Tampilkan postingan dengan label Prof.DR.KH.Said Aqil Siraadj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prof.DR.KH.Said Aqil Siraadj. Tampilkan semua postingan

27.3.11

Kesederhanaan Rapat Pleno PBNU Di Pesantren Krapyak,Yogyakarta.



Suasana santri di Pesantren Al -Munawwir Krapayak, Yogyakarta makin terasa ketika pesantren warisan mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ali Ma’shum ini ditempati sebagai tuan rumah hajatan besar tahunan ‘Rapat Pleno’ yang digelar oleh PBNU .
Di pesantren ini sejak Sabtu ( 26/ 3) pagi kemarin sudah berdatangan para kiai sepuh NU dari berbagai daerah di Indonesia . Misalnya ada KH Chalid Mawardi, Prof KH Chtibul Umam , KH Abdul Muhaimin Zein , KH Turmudzi Bahruddin ( NTB ) dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan namanya satu -persatu .

Menjadi ' Reuni para Kiai '.
Sebagaimana kehidupan di pesantren, para kiai dan peserta Rapat Pleno sekitar 200 orang ini sejak awal sudah mengetahui jika dirinya menuju pesantren dari rumah masing- masing. Karena itu begitu sampai di Krapyak , para kiai tersebut tidak kaget jika harus istirahat di satu kamar 4 orang , bareng dengan para kiai atau peserta yang lain . Demikian pula mandinya . Mereka begitu masuk kamar sudah disediakan satu tas , yang berisi: gayung , sabun , pasta gigi, sampo , handuk, satu kasur, satu bantal dengan sarungnya yang berwarna putih dll.
Panitia memang sudah menyiapkan satu kamar untuk 4 orang . Para kiai itu pun mesti mandi seperti ketika dulu beliau itu mondok di pesantren-pesantren. Yaitu , apa adanya, namun di Krapyak ini masih bagus ; airnya lancar, bersih dan tidak harus berantri panjang , karena kamar mandinya banyak, juga WC -nya . “Jadi, ya beginilah suasana santri ini penuh kekeluargaan, kesederhanaan, apa adanya, ikhlas dan tidak neko-neko ,” ujar KH Turmudzi singkat . Makan pun begitu. Para kiai harus antri dan tinggal pilih ; mau sarapan roti plus telur dengan susu, teh manis , kopi jahe, air putih dll. Atau mau makan nasi , juga tinggal memilih . Untuk urusan konsumsi ini tampaknya tidak sulit. Sebab, kalau pun mau mencari makanan yang lezat , juga tinggal jalan kaki untuk mencari makanan sesuai selera, di mana di depan jalan raya pesantren ini sudah banyak warung -warung yang menyediakan aneka menu makanan dan minuman yang lezat .

Penuh Kesederhanaan.
Rapat -rapat panitia pun dilakukan dengan lesehan di masjid atau di rumah kiai . Sehingga praktis semua dilakukan dengan sederhana ala pesantren. Bahkan rapat pleno juga dilakukan dengan lesehan. Hanya saja kini agak modern, jika harus dibilang demikian . Mengapa ? Di Pesantren Krapyak ini, internet sudah tersambung dengan baik . Karena itu bagi yang membawa Lap Top , tinggal klik saja, maka jaringan internet gratis akan tersambung . Selain ada warnet yang ada di depan pesantren.
Ber-Laptop
Bahkan para santri pun , ketika belajar sudah selesai di malam hari, mereka yang berasal dari berbagai daerah ini, yang mungkin orang tuanya mampu , secara bergerombol mereka menggunakan Lap Top dan main game seperti balap mobil, motor , perang- perangan dan sebagainya . “ Ya, boleh main game kalau sudah selesai belajar di malam hari ,” kata Shodiq , siswa kelas 1 SMP asal Cilacap , Jawa Tengah ini polos . Persoalan apakah penggunaan Lap Top dengan jaringan internet ini akan berdampak positif atau negative? Tentu harus dikaji lebih mendalam khususnya di lingkungan pesantren, di mana anak- anak adalah sedang tumbuh dan senang - senangnya bermain game.

NU Anti Liberalisme.
Dalam Sambutannya di rapat pleno,Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan , NU tetap menentang kelompok liberal dan ekstrimis . Keduanya bertentangan dengan semangat moderasi NU . “NU menganut faham tawassut , bukan liberal. Menurut saya, definisi Islam liberal itu kalau meninggalkan Qur ’ an dan hadist . Kalau masih berpulang pada keduanya , Islam yang rasional . Golonan mu’tazilah, ” katanya dalam rapat pleno PBNU , hari Ahad .
Kelompok liberal, menurutnya , bukan hanya mempengaruhi kehidupan agama, tetapi juga aspek kehidupan lainnya, dalam ekonomi, sosial, politik dan lainnya. “Ekstrim dan liberal sama- sama berbahaya , tapi kalau kelompok ekstrim lebih berbahaya , ” jelasnya . ( amf/mkf/NU Online )

16.1.11

Gerakan Pemuda Ansor Sebagai Ujung Tombak Perjuangan NU


Gerakan Pemuda Ansor memiliki posisi penting dalam NU sejak awal kelahirnnya, tidak hanya berperan sebagai penyemaian kader-kader NU yang dinamis dan militan, tetapi juga sekaligus sebagai ujung tobak bagi perjuangan NU di semua sektor kehidupan.

