27.12.10

SDN 5 Kebondalem Pemalang Ikuti Lomba Mapsi Tingkat Propinsi Jateng


Setelah berhasil menjuarai lomba Seni Musik Rebana di tingkat Kabupaten Pemalang, Grup Jamiah Simtud Durror “Asyfa” SD Negeri 5 Kebondalen Kecamatan Pemalang kini akan mengikuti lomba Mapsi Seni Musik Rebana tingkat Propinsi Jawa Tengah. Kegiatan lomba tersebut akan dilaksanakan di Donohudan Solo pada hari Senin tanggal 27-28 Desember 2010.

Kepala SD Negeri 5 Kebondalem Sri Haryati SPd SD menuturkan, siswa-siswinya akan mengikuti lomba Mapsi Seni Musik Rabana di tingkat Propinsi Jawa Tengah untuk mewakili Kabupaten Pemalang, setelah berhasil menjadi juara I dalam gelar lomba tingkat kabupaten.

“Siswa-siswi kami akan diberangkat ke Donohudan Solo untuk mengikuti kegiatan lomba Mapsi Seni Musik tingkat propinsi,” katanya kepada Radar di sela-sela acara persiapan lomba di sekolahnya, Sabtu (25/12) lalu. .

Dia menjelaskan, semula sekolah hanya ingin memberikan sebuah kegiatan ektrakulikuler kepada para siswanya berupa kegiatan seni musik rebana. Dengan semangat mereka dalam mengikuti latihan, ternyata anak-anak mampu menampilkan hasil kreasinya. Untuk pertama kalinya tampil pada acara perpisahan kelas VI di sekolahnya.

“Setelah itu tampil berikutnya di acara panggung seni pramuka dan acara halal bi halal keluarga besar UPPK kecamatan Pemalang,” terangnya.

Penampilan siswa dalam grup seni musik rebana hasil binaannya yang dinilai cukup baik. Akhirnya ditunjuk mewakil Dabin II Kelurahan Kebondalem untuk mengikuti lomba di tingkat kecamatan dan hasilnya mendapat juara I. Kemudian maju ke tingkat kabupaten dan ternyata juga berhasil menjadi juara I.

“Sekarang ini sedang melakukan persiapan-persiapan untuk mengikuti lomba di tingkat Propinsi Jawa Tengah untuk mewakili Kabupaten Pemalang,” imbuhnya.

Dia mengatakan, keberhasilan para siswanya dalam lomba seni musik rebana ini, selain rasa semangat yang dibangun anak-anak juga berkat keuletan dan kesabaran para guru pembinanya, baik guru Agama Islam Robiyatul Adawiyah, pelatih Budi Fatkhuri dan Dede Zakarya dan dukung dari semua guru yang ada termasuk dukungan dari komite sekolah dan para orang tua siswa.

“Bahkan keberhasilan ini juga berkat dukungan dari Kepala UPPK Kecamatan Pemalang Drs C Suwito dan pengawas Agama yang selalu setia mengikuti kegiatan latihan di saat persiapan-persiapan lomba,” paparnya. (mg1)radartegal.com

Pandangan-pandangan kontroversial al-Nabhani dan Hizbut Tahrir yang Pantas Dibubarkan..!


Menjalankan Islam secara kaffah, tak perlu membongkar Pancasila. Islam harus dimaknai secara komprehensif, bukan hanya aspek fikih atau syariat saja.



“kita lihat NU atau Muhammadiyah tidak memaksakan syariat Islam karena Indonesia bukan negara agama tapi disisi lain jug...a bukan negara sekuler. Pelaksanaan syariat Islam dilaksanakan melalui masyarakat sipil, nilai dan makna syariat Islam mengisi ruh konstitusi, bukan secara legal formal,”



Pada masa Rasulullah, tidak ada persoalan dengan Islam karena semuanya ditentukan oleh Nabi Muhammad. Namun dalam perkembangan selanjutnya, terdapat spesialisasi-spesialisasi yang menyebabkan masing-masing orang merasa paling benar. Akhirnya, berbagai ilmu tersebut disatukan kembali oleh Al Ghozali yang merangkum berbagai aspek dalam agama Islam.



dapat kita contoh NU selama ini berjuang pada tataran substansi, bukan simbol serta mempertimbangkan tata nilai yang ada. “NU itu berjuang dalam basis amal, bukan kesan, bukan sekedar image building"



Tidak jarang apabila Anda memasuki masjid-masjid di perkotaan, atau instansi-instansi publik seperti kantor pos dan lain-lain, Anda akan menemukan selebaran putih yang dibagikan secara gratis, dengan logo biru bertuliskan AL-ISLAM, dan tuli...san artikel di bawahnya dengan tinta hitam. Buletin dakwah –demikian mereka menyebutnya-, yang terbit setiap hari Jum'at itu diterbitkan oleh saudara-saudara kita yang tergabung dalam organisasi politik Islam transnasional Hizbut Tahrir, yang di Indonesia dikenal dengan sebutan HTI.



Dari penampilan dan sikap aktifis-aktifis HTI, rata-rata mereka memiliki etika yang halus, tutur sapa yang lembut dan sopan, nada bicara dan retorika yang bagus dalam presentasi dan berargumentasi, memiliki militansi dan ghirah yang hebat terhadap Islam, cita-cita dan kesadaran yang tinggi untuk menegakkan penerapan syariat Islam dalam segala lini kehidupan, dan tentu saja –yang terpenting menurut mereka- tegaknya khilafah Islam sebagai sistem pemerintahan yang dianut kaum Muslimin. Demikian kira-kira ciri khas yang tidak jarang dimiliki aktifis HTI yang rata-rata terdiri dari kalangan terpelajar dan cerdas.



Meskipun demikian, organisasi politik yang didirikan oleh Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1979) ini, hingga saat ini masih menghadapi berbagai rintangan dalam memperjuangkan cita-citanya, terutama dari ormas-ormas Islam lain yang terus berupaya menghalau laju pergerakan HTI, yang kian hari masih terus diminati oleh masyarakat kampus di berbagai perguruan tinggi. Di negara-negara Arab sendiri, HT relatif tidak berkembang, bahkan perkembangannya jauh lebih subur di Indonesia.

Dan sudah barang tentu, keberatan ormas-ormas Islam lain seperti Nahdlatul Ulama, terhadap HTI bukan tanpa alasan. Mereka memiliki alasan-alasan yang kuat yang patut dipertimbangkan dengan pikiran yang jernih dan disadari dengan hati nurani yang paling dalam, terutama oleh kaum HTI sendiri. Setidaknya berikut ini akan dikemukakan beberapa hal perbedaan HTI dengan kaum Muslim Indonesia:



Pertama, ideologi dan pola pikir HTI, berbeda dengan ideologi dan pola pikir mayoritas Muslim di Indonesia. Selama ini mayoritas Muslim di negeri ini memperjuangkan dan menganut faham Ahlussunnah Wal-Jama'ah dalam ideologi dan mengikuti pola pikir bermadzhab dalam amaliyah sehari-hari. Sementara al-Nabhani –pendiri HTI- dalam kitab-kitab yang ditulisnya sebagai rujukan pergerakan HTI, memiliki pandangan yang berbeda. Dalam ideologi tidak menganut Ahlussunnah, dalam furu' tidak bermadzhab. Perbedaan ideologi dan pola pikir HTI dengan mayoritas Muslim lain di negeri ini sudah barang tentu akan membuat perpecahan baru di kalangan Muslim antara HTI dengan yang lain, sehingga bukan mempermudah tegaknya khilafah dan kesatuan umat, tetapi akan menggerus ukhuwah Islamiyah sesama Muslim. Dengan pola pikir anti madzhab ala HT, akan dapat pula memutus hubungan kaum Muslimin dengan pendahulunya yang bermadzhab pada saat-saat khilafah masih ditegakkan.



