30.11.09

Amerika tekor dana?

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

mengingat :

PEMBUKAAN UUD 1945
=======================
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
--------------

…MAKA BERARTI "KEKURANGAN MEREKA " ADALAH "KEMENANGAN KITA" ....

Lagi, Obama Minta Tambahan Anggaran Perang $33 Miliar
http://2i2h.multiply.com/notes/item/1002

WASHINGTON (Arrahmah.com) -

Administrasi Obama berencana meminta Kongres untuk menambah anggaran perangnya yang sudah tak terlalu populer di Afghanistan dan Irak sebesar $33 miliar. Jumlah itu di luar jumlah $708 miliar yang diajukan untuk anggaran Departemen Pertahanan tahun depan, Associated Press melaporkan.
Pemerintah Obama pun berencana untuk mengumumkan di hadapan Kongres pada bulan depan bahwa tujuan utama militer dalam empat tahun berikutnya akan mencakup memenangkan perang yang saat ini sambil mencegah adanya kemungkinan bentuk perlawanan baru dan akan menyatakan bahwa inti dari misi perangnya mencakup dua agenda penting yakni operasi anti-pemberontakan dan operasi anti-terorisme.

Permintaan Obama ini datang seiring dengan semakin meningkatnya korban dari tubuh militer AS di Afghanistan (selama 2010, sedikitnya sudah ada 12 kasus kematian). NATO mengumumkan kematian dua tentara Amerika pada hari Rabu (13/1) di Kabul, dan menyatakan bahwa kedua tentara itu tewas akibat sebuah bom IED di Afghanistan timur. Tidak ada informasi terperinci lainnya yang diberikan.

JIKA SEKIRANYA DIANALOGIKAN DITIMBANG DENGAN …”NERACA” DAN NILAI UANG.....,

....MAKA "KEKURANGAN (dana) MEREKA " ADALAH "KEMENANGAN KITA" ....

ANGGAP SAJA DALAM KACAMATA AWAM BAHWA KEMENANGAN PASUKAN KAUM DU'AFAH MUSLIM DI SELURUH DUNIA SENILAI KEKURANGAN ANGGARAN PERANG MEREKA YANG MERUPAKAN KERUGIAN MEREKA (meskipun Allah SWt pasti menjanjikan magfiroh), ...sebagaimana ayat al'Quran ini :

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

Ali Imran :140

Jika kamu mendapat luka (dalam peperangan), maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kemenangan dan kekalahan) itu Kami pergantikan diantara manusia (kafir dan mumin ); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu (mumin) dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang orang yang zalim,

Al Baqarah. 154:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup , tetapi kamu tidak menyadarinya.

….Jazzakumullah Khoiran Katsiro…..
( Semoga Allah memberikan balasan kepada Anda yang lebih baik dan lebih banyak.)...amin

Arrahmah.com

INFO TERKAIT
WASHINGTON (Arrahmah.com) - Administrasi Obama berencana meminta Kongres untuk menambah anggaran perangnya yang sudah tak terlalu populer di Afghanistan dan Irak sebesar $33 miliar. Jumlah itu di luar jumlah $708 miliar yang diajukan untuk anggaran Departemen Pertahanan tahun depan, Associated Press melaporkan.

Pemerintah Obama pun berencana untuk mengumumkan di hadapan Kongres pada bulan depan bahwa tujuan utama militer dalam empat tahun berikutnya akan mencakup memenangkan perang yang saat ini sambil mencegah adanya kemungkinan bentuk perlawanan baru dan akan menyatakan bahwa inti dari misi perangnya mencakup dua agenda penting yakni operasi anti-pemberontakan dan operasi anti-terorisme.

Permintaan Obama ini datang seiring dengan semakin meningkatnya korban dari tubuh militer AS di Afghanistan (selama 2010, sedikitnya sudah ada 12 kasus kematian). NATO mengumumkan kematian dua tentara Amerika pada hari Rabu (13/1) di Kabul, dan menyatakan bahwa kedua tentara itu tewas akibat sebuah bom IED di Afghanistan timur. Tidak ada informasi terperinci lainnya yang diberikan.

Tinjauan Pertahanan Empat Tahunan (Quadrennial Defense Review) yang menjadi catatan penting doktrin militer AS, akan dibacakan di hadapan Kongres pada 1 Februari mendatang. Sejumlah komandan tinggi militer AS berkumpul di Pentagon pada hari Senin dan Selasa untuk membahas hal ini. Mereka juga menerima gambaran singkat mengenai rencana anggaran administrasi hingga 2015.

Tinjauan empat tahunan ini menguraikan enam wilayah utama yang difokuskan dalam perang , merinci potensi beserta sejumlah target yang ingin dikembangkan Pentagon. Pesawat tanpa awak yang selama ini digunakan sebagai pengintai dan penyerang di Afghanistan dan Pakistan adalah prioritas utama. Bahkan AS berencana untuk mempercepat pembelian Reaper baru, juga memperluas operasi Predator dan Reapernya hingga 2013.

Tambahan anggaran senilai $33 miliar di tahun 2010 ini pada dasarnya akan dipakai untuk perluasan perang di Afghanistan. Obama memerintahkan 30.000 pasukan tambahan untuk dikirim ke Afghanistan sebagai bagian dari perombakan strategi perangnya akhir tahun lalu.

Tapi perdebatan seputar anggaran perang yang terus membengkak ini juga cenderung mengakibatkan keretakan melebar antara administrasi Obama dengan para petinggi kubu Demokrat, yang telah mempertimbangkan opini publik di Amerika sendiri yang melawan aksi militer negaranya.

Menurut perhitungan, anggaran untuk operasi militer AS di Irak dan Afghanistan pada 2010 akan mencapai $128 miliar. Angka itu kemungkinan besar akan naik hingga $159 miliar tahun depan di bawah proposal yang tengah disiapkan untuk Kongres.

Pentagon mengklaim pendanaan perang AS akan menurun tajam pada tahun 2012, menjadi $50 miliar, dan AS akan tetap berada di kedua negara (Irak dan Afghanistan) hingga 2015. Hal itu dilakukan atas dasar perhitungan bahwa Amerika Serikat harus menghemat uang dari penarikan pasukan di Irak, serta prediksi bahwa angin perang Afghanistan akan mulai mereda di pertengahan 2011.

Obama telah berjanji bahwa pasukan Amerika akan mulai menarik diri dari Afghanistan pada bulan Juli 2011, tetapi para penasihat pertahanan tidak menetapkan batas waktu itu untuk menghentikan perang.

Pentagon pun memberikan gambaran bahwa secara keseluruhan anggaran pertahanan yang dibutuhkan akan mencapai $616 miliar pada 2012; $632 miliar pada tahun 2013; $648 miliar pada tahun 2014; dan $666 miliar pada tahun 2015.

Menteri Pertahanan Robert Gates dan ketua Kepala Staf Gabungan AS Laksamana Mike Mullen, diperkirakan akan memberi presentasi kepada Kongres mengenai anggaran dan tinjuan kebijakan perang AS pada bulan Februari.

Tinjauan empat tahunan ini merupakan merupakan pernyataan penting yang memuat tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah AS. Dalam agenda perangnya saat ini, kebijakan AS memfokuskan diri pada upaya untuk menambah anggaran secara besar-besaran dan menambah jumlah pasukan operasi khusus, melawan senjata pemusnah massal yang dikembangkan oleh beberapa negara, melawan ancaman terorisme, serta memperketat keamanan cybernya. (althaf/cbs/arrahmah.com)

Cintakah itu?

yang satu ini adalah sesuatu yang ‘kramat’. keberadaanya tidak terdeteksi dengan panca indera, tidak terlihat, tercium, juga tidak akan bisa diraba. karena letaknya jauh tertanam dalam hati.

dahulu, anak-anak kecil selalu mendambakan moment disaat umurnya menginjak angka ke tujuh belas. karena konon disaat itulah dunia menjadi terasa lebih indah dengan semerbak bunga-bunga cinta yang mulai bersemi.

namun kini tak lagi, karena rasa itu muncul lebih cepat. melebihi angka yang tertera di setiap kategori umur film dan buku (17+).

sulit sekali untuk mengelak. bahkan ketika pertanyaan itu ditujukan kepada para ustadz muda “apakah anda pernah mencintai seseorang”. dengan berat hati, sang ustadz menjawabnya dengan kalimat “cinta itu fitroh”. seolah dia malu, karena dia pun pernah dibuatnya tak berdaya.

saking pentingnya, syaikh muhammad bin abdul wahhab mencantumkan dalam kitab tauhidnya satu dari empat jenis syirik besar (syirkul akbar) adalah “syirkul mahabbah” atau jika diartikan menjadi ’syirik kasih sayang’ atau ’syirik percintaan’.

padahal, ancaman yang diberikan Allah bagi hambaNya yang berbuat syirik sangatlah berat, karena syirik adalah dosa yang paling besar. pelakunya tidak akan diberikan ampunan, dan nerakalah menjadi tempatnya berteduh. selamanya. ya, karena ketika dia berbuat syirik, segala pahalanya akan hangus. na’udzubillah min dzalik.

cinta memang indah, tak akan ada seorang pun yang mengelak. karena Allah telah menentukannya.

mencintai seseorang ataupun sesuatu benda tidak ada larangannya. karena para sahabat sangat sayang dan cinta dengan manusia yang bernama ‘muhammad’. dan muhammad saw pun mencintai ummatnya.

maka, tempatkanlah cinta anda sesuai dengan islam menempatkannya. karena cinta anda pada seseorang ataupun sesuatu akan terus menjadi indah ketika dinaungi dibawah cinta kita kepada Allah dan rasulNya.

cintailah saudaramu, cintailah kawanmu, cintailah apa yang kau punya. namun jangan jadikan cintamu padanya menyamai atau bahkan melebihi cintamu pada Allah ta’ala. karena Allah murka dengan thoghut (orang yang melampaui batas).

jika anda mencintai Allah, dan rasulNya; buktikanlah. lakukan sesuatu yang menjadikan Allah suka padamu, dan jangan berbuat sesuatu yang Allah benci. dahulukan cintamu pada Allah sebelum anda mencintai seseorang atau sesuatu. kelak, akan Allah berikan kado istimewa bagi siapa saja yang mencintai Allah. dan tiada satupun yang dapat memberikan kado yang lebih indah dari kado Allah.

22.11.09

Kembar ponakan

Anak kembar dari Ali ma'shum Danasari pemalang

9.11.09

keponakan

Ti'ul & Ya`la

foto keluarga

Anak kembar dari Ali ma'shum Danasari pemalang

4.11.09

Hukum yang buntung

pemutaran transkripsi rekaman penyadapan KPK terhadap pembicaraan Anggodo kepada sejumlah petinggi institusi hukum,yang di siarkan oleh Mahkamah Konstitusi,seakan melegitimasi vonis masyarakat tentang kebobrokan para penegak hukum di negeri ini.tak terbantahkan pula bahwa memang ada upaya pelemahan terhadap KPK,lembaga yang selama ini menjadi mimpi buruk bagi para koruptor,dengan tuduhan pemerasan yang di alamatkan ke pejabat KPK,serta perekayasa'an penahanan terhadap dua pimpinan KPK Bibit samad rianto dan Chandra M hamzah oleh pengusaha Anggodo wijaya(adik koruptor buron Anggoro wijaya) bersama oknum Bareskrim polri (Susno duadji?) dan oknum Kejaksaan(Wisnu subroto dan Abdul hakim ritonga?).
Ini hanyalah puncak gunung es dari beberapa proses hukum dalam menangani kasus kasus korupsi,yang bukan tidak mungkin ada banyak kasus besar dibelakang kisruh Cicak dan Buaya ini,salah satunya adalah kasus Bank Century.


Kali ini saya bangga menjadi cicak,dan seumur-umur saya tak akan pernah ingin menjadi buaya!.

3.11.09

Pentingnya Kriminalisasi Terorisme!


