Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan

27.12.11

Islam Tidak di Perjuangkan Dengan Kekerasan


Sesuai Pernyataan Allah SWT Dalam Al Qur'an Surat Al Haj Ayat 39 - 40 :
" Telah di Beri Izin Kepada Orang Orang yang di Perangi, Karena Sesungguhnya Mereka Telah di Aniaya, dan Sesungguhnya Allah Sangat Berkuasa Menolong Mereka "
* Mereka Adalah Orang Orang yang di Usir / di Keluarkan dari Rumah Mereka Tanpa Hak (Tidak ada Kesalahan ) Hanya karena Mereka Mengucapkan Tuhan Kami ALLAH.
* Perangilah di Jalan Allah ( Menempuh Hak Kebenaran ) Orang Orang yang Selalu Memerangi Kamu. dan Jangan Kamu Melampaui Batas dalam Berperang ( Taatilah Etika Perang ) Sesungguhnya Allah SWT Tidak Menyukai Orang Orang yang Melampaui Batas.
* Dengan Menyimak Ayat di Atas, maka kaum muslim di beri Izin dengan ketentuan:
Kalimat Izin Menunjukan Sudah Darurat / Terpaksa / di Paksa. dan di Beri Izin.
Izin ini di Berikan Hanya Kepada Orang Orang yang di Perangi dengan Kondisi di Aniaya, di Usir Tanpa Sebab Hanya Menyatakan Tuhan Kami Allah SWT. - dan Perangilah di Jalan Allah SWT : Kalimat ini Sebagai Wujud reaksi /membalas kedholiman Mereka dan Tetap Pada Posisi Ketentuan Allah SWT ( tidak Boleh Menuruti Hawa Nafsu ).
Maka Jelas Perang dalam Islam Bukan Wujud Kekerasan Melainkan Hanyalah Mempertahankan Hak Seorang Beriman untuk mmpertahankan kimanannya karena dianiaya terlebih dahulu.

Sungguh sangat keliru orang yang mengatakan Islam harus di Perjuangkan dengan Kekerasan. Kedua Ayat tersebut diatas tidak Boleh di Penggal, Harus selalu digandeng agar tahu permasalahannya dan aturan mainnya, Tidak seenaknya saja melumuri keluhuran agama Islam dengan darah atas nama umat Islam itu sendiri. Ingatlah Pesan Rosulullah SAW :
" Sayangilah orang orang yang di bumi, Maka akan menyayangimu Malaikat malaikat yang di langit "
Dalam Kalimat Arabnya memakai " MAN " yang artinya apa saja dan siapa saja yang ada di bumi Allah harus kita sayangi. Maka apa saja dan siapa saja yang di langit akan menyayangimu. dan itulah maksud Islam sebagai RAHMATAN LIL 'ALAAMIN.

Adapun Sabda Rosulullah SAW
" Barang Siapa diantara kamu melihat kemungkaran / kemaksiatan, Maka alihkanlah dia dengan tangan, "
Kita wajib Menelaah / menelusuri secara bahasa dalam istilah ilmu Balaghah dan Manthik ( Sastra Islam ) Yaitu :
- Ghayyara - Yughayyiru artinya Mengalihkan,yang maksudnya : Mengalihkan bukan berarti mencegah atau melarang dengan kekerasan, Akan tetapi dengan mengarahkan, memberi solusi dan mendidik.
- Yadun,artinya : Tangan, yang maksudnya : Dengan tangan bukan berarti memukul atau menyeret atau menyakiti, Tetapi yang dimaksud "Tangan" disini adalah dengan Langkah /upaya /cara/ penanganan yang Terbaik.
Dalam Al Qur'an banyak kata " Yad " tetapi bukan berarti "Tangan", Akan tetapi tidak selalu berarti "Tangan".

Langkah Dakwah menyebarkan Islam sudah diatur oleh Al Qur'an! bukan kita yang membuat sendiri aturan mainnya.
Seperti firmanNya dalam surat An Nahl ayat 125 :
"Dakwahlah kalian di Jalan Allah dengan Bijaksana"
Wallahu A'lam bisshowab

(disadur dari Artikel Ustadz Zainuddin Danasari-Pemalang dalam : www.almunazzah.blogspot.com/2011/03/apakah-islam-di-perjuangkan-dengan.html#more)

3.4.11

Menelusuri Jejak Teroris Umar Patek Di Pemalang



UMAR PATEK alias Umar Arab, gembong teroris yang ditangkap di Pakistan , konon merupakan warga Pemalang dengan nama Hisyam . Namun saat ini tak ada data otentik yang memastikannya . Hanya saja, gembong teroris Umar Patek menurut warga sekitar , rumah miliknya ada di Jalan Semeru No 20 RT 03/ 21 Kecamatan Mulyoharjo Kecamatan Pemalang . Dan , wajah Umar Patek yang selalu muncul di televisi dan tayangan di berita internet tersebut mirip dengan wajah Hisyam.
Saat ini rumah milik Hisyam ( 40) anak dari 3 bersaudara dari Ali Zen dan almarhum Fatimah sudah berubah menjadi Lembaga Pendidikan dan Pengkajian Al Irsyad, juga sebagai Taman Kanak- Kanak ( TK ) dan Tempat Penitipan Anak ( TPA) . Ketua yayasan pendidikan tersebut , Ustad Gess yang tinggal tidak jauh dari rumah Hisyam , tak mau ditanya sejumlah wartawan seputar Umar Patek. “Jangan tanya sama saya. Itu bukan urusan yayasan dan silahkan kalau wartrawan pingin tanya ke orang lain saja. Tanah yang sekarang jadi sekolahan sudah dibeli 2 tahun lalu , ” ungkap Ustad Gess sembar menutup pintu rumahnya , Jumat ( 2 /4 ) kemarin.
Dari sumber yang dipercaya menyebutkan , Hisyam atau Umar Arab panggilan akrab pada masa kecil , keseharian bergaul dengan teman – teman seperti biasanya dan tidak ada tanda -tanda kalau akhirnya menjadi teroris “Kami ingat betul kalau dia pinter sekali main layang -layang dan di lingkungannya juga baik . Tidak seperti Dulmatin ( teroris asal Pemalang yang ditembak mati di daerah Pamulang ) seringkali memarahi jika ada warga yang minum- minuman keras, ” ucap sumber yang tidak mau disebut namanya.
Hisyam kelahiran Pemalang 20 April 1966 sekolah di SMA Muhamadiyah 01 Pemalang . Pada tahun 1980 -an, sekolah tersebut pindah di Kebondalem sampai sekarang. Sekolahan tersebut menjadi SMA Muhamadiyah 02. Kepala sekolah Muhamadiyah 01 Pemalang Bunyamin ketika dikonfirmasikan hal ini Jumat ( 2 /4 ) kemarin menyebutkan, nama Umar Patek tidak ada pada buku induk . Namun kalau Hisyam dibenarkan sekolah di SMA Muhamadiyah 02 Pemalang dengan nomor induk 8086 , dan lulus 11 April 1986 . “Kami kepala sekolah baru 4 tahunan di sekolahan ini. Jadi tidak tahu Hasyim itu siapa . Namun data buku induk dari lulusan pertama masih tersimpan . Cuma kalau pingin tahu tentang soal Hisyam bisa tanya ke pak Sucipto Wakil Kepala Sekolah yang pada waktu itu mengajar olah raga, ” kata Bunyamin di kantornya .
Sementara itu Wakil Kepala Sekolah Sucipto yang pada masa itu pernah mengajar Hisyam mengatakan, Hisyam merupakan anak yang biasa saja seperti pada umumnya anak- anak yang lain . Tapi Hisyam lebih beda karena dari keturunan Arab. Secara rinci tidak terlalu mengenalnya karena pada waktu itu sebagai guru olah raga. “Hisyam anak yang sedang -sedang saja. Terbukti dari data yang ada salinan ijazah nilai rata rata biasa saja , pelajaran Kimia nilai 6 , Fisika 7 dan yang paling menonjol pada pelajaran Agama mendapatkan nilai 8 , “ ujar Sucipto memperlihatkan dokumen lulusan angkatan Hisyam.
( sumber:ddm/radartegal.com )

6.8.10

World Islamic Call Minta Umat Jauhi Islam Radikal


Direktur Utama World Islamic Call Society (WICS), Dr M Ahmad Syarif mengajak seluruh umat Islam di seluruh dunia khususnya para da’i yang diwisuda pada hari tersebut agar menghindari pola sikap yang ekstrim dan radikal.

Menurutnya, umat Islam saat ini sedang menghadapi berbagai macam tantangan dan serangan dari berbagai pihak, di dalam maupun di luar Islam.Ini terkait
dengan adanya kelompok Islam yang bersikap diluar aturan ajaran agamanya sendiri.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung tindakan penyelewengan terhadap Islam yang akhir-akhir ini dilakukan oleh Barat berupa pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW, tindakan yang sama sekali melecehkan Islam, tidak mengindahkan kebebasan beragama dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).
  “Kita seharusnya kembali mengevaluasi diri serta memperbaiki citra Islam yang selama ini telah dinodai oleh beberapa kalangan tertentu di seluruh belahan dunia,” katanya dalam acara wisuda mahasiswa kampus International Islamic Call College (IICC), Tripoli Libya, Rabu (04/08).

Dari sinilah ormas terbesar di Libya yang dipimpinnya saat ini terus berupaya untuk melakukan agenda-agenda perubahan demi memperbaiki kembali citra Islam di mata dunia, seperti mengusung adanya dialog antar agama.