Dalam situasi tantangan kebudayaan global dewasa ini NU diharapkan bisa tetap eksis, bahkan diharapkan dapat mewarnai kehidupan global dewasa ini yang penuh persaingan dan pertikaian antara berbagai ideologi-ideologi yang ekstrem dan radikal yang mengancam ketenteraman dan kedamaian. Dilain pihak gaya hidup yang konsumtif dan penghamburan energi yang berlebihan tidak hanya membuat kerusakan lingkungan sehingga terjadi climate change (perubahan iklim) dan cuaca ekstrem dalam dekade terakhir ini, tetapi juga mengakibatkan kesenjanga sosial antara kaya dan miskin.

Di tengah munculnya ektrem ideologi, ekstrem gaya hidup, itu NU akan tetap mengambil jalan tengah (ummat wasathan), karena ini merupakan jalan Islam yang sesungguhnya, sebagaimana Firman Allah.

“Dan demikianlah aku menciptakanmu sebagai umat yang (moderat, adil), agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatanmu.” (QS: Al Baqarah 143).

Dalam menjalanan tugas ini tentu tidak mudah, banyak tantangan terutama dari ideologi ekstrem yang ada, maka dalam kondisi seperti ini GP Ansor NU harus tampil di garis depan perjuangan NU untuk membentengi ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah. Ajaran ahlusunnah ini berpegang teguh pada Sunnah Nabi secara, qoulan wa fi’lah wa taqriran (sabda, tindakan dan kesepakatan). Sebagai pembawa misi kenabian maka ahlussunnah selalu berpegang pada prinsip jamaah yaitu bersama dan membela kepentingan masyarakat banyak.

Dalam kondisi seperti ini maka sebenarnya Ansor di sini tidak terbatas hanya Ansoru Nahdlatul Ulama, tetapi lebih jauh lagi menjadi Ansorul Islam, Ansarullah dan Ansorul Wathan (Pembela Tanah Air). Ini bukan pengandaian tetapi telah diperankan GP Ansor.

Menghadapi tanggung jawab agama, negara dan bangsa ini GP Ansor NU perlu menyingsingkan lengan baju, karena hanya dengan demikian akan bisa mengemban peran besar sebagai syuhudu hadhari (penggerak peradaban) bangsa, tetapi juga berperan sebagai syuhud tsaqafi (penggerak intelektual) dalam membangun dan menyangga bangsa ini. Komitmen NU pada bangsa ini tidak bisa ditawar, karena NU terlibat dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini sehingga ketaatan NU pada Bangsa dan negara ini bersifat mutlak. Dalam negara ini ini bukan sekadar berperan sebagai stake holder (pemangku kepentingan) yang tidak memiliki peran apapun, sebagaimana sering disebut orang. NU turut mendirikan negara ini dengan pengorbanan harta dan nyawa, karena itu NU duduk sebagai share holder (pemilik saham) dalam NKRI ini, sehingga posisinya kuat dan memiliki tanggung jawab terhadap negara ini.

Sebagai salah satu pendiri NKRI maka sense of belonging (rasa memiliki) NU terhadap negara ini sangat tinggi sehingga harus terus dibela dan dijaga dalam koridor empat pilar utama yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Demikian sikap NU terhadap negara ini. Sementara terhadap pemerintah NU menggunakan pendekatan amar makruf nahi munkar, bila pemerintah berjalan sesuai dengan aturan dan aspirsi rakyat, maka NU akan mendukung penuh kebijakan pemerintah, tetapi ini bukan berarti NU berkoalisi. Karena NU bukan partai politik yang bisa melakukan koalisi dengan pemerintah. Sebaliknya bila kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan konstitusi dan aspirasi rakyat, maka NU akan melakukan kritik, namun ini tidak berarti oposisi, NU bukan partai politik yang bisa beroposisi.

Dengan demikian sikap NU terhadap pemerintah akan lebih proporsional dan rasional tidak apriori menerima sebagimana lazimnya dilakukan oleh kelompok koaliasi. Dan tidak apriori menolak sebagaimana dilakukan kelompok oposisi. Dengan demikian diharapkan NU akan mampu menjaga keseimbang kehidupan bernegara. Dalam konteks ini Peran GP Ansor sangat diperlukan bahkan harus menjadi ujung tombak dari gerakan kultural NU dalam menjaga bangsa dan negara ini. Tanpa diminta terbukti Ansor selalu menunaikan tugas ini. Untuk mengefektifkan peran ini tentunya GP Ansor NU perlu melakukan konsolidasi dan kaderisasi secara terencana dan teratur.