Kedua, sejak dulu kala kaum Muslim Indonesia meyakini bahwa rukun iman jumlahnya ada enam. Yaitu mempercayai adanya Allah, Malaikat, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, hari pembalasan dan qadar (kepastian) Allah, yang baik dan yang buruk.... Tetapi HTI, sebagaimana ditegaskan oleh al-Nahbani dalam al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah (1/43), meyakini bahwa rukun iman seorang Muslim hanya ada lima, yaitu selain qadha' dan qadar Allah. (Admin Pernah dikafirkan dan dicaci maki akibat membongkar Aib KeImanan HTI)



Ketiga, Ahlussunnah Wal-Jama'ah meyakini dan mengikuti metodologi ta'wil terhadap ayat-ayat al-Qur'an yang dianggap mutasyabihat. Penakwilan terhadap ayat-ayat mutasyabihat ini telah diajarkan oleh sahabat dan ulama salaf yang saleh seperti Ibn Abbas, Sufyan al-Tsauri, al-Bukhari, Ahmad bin Hanbal, al-Thabari, Ibn Hibban dan lain-lain. Sementara al-Nabhani dalam kitab al-Syakhshiyyah (1/53) berpandangan, bahwa ta'wil itu sebenarnya berasal dari ahli kalam sejak awal abad keempat Hijriah, bukan dari ulama salaf yang saleh. Sudah barang tentu, pernyataan al-Nabhani ini murni kebohongan dan pemalsuan yang tidak selayaknya dimiliki oleh kaum yang mengklaim bercita-cita mendirikan negara Islam atas nama khilafah. Pantaskah kelompok yang mengklaim menegakkan khilafah Islamiyah berbohong?



Keempat, al-Nabhani dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah (1/70) berpandangan bahwa seluruh ulama Ahlussunnah Wal-Jama'ah sejak dulu hingga sekarang telah gagal alias tersesat dan menyesatkan umat dalam menjelaskan persoalan qadha' dan ...qadar, sehingga al-Nabhani menilai Ahlussunnah Wal-Jama'ah itu sebenarnya aliran Jabariyah. Pernyataan al-Nabhani yang secara terus terang menohok seluruh ulama panutan umat ini sangat tidak pantas dan tidak layak diikuti. Pernyataan tersebut menggambarkan kesombongan al-Nabhani, yang beranggapan dirinya lebih pandai dan lebih alim daripada seluruh ulama yang ada sebelumnya. Bahkan ia menganggap seluruh ulama telah tersesat. Padahal berdasarkan ijma' ulama, orang yang berpandangan dengan suatu pendapat yang berimplikasi pada penilaian sesat terhadap seluruh umat adalah kafir secara definitif. Na'udzu billah min dzalik.



Kelima, al-Nabhani (1/74) berpandangan bahwa pemaknaan qadha' dan qadar seperti yang terdapat dalam seluruh kitab Ahlussunnah Wal-Jama'ah adalah nihil dan dibuat-buat oleh ahli teolog (mutakallimin). Pernyataan al-Nabhani ini termasuk kebohongan murahan, karena para ulama Ahlussunnah Wal-Jama'ah memberikan pemaknaan qadha' dan qadar dalam kitab-kitab mereka didasarkan pada dalil-dalil al-Qur'an dan al-Sunnah. Justru pernyataan al-Nabhani yang membebek terhadap Mu'tazilah, yang anti qadha' dan qadar, telah keluar dari ajaran al-Qur'an dan Sunnah. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, al-Baihaqi, al-Hakim dan lain-lain disebutkan, al-Qadariyyah Majus Hadzihi al-Ummah (kelompok Qadariyah –aliah Mu'tazilah dan HT-, adalah sama dengan penganut Majusi dalam umat ini).



Keenam, al-Nabhani dan petinggi-petinggi HT yang lain, tidak jarang mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial dan melenceng dari ajaran Islam, seperti fatwa bolehnya berjabatan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan istri dan bukan m...ahram. Sudah barang tentu fatwa ini tidak akan memudahkan tegaknya syariat Islam, bahkan menjadi jalan mulusnya dekadensi moral pemuda Muslim yang semakin hari memang semakin jauh dari nilai-nilai agama akibat serangan budaya Barat yang menerjang negara-negara Muslim. Bahkan lebih jauh lagi, sebagian petinggi HT ada yang berfatwa bolehnya ciuman laki-laki dengan perempuan bukan istri dan bukan mahram, seperti dalam selebaran yang pernah disebarkan HT di Lebanon pada awal-awal berdirinya HT.



Demikian beberapa contoh pandangan-pandangan kontroversial al-Nabhani dan HT yang berbeda dengan ideologi dan ajaran kaum Muslimin di dunia. Hal tersebut harus menjadi pertimbangan bagi saudara-saudara Muslim yang masih aktif di HTI, agar segera bertaubat, keluar dari HTI dan kembali ke pangkuan ajaran Islam yang benar, agar tidak termasuk, "orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. al-Kahf:104). Wallahul muwaffiq.



(Admin Selamatkan Demokrasi Pancasila & UUD '45 Dari Rongrongan Ide Khilafah)

Wabup Pemalang Nonton Bareng Piala AFF


Pertandingan final Piala AFF yang berlangsung Minggu (26/12) malam antara Indonesia melawan Malaysia di Stadion Bukut Jalil Kuala Lumpur menyedot perhatian. Wakil Bupati Pemalang H Junaedi SH MM yang juga pencita sepakbola rupanya juga tidak ingin ketinggalan ikut menyasikannya dalam acara nonton bareng di Pendopo Kecamatan Pemalang.

Acara nonton sepakbola bareng yang diselenggarakan Camat Pemalang Suharto SIP, selain dihadiri Wakil Bupati Pemalang beserta istri, juga hadir pula sejumlah pejabat di antaranya Camat Taman Drs Sultanto, Kepala Bidang Koperasi Ir Bambang Gunawan dan sejumlah pejabat lainnya termasuk wakil Ketua DPRD Pemalang Muntoha SH M.Hum serta sejumlahnya kepala desa ikut hadir. Selain itu hadirpula Ketua KONI Pemalang yang baru saja terpilih dalam Musorkab Kristiaji.

Mereka nampak semangat saat menyaksikan babak pertama. Memasuki babak kedua semua penonton yang ada di pendopo kecamatan menjadi tegang, termasuk wakil bupati. Apalagi serangan yang dibangun tim Malaysia makin membuat kekuatan tim Indonesia rapuh hingga harus menelan kekalahan 3 - 0. (mg1)www.radartegal.com

Biografi Pengarang Kitab Maulid Barzanji (Syaikh Ja'far Al-Barzanji)


oleh: Luqman Firmansyah

Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya, seorang sufi bernama Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al – Barzanji. Beliau adalah pengarang kitab Maulid yang termasyur dan terkenal dengan nama Mawlid Al-Barzanji. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir (kalung permata) atau ‘Iqd Al-Jawhar fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar. Barzanji sebenarnya adalah nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzanj.





Kitab Maulid Al-Barzanji karangan beliau ini termasuk salah satu kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Arab dan Islam, baik Timur maupun Barat. Bahkan banyak kalangan Arab dan non-Arab yang menghafalnya dan mereka membacanya dalam acara-acara keagamaan yang sesuai. Kandungannya merupakan Khulasah (ringkasan) Sirah Nabawiyah yang meliputi kisah kelahiran beliau, pengutusannya sebagai rasul, hijrah, akhlaq, peperangan hingga wafatnya. Syaikh Ja’far Al-Barzanji dilahirkan pada hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 di Madinah Al-Munawwaroh dan wafat pada hari Selasa, selepas Asar, 4 Sya’ban tahun 1177 H di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah maqam beliau dari kalangan anak-anak perempuan Junjungan Nabi saw.

Sayyid Ja’far Al-Barzanji adalah seorang ulama’ besar keturunan Nabi Muhammad saw dari keluarga Sa’adah Al Barzanji yang termasyur, berasal dari Barzanj di Irak. Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah. Nama nasabnya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a.

Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi. Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah.

Syaikh Ja’far Al-Barzanji juga seorang Qodhi (hakim) dari madzhab Maliki yang bermukim di Madinah, merupakan salah seorang keturunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid Al-Alwi Al-Husain Al-Musawi Al-Saharzuri Al-Barzanji (1040-1103 H / 1630-1691 M), Mufti Agung dari madzhab Syafi’i di Madinah. Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdi di Irak, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi. Di sana beliau telah belajar dari ulama’-ulama’ terkenal, diantaranya Syaikh Athaallah ibn Ahmad Al-Azhari, Syaikh Abdul Wahab At-Thanthowi Al-Ahmadi, Syaikh Ahmad Al-Asybuli. Beliau juga telah diijazahkan oleh sebahagian ulama’, antaranya : Syaikh Muhammad At-Thoyib Al-Fasi, Sayid Muhammad At-Thobari, Syaikh Muhammad ibn Hasan Al A’jimi, Sayid Musthofa Al-Bakri, Syaikh Abdullah As-Syubrawi Al-Misri.

Syaikh Ja’far Al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo’a untuk hujan pada musim-musim kemarau.





Salah satu kegiatan yang di prakarsai oleh Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini!





Kitab Al-Barzanji ditulis dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meningkatkan gairah umat. Dalam kitab itu riwayat Nabi saw dilukiskan dengan bahasa yang indah dalam bentuk puisi dan prosa (nasr) dan kasidah yang sangat menarik. Dalam Barzanji diceritakan bahwa kelahiran kekasih Allah ini ditandai dengan banyak peristiwa ajaib yang terjadi saat itu, sebagai genderang tentang kenabiannya dan pemberitahuan bahwa Nabi Muhammad adalah pilihan Allah.





Salah satu hal yang mengagumkan sehubungan dengan karya Ja’far Al-Barzanji adalah kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhenti pada fungsinya sebagai bahan bacaan. Dengan segala potensinya, karya ini kiranya telah ikut membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan sehubungan dengan cara umat Islam diberbagai negeri menghormati sosok dan perjuangan Nabi Muhammad saw.

Kitab Maulid Al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-’Allaamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H dengan satu syarah yang memadai, cukup elok dan bermanfaat yang dinamakan ‘Al-Qawl Al-Munji ‘ala Mawlid Al-Barzanji’ yang telah banyak kali diulang cetaknya di Mesir.





Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa karya Ja’far Al-Barzanji merupakan biografi puitis Nabi Muhammad saw. Dalam garis besarnya, karya ini terbagi dua: ‘Natsar’ dan ‘Nadhom’. Bagian Natsar terdiri atas 19 sub bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi “ah” pada tiap-tiap rima akhir. Seluruhnya menurutkan riwayat Nabi Muhammad saw, mulai dari saat-saat menjelang beliau dilahirkan hingga masa-masa tatkala paduka mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nadhom terdiri atas 16 sub bagian yang memuat 205 untaian syair, dengan mengolah rima akhir “nun”.

Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu, terasa betul adanya keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi. Dalam bagian Nadhom misalnya, antara lain diungkapkan sapaan kepada Nabi pujaan” Engkau mentari, Engkau rebulan dan Engkau cahaya di atas cahaya“.

Lingkar Santri Nusantara Dan Pengukuhan Pancasila,UUD'45,NKRI dan Bhineka Tunggal Ika


Sekitar 200 santri dan alumni pondok pesantren yang terhimpun dalam Lingkar Santri Nusantara , secara bersamaan datang ke Gedung Nusantara V , Komplek Gedung MPR/DPR /DPD . Mereka datang langsung dari Serang, Bandung , Karawang, dan wilayah -wilayah sekitaran Jawa Barat lainnya, Rabu 08 Desember 2010.
Kedatangan mereka ke Gedung Nusantara V seperti organisasi masyarakat lainnya, untuk mengikuti sosialisasi 4 Pilar , yakni Pancasila , UUD NRI Tahun 1945 , NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika . Sebagai ketua rombongan dan Ketua Lingkar Santri Nusantara , Ahmad Munawar Zaman, mengatakan dirinya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan MPR yang telah menjalin kerja sama dalam melakukan sosialisasi 4 Pilar . “Ini merupakan syarat penting untuk memahami kehidupan berbangsa dan bernegara , ” ujarnya .
Diungkapkan bahwa Lingkar Santri Nusantara awalnya hanya organisasi santri dan alumni pondok pesantren di wilayah Jawa Barat dan Banten, namun karena perkembangan organisasi maka keanggotaan Lingkar Santri Nusantara melebar hinggi wilayah Jawa Timur dan Sumatera Utara. “Anggota kami ada yang datang dari Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Lirboyo , Jombang , Jawa Timur, dan Darul Arafah , Medan, Sumatera Utara, ” ujarnya. Ahmad Munawar Zaman dalam acara itu mengatakan sosialisasi pada hakekatnya agar pemahaman antara keagamaan dan kebangsaan menjadi serasi . “Output akhirnya adalah NKRI harga mati , ” katanya dengan tegas .
Sebagai wakil dari pimpinan MPR, Drs . H. Hajriyanto Y . Thohari , MA mengatakan sebagaimana diketahui bersama, MPR sesuai dengan UU Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD , dan DPRD ditugaskan untuk melakukan pemasyarakat atau sosialisasi 4 Pilar , khususnya UUD NRI Tahun 1945. Dalam rangka mensosialisasikan 4 Pilar , MPR mengadakan berbagai kegiatan baik secara langsung maupun tidak langsung . Dikatakan berbagai macam kegiatan untuk melakukan sosialisasi itu seperti dengan mengadakan TOT , FGD, lomba cerdas cermat, iklan layanan masyarakat, dan sosialisasi dengan menggunakan jalur budaya.
Lebih lanjut dikatakan oleh Hajriyanto Y . Thohari , pimpinan MPR juga secara terus menerus melakukan sosialisasi yang ditujukan kepada kelompok-kelompok masyarakat . “Sebelum dengan Lingkar Santri Nusanatra , pimpinan MPR telah melakukan sosialisasi di gedung ini seperti dengan kelompok majelis taklim , IPM, keluarga pahlawan , dan kelompok lainnya, ” ungkapnya. Sosialisasi 4 Pilar diakui oleh Hajriyanto Y . Thohari telah memasuki babak baru di mana masyarakat datang berbondong -bondong datang ke Gedung Nusantara V untuk mengikuti acara sosialisasi . “Semua acara berlangsung dengan baik dan antusias , ” paparnya. Ini semua menunjukan 4 Pilar bukan hanya tanggung jawab MPR tetapi juga sudah menjadi tanggung jawab masyarakat.
Dikatakan oleh Hajriyanto Y. Thohari pimpinan MPR terbuka untuk menerima kunjungan dan melakukan kerja sama dengan kelompok -kelompok masyarakat untuk mengadakan sosialisasi. Namun kerjasama dan kunjungan itu harus dilakukan secara sukarela. “Dengan sifat sukarela, pemasyarakatan 4 Pilar akan lebih efektif dan jauh dari indoktrinasi, ” ujarnya .
Acara sosialisasi ini diakui oleh salah seorang peserta . Ahmad Bachtiar Rifai , sebagai acara yang bagus . Dengan sosialisasi yang diterima membuat dirinya tidak berpikir dan orientasi sempit . Menurut alumni Pondok Pesantren Al Ikhwan, Serang , Banten, itu acara seperti ini seharusnya diperluas dan diperbanyak ke pesantren-pensatren di seluruh nusantara agar para santri paham konstitusi . “Acara seperti ini membawa dampak yang positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara , ” paparnya.
Menanggapi harapan adanya dukungan politis dari MPR, Hajriyanto Y . Thohari menuturkan setelah proses amandemen UUD 1945 , MPR memiliki kewenangan yang berbeda . Dulu MPR memilih Presiden dan Wakil Presiden, sekarang tidak lagi . MPR salah satu wewenangnya yang masih ada adalah mengubah UUD dan memilih Presiden dan Wakil Presiden bila ada masalah dengan mereka . “Jadi memilih kewenangan terbatas setelah amandemen, ” ujarnya .
Dalam masalah undang -undang , menurut Hajriyanto Y . Thohari itu adalah wewenang Presiden dan DPR. “ DPR dan Presiden menetapkan undang -undang setelah dibahas oleh kedua lembaga negara itu, ” paparnya . Lebih lanjut dipaparkan, bila ada masalah dengan undang - undang , itu bukan wewenang MPR tetapi wewenang MK . Hajriyanto Y . Thohari menyambut gembira apa yang dilakukan oleh DPRP dan DPRPB dengan menempuh langkah judicial review . “Judicial review merupakan langkah yang sesuai dengan ciri khas bangsa kita sebagai negara hukum . Langkah judicial review merupakan langkah yang paling tepat ,” ujarnya .
Ditegaskan lagi bahwa menempuh jalur hukum merupakan jalur yang paling dibenarkan . Hajriyanto Y . Thohari menyarankan agar DPRP dan DPRPB memiliki argumen yang kuat agar judicial review bisa berhasil . Untuk itu MPR memberi risalah amandemen UUD untuk memperkaya bahan-bahan argumentasi mereka . Hal senada juga dikatakan oleh Ketua MPR RI , HM. Taufiq Kiemas , “Saya berterima kasih karena anda menempuh jalur hukum . ” Taufiq Kiemas mengatakan kepada para delegasi bahwa dirinya berdoa agar judicial review yang dilakukan bisa berhasil. “Saya berdoa semoga berhasil dan terima kasih atas kunjungan anda , ” ungkap Taufiq Kiemas dengan tulus.(panturanews.com)