Agenda ini bermaksud untuk meminimalisir kesalahpahaman diantara umat beragama sehingga kejahatan-kejahatan teroris yang mengatasnamakan agama bisa dicegah.
“Saat ini saja kita sedang berupaya melakukan kerja sama dengan organisasi Kristen dunia untuk terus membuka dialog antar agama,” jelasnya.

Di samping itu, ormas yang telah meresmikan Qadhafi Islamic Center di Sentul Bogor ini akan terus melakukan kerja sama dengan berbagai ormas lainnya di seluruh dunia guna membangun Islam yang rahmatan lil “alamin. (fhn/NU Online)

11.7.10

KH.Hasyim Muzadi: Beda,Terorisme Dan Perjuangan Kemerdekaan


Sekjen Konferensi Cendekiawan Islam Internasional KH Hasyim Muzadi,pada Sabtu (10/7) kemarin, bertolak ke Kairo, Mesir untuk mempresentasikan persoalan terorisme, akar masalah dan solusinya,dalam forum Workshop Internasional Timur Tengah dan Afrika. Workshop ini menjadi penting karena opini dunia masih mengaitkan fundamentalisme, ekstrimisme,serta terorisme dengan kawasan Islam Timur Tengah.

Sebelum terbang ke Kairo,Kiai Hasyim mengatakan ada hal yang harus diklarifikasi terkait terorisme atau kekerasan berkarakter agama. Menurutnya, agama bukan pemicu kekerasan. Jika terjadi kekerasan berkarakter agama,maka kemungkinannya adalah kesalahan dalam memahami agama atau kesengajaan mengatasnamakan agama untuk menjustifikasi kekerasan yang dilakukan.
“Yang kedua,dunia Barat harus membedakan antara terorisme dengan perjuangan kemerdekaan,”
kata Hasyim kepada wartawan di Jakarta.

Perjuangan yang dilakukan rakyat Palestina tidak bisa disebut sebagai aksi terorisme.
Pada bagian lain Hasyim mengatakan, workshop yang digelar Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) se-Timur Tengah bersama 25 ilmuwan Timur Tengah itu juga akan membicarakan sinergi dan kemitraan ilmuwan Timur Tengah dan Afrika dalam membangun Indonesia.

Workshop diikuti anggota PPI dari Mesir, Sudan, Maroko, Libya, Tunisia, Aljazair, Afrika Selatan, Lebanon, Yordania, Syria, Pakistan, India, Iran, Arab Saudi, Yaman, dan Turki.

Menurut kiai Hasyim, untuk mensinergikan ilmu, khususnya ilmu keislaman dari Timur Tengah dengan Indonesia, harus diperhatikan betul kondisi yang melingkupi masing-masing kawasan.
Bagi Hasyim, jelas ada perbedaan antara pemahaman dan pelaksanaan nilai keislaman di Timur Tengah yang mono agama dengan di Indonesia yang merupakan negara multi agama. “Kondisi pluralitas Indonesia haruslah diperhatikan benar-benar. Bukan Islamnya yang diubah karena Islam di dunia hanya satu, namun wawasan serta tata laksana nilainya yang harus di-Indonesiakan, ” ungkapnya.

Hal itu, lanjut Hasyim, bukan hanya berlaku bagi pelajar Indonesia yang menimba ilmu di Timur Tengah, namun juga bagi mereka yang belajar di dunia Barat yang liberal dan sekuler. “Ekstremisasi dan liberalisasi bukanlah solusi, karena solusinya adalah moderasi,” imbuhnya.(dutamasyarakat.com)

30.6.10

Menjaga Keutuhan NKRI,NU Harus Bendung Radikalisasi Agama


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siraadj meminta agar warga NU membendung adanya radikalisasi atas nama agama.Hal itu diungkapannya saat acara Haflah Kubro (ulang tahun) ke-185  Pondok Pesantren Bahrul Ulum,Tambak Beras, Jombang,pada Sabtu (26/6) malam.

Said Aqil mengatakan, sebagai ormas Islam yang mengedepankan sikap moderat, NU memiliki tantangan yang cukup berat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ada empat hal yang telah dipercayakan oleh pemerintahan  Presiden SBY  terhadap warga NU. “Kami mengajak kepada seluruh warga nahdliyin untuk tetap membangun bangsa,” ujarnya.

Menurut Said Aqiel, untuk membangun bangsa, warga NU harus membendung radikalisasi yang mengatasnamakan agama, membangun dialog peradaban, serta memperkuat civil society (masyarakat sipil).
Selain itu,langkah yang perlu dilakukan warga nahdliyin untuk membangun bangsa adalah tetap konsisten mempertahankan NKRI,Pancasila,UUD 45,serta Bhineka Tunggal Ika.

Haflah Ponpes Bahrul Ulum tersebut dihadiri oleh pengurus ranting dan Majelis Wakil Cabang (MWCNU) se- Jombang serta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur dan para kiai Pondok pesantren.
Sedangkan dari PBNU, selain KH Said Aqiel, hadir pula Saifullah Yusuf (Gus Ipul),pengurus PBNU yang juga wakil gubernur Jawa Timur, advokat senior Todung Mulya Lubis, dan Ali Maskur Musa dari BPK.
(NU Online)ilustrasi:mtshasyimasyari.blogspot.com

Menyembunyikan Noordin M Top,Jibril Di ganjar 5 tahun Penjara


“Dengan ini majelis hakim menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan dengan sengaja memberi bantuan dengan menyembunyikan pelaku tindak pidana terorisme.Maka hakim menjatuhkan pidana penjara selama 5 tahun,”

Demikian kata Ketua Majelis Hakim Hariyanto dalam pembacaan putusan di PN Jakarta Selatan, Selasa (29/6) kemarin.
Mendengar putusan vonis tersebut, pihak keluarga dan pendukung Jibril langsung memekikkan takbir. Kalimat-kalimat hujatan pun terlontar dari mulut mereka.

“Hakim dan jaksa laknat,kalian akan dihukum di alam baka.Hakim hanya perlu makan,tidak perlu agama,teroris adalah pelaku kejahatan yang membawa senjata. Buka mata kalian,” kata seorang di antara mereka.
Seruan-seruan takbir tersebut disambut oleh Jibril sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya ke atas dan meneriakkan takbir.

Dalam keterangannya usai sidang,Jibril bersumpah semua tuduhan yang didakwakan kepadanya adalah rekayasa. “Semua bukti-bukti yang ada kan tidak pernah terbukti dalam persidangan. Saya jurnalis bukan teroris,” ucap Jibril.

Sebelumnya,Jaksa Penuntut Umum (JPU) Firmansyah menuntut Jibril 7 tahun penjara atas dua dakwaan yakni pasal 13 huruf (c) UU No.15/2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme dan pasal 266 ayat 2 KUHP.

JPU berlebihan Dalam persidangan terpisah, terdakwa Puteri Munawaroh dituntut dengan hukuman 8 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang di PN Jakarta Selatan.Munawaroh pun menganggap terlalu berlebihan sebab kesalahan suaminya,Hadi Susilo alias Adib,tak bisa dibebankan kepada dirinya yang tak tahu apa-apa. “Dia seorang istri kalau suaminya melakukan tindak pidana, maka tidak bisa ditimpakan kepadanya.Terlalu jauh tuntutan dia delapan tahun dengan posisi dia itu pun turut serta di mana suaminya sudah meninggal duluan. Ini harus dipertimbangkan jaksa,” ujar kuasa hukum Puteri Munawaroh, Achmad Michdan kepada wartawan usai sidang di PN Jakarta Selatan, Selasa (29 /6).

Michdan menganggap kesalahan suami Puteri yang menyuruhnya menyembunyikan pelaku tindak pidana terorisme Noordin M. Top tak bisa dibebankan kepada kliennya. Apalagi, lanjut Michdan,Puteri memiliki seorang balita yang dilahirkannya dalam tahanan usai ditangkap dalam penggerebekan di Solo, Jawa Tengah. “Di dalam hukum Islam ya tidak bisa ditimpakan. Jelas bahwa terdakwa tidak bisa ditimpakan perbuatan yang dilakukan suaminya dan tidak bisa dibebankan dengan perbuatan suaminya.Berlebihan sekali baik dari pertimbangan hukum dan penjatuhan tuntutan itu sendiri,” ungkapnya.
Selain itu, Michdan pun menampik tuduhan JPU dalam dakwaan yang menyatakan terdakwa Puteri mengetahui ditemukannya enam karung potasium, sulfur, senjata laras panjang dan pendek serta peluru. “Kita akan meminta koreksi itu. Karena dalam fakta persidangan memang dia tidak tahu soal bahan peledak,” pungkasnya.

Puteri Munawaroh didakwa telah melakukan permufakatan jahat, percobaan atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme, turut membantu atau memberikan kemudahan terhadap pelaku tindak pidana terorisme dengan menyembunyikan Noordin M Top dan kawan-kawan.Dia dijerat telah melanggar pasal 13 huruf (b) Perppu No 1 /2001 yang telah ditetapkan menjadi UU No.15/2003 Jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
Puteri Munawaroh akan membacakan pembelaannya (pledoi) di PN Jakarta Selatan pekan depan.(http://dutamasyarakat.com)

26.6.10

Jihad apa membajak Agama?


Dari tahun ketahun, negeri ini terus menerus dikoyak oleh para gerombolan teroris dengan mengatasnamakan agama. Setiap saat, setiap waktu, kapan saja dan di mana saja, ulah para gembong teroris ini selalu mengancam keselamatan dan mengoyak ketentraman kita dalam menjalankan tugas berbangsa dan bernegara.

Dalam situasi seperti ini sulit rasanya bagi kita untuk bicara Islam sebagai "Rahmatan lil" Alamin" ketika pada faktanya para pembajak agama masih memiliki kesempatan untuk terus-menerus berkeliaran di bumi pertiwi ini.

