gus Dur.

"Semuanya dalam rangka perdamaian dunia. Ke Vatikan yang merupakan pusat agama Katolik, kemudian Kairo yang notabene pusat peradaban Islam, serta Cina yang merupakan pusat agama Khonghucu," kata tokoh agama Budha yang murah senyum ini.

Master Chin Kung yang mengenakan pakaian khas seorang biksu menegaskan, bahwa setiap agama mengajarkan tentang nilai-nilai harmoni dan perdamaian untuk kesejahteraan manusia. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan konflik.

Untuk mewujudkan tersebut, katanya, perlu ada landasan kerja sama yang kokoh antarpemeluk agama. Dengan begitu, akan tercapai perdamaian dan peningkatan kesejahteraan manusia di dunia. "Itulah yang selama ini kami perjuangkan bersama Gus Dur di forum perdamaian dunia," tegasnya.

Hal senada juga dilontarkan Gus Solah. Ia cukup gembira bisa bertemu dengan Master Chin Kung. Maklum saja, selama ini ia hanya mengenal tokoh Budha tersebut lewat sejumlah literatur serta cerita dari kakaknya, Gus Dur. Oleh karena itu, ke depan ia berharap kerja sama yang sudah berjalan itu tetap terawat.

"Bahkan saya punya angan-angan untuk mendatangkan tokoh agama Budha ke Tebuireng untuk memberikan ceramah. Dengan begitu antar agama bisa saling mengenal dan saling bekerja sama," kata Gus Solah yang disambut tepuk tangan. (ful)

26.7.10

Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur Digelar Lesbumi Kediri


Untuk mengenang jasa-jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kota Kediri yang didukung oleh Pemkot Kediri, PT Gudang Garam Tbk, Radio On, dan Kediri Jaya.com, menggelar kegiatan pameran lukisan Gus Dur dengan bahan dasar cekakik kopi.

Pameran resmi dibuka oleh Agus Sunyoto, Wakil Ketua Lesbumi NU, pada Ahad (25/7) kemarin, dan akan berlangsung hingga Rabu (28/7) di Musium Mastrip Perpustakaan Umum Kota Kediri JL Diponegoro.

Acara yang juga dihadiri Pendeta Kabul dari Gereja GBI Getsamani Kediri ini menarik perhatian publik khususnya warga Kota Kediri yang berduyun-duyun datang ke lokasi pameran.

“Ini sungguh luar biasa – saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Gus Dur adalah bapak bangsa dan perekat antar umat beragama,” kata Pendeta Kabul seperti dikutip www.kedirijaya.com.

Dalam acara ini juga dilaksanakan demo melukis dengan menggunakan bahan dasar cekakik kopi oleh pengunjung.

Bertempatan dengan bulan Jadi Hari Kota Kediri yang ke-1131, 70 lukisan akan dipamerkan, termasuk koleksi lukisan cekakik konjen Jepang di Surabaya. (nam) NU Online

22.7.10

Sebagai tokoh inspiratif bangsa,Gus Dur terima Special Awards Liputan6 SCTV 2010


Don Bosco Salamun berjalan pelan menuju muka sebelah kiri panggung didampingi penyanyi Rossa. Keduanya didapuk untuk membacakan kategori peraih penghargaan Special Award. Di dalam sebuah amplop berwarna putih yang dibawanya, terselip sebuah nama yang akan Ia baca di depan jutaan pemirsa televisi.

Sebelum membacakan isi amplop tersebut, pemimpin redaksi SCTV ini menuturkan sebuah kisah tentang pengalamannya di sebuah waktu pada tahun 1997 saat ia mewawancarai tokoh yang akan ia bacakan itu. Dengan agak gugup ia bercerita seputar perjumpaan wawancaranya dengan tokoh ini.

"Kalau pada suatu saat anda dipanggil selamanya, anda ingin dikenang sebagai apa?", tanya Don Bosco dengan sedikit berkaca-kaca. Tokoh ini kemudian menjawab, Saya hanya ingin di batu nisan Saya tertulis Di sini Beristirahat Seorang Pejuang Kemanusiaan Sejati.

Tokoh tersebut adalah KH. Abdurrahman Wahid. Gus Dur-sapaan akrab Abdurraman Wahid menerima Lifetime Achievement Award (Special Awards) dalam Liputan6 SCTV 2010 yang digelar Rabu (21/7) siang di Balai Sarbini, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 51 Jakarta. Penghargaan khusus/special awards diberikan Liputan 6 SCTV kepada almarhum KH Abdurrahman Wahid atas jasa-jasanya dalam memberikan inspirasi bagi masyarakat tentang keberanian berpendapat dan menerima perbedaan dalam hidup bermasyarakat.

Menurut pengakuan Don Bosco, Gus Dur ini penuh ilham tentang demokrasi. Gus Dur juga penuh ilham tentang kemanusiaan. "tokoh ini menggetarkan karena penuh ilham tentang kemajemukan dan menjadikan dirinya seolah menjadi rumah kita bersama," tuturnya.

Don Bosco membeberkan bagaimana jutaan pemirsa SCTV dan juga tim verifikasi Liputan6 Awards SCTV telah menetapkan Gus Dur sebagai tokoh yang paling pantas untuk dapat penghargaan sebagai orang yang paling memberikan inspirasi bagi Indonesia.

"Tidak mengherankan ketika tokoh ini pergi meninggalkan kita selamanya, jutaan orang tanpa dikerahkan mereka membiayai sendiri datang dari berbagai pelosok tanah air, datang ke makamnya menangis dan berdoa berhari-hari bahkan berbulan-bulan," kata mantan pemimpin redaksi metroTV.

Direksi Utama SCTV Fofo Sariaatmadja memberikan langsung penghargaan tersebut kepada Istri Almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang naik ke atas panggung dengan kursi roda. Menerima special awards ini, Sinta merasa bangga sekaligus berterima kasih kepada SCTV yang telah menetapkan sosok Gus Dur sebagai tokoh inspiratif bangsa.

"Saya atas nama seluruh keluarga besar Abdurrahman Wahid mengucapkan terima kasih terutama kepada Liputan6 Awards SCTV," kata mantan ibu negara yang hadir didampingi oleh kedua putrinya Yenny Zannuba Wahid dan Anita Hayatunnufus.

Ternyata, lanjut Sinta, di mata masyarakat Gus Dur masih dianggap sebagai tokoh yang patut diberi penghargaan.

"Mudah-mudahan apa yang telah diperjuangkan dan dilakukan oleh suami saya KH. Abdurrahman Wahid tentang pluralisme, humanisme, demokrasi, dan pemerintahan yang bersih dari korupsi dan ketidakadilan akan tetap kita teruskan dan kita perjuangkan", harap pendiri Yayasan Puan Amal Hayati yang disambut tepuk tangan seluruh hadirin.

Dalam Awards tahun 2010 ini berhasil dipilih sosok dan figur inspiratif serta berdedikasi tinggi untuk pemberdayaan masyarakat. Mereka para peraih Awards tersebut adalah Ari Sihasale-Nia Zulkarnaen (kategori Seni Budaya), Arsinah Sumetro (kategori Advokasi), Budi Soehardi (kategori Pendidikan), Lourens Loho (kategori Lingkungan Hidup), Silverius Oscar Unggul (kategori Pemberdayaan Masyarakat), dan terakhir Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (kategori Spesial Awards). (wrf)

21.7.10

Gus Dur , Dipuja dan Dibenci (PEMIKIRAN DAN PERJUANGAN GUS DUR)


Gus Dur memang kontraversial, apa yang dikatakan seringkali menimbulkan polemik dikalangan masyarakat. Situasi ini telah menunjukkan keberadaan dan sikap Gus Dur penting untuk ditanggapi, baik atas dukungan dari mereka yang mencintai atau kritikan dari mereka yang membenci.

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi berpendapat Gus Dur adalah Somebody, tak ada orang yang bersikap netral terhadap Gus Dur, semua orang memperhitungkan keberadaannya.

“Gus Dur adalah somebody, langka orang yang mendapat posisi seperti itu, sementara sebagian besar kita adalah nobody, keberadaannya tidak diperhitungkan,” katanya dalam diskusi buku tentang Gus Dur akhir pekan lalu.

Buku yang membahas tentang Gus Dur juga sudah sangat banyak, tapi sebagian besar hanya mengambil satu sisi pemikiran Gus Dur, atau kalau melihatnya secara komprehensif, ya hanya bersifat highlight saja.

“Gus Dur adalah manusia ide, gagasan bukan hanya mengartikulasikan gagasan yang ada, tetapi mengemukakan ide yang belum pernah dikemukakan orang lain. Sebagian besar orang kan komentator ide, sekedar mengomentari, ini juga penting, tetapi orisinalitas ide belum tentu dimiliki orang lain,” tambahnya.

Ia menjelaskan, terdapat tiga tahapan dalam pemikiran Gus Dur, yaitu gagasan, aksi dan institusionalisasi. Ia merupakan orang yang sangat kaya dengan ide, gagasannya mengejutkan, aksi politiknya juga luar biasa. Orang yang paling membenci bisa ditaklukkan dalam waktu singkat, seolah-olah tak ada jarak apa-apa,

Sayangnya, yang kurang adalah upaya institusionalisasi dari gagasan yang dimiliki. Ini merupakan ladang garapan yang masih sangat luas. Dilingkungan NU, ia pemimpin yang menandai titik balik khittah 1926, gagasannya luar biasa dan aksi pemihakan pada masyarakat juga luar biasa.

“Tetapi sebagai institusi, NU belum sempat dibangun sebagaimana gagasan menghendakinya. Jadi inventarisasi gagasan kurang, di PKB juga begitu, gagasan, pemikiran, politiknya luar biasa, aksinya juga kita tahu, tapi institusionalisasinya yang kurang,” terangnya.

Aspek lain adalah Gus Dur merupakan tipe pemimpin yang one man show, semuanya berpusat pada dia. Ini sebenarnya bukan hal yang aneh mengingat dalam masyarakat NU, yang masih menjunjung tinggi kharisma pribadi.

“Masyarakat NU digerakkan oleh kharisma, bukan gagasan. Karena itu sebagian besar kita kalau disuruh berangkat ke utara tidak menanyakan mengapa ke utara, yang terjadi karena beliau menyuruh ke utara. Samikna waatokna, ini kata-kata luara biasa, tak ada kritik dan internalisasi, perintah ditangkap langsung ke hati, tidak ada proses penalaran,” paparnya.

Ini menurutnya bukan persoalan sederhana kalau mau melakukan transformasi, NU ditangannya secara gagasan semua menyambut gagap gempita, tetapi NU sebagai institusi belum tertata.

Karena itu, kalau mau melanjutkan perjuangan Gus Dur, maka yang dilakukan adalah melakukan interpretasi, memperkaya gagasannya, tetapi yang lebih penting lagi adalah melakukan institusionalisasi dari ide-ide tersebut.

“Kalau institusionalisasi ini berhasil dilakukan, Gus Dur betul-betul masyaallah. Membangun institusi yang kompatible dengan gagasan kebangsaan, keislaman dan kemanusiaan, ini tidak mudah,” tandasnya.

Dijelaskannya, membangun organisasi yang sehat merupakan sesuatu yang berat, ada pengaruh personal yang kuat, kewibawaan masih bersifat personal, kesetiaan pada pemimpin bukan karena idenya, tetapi karena wibawanya, kharismanya. Ketika tidak ada proses transformasi, maka organisasi tidak ada pernah kuat. Organisasi baru kuat kalau seluruh konstituen meleburkan keakuannya kedalam kekitaan.

“Dalam masyarakat tradisional, “akunya” banyak yang gede. Ini menghambat terjadinya penguatan organisasi, NU ini terdiri dari “aku-aku” dan masing-masing independent,” imbuhnya.