Konsolidasi Organisasi
Menghadapi tugas berat baik yang dihadapi oleh NU dan negara serta bangsa ini, tentu diperlukan sebuah organisasi yang solid, sehingga bisa berjalan secara efektik. GP Ansor NU yang lahir 1934 telah berkembang luas yang memiliki cabang di seluruh penjuru tanah air. Dan memainkan peran di seluruh level perjuangan. Setiap zaman membawa tantangannya sendiri dan setiap tantangan perlu respon dan jawaban tersendiri. Karena itu bagaimanapun organisasi yang besar ini perlu terus dikonsolidasi, ditata ulang manejemen kepemimpinannya, agar mamapu merespon dan mengantisipasi berbagai perkembangan yang terjadi.

Sistem kehidupan sosial di alam modern yang lebih individual dan rasionalistik dengan sendirinya telah merenggangkan ikatan-ikatan sosial tradisional. Dengan demikian juga akan mempengaruhi pola berorganaisasi. Kerenggangan organisasi kalau dibiarkan akan melemahkan gerak organisasi. Sementara organisasi yang lamban bergerak akan sulit merespon perkembanagan yang terjadi dengan sedemikian cepat. Demikian pula derasnya arus perubahan soosial juga mempertinggi tunbtutan masyarakat, semuanya ini hanya bisa direspon dan diantisipasi oleh organisasi yang benar-benar solid.

Dari zaman ke zaman GP Ansor bisa membuktikan kemampuannya mengambil peran dalam kehidupan di negeri ini. Bahkan dalam situasi paling sulit pun Ansor bisa mengambil peran strategis. Ini tidak lain karena organisasi ini mampu menjaga keutuhan organisasi, sehingga peran-perannya masih dirasakan tidak hanya oleh umat Islam tetapi juga oleh bangsa ini. Situasi telah berubah, tantangan ke depan makin besar, sendi-sendi organisasi muai digerogoti oleh sikap apriori, sikap mementingkan diri sendiri. Agenda bagi Ansor adalah bagaiman terus menggairahkan spirit berorganisasi, spirit membela rakyat dan keutuhan bangsa. Ini arti penting konsolidasi organisasi.
Menggerakkan Kaderisasi.

Sejak awal berdirinya GP Ansor NU adalah merupakan sebuah organisasi kader, organisasi ini didirikan untuk menyiapkan kader muda yang nantinya akan berperan di NU. Bayangkan NU telah lahir sebelum negara Indonesia ini ada, dan sekarang masih tetapi ada tidak kurang sedikit apapun bahkan semakin besar, sementara banyak organisasi seusia yang sudah tiada. Rahasia NU sebagai organisasi yang mamapu bertahan melewatan berbagai zaman yang kini berusia 85 tahun tidak lain salah satunya karena tertibnya NU dalam melaksanakan kaderisai, yang salah satunya dilaksanakan oleh GP Ansor.

Keberlangsungan organisasi selain ditunjang oleh adanya ajaran yang selalu relevan juga ditunjang oleh adanya sistem kaderisai yang runtut. Tanpa adanya kaderisasi tidak mungkin dilakukan regenerasi secara sempurna, sementara organisai tanpa regenerasi akan mengalami kejumudan dan stagnasi. Dari situ banyak organisqsiyang laahair kemudian pada berguguran. Kepentingan pragmatis dan jangka pendek, selalu mengabaikan program kaderisasi, karena kaderisai diangap sebagai sesuatu yang mahal dan tidak jelas hasilnya. Memang kaderisasi adalah human invesment (investasi kemanusiaan) jangka panjang, maka hanya pemimpin yang visoner saja yang peduli pada kaderisasi ini.

Kaderisasi ini terbukti tidak hanya dikhususkan untuk NU tetapi lebih luas lagi sebagai kaderr bangsa, terbukti banyak kader GP Ansor ayang berkiprah di berbagai lembaga-lembaga strategis, baik di pemerintahan, di organisasi kemasyarakat, di partai politik, di perguruan tinggi, di lembaga profesi, ketentaraan dan lain sebagainya. Dengan demikian menjalankan kaderisasi juga merupakan investasi besar dan sekaligus peran penting dalam membangun bangsa dan negara ini secara keseluruhan. Mengingat sangat variatifnya anggota GP Ansor, maka kaderisai mesti dilakukan secara multi disiplin dan perlu diutamakan pengembangan masing-masing talenta dari anggota, agar diseminasi atau penyebaran kader GP Ansor semakin meluas, sehingga perannya juga semakin besar.