Sebagai anak bangsa tentu kita tidak ingin melihat negeri ini gagal dalam membangun masa depan, apalagi negeri ini harus menjadi "ladang dan kandang" bagi para pelaku kekerasan dengan mengatas namakan agama.

Sebagian kalangan menilai dan mengaitkan masalah teroris dengan masalah ketidakadilan di Indonesia. Terorisme adalah bahasa yang di gunakan oleh orang-orang yang kecewa terhadap ketidakadilan dan kesenjangan sosial di Indonesia. Meski sesungguhnya masalah terorisme adalah masalah yang sederhana saja: Yaitu adanya kekeliruan dalam menafsirkan doktrin agama, "the perversion of religious interpretation".

Secara tegas, Islam hadir ke bumi ini adalah untuk membangun peradaban moral bukan untuk meluluhlantahkan penduduk bumi. Kehadiran Islam sebagai "Rahmatan lil" Alamin " seharusnya di jadikan pijakan dasar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara secara dinamis. Cita-cita besar ini tidak boleh luntur dari benak bangsa kita.

Ekses dari ulah para pelaku kekerasan ini secara tidak langsung menyeret opini masyarakat ke ranah teologis dengan cukup liar dan sulit untuk di jawab. Yang salah siapa? Tuhan berpihak kemana? kepada siapa?

Secara teologis, Agama datang dengan membawa pesan-pesan moral bagi terwujudnya paradigma peradaban global yang damai, toleran dan sejahtera. Dengan demikian tidak ada pembenaran dengan alasan apapun untuk kita melakukan kekerasan kepada sesama manusia, terlebih lagi jika perbuatan tersebut di lakukan untuk menciderai orang lain.

Dalam alquran dengan banyak ayat menegaskan, bahwa Tuhan tidak pernah netral dalam sejarah. Tuhan selalu berpihak kepada manusia baik dengan kekuatan iman yang tak pernah mati, dari perspektif ini , tentu tidak mungkin Tuhan berpihak kepada petualang penghancur peradaban.

Tak ada jalan bagi bangsa ini ke depan, kecuali harus bahu membahu dari seluruh eleman bangsa secara kolektif untuk melakukan pencegahan secara dini terhadap aksi-aksi terorisme yang mengancam keamanan, keselamatan dan ketentreman dalam berbangsa dan bernegara.

Berbicara masalah terorisme sesungguhnya kita sedang berbicara masalah yang cukup serius bagi masa depan bangsa dan negara ini. Oleh karena itu paling tidak ada beberapa langkah yang harus diupayakan secara serius, konkret dan intensif.

Pertama:
Perlunya upaya yang serius dari aparat keamanan dalam hal ini Polri untuk terus mengejar dan menangkap para dalang teroris serta memberangus akar dan jaringan-jaringan berselubung.

Kedua:
Perlunya upaya serius Polri untuk terus melakukan kontrol di wilayah-wilayah yang rawan dan rentan untuk dijadikan ladang bagi berkembangnya terorisme.

Ketiga:
Pentingnya penyadaran dan pemahaman kepada Masyarakat akan bahaya terorisme dan perlu ketegasan bahwa terorisme bukan hanya musuh bagi negara tapi terorisme adalah musuh bagi agama dan juga musuh bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Keempat:
Pentingnya diselenggarakan kampanye dan gerakan secara nasional "Anti Terorisme" sebagai bentuk tanggung jawab bersama sekaligus sebagai refleksi penolakan bagi bangsa Indonesia terhadap segala bentuk kekerasan dengan atas nama apapun.
Ditulis Oleh: Sab'an Yousuf

12.6.10

Absolutisme agama dan kekerasan

gambar ilustrasi--
--KEKERASAN atau terorisme atas nama agama senantiasa mewarnai setiap babakan dan sepanjang sejarah kemanusiaan. Akhir-akhir ini, fenomena ini kembali muncul. Pasalnya, para pelaku kekerasan adalah mereka yang selama ini penganut agama yang taat, bahkan banyak yang alumni pesantren.

Hal ini setidaknya disebabkan pemahaman dan pola keberagamaan mereka yang parsial. Agama lebih dipahami dan dijadikan sebagai sebuah ideologi yang berangkat dari suatu ketegangan hermeneutis atas teks-teks suci. Agama tidak lagi dipahami sebagai sebuah pembebasan. Implikasi dari pemahaman semacam ini adalah terjadinya truth claim. Ia menganggap hanya agama dirinya yang dapat membebaskan manusia dari dosa. Dari aras ini terjadilah absolutisme agama yang akan mendorong tumbuhnya benih-benih yang terakumulasi menjadi sebuah potensi konflik yang berkepanjangan.

Jika ditelisik lebih jauh dalam sejarah agama-agama, semua agama merupakan satu rumpun, agama yang satu dengan lainnya terdapat suatu keterkaitan, bahkan dalam tataran tauhid terdapat kesamaan. Di samping juga kesamaan nilai-nilai universal. Adanya klaim kebenaran mutlak dan adanya muatan emosi keagamaan yang bersifat subjektif menjadikan agama identik dengan ideologi-ideologi lainnya di dunia ini. Akhirnya, agama kehilangan elan vitalnya sebagai sebuah pembebasan.

Kebenaran agama merupakan suatu realitas objektif yang menyejarah. Karena itu, doktrin agama merupakan simbol kebenaran samawi yang ada “di seberang sana”. Ia bisa ditafsirkan, diterjemahkan, diceritakan melalui proses hermeneutis, namun hal tersebut masih tetap “di sana”. Sementara itu, ada kebenaran lain atau kebenaran “di sini” sebagai sebuah manifestasi akal manusia atau yang disebut kebenaran bumi.

Pertemuan kedua kebenaran antara samawi (langit) dan bumi akan berimplikasi pada adanya jargon yang diungkapkan oleh Abul Kalam Azad, yaitu “al-Din wa al-Syari’ay mukhtalifat, agama tetap satu dan syariat berbeda-beda. Artinya, agama di mana pun sepanjang masa adalah sama. Yang berbeda adalah metode (manhaj) yang melahirkan syariat yang berbeda.

Perbedaan ini dalam perkembangannya telah berubah dan menjelma menjadi sebuah ideologi yang membatasi (mereduksi) agama itu sendiri. Akibatnya, agama yang kita yakini tidak lebih dari sekadar usaha hermeneutis manusia yang telah mengalami pembakuan dan distorsi atau dalam bahasa Arkoun terjadi Taqdis al-afkar al-diny (penyucian atau ideologisasi hermeneutis).

Selama ini, pemikiran keagamaan sering kali tidak bisa membedakan aspek doktrinal-teologis dan aspek kultural sosiologis sebagai produk interpretasi atas ajaran-ajaran agama. Umat beragama akhirnya sulit membedakan antara yang normatif dan hasil sebuah interpretasi atas teks-teks suci yang dipengaruhi oleh latar belakang kultural, politis, dan sosiologis yang bersifat plural, sehingga menimbulkan sebuah praduga
teologis yang menyejarah. Praduga teologis secara sepihak dan salah yang sudah menyejarah ini sangat sulit dipecahkan dan dicari jalan keluarnya.

Absolutisme agama itu muncul karena adanya reduksi religiusitas. Reduksi terjadi setidaknya karena beberapa hal. Pertama, agama yang kita anut bukan agama yang secara sadar kita anut dari nurani, tetapi tidak lebih dari sekadar agama keturunan yang diyakini dan dianut secara turun-temurun sebagai agama yang benar oleh nenek moyang serta orang tua kita. Tak heran jika kemudian absolutisme berubah pada dogmatisme agama.

Kedua, beragama yang tidak berangkat dari kesadaran langsung dalam pencarian akan Tuhannya. Agama yang kita anut dan yakini paling benar sejatinya tidak lebih dari sekadar penerapan tafsir-tafsir para agamawan terhadap teks-teks suci ilahi (wahyu) di mana ada distorsi pemahaman sangat tinggi. Bahkan, lebih parah lagi, penerimaan secara total bahwa usaha hermeneutis para agamawan tersebut dianggapnya sebagai suara Tuhan (agama itu sendiri).

Ketiga, adanya pemahaman keagamaan yang cenderung positivistik, sehingga kita terjebak pada adanya klaim-klaim kebenaran biner (benar-salah). Implikasinya, agama dan pemahaman keagamaan yang berbeda dengan dirinya dianggap sebagai agama dan pemahaman yang sesat.

Mencari titik temu

Semua bentuk dan simbol agama boleh berubah, tetapi yang transendental, yang berada di balik keberagaman itu, selamanya tidak akan berubah. Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa semua agama bertemu pada kebenaran ilahiyah sebagai sebuah kebenaran universal yang memang ada pada semua agama dan secara langsung diperoleh melalui wahyu.

Dalam upaya mencari titik temu agama (konvergensi) dan pemahaman agama sebagai kerangka acuan, setidaknya ada beberapa pertimbangan yang bisa diajukan. Pertama, secara praktis, pluralisme agama dan pemikiran dalam internal agama belum sepenuhnya dipahami umat beragama secara sadar dan niscaya, sehingga yang tampil ke permukaan justru sikap eksklusivisme beragama dan pemahaman keagamaan. Dari sinilah akar konflik mulai muncul.

Kedua, di tengah-tengah pluralisme agama dan pemikiran keagamaan ini, hanyalah sekelompok kecil pengikut dari semua agama yang bersikap eksklusif dan cenderung memonopoli kebenaran agama dan paham keagamaan. Wallahu a’lam.