Namun demikian, ini bukan hal yang mustahil untuk dirubah, asal dengan keteladanan, ini adalah sebuah revolusi budaya agar bisa berhasil dimasa mendatang, karena kalau tidak organisasi akan selalu dalam posisi lemah diantara individu-individu. (mkf)

20.7.10

Gus Dur,Seorang Pemikir Sekaligus Praktisi


Berbeda dengan para pemikir lain yang hanya berkutat pada level pengembangan wacana, Gus Dur mampu mengaplikasikannya pada dunia praksis. Pemikiran yang diyakini benar diejawantahkan dalam dunia aksi.

Pendapat ini dikemukakan oleh pengamat politik Kacung Marijan dalam diskusi buku pemikiran dan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur karya Muhamin Iskandar akhir pekan lalu.

“Gus Dur yakin demokrasi dan pluralisme sangat penting untuk Indonesia, karena itu Gus Dur melakukan aksi untuk mewujudkan itu, yang lainnya juga yakin, tetapi tidak melakukannya,” katanya.

Menurutnya, pemikiran Gus Dur yang sangat kuat adalah bagaimana membangun Indonesia yang demokratis, termasuk membangun relasi agama dan politik. Ia sangat meyakini Islam agama paripurna, tetapi memahami bahwa Islam harus kontekstual di Indonesia yang sangat plural.

Dijelaskannya oleh Ben Andersen, salah seorang intelektual Barat menyebut Indonesia yang sangat plural ini sebagai disebut imagined community, sebuah komunitas yang dicita-citakan, yang sampai sekarang belum tercapai betul. Didalamnya ada banyak kelompok kepentingan yang bersama-sama membangun. Orang tidak saling kenal, tetapi membayangkan adanya satu komunitas yang diakui bersama.

“Bayangan apa yang dikatakan Andersen tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Gus Dur, meskipun lahir dari pesantren, tapi meyakini Indonesia bukan hanya milik orang pesantren atau milik umat Islam, tetapi milik bersama. Ini yang hendak dicapai, dan Gus Dur berusaha mempertahankan itu melalui aksinya, salah satunya melalui pembentukan PKB,” paparnya.

Pendirian partai ini awalnya ada yang meminta, khususnya sejumlah kiai menginginkan PKB berasaskan ahlusunnah wal jamaah, tetapi Gus Dur secara terang-terangan menolak. PKB harus menjadi partai yang inklusif, kalau aswaja berarti menjadi partai eksklusif. Ini ditiru PKS, walaupun mendua, ingin punya kader, disisi lain punya anggota. Ada pembedaan, kader eksklusif, kader inklusif sehingga ngak nyambung.

“Bagi Gus Dur keduanya bukan hal yang berbeda, kader maupun anggota yang sama-sama inklusif, ini yang agak berbeda dengan pemikiran PKS. Ini sangat tepat untuk konteks Indonesia,” imbuhnya.

Meskipun secara intelektual tak jauh beda dengan yang lainnya, tetapi Gus Dur memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain sehingga pemikirannya bisa ditransformasikan pada level grassroot, yaitu kemampuannya melakukan silaturrahmi yang luar biasa. Ketika terdapat kontraversi dalam pemikirannya bisa cepat selesai karena melalui silaturrahmi ini, Gus Dur mampu menjelaskan substansi pemikiran yang dimilikinya. Ini tentu berbeda dengan para intelektual NU lain yang hanya hidup di awing-awang dan tak masuk ke level bawah sehingga pada akhirnya banyak ditentang oleh komunitas pesantren, meskipun sebenarnya tak jauh berbeda dengan Gus Dur.

Silaturrahmi Gus Dur bukan hanya kepada yang hidup, Gus Dur juga dikenal sangat rajin berziarah ke makan-makan para ulama. Tak heran, meskipun sudah meninggal, ia akhirnya mendapatkan ganjaran, warga NU tak henti-hentinya menziarahi makamnya.

Kelebihan lainnya adalah darah biru yang mengalir dalam dirinya memudahkan Gus Dur melakukan komunikasi baik dalam komunitas NU maupun di luar NU.

Sejumlah kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain tersebut hanya bisa diimbangi dengan melakukan kerja kolektif. PKB atau NU bisa melakukan komunikasi secara efektif dari pusat sampai grassroots sehingga seluruh potensi bisa tersentuh.

Kacung mengibaratkan Gus Dur seperti perusahaan multinasional yang memiliki cabang dimana-mana, yang tak mungkin bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan kecil. “Gus Dur harus dikeroyok untuk menandinginya. Kalau Gus Dur bisa sendiri, PKB dan NU harus melakukan aksi kolektif,” tandasnya.

Namun demikian, Kacung juga melihat Gus Dur bukan pribadi yang tanpa cela. Gus Dur gagal dalam mengaplikasikan sejumlah pemikiran dalam konteks praksis, salah satunya kegagalan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan melalui BPR Nusumma, termasuk pengembangan pabrik yang berorientasi agrobisnis.

“Kegagalan ini, satu dikarenakan Gus Dur lebih pada konteks pemikiran, agama dan politik, pemikiran ekonomi mungkin tidak ada leverage yang lebih bawah, ini yang menjadikannya gagal karena tidak semua bisa ditangani langsung Gus Dur,” terangnya.Sumber: (mkf)

19.7.10

PEMIKIRAN DAN PERJUANGAN GUS DUR ;Gus Dur Beri Perspektif Islam dalam Isu Gender


Pemikiran dan perjuangan Gus Dur didedikasikan untuk kaum lemah, termasuk bagi perempuan yang sebelumnya mengalami diskiriminasi dalam berbagai bidang. Isu kesetaraan gender yang banyak didengungkan oleh para aktifis sebelumnya hanya memiliki perspektif Barat, Gus Dur menambahkannya dalam perspektif Islam.

Hal tersebut dikemukakan oleh Nursyahbani Katjasungkana dalam bedah buku Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur karya Muhaimin Iskandar di Jakarta, Ahad.

Nursyahbani menjelaskan, selama ini Gus Dur sudah banyak dikenal dalam perjuangannya pada HAM, demokrasi, dan pluralisme. Soal isu Gender, Gus Dur banyak berdebat dengan para aktifis gender berfikiran radikal dengan sudut pandang Islam memandang hubungan laki-laki perempuan.

“Banyak isu krusial mengenai gender dan islam diantaranya poligami dan kawin siri,” tandasnya.

Pemikiran Gus Dur tentang pemberdayaan perempuan memperoleh kristalisasinya ketika jadi presiden dengan menerbitkan Inpres presiden nomor 9 tahun 2000 mengenai Pengarusutamaan Gender yang terus digunakan sampai sekarang.

“Mahalan pada pemerintahan SBY dijadikan salah satu persyaratan untuk bisa mengembangkan program dan menjadi indikator untuk penambahan anggaran di kementerian,” katanya.

Bahkan Inpres ini diupayakan ditingkatkan menjadi UU Keadilan dan Kesetaraan Gender. Kementerian Tenaga Kerja juga telah menandatangani kesepakatan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan tentang upaya pengarusutamaan ini, yang baru terjadi pada periode ini.

“Fikiran Bernas Gur Dur menjadi landasan kita bersama untuk menegakkan HAM, Demokrasi dan nilia-nilai Islam yang sejuk, pluralis, bukan yang menakutkan, kita tinggal mengisinya,” ujarnya. (mkf)

17.7.10

Bedah Buku "JEJAK GURU BANGSA" di Pontianak


Buku Jejak Guru Bangsa: Mewarisi Kearifan Gus Dur karangan Mohamad Sobary dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat yang belum memahami dan belum banyak mengerti tentang pemikiran Gus Dur selama ini.

"Tidak hanya itu, buku itu diharapkan pula dapat meneruskan perjuangan-perjuangan Gus Dur tersebut," Demikian di katakan Wakil Wali Kota Pontianak,Sabtu (17/07/10).

Dikatakan Paryadi, selain pemikiran-pemikirannya, Gus Dur juga banyak mengeluarkan humor-humor menyentuh. "Selain itu ada juga sisi positif dan syarat makna," kata Paryadi.

Ia menambahkan, Gus Dur merupakan sosok agamawan, budayawan serta politikus dianggap sosok yang lengkap.

Mohamad Sobary sendiri menulis buku tentang Gus Dur ditengah begitu banyak buku tentang Gus Dur. Ia menulis buku itu, dengan membayangkan dirinya berjalan di belakang Gus Dur, dan mencatat apa yang yang dipikirkan, dirasakan, dan diucapkan Gus Dur di kancah politik, agama, dan kebudayaan.

Sobary juga memaparkan bagaimana Gus Dur memelihara humor untuk menandai kearifan hidup. Sobary, mewakili pembaca memberitakan, apa saja warisan kearifan yang patut diteladani di tengah kehampaan hidup.

Buku dengan tebal 179 halaman itu diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI Jakarta, 2010. Dibedah di Pontianak kerjasama antara Nahdatul Ulama PC Kubu Raya, Gerakan Pemuda Ansor PC Kota Pontianak dan CRID-Center for Research and Inter-religious Dialogue. (ant/mad)

9.7.10

Kitab Kuning Pasca Gus Dur


Oleh: Affandi Mochtar

Kitab kuning sebagai khasanah Islam yang banyak dikaji di pesantren, khususnya pesantren tradisional, sesungguhnya masih menjadi rujukan utama bagi keberagamaan umat Islam di Indonesia. Namun sayangnya, karena dianggap ‘tradisional’ maka promosinya dan citranya tidak sebaik manfaatnya. Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu tokoh yang membuktikan keunggulan literatur pesantren yang bernama kitab Kuning ini.

Almarhum Gus Dur adalah sosok yang lahir dari keluarga kyai dan pesantren yang akrab dengan Kitab Kuning. Pendidikan dasarnya ditempuh di lingkungan pendidikan pesantren, yang mempelajari Kitab Kuning. Dia belajar ke luar negeri, ke Mesir, ke Irak di Baghdad, juga belajar agama dengan literatur kitab kuning. Dia balik ke Indonesia, juga menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas, yang tidak terlepas dari kitab kuning. Pada masa awal kepempimpinannya di NU, dia menghidupkan kajian kitab kuning. Dia diundang ke berbagai seminar, berbicara di berbagai forum dengan perspektif kitab kuning, yang di dalamnya terdapat berbagai pandangan ulama yang beragam mengenai berbagai hal.

Ketokohan Gus Dur mendorong kitab kuning menjadi salah satu referensi pemikiran Islam di Indonesia. Kalau orang memberi penghargaan intelektual pada Nurcholish Madjid (Cak Nur) misalnya, maka salah satu point penilaiannya adalah karena Cak Nur bisa membaca dan menguasai kitab kuning, sebagaimana Gus Dur. Betapa kitab kuning oleh Gus Dur menjadi element penting bagi pemikiran Islam di Indonesia. Di tangan Gus Dur, kaedah-kaedah yang bersumber pada Kitab Kuning dicoba eksperimenkan untuk menyelesaikan berbagai masalah di negeri ini.

Memang kita akui bahwa landasan dasar keberagamaan umat Islam adalah al-Qur’an dan Hadis. Tetapi hanya merujuk pada al-Qur’an dan Hadis begitu saja, akan menyebabkan terjadinya simplikasi. Dan jika jika hanya langsung merujuk pada teks Al-Qur’an dan Hadis tanpa melihat pandangan ulama dan proses berfikirnya, maka berarti mengabaikan proses pemikiran, metode penalaran ulama yang begitu kaya yang terdiri dari ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fiqh, ilmu ushul fiqh dan lainnya. Jika ini yang terjadi, maka berarti kita membaca Al-Qur’an dan Hadis tidak dengan ilmunya. Padahal cara menafsirkan teks itu sendiri sesungguhnya sangat complicated. Inilah yang gagal ditangkap oleh banyak orang sekarang ini. Sepertinya hanya dengan berdasarkan ayat Al-Qur’an yang ditemukan dari koran, majalah, buletin atau internet lalu seseorang bisa berdalil atas sesuatu, menghukumi sesuatu. Ini adalah pendangkalan khasanah Islam, yang sesungguhnya sangat kaya raya. Akan terjadi missing link yang panjang kalau kita mengabaikan kahzanah Islam seperti yang ada di kitab kuning.