Kaderisiasi yang teratur dan berwawasan ini eengan sendirinya akan melahirkan kepemimpinan yang visioner yang mampu membuka cakrawala organisiai dan cakap dalam mengelola organisasi dalam kondisi apapun, sehingga mampu mengemban amanat organisasi yang tidak lain adalah amanat agama dan amanat bangsa. Pemimpin yang mampu memegang amanah itulah yanga sangat diharapkan perannya dalam organisasi sebesar GP Ansor ini.

Waallahul muwafiq ila aqwamith thariq.
Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Prof.DR.KH.SAID AQIL SIRADJ.MA
Disampaikan dalam pembukaan Kongres Ke XIV GP Ansor NU di Surabaya, 13 Januari 2011
(www.nu.or.id)

23.10.10

NU dan Godaan Pilkada


Oleh: Said Aqiel Siradj

Hajatan pemilihan kepala daerah (pilkada) yang marak saat ini cukup berpengaruh kepada NU. Kader-kader NU bermunculan untuk tampil dan berpartisipasi dalam pesta demokrasi lokal itu.

Sejumlah masalah muncul. Tak sedikit pula dari pilkada itu berakhir dengan kekerasan. NU kena getahnya. Tarik-menarik kepentingan politik praktis yang melibatkan itu pun tak terhindarkan. Pilkada riskan membawa beban polarisasi dalam masyarakat yang menumbuhkan konflik, persaingan tidak sehat, tumbuhnya broker-broker amatiran, serta ganasnya money politics.

Godaan politik praktis tampak masih begitu besar dan mengusik NU. Perdebatan kalangan Nahdliyin masih panas seputar boleh atau tidaknya para pemimpin struktural NU terjun ke dunia politik praktis. Kesalahpahaman khitah, tampaknya berangkat dari ambiguitas konseptualisasinya ketika dipertentangkan dengan kenyataan. Ini yang masih terasa memusingkan warga Nahdliyin dengan kontradiksi sikap politik sebagian pengurus NU.

Di sisi lain, massa NU saat ini terlihat sudah cair, sehingga tidak bisa diwadahi dalam satu parpol. Tidak seperti dahulu, sikap politik massa NU cenderung ke partai tertentu saja, terutama saat NU menjadi parpol.

Tiga Pilar NU
Sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, NU harus mampu menyinergikan antara tiga peran utamanya, yaitu menanamkan corak keberagamaan tradisional yang moderat dan toleran, memberdayakan masyarakat di bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya serta mempertahankan dan membangun bangsa dan negara.

Tiga pilar utama peran NU tersebut kemudian disarikan dalam rumusan strategi politis sebagai senjata top-down, selain senjata bottom-up melalui pemberdayaan dan pendekatan sosiokultural. Strategi politik yang dimaksud, yaitu pertama, politik kebangsaan. NU punya tanggung jawab mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menolak bentuk disintegrasi apa pun.

Kedua, politik kerakyatan. NU memahami agama tidak melulu sebagai "agen surga", tetapi lebih sebagai agen perubahan sosial. Politik kerakyatan menemukan bentuknya dalam pemberdayaan masyarakat, pendampingan dan perjuangan atas hak-hak rakyat dan kaum tertindas. Peningkatan dan pemerataan pendidikan, dakwah keagamaan, pemberdayaan ekonomi kecil-menengah terus dimaksimalkan guna mewujudkan civil society. Ketiga, politik kekuasaan atau bisa disebut politik NU. Guna memuluskan perjuangan mewujudkan civil society dan kemajuan bangsa, NU menganggap perlu mengambil peran dalam perpolitikan.

Dalam hal politik praktis, PB NU telah tegas menentukan aturan main buat pengurus NU dan warga Nahdliyin. Aturan tersebut adalah bahwa warga NU bebas memilih, institusi NU atau simbol dan fasilitas NU tidak boleh dilibatkan, pengurus harian NU atau badan otonom harus nonaktif selama proses pencalonan. Apabila yang bersangkutan terpilih, otomatis lepas dari pengurus karena tidak boleh dirangkap dengan jabatan publik. Apabila tidak terpilih, dia boleh kembali dengan persetujuan pihak yang dulu memilih.

NU sebagai organisasi tidak mungkin "menghilangkan" hak seorang warga negara untuk berpolitik. Yang bisa adalah mengatur mekanismenya. Sehingga, masalahnya bukanlah "syahwat" politik atau "impotensi politik", melainkan pengaturan mekanik yang sinergis.

Banyaknya tokoh NU yang ditarik oleh kepentingan politik praktis tidak mengindikasikan turunnya martabat NU selama aturan main dipakai. Terlalu banyak pihak yang sangat khawatir kalau NU bersatu dalam satu titik pilihan menciptakan keruwetan tersendiri yang kadang-kadang menggunakan orang "dalam" NU.