*ABDUL HADY JM
Penulis adalah fungsionaris PC IPNU Sumenep, kontributor Jaringan Islam Kultural (JIK).
Sumber Artikel

8.6.10

Nabi Tak Pernah Berperang karena Beda Agama


Nabi Muhammad SAW, pemimpin besar umat Islam, tidak pernah berperang karena masalah beda agama. Peperangan dengan orang-orang kafir pada masa Nabi tidak terjadi atas dasar agama, namun karena mereka telah menebar 'fitnah' sehingga menimbulkan chaos di kalangan masyarakat.

Demikian dikatakan KH Lukman Hakim, pemimpin (mursyid) Tarekat Sadziliyah Jakarta, saat memberikan Pengajian Ramadhan pada peringatan hari ulang tahun keempat Wahid Institut (WI), di kantor WI, Jl Taman Amir Hamzah, Jakarta, Senin (8/9). Pengajian juga dihadiri oleh penggagas WI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

”Illat atau penyebab peperangannya adalah karena mereka telah menebar ’fitnah' yang menimbulkan chaos di kalangan masyarakat, bukan karena masalah beda agama,” katanya.

Pimpinan umum majalah Sufi itu menyitir ayat 193 surat Al-Baqarah, ”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi”. Menurutnya, ayat ini sering disalahfahami oleh sekelompok umat Islam garis keras.

Fitnah yang dimaksudkan sebenarnya adalah perbuatan-perbutan yang menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.

Ditambahkan, pada masa pemerintahan Sahabat Abu Bakar, tentara Islam juga memerangi kelompok orang-orang yang murtad atau keluar dari Islam. Namun peperangan itu sebenarnya bukan karena mereka keluar dari Islam tetapi karena mereka tidak membacayar zakat.

“Waktu itu seorang sahabat yang vokal yakni Umar bin Khattab memprotes Abu Bakar, ‘kenapa engkau melakukan apa yang tidak Nabi lakukan?’ Abu Bakar menjawab, ‘aku perangi mereka karena tidak mau mematuhi tatanan yang telah ditetapkan pada masa Nabi masih hidup (membayar zakat) dan pasti akan menimbulkan fitnah sosial,” katanya.

Dalam pengajian bertajuk “Sufisme Islam untuk Perdamaian Dunia” pakar tasawuf itu berpesan bahwa upaya menempuh perdamaian itu pada saatnya akan berhadapan dengan kekerasan.

Gus Dur yang memberikan taushiah setelah pengajian itu hanya memberikan tanggapan singkat, "penolakan itu adalah pemberian itu sendiri," katanya. “Al-man’u ‘ainul atho`,” kata Gus Dur mengutip salah satu kata mutiara dari Al-Hikam, kitab sufi karya ulama sufi terkemuka Syeikh Athoillah as-Sakandari. (nam)NU Online edisi 09 Sept 2008

Menggali Akar-akar terorisme di Nusantara


Beberapa tahun terakhir pesantren terkena imbas isu teroris pasca bom WTC 11 September 2001. Pesantren Ngruki Sukoharjo salah satunya. Walaupun akhirnya tidak dapat dibuktikan bahwa pesantren tersebut mengajarkan mekanisme jihad di negeri ini, setelah DEPAG meninjau langsung kurikulum dan proses belajar-mengajar di pesantren itu. Sidney Jones, pengamat teroris yang berkebangsaan Australia inilah orang yang pertama mengeluarkan pernyataan tersebut. Yang terjadi adalah beberapa santri jebolan pesantren itu yang kemudian terjadi rekrutmen dengan organisasi berhaluan keras seperti Jama'ah Islamiyah yang berkiblat pada Al-Qaedah, NII dan organisasi sempalan lainnya.

Terkait dengan organisasi teroris yang ada di Indonesia, pada 22 Juli 2009 TV One menggelar acara special yang membahas akar teroris di Indonesia. Beberapa catatan penting yang dikeluarkan narasumber Brigjen. Surya Dharma Alam (mantan ketua Densus 88) yang membahas tuntas akar permasalahan peledakan bom di Indonesia yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir.

Salah satunya adalah analisa tentang sebuah paradigma masyarakat muslim yang secara ideologi ada kesamaan wacana normatif tentang konsep Daulah Islamiyah. Tanpa pembahasan yang panjang tentang konsep Daulah Islamiyah itu sendiri apa?, beliau menegaskan ada latar belakang historis yang melekat di memori masyarakat Indonesia, dengan pernah dilakukan pemberontakan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (S.M. Kartosuwiryo, red) lewat DI/ TII pada tanggal 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya Jawa Barat. Jika ditarik garis merah dengan peristiwa tersebut, ada kesamaan idiologis secara genetis terhadap jaringan Al-Qaedah.

Dalam berita yang dirilis oleh Metro TV, 24 Juli 2009, dengan berdiskusi langsung dengan beberapa mantan pejuang jihad Afganistan, yang menegaskan beberapa pernyataan penting terkait apakah ada relasi antara Jamaah Islamiyah dengan Al-Qaeda. Menurut informasi yang disampaikan, Noordin M. Top memang dahulu anggota Jamaah Islamiyah namun setelah mengikuti pendidikan di Mindanau, Nurdin M. Top lebih tertarik dengan model perjuangan Al-Qaeda.

Skema terakhir yang dikeluarkan oleh beberapa pengamat intelejen kita, organisasi Al-Qaeda di Asia Timur (Asean) memang tidak bersinggungan langsung (dalam satu garis perintah) dengan organisasi Jamaah Islamiyah, Majelis Mujahiddin Indonesia, Negara Islam Indonesia dan lain-lain. Organisasi ini berkembang secara asimetris dengan Al-Qaedah, sehingga sampai sekarang pun pelaku pengeboman 17 Juli 2009 kemaren belum bisa terungkap pelakunya, yang ada hanya dugaan dari mass media. Pihak polisi yang menangani langsung masalah ini belum bisa memberi keterangan siapa yang pelaku dibalik peristiwa ini, karena memang bentuknya yang asimetris dan tidak dalam satu garis perintah.

Tujuan pengeboman yang dilakukan jaringan Al-Qaedah di Indonesia, seperti yang diungkapkan Brigjen Surya Dharma Alam di TV One yang berbunyi : "Al-Qaedah sedang mencari negara mana yang kemudian cocok secara genetik untuk dibentuk sebuah Daulah Islamiyah". Pernyataan ini kalau boleh dibilang adalah sebuah kesimpulan empiris dalam rencana ini. Dengan kata lain Pakistan, Afghanistan, Thailand, Filiphina dan Indonesia menjadi negara-negara yang sedang di ujicoba untuk didirikan Daulah Islamiyah. Ini yang kemudian menjadi warning bagi kita, bahwa wacana Daulah Islamiyah kembali menjadi target operasi mereka, meskipun beberapa pengusung tema Khilafah telah bergulir sebelumnya (oleh NII, HTI dan ormas lainnya)

Mengapa harus Indonesia yang sebagai target Daulah Islamiyah? Kalau ditelaah yang mendalam, Indonesia yang dalam kebijakan ekonominya pro Amerika Serikat (neo liberal), seharusnya mengurangi ketergantungan tersebut. Target operasi Jaringan Teroris Al-Qaedah adalah Amerika Serikat karena targetnya terlalu besar, kemungkinan mereka mengujicobakannya di Indonesia, selain target Daulah Islamiyah yang memang sedang diujicobakan di negara kita.

Usut punya usut, konsep Khilafah yang merindukan berdirinya Daulah Islamiyah yang sudah ditanam oleh S.M. Kartosuwiryo lewat pemberontakan DI/TII. Walaupun dilapangan berbeda, ketika Hizbut Tahrir, NII lewat jalur pergerakan lebih banyak pada rekrutmen anggota menjadi kekuatan masa, PKS (trans nasional term.) menggunakan jalur politik (dengan perolehan 9 % pemilu nasional) dan Jama'ah Islamiyah serta berbagai sempalan jaringan Al-Qaeda lebih banyak pada penguatan ketentaraan (askar). Jika ketiga arus ini kemudian berkumpul dalam sebuah organisasi baru (dengan kesamaan genetis idiologi untuk mendirikan Daulah Islamiyah), maka yang terjadi kemudian adalah berdirinya sebuah Daulah Islamiyah. Tiga unsur ini yang kemudian lebih besar kesempatannya (kans) untuk sebuah Daulah Islamiyah, seperti perjuangan yang telah dilakukan S.M. Kartosuwiryo. Masyarakat kita perlu menyadari akan ancaman mereka ini, dan tidak gegabah memuji langkah mereka dalam menjajakan kaedah-kaedah ektrimisme dalam pemahaman Islam yang sempit.

Mengapa tiga aliran ini tumbuh subur di Nusantara? Ada analisa tokoh yang berbasic intelijen mengungkapkan bahwa Indonesia tidak memiliki UU anti Subversif (sebuah undang-undang yang bisa menjerat pemikiran dan pergerakan yang dianggap membahayakan negara). Kalau meminjam istilah Brigjen Surya Dharma Alam Indonesia butuh sebuah payung hukum yang disebut sebagai UU Prevension (UU pencegahan) seperti halnya di Malaysia dan Singapura.

Mengapa sebagian masyarakat kita cenderung memilih menjadi teroris?

Dengan semaraknya pendidikan non formal lewat pesantren, dan konsumsi masyarakat pesantren pada ilmu fiqh, sirah, tarikh tasyri' yang pas-pasan atau dengan catatan tidak punya basic agama yang cukup menjadikan masyarakat muslim kita sangat bervariasi pengetahuan agamanya.