Karena itu, sekarang ini, sepeninggal Gus Dur, kita hendaknya tidak membiarkan kitab kuning kembali hanya dikaji di pesantren-pesantren saja, dan tidak mewarnai keberagaman kita sehari-hari. Untuk itu menurut hemat saya, sepeninggal Gus Dur, sepeninggal tokoh kuat yang dapat membawa kitab kuning ke kancah nasional, kita berkewajiban menjaga posisi kitab kuning sebagai referensi utama dalam keberagamaan kita.

Untuk itu paling tidak ada beberapa langkah perlu dilakukan: Pertama, membentuk Kitab Kuning Study Centre, yang berusaha menyediakan koleksi kitab kuning dan hasil kajian serta penelitian tentang kitab kuning yang pernah dilakukan. Dalam hal ini, secara kreatif kita bisa mensosialisasikan kitab kuning melalui perpustakaan digital dan Library Mobile, mobil perpustakaan kitab kuning. Suatu saat mungkin jika ada acara Bahtsul Masail di suatu daerah, maka mobil perpustakaan kitab kuning ini bisa diberangkatkan ke daerah tersebut. Demikian juga jika ada kajian yang memerlukan perpusatakaan Kitab Kuning.

Kedua, dalam rangka mengembalikan posisi penting Kitab Kuning sebagai literatur keberagamaan kita, maka kita perlu menggelorakan forum Bahstul Masail, yang merupakan forum kajian atas berbagai masalah yang dibahas dengan basis rujukan dan perspektif Kitab Kuning. Ini adalah forum dan sekaligus juga sebagai instrumen untuk pengembangan berfikir kritis. Untuk menggelorakan forum Bathsul Masail, maka kiranya perlu digagas penyelelenggaraannya Bahtul Masail yang tidak sebatas di lingkungan kalangan pesantren saja, tetapi juga merambah tempat dan kalangan lebih luas lagi. Seperti di masyarakat pada umumnya, di masyarakat kelas menengah atau kalangan professional. Atau kita juga bisa melaksanakan Bahtul Masail di Perguruan-Perguruan Tinggi, termasuk Perguruan Tinggi umum. Ini penting, agar kalangan Perguruan Tinggi umum bukan hanya disuguhkan model model dakwah Islam ala tarbiyah dan usroh saja. Dengan Bahtsul Masail ini mereka akan tahu model kajian Islam yang lebih otoritatif, sekaligus juga beragam dan bervariatif.

Ketiga, kita perlu menggelorakan kembali kajian-kajian Kitab Kuning, dengan berbagai variasi studinya. Secara sederhana yang disebut dengan kajian atau mengaji kitab kuning adalah membacanya dan menerjemahkannya serta menjelaskan isi kandungannya. Namun sebagai upaya pengembangan, kajian atau pengajian Kitab Kuning juga bias dilakukan dengan pola kontekstualisasi, membacanya, menjelaskan kandunagnnya, dan kemudian mengkontekstualisasikannya dengan perkembangan masyarakat. Serta tidak lupa dicarikan legitimasi ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi-nya.

Keempat, dalam rangka menggelorakan studi atas kitab kuning maka kiranya perlu ada riset atas Kitab Kuning. Riset ini bisa dilakukan dari yang paling sederhana, seperti riset yang dilakukan untuk keperluan tahqiq, sampai dengan riset yang dilakukan sebagai sebuah studi wacana, studi kritis dan seterusnya. Untuk mewujudkan kegiatan penelitian kita perlu berjejaring dengan banyak pihak, tokoh, akitifs dan para peneliti. Termasuk jaringan lembaga penelitian di dalam dan di luar negeri.

Kelima, selain kajian dan penelitian, kiranya kita juga perlu mewujudkan model kajian Kitab Kuning yang lebih kreatif, termasuk memanfaatkan teknologi informasi. Walaupun secara khas namanya sorogan, bandongan, wetonan dan bahtsul masail tetap kita pertahankan, tetapi kita juga perlu membuat model pembelajaran Kitab Kuning yang berbasis teknologi informasi. Secara sederhana, misalnya saja kita membuat daftar glosari bagi kosa kata yang sering terulang-ulang dalam Kitab Kuning. Pada perkembanganya, glosari bias dikompilasi dan disusun menjadi sebuah kamus, Kamus Kitab Kuning. Itu sebagai salah satu contoh mudah.
Keenam, perlu ada kegiatan penerbitan yang mencoba melakukan reproduksi dan kreasi wacana dan kandungan kitab kuning. Penerbitan ini penting sebagai media sosialisasi dan penyebaran wacana hasil-hasil kajian dan penelitian atas Kitab Kuning.

Keenam, gagasan untuk melangkah di atas sungguh timbul dari kepekaan diri atas termajinalkannya kembali posisi Kitab Kuning di jagad intelektual Indonesia. Kepedulian ini bukan sesuatu yang istimewa, tetapi lebih merupakan panggilan jiwa. Kalau kita tidak lagi peka dan terlibat menyelamatkan posisi strategis Kitab Kuning dalam kebergamaan kita ini, maka nanti ada sesuatu yang dihilang di masa yang akan datang itu. Dan indikasi akan hal tersebut sudah mulai Nampak.

Sebagai contoh mudah, beberapa minggu lalu diberitakan ada kelompok waria bikin acara kemudian dibubarkan oleh kawan-kawan kita. Jauh sebelum itu, banyak peristiwa yang penyelesaianya bukan dicarikan dari dalam, tetapi dicarikan dalil dan fatwanya dari luar. Ini karena keberagamaan kita tidak lagi merujuk atau menggali dari para pandangan ulama terdahulu yang ada di Kitab Kuning.

Contoh lainnya, sebut saja misalnya bahwa para penghafal Al-Qur’an, hafidz dan hafidzah di Indonesia selama ini belajar dari guru-guru ahli al-Qur’an yang ada di pesantren-pesantren tanah air. Seperti kyai Ali Ma’shum Krapyak, Mbah Arwani Kudus dan Kyai Mufidz Pandanaran. Belakangan mereka dituntut memiliki sanad dari Saudi Arabiyah, dari Qatar. Nanti kemudian di sertifikasi. Lalu dengan sertfifikat itu kemudian bisa minta bantuan dari negeri-negeri Timur Tengah, seperti Arab Saudi. Saya kira untuk kepentingan teknis, agar hafalanya bagus dan jaringannya luas maka itu sah-sah saja. Tetapi ini berarti keindonseiaan klita dalam konteks keberagamaan itu didegradasi. Ini mengerikan, karena menyangkut otoritas keberagamaan dan ke-Indonesia-an yang krisis.

Di sisi lain, sekarang ini ada fenomena premisif terhadap berbagai element yang afailiasinya ke Barat; meski itu atas nama demokrasi, pluralisme dan lainnya. Menurut saya, ini seperti melanggengkan kolonialisasi. Menghadapi ini kita perlu memproyeksikan Reinventing Indonesian Islam. Dalam hal ini,minimal kita dapat bercermin pada pada periode 80-an, melalui gagasan Mbah Ahmad Shiddiq, yang berhasil merumuskan keislaman Indonesia sedemikain rupa. Dengan konsep Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim)ز

Selain keenam langkah di atas, kita juga perlu menggelorakan kembali pendidikan humanistik di negeri ini. Kenapa menggagas pendidikan, karena syarat terciptanya peradaban yang luhur, adalah adanya pendidikan yang baik. Kenapa memilih pendidikan humanistik, karena pendidikan humanistik bersentuhan langsung dengan upaya memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat. Ini berbeda dengan pendidikan skolastik, yang hanya berorientasi mengisi otak para peserta didik, tanpa disertai upaya pemberdayaannya.

Salah satu contoh produk pendidikan humanistik adalah Gus Dur. Dia disebut sebagai guru bangsa, padahal tidak pernah bekerja menjadi guru. Ini karena penyuaraan Gus Dur yang selalu berpihak pada kemanusiaan. Apa yang disuarakannya dalam setiap forum ini kedengaran di plosok-plosok dan menggerakan masyarakat di daerah-daerah.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, tokoh-tokoh kita dan pimpinan-pimpinan kita yang sekarang ada lebih banyak lahir dari proses politik. Ini yang membuat mereka terlihat sangat praktis dan pragmatis. Dengan menghidupkan kajian Kitab Kuning pasca Gus Dur ini, kita memimpikan lahirnya calon tokoh dan pemimpin yang memiliki paradigma yang cukup dan memadai.(NU Online)


* Penulis adalah Wakil Sekjen PBNU yang juga Sekdirjen Pendidikan Islam di Kementrian Agama RI. (Tulisan ini adalah ceramah di Parung akhir Mei 2010 yang disunting oleh Ali Mursyid)

5.6.10

Gus Dur Dan Perjuangannya Dalam Mengatasi Berbagai Konflik


Salah satu hal yang menonjol dari almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah perjuangannya menegakkan perdamaian di muka bumi, bukan hanya di Indonesia. Tentu tidak mudah mewujudkan mimpi indah ini, karenanya dibutuhkan upaya-upaya yang serius untuk mewujudkan cita-cita perdamaian ini.

Demikian dikatakan Direktur Wahid Institute Yenny Zannuba Wahid dalam sambutannya pada saat membuka acara ‘Kelas Gus Dur, Konflik dan Perdamaian' yang diselenggarakan oleh Wahid Institute di kantornya Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Jakarta, Kamis (3 /6) sore.

Yenny mengatakan bahwa salah satu ciri yang menonjol dari Gus Dur dalam kiprahnya mengatasi konflik adalah komunikasi, komunikasi ke semua pihak. "Dari awal sikap yang diambil Gus Dur adalah kalau ingin bertindak sebagai wasit yang adil, kalau ingin betul-betul berusaha membuka ruang bagi perdamaian harus ada komunikasi dengan semua pihak", kata Yenny mencontohkan.

Kemudian putri Gus Dur ini menegaskan bagaimana sikap dan andil Gus Dur dalam memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah yakni menjalin hubungannya dengan pihak Israel, dimana sikap publik Indonesia saat itu betul-betul mencemooh aksi Gus Dur ini.

Namun dari sini, Gus Dur kemudian tidak canggung untuk menelorkan gagasan tentang perlunya hubungan diplomatik dengan pihak Israel.                 "Kalau sekarang posisi Indonesia kan tidak punya hubungan diplomatik, Jadi memang agak sulit Indonesia mau menjadi pemain yang besar dalam masalah perdamaian Timur Tengah yang susah", kritik Yenny.

Mantan reporter The Sydney Morning Herald ini melanjutkan bagaimana ciri Gus Dur yang kedua dalam mengatasi konflik selain komunikasi adalah landasan kemanusiaan. "karena berpegangan kepada beberapa hal tersebut (landasan kemanusiaan) membuat Gus Dur jauh lebih fleksibel dari pemimpin yang lain dalam mencoba untuk membaurkan kebuntuan dan kebekuan komunikasi yang selama ini ada", jelas Yenny.


Out of the box

Penjelasan yang lebih kongkret mengenai konflik dipaparkan oleh Direktur Eksekutif Wahid Institute Ahmad Suaedy yang turut memberikan pengantar dalam "kelas Gus Dur Konflik dan Perdamaian". Menurut Suaedy, salah satu karakter yang unik dari Gus Dur dalam melihat semua hal, terutama konflik dan perdamaian adalah karakternya yang out of the box . "Jadi sulit diprediksi, tidak mengikuti prosedur, menyalahi tradisi dan seterusnya", papar Suaedy.