Siapakah Ibn Qayyim Al-Jawziyah? salah satu imam wahabi itu?



Siapakah Ibn Qayyim Al-Jawziyah?

Ia bernama Muhammad ibn Abi Bakr ibn Ayyub az-Zar’i, dikenal dengan nama Ibn Qayyim al-Jawziyyah, lahir tahun 691 hijriyah dan wafat tahun 751 hijriyah.



Mari kita lihat bagaimana pandangan Ulama-ulama terdahulu mengenai sepak terjang Ibn Qayyim Al-Jawziyah.



1. Al-Dzahabi dalam kitab al-Mu’jam al-Mukhtash, menuliskan tentang sosok Ibn Qayyim sebagai berikut:

“Ia tertarik dengan disiplin Hadits, matan-matan-nya, dan para perawinya. Ia juga berkecimpung dalam bidang fiqih dan cukup kompeten di dalamnya. Ia juga mendalami ilmu nahwu dan lainnya. Ia telah dipenjarakan beberapa kali karena pengingkarannya terhadap kebolehan melakukan perjalanan untuk ziarah ke makam Nabi Ibrahim. Ia menyibukan diri dengan menulis beberapa karya dan menyebarkan ilmu-ilmunya, hanya saja ia seorang yang suka merasa paling benar dan terlena dengan pendapat-pendapatnya sendiri, hingga ia menjadi seorang yang terlalu berani atau nekad dalam banyak permasalahan” (al-Mu’jam al-Mukhtash).



2. Imam al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab ad-Durar al-Kaminah, menuliskan tentang Ibn Qayyim sebagai berikut:

“Ia ditaklukkan oleh rasa cintanya kepada Ibn Taimiyah, hingga tidak sedikitpun ia keluar dari seluruh pendapat Ibn Taimiyah, dan bahkan ia selalu membela setiap pendapat apapun dari Ibn Taimiyah. Ibn Qayyim inilah yang berperan besar dalam menyeleksi dan menyebarluaskan berbagai karya dan ilmu-ilmu Ibn Taimiyah. Ia dengan Ibn Taimiyah bersama-sama telah dipenjarakan di penjara al-Qal’ah, setelah sebelumnya ia dihinakan dan arak keliling di atas unta hingga banyak dipukuli ramai-ramai. Ketika Ibn Taimiyah meninggal dalam penjara, Ibn Qayyim lalu dikeluarkan dari penjara tersebut. Namun demikian Ibn Qayyim masih mendapat beberapa kali hukuman karena perkataan-perkataannya yang ia ambil dari fatwa-fatwa Ibn Taimiyah. Karena itu Ibn Qayyim banyak menerima serangan dari para ulama semasanya, seperti juga para ulama tersebut diserang olehnya” (ad-Durar al-Kâminah Fi A’yan al-Mi’ah ats-Tsaminah ).



3. Ibn Katsir dalam Al-Bidayah Wa an-Nihayah, menuliskan tentang sosok Ibn Qayyim sebagai berikut:

“Ia (Ibn Qayyim) bersikukuh memberikan fatwa tentang masalah talak dengan menguatkan apa yang telah difatwakan oleh Ibn Taimiyah. Tentang masalah talak ini telah terjadi perbincangan dan perdebatan yang sangat luas antara dia dengan pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât); Taqiyuddin as-Subki dan ulama lainnya” (Al-Bidâyah Wa an-Nihâyah, j. 14, j. 235).



4. Imam Taqiyuddin al-Hishni (w 829 H),"(bukan Taqiyudin annabhani)" salah seorang ulama terkemuka dalam madzhab asy-Syafi’i; penulis kitab Kifâyah al-Akhyâr, dalam karyanya berjudul Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad sebagai bantahan atas kesesatan Ibn Taimiyah menuliskan sebagai berikut:

“Ibn Taimiyah adalah orang yang berpendapat bahwa mengadakan perjalanan untuk ziarah ke makam para Nabi Allah adalah sebagai perbuatan yang haram, dan tidak boleh melakukan qashar shalat karena perjalanan tersebut. Dalam hal ini, Ibn Taimiyah secara terang-terangan menyebutkan haram safar untuk tujuan ziarah ke makam Nabi Ibrahim dan makam Rasulullah. Keyakinannya ini kemudian diikuti oleh muridnya sendiri; yaitu Ibn Qayyim al-Jaiuziyyah az-Zar’i dan Isma’il ibn Katsir as-Syarkuwini. Disebutkan bahwa suatu hari Ibn Qayyim mengadakan perjalan ke al-Quds Palestina. Di Palestina, di hadapan orang banyak ia memberikan nasehat, namun ditengah-tengah nasehatnya ia membicarakan masalah ziarah ke makam para Nabi. Dalam kesimpulannya Ibn Qayyim kemudian berkata: “Karena itu aku katakan bahwa sekarang aku akan langsung pulang dan tidak akan menziarahi al-Khalil (Nabi Ibrahim)”. Kemudian Ibn Qayyim berangkat ke wilayah Tripoli (Nablus Syam), di sana ia kembali membuat majelis nesehat, dan di tengah nasehatnya ia kembali membicarakan masalah ziarah ke makam para Nabi. Dalam kesimpulan pembicaraannya Ibn Qayyim berkata: “Karena itu hendakalah makam Rasulullah jangan diziarahi…!”. Tiba-tiba orang-orang saat itu berdiri hendak memukulinya dan bahkan hendak membunuhnya, namun peristiwa itu dicegah oleh gubernur Nablus saat itu. Karena kejadian ini, kemudian penduduk al-Quds Palestina dan penduduk Nablus menuslikan berita kepada para penduduk Damaskus prihal Ibn Qayyim dalam kesesatannya tersebut. Di Damaskus kemudian Ibn Qayyim dipanggil oleh salah seorang hakim (Qadli) madzhab Maliki. Dalam keadaan terdesak Ibn Qayyim kemudian meminta suaka kepada salah seorang Qadli madzhab Hanbali, yaitu al-Qâdlî Syamsuddin ibn Muslim al-Hanbali. Di hadapannya, Ibn Qayyim kemudian rujuk dari fatwanya di atas, dan menyatakan keislamannya kembali, serta menyatakan taubat dari kesalahan-kesalahannya tersebut. Dari sini Ibn Qayyim kembali dianggap sebagai muslim, darahnya terpelihara dan tidak dijatuhi hukuman. Lalu kemudian Ibn Qayyim dipanggil lagi dengan tuduhan fatwa-fatwa yang menyimpang yang telah ia sampaikan di al-Quds dan Nablus, tapi Ibn Qayyim membantah telah mengatakannya. Namun saat itu terdapat banyak saksi bahwa Ibn Qayyim telah benar-benar mengatakan fatwa-fatwa tersebut. Dari sini kemudian Ibn Qayyim dihukum dan di arak di atas unta, lalu dipenjarakan kembali. Dan ketika kasusnya kembali disidangkan dihadapan al-Qâdlî Syamsuddin al-Maliki, Ibn Qayyim hendak dihukum bunuh. Namun saat itu Ibn Qayyim mengatakan bahwa salah seorang Qadli madzhab Hanbali telah menyatakan keislamannya dan keterpeliharaan darahnya serta diterima taubatnya. Lalu Ibn Qayyim dikembalikan ke penjara hingga datang Qadli madzhab Hanbali dimaksud. Setelah Qadli Hanbali tersebut datang dan diberitakan kepadanya prihal Ibn Qayyim sebenarnya, maka Ibn Qayyim lalu dikeluarkan dari penjara untuk dihukum. Ia kemudian dipukuli dan diarak di atas keledai, setelah itu kemudian kembali dimasukan ke penjara. Dalam peristiwa ini mereka telah mengikat Ibn Qayyim dan Ibn Katsir, kemudian di arak keliling negeri, karena fatwa keduanya -yang nyeleneh- dalam masalah talak” (Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad, h. 122-123).