Setelah keluar dari pesantren, keilmuan mereka diuji dengan tantangan kemapanan. Faktor ekonomi menjadi pengganjal lulusan pesantren untuk bangkit dan berperan aktif di masyarakat, khususnya di kancah nasional. Dengan kata lain kemiskinan (proverty) yang dialami mereka, kadang menjadi pengganjal untuk bertahan hidup, atau untuk mengembangkan dakwahnya.

Tidak salah bagi masyarakat muslim kita yang lemah secara ekonominya, kemudian direkrut oleh organisasi-organisasi yang subversif (melakukan gerakan bawah tanah).Sebut saja NII, Hizbut Tahrir dalam pergerakan mahasiswa, atau Jama'ah Islamiyah (dalam ideologi) atau Al-Qaeda yang bergerak dibidang ketentaraan.

Karena dasar keislaman yang kurang atau tantangan kemapanan ekonomi inilah, kemudian dimanfaatkan pihak lain untuk menanam aqidah, militansi (lewat mekanisme cuci otak) sehingga benih-benih itu dapat tumbuh dan berkembang dalam cita-cita Daulah Islamiyah di nusantara kita ini.

Ditambah dengan kemampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan kurang, dan cenderung bermain dalam ekonomi makro dan mengabaikan ekonomi mikro yang merupakan wilayah masyarakat miskin. Jika saja perhatian pemerintah lewat ekonomi mikro dengan dibukanya lapangan kerja yang luas, gaji yang memadai, rumah yang memadai, kredit yang benar-benar pro rakyat, maka tidak ada kesempatan untuk mengambil kesempatan masyarakat muslim kita untuk menjadi teroris.

Untuk menghindari terorisme itu sendiri juga diperlukan berbagai langkah persuasif (pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan) oleh pemerintah. Kalau ekonomi makro lebih besar perhatiannya ketimbang ekonomi mikro, yang terjadi adalah masyarkat kita sendiri yang akan menjadi musuh dalam negara kita. Mau tidak mau ini adalah sebuah pilihan sebagian masyarakat muslim kita, walaupun pilihan itu salah dimata sebagian orang.

Kalaupun kebijakan ekonomi pemerintah selalu bermadzhab neo liberal dengan menghidupi investor asing, bursa saham yang menjanjikan untungnya (1200 trilyun pertahun), namun pemerintah masih mau berhutang pada bank dunia, maka tidak ada artinya pertumbuhan nasional yang hanya 6 %, sedangkan negara kita di dunia juga terkenal dengan negara produsen TKI yang juga produsen teroris. Dan yang perlu dicatat pesantren selalu menjadi mesin pencetak generasi terbaik untuk negaranya, hanya karena analisa Sidney Jones (pengamat teroris) yang ngawur itu tidak terbukti, yang ada hanya masyarakat kita dimanfaatkan para ekstrimis, yang berada diluar tanggungjawab pesantren.

Penulis: Ahmad Sirojuddin

4.6.10

Kapan kita bisa kalahkan teroris?


Oleh : ABDUL WAHID
Edwind Sutherland, seorang kriminolog yang menelorkan teori “pembelajaran kriminal” dalam bukunya, Criminology, mengingatkan bahwa terjadinya kejahatan di tengah masyarakat bukanlah disebabkan faktor hereditas atau bawaan (keturunan), tetapi ditentukan oleh kepintaran seseorang atau sekelompok orang untuk menempatkan kejadian, keadaan, sikap, dan perilaku masyarakat, atau aspek lainnya, sebagai objek yang dipelajarinya.

Dalam ranah “pembelajaran kriminal” tersebut, gayung bersambut ketika objek yang hendak dikriminalisasikannya ternyata memberikan peluang atau atmosfer buruk dan anomali, sehingga semakin memperlancar dan menyukseskan pembelajaran kriminal yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang.

Itulah yang membuat Edwind Sutherland tidak sepaham dengan kriminolog konvensional yang menyebut bahwa kejahatan di masyarakat berhubungan dengan problem kemiskinan atau ketidakberdayaan ekonomi (economical empowerless). Artinya, yang membuat kehidupan di masyarakat berwajah karut marut oleh masalah kriminalitas, adalah dominan disebabkan orang miskin yang nekat berbuat jahat akibat kemiskinannya.

Sutherland tidak menempatkan orang miskin sebagai “aktor” maraknya kriminalitas, sebaliknya kelompok terpelajarlah yang punya andil besar dalam mencetuskan dan memproduksi kejahatan-kejahatan berat seperti korupsi dan terorisme. Kalau orang miskin berbuat jahat, korbannya berstandar minimalis, sementara kalau kelompok berkedudukan mapan dan terpelajar yang melakukannya, akibatnya sangat makro bagi kehidupan bangsa.

Di negeri ini, kelompok elite sudah tercatat sukses sebagai aktor terjadinya dan suburnya kejahatan korupsi. Praktik penyimpangan kekuasaan dengan segala modusnya nyaris tidak pernah habis atau sulit dikatakan berkurang, seperti pepatah “mati satu tumbuh seribu”.

Bayangkan saja misalnya, ketika di satu institusi sedang “digarap” oleh KPK terkait dugaan abuse of power, tiba-tiba di institusi lain diduga kuat elemennya banyak yang jadi koruptor. Kasus Kementrian Luar Negeri soal dugaan korupsi tiket dan Kementrian Sosial soal pengadaan sapi dan lainnya, merupakan sampel yang menunjukkan, bahwa para kriminal elite sangat pintar mempelajari “ruang” yang bisa disulap sebagai objek kriminalitas yang menguntungkan.

Dalam kasus terorisme pun demikian. Kalau aktor dalam kasus teroris tidaklah berasal seseorang atau sekelompok orang terpelajar, terdidik, dan terlatih dengan baik, tentulah tidak akan sampai teroris bisa menjalankan roda organisasinya dengan rapi dan berkelanjutan. Terbukti, meski belum lama ini di satu tempat Sukoharjo bisa dibongkar aktivitas teroris, ternyata tidak ada yang berani menggaransi bahwa kasus ini sudah benar-benar akar teroris yang berhasil diputus. Masih banyak yang mengestimasi bahwa teroris sudah berhasil membentuk sel di mana-mana atau sukses merekrut dan mendidik kader dengan “pembelajaran” segala modus barunya.

Katakanlah aparat kepolisian sekarang memang dibuat sibuk berperang melawan kelompok (komplotan) terorisme yang melarikan diri dari Sukoharjo, namun perang yang dijalani aparat sekarang sebenarnya bagian dari perang berkelanjutan yang disiapkan oleh teroris sebagai eksaminasi kecerdasan dan “pembelajaran” strategi.

Hasil penelitian psikolog Sarlito Wirawan terhadap 44 tahanan dan narapidana perkara teroris menyebutkan, ideologi yang dianut mereka (teroris) sudah terbilang “harga mati”. Prinsip ini khususnya dianut oleh napi/tahanan papan atas dalam aktivitas gerakannya. Salah satu penganut “madzhab” ini adalah Abu Dujana (Kompas, 12 Maret 2010).

Temuan Sarlito tersebut setidaknya mengingatkan kita tentang betapa militannya seseorang atau sekelompok teroris dalam mempertahankan keyakinan, ideologi, atau kebenaran yang dipelajarinya. Meski gerakannya dianggap sebagai kekuatan kiri dan subversif, yang berpola menghancurkan, menciptakan instabilitas, dan menghadirkan atmosfer chaos serta penderitaan massal, tetapi mereka tetap tidak meyakini bahwa gerakan radikalistik-destruktifnya berada di jalur kebenaran.

Kalau seperti itu yang terjadi, maka idealnya kita sekarang yang harus belajar pada paradigma gerakan yang dibangun teroris. Kalau paradigma gerakan yang dikonstruksinya gigih dipertahankan atau tak tergoyahkan oleh kekuatan (pengaruh) apapun, seperti kekuatan yang bersumber dari negara dan doktrin fiqih dan teologis dari aliran manapun, maka seharusnya kita pun menempatkan gerakan teroris ini sebagai objek pembelajaran.

Yang bisa kita jadikan sebagai objek pembelajaran adalah sikap militannya (teroris) dalam meyakini kebenaran ideologi gerakan. Mereka taat pada perintah pemimpin, layaknya pemimpin ini sebagai “wahyu” yang wajib dikiblatinya secara mutlak, sementara pemimpinnya juga mampu meyakinkan pada anak buahnya bahwa manajemen dan gaya kepemimpinanya berpegang teguh pada kebenaran, keadilan, kejujuran, dan amanat.

Kalau teroris bisa seperti itu, kenapa kita sebagai elemen bangsa tidak memiliki sikap militan dalam mencintai Indonesia? Kenapa kita tidak bisa membangun mental integralisme dalam melawan segala bentuk ancaman dan gerakan terorisme yang bermaksud mencabik-cabik negeri ini dan memproduksi dan mengeskalasikan kekacauan (kekerasan) di mana-mana?

“Harga mati” yang sudah dipatok oleh teroris mengenai gerakan yang diyakininya, seharusnya menyadarkan kita bahwa kita selama ini masih mengidap kemiskinan komitmen dan kesetian pada republik ini. Kita sudah diingatkan oleh Muladi, yang mengutip dalam The Arab Convention on the Suppression of Terrorism (1998), bahwa terorisme merupakan tindakan atau ancaman kekerasan, apapun motif dan tujuannya, yang terjadi untuk menjalankan agenda tindak kejahatan individu atau kolektif, yang menyebabkan teror di tengah masyarakat, rasa takut dengan melukai mereka, atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan, atau bertujuan untuk menyebabkan kerusakan lingkungan atau harta publik maupun pribadi atau menguasai dan merampasnya, atau bertujuan untuk mengancam sumber daya nasional.