Suaedy lantas mencontohkan bagaimana saat Gus Dur menjabat sebagai Presiden, beliau begitu gigih dalam upayanya mendamaikan konflik GAM (gerakan Aceh merdeka) di Aceh. Yang dilakukan Gus Dur adalah mempertemukan Hasan Tiro (deklarator GAM) dengan pemimpin besar MILF (Mindanao islamic liberation front)-sebuah gerakan separatis di Filipina Selatan- Hasyim Salamat.
"Tidak terbayangkan, sesama gerakan separatis ditemukan oleh Gus Dur di suatu tempat (Swedia) dalam rangka menyelesaikan konflik GAM di Aceh", papar Suaedy menceritakan saat penelitiannya di Filipina Selatan dan Thailand Selatan.

Seperti diketahui, kelas Gus Dur ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mengkaji mengenai konflik dan perdamaian baik secara teoritik maupun empirik. Disini juga akan dikaji pemikiran dan berbagai peran Gus Dur dalam menyelesaikan konflik dan menciptakan perdamaian baik di Indonesia maupun dunia.

Dari peserta yang berhasil terjaring dalam kelas ini berjumlah 33 orang dengan berbagai latar belakang profesi dan keilmuan, baik pengacara, mahasiswa, aktifis HAM, aktifis perempuan, agamawan kristen dan lainnya.
Acara ini akan dipandu oleh fasilitator dan dosen yang secara keilmuan mumpuni seperti Ihsan Malik, Thamrin Amal Tomagola, Frans Magnis Suseno, Hikmat Budiman, Nurhaidi Hasan, Ph. D, Dr. Abd Moqsith Ghazali, M Sobary. Juga dari Wahid Institute seperti Rumadi dan Ahmad Suaedy. (wrf)
http://www.gusdur.net
image:krisnanda.wordpress.com

4.5.10

Gus Dur dan Salaturrahmi


oleh : Mahfud MD

Saya sudah lupa hari dan tanggalnya, tetapi waktu itu adalah awal tahun 2001 , saat saya menjabat sebagai menteri pertahanan di bawah kepresidenan Gus Dur. Kepala Staf Angkatan Udara saat itu, Hanafi Asnan, menelepon saya. “Pak Mahfud, saya mendapat berkah, seperti kejatuhan bulan dan bintang,” kata Hanafi. “Ada apa, Pak,” tanya saya. “Presiden tiba- tiba minta mampir ke rumah Ibu saya di Madura,” jawab Hanafi. Orang mampir ke rumah orang tentulah hal biasa.
Namun peristiwa itu menjadi surprise bagi Hanafi karena yang akan mampir ke rumah ibunya adalah Presiden. Padahal Gus Dur tak pernah kenal dengan ibunda Hanafi kecuali bahwa Hanafi adalah bawahannya yang berasal dari Madura. Apalagi rencana mampir itu diberitahukan kepada Hanafi hanya dua hari sebelum keberangkatan Gus Dur ke Madura.
Saat itu Presiden Gus Dur dijadwalkan kunjungan kerja ke Madura bersama Menteri Kehutanan Marzuki Usman untuk acara menanam seribu pohon dalam program penghutanan. Ketika rencana keberangkatan dilaporkan dan dimatangkan, tiba-tiba Presiden meminta diselipkan acara mampir ke rumah Hanafi Asnan di Socah, Bangkalan.
Meski diberi tahu bahwa KSAU Hanafi Asnan tak ikut dalam rombongan, Gus Dur mengatakan bahwa dirinya akan bersilaturahmi kepada ibu Pak Hanafi. Itulah sisi lain kehidupan Gus Dur yang jarang diperhatikan orang, yakni suka bersilaturahmi kepada siapa pun. Banyak yang meyakini bahwa kegemaran bersilaturahmi tanpa jarak “antara orang besar dan orang biasa” itulah yang mengakibatkan Gus Dur menjadi milik dan dicintai oleh begitu banyak orang.
Sebagai politikus dan pejuang Gus Dur selalu dapat membedakan antara urusan politik dan hubungan pribadi. Dia bisa keras, tegas, dan cenderung berkepala batu dalam sikap-sikap politiknya, tetapi selalu menjaga hubungan pribadi melalui silaturahmi yang selalu hangat dan bersahabat. Bukan hanya kawan politiknya yang diakrabi, tetapi lawan-lawan politiknya pun dihormati dengan silaturahmi.
Kita tentu masih ingat nama Abu Hasan, pesaing Gus Dur dalam perebutan kursi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ( 1994) di Cipasung. Sebagai calon ketua umum yang menurut berita diskenariokan oleh kekuatan luar untuk menjinakkan NU, Abu Hasan ngotot untuk menjadi Ketua Umum PBNU. Setelah kalah dalam pemilihan yang demokratis di muktamar Abu Hasan tidak mau terima. Dia pun membentuk PBNU tandingan dengan nama KPPNU. Namun berkat dukungan arus bawah terhadap Gus Dur, meski memakan waktu agak lama, akhirnya KPPNU itu bubar tanpa komunike karena tak bisa bekerja tanpa dukungan umat.
Yang mengharukan, setelah KPPNU runtuh dan PBNU di bawah Gus Dur berjaya, justru Gus Dur- lah yang datang bersilaturahmi ke rumah Abu Hasan tanpa mengungkit kelakuan dan cercaan-cercaan pedas yang pernah dilontarkan Abu Hasan terhadap dirinya. Dirangkulnya Abu Hasan sebagai sahabatnya.
Saya juga masih ingat ketika terjadi konflik PKB Jawa Timur yang melibatkan Kiai Fawaid. Saat itu Kiai Fawaid terpilih sebagai Ketua Dewan Syura PKB Jawa Timur, tetapi tidak ada kecocokan dengan Gus Dur dan Ketua PKB Jawa Timur Choirul Anam dalam susunan kepengurusan. Kiai Fawaid merasa hak-haknya sebagai Ketua Dewan Syura hasil musyawarah wilayah (muswil) dilanggar, apalagi Gus Dur sempat marah dan menyatakan tak akan berhubungan lagi dengan Kiai Fawaid. Pewaris tokoh NU karismatik Kiai As’ad Syamsul Arifin itu pun keluar dari PKB dan bergabung dengan PPP.
Pada saat Kiai Fawaid bersikap keras dan resmi menyatakan bergabung ke PPP, Gus Dur tetap menyambung silaturahminya dengan Kiai Fawaid. Pada suatu tengah malam secara mendadak Gus Dur berkunjung ke rumah Kiai Fawaid di Sukorejo meskipun harus menempuh perjalanan darat yang sangat jauh. Gus Dur menghormati pilihan Kiai Fawaid keluar dari PKB dan silaturahmi terus dipelihara.
Untuk soal silaturahmi saja saya punya seribu kenangan dengan Gus Dur. Gus Dur sering ke rumah saya baik di Yogyakarta maupun di Madura. Namun Muktamar II PKB tahun 2005 pernah menimbulkan masalah psikologis. Saat itu saya menolak ajakan Gus Dur yang meminta saya untuk menjadi pengurus DPP PKB hasil Muktamar Semarang itu. Meskipun mungkin terlalu subjektif, saya menilai Muktamar Semarang tidak fair sehingga saya tak bersedia menjadi pengurus DPP PKB dan memilih menjadi anggota biasa saja. Ada pendukung hasil Muktamar Semarang yang menciptakan opini dan insinuasi bahwa saya membangkang dan dimarahi atau dimusuhi Gus Dur. Namun tak banyak yang tahu bahwa dalam situasi “perang dingin” seperti itu Gus Dur justru mengunjungi rumah saya di Yogyakarta.
Suatu sore saya ditelepon oleh sekretaris pribadi Gus Dur, Munib Huda, yang mengabarkan bahwa Gus Dur ingin minum teh di rumah saya karena kebetulan ada di Yogyakarta. Kami pun bercengkerama sambil menikmati rempeyek kacang dengan tetap pada posisi masing-masing dalam menyikapi hasil Muktamar Semarang. “Silaturahmi jangan sampai putus,” kata Gus Dur. Gus Dur dan Ibu Sinta tetap sering bermain ke rumah saya seperti halnya saya dan istri tetap selalu berkunjung ke rumah keluarga Gus Dur.
Ketika keluar dari PKB karena menjadi hakim konstitusi pun saya dilepas oleh Gus Dur melalui silaturahmi yang manis dan sangat mengesankan. Ada lagi. Pada suatu hari saya menghubungi Gus Dur dan memulai menyapa dengan pertanyaan rutin, “Gus Dur ada di mana?” Ternyata Gus Dur sedang menengok orang tua Choirul Huda, sopir pribadinya, yang sedang sakit di sebuah desa di kawasan Jombang.
Gus Dur tak pernah lelah bersilaturahmi kepada siapa pun, mulai dari kota besar sampai ke desa terpencil, mulai dari sahabat karib sampai ke lawan-lawan politik, mulai dari orang-orang besar sampai orang-orang kecil. Jadi selain karena modal politik- sosiologisnya sebagai tokoh yang berdarah biru NU, kecerdasan dan kepandaiannya yang luar biasa, kehidupannya yang bersahaja, serta keterbukaan dan kesantunannya terhadap semua golongan, perihal kegemaran untuk selalu bersilaturahmi menjadi penguat bagi munculnya keseganan dan kecintaan masyarakat terhadap Gus Dur.
Belum lama Gus Dur wafat, tapi kita sudah sangat merindukannya.

30.4.10

Pluralisme,Pluralisme dan Pluralisme !


Pluralisme, adalah sikap menghargai dan bertoleransi kepada pemeluk agama lain. Pluralisme bukan berarti mencampuradukkan agama.
beberapa kalangan yang menyebut pluralisme sebagai faham yang menyamakan semua agama sebaiknya mempelajari kembali sejarah tentang sikap Nabi Muhammad SAW tatkala berada di Kota Madinah.
“Waktu Nabi (Muhammad) di Madinah, itu adalah ( sikap) pluralisme. Bagaimana Kanjeng nabi Muhammad mengumpulkan semua etnis dan semua paham agama yang ada di Madinah.
Semua orang yang ada di sana baik Yahudi,Nasrani jadi satu masyarakat.
Ini dalam arti kata bahwa Pluralisme adalah dalam rangka penghormatan terhadap 'Hak Asasi Manusia' orangnya (pemeluknya), dan tidak pada keyakinanannya.
Pluralisme yang selama ini getol diperjuangkan di Indonesia oleh almarhum KH.Abdurrahman Wahid di salah pahami oleh sebagian masyarakat,sehingga pluralisme yang diajarkan Gus Dur tadi mendapat banyak tantangan.
Salah satunya, lahirnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor: 7 /MUNAS VII/ MUI/11 /2005 yang mengharamkan pluralisme karena dianggap menyamakan setiap agama.
Saat memutuskan fatwa pengharaman pluralisme,MUI sejatinya tidak betul-betul memahami makna pluralisme. fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme hanyalah sekedar anjuran yang sifatnya tidak memaksa. Karena,sebuah fatwa, baik itu dari MUI atau yang lain, tidak serta merta harus dilakukan.
Bagi orang yang menerima fatwa itu, silahkan.Kalau tidak pun tidak menjadi persoalan.
MUI berhak saja mengeluarkan fatwa haram tentang pluralisme,asal tidak berimbas pada kerukunan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Karena,kalau kita lagi ngomong soal rakyat Indonesia tidak bisa dipilah-pilah,ini blok A ini blok B, ini merah, ini hijau,atau ini blok putih!!!.

Jadi,apa pendapatmu?

HARI BURUH,MENGENANG LAGI PEMBELA SEJATI KAUM BURUH



Oleh : WAHYU SUSILO

TAK terasa sudah 100 hari Gus Dur meninggalkan kita. Namun, ingatan akan peran Gus Dur dalam upaya menegakkan martabat dan kedaulatan rakyat tidak pernah sirna. Memang patut disayangkan, saat Muktamar Ke-32 NU berlangsung di Makassar, tak ada even khusus untuk merefleksikan peran Gus Dur. Bahkan, dalam pidato pembukaan, Presiden SBY juga alpa menyebut peran Gus Dur dalam membesarkan NU dari organisasi yang "ndeso" menjadi organisasi massa yang diperhitungkan semua kekuatan politik di Indonesia.