Politik Kerakyatan
Jalur politik memang menjadi salah satu pintu efektif mewujudkan mimpi terciptanya bangsa yang beradab. Politik NU adalah strategi aktualisasi peran NU dalam ranah politik bangsa ini. Persoalan muncul dalam hal memahami politik kekuasaan NU. Merujuk khitah pada Muktamar NU di Situbondo, Jawa Timur (Jatim), 1984, NU sejatinya mengambil jarak dengan partai politik dan kekuasaan. Maksudnya, kontribusi NU pada ranah politik praktis dibatasi pada perannya sebagai kontrol dan menyumbang gagasan balik sebagai hasil pembacaan utuh atas problem bangsa. NU semestinya mampu menempatkan diri kapan bersinergi dan kapan membuat jarak dengan kekuasaan dan parpol.

Dengan moderasi sikap NU seperti itu, peran pemberdayaan masyarakat tidak akan terabaikan. Kekeliruan menerjemahkan politik kekuasaan NU menghadirkan fenomena politisasi NU. NU dijadikan kendaraan oknum tertentu untuk memuaskan hasrat politik dan kepentingan mereka sendiri. Peran NU sedemikian rupa ditundukkan ke dalam kepentingan yang berdimensi pribadi, kelompok, dan golongan.

Tampaknya, perwujudan politisasi NU dalam politik praktis masih sangat kental seperti terlihat kasatmata pada momen pemilihan kepala daerah. Murni terjun di ranah politik praktis tanpa menanggalkan baju ke-NU-annya adalah penyimpangan khitah NU, kalau bukan pengkhianatan.

Memilih khitah berarti tidak menoleransi "pengkhianatan" atasnya. Jangan sampai khitah NU dituduh hanya sekadar kedok untuk melindungi syahwat politik orang tertentu. Lebih jauh, tuntutan dipenuhinya "takdir" khitah ialah dalam rangka mempertegas garis gerak sosiopolitik NU, demi tercapainya pencerahan dan transparansi politik bagi bangsa. Tanpa ketegasan, khitah akan berhenti sebatas wacana di satu sisi, dan makin meningkatnya libido politik sebagian nakhoda NU untuk mempolitisasi NU guna kepentingan diri sendiri.

Walhasil, NU haruslah tetap menjadi ormas garda depan yang mengukuhkan nilai-nilai kebangsaan dan kerakyatan. Dan ini, harus diawali dengan bersatunya warga dan elite-elite NU, menjauhi persengketaan dan perburuan jabatan instan yang hanya menjadikan pelemahan terhadap NU. NU adalah representasi "Islam Indonesia" yang harus mampu ikut serta membentengi bangsa ini dari segala bentuk ancaman, termasuk soal radikalisme dan terorisme.

4.8.10

Kiai Said Aqil di Petarukan Pemalang: Ahlussunnah Wal Jama'ah itu "Jalan Tengah" Para Ulama


"Ahlussunnah Wal Jama'ah itu diciptakan oleh ulama-ulama yang tidak berpolitik dan tujuannya untuk menjaga kelestarian ilmu agama Islam" Kata KH.Said Aqil Siradj dalam sambutannya pada acara Khotmil Qur'an dan Pelantikan pengurus NU ranting Petarukan di halaman Pondok pesantren Nurul yaqin Keboijo Petarukan pada Selasa (03/08/10).

Pada kesempatan itu kiai Said juga kembali menegaskan pentingnya seorang ulama untuk menjaga keberlangsungan pendidikan Agama Islam. "Jangan semuanya maju menjadi politisi,menjadi aktivis LSM,menjadi polisi dan lain,harus ada ulama yang tetap didalam rumah khusus untuk menjaga ilmu agama" tandas ketua umum PBNU tersebut.

Dalam sesi ceramahnya,Doktor lulusan universitas Ummul Quro Mesir itu juga menjelaskan secara rinci sejarah pembentukan Ahlussunnah wal jama'ah, serta carut marut politik-politik sempalan paska wafatnya sayyidina Ali ketika itu.
"Seharusnya begini seorang Da'i memberikan ceramah dalam pengajian,jangan melulu menceritakan malaikat Munkar-Nakir yang bermata besar serta membawa palu besar,semua orang Pemalang sudah tahu." Kata kiai Said disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.


Pada sesi terakhir mauidhohnya,Kiai sufi asal Kempek,Cirebon itu kembali mengingatkan pentingnya menafsirkan secara benar pemahaman tentang Jihad -mungkin Pak Said tahu betul beliau sedang ceramah di kampungnya Dulmatin-
Sembari menukil sebaris kalimat dari kitab Fathul Mu'in,Kiai yang juga mendalami Kristologi itu menjelaskan bahwa mengamalkan ajaran islam secara ikhlas tanpa paksaan adalah jihad,berpola hidup sehat,melaksanakan haji juga termasuk jihad.
"Jadi jihadnya Fathul mu'in itu berbeda dengan jihadnya Abu Bakar Baasyir!" Sindir kiai Said disambut tawa pengunjug.