Jika kita tidak mengidap kemiskinan itu, tentulah kita setiap saat kita selalu belajar memelekkan mata, mencerdaskan nalar, atau mengasah kepekaan sosial terhadap fenomena penyakit masyarakat seperti penyimpangn ideologi, pengamputasian norma agama, dan penihilan jiwa nasionalistik.

Kita tentu tidak akan sampai kecolongan berkali-kali oleh modus operandi teroris yang dari waktu ke waktu semakin menunjukkan progresivitas dan kecerdasannya, bilamana kita rajin membaca perkembangan keragaman gerakan yang dibangun dan dimodifikasi oleh teroris. Gerakan perang terbuka yang sedang dirajut teroris, yang disebut-sebut sebagai modus baru, merupakan pola mematikan secara massif yang layak distigma sebagai neo-harakirisme.

Dalam ranah tersebut, komunitas aparat penegak hukum merupakan elemen fundamental bangsa yang sebenarnya paling dilecehkan oleh kepintaraan teroris. Mereka (teroris) terus berpacu mengemas kemampuan intelektualitasnya untuk meramu jurus-jurus yang bisa digunakan menyebarkan peristiwa mengerikan atau “tragedi nasional”, sementara aparat penegak hukum kurang berusaha keras merumuskan strategi jitu untuk mengimbangi atau menjawab setiap gerakan yang dilancarkan teroris.

Kata orang bijak, belajar sesuatu yang bermakna tidak harus dari kiai, tetapi bisa dari seorang penjahat kejam semacam teroris yang sudah sukses menjalankan aksinya. Keberhasilannya dalam ranah penyebaran praktik keangkaraan sosial, wajib diikuti oleh aparat dan rakyat untuk bersama-sama menyukseskan program-program penyejahteraan rakyat, pemanusiaan manusia, dan menjadkan cinta kedaualatan negeri sebagai “harga mati”.

* Penulis adalah Dekan Fakultas Hukum dan pengajar Program Pascasarjana Ilmu Hukum Unisma Malang dan penulis buku “State Terrorism” dan “Kejahatan Terorisme”

Artikel pada DUTA MASYARAKAT
Image: http://maramissetiawan.wordpress.com

30.5.10

Mati Syahid dan Pemahaman Impor ( ironi sebuah taklid buta )


Kesukaan meniru atau ‘mengimpor’ sesuatu dari luar negeri mungkin sudah menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang,termasuk bangsa kita.Pokoknya asal datang dari luar negeri,seolah-olah semua yang pasti hebat.Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah,bangsa kita rasanya memang keterlaluan bila meniru dari bangsa luar.

Sering hanya asal meniru; taklid buta, tanpa mempertimbangkan lebih jauh,termasuk kepatutannya dengan diri sendiri.Ingat,saat orang kita meniru mode pakaian misalnya,tidak peduli tubuh kerempeng atau gendut,pendek atau jangkung; semuanya memakai rok span atau celana cutbrai,meniru bintang atau artis luar negeri.
Pada waktu pak Harto dan orde barunya ingin membangun ekonomi,sepertinya juga asal meniru negara maju;tanpa melihat jatidiri bangsa ini sendiri yang pancasilais (Padahal waktu itu ada yang namanya Pedoman penghayatan dan pengamalan pancassila-P4).Maka, meski tanpa label kapital,selama lebih 30 tahun negeri kita seperti negeri kapitalis dan akibatnya,bangsa kita pun bahkan sampai sekarang sulit untuk tidak disebut bangsa yang materialistis.

Nah,ketika ada trend baru dari luar negeri yang berkaitan dengan keagamaan pun banyak diantara kita yang taklid buta. Kalau taklid soal mode,madzhabnya Amerika dan Eropa; soal tari dan nyanyi banyak yang berkiblat ke India,maka dalam tren keagamaan ini, agaknya banyak yang bertaklid kepada madzhab Timur Tengah,Iran,atau Afghanistan.
Seperti pentaklidan trend baru dari luar negeri yang selalu dimulai dari kota dan baru kemudian menjalar ke desa-desa,demikian pula tren yang berkaitan dengan keagamaan ini.
Seperti takjubnya orang kota terhadap trend mode dari luar negeri - atau takjubnya orang desa terhadap trend mode dari kota - dan langsung mengikutinya,orang-orang Islam kota atau mereka yang punya persinggungan dengan luar negeri, agaknya juga banyak yang demikian.

Mereka melihat dan takjub melihat keberagamaan yang mereka lihat di luar negeri,yang sama sekali lain dengan yang selama ini dianut orang-orang tua mereka disini. Maka,seperti halnya orang-orang yang mengikuti mode baru dari luar negeri, mereka ini pun bangga dengan model keberagamaan baru mereka.Termasuk kecenderungan merendahkan orang yang tidak mengikuti ‘trend baru’ mereka itu.
Karena taklid buta, karena asal meniru tanpa mempertimbangkan lebih jauh,sering kali lucu dan sekaligus memprihatinkan. Ambil contoh misalnya soal jihad. Ada beberapa orang yang hanya melihat perjuangan bangsa Palestina dan Afghanistan,misalnya, yang berjihad -seperti kita dulu ketika melawan kolonialis Belanda- dengan segala cara;termasuk mengorbankan nyawa sendiri. Lalu "para peniru mode ini ikut-ikutan melawan musuhnya Palestina dan Afghanistan di sini dengan cara yang sama.
Mereka lupa bahwa jihad seperti yang dilakukan dan diajarkan Rasulullah SAW ada aturan dan etikanya.Orang Palestina yang melakukan bom bunuh diri untuk melawan kolonialis Israel,bila terbunuh bisa disebut syahid. Dalam hadits riwayat imam Ahmad dari Sa’ied Ibn Zaid, disebutkan bahwa orang yang terbunuh membela haknya atau keluarganya atau agamanya,adalah syahid.Orang yang mati syahid seperti disebutkan dalam beberapa hadits, berhak mendapatkan enam anugerah:
1. Diampuni dosanya sejak tetes darahnya yang pertama.
2. Bisa melihat tempatnya di sorga.
3. Dihiasi dengan perhiasan iman.
4. Dikawinkan dengan bidadari.
5. Dijauhkan dari siksa kubur.
6. Aman dari kengerian Yaumil Faza’il akbar.

Tapi orang yang melakukan bom bunuh diri di Indonsia yang tidak dalam sedang berperang melawan siapa-siapa dan mayoritas penduduknya beragama Islam,jelas namanya bunuh diri yang dilarang oleh Allah SWT,apalagi ditambah dengan tindakan kriminalitas luar biasa yakni membuat kerusakan.

Banyak sekali ayat Al-Quran yang menunjukkan dilarangnya berbuat kerusakan di muka bumi.Dalam perang melawan orang-orang kafir sekali pun,ada batasan-batasannya; misalnya tidak boleh membunuh perempuan dan anak-anak,merusak lingkungan,dsb.
Allah berfirman: “Walaa taqtuluu anfusakum..” (Q. 4. An-Nisaa: 29). “ Dan janganlah kamu membunuh dirimu..” Menurut para mufassir,larangan membunuh diri ini termasuk juga membunuh orang lain;karena membunuh orang lain termasuk membunuh diri sendiri,sebab umat merupakan satu kesatuan.
Larangan ini sangat jelas sekali.Orang yang membunuh dirinya sendiri dan sekaligus orang- orang lain yang tidak berdosa,jelas sangat jauh untuk dapat disebut syahid !.
Sungguh keterlaluan mereka yang mencekokkan doktrin yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW.Apalagi hanya karena taklid buta terhadap trend dari luar negeri.Dan sungguh naïf mereka yang mengaku umat Muhammad dengan mudahnya terpikat oleh iming-iming bidadari,hingga mengabaikan akal sehat dan tega menghancurkan nilai agung kemanusiaan yang ditegakkan Rasulullah SAW.

KH A Musthofa Bisri (http://gusmus.net)