Ibn Qayyim adalah sosok yang terlalu optimis dan memiliki gairah yang besar atas dirinya sendiri, yang hal ini secara nyata tergambar dalam gaya karya-karya tulisnya yang nampak selalu memaksakan penjelasan yang sedetail mungkin.Bahkan nampak penjelasan-penjelasan itu seakan dibuat-buatnya. Referensi utama yang ia jadikan rujukan adalah selalu saja perkataan-perkataan Ibn Taimiyah. Bahkan ia banyak mengutak-atik fatwa-fatwa gurunya tersebut karena dalam pandangannya ia memiliki kekuatan untuk itu. Tidak sedikit dari faham-faham ekstrim Ibn Taimiyah yang ia propagandakan dan ia bela, bahkan ia jadikan sebagai dasar argumentasinya. Oleh karena itu telah terjadi perselisihan yang cukup hebat antara Ibn Qayyim dengan pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât), Imam al-Hâfizh Taqiyuddin as-Subki di bulan Rabi’ul Awwal dalam masalah kebolehan membuat perlombaan dengan hadiah tanpa adanya seorang muhallil (orang ke tiga antara dua orang yang melakukan lomba). Ibn Qayyim dalam hal ini mengingkari pendapat Imam as-Subki, hingga ia mendapatkan tekanan dan hukuman saat itu, yang pada akhirnya Ibn Qayyim menarik kembali pendapatnya tersebut.



Ibn Qayyim benar-benar telah mengekor setiap jengkalnya kepada gurunya; yaitu Ibn Taimiyah, dalam berbagai permasalahan. Dalam salah satu karyanya berjudul Badâ-i’ al-Fawâ-id, Ibn Qayyim menuliskan beberapa bait syair berisikan keyakinan tasybîh, yang lalu dengan dusta mengatakan bahwa bait-bait syair tersebut adalah tulisan Imam ad-Daraquthni. Dalam bukunya tersebut Ibn Qayyim menuliskan:



“Janganlah kalian mengingkari bahwa Dia Allah duduk di atas arsy, juga jangan kalian ingkari bahwa Allah mendudukan Nabi Muhammad di atas arsy tersebut bersama-Nya” (Badâ-i’ al-Fawâ-id, j. 4, h. 39-40).



Tulisan Ibn Qayyim ini jelas merupakan kedustaan yang sangat besar. Sesungguhnya Imam ad-Daraquthni adalah salah seorang yang sangat mengagungkan Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari; sebagai Imam Ahlussunnah. Seandainya ad-Daraquthni seorang yang berkeyakinan tasybîh, seperti anggapan Ibn Qayyim, tentu ia akan mengajarkan keyakinan tersebut.



Pada bagian lain dalam kitab yang sama Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa langit lebih utama dari pada bumi, ia menuliskan: ”Mereka yang berpendapat bahwa langit lebih utama dari pada bumi mengatakan: Cukup alasan yang sangat kuat untuk menetapkan bahwa langit lebih utama dari pada bumi adalah karena Allah berada di dalamnya, demikian pula dengan arsy-Nya dan kursi-Nya berada di dalamnya” (Badâ-i’ al-Fawâ-id, h. 24).



Penegasan yang sama diungkapkan pula oleh Ibn al-Qayyim dalam kitab karyanya yang lain berjudul Zâd al-Ma’âd. Dalam pembukaan kitab tersebut dalam menjelaskan langit lebih utama dari bumi mengatakan bahwa bila seandainya langit tidak memiliki keistimewaan apapun kecuali bahwa ia lebih dekat kepada Allah maka cukup hal itu untuk menetapkan bahwa langit lebih utama dari pada bumi.



Syekh Muhammmad Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn dalam menanggapi tulisan-tulisan sesat Ibn al-Qayyim di atas, berkata:

”Orang ini (Ibn al-Qayyim) meyakini seperti apa yang diyakini oleh seluruh orang Islam bahwa seluruh langit yang tujuh lapis, al-Kursi, dan Arsy adalah benda-benda yang notabene makhluk Allah. Orang ini juga tahu bahwa besarnya tujuh lapis langit dibanding dengan besarnya al-Kursi tidak ubahnya hanya mirip batu kerikil dibanding padang yang sangat luas; sebagaimana hal ini telah disebutkan dalam Hadits Nabi. Orang ini juga tahu bahwa al-Kursi yang demikian besarnya jika dibanding dengan besarnya arsy maka al-Kursi tersebut tidak ubahnya hanya mirip batu kerikil dibanding padang yang sangat luas. Anehnya, orang ini pada saat yang sama berkeyakinan persis seperti keyakinan gurunya; yaitu Ibn Taimiyah, bahwa Allah berada di arsy dan juga berada di langit, bahkan keyakinan gurunya tersebut dibela matia-matian layaknya pembelaan seorang yang gila. Orang ini juga berkeyakinan bahwa seluruh teks mutasyâbih, baik dalam al-Qur’an maupun Hadits-Hadits Nabi yang menurut Ahl al-Haq membutuhkan kepada takwil, baginya semua teks tersebut adalah dalam pengertian hakekat, bukan majâz (metafor). Baginya semua teks-teks mutasyâbih tersebut tidak boleh ditakwil” (Barâ-ah al-Asy’ariyyîn, j. 2, h. 259-260).



Wallahu a'lam bishshowab

Catatan: Luqman Firmansyah
SIAPAKAH ALBANI?

Ratusan Warga Cibelok,Pemalang Ikuti Istigotsah Kubro


Ratusan warga Desa Cibelok Kecamatan Taman, Pemalang, Sabtu (26/12) lalu mengikuti acara pengajian dan istigotsah kubro. Acara yang diselenggarakan di halaman Masjid Jami Baiturrohim desa setempat itu berlangsung cukup hidmat.

Ketua panitia Ustad Hasyim Lubaidi Shodiq mengatakan, dalam rangka memeriahkan tahun baru Islam 1432 Hijriyah ini, pengurus Masjid Jami Baiturrohim menyelenggarakan acara pengajian umum dan istigotsah kubro, yang diikuti oleh semua warga di Desa Cibelok. Sebelumnya panitia juga menyelenggarakan acara sunatan massal yang diikuti oleh anak-anak dari keluarga yang kurang mampu.