18.7.10

JELANG RAMADHAN, Warga NU Dilarang Razia Tempat Hiburan


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj meminta warga NU tidak melakukan razia terhadap tempat-tempat hiburan menjelang bulan puasa Ramadhan 1431 H.

"Untuk menjaga situasi agar tetap kondusif selama bulan puasa, warga NU diminta tidak melakukan aksi kekerasan atau main hakim sendiri, karena yang berhak melakukan aksi sweeping atau operasi tempat hiburan adalah aparat penegak hukum," katanya saat menghadiri Harlah ke-87 NU dan Harlah ke-20 SMK NU Ma`arif Kudus di Kudus, Sabtu malam.

Kepada pegiat organisasi masyarakat (Ormas) Islam yang berencana melakukan razia selama Ramadhan, ia mengimbau agar hal itu tidak dilakukan.

Menurut dia, warga NU harus ikut berperan aktif dalam menciptakan iklim yang kondusif selama puasa Ramadhan

"Apalagi, organiasi NU merupakan organisasi yang memiliki empat pilar, yakni mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Undang-Undang 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila. Jika aparat lemah dalam proses penegakan hukum, maka kita harus mendorongnya dan ikut membantu," ujarnya.

Untuk mewujudkan empat pilar tersebut, warga NU harus meniru ajaran Nabi Muhammad saat membentuk Negara Madinah. "Konsep yang dibangun bukan Negara Islam atau Negara Arab, namun sebagai negara yang beradab dan berbudaya," ujarnya.

Hal tersebut dapat diketahui dalam menghargai perbedaan agama maupun hal lainnya, serta tegas dalam menjalankan penegakan hukum untuk orang Islam maupun non-Islam.

"Jika kita nekat melakukan aksi sweeping dapat diartikan mendirikan negara dalam negara karena membuat aturan sendiri," ujarnya.

Dengan semangat tersebut, Said mengimbau masyarakat Indonesia terutama warga Kudus untuk ikut berperan aktif mewujudkan empat pilar tersebut, untuk menghindari aksi kekerasan dan kericuhan yang sering terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air.

"Saat ini, aksi kekerasan sering kali terjadi. Seperti kericuhan soal pilkada, pembagian dana bantuan langsung tunai (BLT), bahkan saat antre pembagian zakat juga ada yang meninggal. Hal ini tentu sangat disayangkan dan mudah-mudahan tidak terulang kembali," ujarnya. (ant/sam)

6.7.10

KH.Said Aqiel Siraadj Pasca Gus Dur


Oleh: Affandi Mochtar
KH. Said Aqiel Siradj, ketua umum PBNU sekarang ini, sesungguhnya tokoh yang bisa diharapkan melakukan langkah-langkah dinamisasi kitab kuning sehingga kembali pada posisi strategisnya, sebagaimana pada era kepemimpinan al-maghfurlah Gus Dur.

Kang Said –panggilan akrab KH. Said Aqiel Siradj- terlahir dari keluarga pesantren Cirebon, dibesarkan di lingkungan pesantren yang kental dan salaf. Belajar ke Timur Temgah, khususnya di Madinah, belajar berbasis kitab-kitab salaf, kitab-kitab kuning. Kemudian berperan di dunia internasional sebagai tokoh intelektual muslim yang berbasis nalai-nilai Islam tradisional pesantren, nilai-nilai yang terkandung dalam kitab kuning. Ketika beliau diminta pulang ke tanah air oleh Gus Dur, dan beberapa saat menemani beliau, juga selalu berusaha menghidupkan kajian kitab kuning. Lontaran wacananya yang mencoba menegaskan kembali Manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah di tubuh NU, sungguh merupakan hasil bacaan yang cemerlang terhadap khazanah Islam pesantren, kahzanah kitab kuning.

Sesibuk apa pun, Kang Said selalu saja menyempatkan diri untuk member pengajian. Ini dilakukannya di rumahnya, minimal setiap Selasa malam Rabu beliau member pengajian bandongan, dengan membacakan kitab Mafatih al-Ghaib atau Tafsir Kabir karya Al-Razi di hadapan ratusan audience (mustami’in) yang dengan suka rela dating ke kediamannya. Tidak sedikit dari mereka yang mengaji ini adalah para dosen ulumul Qur’an dan tafsir dari perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air. Dari berbagai khidmah beliau terhadap kajian dan pengajian kitab kuning inilah, tampaknya Kang Said lah pemimpin NU, setelah Gus Dur yang bisa diharapkan kembali melakukan dinamisasi kitab kuning. Wallahu a’lam bi al-Shawab(NU Online)

* Penulis adalah Wakil Sekjen PBNU yang juga Sekdirjen Pendidikan Islam di Kementrian Agama RI. (Tulisan ini adalah ceramah di Parung akhir Mei 2010 yang disunting oleh Ali Mursyid)

14.6.10

Piala Dunia 2010, Kiai Said Aqil Jagokan Brasil


Kalangan ulama rupanya juga tidak mau melewatkan pergelaran akbar sepak bola Piala Dunia di Afrika Selatan 2010.Salah satunya adalah KH.Said Aqil Siraadj.