18.5.10

Pengikut Teroris Bergerilya,MUI Haramkan Ceramah Noordin Cs


SETELAH tulisan buronan kasus terorisme Abdullah Sunata diposting di blog,kini giliran ceramah Noordin M. Top yang berbicara soal "jihad" beredar luas di dunia maya.
Bahkan ceramah itu diposting melalui situs jejaring sosial paling popular saat ini: facebook.
Untuk itu, selain Mabes Polri, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun turun tangan menghadapi penyebaran seruan jihad model Noordin tersebut. MUI mengharamkan berbagai bentuk anjuran terorisme, termasuk dengan cara menyebar klip audio ceramah mendiang gembong teroris asal Malaysia tersebut.
“Tahun 2003 akhir itu kan sudah disebutkan, teror itu haram. Jadi hal apa pun yang bisa menyebarkan teror, itu tidak boleh dilakukan,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, saat dihubungi Senin (17 /5) kemarin.
Kiai Ma’ruf menjelaskan, penyebaran suara ini seharusnya dihentikan. Namun bila klip suara itu tetap sampai pada masyarakat, cara terbaik dengan menyebarkan fatwa MUI mengenai haramnya tindakan terorisme. Termasuk haramnya penyebaran paham terorisme melalui ceramah Noordin yang beredar di facebook tersebut. “Terorisme itu bukan jihad, jihad itu tidak dengan cara kasar seperti teror. Makanya kita harus sebarkan fatwa MUI itu,” katanya.
Kiai Ma’ruf menentang penyebaran suara Noordin M. Top itu sebab hal ini sangat meresahkan warga karena bisa menyebabkan munculnya salah paham mengenai jihad.
“Saya rasa masyarakat harus diberikan penjelasan supaya tidak terprovokasi. Polisi harus bisa mencari siapa yang menyebarkan dan menindaklanjuti,” katanya.
Seperti diketahui gembong teroris Noordin M. Top yang tewas di tangan aparat Densus 88 ternyata masih diidolakan oleh para pengikutnya.Para kaki tangan Noordin ini terus menyebarkan pahamnya antara lain dengan memanfaatkan situs jejaring sosial facebook.
Ceramah berjudul “Hebatnya Jihad ! Ceramah Asy Syahid Abo Mo’awwidz Noordin M Top” itu masih bisa dibaca di facebook sampai Senin kemarin. Isi rekaman yang diunggah sejumlah orang itu berdurasi 19 menit. Salah satu yang menampilkannya dalam laman facebook seseorang ber-id Abu Mush’ab Azzarqawi.
Suara mirip Noordin yang kental dengan dialek Melayu itu mengajak pengikutnya berjihad. Isi ceramah berisi janji surga,minuman, makanan,dan gadis-gadis cantik bagi mereka yang mujahid.
“Lebih baik berjihad di jalan Allah. Itu lebih baik bagi bumi dan seisinya,” ujar suara orang yang disebut Noordin itu.
Ceramah itu dilakukan dengan suara datar, namun dengan intonasi tegas dan jelas saat menyebut kata jihad. Kutipan ayat Al Quran dan hadist mewarnai sepanjang isi ceramah.
Di saat sang penceramah menyampaikan pemikirannya, suara di belakangnya tampak terdengar ramai. Sesekali terdengar suara anak kecil.Tapi belum dapat dipastikan apakah penceramah benar-benar Noordin serta kapan dan siapa yang mengambil rekaman tersebut.
Pengamat masalah teroris, Mardigu Wowiek Prasetyo, saat dihubungi detikcom, Senin kemarin, mengatakan, bisa jadi rekaman suara itu benar asli milik Noordin M. Top. “Saya memang belum dengar tetapi saya tahu Noordin memang pernah merekam. Jadi bisa dikatakan itu suara dia,” katanya.
Mardigu mengatakan, rekaman itu memang barang lama yang sebenarnya sudah dari dulu mau disebarkan. “Mungkin yang menyebar menganggap barang itu baru bisa diekspose tapi itu stok lama,” ungkapnya.
Masih menurut Mardigu ada dua alasan rekaman ceramah Noordin tersebut disebar. Pertama bisa karena internal saja atau memang sengaja untuk disebarkan. “Kita lihat kalau kualitas suaranya stabil berarti memang niat direkam dan disebarkan. Kalau on off berarti itu lagi ngomong direkam,” jelasnya.
Meski demikian Polri seharusnya tidak tinggal diam melihat gerilya pengikut gembong teroris Noordin M. Top di situs jejaring sosial facebook tersebut.Untuk itu Polri harus melacak siapa penyebar ceramah Noordin itu.
“Kita koordinasikan dengan cyber crime Mabes Polri,” kata Kabid Penum Mabes Polri Kombes Pol Zulkarnain seolah mengamini saat dihubungi Senin kemarin.
Lebih lanjut Zulkarnaen menjelaskan, seandainya IP adress si penyebar ceramah itu di Indonesia, mungkin akan bisa secepatnya diblok. “Tapi kan sejauh ini memang IP adress internet itu 85 persen ada di Amerika.Kalo di Indonesia,dengan sendirinya akan segera dikoordinasikan,” katanya.

16.5.10

Kiai Said Jamin Warga NU Tak Terlibat Terorisme


Ketua Umum PBNU,KH Said Aqil Siradj menjamin,dari puluhan ribu santri NU di seluruh Indonesia,tidak ada satupun yang ikut gerakan-gerakan terorisme.
Hal itu diungkapkan Said Aqil di Jakarta, Minggu (16/5)."Ya NU,yaMuhammadiyah, semua seharusnya ikut dilibatkan.Kalau dari NU,saya jamin, tidak ada santri yang terlibat teroris.Dari 14 ribu pesantren NU,tidak ada satupun yang terlibat, Saya jamin itu," tegasnya.
Sebelumnya, PBNU menilai maraknya terorisme yang mengatasnamakan agama merupakan bagian strategi pihak yang tidak bertanggung jawab dalam upaya memecah belah persatuan nasional.
Ia pun menilai, segala bentuk kegiatan teroris tersebut merupakan satu rancangan yang didesain khusus untuk satu tujuan tertentu.
"Saya percaya ini semua by design ," ujar Said Aqil.
Ia melihat, pengatasnamaan agama, khususnya Islam, dalam tiap aksi teror dan kekerasan yang dilakukan tersebut tak ayal membuat umat geram.Sebab,konteks keyakinan yang dianut para teroris tersebut dipandang sangat menyimpang dari ajaran Islam.
"Kekerasan ada di mana-mana,di setiap agama,di setiap peradaban.
Abad 16 antara katolik dan kristen protestan,kita tahu seperti apa sejarahnya.Kebetulan era sekarang kelompok garis keras ada di sebagian kecil umat islam.Saya akui. Mereka adalah saudra-saudara kita sesama agama. Tapi memang sudah menyimpang atau bertentangan dengan Islam itu sndiri," imbuhnya. [Inilah.Com]

14.5.10

Serial Tokoh Dari Pemalang> Dulmatin,Sang Bomber.


Untuk melengkapi Posting saya yang berkategori Serial Tokoh yang dilahirkan di Pemalang,maka kali ini saya melengkapinya dengan "menghadirkan" Dulmatin,Manusia Pemalang paling populer sejagat raya.sebenarnya saya sebagai warga Pemalang turut "senang" dengan ketenaran Dulmatin,karena dengan demikian Pemalang ikut terkenal juga. tapi sayang,tenarnya bukan dalam hal yang patut untuk dibanggakan.

Djoko Pitono atau Dulmatin,pria ini lahir di Petarukan, Kecamatan Petarukan,kabupaten Pemalang,pada 6 Juni 1970. Ia pernah menjadi orang yang paling dicari Kepolisian Indonesia karena terlibat dalam kasus bom Bali pada tahun 2002.
Nama aliasnya bermacam-macam, seperti Amar Usman, Joko Pitono, Abdul Matin, Muktarmar, Djoko, Noval, dan terakhir, Yahya Ibrahim. Selain di Indonesia, Dulmatin juga menjadi buronan nomer wahid di Filipina, Amerika Serikat, dan Australia.

Ia lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara putra pasangan Usman dan Masriyati (bu Yati). Keluarga ini cukup berada dari sisi ekonomi. Selepas SMA pada tahun 1992 Dulmatin merantau ke Malaysia. Tiga tahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai makelar mobil dan bertani. Dulmatin menikah dengan Istiadah, saudara sepupunya sendiri.

Keterlibatannya dalam kegiatan terorisme terjadi setelah ia berhubungan dengan Abu Bakar Baasyir dan kemudian berkenalan dengan Imam Samudra dan tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah serta tokoh Islam radikal (Garis keras) lainnya. Dulmatin adalah orang yang merencanakan pelaksanaan pengeboman dua diskotik di Kuta, Bali pada tahun 2002. Setelah itu ia menjadi incaran polisi. Ia dikhabarkan pernah terlibat dalam kegiatan perlawanan di Pulau Mindanao, Filipina.

Pemerintah Amerika Serikat sampai-sampai menyediakan 10 juta dolar AS bagi orang yang dapat memberikan informasi mengenai keberadaannya. Menurut keterangan pemerintah AS dalam pengumuman sayembaranya, Dulmatin adalah orang paling berbahaya di Asia tenggara,ia ahli elektronika dan perakitan bahan peledak karena pernah berlatih di kamp-kamp Al-Qaeda di Afganistan dan merupakan tokoh senior dalam Jemaah Islamiyah.

Ia pernah dikabarkan tewas dalam serangan udara oleh pasukan militer Filipina di Mindanao, Filipina Selatan pada Januari 2005, namun ternyata hal tersebut tidak dapat dikonfirmasi. Pihak militer Filipina kembali mengabarkan bahwa Dulmatin telah terluka dalam sebuah baku tembak di Jolo, Filipina Selatan pada tanggal 16 Januari 2007.

Pada tanggal 9 Maret 2010 Dulmatin tewas pada penggerebekan di sebuah warnet di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Kepastian kematian sang buronan ini diperoleh setelah dilakukan perbandingan ciri-ciri fisik dan diperkuat dengan pengujian sidik jari dan tes DNA.
Dulmatin dimakamkan pada hari Jum'at 12 Maret 2010 di TPU desa Loning,kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang.

13.5.10

Teroris solo dan Majalah An-Najah, Majalahnya wahabi



Tim Densus 88 Antiteror menangkap tiga orang di Solo, Jawa Tengah, sepanjang operasi yang dilakukan sejak Rabu (12/5/2010) malam. Awalnya, Densus menangkap Joko Purwanto di Purbayan, Sukoharjo, dan Abdul Hamid di Purwosari, Rabu malam.

Selanjutnya, Kamis pagi ini, Densus menggerebek sebuah toko aki di Dukuh Gondang, Desa Baki, Sukoharjo, dan menangkap Erwin. “Ini hasil pengembangan setelah penangkapan di Purbayan dan Purwosari,” kata seorang petugas kepolisian setempat yang tidak bersedia disebut namanya.

Sebelumnya diberitakan bahwa berdasarkan informasi Kepala Desa Bakipandeyan Pardio, ada dua orang yang ditangkap dalam operasi di Solo. Dalam penggerebekan di toko aki, Densus menyita sejumlah senjata api laras panjang dan pendek, ratusan peluru, belati, CD, dan buku-buku.