Dalam sebuah seminar di The University of Queensland, Australia ( 30 /11 /2008) , Nadirsyah Hosein, PhD., seorang pakar hukum dan terorisme dari The University of Wolonggong yang juga putera Ulama terkemuka Indonesia, Prof. KH. Ibrahim Hosein, memberikan ilustrasi menarik tentang problem pemaknaan atas konsep terorisme. Dalam ilustrasinya digambarkan, ada seorang lelaki dengan menenteng senjata M16 memasuki sebuah gedung pertemuan yang telah disesaki oleh puluhan hingga ratusan orang. Lelaki itu mencoba memasuki ruangan tersebut dengan satu maksud: membunuh semua yang berada di dalamnya. Nadirsyah yang juga Rois Syuriyah PCI NU Australia-New Zealand itu pun lalu membuat pengandaian menarik. Pertama, kalau lelaki itu sebelum menumpahkan butiran timah panas dari senjata M16 yang dibawanya meneriakkan “Allahu Akbar”, bagaimana reaksi publik maupun pengambil kebijakan? Kedua, kalau lelaki dimaksud sebelum membunuh meneriakkan “I love you” karena di ruangan itu terdapat seorang perempuan yang menjadi pujaan hati namun cintanya tak berbalas, bagaimana pula respon publik maupun para pengambil kebijakan? Pada kasus permisalan pertama, kata Nadirsyah, orang pun buru- buru menyebut tindakan brutal lelaki tersebut sebagai aksi terorisme. Mengapa? Argumentasi umum akan mengatakan, hal itu disebabkan karena aksi itu dilakukan dengan mengaitkannya dengan motivasi agama. Yang dijadikan bukti penguat argumentasi itu adalah teriakan “Allahu Akbar” sebelum tindakan brutal pembunuhan dilakukan. Pada kasus permisalan kedua, publik dan para pengambil kebijakan cenderung tidak menyebut aksi pembunuhan brutal itu sebagai terorisme, melainkan sebuah aksi kriminal biasa sebagaimana tindakan kriminal lainnya. Mengapa? Karena, dalam penilaian mereka, aksi itu tidak dilakukan dalam kaitannya dengan motivasi agama. Tapi, motivasi sakit hati akibat cintanya tak berbalas. Buktinya adalah teriakan “I love you”. Pesan yang ingin disampaikan oleh Nadirsyah di atas adalah bahwa konsep terorisme dalam realitasnya telah mengalami problem pemaknaan yang besar. Ironisnya, problem pemaknaan ini menimbulkan dampak yang cukup besar, mulai dari kepentingan kemanusiaan, akademik hingga kebijakan praktis dalam memberikan solusi atas kasus terorisme yang kini menjadi isu global. Kesalahan Muslim Runyamnya problem pemaknaan di atas, menurut hemat saya, tidak berdiri sendiri. Problem pemakaan dimaksud juga dipicu oleh sikap masyarakat Islam sendiri. Pada kasus eksekusi Amrozi cs pada 9 November 2008 , sebagai misal, masih terdapat persepsi publik yang meyakini dan menilai para pelaku bom Bali tersebut sebagai pahlawan dan mujahid. Bahkan, kerumunan massa saat pemakaman Amrozi cs telah menimbulkan kesan negatif di belahan dunia lain atas citra Islam. Di Australia, sebagai misal, hampir seluruh media menjadikan kerumunan massa tersebut sebagai berita utama. Lebih jauh lagi, foto-foto kerumunan massa itu dieksploitasi sebagai cerminan atas kaitan antara publik Islam di Indonesia dan dukungan terhadap pelaku terorisme. Belum mereda tuntas kasus eksekusi Amrozi cs di Indonesia, kita pun dikejutkan kembali oleh aksi brutal di Mumbai, India, 26 November 2008. Aksi yang telah menewaskan tak kurang dari 125 korban meninggal dan melukai ratusan lainnya itu kontan dilekatkan dengan dan disebut sebagai terorisme. Sebab, pelakunya dicurigai berasal dari kelompok Islam militan yang menjadi jaringan kaum militan lintas batas negara (cross border militant network). Bahkan, jaringan militan itu beroperasi sepanjang Asia Selatan hingga Asia Tengah. Dalam kasus terorisme di atas, publik pun tak pernah lepas dari memori kolektif yang bermuara pada pengaitan antara tindakan terorisme dan agama. Kalangan umat Islam juga berkontribusi terhadap menguatnya pengaitan ini. Pemboman dikaitkan dengan aksi jihad. Pembunuhan terhadap kelompok lain diyakini sebagai bagian dari ekpresi keyakinan atas doktrin jihad. Ini kontribusi kesalahan besar kelompok Islam sendiri. Kesalahan umat Islam ini bertemu di satu titik dengan kecerobohan yang akut di kalangan para pengambil kebijakan di tingkat dunia. Munculnya kekuatan neo-konservatisme sebagai penguasa politik di negeri seperti Amerika dan Australia memperparah tingkat kecerobohan itu. Pasalnya, basis kognitif yang mendasari pengambilan kebijakan mereka masih dibangun dari pengaitan antara aksi terorisme dan agama. Kesalahan yang sama termasuk juga dilakukan oleh para akademisi. Berbagai buku yang ditulis mengenai terorisme seperti oleh Justin Healey (2004) , Rohan Gunaratna (2005) , Greg Fealy dan Aldo Borgu (2005) serta bunga rampai editan Hillel Frisch dan Efraim Inbar ( 2008) juga mengaitkan aksi terorisme semata-mata dengan motivasi agama. Jarang ada karya akademik yang melepaskan terorisme dari agama. Sulit ditemui karya akademik yang menyebut terorisme semata-mata sebagai tindakan kriminal. Jauhkan Ideologisasi Umat Islam perlu belajar banyak bahwa terorisme adalah terorisme. Ia adalah sebuah bentuk kekerasan atau bagian dari tindakan kriminal terhadap kemanusiaan (crime against humanity) . Apapun motivasi dan bentuk ekspresinya, terorisme telah mengancam harkat kehidupan kemanusiaan. Meskipun para pelaku terorisme dalam ekspresi mereka kerap melakukan pengaitan antara aksi mereka dan ideologi Islam yang mereka anut, publik Muslim seharusnya tidak terjebak dengan melakukan ideologisasi atas tindakan terorisme mereka. Publik Muslim harus cerdas dengan mencoba melakukan pemisahan. Islam tidak boleh dibajak sebagai kedok untuk melakukan aksi terorisme dan kriminal lainnya atas kemanusiaan. Pada ilustrasi oleh Nadirsyah di atas, kedua permisalan yang dijadikan sebagai contoh sama-sama merupakan bentuk ekspresi tindakan kriminal. Keduanya tidak bisa dibedakan hanya karena teriakan yang berbeda semata sebelum aksi pembunuhan. Siapapun Anda dan dari latar belakang madzhab agama apapun Anda berasal, lafal “Allahu Akbar” adalah lafal suci. Sebab, ia merupakan bentuk pengagungan terhadap kebesaran Tuhan. Karena itu, sungguh lacur jika lafal itu lalu digunakan sebagai justifikasi atas tindakan kriminal, apapun bentuknya. Atas pertimbangan itu, publik dan para pengambil kebijakan harus melakukan kriminalisasi terhadap aksi dan tindakan terorisme, apapun bentuknya. Jauhkanlah kecenderungan ideologisasi saat berupaya memahami dan mencari penyelesaian soal terorisme. Sebab, pada skala yang paling kecil, pengaitan antara terorisme dan agama tidak akan banyak membantu mengangkat harkat dan derajat Islam di mata dunia. Pengaitan itu juga membenturkan upaya penyelesaian aksi terorisme dengan isu agama. Dan itu justru cenderung memperlambat dan bahkan cenderung kontraproduktif bagi upaya kontra-terorisme itu sendiri. Karena itu, semua pihak harus menyadari sepenuhnya bahwa terorisme adalah aksi kriminal. Dan, kita pun layak sepakat untuk memeranginya atas nama kemanusiaan Oleh : AKH. MUZAKKI, Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Kandidat PhD di The University of Queensland, Australia.

2.11.09

Cicakku malang,Buaya menghadang

Penahanan yang terkesan memaks oleh mabes polri kepada dua pimpinan Non aktif KPK Bibit samad riyanto dan Chandra M hamzah pada 29 Oktober 2009 yang lalu,telah menabur simpati yang besar kepada lembaga KPK.pada saat bersamaan timbul antipati terhadap lembaga kepolisian (+Kejaksaan) yang secara tidak langsung telah menunjukkan upaya memberi pelajaran (balas dendam?) kepada cicak (KPK) karena berani beraninya mempidanakan mantan Dubes RI untuk Malaysia Jendral polisi Rusdihardjo,yang tak lain adalah mantan Kapolri.Rusdihardjo mendapat 2,5 tahun pidana atas kasus pungutan liar kepada para TKI dan TKW yang dilakukan di Kedubes RI di Malaysia.

Memanglah terlalu fanatik bila memegang prinsip penghormatan kepada institusi dan simbolnya,karena mereka akan marah bila simbol,sesepuh atau tokoh sentralnya mendapat hukuman.ada kalanya mereka akan kehilangan logika mana yang benar dan mana yang salah.paham atau prinsip seperti ini masih banyak dianut oleh orang Indonesia,dan tak terkecuali petinggi polri.sebut saja Kabareskrim mabes polri Susno duadji,dalam email kepada sesepuhnya ia mengatakan ingin memberi pelajaran kepada petinggi KPK yang berani menghukum gurunya,Rusdihardjo,tentunya.

Itu bukanlah satu satunya alasan mengapa Jendral berbintang dua ini geram dengan petinggi KPK.hal lain yang membuat Susno duadji semakin geram adalah ketika pembicaraannya via telepon seluler mengenai kasus Bank Century disadap oleh KPK.dari sinilah petinggi polri tidak segan segan melontarkan suatu peringatan bahwa jangan harap cicak(KPK) bisa mengalahkan buaya(POLRI).

Dari sini saya pribadi berpendapat,seandainya kemarin KPK tidak kalah cepat menetapkan Susno duadji sebagai tersangka(karena kabareskrim Mabes polri ini menemui Anggoro widjaya yang jelas2 buronan KPK,Susno menemui Anggoro di Singapura pada 10 Juli 2009)ceritanya tak akan menggelinding bak bola salju seperti sekarang ini,sebelum sang buaya sudah benar2 akan menelan cicak hidup hidup. Namun sementara ini kita sedikit berharap kepada Tim independen pencari fakta yang tadi dibentuk oleh Presiden.semoga tidak seperti TPF TPF kasus yang sudah sudah,yang hanya menina bobokan antusiasme masyarakat belaka.saat inilah reputasi sang presiden sedang di pertaruhkan,apakah presiden benar benar memerangi korupsi,(walaupun harus mengganti beberapa pejabat tingginya) atau mau berdamai dengan kaki tangan para koruptor yang memang mendesain drama hukum pada panggung opera yang berjudul cicak melawan buaya ini.

Kali ini saya bangga menjadi cicak,dan seumur-umur saya tak akan pernah ingin menjadi buaya!.

1.11.09

Abi ya'la,putra angkat ustadz Zainuddin

Abi ya'la bin Ali ma'shum,putra angkat ustadz Zainuddin SA

Pesantren di Pentas Percaturan Ekonomi Global


Secara historis, pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pengajaran tekstual yang eksistensinya mulai tampak pada akhir abad ke-18. Dalam istilah Gus Dur, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang melanjutkan estafet pendidikan pra-Islam. Orang pertama kali yang mendirikan pesantren di pulau Jawa adalah MaulanaMalik Ibarahim. Dalam perkembangannya, pesantren juga sangat memberikan peranan penting bagi bangsa dan negara. Hal ini dapat dilihat pada masa penjajahan kolonial, di mana pesantren diakui secara umum telah menjadi benteng perlawanan yang tampak pada pada kulminasi dukungan dan bantuan pada Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah. (Gus Dur, 2007 , 123). Potret historis di atas mengandung pengertian bahwa pesantren memiliki peranan dalam membentengi umat, bangsa, dan negara. Sejalan dengan peranan tersebut, dewasa ini pesantren dihadapkan pada proses globalisasi dunia, sehingga produk-produk dunia luar berupa pemikiran, budaya, teknologi, dan lain sebagainya dengan mudah dan bebas berinteraksi dan beradaptasi dengan masyarakat Indonesia. Proses tersebut, dalam istilah ekonomi dunia disebut sebagai free trade atau perdagangan bebas atau pasar bebas. Gerakan pasar ini ternyata diamini oleh banyak negara, termasuk juga negara Indonesia. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan dengan adanya bentuk kerjasama di bidang ekonomi yang akrab disebut Free Trade Aggrement (FTA). Berdasar pada realitas di atas, tampak jelas bahwa masyarakat Indonesia, termasuk juga kaum santri, tidak bisa keluar dari himpitan dunia global, melainkan secara otomatis ikut bermain dalam pentas percaturan global. Pertanyaannya adalah bagaimana pesantren membangun SDM yang siap dan mampu bermain di pentas percaturan global? Tulisan berupaya menjawab pertanyaan tersebut dan bertujuan membangun kembali sikap kritis kalangan pesantren, memberikan ramuan segar dalam menyiapakan SDM para santri dan masyarakat pada umumnya. Rekonstruksi mentalitas santri Keberadaan pasar bebas di Indonesia menggugah penulis sebagai generasi bangsa untuk mengungkap secara mendalam pesan apa yang bersemayam di balik kebebasan global. Menurut hemat penulis, minimal ada dua pesan para pemilik modal asing dalam membawa produk-produk daganganya ke bumi pertiwi Indonesia. Pertama, penguasaan atau dominasi kapital. Artinya, tujuan utama para pemilik modal asing dalam menyebarkan produk dagangannya ke Indonesia adalah memiliki keuntungan sebanyak-banyaknya. Tujuan ini sangat berdampak negatif bagi pemilik modal lokal. Rasionalisasinya adalah, minat para pembeli produk lokal semakin berkurang karena produk-produk global yang memiliki kualitas lebih dan harga mudah dijangkau. Fenomena tersebut semakin tampak dan dirasakan masyarakat Indonesia, dengan hadirnya produk-produk dari China dengan harga yang sangat murah dan model yang lebih unik daripada produk global lainnya. Saat ini masyarakat lebih banyak yang memilih membeli produk produk China dengan harga terjangkau daripada membeli produk-produk lainnya dengan harga yang mahal. Dengan adanya produk global inilah, secara tidak langsung produk lokal akan termarjinalkan, dan pemilik modal lokal akan gulung tikar. Dalam konteks yang lebih luas, hadirnya produk global, akan memperkecil pendapatan ekonomi masyarakat Indonesia, bahkan akan memperpuruk kondisi ekonomi bangsa, khususnya masyarat pedesaan yang status sosialnya menengah ke bawah. Dengan mengikuti asumsi tersebut, pesantren yang berbasis pedesaan dan masyarakat menegah ke bawah juga akan mengalami keterpurukan ekonomi sehingga tidak mampu mengawal pendidikan masyarakat kearah yang lebih maju dan berkualitas. Kedua, dominasi tradisi dan budaya, yaitu perebutan akar-akar tradisi lokal, dan kemudian diinjeksikan tradisi global. Dominasi ini akan berdampak hilangnya bangunan moralitas bangsa Indonesia. Berbicara tentang tradisi, pesantren yang kerap menyuarakan dan menanamkan tradisi-tradisi lokal keagamaan, dengan adanya pasar bebas juga terganggu eksistensinya. Hal ini disebabkan tradisi global yang ditawarkan bersifat adaptif dengan zaman. Masyarakat yang sudah terlena oleh zaman modern, akan semakin gandrung menikmati produk-produk global yang diklaim sebagai bagian dari modernitas. Mereka asyik menikmatinya tanpa berpikir dampak yang akan terjadi pada pencerabutan akar tardisi. Misalnya kehadiran produk fashion dari Eropa dan China yang modelnya sangat mencerminkan keterbukaan, saat ini banyak dilirik dan dinikmati masyarakat Indonesia, bahkan tidak jarang juga dipakai oleh kalangan pesantren. Kenyataan di atas, secara implisit bisa dikatakan telah berhasil merebut tradisi atau mendominasi tradisi lokal yang dipopulerkan kaum pesantren, yaitu busana muslim. Dari dua pesan dominatif dalam perdagangan bebas tersebut, pesantren sebagai benteng bangsa, khususnya umat Islam, harus kembali merebut akar tradisi tradisi lokal yang telah dibangunnya dengan membangun dan mempersiapkan sumber daya manusia para santri, sehingga mampu beradaptasi dengan realitas global. Untuk mengawal tujuan mulia tersebut, penulis dalam tulisan ini ingin menawarkan metode penggalian atau pemantapan SDM yang berpijak pada tradisi lokal. Metode yang dimaksud adalah daurah tsaqofah yaitu manajerial kebudayaan yang dilakukan untuk membangun mental intelektual dan spiritual, berpikir terbuka, mampu mengembangkan potensi diri dengan tetap berpijak pada tradisi, diramu dengan model kekinian sesuai perkembangan zaman, bersifat istiqomah, bertahap, dan sistematis.oleh: AHMAD NUR Ketua Lakpesdam NU, dan PK3 STAI Nurul Huda Situbondo