Meski demikian, hingga hari ini berbagai kalangan masyarakat terus memberikan apresiasi terhadap peran Gus Dur dalam dukungannya untuk perjuangan kelompok-kelompok marginal. Salah satunya kepada kaum buruh, termasuk di dalamnya buruh migran Indonesia.

Semasa Gus Dur memegang tampuk kepresidenan, salah satu langkah signifikan yang dilakukannya adalah mengakomodasi kepentingan kaum buruh yang menuntut dibatalkannya pelaksanaan UU No 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan yang akan berlaku sejak 1 Oktober 2000. Presiden Gus Dur menunda pelaksanaan UU No 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan. UU ini ditentang habis-habisan oleh kaum buruh Indonesia karena substansinya sangat eksploitatif.

Untuk mengantisipasi adanya kekosongan hukum ketenegakerjaan karena UU pengganti UU No. 25 Tahun 1997 belum ada, pada 25 September 2000 dibuat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No 3 Tahun 2000 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 1998 tentang Perubahan Berlakunya Undang-Undang No 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan. Perpu ini kembali menunda berlakunya UU No 25 Tahun 1997 yang semestinya berlaku pada Oktober 2000 menjadi Oktober 2002 dan pemerintahan Gus Dur segera mengajukan RUU perburuhan yang baru.
***


Tak lama setelah dilantik, Presiden Gus Dur mengundang kalangan aktivis serikat buruh dan NGO advokasi buruh untuk memberikan masukan bagi perbaikan kebijakan perburuhan. Dalam pertemuan tersebut Presiden Gus Dur mendapat masukan mengenai buruknya perundang-undangan bidang perburuhan dan nasib buruh migran Indonesia yang kondisinya masih memprihatinkan. Salah satu kasus yang disampaikan kepada Gus Dur adalah kasus ancaman hukuman mati terhadap Siti Zaenab, buruh migran perempuan asal Bangkalan yang bekerja di Saudi Arabia

Hasil konkret pertemuan ini adalah penerbitan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 150 Tahun 2000 tentang Penyelesaian Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Upah Pesangon, Uang Penghargaan dan Ganti Rugi oleh Perusahaan. Bagi kaum buruh, Permenaker No 150/2000 ini merupakan kebijakan yang pro buruh berhadapan dengan pengusaha.

Atas pengaduan kasus Siti Zaenab, Presiden Gus Dur juga langsung bertindak proaktif dengan mengontak langsung penguasa Arab Saudi Raja Fahd dan meminta pembatalan pelaksanaan hukuman mati terhadap Siti Zaenab. Berkat diplomasi tingkat tinggi tersebut, nyawa Siti Zaenab terselamatkan walau hingga kini proses hukum terhadap Siti Zaenab belum tuntas.

Yang patut disayangkan, diplomasi tingkat tinggi untuk penyelesaian masalah buruh migran Indonesia tak lagi dilakukan presiden penerusnya. Bahkan, semasa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, ada dua buruh migran Indonesia yang dieksekusi mati (Yanti Iriyanti dan Agus), tanpa mendapat advokasi yang signifikan.

Presiden Gus Dur juga berani mengancam menghentikan penempatan buruh migran Indonesia ke Arab Saudi jika pemerintah Arab Saudi terus membiarkan terjadinya penganiayaan dan perkosaan terhadap buruh migran perempuan Indonesia yang bekerja di sana. Ancaman tersebut sebenarnya akan direalisasikan pada 17 Agustus 2001 melalui program 100 hari jeda (moratorium) pengiriman buruh migran Indonesia ke Arab Saudi. Sayang, program tersebut tak sempat dilaksanakan karena Gus Dur dijatuhkan. Lengsernya Gus Dur dari kursi kepresidenan juga mengakibatkan terhentinya program pembaruan kebijakan perburuhan yang membela kepentingan kaum buruh (migran) Indonesia.

***

Komitmen Gus Dur pada nasib kaum buruh juga ditunjukkan jauh sebelum menjadi presiden. Yang paling nyata adalah dukungannya menjadi salah satu pendiri Serikat Buruh Sejahtera Indonesia bersama Muchtar Pakpahan. Dukungan untuk berdirinya serikat buruh independen di luar serikat buruh resmi (saat itu SPSI) di era Orde Baru bukannya tanpa risiko. Namun, Gus Dur berani mengambil risiko tersebut.

Komitmen Gus Dur terhadap kaum buruh juga tetap terjaga meskipun tidak lagi menjadi presiden. Pada saat terjadi pengusiran paksa buruh migran Indonesia yang tidak berdokumen dari Malaysia pada 2005, Gus Dur merelakan tempat tinggalnya di Ciganjur untuk menampung ratusan buruh migran Indonesia tidak berdokumen yang terusir dari Malaysia. Karena statusnya sebagai buruh migran tak berdokumen, mereka tak dilayani oleh pemerintah Indonesia. Perlakuan diskriminatif terhadap buruh migran Indonesia yang tidak berdokumen ini yang dikritik Gus Dur sebagai pemerintahan yang tidak menghargai pengorbanan buruh migran.

Dalam penanganan kasus buruh migran Indonesia tak berdokumen di Malaysia, Gus Dur juga secara khusus melakukan lobi personal terhadap perdana menteri Malaysia pada Agustus 2005 dengan biaya pribadi. Berkat lobi ini, Gus Dur mampu membebaskan Adi bin Asnawi, buruh migran asal Lombok, NTB, yang sudah divonis hukuman mati dan dipenjara di Penjara Sungai Buloh Selangor. Ada dapat menghirup kebebasan pada 9 Januari 2010, 10 hari setelah kepergian Gus Dur, yang berjasa besar membebaskan Adi dari jerat gantungan.

Kini Gus Dur telah berpulang, di tengah nasib buruh (migran) Indonesia yang masih sangat rentan. Jika Pemerintah Indonesia menghormati jasa Gus Dur, seharusnya mereka juga menghormati kaum buruh (migran) Indonesia yang diperjuangkan Gus Dur. Selamat jalan Gus Dur, Presiden Pembela Buruh (Migran) Indonesia. (*)

Wahyu Susilo, analis kebijakan perburuhan Migrant CARE dan bekerja di INFID, sedang melakukan riset di Asia Centre, Flinders University, Australia
[www.jawapos.co.id]

28.4.10

Peta Intelektualisme dan Tema Pokok Pemikiran Gus Dur


Oleh : Marzuki Wahid

Kehadiran Gus Dur—panggilan akrab KH. Abdurrahman Wahid, Presiden RI Keempat dan Ketua Umum PBNU 1984-1999 yang wafat pada 30 Desember 2009—tidak bisa dipisahkan dari sejarah kontroversi dan kenylenehan di negeri ini, utamanya sepanjang era Orde Baru. Semenjak kepulangan dari studinya di Mesir dan Irak sekitar awal 1970-an, ia mulai membuat kejutan-kejutan baru. Baik lewat tulisan-tulisannya di pelbagai media massa terkemuka saat itu, maupun lompatan-lompatan tindakannya dari bandara tradisi habitatnya, pondok pesantren, Gus Dur selalu menggulirkan wacana kritis ke hadapan publik—jika ia sendiri tidak menjadi konsumsi untuk wacana publik. Pertanyaannya kemudian: mengapa terjadi kontroversi dan mengapa dianggap nyleneh? Apakah karena faktor Gus Dur yang memicu kontroversi ataukah karena kondisi masyarakat atau negara yang belum siap menerima ajakan Gus Dur, sehingga menimbulkan kontroversi dan menganggapnya nyleneh?

Pertanyaan ini penting dimajukan setidaknya karena dua hal. Pertama, untuk menguji sejauhmana kualitas pemikiran Gus Dur di hadapan publik sehingga mampu membuat kontroversi dan di­anggap nyleneh. Kedua, sebaliknya, untuk menilai sejauhmana kedewasaan masyarakat atau negara dalam menghadapi dan menerima pemikiran-pemikiran cerdas dan tindakan-tindakan kritis yang mengagetkan di luar mainstream. Kedua hal ini memang harus dilihat dan diketahui agar kita bisa membaca secara jernih pemikiran atau tindakan Gus Dur, baik dari aspek substantif maupun dari segi pengaruh sosialnya ketika hal itu dilontarkan. Dari sini akan menjadi jelas mana dimensi ontologis dan epistemologis pemikiran Gus Dur—yang oleh beberapa ahli filsafat ilmu bisa bebas nilai—dan mana dimensi aksiologisnya yang tidak bisa mengabaikan sistem nilai di mana pemikiran itu hendak diterapkan.

Pengakuan Berbagai Kalangan

Terlepas dari debat filosofi pemikiran dan tindakannya, sebagaimana umum diketahui, jauh sebelum jadi presiden, Gus Dur me­mang sering memerankan dirinya sebagai aktor kritis terhadap ne­gara. Perjuangannya yang gigih menegakkan demokrasi dan pemikirannya yang di luar kebiasaan umum selalu diposisikan sebagai 'pesaing politik' dari negara. Menjadi tak heran, kalau ia kemudian dianggap sebagai satu-satunya kekuatan sosial politik paling independen di Indonesia sepanjang Orde Baru. Jika Presiden Soeharto dengan kalangan tentara dan birokrasi, pada saat itu, dianggap sayap negara (the state), maka Gus Dur dengan NU dan kalangan pro-demokrasi adalah sayap masyarakat sipil (the civil society). Tak ayal lagi, negara dan civil society selalu berhadapan dan bersitegang akibat proses demokratisasi yang selalu membentur benteng otoritarianisme-birokrasi raksasa politik Orde Baru.

Juga tak aneh kemudian, bila komentar-komentarnya dan gerakannya selalu menghiasi halaman-halaman media massa sebanding lurus dengan penampilan negara yang kian hegemonik. Demikian juga keberaniannya menentang arus utama negara dan dalam hal-hal tertentu juga arus masyarakat yang tidak sesuai dengan gagasan dan pikirannya, serta kesetiaannya pada Islam dan nilai-nilai kebangsaan, menjadikannya sebagai tokoh yang populer dan disegani sekaligus dimusuhi dan dicaci-maki sepanjang hidupnya.

Walhasil, Gus Dur menjadi the news maker dan pernah terpilih menjadi tokoh terpopuler tiga kali: pertama, tokoh tahun 1989 oleh Surat Kabar Pikiran Rakyat; kedua, tokoh tahun 1990 oleh Majalah Editor, dan ketiga, tokoh tahun 1999 oleh Surat Kabar Kompas. Lebih dari itu, dia juga banyak menerima penghargaan nasional maupun internasional, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Dalam bidang akademik, Gus Dur banyak menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari berbagai universitas dunia ternama. Gus Dur disejajarkan dengan Soekarno sebagai ilmuwan yang masuk ke dalam deretan orang-orang pandai di dunia. Soekarno mampu mengantongi 24 gelar Doktor Honoris Causa (HC), Gus Dur memperoleh 10 gelar Doktor HC. Dalam bidang non-akademik, Gus Dur, di antaranya, memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay Award dari Philipina (1993), Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations New York (2003), World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul Korea Selatan (2003), Presiden World Headquarters on Non-Violence Peace Movement (2003), Simon Wiethemtal Center, AS (2008), penghargaan dari Mebal Valor, AS (2008), penghargaan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dari Pemerintah Mesir, penghargaan dan kehormatan dari Temple University, Philadelphia, AS, yang memakai namanya untuk penghargaan terhadap studi dan pengkajian kerukunan antarumat beragama, Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Studies (2008).