Hingga sekitar pukul 11.00, ribuan warga menyaksikan lokasi toko aki yang telah dipasangi garis polisi. Petugas Brimob berjaga-jaga di lokasi. Sementara itu, arus lalu lintas Sukoharjo-Solo terlihat tersendat.(KOMPAS.com)

12.5.10

Lagi,Densus 88 bekuk Teroris di Cikampek


Enam anggota teroris yang disergap Densus 88 Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Barat, diduga berniat melakukan aksi terorisme dalam waktu dekat. "Mereka diduga akan melakukan 1 aksi teror beberapa minggu ke depan, di Indonesia," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Edward Aritonang, dalam keterangan pernya di Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (12 /5).
Namun Edward merahasiakan lokasi aksi teror yang direncanakan kelompok Saptono dan Maulana, di Indonesia itu. "Jika pelaku aksi teror hanya dilakukan oleh 6 orang tersebut, maka petugas Polri dianggap mampu menggagalkan aksi teror," jelasnya.
Dari pernyataan Edward mengisyaratkan Polri masih mencurigai adanya kelompok teroris Maulana dan Saptono tersebut.
Saptono mahir menggunakan senjata militer dan pernah mengikuti latihan militer di Cimelati, Pandeglang Banten. Sedangkan Maulana pernah mengikuti latihan militer bersanjata di Aceh. Dia juga ditetapkan sebagai buronan oleh Polda Kaltim, dalam kasus jual-beli senjata. [inilah.com]

3.11.09

Pentingnya Kriminalisasi Terorisme!


Dalam sebuah seminar di The University of Queensland, Australia ( 30 /11 /2008) , Nadirsyah Hosein, PhD., seorang pakar hukum dan terorisme dari The University of Wolonggong yang juga putera Ulama terkemuka Indonesia, Prof. KH. Ibrahim Hosein, memberikan ilustrasi menarik tentang problem pemaknaan atas konsep terorisme. Dalam ilustrasinya digambarkan, ada seorang lelaki dengan menenteng senjata M16 memasuki sebuah gedung pertemuan yang telah disesaki oleh puluhan hingga ratusan orang. Lelaki itu mencoba memasuki ruangan tersebut dengan satu maksud: membunuh semua yang berada di dalamnya. Nadirsyah yang juga Rois Syuriyah PCI NU Australia-New Zealand itu pun lalu membuat pengandaian menarik. Pertama, kalau lelaki itu sebelum menumpahkan butiran timah panas dari senjata M16 yang dibawanya meneriakkan “Allahu Akbar”, bagaimana reaksi publik maupun pengambil kebijakan? Kedua, kalau lelaki dimaksud sebelum membunuh meneriakkan “I love you” karena di ruangan itu terdapat seorang perempuan yang menjadi pujaan hati namun cintanya tak berbalas, bagaimana pula respon publik maupun para pengambil kebijakan? Pada kasus permisalan pertama, kata Nadirsyah, orang pun buru- buru menyebut tindakan brutal lelaki tersebut sebagai aksi terorisme. Mengapa? Argumentasi umum akan mengatakan, hal itu disebabkan karena aksi itu dilakukan dengan mengaitkannya dengan motivasi agama. Yang dijadikan bukti penguat argumentasi itu adalah teriakan “Allahu Akbar” sebelum tindakan brutal pembunuhan dilakukan. Pada kasus permisalan kedua, publik dan para pengambil kebijakan cenderung tidak menyebut aksi pembunuhan brutal itu sebagai terorisme, melainkan sebuah aksi kriminal biasa sebagaimana tindakan kriminal lainnya. Mengapa? Karena, dalam penilaian mereka, aksi itu tidak dilakukan dalam kaitannya dengan motivasi agama. Tapi, motivasi sakit hati akibat cintanya tak berbalas. Buktinya adalah teriakan “I love you”. Pesan yang ingin disampaikan oleh Nadirsyah di atas adalah bahwa konsep terorisme dalam realitasnya telah mengalami problem pemaknaan yang besar. Ironisnya, problem pemaknaan ini menimbulkan dampak yang cukup besar, mulai dari kepentingan kemanusiaan, akademik hingga kebijakan praktis dalam memberikan solusi atas kasus terorisme yang kini menjadi isu global. Kesalahan Muslim Runyamnya problem pemaknaan di atas, menurut hemat saya, tidak berdiri sendiri. Problem pemakaan dimaksud juga dipicu oleh sikap masyarakat Islam sendiri. Pada kasus eksekusi Amrozi cs pada 9 November 2008 , sebagai misal, masih terdapat persepsi publik yang meyakini dan menilai para pelaku bom Bali tersebut sebagai pahlawan dan mujahid. Bahkan, kerumunan massa saat pemakaman Amrozi cs telah menimbulkan kesan negatif di belahan dunia lain atas citra Islam. Di Australia, sebagai misal, hampir seluruh media menjadikan kerumunan massa tersebut sebagai berita utama. Lebih jauh lagi, foto-foto kerumunan massa itu dieksploitasi sebagai cerminan atas kaitan antara publik Islam di Indonesia dan dukungan terhadap pelaku terorisme. Belum mereda tuntas kasus eksekusi Amrozi cs di Indonesia, kita pun dikejutkan kembali oleh aksi brutal di Mumbai, India, 26 November 2008. Aksi yang telah menewaskan tak kurang dari 125 korban meninggal dan melukai ratusan lainnya itu kontan dilekatkan dengan dan disebut sebagai terorisme. Sebab, pelakunya dicurigai berasal dari kelompok Islam militan yang menjadi jaringan kaum militan lintas batas negara (cross border militant network). Bahkan, jaringan militan itu beroperasi sepanjang Asia Selatan hingga Asia Tengah. Dalam kasus terorisme di atas, publik pun tak pernah lepas dari memori kolektif yang bermuara pada pengaitan antara tindakan terorisme dan agama. Kalangan umat Islam juga berkontribusi terhadap menguatnya pengaitan ini. Pemboman dikaitkan dengan aksi jihad. Pembunuhan terhadap kelompok lain diyakini sebagai bagian dari ekpresi keyakinan atas doktrin jihad. Ini kontribusi kesalahan besar kelompok Islam sendiri. Kesalahan umat Islam ini bertemu di satu titik dengan kecerobohan yang akut di kalangan para pengambil kebijakan di tingkat dunia. Munculnya kekuatan neo-konservatisme sebagai penguasa politik di negeri seperti Amerika dan Australia memperparah tingkat kecerobohan itu. Pasalnya, basis kognitif yang mendasari pengambilan kebijakan mereka masih dibangun dari pengaitan antara aksi terorisme dan agama. Kesalahan yang sama termasuk juga dilakukan oleh para akademisi. Berbagai buku yang ditulis mengenai terorisme seperti oleh Justin Healey (2004) , Rohan Gunaratna (2005) , Greg Fealy dan Aldo Borgu (2005) serta bunga rampai editan Hillel Frisch dan Efraim Inbar ( 2008) juga mengaitkan aksi terorisme semata-mata dengan motivasi agama. Jarang ada karya akademik yang melepaskan terorisme dari agama. Sulit ditemui karya akademik yang menyebut terorisme semata-mata sebagai tindakan kriminal. Jauhkan Ideologisasi Umat Islam perlu belajar banyak bahwa terorisme adalah terorisme. Ia adalah sebuah bentuk kekerasan atau bagian dari tindakan kriminal terhadap kemanusiaan (crime against humanity) . Apapun motivasi dan bentuk ekspresinya, terorisme telah mengancam harkat kehidupan kemanusiaan. Meskipun para pelaku terorisme dalam ekspresi mereka kerap melakukan pengaitan antara aksi mereka dan ideologi Islam yang mereka anut, publik Muslim seharusnya tidak terjebak dengan melakukan ideologisasi atas tindakan terorisme mereka. Publik Muslim harus cerdas dengan mencoba melakukan pemisahan. Islam tidak boleh dibajak sebagai kedok untuk melakukan aksi terorisme dan kriminal lainnya atas kemanusiaan. Pada ilustrasi oleh Nadirsyah di atas, kedua permisalan yang dijadikan sebagai contoh sama-sama merupakan bentuk ekspresi tindakan kriminal. Keduanya tidak bisa dibedakan hanya karena teriakan yang berbeda semata sebelum aksi pembunuhan. Siapapun Anda dan dari latar belakang madzhab agama apapun Anda berasal, lafal “Allahu Akbar” adalah lafal suci. Sebab, ia merupakan bentuk pengagungan terhadap kebesaran Tuhan. Karena itu, sungguh lacur jika lafal itu lalu digunakan sebagai justifikasi atas tindakan kriminal, apapun bentuknya. Atas pertimbangan itu, publik dan para pengambil kebijakan harus melakukan kriminalisasi terhadap aksi dan tindakan terorisme, apapun bentuknya. Jauhkanlah kecenderungan ideologisasi saat berupaya memahami dan mencari penyelesaian soal terorisme. Sebab, pada skala yang paling kecil, pengaitan antara terorisme dan agama tidak akan banyak membantu mengangkat harkat dan derajat Islam di mata dunia. Pengaitan itu juga membenturkan upaya penyelesaian aksi terorisme dengan isu agama. Dan itu justru cenderung memperlambat dan bahkan cenderung kontraproduktif bagi upaya kontra-terorisme itu sendiri. Karena itu, semua pihak harus menyadari sepenuhnya bahwa terorisme adalah aksi kriminal. Dan, kita pun layak sepakat untuk memeranginya atas nama kemanusiaan Oleh : AKH. MUZAKKI, Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Kandidat PhD di The University of Queensland, Australia.

Get this blog as a slideshow!