Pergeseran Nilai di Pesantren > Sebuah Tela'ah

Pesantren kini mengalami banyak kemajuan. Di antara kemajuannya adalah, madrasah-madrasah di lingkungan pesantren semakin mengejar ketertinggalannya dengan sekolah-sekolah umum. Dalam hal ilmu agama, pesantren memang menjadi basis bagi identitas moral. Sayangnya, di tengah masyarakat banyak lulusan-lulusan pesantren yang tidak memiliki akses yang luas di dunia kerja. Karena itu, Program Beasiswa di berbagai Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia yang disediakan oleh Direktorat Pondok Pesantren tentu menjadi salah satu peluang bagi para alumni pesantren. Namun demikian, seringkali program-program seperti ini tidak tepat sasaran. Hal ini disebabkan karena, pihak pesantren sendiri kurang mendapatkan akses informasi tentang kebijakan pemerintah. Sementara itu, biasanya perekrutan calon penerima beasiswa dilakukan melalui Kantor Wilayah Depag. Dari berbagai style pondok pesantren yang ada, justru antara satu pondok dengan pondok yang lain terjadi perpecahan. Meskipun banyak orang mengatakan bahwa perpecahan semacam itu membantu meningkatkan suhu kompetisi di kalangan pesantren. Dan dengan meningkatnya kompetisi diharapkan saling berlomba- lomba dalam hal kebaikna. Kalau memang kompetisinya mengarah pada kebaikan, tentu hal itu dapat kita dukung. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, justru perpecahan di pesantren semakin melemahkan mutu pendidikan di pesantren. Perpecahan di pesantren disebabkan karena adanya perbedaan keinginan, kebutuhan dan kepentingan pada akhirnya memunculkan kesalingtidakpercayaan di antara para pengasuh pondok pesantren. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Karena, antar-kiai seharusnya saling mendukung satu sama lain. Terlebih lagi, belakangan ini ada semacam fenomena baru dalam kancah pesantren. Sebelum Gus Dur menjadi presiden ada istilah ”Kiai Langitan”, tetapi sekarang ini muncul istilah ”Kiai Kampung”. Dalam pemahaman kita, Kiai Kampung biasanya berpegang teguh pada silsilah tertentu—jaringan kiai antar satu pesantren ke pesantren lainnya. Kenyataan ini tentunya harus dipahami sebagai bagian dari dinamika politik. Perbedaan kepentingan di pesantren-pesantren yang kemudian mengarah pada perpecahan, pelemahan persatuan dan kesatuan menjadi keprihatinan Direktorat Pondok Pesantren, meskipun hingga saat ini belum ditemukan pemecahannya. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Direktorat Pondok Pesantren untuk menanggulangi perbedaan di kalangan pesantren adalah, misalnya dengan memberikan ”bantuan halaqah”. Bantuan diarahkan untuk dilaksanakan secara bersama-sama oleh lebih dari dua pesantren. Misalnya, anggaran untuk halaqah sebesar Rp. 30 juta yang dilaksanakan oleh tiga pesantren, sehingga masing-masing pesantren mendapatkan anggaran halaqah sebesar Rp. 10 juta untuk satu halaqah. Cara ini memang belum menunjukkan hasil, tetapi yang jelas, perpecahan di antara pesantren-pesantren sangat menjadi keprihatinan bersama. Beberapa waktu lalu, dalam sebuah kajian yang diselenggarakan oleh LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama) Masdar F. Mas’udi mengatakan, ke depan ikon kajian-kajian keislaman akan diarahkan di masjid-masjid, bukan lagi di pesantren. Padahal, masjid tidak selamanya berada di pesantren. Walaupun setiap pesantren pasti memiliki masjid. Ketika ikon keislaman berpusat di masjid, tentu saja pesantren akan semakin kehilangan akses dengan masyarakat. Hal ini tentu saja bukan sebuah kemunduran. Hanya saja, pesantren kemudian disadari telah mengalami penurunan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, khususnya dalam kaitannya pesantren sebagai ikon budaya dan basisnya para ulama. Setelah ditinggalkan oleh banyaknya sesepuh pesantren, tampaknya banyak pesantren yang semakin sulit menjumpai ulama yang bisa diteladani secara lahir dan batin. Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Ditpontren, sekarang ini ada sekitar 15.000 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam hal ini, upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pesantren menjadi concern Ditpontren. Salah upaya yang dilakukannya adalah dengan turut serta menguatkan Ma’had Ali di pondok pesantren. Melaui program-program yang diselenggarakan ke depan Ma’had Ali akan dirangsang agar lebih qualified , sehingga dapat berkompetisi dengan perguruan-perguruan tinggi yang ada di luar pesantren. Di antara program-program yang diselenggarakan adalah program halaqah, empowering, lomba karya ilmiah dan sebagainya. Dengan adanya Ma’had Aly di pesantren-pesantren di harapkan ke depan pesantren kembali menjadi ikon budaya. Kalau dulu para ulama mampu menulis kitab kuning yang dibaca di seluruh dunia, maka melalui Ma’had Aly ini diharapkan akan muncul para mu’allif atau mushannif (pengarang, -red.) yang juga karyanya dapat dibaca di seluruh dunia. Tentunya dengan karya-karya berbahasa Arab, baik dengan model kitab kuning yang dikaji di pesantren-pesantren maupun dengan bahasa Arab “kitab putih” yang disusun secara lebih sistematis. Suwendi, M.Ag Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang berlaku sebelum diorbitkannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, belum pernah menyebutkan nomenklatur tentang keberadaan pesantren dalam sistem pendidikan nasional. Padahal, pesantren sudah hadir di Nusantara sejak lama. Bahkan dalam sebuah sumber dikatakan, bahwa pesantren mulai tumbuh semenjak datangnya Islam di Nusantara. Dengan kata lain, pengakuan ( recognize ) tentang keberadaan pesantren masih sangat lemah. Pesantren baru masuk dalam Sisdiknas bersamaan dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003. Narasumber telah menjelaskan beberapa kebijakan pemerintah, dalam hal ini oleh Ditpontren. Informasi yang tadi telah dikemukakan narasumber tentu saja penting bagi pesantren. Hanya saja masalahnya, banyak hal yang ternyata tidak menyentuh dunia pesantren sendiri. Karel A. Steenbrink dalam sebuah penelitiannya menyebutkan, ada sebuah pergeseran yang terjadi di dunia pesantren. Dulu intelektualitas pesantren disimbolkan dengan adanya palabelan Kiai Haji (KH), tetapi setelah ada regulasi pemerintah di pesantren telah menimbulkan perubahan pelabelan menjadi Doktorandus (Drs.) Sadar atau tidak, suatu saat nanti label KH. akan berubah menjadi Profesor Doktor (Prof. Dr.). Hal semacam ini tampaknya sudah terjadi di dunia pesantren. Yang menjadi masalah adalah, dikhawatirkan akan terjadi disorientasi para lulusan pesantren yang semula lebih pada orientasi intelektualitas, lalu setelah ada kebijakan negara berubah pada orientasi pengakuan pemerintah, seperti labelisasi akademis dan sebagainya. Karenanya, dapat diperkirakan, sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, label KH akan sangat langka dijumpai di lingkungan pesantren. Dalam konteks ini, ide untuk menyetarakan Ma’had Aly yang ada di pesantren dengan perguruan tinggi lainnya akan menimbulkan sejumlah persoalan di kalangan pesantren sendiri. Drs. H. Thabrani Sekarang ini pesantren semakin tidak laku di pasaran. Karena, model pendidikan yang sekarang laku adalah yang disponsori oleh ” orang-orang umum”, kemudian bergaya pesantren, ketimbang orang-orang pesantren yang sulit mendapatkan pekerjaan. Bahkan, tidak sedikit para kiai pesantren yang masuk penjara. Pernah suatu ketika ada seorang kiai yang ditawari untuk membuat pesantren. Kiai itu menjawab, ”Membuat pesantren adalah pekerjaan yang mudah. Yang sulit adalah menghidupi pesantren, karena rata-rata orang yang belajar di pesantren umumnya berlatar belakang ekonomi bawah. Sehingga, kalau ada tanah misalnya 2 hektar, maka langkah pertama adalah dengan membuat sarana untuk menghidupi pesantren, baru membuat pesantren. Masalah lainnya yang sekarang menggejala di pesantren adalah, hilangnya identitas pesantren di sejumlah pesantren terkemuka di Nusantara. Misalnya, manakah sesungguhnya yang disebut dengan Pesantren Babakan, Buntet, dan sebagainya? Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh fragmentasi yang terjadi di banyak pesantren yang ada, sehingga sulit sekali menemukan jati diri pesantren yang sesungguhnya. Dari berbagai masalah yang ada di pesantren, semuanya mengarah pada penurunan mutu pendidikan keluaran pesantren. Harapan kita bukan menjadikan pesantren sekarang seperti terdahulu, tetapi bagaimana mengembangkan pola-pola pendidikan pesantren untuk meningkatkan mutu pesantren ke depan. Sebab, sekarang ini tampaknya dari sisi kualitas pesantren mengalami masa surut. Jadi, salah jika ada yang mengatakan pesantren mengalami masa pasang surut, karena yang terjadi adalah surut yang terus berlanjut. Biarkanlah pesantren itu ada, tetapi tidak perlu mengembalikan pesantren seperti pesantren masa lalu. Yang penting adalah lulusan pesantren dapat mewarnai kehidupan masyarakat. Pesantren dari dulu tidak mendahulukan simbol, tetapi mementingkan praktek keseharian. Sehingga, masyarakat akan semakin menerima keberadaan lulusan pesantren. Tradisi pesantren bukanlah satu penghalang untuk maju ke depan. Dr. ‘Ainurrafiq Dalam pergaulan pesantren terdapat semangat kebersamaan yang sangat kental. Akan tetapi, setelah menginjak masa mahasiswa, semangat itu tidak terasa lagi, sekalipun para alumni sudah tergabung dalam sebuah gerakan mahasiswa. Semangat kebersamaan ini terus berkurang, seiring dengan menanjaknya kiprah para lulusan pesantren. Biasanya, kalau seseorang menjadi Eselon I, ia mencoba untuk mengembalikan dirinya layaknya masih dalam masa pendidikan di pesantren. Ini disebabkan karena Eselon I biasanya jumlahnya sedikit. Yang menjadi keprihatinan adalah, kenapa semangat kebersamaan yang terbangun di pesantren itu tidak berlanjut hingga para alumninya berkiprah di bidangnya masing-masing. Sampai sekarang belum ada satu formula yang mampu mengembalikan semangat senasib seperjuangan para alumni pesantren yang sudah berkiprah di tengah masyarakat. Padahal, kalau para alumni pesantren yang sudah berkiprah tersebut masih menjaga jaringan dan semangat kebersamaannya, maka mereka dapat memanfaatkan peluang-peluang politis dalam rangka meningkatkan mutu pesantren dan memberdayakan lulusannya. Ahmad el Chumaedy Modal sosial yang terdapat dalam dunia pesantren yang tidak ditemukan di lembaga-lembaga pendidikan lainnya adalah adanya networking dan nilai-nilai luhur yang sudah establish di pesantren, misalnya keikhlasan dan semangat kemandirian. Jejaring ( networking ) pesantren sudah ada semenjak pesantren itu ada di Nusantara. Hal ini misalnya dapat diperhatikan dari hubungan yang terjalin antara satu pesantren dengan pesantren lainnya berdasarkan interaksi intelektual yang dilakukan oleh kiai dan santrinya. Dulu orang yang belajar di pesantren tidak hanya pergi ke satu pesantren, tetapi juga ke beberapa pesantren lainnya. Jadi, ada semacam perjalanan intelektual ( rihlah ilmiyah ) yang dilakukan oleh santri dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Sehingga, hal ini tentunya dapat memperkaya keilmuan kader ulama yang mendalami ilmu agama. Sayangnya, tradisi pesantren semacam ini mengalami pelemahan yang luar biasa parah. Bebagai kemunduran yang terdapat di dunia pesantren ditengarai karena munculnya modernisasi di dunia pesantren. Dengan meminjam konsep Max Weber, modernisasi (rasionalisasi) ditandai dengan adanya institusionalisasi terhadap pranata-pranata sosial yang ada di tengah masyarakat. Pesantren adalah salah satu pranata sosial yang memiliki basis nilai yang sangat kuat. Dalam pandangan Gus Dur, pesantren adalah sebuah subkultur yang mempunyai sistem nilai tersendiri—dalam hal ini berbasis pada nilai-nilai keislaman. Dengan sistem nilai yang dibangunnya itu pesantren mampu melakukan pencerahan terhadap masyarakat di sekitarnya. Namun, modernisasi pesantren dengan sangat efektif telah melunturkan nilai-nilai luhur yang ada di pesantren. Dengan kata lain, pesntren kini telah tergerus oleh modernitas. Ini ditandai dengan terbentuknya institusi-institusi formal di pesantren- pesantren. Hal ini tentu saja menimbulkan proses pelemahan modal sosial di pesantren-pesantren semakin tidak terkendali. Dari sini dapat dikatakan, bahwa kemunduran yang ditengarai terjadi di pesantren tidak semata-mata terjadi dengan sendirinya, tetapi lebih disebabkan karena ada skenario besar yang telah merasuk di tubuh pesantren, yaitu yang disebut dengan modernisasi—dalam pengertian sekularisasi—di pondok pesantren. Di sinilah kemudian dibutuhkan adanya respons dari kalangan pesantren untuk tidak hanya mengembalikan tradisi pesantren, tetapi juga ruh yang ada di pesantren yang selama ini membuat pesantren tetap survive dan dapat mencerahkan moralitas masyarakat. Suwendi, M.Ag Salah satu karakiteristik dari modernisasi adalah adanya penguatan terhadap budaya formal. Sementara wujud dari formalisasi adalah adanya institusionalisasi—sebuah proses pembentukan kelembagaan menjadi sangat resmi. Sehingga wajar jika dikatakan bahwa di satu sisi pesantren adalah sebuah kultur tersendiri, bahkan dikatakan Gus Dur sebagai subkultur. Akan tetapi, ketika pesantren berhadapan dengan modernisasi menyebabkan hilangnya ruh pesantren. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim PPIM ( 2000) , diulas tentang proses demokratisasi di pesantren. Modernisasi pada dasarnya berupaya untuk mewujudkan demokratisasi. Salah satu yang dihadapi isu demokrasi sekarang ini adalah pesantren, karena di dalam pesantren terdapat kiai yang mempunyai kharisma yang sangat tinggi. Padahal, ketika kharisma sangat menonjol akan berakibat pada lemahnya demokratisasi. Namun, dari hasil penelitian tersebut diungkapkan, ternyata lebih dari 80 % masyarakat pesantren sangat demokratis. Dengan kata lain, potensi untuk menghidupkan nilai-nilai demokrasi di pesantren sangat besar.*