Meski sibuk dengan Nahdlatul Ulama, Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraadj tetap meluangkan waktu untuk mengikuti perkembangan sepak bola,khususnya piala dunia.
Dalam kejuaraan kali ini, Kiai Said menjagokan timnas samba Brasil. “Piala dunia di Afrika Selatan saya menjagokan Brasil, Saya yakin Tim Samba mampu menekuk semua lawan-lawannya dalam ajang piala dunia, Pokoknya Brasil,” kata KH Said Aqil usai mengahadiri haul ke-31 KH Bisri Sansyuri di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Minggu (13/ 6) malam.

Kiai Said menjelaskan, selain skill para pemain, yang dibutuhkan dalam pertandingan sepak bola adalah mental bertanding alias mental juara. Ia melihat, dari puluhan negara yang berlaga di Afrika Selatan, Tim Samba Brasil mempunyai dua hal itu. “ Jadi sangat pantas jika Brasil juara,” katanya singkat.
Pria kelahiran Cirebon ini yakin,pemain bintang asal Brasil seperti Kaka dan Robinho mampu menggedor pertahanan lawan-lawannya yang berada di grup G (Pantai Gading, Portugal, Korea Utara).
“ Sekali lagi saya menjagokan Brasil,” pungkasnya.

Sumber:suaramerdeka.com

10.6.10

NU Mazhab Revisionis



Masih terngiang-ngiang dalam benak saya saat silaturahmi ke rumah KH Said Aqiel Siradj di Ciganjur beberapa tahun silam. Dia bilang,”Ibu saya mengharapkan saya bisa menjadi ketum PBNU. Kalau jabatan menteri agama, ibu saya malah tidak terlalu mendukung.”
Saat itu, memang lagi santer kalau kyai asal Cirebon ini diisukan akan diangkat menjadi menteri agama di jajaran kabinet SBY. Ya,kata-kata tersebut kini telah mewujud. Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj MA telah terpilih menjadi ketua tanfidziyah PBNU bersama Dr KH Sahal Mahfudz sebagai rais am hasil Muktamar NU ke-32 di Makasar yang barusan usai.

Empat belas tahun belajar di Timur Tengah telah mengantarkan sosok Kang Said sebagai salah satu intelektual muslim Indonesia dan tokoh lintas agama. Capaian ini pernah dikomentari Dr. Hidayat Nur Wahid,“Said Aqiel termasuk mahasiswa kutu buku. Semasa di Makkah, ia lebih sering ditemukan di tempat-tempat ilmiah dan sulit menemukannya di forum-forum gerakan/organisasi.” Gus Dur juga pernah melontarkan kata-kata kekaguman,“Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi.”

Revisionis Aswaja
Aswaja pada awal sejarahnya dipandang sebagai madzhab, yaitu sebagai aliran Asy’ariyah dalam teologi dan menganut madzhab empat dalam fikih. Seperangkat aturan dan norma yang ada dalam Asy’ariah dan empat madzhab tersebut dijadikan referensi terutama ubudiyah dan cara pandang tata kehidupan warga NU.
Nah, gebrakan awal Kang Said ketika pulang ke tanah air adalah menggulirkan wacana perlunya umat Islam Indonesia melakukan rekonstruksi pemahaman Aswaja. Baginya, hal itu dipandang perlu mengingat selama ini umat Islam Indonesia masih belum mampu mencairkan sekat-sekat pemahaman keislaman. Hebatnya, kritik Aswaja yang dilakukannya dengan pendekatan sejarah Islam ternyata membawa trend tersendiri di kalangan santri.
Booming Said Aqiel di pertengahan tahun 1990- an berhasil memaksa komunitas pesantren untuk belajar sejarah Islam. Padahal, selama berabad-abad, pesantren di Indonesia didominasi oleh kajian fikih dan gramatika Arab. Gebrakan pemikirannya bahkan sempat menuai reaksi keras dari komunitas kyai pesantren. Dia pernah “diadili” puluhan kyai dalam forum halaqah. Kang Said juga pernah mendapatkan surat teguran dari kyai-kyai Jawa Timur. Berbagai label juga sempat menghiasi lembar namanya; “agen Syiah”, “kafir”, “agen Yahudi”, “neo Mu’ tazilah” dan lainnya. Bahkan muncul juga usulan agar Universitas Umm al-Qura mencopot gelar doktoralnya. Tanggapan Kang Said,“ Apapun gelar yang diberikan, saya tidak peduli. Jangankan gelar doktoral, gelar haji pun jika mau dicopot akan saya berikan.”