"Acara ini baru pertama kali dilaksanakan dan berkat dukungan semua warga dapat berjalan dengan baik,“ katanya. Untuk memeriahkan acara ini, sebelum disunat, peserta diarak mengeliling kampung dengan diiringi grup terbang kencer dari warga setempat. "Mudah-mudahan dengan diselenggarakan acara ini kaum muslimin di Desa Cibelok akan bersatu padu untuk bersama-sama mensiarkan agama islam,“ ujarnya.

Meskipun warga di desanya berbeda-beda pandangan, namun lanjut dia perbedaan itu adalah rahmat, sehingga tidak perlu dipertajaman atau diberdebatkan. "Makanya kami mengajak semua warga Desa Cibelok ini tidak melihat perbedaan. Semua sama untuk bisa bersatu padu dalam meningkatkan ukhuwah islamiyah di desa ini,“ tandasnya.

Dalam rangkaian acara pengajian dan istigotsah tersebut, sebelumnya ditampilkannya hiburan seni islami dari Grup Simtud Dooror asal Desa Banjaran di bawah binaan Majelis Ta’lim Al Maunnah. Selaku penceramahnya adalah KH Fauzi Al Qutubi Robbani SH I Alh dari Tegal dan KH Kastolani dari Pekalongan. Acara itu juga didukung oleh Brigade Riyadoh Taqobarruban Ila – Allah Majelis Ta’lim Kanjeng Syeh Cibelok, Taman, Pemalang. (mg1)radartegal.comimage

22.12.10

Biografi Pengarang Qasidah Al-Burdah (Al-Imam Abu Abdillah Al-Bushiry)



oleh: Luqman Firmansyah

Yaa Rabbi bilmusthofa balligh maqoshidana,Waghfir lana ma madha yaa waasi'al karomi.

Qasidah Burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya, sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan, hingga kini masih sering dibacakan di sebagian pesantren salaf dan pada peringatan Maulid Nabi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Melayu, Sindi, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.



Pengarang Kasidah Burdah ialah Al-Bushiri (610-695H/ 1213-1296 M). Nama lengkapnya, Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri. Dia keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko dan dibesarkan di Bushir, Mesir, Dia seorang murid Sufi besar, Imam as-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abdul Abbas al-Mursi – anggota Tarekat Syadziliyah. Di bidang ilmu fiqih, Al Bushiri menganut mazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab fiqih mayoritas di Mesir.



Di masa kecilnya, ia dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al Quran di samping berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian ia belajar kepada ulama-ulama di zamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kesusateraan Arab ia pindah ke Kairo. Di sana ia menjadi seorang sastrawan dan penyair yang ulung. Kemahirannya di bidang sastra syair ini melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal indah.Sebagian ahli sejarah menyatakan, bahwa ia mulanya bekerja sebagai penyalin naskah-naskah.



Louis Ma’luf juga menyatakan demikian di dalam Kamus Munjibnya.Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusasteraan Arab dimasukkan ke dalam genre al-mada’ih an-nabawiyah, sedangkan dalam kesusasteraan-kesusasteraan Persia dan Urdu dikenal sebagai kesusasteraan na’tiyah (kata jamak dari na’t, yang berarti pujian). Sastrawan Mesir terkenal, Zaki Mubarok, telah menulis buku dengan uraian yang panjang lebar mengenai al-mada’ih an-nabawiyah. Menurutnya, syair semacam itu dikembangkan oleh para sufi sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan religius yang Islami. Kasidah Burdah terdiri atas 160 bait (sajak), ditulis dengan gaya bahasa (usiub) yang menarik, lembut dan elegan, berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, cinta kasih, pengendalian hawa nafsu, doa, pujian terhadap Al Quran, Isra’ Mi’raj, jihad dan tawasul.



Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, AI-Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada- Nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum Muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kasidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf, dan bahkan diajarkan pada tiap hari Kamis dan Jumat di Universitas AI-Azhar, Kairo.Al-Bushiri hidup pada suatu masa transisi perpindahan kekuasaan dinasti Ayyubiyah ke tangan dinasri Mamalik Bahriyah. Pergolakan politik terus berlangsung, akhlak masyarakat merosot, para pejabat pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Maka munculnya kasidah Burdah itu merupakan reaksi terhadap situasi politik, sosial, dan kultural pada masa itu, agar mereka senantiasa mencontoh kehidupan Nabi yang bertungsi sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), mengendalikan hawa nafsu, kembali kepada ajaran agama yang murni, Al Quran dan Hadis.



Ada sebab-sebab khusus dikarangnya Kasidah Burdah itu, yaitu ketika al-Bushiri menderita sakit lumpuh, sehingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya, maka dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’afnya. Di dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. di mana Nabi mengusap wajah al-Bushiri, kemudian Nabi melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh al-Bushiri, dan saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari penyakitnya.



ajaran Imam al-Bushiri dalam Burdahnya yang terpenting adalah pujian kepada Nabi Muhammad SAW. la menggambarkan betapa Nabi diutus ke dunia untuk menjadi lampu yang menerangi dua alam : manusia dan Jin, pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab. Beliau bagaikan permata yang tak ternilai, pribadi yang tertgosok oleh pengalaman kerohanian yang tinggi. Al-Bushiri melukiskan tentang sosok Nabi Muhammad seperti dalam bait 34-59 :



Muhammadun sayyidun kaunaini wa tsaqaulai

Ni wal fariqain min urbln wa min ajami

Muhammad SAW adalah raja dua alam manusia dan jin

Pemimpin dua kaum Arab dan bukan Arab.



Pujian al-Bushiri pada Nabi tidak terbatas pada sifat dan kualitas pribadi, tetapi mengungkapkan kelebihan Nabi yang paling utama, yaitu mukjizat paling besar dalam bentuk Al Quran, mukjizat yang abadi. Al Quran adalah kitab yang tidak mengandung keraguan, pun tidak lapuk oleh perubahan zaman, apalagi ditafsirkan dan dipahami secara arif dengan berbekal pengetahuan dan makrifat. Hikmah dan kandungan Al Quran memiliki relevansi yang abadi sepanjang masa dan selalu memiliki konteks yang luas dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat temporal.



Kitab Al Quran selamanya hidup dalam ingatan dan jiwa umat Islam.Selain Kasidah Burdah, al-Bushiri juga menulis beberapa kasidah lain di antaranya a!-Qashidah al-Mudhariyah dan al-Qashldah al-Hamziyah. Sisi lain dari profil al-Bushiri ditandai oleh kehidupannya yang sufistik, tercermin dari kezuhudannya, tekun beribadah, tidak menyukai kemewahan dan kemegahan duniawi.Di kalangan para sufi, ia termasuk dalam deretan sufi-sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jamharat al-Aulia. bahwa al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya. Makamnya yang terletak di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih dijadikan tempat ziarah. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abu Abbas al-Mursi.

Biografi Pengarang Kitab Maulid Simthud Durar (Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi)


oleh: Luqman Firmansyah

Beliau adalah Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma'at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut.Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu.



Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.



Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia. Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid "Riyadh" di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.



Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia. Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi'ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.



Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid "Riyadh" di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi'ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta.



Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya. Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul "Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).



Dipetik dari: Untaian Mutiara - Terjemahan Simtud Duror oleh Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi



(Alkisah ada seorang ulama bermimpi bertemu Rasulullah SAW, dalam mimpinya itu ia membawa setumpukan kitab, lalu bertanya Diantara kitab-kitab Maulid ini manakah yang Engkau suka wahai Rasulullah? lalu Rasulullah SAW menunjuk sebuah kitab kecil berwarna hijau yang tak lain adalah Kitab Maulid Simthud Durar atau biasa disebut Maulid Al-Habsyi.)