Sedangkan penghargaan nasional, di antaranya, adalah Bintang Tanda Jasa Kelas 1, Pin Penghargaan Keluarga Berencana dari Perhimpunan Keluarga Berencana I, Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI BJ Habibie. Tidak hanya semasa hidupnya penghargaan diperoleh, setelah wafat pun penghargaan masih mengalir diberikan kepadanya. Di antaranya adalah Universitas Mahendradatta memberikan Mahendradatta Award A di bidang akademik (2010), Dewan Adat Papua (DAP) menganugerahi Bapak Demokrasi Papua oleh (2010), dan LSM Charta Politika memberikan anugerah Lifetime Achievement Charta Politika Award (2010). Julukan Guru Bangsa dan Bapak Bangsa—bahkan Pahlawan Nasional--hampir diberikan oleh seluruh komponen organisasi, baik dari lembaga Negara, Pemerintah, NGO’s, maupun komunitas sosial lainnya.

Penghargaan-penghargaan ini suatu bukti pengakuan nasional dan internasional terhadap peran dan kontribusinya dalam proses kebangsaan Indonesia dalam mewujudkan masyarakat demokratis, adil, dan berkeadaban.

Tokoh Muslim Terkemuka

Pada sisi pemikiran, sejak terpilih sebagai Ketua Umum Tanfidhiyyah PBNU pada tahun 1984, Gus Dur telah menjadi salah seorang intelektual muslim Indonesia yang sangat berpengaruh dan diperhitungkan. Hal ini bukan saja didukung oleh posisinya di NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, melainkan juga karena percikan-percikan pemikirannya yang progresif tentang Islam, pluralisme, Pancasila, dan demokrasi. Douglas E Ramage1, Greg Barton2, Adam Schwarz3, Mitsuo Nakamura4, dan Einar M. Sitompul5, secara umum—meskipun tersirat—sepakat menyebutnya sebagai salah seorang intelektual Indonesia yang paling berpengaruh dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer dengan corak pemikiran Islam yang kritis dan progresif6. Dalam penjelasan mereka, Gus Dur pada satu sisi dipandang dan dikenal banyak orang sebagai figur genius dan karismatik setingkat wali, namun pada sisi lain, ia ditafsirkan oleh banyak orang, khususnya kelas menengah terdidik Indonesia, sebagai politisi yang sekular atau sebagai intelektual liberal. Kedua posisi inilah yang, dalam perjalanan sosial Gus Dur, menjadi kekuatan sekaligus juga sasaran kritik dari banyak kalangan Islam sendiri.

"Kontroversial" dan kenylenehan" menjadi fokus, karena titik-titik inilah yang telah banyak dijelaskan para ahli pada bidangnya, yakni oleh agamawan, budayawan, politikus, politisi, feminis, ekonom, dan ahli tasawuf. Pencatatan ini penting dilakukan, setidak-tidaknya, sebagai pintu masuk (entry point) kita dalam memahami Gus Dur melalui pendekatan antropologis.

Disadari, memang tidak mudah merumuskan pokok-pokok pemikiran Gus Dur. Karena pemikirannya tersebar ke berbagai media massa dan ditulis dalam waktu yang berlainan secara singkat-singkat, jika tidak hanya berupa lontaran-lontaran gagasan belaka. Kesulitan demikian diakui sendiri oleh Gus Dur ketika memulai kata pengantarnya untuk dua buah buku bunga rampainya, Bunga Rampai Pesantren (1978) dan Muslim di Tengah Pergumulan (1983). Dia menyadari bahwa betapa sukarnya untuk mengumpulkan tulisan-tulisannya itu ke dalam sebuah tema atau susunan yang utuh, bukan saja bagi pembaca tapi juga bagi dirinya sendiri.

Kata Barton, peneliti tulisan-tulisan Gus Dur dari Australia, pengakuan Gus Dur tersebut merupakan ekspresi dari kenyataan yang ada, bahwa kedua bukunya itu memuat sejumlah artikel yang ditulis untuk maksud serta audiens yang berbeda. Meski begitu, tidak berarti bahwa pemikiran-pemikiran Gus Dur tak memiliki tema pokok yang dapat memayunginya sebagai sebuah tawaran pemikiran alternatif. Tulisan-tulisan yang berjumlah lebih dari 500 buah itu jika dilakukan klasifikasi dan reformulasi secukupnya kiranya bisa membuahkan satu bangunan pemikiran yang relatif utuh. Karena itu, seperti dikatakan Barton, pengakuan yang disampaikan Gus Dur secara terang-terangan itu sebenarnya hanyalah ungkapan halus dari sikap rendah hatinya kepada para pembacanya semata agar mendapat dukungan politik dari kalangan pro-PKI atau dukungan internasional, berkaitan dengan posisinya sebagai presiden. Praktis, usulan itu mendapat protes, penolakan, dan demonstrasi dari berbagai kalangan, terutama kalangan umat Islam, di berbagai daerah. Padahal kalau kita membaca kembali tulisan Gus Dur tahun 1988 di Majalah Aula, yang berjudul ">7. Buktinya, secara konsisten, Gus Dur tetap berada pada mainstream paradigma pemikiran makronya, meski dengan gaya zig-zag dalam implementasi partikularnya. Ingin dikatakan, bahwa gaya zig-zag inilah yang sering disalahpahami dan menjadi sasaran kontroversi di tingkat publik.

Tema-Tema Pokok Pemikiran Gus Dur

Dari studi bibliografis yang saya lakukan, ternyata ditemukan ada 493 buah tulisan Gus Dur sejak awal 1970-an hingga awal tahun 2000. Kini hingga akhir hayatnya (2009) bisa jadi telah lebih dari 600 buah tulisan Gus Dur. Karya intelektual yang ditulis selama lebih dari dua dasa warsa itu kami klasifikasikan ke dalam delapan bentuk tulisan, yakni tulisan dalam bentuk buku, terjemahan, kata pengantar buku, epilog buku, antologi buku, artikel, kolom, dan makalah.
jelaslah bahwa Gus Dur tidak sekadar membuat pernyataan dan melakukan aksi-aksi sosial politik, kebudayaan, dan pemberdayaan civil society belaka, melainkan juga merefleksikannya ke dalam tulisan, baik dalam bentuk artikel, kolom, makalah, maupun kata pengantar buku, yang sebagian tulisan tersebut belakangan diterbitkan dalam bentuk buku. Hanya saja, karena buku-buku yang diterbitkan itu dalam bentuk bunga rampai, tanpa ada rekonstruksi dari Gus Dur sendiri, maka kesan ketidakutuhan bangunan pemikiran menjadi tidak bisa dihindari. Tetapi itulah barangkali cermin dari latar intelektual Gus Dur yang bukan dari tradisi akademik "sekolah modern" di mana setiap tulisan mesti terikat dengan suatu metodologi dan referensi formal.

Gus Dur adalah seorang intelektual bebas (independen), atau mungkin —meminjam istilah Antonio Gramsci— "intelektual organik" dari tradisi akademik pesantren, sehingga tulisan-tulisannya cenderung bersifat reflektif, membumi, terkait dengan dunia penghayatan realitas, bahkan senantiasa bermotifkan transformatif. Referensi formal akademis dan pengikatan diri terhadap satu metodologi tidaklah menjadi penting, sepenting substansi yang disampaikannya.

Sejumlah karya tulis ini membuktikan intelektualisme Gus Dur yang kaya dengan gagasan dan pemikiran yang kreatif-transformatif dan inovatif. Tulisan-tulisan ini juga mungkin suatu bukti bahwa gerakan atau aksi Gus Dur tidak hampa teori atau tidak tanpa visi, yang suatu waktu bisa terjerumus pada oportunisme dan pragmatisme politik. Ketajamannya membaca realitas dan kekritisannya mengambil keputusan bisa dilihat dari kecenderungan tulisan-tulisan tersebut.

Sebanding dengan waktu dan kepentingan tulisan-tulisan tersebut dibuat, tema pembicaraan atau wacana yang dikembangkannya pun sangat beragam dan kompleks: mengenai apa saja. Mulai dari wacana fikih praktis di pesantren hingga wacana global "rekayasa masa depan" disinggung oleh Gus Dur. Jenis tulisannya pun beragam. Mulai dari bentuk tulisan yang serius-akademis hingga tulisan ringan-populer, semuanya dilakukan Gus Dur. Namun begitu, untuk kepentingan pemahaman makro pemikiran Gus Dur, secara simplifikasi tulisan-tulisan tersebut saya kelompokkan ke dalam tujuh tema pokok.

Ketujuh tema pokok ini juga menandai gagasan besar yang menjadi perhatian Gus Dur selama ini, baik melalui tulisannya maupun visi gerakannya. Tujuh hal yang dimaksud adalah:

1. pandangan-dunia pesantren,
2. pribumisasi Islam,
3. keharusan demokrasi,
4. finalitas negara-bangsa Pancasila,
5. pluralisme agama,
6. humanitarianisme universal, dan
7. antropologi kiai.

Ketujuh tema pokok ini secara umum menjelaskan keluasan wawasan dan besarnya perhatian Gus Dur terhadap tema-tema kontemporer yang menjadi isu global abad XX, yakni demokrasi, HAM, lingkungan hidup, dan gender. Tema-tema pokok inilah barangkali yang melandasi seluruh gerakan Gus Dur selama ini, baik dalam wilayah keagamaan, politik, kebudayaan, maupun ekonomi. Semua tema tersebut, dalam banyak tulisan, dibidik Gus Dur dari pemahaman keagamaan (Islam) melalui kekayaan intelektual dan kebudayaan pesantren. Ini tidak lain karena pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren yang sangat akrab dengan budaya lokal. Lembaga inilah yang membentuk karakter keberagamaan Gus Dur. Sementara pengembaraannya di Timur Tengah dan di Barat telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai isu-isu mondial yang membuat Gus Dur harus berpikir kosmopolit dan progresif.
Jika dilacak, dari segi kultural, Gus Dur memang melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, kultur dunia pesantren yang sangat hirarkis, penuh dengan etika yang serba formal, dan apreciate dengan budaya lokal; kedua, budaya Timur Tengah yang terbuka dan keras; dan ketiga, lapisan budaya Barat yang liberal, rasional, dan sekuler. Semua lapisan kultural itu tampaknya terinternalisasi dalam pribadi Gus Dur membentuk sinergi. Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai akhir hayatnya, Gus Dur senantiasa berdialog dengan semua watak budaya tersebut. Inilah, barangkali, anasir yang menyebabkan Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan tidak segera mudah dipahami, alias kontroversial8.

Sementara Moeslim Abdurrahman, sahabat dekatnya, mengibaratkan Gus Dur sebagai tokoh yang hendak membebaskan umat dari beban sejarah politik masa lalunya, seraya menyeru agar umat Islam Indonesia mampu menjawab beberapa persoalan mendesak, seperti kemajemukan dalam berbangsa dan bernegara, demokratisasi, dan keadilan sosial. Di sisi lain, Gus Dur, menurutnya, termasuk salah satu tokoh penting yang melengkapi khazanah intelektual Islam Indonesia lewat literatur klasik. Dalam konteks inilah, ia —bersama Nurcholish Madjid— lantas disebut sebagai kelompok neo-modernist9.
kita kadang menyayangkan sekali mengapa sebagian orang bisa mencapai kesimpulan bahwa pemikiran atau tindakan Gus Dur tidak konsisten, hanya karena melihat zig-zag politiknya yang artistik itu. Padahal tampak jelas visi dan gagasan makronya. Hal itu bisa jadi karena mereka tidak begitu intens membaca tulisan-tulisan Gus Dur dan tidak menangkap narasi-besar Gus Dur. Jika mereka bersedia membaca lebih dekat tulisan-tulisan yang dihasilkan Gus Dur, maka akan terlihat konsistensi pemikiran dan sikap Gus Dur, meski dengan cara zig-zag dan melawan arus ke sana ke mari. Keterkaitan satu tulisan dengan tulisan lainnya itulah yang membentuk substansi pemikiran progresif, kritis-transformatif, dari Gus Dur.
Untuk mengetahui spektrum intelektualitas Gus Dur dari waktu ke waktu, dan kecenderungan wacana yang dikembangkannya, lihat periodesasi berdasarkan dekade. Dari tabel tersebut, tergambar produktivitas tulisan Gus Dur dari periode ke periode. Secara kuantitatif, statistika tulisan Gus Dur dari tahun ke tahun kian meningkat: dari 37 buah (1970-an) ke 189 buah (1980-an) hingga 253 buah (1990-an).
Kompleksitas wacana yang menjadi perhatian Gus Dur menunjukkan bahwa Gus Dur adalah seorang generalis, bukan spesialis keilmuan tertentu. Hampir setiap isu kontemporer direspon Gus Dur. Ini mungkin berkaitan dengan posisinya sebagai pemimpin publik dan aktivis gerakan sosial, terutama di organisasi NU. Sebagai pemimpin berjuta-juta umat pada level nasional dan internasional (selaku Presiden WCRP) memaksa Gus Dur untuk terlibat dalam segala urusan publik, mulai dari wacana internal keagamaan dan ke-NU-an hingga wacana global yang menjadi trend Dunia Ketiga.