Abi ya'la & Abil wafa

Mullah NASHRUDDIN HOJA >Sepenggal Cerita Sufi


Kala Anda sampai di samudera, Anda tidak akan berbicara tentang arus sungai. ( Hakim Sanai , The Walled Garden of Truth). Mullah (guru) Nashruddin Hoja adalah sosok klasik yang dirancang oleh para darwis; sebagian untuk tujuan pemberhentian (jeda) karena situasi-situasi sesaat dimana didalamnya keadaan-keadaan tertentu dari jiwa dibuat jelas. Kisah-kisah Nashruddin, dikenal secara menyeluruh di Timur Tengah, merupakan (dalam manuskrip The Subtleties of the Incomparable Nasrudin ) satu dari sejumlah pencapaian ganjil (ajaib) di dalam sejarah metafisika. Namun, secara dangkal kisah-kisah Nashruddin lebih sering dikenal sebagai kisah humor atau bahan lelucon. Kisah- kisah itu diceritakan kembali tanpa henti di warung-warung teh dan di rombongan-rombongan pertunjukan, di rumah-rumah dan di siaran-siaran radio Asia. Tetapi dalam cerita Nashruddin itu inheren untuk dipahami adanya kedalaman makna. Terdapat lelucon, moral dan kelebihan lainnya yang membawa kesadaran sedikit lebih jauh menuju proses penyadaran dari kekuatan spiritual yang potensial. Karena Sufisme merupakan sesuatu yang dijalani dan juga dipahami, cerita Nashruddin tidak bisa menghasilkan pencerahan utuh kepada dirinya sendiri. Di sisi lain, ia menjembatani celah antara kehidupan duniawi dan suatu perubahan bentuk kesadaran dalam cara yang tidak bisa dicapai oleh bentuk kesusastraan lainnya. Manuskrip “Kepelikan” ( the Subtleties ) belum pernah dihadirkan secara utuh bagi pembaca Barat. Kemungkinan karena cerita-cerita tersebut tidak bisa diterjemahkan secara tepat oleh non-Sufi, atau dipelajari di luar konteksnya, dan mempertahankan dampak esensialnya. Di Timur, kumpulan cerita tersebut rata-rata digunakan untuk maksud kajian semata oleh para Sufi pemula. Lelucon-lelucon dari kumpulan tersebut secara individual telah menyebar ke hampir setiap kepustakaan dunia. Dan sejumlah lelucon tertentu dari perhatian skolastik telah dilekatkan pada cerita-cerita tersebut. Dalam penilaian ini sebagian sebagai sebuah contoh gelombang kebudayaan, atau untuk mendukung argumen-argumen yang menguntungkan identitas-dasar humor di mana saja. Tetapi jika karena daya tarik humor perenialnya cerita-cerita itu telah membuktikan kekuatannya, maka hal ini secara menyeluruh merupakan hal kedua bagi tujuan kumpulan cerita tersebut, yang dimaksudkan untuk menyediakan suatu dasar bagi tersedianya sikap Sufi terhadap kehidupan, dan memungkinkan pada pencapaian penyadaran Sufisme dan pengalaman mistis. Legenda Nashruddin ( the Legend of Nasrudin ), yang dibubuhkan pada manuskrip the Subtleties dan paling tidak berasal dari abad ketiga belas, sebagian dimaksudkan untuk memperkenalkan Nashruddin. Penyebaran humor Nashruddin tidak bisa dihalangi, ia bisa masuk melalui pola-pola pemikiran yang dihasilkan manusia melalui kebiasaan dan rancangan. Dalam sebagian sistem pemikiran yang utuh, Nashruddin ada pada begitu banyak makna yang dalam sehingga (keberadaan) dirinya tidak bisa dimusnahkan. Sebagai tolak ukur kebenaran, hal ini mungkin bisa dilihat pada fakta bahwa organisasi-organisasi yang beragam dan asing seperti the British Society for the Promotion of Christian Knowledge (S.P.C.K) ( Perkumpulan Inggris yang bergerak dalam Penyiaran Pengetahuan Kristiani) dan juga pada pemerintah Soviet, keduanya telah memanfaatkan Nashruddin. The S.P.C.K. telah menerbitkan beberapa cerita (Nashruddin) dengan judul cerita-cerita tentang Khoja [Khwaja] (Tales of the Khoja ); sementara orang-orang Rusia ( mungkin dengan prinsip “Jika Anda tidak bisa mengalahkan mereka, maka bergabunglah dengan mereka”) telah membuat film tentang Nashruddin dengan judul The Adventures of Nasrudin . Bahkan orang- orang Yunani, yang menerima beberapa hal dari orang Turki, menganggap Nashruddin sebagai bagian dari warisan kebudayaannya. Pemerintah sekular Turki, melalui departemen penerangannya, telah menerbitkan sebuah kumpulan lelucon metafisis yang dinisbatkan kepada tokoh yang dianggap sebagai guru Muslim ini yang merupakan tipe-ideal mistik Sufi, meskipun Tarekat-tarekat Sufi ditindas melalui Undang-undang di Republik Turki. Tak ada seorang pun tahu siapa sebenarnya Nashruddin itu, kapan dan di mana ia hidup. Tujuan keseluruhan tulisan ini adalah menampilkan satu sosok yang tidak bisa diberi karakter yang sesungguhnya, dan yang berada di luar waktu. Adalah pesan, dan bukan orangnya, yang penting bagi para Sufi. Hal ini tidak menghalangi masyarakat untuk memberikan suatu sejarah yang fiktif, dan bahkan sebuah makam. Para sarjana — berlawanan dengan orang yang terlalu formal dimana dalam cerita-ceritanya seringkali memunculkan Nashruddin sebagai pemenang — bahkan telah mencoba menjadikan manuskrip the Subtleties kedalam serpihan-serpihan terpisah dengan harapan menemukan bahan biografis yang memadai. Salah satu “penemuan” mereka pastilah akan mengingatkan bahwa ia adalah Nashruddin sendiri. Nashruddin mengatakan bahwa ia memandang dirinya sendiri secara terbalik di dunia ini, demikian papar seorang sarjana. Dan pandangan ini ia menarik kesimpulan bahwa tahun yang diduga merupakan saat kematian Nashruddin, atau “nisannya” seharusnya tidak dibaca 386, tetapi 683. Profesor lainnya merasa bahwa angka-angka Arab yang digunakan, jika benar-benar terbalik, tampaknya lebih menyerupai angka 274 H. Dengan seksama ia mencatat bahwa seorang darwis yang dimintainya bantuan dalam persoalan ini, “… sekadar mengatakan, mengapa tidak memasukkan seekor laba-laba ke dalam tinta dan melihat tanda apa yang dibuatnya di saat laba-laba itu merayap ke luar. Hal ini akan memberikan waktu yang benar atau menunjukkan sesuatu.” Sesungguhnya angka 386 bermakna 300 + 80 + 6. Jika disesuaikan dengan abjad-abjad Arab, hal ini akan berbunyi Sy, W, F, yang membentuk kata SyaWaF : “Menyebabkan seseorang melihat, untuk memperlihatkan sesuatu”. Laba-laba darwis tersebut akan “ memperlihatkan” sesuatu, sebagaimana yang ia katakan sendiri. Jika kita melihat beberapa cerita klasik Nashruddin dengan cara seutuh mungkin, kita segera menemukan bahwa keseluruhan pendekatan skolastik merupakan cara terakhir yang diperbolehkan oleh Sufi: Nashruddin, ketika menyeberangi perairan yang ganas bersama seorang sarjana yang berpola pikir kaku dan formalistik, mengatakan sesuatu kepadanya yang secara kaidah bahasa tidak sesuai. “Apakah Anda tidak pernah belajar kaidah-kaidah?” tanya si sarjana tersebut. “Tidak,” jawab Nashruddin. “Maka separo kehidupan Anda sia-sia,” ucapnya kepada Nashruddin seraya bertanya, “Apakah Anda pernah belajar berenang?” “Tidak, mengapa?” “Maka seluruh kehidupan Anda sia-sia — kita tengah tenggelam.”Ini merupakan penekanan terhadap Sufisme sebagai suatu aktivitas praktis, seraya menolak bahwa pemikiran formal bisa sampai pada kebenaran, dan pola pemikiran yang diperoleh dari dunia biasa ( pengalamannya) bisa diterapkan pada realitas yang sesungguhnya, yang bergerak ke dimensi lainnya. Hal ini terlihat, bahkan lebih diperkuat oleh sebuah cerita konyol yang dilontarkan di sebuah warung teh, sebuah istilah tempat Sufi untuk pertemuan para darwis. Seorang pendeta masuk dan berkata: “Guruku mengajariku untuk menyebarkan wejangan bahwa manusia tidak akan pernah sempurna sampai seorang yang tidak dizalimi marah pada kezaliman itu, semarah orang yang benar-benar dizalimi.” Orang-orang yang duduk sesaat merasa terkesan, kemudian Nashruddin berujar: “Guruku mengajariku bahwa seharusnya tidak seorang pun menjadi marah tentang sesuatu sampai ia merasa pasti bahwa apa yang dipikirnya sebagai suatu kesalahan itu pada hakikatnya adalah salah — dan bukan sekadar dugaan.” Nashruddin, dalam kapasitas sebagai guru Sufi, sering menggunakan teknik darwis bagi dirinya sendiri dengan memainkan peranan orang yang belum tercerahkan dalam sebuah cerita untuk menjelaskan suatu kebenaran. Sebuah cerita terkenal yang menyangkal kepercayaan dangkal (superfisial) terhadap hukum sebab-akibat menjadikan dirinya sebagai korban. Suatu hari Mullah Nashruddin tengah berjalan di sebuah gang ketika seorang jatuh dari atap rumah dan menimpa tubuhnya. Orang yang jatuh tersebut tidak terluka — tetapi justru Mullah Nashruddin yang dibawa ke rumah sakit. “Ajaran apakah yang bisa Tuan ambil dari peristiwa ini, Guru?” tanya salah satu muridnya. “Hindari kepercayaan terhadap kepastian atau sesuatu yang tidak bisa dihindari, meskipun hukum sebab-akibat tampak tidak bisa ditolak! Ajukan pertanyaan-pertanyaan teoritis seperti: ‘Jika seseorang jatuh dari atap, apakah lehernya akan patah?’ Ia yang jatuh — tetapi justru leherku yang patah!” Karena orang kebanyakan berpikir dalam pola-pola (baku) dan tidak bisa menyesuaikan dirinya pada suatu cara pandang yang benar- benar berbeda, maka ia kehilangan sejumlah besar makna kehidupan. Ia mungkin hidup, bahkan maju, tetapi tidak bisa memahami semua yang terjadi. Cerita tentang penyelundup menjadikan hal ini semakin jelas. Nashruddin biasa membawa keledainya yang punggungnya dimuati kantong-kantong penuh berisi sekam, menyeberangi perbatasan setiap hari. Karena mengaku sebagai penyelundup kala berjalan pulang naik keledainya setiap malam, maka para penjaga perbatasan memeriksanya berkali-kali. Mereka memeriksa orangnya, menurunkan sekamnya, kemudian memasukkannya ke dalam air dan bahkan membakarnya dari waktu ke waktu. Meskipun demikian ia menjadi semakin makmur dan mencolok. Pada saatnya ia berhenti dan pindah ke negeri lain. Di tempat baru ini ia sudah bertahun-tahun, dimana salah satu petugas bea cukai bertemu dengannya. “Sekarang Anda bisa menceritakan kepadaku, Nashruddin!” ucapnya. “Apa sebenarnya yang Anda selundupkan dulu, sehingga kami tidak pernah bisa menangkapnya?” “Keledai,” jawab Nashruddin. Cerita ini juga menekankan salah satu dari kandungan besar Sufisme –bahwa pengalaman yang tidak biasa dan tujuan mistik merupakan sesuatu yang lebih dekat kepada manusia dibanding yang disadari. Anggapan bahwa sesuatu yang esoteris atau transenden pastilah jauh atau rumit telah dianut oleh orang-orang bodoh. Dan orang semacam ini tidak memiliki syarat untuk memberikan penilaian terhadap persoalan. Ini menjadi ” jauh” hanya dalam arah yang tidak ia sadari. Nashruddin, seperti Sufi lainnya, tidak merusak kaidah-kaidah zamannya. Tetapi Ia menambahkan suatu dimensi baru bagi kesadarannya, dengan menolak menerima terhadap tujuan-tujuan khusus dan terbatas. Bahwa kebenaran, katakanlah demikian, merupakan sesuatu yang bisa diukur sebagaimana sesuatu yang lain. Apa yang disebut oleh masyarakat sebagai kebenaran adalah relatif pada situasi mereka. Dan ia tidak bisa menekannya sampai menyadarinya. Salah satu cerita Nashruddin, salah satu yang paling cerdik, memperlihatkan bahwa sampai seseorang bisa melihat melalui kebenaran relatif, maka tidak ada kemajuan bisa dibuat. Suatu hari Nashruddin duduk di pengadilan. Raja mengeluh bahwa para pejabatnya tidak jujur. “Paduka,” ucap Nashruddin, terdapat kebenaran dan kejujuran. Orang harus mempraktekkan kebenaran sejati, sebelum mereka bisa menggunakan kebenaran relatif. Mereka selalu mencoba-coba cara lain. Akibatnya adalah bahwa mereka berlaku lancang dengan kebenaran buatan-manusia, sebab secara naluri mereka mengetahui bahwa itu hanyalah suatu ciptaan ( manusia).” Raja menganggap hal ini terlalu rumit, “Sesuatu harus benar atau salah. Aku akan membuat orang berkata jujur dan dengan praktek ini mereka akan terbiasa jujur.” Ketika gerbang kota dibuka pada esok harinya, sebuah gantungan telah dipasang, yang dipimpin oleh seorang kapten dari pengawal istana. Sebuah pengumuman dilontarkan: “Siapa saja yang memasuki kota, pertama-tama harus menjawab benar