AHLUSUNNAH ADALAH MUSYRIKUN DI MATA KAUM WAHABI/SALAFI


Dalam pandangan kaum Wahabi/Salafi, menghormati hari lahir Nabi mulia Muhammad saw termasuk bid'ah.dengan mengadakan perayaan yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat suci Al Qur’an, membacakan syair-syair pujian untuk beliau, serta membagi-bagikan makanan atau santunan apapun untuk kaum Mukminin dll. yang masuk dalam bingkai ungkapan rasa cinta dan syukur kita atas kelahiran beliau sebagai junjungan, Nabi akhir dan Rasul kesayangn Allah SWT.

Praktik seperti itu dalam pandangan kaum Wahabi/Salafi adalah sebagai bentuk penyembahan selain Allah SWT. Ia menyerupai praktik kaum Nasrani dalam menyambut hari lahir Isa al-Masikh.

Tidak jarang kita saksikan para kyia dan khatib mereka menggembar-gemborkan suara sumbang pengkafiran atau tuduhan bahwa praktik itu serupa dengan praktik orang-orang Kristen, seperti dibanyak masjid mereka!

Ternyata memang demikian ajaran kaum Wahabi itu! Dan stempel kemusyrikan yang mereka alamatkan kepada kaum Muslimin Ahlusunnah yang selalu dengan penuh kecintaan mengadakan perayaan Maulidan adalah pola pikir sesat kaum Wahabi!

Ini sangat berbahaya dan perlu disikapi oleh kita semua! Sikap mudah mengkafirkan orang lain dengan tanpa alasan jelas, atau dengan alasan yang belum pasti, apalagi yang kita kafirkan adalah umum kaum Muslimin, di dalamnya tidak jarang terrdapat para wali, para ulama, dan kaum shalihin adalah sikap sesat yang harus diberantas agar tidak membuat kekacauan di tengah-tengah umat Islam.

Sikap mengkafirkan kaum Muslimin Ahlusuunah oleh kaum Wahabi bukanlah sebuah fitnah, ia adalah sebuah fakta. Saya hanya akan sebutkan sekelumit saja fatwa-fatwa pengkafiran tersebut. Fatwa Syeikh Abdurrahman bin Hasan Âlu Syeikh:

Dan mereka, kaum Musyrikun telah mengada-ngada hari-hari raya di sisi kuburan yang disembah selain Allah. Mereka menamainya sebagai ied, seperti hari raya al Badawi di mesir dan lainnya. Bahkan ia lebih dahsyat dari kemusyrikan, sebab di dalamnya terdapat kemusyrikan dan maksiat-maksiat besar. (Qurratul ‘Uyûn, baca Fathul Majîd:145.)

Coba Anda perhatikan bagaimana kaum Muslimin yang merayakan hari lahirnya Syeikh al Badawi, seorang wali besar yang diakui para ulama Ahlusunnah kewaliannya sebagai kaum Musyrikun!!

Fatwa Syeikh Muhammad Hamid al Faqi:

Peringatan hari lahir dan hari wafat yang ramai diadakan di negri ini dengan nama para wali adalah sebuah bentuk penyembahan dan pengagungan, ta’dzîm. (Ta’liq Fathul Majîd:154)

Jadi kaum Ahlusunnah yang mengadakan perayaan hari lahir Nabi saw. atau para wali Allah adalah kaum MUSYRIKUN yang sedang mengadapan praktik penyembahan kepada selain Allah!!

Subhanallah! Sampai kapan kalian hai Wahabi mengkafirkan Ahlusunnah dan semua golongan yang tidak sama dengan kalian!!!

Setelah fatwa di atas masihkan Anda mengingkari bahwa mazhab Anda itu ditegakkan di atas pengkafiran kaum Musliumin?!(Abu salafy)

5.12.10

Ini Dia Handphone Dengan Layar Bravia : Sony Ericsson XPERIA Arc Hp Android Reality Display 4.2 Inci

Sony Ericsson XPERIA Arc mungkin baru saja diumumkan , namun berkat adanya kebocoran sebelumnya kita sudah tahu segala sesuatu tentang hal itu karena ponsel ini telah dikenal di internet sebagai Sony Ericsson Xperia X12 atau Anzu. SE XPERIA Arc berjalan pada Android Gingerbread, dengan layar besar 4,2 ini, menerapkan berbagai teknologi high-end dan memasukkannya ke dalam bodi yang sangat stylish, ramping dan ringan.

Hal pertama yang layak disebutkan adalah layar 4.2 inci jenis kapasitif yang menarik disebut Reality Display. Sebelumnya dikabarkan sebagai X. LED (apapun itu), sekarang kita belajar menggunakan Sony BRAVIA Mobile Engine, yang melakukan pengurangan real-time untuk noise , meningkatkan ketajaman, dan peningkatan manajemen warna kontras pada gambar. Layar SE XPeria Arc memiliki resolusi 854×480 piksel dan ditutupi dengan kaca anti gores. Masih belum ada info pada jenis layar.

Hal penting berikutnya adalah kamera auto-focus 8-megapiksel yang menggunakan sensor Sony Exmor R back-illuminted dan seharusnya untuk menembak mengesankan foto dan video HD. Ada LED flash juga pada kamera.
Akhirnya kita perlu mengucapkan selamat Sony Ericsson pada desain yang sangat baik pada Arc ini. Hasil desain seperti busur dengan tebal hanya 9mm terhadap kedua ujungnya dan 8.7mm di bagian tertipis. Bodi XPERIA Arc yang cukup ringan juga – 117 gram – yang pasti mengesankan untuk ukuran segitu – tetapi hal ini berarti tidak akan ada logam pada panel bodi.

Sony Ericsson XPERIA Arc berjalan pada Android 2.3 Gingerbread dan akan dapat diupgrade ke versi 3,0 Honeycomb ketika saatnya tiba. Sisa dari spesifikasi Sony Ericsson XPERIA Arc lain cukup standar – yaitu prosesor Qualcomm 1GHz, pilihan konektivitas yang lengkap dan port (termasuk HDMI), microSD slot dengan kartu 16GB disertakan dan baterai 1500 mAh.

Arc XPERIA seharusnya secara resmi diumumkan segera di CES di Las Vegas dan diharapkan untuk dipasarkan di Q1 tahun ini. Harga masih belum diketahui, tetapi kemungkinan tidak lebih tinggi dari harga peluncuran X10 tahun lalu.(sumber)

Ajaran Tasawuf dalam Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu


Puji-pujian didendangkan di mushalla, langgar atau masjid merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan. Puji-pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah menjelang shalat Subuh, Dzhur, Ashar, Maghrib atau Isya sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan shalat berjamaah. Puji-pujian tersebut ada yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari satu musala atau masjid ke musala lainnya.

Puji-pujian yang didendangkan para jemaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat Nabi dan puji-pujian pada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa Jawa, puji-pujian ini selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagia keutamaan.

Dari Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a ( dalam Assamarqandi, 1980: 619) Nabi SAW bersabda yang artinya: “Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu (dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam sorga yang tidak akan dicapai kecuali oleh seorang, dan saya berharap semoga sayalah orangnya”.

Orang mengenal pujian disebarkan oleh kalangan pesantren dan ada yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan oleh para walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang masyarakat kenal lewat sejarah bahwa pendekatan yang digunakan para Walisongo dalam menyebarkan agama Islan adalah pendekatan persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.

Salah satu contohnya adalah Sunan Giri yang menciptakan Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang di dalamnya diberi unsur keislaman, misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan (Rahimsyah, tanpa tahun: 54).

Selain Sunan Giri, ada lagi Sunan Bonang yang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Suluk berasal dari bahasa Arab ”Salakattariiqa” , artinya menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmu Suluk ini ajarannya biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid. Salah satu Suluk Wragul dari Sunan Bonang yang terkenal adalah Dhandanggula. Sebagian masyarakat (yang mengenal tarikat) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Puji-pujian yang diperdengarkan di musala berisi shalawatan, do’a-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian yang diperdengarkan di musala-musala atau masjid-masjid kental dengan ajaran Tasawuf.