Meski secara kuantitatif garis statistiknya kian meningkat, namun belum tentu untuk kualitas tulisan-tulisan tersebut. Untuk mengetahui secara pasti kualitas masing-masing tulisan tersebut kiranya butuh penelitian khusus. Tetapi dengan asumsi bahwa standar tulisan di jurnal ilmiah, seperti Prisma, lebih serius dan lebih bermutu ketimbang tulisan artikel atau kolom di Majalah atau Surat Kabar Harian, maka periode pertengahan akhir 1970-an hingga pertengahan pertama 1980-an merupakan puncak keemasan intelektual Gus Dur. Kurun waktu inilah kiranya bisa disebut "periode ilmiah" Gus Dur. Sepanjang tahun tersebut, Gus Dur mencurahkan energi intelektualnya ke berbagai media massa terkemuka, seperti di Prisma, Tempo, dan Kompas. Beberapa tulisannya juga termuat di berbagai media massa ternama, seperti Pelita, Pesantren, Aula Horison, Pesan, dan Peninjau. Tulisan-tulisan serius di Prisma, dan kolom-kolom kritis di Tempo, lahir pada periode ini. Selain beberapa dalam bentuk antologi buku,10 ada dua buah buku yang diterbitkan dalam periode ini, yaitu buku Bunga Rampai Pesantren, (Jakarta: CV Dharma Bhakti, 1978) dan buku Muslim di Tengah Pergumulan (Jakarta: Lappenas, 1981). Dua-duanya bunga rampai dari tulisan-tulisannya tentang pondok pesantren dan tentang Islam versus modernitas dengan berbagai pembaruannya.

Sementara pada periode pertengahan akhir 1980-an hingga pertengahan awal 1990-an, tulisan Gus Dur memang tersebar ke berbagai media massa dengan jangkauan lebih luas lagi. Bukan hanya Prisma, Tempo, Kompas, Pesantren, melainkan juga di Panji Masyarakat, Aula, Pelita, Editor, Amanah, Media Indonesia, Jawa Pos, Forum Keadilan, dan sejenisnya. Akan tetapi, tulisan-tulisan pe­riode ini relatif lebih pendek dan singkat ketimbang pada periode sebelumnya. Sebagian tulisannya diterbitkan dalam bentuk antologi.11 Sedangkan dalam bentuk bunga rampai hanya satu, yakni Kiai Menggugat Gus Dur Menjawab, Sebuah Pergumulan Wacana dan Transformasi (Gakarta: RMI bekerjasama dengan Jawa Pos, 1989).

Sementara pada periode 1990-an akhir, tulisan-tulisan Gus Dur selain dalam bentuk artikel dan kolom di pelbagai media massa juga menulis kata pengantar untuk sejumlah buku. Pada periode inilah tulisan-tulisan Gus Dur mulai diterbitkan dalam bentuk buku dan antologi buku secara meluas.12 Praktis, tulisan-tulisan periode ini, boleh dikatakan, selain memang ada inovasi baru, juga berupa pengembangan dan reproduksi dari gagasan-gagasan besar periode sebelumnya.

Mengapa demikian? Sebab, seperti berulang kali dikemukakan sebelumnya, Gus Dur itu selain intelektual dan pemikir, juga seorang aktifis organisasi dan gerakan sosial. Di sini, produktivitas tulisan Gus Dur tampaknya menunjukkan garis berbanding terbalik dengan frekuensi aktivitas gerakan sosialnya. Ketika Gus Dur belum menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Dur sangat kreatif dan produktif menulis: menghasilkan banyak karya tulis intelektual yang bermutu dan genuine. Tulisannya tajam, kritis, dan disertai referensi yang handal. Tetapi, setelah Gus Dur duduk di puncak kepemimpinan PBNU lebih sering terlibat di berbagai gerakan sosial, seperti NGO's, Forum Demokrasi, WCRP, GANDI, dengan akselarasi gerakan yang tinggi, maka produktivitas tulisan pun menurun. Tulisan-tulisan ilmiah bermutu itu berganti dengan komentar-komentar dan statemen-statemen yang hampir tiap hari menghiasi wacana Koran atau Majalah. Apalagi setelah nuansa gerakan politiknya kian pekat di penghujung 1990-an, di mana Gus Dur menjadi deklarator PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan sekarang menjadi Presiden RI Keempat, maka tulisan-tulisan itu tampaknya akan berubah menjadi pidato-pidato dan statemen-statemen politik saja. Demikian gambaran singkat spektrum intelektualitas Gus Dur dan hubungannya dengan gerakan praksis sosialnya.

Dengan pemaparan data-data karya tulis intelektual ini, tampak jelas bahwa Gus Dur ternyata bukan hanya seorang aktifis gerakan sosial dan gerakan politik semata, melainkan juga seorang intelektual dan pemikir cerdas yang terkemuka, sejajar dengan pemikir-pemikir besar lainnya, baik di Indonesia maupun di kalangan internasional. Meski ia tak pernah belajar di dunia akademik yang terdepan dalam ilmu-ilmu sosial, tetapi dalam daftar karya intelektual Gus Dur itu jelas terlihat kedalamannya meramu ilmu-ilmu sosial dengan pengetahuan keagamaan kritis.


Ilmuwan Multitalenta

Dalam beberapa kali diskusi rutin kami di INCReS Bandung sepuluh tahun yang lalu dan di Fahmina-institute lima tahun terakhir ini, tersirat suatu kesimpulan untuk tidak memposisikan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke dalam kelompok-kelompok aliran pemikiran yang ada atau ke dalam golongan-golongan ahli disiplin ilmu yang lazim diberikan oleh perguruan tinggi kita. Bukan karena takut salah atau latah, juga bukan karena khawatir terkena tuduhan Benedict R.O'G Anderson tentang scholarly prejudices (prasangka ilmiah) dalam studi-studi Indonesia yang pernah ditujukan pada para Indonesianis yang karenanya untuk beberapa dasawarsa wacana Nahdlatul Ulama (NU) seolah menjadi tak terpikirkan (unthought-of)10.

Akan tetapi memang terdapat sejumlah keberatan untuk memposisi­kan Gus Dur dalam satu segi disiplin ilmu saja. Selain karena tak cukup dukungan ilmiah yang kuat dan meyakinkan, juga secara relatif Gus Dur bisa masuk ke dalam semua kategori dan golongan-golongan yang telah dibuat orang. Lebih dari itu, Gus Dur bisa berada di luar semua kategori-kategori positivistik itu (beyond the categories of positivism).

Membaca kembali secara cermat tulisan-tulisan Gus Dur sejak tahun 1970-an hingga sekarang, baik yang sudah dibukukan belakangan maupun yang masih manuskrip, terasa ada nuansa reflektif yang mendalam untuk beberapa cabang disiplin ilmu. Tak tampak bahwa dia pakar dalam satu disiplin ilmu secara penuh, juga tidak tepat apabila Gus Dur diposisikan secara eksesif bahwa ia tidak menguasai satu bidang keilmuanpun. Tulisan-tulisan Gus Dur yang berjumlah lebih dari 500 judul itu tampak menyediakan banyak hal untuk banyak objek kajian, tapi tak satu pun dari kajian itu yang tuntas hingga ke akar-akarnya, kecuali jika direkonstruksi ke dalam satu wacana yang utuh. Tulisan-tulisan itu memang kompleks dan secara materi boleh dikata komprehensif, menarik, tajam, dan selalu mengandung gagasan-gagasan cerdas, tetapi tetap saja masih menyisakan ruang untuk bertanya akibat penulisannya yang singkat dan kadang terkait dengan peristiwa atau wacana yang ngetren saat itu11.

Akan tetapi sebagai penggagas dan pemikir, Gus Dur sangat maju dan kreatif melontarkan hal-hal baru, semaju dan kreatifnya dalam memperjuangkan liku-liku demokrasi di Indonesia. Jika diibaratkan suatu hidangan dalam suatu pesta, maka Gus Dur adalah seorang koki yang serba bisa masak berbagai jenis makanan dan mampu menyediakannya ke dalam pesta itu secara menarik; di dalam setiap masaknya, koki itu kerap menemukan ramuan masakan terbaru yang belum ada sebelumnya, tetapi —entah kenapa— ramuan terbaru itu tak pernah dimasaknya hingga selesai.

Walhasil, secara kelakar —meniru catatan harian Ahmad Wahib12— dapat dikatakan bahwa "Gus Dur bukanlah seorang sosiolog, bukan seorang politikus, bukan seorang politisi, bukan seorang seniman, bukan seorang budayawan, bukan seorang agamawan, bukan seorang feminis, dan juga bukan seorang pemikir, tapi Gus Dur adalah semuanya". Lebih dari itu, Gus Dur juga se­orang humoris13. Sebagai budayawan, agamawan, politikus, atau apa saja namanya, orang segera memahami Gus Dur, tapi untuk status yang terakhir ini ada penjelasan kecil dari Gus Dur. Lewat tulisan kolomnya "Melawan Melalui Lelucon" di Tempo tahun 1981, Gus Dur menyatakan "Lelucon, dan bentuk-bentuk humor lain, memang tidak dapat mengubah keadaan atas 'tenaga sendiri', sebagaimana juga ideologi-ideologi besar tidak mampu melakukan hal itu sendirian. Namun, lelucon yang kreatif tetapi kritis akan merupakan bagian yang tidak boleh tidak harus diberi tempat dalam tradisi perlawanan kultural suatu bangsa, kalau bangsa itu sendiri tidak ingin kehilangan kehidupan waras dan sikap berimbang dalam menghadapi kenyataan pahit dalam lingkup sangat luas. Dera kepahitan dalam jangka panjang tidak mustahil akan ditundukkan oleh kesegaran humor."14

Kelakar model ini menemukan pembenarannya ketika dihubung-hubungkan dengan gerakan dan manuver-manuvernya, baik sebelum maupun saat dan setelah menjadi Presiden RI Keempat. Jika hanya dilihat dari satu perspektif saja, manuver dan gerakan itu selalu mengundang kontroversi dan kenylenehan-kenylenehan yang berarti. Kontroversi ini tidak saja dirasakan oleh kalangan NU, melainkan juga oleh mereka yang sering disebut dengan berbagai julukan akademis itu. Ini tidak lain karena Gus Dur selalu menampilkan peran yang multidimensi dengan multistatus di alam kehidupan ini sekaligus.