pertanyaan yang akan dikemukakan kepadanya oleh kapten pengawal.” Nashruddin, yang tengah menunggu di luar, maju pertama. Kapten tersebut berkata, “Mau ke mana engkau? Jawab dengan jujur — alternatifnya adalah hukuman mati dengan digantung.” “Aku akan,” jawab Nashruddin, “digantung di atas tiang gantungan itu.” “Aku tidak mempercayaimu.” “Jika demikian, baiklah. Jika aku berdusta, gantung aku.” “Tetapi hal itu akan menjadikannya (kebohongan) sebagai kebenaran.” “Tepat,” ucap Nashruddin, “kebenaranmu.”Calon Sufi juga harus memahami bahwa tolok ukur kebaikan dan keburukan didasarkan pada ukuran individu atau kelompok, bukan atas dasar fakta obyektif. Sampai ia mengalami hal ini secara internal dan juga menerimanya secara intelektual, ia tidak akan mampu mencapai pemahaman yang lebih dalam (batin). Skala pengubahan ini digambarkan oleh cerita tentang perburuan: Seorang raja yang senang bergaul dengan Nashruddin, dan juga senang berburu, memerintahkannya untuk menyertainya dalam sebuah perburuan beruang. Nashruddin merasa sangat ketakutan. Ketika Nashruddin kembali ke desanya, seseorang bertanya kepadanya, “Bagaimana berburunya?” “Luar biasa!” “Berapa ekor beruang yang Anda lihat?” “Tidak seekor pun.” “Lantas, bagaimana bisa luar biasa?” “Jika engkau berburu beruang, dan jika engkau adalah aku, tidak melihat satu pun beruang merupakan pengalaman luar biasa.” Pengalaman internal tidak bisa disalurkan melalui pengulangan, tetapi harus disegarkan kembali secara terus-menerus dari sumbernya. Banyak madzhab yang tetap beroperasi lama setelah dinamika aktualnya telah kering, semata-mata menjadi pusat pengulangan suatu doktrin yang semakin melemah. Nama ajaran tersebut mungkin tetap sama. Ajaran tersebut mungkin tidak memiliki nilai lagi, bahkan mungkin bertentangan dengan makna asalnya, yang hampir semuanya selalu merupakan pendangkalan terhadap makna salah satu persoalan pokok dalam ceritanya tentang “Kuah Sup Bebek”. Seorang kerabat jauh mengunjungi Mullah Nashruddin, dengan membawa seekor bebek sebagai buah tangan. Karena gembira, Nashruddin memasaknya dan menyantapnya bersama tamunya. Akan tetapi, akhir-akhir ini orang-orang pedalaman silih berganti mengunjungi rumah Nashruddin, masing-masing orang mengaku sahabat dari “orang yang membawakan bebek itu sebagai buah tangan”. Lama-kelamaan Nashruddin terkuras. Akan tetapi, pada suatu hari seorang asing lainnya berkunjung, “Aku adalah sahabat dari sahabat dari sahabat kerabat yang membawakan bebek kepada Anda.” Ia duduk, seperti semua tamu-tamunya, mengharapkan sebuah hidangan. Akhirnya Nashruddin menghidangkan kepadanya semangkuk air panas. “Apa ini?” “Ini adalah sup dari sup dari sup bebek yang dibawa oleh kerabatku.” Persepsi tajam yang dicapai Sufi kadang-kadang memungkinkan dirinya mengalami hal-hal yang tidak terlihat oleh orang-orang lain. Karena tidak mengetahui hal ini, para anggota dari madzhab- madzhab lainnya secara umum memperlihatkan kelemahan persepsinya dengan mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara jelas merupakan akibat dari ketidakmatangan spiritualnya, sehingga seorang Sufi bisa membaca dirinya seperti sebuah buku. Oleh karena itu, persepsi tersebut digambarkan oleh cerita Nashruddin lainnya: Nashruddin memasuki sebuah rumah besar untuk mengumpulkan sedekah. Sang pembantu berkata, “Tuanku sedang keluar.” “Baiklah, ” ucap Nashruddin, “meskipun ia tidak bisa menyumbang, tolong sampaikan nasehatku kepadanya. Katakan, ‘Lain kali jika Tuan keluar, jangan tinggalkan wajah Tuan di jendela — seseorang mungkin bisa mencurinya’.” Orang tidak tahu ke mana harus menoleh kalau mereka mencari pencerahan. Akibatnya, tidaklah mengejutkan jika mereka menempelkan dirinya pada suatu cara penyembahan (kultus), menenggelamkan dirinya pada semua cara teori-teori, dengan meyakini bahwa mereka memiliki kapasitas kebenaran dari yang salah (yang sejati dari yang palsu). Nashruddin mengajarkan hal ini dalam berbagai cara. Pada suatu kesempatan seorang tetangga menemukannya tengah berlutut mencari sesuatu. “Apa yang hilang, Mullah?” “Kunciku,” jawab Nashruddin. Setelah beberapa menit mencari, tetangga itu bertanya, “Di mana Anda menjatuhkannya?” “Di rumah.” “Demi Allah, lantas mengapa Anda mencarinya di sini?” “Sebab di sini lebih banyak cahaya.” Cerita ini merupakan salah satu yang paling terkenal dari semua cerita Nashruddin, yang digunakan oleh para Sufi, untuk mengulas orang-orang yang mencari sumber-sumber lahiriah bagi pencerahan. Kisah ini merupakan bagian dari pertunjukan Karl Vallentin, “badut metafisis” akhir dari Munich. Mekanisme rasionalisasi merupakan salah satu penghalang efektif bagi pendalaman persepsi. Dampak Sufistik mungkin seringkali disia-siakan karena individu tersebut tidak akan menyerapnya secara tepat. Seorang tetangga datang untuk meminjam tali jemuran Nashruddin. “Maaf, aku tengah mengeringkan bubuk gandum di atasnya.” “Tetapi bagaimana engkau bisa mengeringkan bubuk gandum di atas tali jemuran?” “Hal ini tidak sesulit yang Anda kira, jika Anda tidak ingin meminjamkannya.”Di sini Nashruddin menampilkan dirinya sendiri sebagai bagian jiwa/ akal yang selalu menolak, yang tidak akan menerima bahwa terdapat cara lain untuk mendekati kebenaran selain pola-pola konvensional. Dalam perkembangan pikiran manusia, terdapat perubahan konstan dan membatasi kegunaan setiap teknik khusus. Karakteristik praktek Sufi ini terabaikan dalam sistem-sistem yang bersifat pengulangan, yang mengondisikan pikiran dan menciptakan suatu suasana pencapaian atau kedekatan pada pencapaian, tanpa benar- benar menghasilkannya. Nashruddin menggambarkan karakteristik tersebut dalam sebuah cerita yang berusaha memperjelas hal itu. Mullah Nashruddin hampir terjatuh ke dalam kolam air. Seorang yang lewat menyelamatkannya, di saat yang tepat. Setiap kali mereka bertemu, orang tersebut mengingatkan Nashruddin betapa ia telah mencegahnya untuk tidak basah kuyup. Akhirnya karena tidak tahan lagi, Nashruddin membawa “dewa penolongnya” tersebut ke kolam, kemudian ia menceburkan diri sampai sebatas leher, dan berteriak, “Sekarang aku basah kuyup seperti seandainya tidak pernah bertemu dengan Anda! Maukah Anda membiarkanku sendiri?” Lelucon atau dongeng biasa, yang hanya mengandung satu persoalan atau penekanan, tidak bisa dibandingkan dengan sistem Nashruddin — secara ideal merupakan suatu partisipasi-pembacaan yang menghasilkan pengaruh batin, begitu juga pengaruh lahir atau superfisial. Dongeng dan lelucon biasa secara mistik dipandang steril karena tidak memiliki kekuatan menembus atau regenerasi sejati. Meskipun kepiawaian dan tujuan yang rumit dari cerita Nashruddin jauh lebih tinggi, katakanlah dibanding tokoh Baldakiev bagi orang- orang Rusia, Joha bagi orang-orang Arab, atau Bertoldo bagi orang- orang Italia — semuanya adalah tokoh-tokoh komik yang terkenal — perbedaan tertentu dari kedalaman makna pada cerita-cerita bisa dimasukkan melalui cara-cara lelucon Nashruddin dan kesepadanannya pada peristiwa sporadis di mana saja. Sebuah cerita Zen memberikan satu contoh menarik. Dalam cerita ini seorang pendeta bertanya kepada seorang guru untuk memberikan suatu gambaran realitas (yang ada) di luar realitas. Guru tersebut menggambar sebuah apel yang busuk, dan pendeta tersebut menangkap kebenaran itu melalui tanda ini. Kita tetap dalam kegelapan tentang apa yang ada di balik, atau yang membawa kepada, pencerahan tersebut. Cerita Nashruddin tentang apel mengisi sejumlah besar rincian yang hilang tersebut. Nashruddin tengah duduk di antara murid-muridnya, ketika salah seorang muridnya bertanya kepadanya tentang hubungan antara hal-hal yang ada di dunia ini dan hal-hal yang ada di suatu dimensi yang berbeda. Nashruddin mengatakan, “ Engkau harus memahami tamsil!” Murid tersebut berkata, “ Perlihatkan kepada kami sesuatu yang praktis — sebagai contoh sebuah apel dari Firdaus!” Nashruddin memetik sebuah apel dan menyerahkannya kepada murid tersebut. “Namun apel ini jelek di salah satu bagiannya — apel surgawi seharusnya sempurna.” “Sebuah apel surgawi seharusnya sempurna,” ucap Nashruddin, “tetapi sejauh engkau bisa menilainya, sementara kita berada di dunia yang tidak sempurna ini, serta dengan kemampuanmu yang ada saat ini, apel ini mendekati apel surgawi yang bisa engkau peroleh.” Murid tersebut memahami bahwa istilah-istilah yang kita gunakan untuk hal-hal metafisis itu didasarkan atas istilah fisik. Dalam rangka menembus dimensi lain dari pemikiran (pemahaman), kita harus menyesuaikan pada cara pemahaman bagi dimensi tersebut. Cerita Nashruddin, yang sangat mungkin merupakan asal dari tamsil apel tersebut, dirancang untuk menambahkan suatu rasa bagi pemikiran pendengarnya yang dibutuhkan untuk membangun kesadaran bagi pengalaman-pengalaman yang tidak bisa dicapai sampai suatu jembatan (kesadaran) telah dicapai. Pembentukan kesadaran-batin secara bertahap ini merupakan karakter dari metode Sufistik Nashruddin. Kilatan pencerahan intuitif yang dihasilkan oleh cerita-cerita tersebut sebagian merupakan suatu pencerahan kecil pada dirinya sendiri, dan bukan suatu pengalaman intelektual. Ia juga merupakan batu loncatan menuju pembentukan kembali persepsi mistik dalam suatu penulisan yang menjebak, yang secara terus-menerus pemikiran dikondisikan oleh sistem-sistem pelatihan dalam kehidupan material. Sebuah lelucon Nashruddin, yang dipisahkan dari terminologi teknisnya (kemungkinan akibat penterjemahan), masih bisa dirasakan nilai humornya. Dalam hal ini sebagian besar dampaknya mungkin hilang. Contohnya adalah lelucon tentang garam dan wool: Nashruddin tengah membawa muatan garam ke pasar. Keledainya berjalan menyeberangi sungai, dan garamnya pun meleleh. Ketika sampai di seberang sungai, keledai tersebut berjalan lincah karena muatannya menjadi ringan. Maka Nashruddin menjadi marah. Pada hari pasaran berikutnya ia memuati kantong pelananya dengan wool. Keledainya hampir tenggelam dengan meningkatnya beban ketika binatang tersebut keluar dari air. “Bah!” ucap Nashruddin penuh kemenangan, “itu akan mengajari untuk berpikir bahwa engkau akan memperoleh sesuatu setiap kali engkau melewati air.” Pada cerita asalnya, dua istilah teknis dipergunakan, garam dan wool. “Garam” ( milh ) adalah homonim untuk “menjadi baik, bijak”. Keledai adalah simbol untuk manusia. Dengan menumpahkan beban kebajikan umumnya, seseorang akan merasa lebih baik, karena kehilangan beban. Akibatnya ia kehilangan makanannya, sebab Nashruddin tidak bisa menjual garam untuk membeli pakan ternaknya. Kata “wool” tentu saja merupakan kata lain untuk “Sufi”. Pada perjalanan keduanya, keledai tersebut telah meningkatkan bebannya melalui wool, karena adanya maksud dari sang guru, Nashruddin. Bebannya meningkat selama perjalanan menuju pasar. Tetapi hasil akhirnya menjadi lebih baik, sebab Nashruddin menjual wool basah, tentu saja lebih berat dari sebelumnya, dengan harga yang lebih tinggi dari wool kering. Lelucon lain, yang juga ditemukan pada Cervantes ( Don Quixote , Bagian 5) , tetap menjadi sebuah lelucon meskipun istilah teknis “ takut” semata-mata diterjemahkan apa adanya dan tidak dijelaskan: “Aku akan mengantungmu!” ucap seorang raja lalim dan bodoh kepada Nashruddin. “Jika engkau tidak bisa membuktikan bahwa dirimu memiliki wawasan yang mendalam seperti yang telah dinisbatkan kepadamu.” Mendadak Nashruddin menyatakan bahwa dirinya bisa melihat seekor burung emas di langit dan iblis di dalam bumi. “Tetapi bagaimana engkau bisa melakukannya?” tanya sang raja. “Rasa takut,” jawab Nashruddin, “itulah yang Tuan perlukan.” “Takut” dalam kosa kata Sufi, merupakan pengaktifan kesadaran yang bisa menghasilkan persepsi surga-inderawi ( extra -sensory ). Ini merupakan suatu kawasan dimana akal-formal tidak dipergunakan, dan fakultas lain dari jiwa ( mind ) didorong untuk bekerja. Tetapi Nashruddin, dengan cara yang sama sekali unik, berusaha mempergunakan piranti intelektualitas yang sama untuk tujuan- tujuannya sendiri. Gema dari tujuan ini bisa ditemukan pada the Legend of Nasrudin , dimana di dalamnya diriwayatkan bahwa Hussein, pendiri sistem tersebut, mengambil utusannya yang telah dirancang, Nashruddin, dari cengkeraman “Pendosa Tua” — sistem pemikiran yang mentah dimana hampir kita semua hidup di dalamnya. “Hussein” dalam bahasa Arab dikaitkan dengan konsep kebajikan, “ Hussein” bermakna “kuat, sulit untuk dimasuki”. Ketika Hussein mencari ke seluruh dunia seorang guru yang akan membawa pesannya ke seluruh generasi, ia hampir putus asa ketika mendengar suara ribut. Sang Pendosa-Tua memakai salah satu muridnya karena menceritakan lelucon. “Nashruddin” bentak sang Pendosa-Tua, “karena sikapmu yang keterlaluan aku mengutukmu menjadi bahan kekonyolan dunia. Oleh sebab itu, jika satu dari cerita-ceritamu yang rancu diceritakan, maka enam cerita lagi pasti akan terdengar secara beruntun sampai engkau terlihat jelas sebagai sosok yang lucu.” Diyakini bahwa pengaruh mistis dari tujuh cerita Nashruddin, yang dipelajari secara beruntun, adalah cukup untuk mempersiapkan seseorang menuju pencerahan. Hussein, yang menguping hal itu, menyadari bahwa dari setiap situasi akan muncul pengobatannya sendiri, dan dengan demikian dari cara dimana kejahatan-kejahatan Pendosa-Tua terjadi itulah bisa dibawa pada perspektifnya yang sejati. Ia akan menjaga kebenaran melalui Nashruddin. Ia memanggil Nashruddin dalam mimpi dan menanamkan sejumlah berkahnya kedalam dirinya. Barakah merupakan kekuatan Sufi, menembus secara batin ke dalam signifikansi-nominal dari makna. Dan sinilah semua cerita tentang Nashruddin menjadi karya seni “ independen”. Mereka bisa dipahami sebagai lelucon; mereka memiliki suatu makna metafisis; cerita-cerita itu demikian kompleks dan mengandung sebagian dari sifat keutuhan dan kesempurnaan yang telah dicuri dari kesadaran manusia karena aktivitas-aktivitas dari Pendosa-Tua tersebut (sistem pemikiran yang mentah). Dilihat dari sudut pandang biasa, barakah memiliki kualitas “magis” — meskipun ia secara esensial merupakan suatu kesatuan dan pendorong serta substansi dari realitas obyektif. Salah satu dari kualitas ini adalah siapa saja yang diberi barakah , atau setiap obyektif yang terkait dengannya, tidak menjadi soal berapa banyak ia telah diubah karena dampak dari orang ini secara spiritual tercurahkan. Oleh sebab itu, pengulangan semata-mata sebuah lelucon Nashruddin akan membawa barakah . “Maka dengan cara inilah ajaran-ajaran Nashruddin dari jalur Hussein ditanamkan selamanya di dalam suatu piranti yang secara keseluruhan tidak bisa diselewengkan tanpa bisa diperbaiki kembali. Seperti air, secara esensial semuanya adalah air, maka dalam pengalaman-pengalaman Nashruddin terdapat suatu takaran minimum yang tidak teredaksi yang bisa memberikan jawaban suatu panggilan, dan akan berkembang jika didorong.” Takaran minimum tersebut adalah kebenaran ( truth ), dan melalui kebenaran inilah dicapai kesadaran sejati. Nashruddin merupakan cermin bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri. Tidak seperti cermin kebanyakan, semakin sering dilihat, maka semakin tampak sosok Nashruddin yang asli terproyeksikan di dalamnya. Cermin ini serupa dengan Cup of Jamshid yang termasyhur, sang pahlawan Persia; yang mencerminkan seluruh dunia, dan dalam cermin inilah para Sufi “melihat”. Karena Sufisme tidak dibangun diatas perilaku artificial, dalam pengertian tersurat dengan rincian eksternal (lahiriah), tetapi di atas rincian komprehensif (pemahaman), maka cerita-cerita Nashruddin harus dialami, begitu juga direnungkan. Selain itu, merasakan kandungan setiap cerita melalui pengalaman langsung akan mendorong “kehadiran” mistik. Salah satu dari perkembangan pertama kehadiran tersebut adalah ketika seorang Sufi memperlihatkan tanda-tanda persepsi superior. Sebagai contoh, ia akan mampu memahami suatu keadaan melalui ilham, bukan melalui penalaran formal. Akibatnya, tindakan-tindakannya kadang-kadang bisa membingungkan para pengamat yang bekerja pada tataran kesadaran-biasa; meskipun demikian yang dihasilkannya akan tepat. Sebuah cerita Nashruddin yang memperlihatkan bagaimana hasil yang tepat dicapai seorang Sufi melalui suatu mekanisme khusus (“ cara yang salah” dalam pandangan orang-orang yang belum tercerahkan) bisa menjelaskan sebagian besar eksentrisitas para. Sufi:Betapapun kisah ini bernilai semata-mata sebagai lelucon, tetapi bagi mereka yang memandangnya sebagai idea dari orang bodoh, dan tidak mengandung makna yang lebih dalam, maka mereka tidak akan bisa memanfaatkan kekuatan pencerahan yang terkandung dalam cerita tersebut. Anda memeras dari sebuah cerita Nashruddin hanya sedikit lebih dari yang Anda curahkan. Jika cerita itu tampak tidak lebih dari sekadar sebuah lelucon, maka orang tersebut perlu melakukan “kerja-diri” (mujahadah) lebih jauh. Orang seperti ini digambarkan dalam percakapan Nashruddin tentang rembulan: “Apa yang mereka lakukan terhadap bulan kala ia tua?” seorang yang pandir bertanya kepada Nashruddin. Jawabannya disesuaikan dengan pertanyaannya, “Mereka memotong-motong setiap bulan tua menjadi empat puluh bintang.” Banyak dari cerita Nashruddin menjelaskan kenyataan bahwa biasanya orang mencari pencapaian mistis dengan mengharapkan hal itu diperoleh melalui pemahaman mereka sendiri, dan oleh sebab itu secara umum menutup diri mereka sendiri dari pencapaian tersebut sebelum memulainya. Tidak seorang pun bisa berharap untuk sampai mengetahui apa sesungguhnya pencerahan itu dan meyakini bahwa ia bisa mencapainya melalui suatu jalan yang telah ditetapkan dengan baik yang bisa dibentuk sejak awal. Inilah inti persoalan yang digambarkan pada cerita tentang perempuan dan gula berikut ini: Ketika Nashruddin menjadi hakim, seorang perempuan menemuinya dengan membawa anaknya. “Anak ini,” tutur si ibu, “terlalu banyak makan gula. Aku tidak bisa membiarkannya melakukan hal itu. Oleh sebab itu, aku meminta Anda secara resmi melarang memakannya, sebab ia tidak akan mematuhiku!” Nashruddin mengatakan kepadanya untuk kembali dalam waktu seminggu lagi. “Sekarang,” ucap Nashruddin kepada si anak. “Aku melarangmu memakan gula lebih dari jumlah ini setiap hari!” Pada akhirnya perempuan tersebut menanyakan kepadanya, mengapa begitu lama diperlukan sebelum sebuah perintah sederhana bisa diberikan. “Sebab aku harus membuktikan apakah aku sendiri dapat menghentikan kebiasaan makan gula sebelum memerintahkan orang lain melakukannya.” Permintaan perempuan tersebut, selaras semata-mata didasarkan pada anggapan-anggapan tertentu. Pertama, bahwa keadilan bisa dilaksanakan semata-mata dengan memberikan perintah. Kedua, bahwa sesungguhnya seseorang bisa makan sedikit gula sebagaimana yang ia inginkan kepada anaknya untuk memakannya. Ketiga, bahwa sesuatu itu bisa disampaikan kepada orang lain oleh seseorang yang tidak terlibat langsung dengan sesuatu tersebut. Cerita ini bukan sekadar suatu cara mengubah “redaksi” pernyataan, “Kerjakan seperti yang kukatakan, bukan seperti yang kulakukan!” Jauh dari wujud ajaran etis, ini merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar. Ajaran Sufi hanya bisa dilakukan oleh seorang Sufi, bukan oleh seorang teoritisi atau eksponen intelektual. Karena sejalan dengan realitas-sejati, maka Sufisme tidak bisa dibuat secara dekat untuk menyerupai apa yang kita anggap sebagai realitas, tetapi ia benar-benar merupakan aturan yang didasarkan atas pengalaman nyata yang lebih mendasar. Sebagai contoh, kita cenderung melihat peristiwa-peristiwa secara sepihak. Kita juga beranggapan tanpa suatu pembenaran, bahwa suatu peristiwa terjadi seolah-olah hal itu terjadi pada suatu “ruang hampa”. Dalam hakikatnya, semua peristiwa terkait dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Hanya ketika kita telah mengalami keterkaitan dengan organisme kehidupan itulah kita bisa memahami pengalaman mistis. Jika Anda melihat tindakan yang Anda lakukan, atau yang dilakukan orang lain, Anda akan menemukan bahwa hal itu didorong oleh salah satu dari berbagai stimulan; dan Anda juga menyadari bahwa hal itu bukan suatu tindakan yang “terkecil” — ia memiliki akibat-akibat, kebanyakan justru yang tidak Anda harapkan. CERITA MENUJU AWAL PENCERAHAN “Lelucon” Nashruddin lainnya menegaskan siklus realitas yang mendasar ini, serta hubungan-hubungan tidak kasat-mata secara umum yang terjadi: Suatu hari Nashruddin berjalan di sebuah jalan yang lengang. Malam mulai turun ketika ia melihat sepasukan berkuda menuju ke arahnya. Imajinasinya mulai bekerja, dan ia khawatir mereka akan merampoknya, atau memaksanya menjadi pasukan. Begitu kuatnya rasa takut ini sehingga ia melompati tembok dan ternyata ia berada di sebuah kuburan. Musafir-musafir lainnya, karena tidak memiliki prasangka sebagaimana Nashruddin, menjadi penasaran dan mengejarnya. Ketika mereka mendatanginya tengah berbaring tidak bergerak, salah seorang di antara mereka berkata, “Apa yang bisa kami bantu, — mengapa Anda di sini dengan posisi seperti ini?” Menyadari kesalahannya, Nashruddin berkata, “Ini lebih rumit dari yang kalian duga. Kalian lihat, aku di sini karena kalian, dan kalian di sini karena aku.” Hanya seorang Sufi (mistik) yang “kembali” ke dunia normal setelah mengalami langsung keterkaitan dari hal-hal yang menjadi berbeda atau tidak terkait, yang benar-benar bisa memahami kehidupan dengan cara ini. Bagi Sufi, setiap metode metafisis yang tidak mencakup faktor (keterkaitan segala peristiwa) ini merupakan suatu metode yang hanya mencampur-aduk hal-hal lahiriah, dan tidak bisa menjadi suatu produk dari apa yang disebut sebagai pengalaman mistik. Metode semacam ini merupakan penghalang bagi pencapaian tujuan sejati yang didambakannya. Ini bukan untuk menyatakan bahwa Sufi sebagai akibat dari pengalaman-pengalamannya, menjadi terpisah dari realitas kehidupan superfisial. Ia memiliki dimensi ekstra dalam wujud, yang bekerja secara paralel dengan kognisi yang lebih lemah dari manusia wajar. Nashruddin menerangkan hal ini secara menawan dengan pernyataannya: “Aku bisa melihat dalam gelap.” “Hal itu mungkin saja, Mullah Nashruddin. Tetapi jika benar demikian, mengapa Tuan terkadang membawa lilin di malam hari?” “Untuk mencegah orang lain menabrakku.” Cahaya yang dibawa oleh Sufi mungkin penyesuaiannya dengan cara-cara dari orang-orang di mana ia berada, setelah se”kembali”- nya dari perjalanan ke dalam suatu persepsi yang lebih luas. Karena transmutasinya, Sufi merupakan bagian kesadaran realitas yang hidup dari seluruh wujud. Hal ini berarti: Ia tidak bisa melihat apa yang terjadi — baik pada dirinya maupun orang lain — dengan cara terbatas seperti yang biasa dilakukan oleh para filosuf atau teolog. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada Nashruddin tentang hakikat Nasib. Ia menjawab, “Apa yang Anda sebut ‘Nasib’ adalah benar-benar asumsi/dugaan. Anda menduga bahwa sesuatu yang baik atau buruk akan terjadi. Akibat aktualnya itulah yang Anda sebut ‘Nasib’.” Pertanyaan seperti, “Apakah Anda seorang fatalis?” tidak bisa diajukan kepada seorang Sufi, sebab ia menolak konsep nasib yang tidak berdasar (fakta) yang tersirat dalam pertanyaan tersebut. Karena ia bisa melihat kaitan-kaitan pada kedalaman satu peristiwa, maka sikap Sufi terhadap peristiwa-peristiwa individual bersifat komprehensif dan tidak memandangnya secara terpisah. Ia tidak bisa mengeneralisir dari data yang terpisah secara artifisial. “ Tak satu pun yang bisa menunggangi kuda itu!” ucap sang raja kepadanya. Nashruddin berucap, “Tetapi aku menaiki pelananya.” “ Apa yang terjadi?” “Aku juga tidak mampu menggerakkannya.” Cerita ini dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa ketika suatu fakta yang tampaknya konsisten ditarik sejajar dengan dimensi- dimensinya, maka ia akan berubah. Apa yang disebut problem komunikasi, yang menarik begitu banyak perhatian, bergantung pada dugaan-dugaan yang tidak bisa diterima oleh Sufi. Seorang awam berkata, “Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan orang lain yang berada di luar hal-hal yang wajar?” Sikap Sufi adalah bahwa “komunikasi dari hal-hal yang memang harus dikomunikasikan tidak bisa dihalangi. Hal ini berarti wahananya tidak harus ditemukan terlebih dulu”. Nashruddin dan seorang yogi (pendeta), dalam sebuah cerita, keduanya memainkan peran sebagai orang biasa yang, sesungguhnya, tidak memiliki sesuatu pun untuk dikomunikasikan di antara keduanya. Suatu hari Nashruddin melihat sebuah bangunan aneh yang di pintunya seorang yogi duduk bertapa. Nashruddin memutuskan untuk belajar sesuatu dari sosok yang mengesankan ini, dan memulai pembicaraan dengan menanyakan siapa dan apa yang tengah dilakukannya. “Aku seorang yogi,” ucapnya. “Dan aku menghabiskan waktuku berusaha untuk mencapai keselarasan dengan seluruh makhluk hidup.” “Ini menarik,” tutur Nashruddin, “sebab, seekor ikan pernah menyelamatkan hidupku.” Sang yogi memintanya untuk bergabung dengannya seraya mengatakan bahwa selama hidupnya yang dicurahkan untuk berusaha menyelaraskan dirinya dengan makhluk hayati, ia tidak pernah begitu dekat terlibat hubungan seperti yang dialami Nashruddin. Ketika keduanya telah bermeditasi selama beberapa hari, si yogi memohon Nashruddin untuk menceritakan lebih rinci tentang pengalamannya yang mengagumkan dengan ikan tersebut, “Karena sekarang kita telah saling mengenal lebih baik,” ucap si yogi. “Karena sekarang aku mengenal Anda lebih baik,” tandas Nashruddin, “aku ragu, apakah Anda bisa memperoleh manfaat dari ceritaku?” Tetapi si yogi mendesaknya. “Baiklah,” kata Nashruddin, “ikan tersebut benar-benar telah menyelamatkan hidupku. Pada waktu itu aku tengah kelaparan, dan ikan itu cukup untuk kumakan selama tiga hari.”Melibatkan diri dengan kapasitas-kapasitas tertentu dari pikiran/ jiwa yang menjadi ciri khusus dari apa yang disebut sebagai mistisisme eksperimental, merupakan sesuatu yang tidak satu pun Sufi berani melakukannya. Hasil dari percobaan terus-menerus tersebut tidak terhitung banyaknya pada beberapa abad yang lalu. Secara aktual Sufisme dari pengamatan empirik: Nashruddin menebarkan segenggam roti di sekitar rumahnya. “Apa yang Anda lakukan?” tanya seseorang. “Agar harimau tidak mendekat,” jawab Nashruddin. “Tetapi di sekitar sini tidak ada harimau.” “Tepat! Bukankah ini efektif?” tukas Nashruddin. Salah satu dari berbagai cerita Nashruddin yang ditemukan pada karya Cervantes, Don Quixote (Bagian 14) , mengingatkan bahaya- bahaya dari intelektualisme yang kaku. “Dengan doktrinku, tidak ada persoalan yang tidak bisa dijawab,” ucap seorang rahib yang baru saja memasuki sebuah warung teh di mana Nashruddin tengah duduk dengan para temannya. “Dan baru beberapa saat yang lalu,” jawab Nashruddin, “Aku ditantang oleh seorang alim dengan sebuah pertanyaan yang tak terjawab.” “Apabila hanya aku yang ada di sana! Katakan itu kepadaku, dan aku pastilah menjawabnya.” “Baiklah,” ucap Nashruddin, “Ia berkata, ‘Mengapa Anda berusaha memasuki rumahku di waktu malam’?” Persepsi Sufi terhadap keindahan terkait dengan suatu kekuatan penetrasi yang melampaui ketajaman dari bentuk-bentuk seni ilmu yang biasa. Suatu hari seorang murid mengajak Nashruddin untuk melihat pemandangan danau yang indah untuk pertama kalinya. “Alangkah indahnya!” seru Nashruddin. “Tetapi seandainya …” “Seandainya apa, Mullah?” “Andai saja mereka tidak menempatkan air di dalamnya.” Dalam rangka meraih tujuan mistik, Sufi harus memahami bahwa pikiran tidak bekerja dengan cara seperti yang kita duga. Selain itu dua orang yang saling “kenal” mungkin benar-benar saling merasa ragu. Suatu hari Nashruddin meminta istrinya untuk membuat sejumlah besar halwa (manisan), dan memberikan semua bahannya kepadanya. Ia hampir memakan seluruh manisan tersebut. Di tengah malam, Nashruddin membangunkan istrinya. “Aku baru saja memiliki pemikiran penting,” ucap Nashruddin. “Katakan kepadaku!” desak istrinya. “Bawakan dulu sisa manisannya dan aku akan menceritakannya kepadamu!” Ketika istrinya membawakan sisa manisan tersebut, ia memintanya lagi untuk menceritakan pemikirannya. Pertama-tama Nashruddin menghabiskan manisan tersebut. “Pemikiran itu,” ucap Nashruddin, “adalah: ‘Jangan pernah pergi tidur sebelum menghabiskan seluruh manisan yang dibuat sepanjang hari itu’.” Nashruddin memungkinkan seorang Salik ( the Sufi Seeker , sang Pencari) untuk memahami bahwa gagasan-gagasan formal yang beredar pada ruang dan waktu tidak mesti gagasan-gagasan yang bisa mencapai ranah kesejahteraan yang lebih luas. Sebagai contoh, orang yang meyakini bahwa mereka dianugerahi sesuatu karena tindakan-tindakannya di masa lalu dan mungkin akan dianugerahi sesuatu di masa datang untuk perbuatan-perbuatannya di masa depan, tidak akan bisa menjadi Sufi. Konsepsi Sufi tentang waktu merupakan suatu keterkaitan — suatu keberlangsungan ( continuum ). Dalam cerita klasik tentang “kamar mandi Turki” menggambarkan suatu cara yang memungkinkan suatu gagasan bisa dipahami: Nashruddin mengunjungi tempat mandi Turki. Karena berpakaian jelek, ia dilayani secara kasar oleh petugas yang memberikannya sebuah handuk tua dan secuil sabun. Ketika pergi, ia memberikan sekeping uang emas kepada petugasnya. Pada hari berikutnya ia kembali muncul. Kali ini ia berbusana mewah, dan tentu saja mendapatkan pelayanan yang terbaik dan berbeda. Ketika selesai mandi, ia memberikan sekeping uang logam terkecil yang ada kepada petugasnya. “Ini,” ucap Nashruddin, “untuk pelayanan yang kemarin. Sementara uang emas itu adalah untuk pelayananmu pada saat ini.” Sisa-sisa pola pemikiran (formal), ditambah ketidakmatangan pikiran, menyebabkan manusia berupaya untuk melibatkan diri mereka ke dalam mistisisme dengan berdasar pada pengertian- pengertiannya sendiri. Salah satu dasar yang pertama diajarkan kepada murid Sufi adalah bahwa ia mungkin memiliki sedikit pemahaman terhadap yang dibutuhkannya, dan mungkin ia menyadari bahwa dirinya bisa mendapatkannya dari belajar dan bekerja di bawah bimbingan seorang guru. Tetapi di luar itu ia tidak bisa mengajukan syarat. Berikut adalah cerita Nashruddin yang dipergunakan untuk menanamkan kebenaran ini: Seorang perempuan membawa putranya yang masih kecil ke sekolah Nashruddin. “Tolong anak ini ditakut-takuti sedikit!” ucapnya, “sebab ia membuatku sedikit kewalahan.” Nashruddin memelototkan bola matanya, mulai bernapas terengah-engah, berjungkir balik dan melepaskan tinjunya ke meja sampai perempuan yang ketakutan tersebut pingsan. Kemudian Nashruddin menerobos ke luar ruangan. Ketika Nashruddin kembali dan perempuan tersebut telah siuman, perempuan itu berkata kepadanya, “Aku meminta Anda menakut-nakuti anakku, bukan aku!” “Nyonya,” ucap Nashruddin, “bahaya tidak mengenal sasaran seperti yang Anda lihat, bahkan aku telah menakut-nakuti diriku sendiri. Ketika bahaya mengancam, ia mengancam semua orang secara sama.” Demikian juga, guru Sufi tidak bisa memasok muridnya hanya dengan sejumlah kecil ajaran Sufisme. Sufisme merupakan keseluruhan, dan di dalamnya mengandung keutuhan, bukan fragmentasi kesadaran yang mungkin digunakan oleh orang yang belum tercerahkan dalam prosesnya sendiri dan mungkin ia menyebutnya sebagai “konsentrasi”. Nashruddin mengolok-olok orang-orang yang tidak sungguh- sungguh dalam belajar, yang berharap mempelajari, atau mencuri rahasia kehidupan tanpa mau berupaya keras: Sebuah kapal akan tenggelam dan para penumpang berlutut berdoa dan bertobat, seraya berjanji untuk melakukan segala jenis kebajikan jika mereka bisa diselamatkan. Hanya Nashruddin yang tidak bergerak. Tiba-tiba, di tengah kepanikan tersebut ia melompat dan berteriak, “Sobat, sekarang bangkitlah! Jangan mengubah caramu — jangan terlalu mengobral janji. Aku kira aku melihat daratan!” Nashruddin menegaskan kesalahan gagasan mendasar tersebut — yaitu bahwa pengalaman mistis dan pencerahan tidak bisa dicapai melalui pengaturan kembali dari gagasan-gagasan yang sudah dikenal baik, tetapi melalui suatu pengakuan terhadap keterbatasan dari pemikiran biasa, yang hanya melayani untuk tujuan-tujuan duniawi. Dengan melakukan hal ini, ia mengungguli setiap bentuk pengajaran lain yang ada.Suatu hari Nashruddin memasuki sebuah warung teh dan berseru, “Bulan lebih berguna dari matahari!” Seseorang bertanya, “Mengapa bisa demikian?” “Sebab di malam hari kita lebih membutuhkan cahaya.” Penaklukan cahaya nafsu ammarah yang merupakan tujuan dari perjuangan Sufi tidak dicapai semata-mata melalui pengendalian terhadap keinginan (syahwat) seseorang. Cara ini dipandang sebagai penjinakan terhadap kesadaran liar yang meyakini bahwa ia bisa mengambil apa yang ia butuhkan dari segala sesuatu (termasuk mistisisme) dan membelokkannya bagi penggunaannya sendiri. Kecenderung untuk memanfaatkan bahan-bahan dari sumber apa pun bagi keuntungan pribadi sangatlah bisa dipahami dalam dunia yang “utuh” secara parsial dari kehidupan biasa, tetapi tidak bisa dibawa ke dalam dunia yang lebih besar dari pemenuhan sejati. Dalam cerita tentang burung yang mencuri, Nashruddin (dikisahkan) membawa sepotong hati dan resep untuk (kue) pie hati. Tiba-tiba seekor burung pemangsa meluncur turun dan mencomot (daging) hati tersebut dari tangannya. Ketika burung tersebut terbang menjauh, Nashruddin mengejarnya sambil berteriak, “Burung bodoh! Engkau mungkin mengambil hati tersebut, tetapi apa yang akan kau lakukan tanpa resepnya?” Tentu saja dari sudut pandang burung itu, hati tersebut cukup memadai bagi keperluannya. Hasilnya mungkin seekor burung yang kenyang, tetapi ia hanya memperoleh apa yang ia pikirkan dan inginkan, bukan apa yang seharusnya bisa didapat. Karena Sufi tidak selalu dipahami oleh orang lain, mereka akan berusaha membuatnya menyesuaikan diri dengan gagasan mereka tentang apa yang dipandang benar. Dalam cerita Nashruddin tentang burung yang lain (yang juga muncul pada karya agung puitik Rumi, Matsnawi ), Nashruddin menemukan seekor elang raja bertengger di jeruji jendela rumahnya. Ia tidak pernah melihat seekor “merpati” yang aneh seperti ini. Setelah memotong lurus paruhnya dan memangkas cakar-cakarnya, ia melepaskannya seraya berkata, “Sekarang kau lebih tampak seperti burung. Seseorang telah mengabaikan dirimu.” Pembagian kehidupan secara artifisial, pemikiran dan tindakan, tidak memiliki tempat dalam Sufisme. Nashruddin menanamkan pandangan ini sebagai prasyarat untuk memahami kehidupan sebagai keseluruhan. “Gula yang larut dalam susu akan menyebar ke seluruh susu tersebut.” Nashruddin tengah berjalan melewati jalan berdebu dengan seorang sahabat. Ketika menyadari bahwa mereka sangat kehausan, mereka berhenti di sebuah warung teh dan menemukan bahwa mereka hanya memiliki uang untuk segelas susu. Sahabatnya berkata, “Minumlah bagianmu yang separo terlebih dulu, aku memiliki sejumlah gula yang akan aku tambahkan ke dalam bagianku!” “Sobat, tambahkan gula itu sekarang juga, dan kita akan menikmatinya berdua,” ucap Nashruddin. “Jangan! Gulanya tidak cukup untuk memaniskan segelas susu.” Nashruddin pergi ke dapur dan kembali dengan membawa butiran garam. “Kabar baik, sobat — aku