Obat Hati Lima Perkara

Pedoman hidup muslim adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an diturunkan Allah melalui utusan-Nya , yakni Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Al-Qur’an dan Al-Hadits ini menjadi jelaslah jalan lurus yang harus ditempuh manusia serta aliran yang benar yang harus diikuti untuk memahami pengertian-pengertian hukum yang tercantum di dalamnya. Hal ini pulalah yang merupakan pemisah antara yang halal dan haram. Fungsinya adalah sebagai cahaya yang cemerlang, dengan berpegang teguh itu akan selamatlah setiap manusia dari tipuan. Kandungannya penuh dengan penawar untuk menyembuhkan hati dan jiwa yang sakit.

Mengenai obat hati ini, dalam teks puji-pujian ditawarkan adanya lima hal yang mampu menjadi obat bagi hati manusia. Kelima hal tersebut adalah (1) membaca Alqur’an dengan mengendapkan maknanya, (2) memperbanyak melakukan shalat malam, (3) berkumpul dengan orang Shaleh atau bergaul dan berguru pada orang Shaleh, (4) mampu menahan lapar atau perbanyak berpuasa, dan (5) perbanyak berdzikir di malam hari. Berikut kutipannya.

Tombo ati iku limo sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindu shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang shaleh kumpulono
Kaping papat kudu weteng engkang luwe
Kaping limo dzikir wengi engkang sue

Syair obat hati ini kemudian diakhiri:

Insya Allah Gusti Allah ngijabahi
Insya Allah, Allah mengabulkan

Mengingat Kematian

Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian halnya dengan manusia. Semua manusia di dunia ini akan mati. Untuk itu melalui salah satu puji-pujian manusia diingatkan akan datangnya kematian. Adapun teksnya adalah sebagai berikut.

Ilingono para timbalan
(Ingatlah jika sudah waktunya dipanggil)
Timbalane ora keno wakilan’
(Panggilannya tak bisa diwakilkan)
Timbalane kang maha mulya
(Panggilan dari Yang Maha Kuasa)
Gelem ora bakal lunga
(Mau-tak mau harus pergi)

Panggilan yang dimaksudkan adalah panggilan Yang Maha Kuasa.Tak ada satupun yang kuasa menghalanginya. Harta, tahta, ataupun kerabat dan keluarga takkan bisa menghentikannya. Panggilan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia. Hendaknya selama masih hidup selalu ingat dan takut hanya pada Allah karena dengan rasa takut itu menjadikannya berhati-hati dan berusaha selalu di jalan yang benar.


Gambaran orang yang sudah mati dalam teks puji-pujian adalah sebagai berikut.
Klambine diganti putih
(Bajunya diganti putih)
Nek budal ora bisa mole
(Jika berangkat tak bisa kembali)
Tumpak ane kereto jowo
(Kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat rupa menongsa
(Beroda empat berupa manusia)

Oma e rupa goa
(Rumahnya serupa Go’a)
Ora bantal ora keloso
(Tak ada bantal ataupun tikar)
Omah e gak nok lawange
(Rumahnya tidak ada pintunya)
Turu ijen gak nok rewange
(Tidur sendirian tak ada yang menemani)

Perintah untuk memperbanyak mengingat kematian dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tirmidzi (dalam Addimasyqy, 1983: 1048) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian)”. Selain itu, mengingat kematian dapat melebur dosa dan berzuhud. Dengan mengingat kematian maka kematian itu sendiri sebagai pengingat pada diri sendiri dan orang yang tercerdik adalah orang yang terbanyak mengingat kepada kematian sebagaimana makna hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunnya berikut.

”Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-banr cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan akhirat” (dalam Addimasyqy, 1983: 1049).

Ajaran Tasawuf yang salah satunya adalah ajakan untuk melakukan zuhud merupakan salah satu jalan untuk takut dan berusaha mendekatkan diri pada Allah. Menurut Imam Ahmad bin Hambal (dalam Dahlan, dkk, 1988: 324), seorang ahli fiqih, membagi zuhud menjadi tiga, yakni (1) meninggalkan yang haram (zuhud orang awam); (2) meninggalkan yang tak berguna dari yang halal (zuhud orang khawash, para aulia’); dan (3) meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan diri dari Allah SWT (zuhud orang Arifin, orang yang sangat dekat dan kenal benar pada Allah.

Faiqotur Rosidah
Pengajar di P.P Darul ‘Ulum Peterongan Jombang, sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
NU ONLINE

menyikapi perkembangan era digital ,Fatayat NU Kab. Tegal Berlatih Internet


Kemajuan organisasi, tidak terlepas dari penguasaan teknologi dan informasi global. Termasuk di dalamnya mampu mengakses dan mendistribusikan informasi bagi kepentingan anggota organisasi.

Menyadari hal tersebut, Pengurus Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Tegal menggelar pelatihan komputer office dan penggunaan internet.

“Wanita muda NU, jangan sampai gaptek (gagap teknologi, red),” ujar Ketua PC Fatayat NU Kab. Tegal Dra Hj Nurhasanah usai pembukaan pelatihan di Laboratorium Komputer SMK Negeri 1 Slawi Jalan KH Agus Salim Slawi Kamis (2/12).

Menurutnya, kemajuan teknologi harus mampu dimanfaatkan oleh anggota Fatayat NU dalam menyikapi perkembangan abad digitalisasi. Era digital jangan menjadi beban atau malah tergilas peradaban modern. Sebab bila telah menguasai teknologi maka organisasi akan berjalan lebih dinamis.

“Jarak geografis tidak menjadi hambatan ketika kita telah menguasai teknologi informasi,” terang Nurhasanah.

Dia menambahkan, bahwa wilayah Kabupaten Tegal tergolong luas dengan letak geografis meliputi tepi pantai, tengah sawah dan puncak gunung. Maka bila tidak didukung dengan kecanggihan teknologi akan dimakan waktu akibat kendala medan dan transformasi.

“Tapi dengan menguasai internet, pengiriman data anggota misalnya, cukup lewat email,” ujarnya.

Memaknai tahun baru hijriyah, masih kata Nurhasanah, bisa saja dari tidak mengetahui teknologi modern menjadi tahu. Fatayat NU berintrospeksi diri, bahwa yang belum dimiliki adalah penguasaan teknologi. Pelatihan sebagai ikhtiar menghilangkan gagap teknologi bagi anggota Fatayat NU di Kabupaten Tegal.

“Menyikapi abad millenium, Fatayat NU harus cerdas teknologi juga,” tandasnya.

Sementara Ketua Panitia penyelenggara pelatihan Dra Hj Alfiyah SAg MPd mengungkapkan, pelatihan ini bertujuan untuk memberi bekal ketrampilan kepada para anggota di Pengurus Anak Cabang maupun Pengurus Cabang dalam penggunaan teknologi global.

Alfiyah melaporkan, pelatihan yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 15 Desember ini diikuti 20 peserta. Mereka terdiri dari 16 utusan PAC dan 4 utusan PC.

Selama pembelajaran, mereka dilatih teori dan praktek. Adapun tim instrukturnya diketuai Kepala Program Studi Administrasi Perkantoran SMK N 1 Slawi Dra Siti Maryam Valentina, dengan anggota terdiri dari Dra Dyah Widiastuti, Ely Sulistyawati SPd, Mukti Wibowo Ganda Rizqi.

Kepala SMK Negeri 1 Slawi Drs Syamsul Mutasodirin MM mengaku bangga atas kesediaan ibu-ibu muda dari Fatayat NU Kab. Tegal dalam berlatih komputer dan internet. “Ini langkah hijrah yang sesungguhnya diera digital sekarang ini,” puji Kepala SMK 1 Slawi. (was) NU ONLINE

Get this blog as a slideshow!