Oleh karena itu, kami setuju dengan Hairus Salim HS dan Nuruddin Amin, dua peneliti muda kreatif NU yang lahir dari rahim LKiS Yogyakarta, bahwa untuk memahami sosok Gus Dur secara utuh harus dilakukan oleh banyak pengamat dari banyak jalur disiplin. Periodesasi juga penting dilakukan untuk mengetahui masa-masa yang paling menentukan bagi formasi intelektualitas Gus Dur.

Dasawarsa 1970-an hingga 1980-an awal, jika kita mau membagi-bagi secara periodik, di mana Gus Dur sangat kreatif menulis, bisa disebut sebagai "periode-ilmiah" Gus Dur. Yakni ketika Gus Dur lagi gandrung dengan penggunaan metodologi ilmu sosial —terutama antropologi— untuk menjelaskan 'ideologi'nya.15 Pada periode ini, pemikiran dan gerakan Gus Dur terfokus pada persoalan sosial, budaya, politik, dan keagamaan yang langsung berkaitan dengan pergolakan dunia pesantren. Sementara akhir dasawarsa 1980-an hingga 1990-an awal adalah periode sepak terjang politik Gus Dur dan munculnya ide-ide Gus Dur yang berkaitan dengan demokrasi, pluralisme agama, humanitarianisme, kebebasan berpendapat, pribumisasi Islam, dan lain-lain, yang bisa dianggap sebagai praksis dari pelbagai pemikiran yang dilontarkannya sekitar satu dasawarsa silam16.

Belakangan, 1990-an akhir, Gus Dur lebih tampak sebagai politisi yang ikut terlibat dalam gonjang-ganjing politik dalam negeri. Lebih-lebih setelah dirinya dipilih MPR sebagai Presiden RI Keempat, menggantikan BJ Habibie, pada 20 Oktober 1999. Meski sebagai politisi, tetapi Gus Dur tetap menjadi budayawan yang manuver dan pernyataannya membuat dunia politik menjadi dunia seni, yang tidak sakral, tidak hitam-putih, dan tidak menang-menangan. Itu sumbangan terbesar Gus Dur kepada praksis politik kita.

Sejalan dengan berkurangnya produktivitas tulisannya, pernyataan dan manuvernya kian nyleneh dan kontroversial, yang oleh sebagian orang sulit dipahami dengan ukuran rasionalisme dan logika-logika positivistik. Begitulah seni dan menariknya: Gus Dur bukan lagi koki, ia malah hidangan pesta itu sendiri, di mana setiap orang bisa datang ke pesta itu dan bisa menikmati setiap jenis makanan sesuai selera. Greg Barton, Greg Fealy, Douglas E Ramage, Al-Zastrouw Ng, Arief Affandi, Ellyasa K.H. Dharwis, Dedy Djamaluddin Malik & Idi Subandy Ibrahim, Laode Ida & A Thantowi Jauhari, Ahmad Bahar, Ma'mun Murod al-Barabasy, dan Saeful Arief, melalui bukunya masing-masing17 adalah sedikit orang yang mampu menikmati hidangan itu. Bagi orang yang tidak memahami kosmologi dan antropologi Gus Dur tampak tak dapat menikmati, bahkan enggan mencicipi.

Itulah sebagian sosok Gus Dur, beyond the positivism. Penampilannya di wilayah publik selalu mengundang polemik: kritik dan apresiasi. Pemikiran, gagasan, dan perilakunya tidak mudah begitu saja dipahami. "Sulit memahami Gus Dur". Pernyataan ini biasanya terdengar dari orang-orang yang kebingungan membaca berbagai pernyataan Gus Dur. Para pengamat politik yang menganalisis pernyataan Gus Dur hanya dengan kerangka teori tertentu pasti tak mudah segera memahaminya. Membaca Gus Dur dengan paradigma positivistik diduga kuat akan gagal memberikan penjelasan yang sebenarnya.

Pernah ada pada tahun 1999, seorang pengamat politik muda yang marah-marah dengan (memaksa) melarang pers memberitakan manuver Gus Dur karena dianggap irrasional. Sinyalemen pun muncul —entah ngejek atau memuji— untuk menandai manuvernya, bahwa Gus Dur merupakan tambahan baru dari tiga rahasia Tuhan yang pernah disitir Nabi SAW. Tak seorang pun akan bisa mengetahui kecuali Allah SWT tentang: kematian, rizki, jodoh, dan Gus Dur.

Nyleneh dan “Membingungkan”?

Memang bagi segenap pembaca dan pendengar, ada sesuatu yang briliyan dan mencerdaskan dari Gus Dur, sekaligus juga ada yang 'membingungkan' dan mengacaukan akal sehat bagi segenap yang lain. Untuk yang terakhir ini, Gus Dur sering dijadikan 'kambing hitam' sebagai orang yang membuat keresahan masyarakat akibat pernyataan dan tindakannya yang khariq lil ‘adah (di luar kebiasaan).

Berkaitan dengan kesan yang terakhir: betulkah Gus Dur membingungkan sehingga meresahkan masyarakat? Sejumlah kiai "tradisional" NU dan aktivis pro-demokrasi yang pernah saya wawancarai, semuanya dapat memahami pernyataan dan tindakan Gus Dur. Tak seorang pun yang bingung dan resah akibat itu. Bahkan mereka dengan sangat baik menjelaskan mengapa pernyataan dan tindakan itu muncul dan harus dimunculkan dalam kondisi masyarakat Indonesia seperti ini. Jadi, timbul satu pertanyaan: mengapa sering dimunculkan praduga bahwa "Gus Dur membingungkan dan meresahkan masyarakat"? Siapa sebetulnya yang bingung dan siapa yang membuat kebi­ngungan dan keresahan, tidak demikian jelas.

Agaknya kita harus cermat betul dengan dua istilah ini: "membi­ngungkan" dan "meresahkan". Dua istilah itu mempunyai akar sejarahnya sendiri dalam wacana kepolitikan Orde Baru. "Membi­ngungkan" dan "meresahkan" adalah dua stigma sosial yang sering digunakan aparatus Orde Baru untuk menundukkan lawan politiknya. Pemikiran yang cerdas dan kritis terhadap negara Orde Baru saat itu selalu dicap "membingungkan" dan "meresahkan" untuk tidak mengatakan "membahayakan" dan "merongrong" kekuasaannya. Atas nama labeling semacam itu, Orde Baru mempersalahkan mereka, dan bila perlu segera menyeretnya ke penjara. Maka jelaslah, dua istilah itu sangat bernuansa politis-ideologis: untuk mengalienasi dan mendorong orang untuk bersikap anti terhadap Gus Dur. Dengan kata lain, sebuah sikap 'perlawanan' atas gagasan, pemikiran, dan gerakan Gus Dur yang ingin mengubah status quo!

Lepas dari makna-makna kontroversial yang berkembang, Gus Dur memang dikenal sebagai tokoh yang memiliki banyak status. Selain popular diakui sebagai seorang intelektual kritis, budayawan pluralis, agamawan inklusif, politisi dan politikus independen,8 Gus Dur juga akrab dengan dunia metafisik (tasawuf). Meski Gus Dur sendiri menolak, tapi oleh sejumlah kalangan Gus Dur diyakini sebagai waliyullah (the holy person). Gus Dur, dengan demikian, memerankan tokoh yang serba bisa untuk segala urusan.

Pemikiran, gerakan, dan wacana yang dikembangkan Gus Dur kadang melampaui Nahdlatul Ulama (beyond the NU), organisasi besar yang dipimpinnya selama lima belas tahun, dan melintas Indonesia (post-Indonesia), negara tempat dia menancapkan pakem-pakem demokrasi. Akan tetapi pada saat lain, sejumlah pemikiran dan gerakannya dinilai cenderung bermuatan ideologis karena keberaniannya melawan arus. Namun, di atas semua itu, komitmen Gus Dur terhadap demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia, termasuk keterlibatannya melindungi dan membela kalangan minoritas dan yang tertindas, tak diragukan sedikitpun.

Dia bahkan telah melintasi sejumlah simbol (beyond the symbols), termasuk simbol-simbol keagamaan, yang kerap digunakan orang-orang yang mengritiknya. la ibarat burung elang yang terbang tinggi di atas awan "simbol-simbol bumi" dan mengepakkan dua sayapnya ke segala penjuru tanpa beban dan batas yang membelenggunya. Gus Dur sendiri pernah mengatakan, "Siapa saya sebenarnya tidak ada yang tahu, karena pada waktu (dianalisis) itu, (saya) berada di luar jangkauan siapa pun."18

Apresiasi, pemujaan, di satu sisi, dan kritik, tuduhan, hujatan, di sisi lain merupakan hal yang biasa mengena kepadanya. Tidak saja dari kalangan-dalam NU, basis komunitas tempat pijakannya, melainkan juga dari kalangan internasional dan kelompok-kelompok yang gemar membawa simbol Islam. Membaca semua fenomena itu, dalam pandangan kami, Gus Dur adalah Gus Dur. Gus Dur tidak bisa direpresentasikan atau merepresentasikan apapun. Gus Dur adalah sebuah fenomena otonom, yang seluruh kenyelenehan dan kontroversi pemikiran dan tindakannya hanya bisa dipahami dengan mengungkap secara telanjang semua latar sosial-intelektual-biografisnya, situasi sosial-politik-budaya kemunculannya, dan makna-makna tersembunyi (makro) di balik gerakannya. Itulah, kira-kira, partikel-partikel antropologis yang penting dijelaskan untuk mendapatkan pemahaman yang utuh tentang sosok Gus Dur.

Kita perlu membongkar arkeologi sosial-pemikiran dan gerakan Gus Dur untuk menjelaskan makna (tafsir) dari sejumlah simbol yang sering digunakan Gus Dur di hadapan publik. Banyak memang pemikiran, gagasan, dan perilaku Gus Dur yang membutuhkan penjelasan ilmiah lebih lanjut secara khusus. Belakangan muncul buku-buku tentang Gus Dur, baik tulisan-tulisannya sendiri maupun tulisan orang tentang Gus Dur. Akan tetapi, buku yang mencoba menggali penjelasan-penjelasan antropologis dari se­jumlah gerakan, manuver, dan pemikirannya agaknya belum tampak hadir. Kebanyakan buku selain lebih suka membeberkan aspek materiil dari pemikiran dan gerakannya, juga melihat Gus Dur pada sisi politiknya.

Tanpa mengurangi kajian literatur dan dokumen, penjelasan Gus Dur dapat diperoleh dari pendapat, komentar, kritik, dan apresiasi para pakar yang mempunyai otoritas pada bidangnya. Saya pernah mencoba menyajikan "sejarah lisan" dari teori dan pengalaman para ahli tersebut. Ada tujuh fokus kajian tentang Gus Dur, yaitu kajian kebudayaan, politik, agama, ekonomi, gender, dan tasawuf. Masing-masing fokus ini hanya bisa dibedah oleh ahlinya melalui perspektif kritis, non-positifistik.

Bagi saya, Gus Dur adalah sesuatu yang menarik dan sangat berarti bagi pengayaan intelektualisme Indonesia dan catatan biografi sosio-politiko-intelektual seorang pemikir dan pejuang demokrasi di Indonesia. Hipotesis bahwa Gus Dur adalah tokoh multidimensi—sebagai agamawan, politikus, politisi, budayawan, feminis, dan sufi—hanya bisa diungkap dalam keseluruhan peta pemikiran dan gerakan sosial di Indonesia.

Arkeologi sosial-intelektual Gus Dur, yang saya sebut "narasi-kecil perjalanan sosial-intelektual Gus Dur" merupakan pengetahuan dasar untuk memahami dan mengalisis Gus Dur, setidaknya, karena faktor-faktor ini mempunyai peranan yang signifikan dalam pembentukan jati dirinya dalam konjungtur kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, 'membaca' Gus Dur tanpa mempertimbangkan "narasi-kecil perjalanan sosial-intelektual Gus Dur " bisa menghasilkan kesimpulan yang keliru.[]

sumber:DARR AL TAUHID

Get this blog as a slideshow!