akan memperoleh separo bagianku dengan memberi garam — dan ini cukup untuk satu gelas penuh.” Meskipun — dalam praktek, namun bahkan dunia artifisial yang telah kita ciptakan untuk diri sendiri — kita terbiasa beranggapan bahwa “hal-hal yang pertama pasti akan muncul pertama”, dan bahwa segala sesuatu pasti berurutan dari A sampai Z, anggapan ini tidak berlaku mutlak pada dunia metafisis yang memiliki orientasi berbeda. Seorang murid (Sufi), pada saat yang bersamaan, akan mempelajari berbagai hal yang berbeda, pada tingkat persepsi dan potensialitasnya tersendiri. Ini merupakan perbedaan lainnya antara Sufisme dan sistem-sistem yang bergantung pada anggapan bahwa hanya satu hal yang bisa dipelajari pada satu keadaan. Seorang guru Sufi (darwis) mengulas hubungan multi bentuk dari Nashruddin dengan seorang murid (Sufi). Cerita tersebut, katanya, serupa dengan sebuah delima. Buah ini memiliki keindahan, gizi dan sari yang tersembunyi — bijinya. Seseorang mungkin tertarik secara emosional dengan bentuk luarnya, tertawa mendengar sebuah lelucon, atau melihat keindahan lahiriah tersebut. Tetapi hal ini hanya jika delima tersebut diberikan kepada Anda. Semua hal yang terserap adalah bentuk dan warnanya, mungkin aromanya, bentuk lahir dan teksturnya. “Anda bisa memakan buah delima dan merasakannya, merasakan kebahagiaan yang jauh lebih dari sarinya. Delima tersebut memberikan gizi kepada Anda, dan menjadi bagian diri Anda. Anda bisa membuang biji-kerasnya — atau memecahkannya dan menemukan suatu inti yang lezat di dalamnya. Inilah kedalaman yang tersembunyi itu. Ia memiliki warna, ukuran, bentuk, sari, rasa dan fungsinya tersendiri. Anda bisa mengumpulkan biji-bijiannya dan menjadikannya sebagai minyak bakar. Meskipun biji arang tersebut tidak lagi berguna, bagian yang bisa dimakan telah menjadi bagian dari Anda.” Begitu seorang murid mencapai tingkat pandangan tertentu terhadap kerja-kerja sejati dari wujud (eksistensi), maka ia akan berhenti bertanya terhadap hal-hal yang sebelumnya tampak sebagai hal-hal yang sangat relevan dengan keseluruhan gambaran tersebut. Selain itu, ia bisa melihat bahwa sebuah keadaan bisa diubah oleh peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak memiliki relevansi dengannya. Cerita tentang selimut menjelaskan hal ini: Nashruddin dan istrinya pada suatu malam terbangun karena mendengar dua orang bertikai di bawah jendela rumahnya. Istrinya menyuruh Nashruddin ke luar untuk melihat apa sesungguhnya yang terjadi. Ia menutupi bahunya dengan selimut dan kemudian turun. Begitu mendekati ke dua orang tersebut, salah seorang dari mereka merampas selimut tersebut, kemudian mereka lari. “Sayang, apa yang menyebabkan pertikaian itu?” tanya istrinya ketika Nashruddin masuk rumah. “Tentang selimutku. Begitu mereka mendapatkan selimutku, mereka segera pergi.” —- Seorang tetangga pergi ke Nashruddin untuk meminjam keledainya. “Keledaiku tidak ada, karena sedang dipinjam,” kata Nashruddin. Padahal pada saat itu keledai tersebut terdengar meringkik dari dalam kandangnya. “Tetapi aku bisa mendengar ringkikan keledai itu, di sana.” “Siapa yang Anda percaya?” tanya Nashruddin, “aku atau keledai?” Pengalaman terhadap dimensi realitas ini memungkinkan seorang Sufi menghindari rasa-keakuan dan penggunaan mekanisme rasionalisasi — suatu cara berpikir yang memenjarakan satu bagian dari akal. Nashruddin yang memainkan peranan sebagai seorang manusia tipikal untuk sesaat, menggambarkan persoalan ini kepada kita semua: Seorang penduduk desa datang kepada Nashruddin dan berkata, “Sapi jantan Anda telah menanduk sapiku. Apakah aku berhak memperoleh ganti rugi?” “Tidak,” ucap Mullah seketika, “sapi jantan itu tidak bertanggung jawab atas insiden itu.” “Maaf,” kata penduduk desa yang licik itu, “aku salah ucap. Yang kumaksudkan adalah sapi Tuan yang ditanduk sapiku, tetapi bukankah persoalannya sama saja?” “Oh, tidak!” ucap Nashruddin, “Aku pikir lebih baik memeriksa kitab fiqihku untuk melihat apakah ada contoh hukum untuk masalah ini.”Karena semua bangunan pemikiran intelektual manusia dinyatakan dalam hubungannya dengan penalaran eksternal, maka Nashruddin sebagai guru Sufi berulang kali berupaya mengungkapkan kesalahan anggapan umum itu. Upaya menuliskan atau menuturkan pengalaman mistis itu sendiri tidak pernah berhasil, sebab “mereka yang mengetahuinya tidak memerlukannya, sedang mereka yang tidak mengetahuinya tidak bisa meraihnya tanpa perantara.” Dua cerita dari beberapa yang penting seringkali digunakan dalam hubungannya dengan ajaran Sufi untuk mempersiapkan pikiran terhadap pengalaman-pengalaman di luar pola-pola kebiasaan yang berlaku. Pada cerita pertama, Nashruddin dikunjungi oleh seorang calon murid. Orang tersebut, setelah mengalami berbagai cobaan, sampai ke gubuk di lereng gunung di mana Nashruddin sedang duduk. Karena mengetahui bahwa setiap gerak dari Sufi yang telah tercerahkan ( mukasyafah ) memiliki makna, maka pendatang baru tersebut menanyakan kepada Nashruddin mengapa ia meniup tangannya. “Tentu saja untuk menghangatkannya,” jawab Nashruddin. Setelah itu, Nashruddin mengambil dua mangkuk sup, dan meniupnya, “Mengapa guru melakukan hal itu?” tanya si murid. “Tentu saja untuk mendinginkannya,” jawab si guru. Sampai di sini si murid meninggalkan Nashruddin, karena tidak lagi bisa mempercayai seorang yang menggunakan proses yang sama untuk mencapai hasil yang berbeda — panas dan dingin. Menguji sesuatu dengan cara yang diambil dari sesuatu itu sendiri — seperti menguji pikiran dengan pikiran itu sendiri, menguji makhluk dengan cara pandang makhluk itu sendiri, padahal ia adalah wujud yang belum berkembang — tidak bisa dilakukan. Pembentukan teori berdasar pada cara-cara subyektif semacam ini mungkin terasa baik untuk jangka pendek, atau untuk tujuan-tujuan khusus. Akan tetapi bagi Sufi, teori-teori semacam ini tidak mewakili kebenaran suatu alternatif semata-mata hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi ia bisa mengkarikaturkan untuk mengungkapkan proses itu. Ketika hal ini dilakukan, pintu terbuka untuk mencari sistem alternatif dari hubungan fenomena tersebut. “Setiap hari,” ucap Nashruddin kepada istrinya, “aku semakin kagum terhadap cara efisien dimana dengan cara tersebut dunia ini diatur — secara umum, untuk kesejahteraan manusia. ” “Apa sebenarnya yang kau maksudkan?” “Contohnya seperti unta. Menurutmu, mengapa unta itu tidak punya sayap?” “Aku tidak tahu!” “Coba bayangkan, seandainya unta punya sayap, mereka mungkin bersarang di atas atap rumah dan merusak pekarangan kita dengan berjalan mondar-mandir di atas atap dan memuntahkan makanannya ke kita.” Peran guru Sufi ditekankan dalam ceritanya yang termasyhur tentang ceramah. Cerita ini menggambarkan (di antara hal-hal lainnya, sebagaimana pada semua cerita Nashruddin) bahwa tidak ada permulaan bisa dilakukan pada orang yang sama sekali tidak tahu. Tapi bagi mereka yang mengetahui tidak perlu diajari. Akhirnya, jika terdapat beberapa orang yang telah tercerahkan pada suatu komunitas, maka seorang guru baru tidak diperlukan. Nashruddin diundang untuk memberikan ceramah kepada penduduk di desa tetangga. Ia naik mimbar dan mulai berbicara. “Para hadirin! Apakah kalian mengetahui apa yang akan kukatakan kepada kalian?” Sebagian pendengar yang suka membuat kegaduhan, karena berusaha untuk menghibur diri mereka sendiri, berteriak, “ Tidak!” “Jika demikian,” ucap Nashruddin dengan tegas, “aku akan berhenti mencoba mengajari masyarakat yang sama sekali tidak mengerti semacam ini.” Minggu berikutnya, setelah memperoleh jaminan dari para perusuh bahwa mereka tidak akan mengulangi ucapan mereka, para sesepuh desa kembali meminta Nashruddin memberikan ceramah kepada mereka. “Para hadirin!” Ia mulai kembali, “Apakah kalian mengetahui apa yang akan kukatakan?” Sebagian pendengar, karena tidak tahu pasti bagaimana harus bereaksi, sebab ia memandangi mereka dengan tajam, berguman, “Ya, kami tahu.” “Jika demikian!” bentak Nashruddin, “aku tidak perlu lagi berbicara panjang lebar.” Ia pun meninggalkan ruangan tersebut. Pada kesempatan ketiga, ketika seorang utusan kembali mengunjunginya dan memohon dengan sangat kepadanya untuk berbicara sekali lagi, ia pun berbicara di depan majelis tersebut. “Para hadirin! Apakah kalian mengetahui apa yang akan kukatakan?” Karena tampaknya ia menuntut jawaban, para penduduk desa itu pun berseru, “Sebagian dari kami mengetahui dan sebagian tidak!” “Jika demikian,” ucap Nashruddin sebelum meninggalkan tempat, “biarlah mereka yang mengerti memberitakan yang tidak.” Dalam Sufisme seseorang tidak bisa memulai “laku/kerja” pada suatu titik yang telah ditentukan. Guru ( mursyid ) harus dibiarkan membimbing masing-masing calon murid Sufi dengan caranya sendiri. Suatu ketika Nashruddin didatangi seorang pemuda yang menanyakan kepadanya, berapa lama harus dilewati sebelum ia menjadi seorang Sufi. Ia membawa pemuda tersebut ke desa. “Sebelum menjawab pertanyaanmu, aku ingin mengajakmu pergi mengunjungi seorang guru musik untuk mengetahui cara bermain seruling. Di rumah musisi tersebut Nashruddin menanyakan bayarannya. “Tiga keping perak untuk bulan pertama. Setelah itu, satu keping perak setiap bulan.” “Wah, banyak sekali!” kata Nashruddin, “aku akan kembali sebulan lagi.” Indera keenam yang dicapai seorang Sufi, yang oleh para teoritikus dianggap sebagai suatu indera yang mampu mengetahui secara utuh terhadap seluruh pengetahuan ketuhanan, sebenarnya tidaklah demikian. Sebagaimana indera-indera lainnya, indera keenam mempunyai keterbatasan. Fungsinya bukan untuk mengantarkan insan kamil mencapai keutuhan kebijaksanaan (hikmah), tetapi untuk memungkinkannya memenuhi suatu misi persepsi yang lebih besar dan kehidupan yang lebih utuh. Ia tidak lagi mengalami rasa ketidakpastian dan ketimpangan yang biasa dialami oleh orang kebanyakan. Cerita tentang anak-anak laki-laki dan pohon disajikan untuk menyampaikan makna ini: Beberapa anak laki-laki ingin mengambil terompah Nashruddin. Ketika ia lewat, anak-anak tersebut mengerumuninya dan berkata, “Mullah, tidak seorang pun bisa memanjat pohon ini.” “Tentu mereka bisa,” ucap Nashruddin. “Aku akan memperlihatkan kepada kalian bagaimana caranya, sehingga kalian bisa mencontohnya.” Ia hampir saja meninggalkan terompahnya di bawah, tetapi sesuatu mengingatkannya, dan ia pun menyelipkan terompah tersebut di sabuknya sebelum memulai memanjatnya. Anak-anak itu pun kecewa, “Untuk apa terompahnya dibawa?” salah satu dari mereka berseru kepadanya. “Sebab pohon ini belum pernah dipanjat, bagaimana aku tahu bahwa di atas sana tidak ada jalan?” jawab Nashruddin enteng. Ketika seorang Sufi menggunakan intuisinya, ia tidak bisa menjelaskan tindakannya secara nalar. Indera keenam juga memberikan kepada pemilik barakah cara-cara yang secara jelas untuk menciptakan hal-hal tertentu bisa terjadi. Kemampuan ini sampai ke Sufi melalui cara-cara di luar penalaran formal. “Allah akan memberikan gantinya,” ucap Nashruddin kepada seorang laki-laki yang baru dirampok. “Aku tidak melihat bagaimana hal itu bisa terjadi?” ucap orang tersebut. Tiba-tiba Nashruddin membawanya ke dalam masjid, dan menyatakan kepadanya untuk berdiri di sudut. Kemudian Mullah mulai meratap dan menangis, mengadu kepada Allah untuk mengembalikan dua puluh keping perak milik orang tersebut. Ia membuat keributan sedemikian rupa sehingga jamaah yang ada di masjid itu mengumpulkan sumbangan dan menyerahkannya kepada laki-laki tersebut. “Anda mungkin tidak memahami cara yang berjalan dan berlaku di dunia ini,” ucap Nashruddin, “tetapi mungkin Anda akan memahami apa yang telah terjadi di rumah Allah ini.”

Get this blog as a slideshow!