Menurut Kang Said--sebagaimana terangkum dalam dua bukunya Ahlussunnah Wal Jamaah Dalam Lintasan Sejarah dan Tasawuf Sebagai Kritik Sosial--watak Aswaja akan selalu bisa beradaptasi dalam segala situasi dan kondisi. Posisi tawassuth atau moderasi ini tentu bukanlah harga mati. Jalan tengah ini bisa diibaratkan dengan titik tengah biji kelereng yang bulat. Makin besar bulatannya, titik tengahnya pun kian besar pula. Demikian pula, makin berkembang konsep moderasi tersebut, makin berkembang pula daya jangkau dan potensinya mengikuti perkembangan zaman. Inilah saatnya memaknai Aswaja sebagai manhaj taghayyur al-ijtima (metode perubahan sosial). Ini berarti pola perubahan yang berdimensi sosial-kemasyarakatan-kemanusiaan yang sesuai dengan nafas perjuangan Rasulullah yang dilanjutkan para sahabat penerusnya sampai di era kontemporer.

Menurut Kang Said, Aswaja sebagai manhaj al-fikr adalah sebuah metode berpikir yang “eklektik”, yakni mencoba mencari titik temu dari sekian perbedaan dengan pembacaan jeli, sampai melahirkan tawaran alternatif. Pemikiran Aswaja ini akan selalu terbingkai dalam landasan tawassuth, tawazun, ta’adul, amar ma’ruf nahi munkar, istiqamah dan tasamuh.

NU yang Beradab
Kendati belajar di Arab Saudi yang Wahabi, namun Kang Said justru mengedepankan pemikiran yang toleran, akomodatif dan universalis. Ini mengherankan bila dibanding kebanyakan mereka yang pernah belajar di Arab Saudi dan kemudian menjadi “jurkam” Wahabi di tanah air.
Apalagi, saat ini di negeri kita tengah marak gerakan Wahabiyah yang begitu militan menyebarkan pemahaman Islam yang tidak saja puritan, tapi bahkan radikal.
Mengelola NU memang bukan sekedar terpaku pada pemikiran. Ada bejibun tuntutan agar NU mampu mewujudkan kemashlahatan yang lebih konkrit, terutama menyangkut ekonomi. Belum lagi mengelola “syahwat politik” warga NU yang masih membara sehingga perlunya menguatkan kembali khithah 1926. Kang Said memang sudah bertekad untuk tidak membawa NU ke ranah politik. Tapi ingat! Justru berangkat dari landasan berfikir yang tepat akan melahirkan praksis yang jitu pula. Tidak ada peradaban yang tidak terlahir dari pemikiran. Berkali-kali Kang said menyatakan bahwa Islam tidak sekedar akidah dan syariah, tapi juga tsaqafah dan hadharah (peradaban).

Dalam kata-katanya yang kerap diobrolkan pada saya,”Kita ini “non muslim’ dalam soal tsaqafah dan hadharah. Sedangkan orang Barat “non muslim” dalam soal akidah dan syariah. ” Kang Said senantiasa memimpikan agar umat Islam berperadaban, tidak hanya “berkelahi” dalam soal akidah dan syariah. NU sebagai “teks/nash” merupakan fakta dinamis dan historis-- meminjam ungkapan Hassan Hanafi--mempunyai tudung nilai-nilai referensial yang dihayati bersama oleh masyarakat (makhzun nafsi ‘ inda al-jamahir). Kepemimpinan Kang Said kiranya bisa menancapkan pemikiran revisionis Aswaja-nya untuk membawa NU ke manhaj al-harokah (praksis) dalam jihad kebangsaan dan kerakyatan yang bersinar keberadaban. Semoga. (Tulisan ini juga dimuat di Majalah MataAir edisi 36 "Radikalisme Masuk Desa)
Oleh: Muhammad Soffa Ihsan, Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah MataAir.(sumber:gusmus.net)

9.6.10

Lantunan Barzanzi dan Alunan Mahalulqiyam Dalam Aqiqahan Cucu Kiai Said


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraadj, Selasa (8 /6) malam mengundang para pengurus dari jajaran PBNU, para peserta pengajian tasawuf dan warga masyarakat sekitar rumahnya di Ciganjur, Jakarta Selatan, untuk membacakan "Shalawat Barzanji" yang berisi doa dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Beliau sendiri bertindak sebagai pemimpin pembacaan shalawat dengan berbagai variasi lagu. Kegiatan ini juga diadakan dalam rangka melaksanakan aqiqah untuk cucu baru dari anak pertamanya Muhammad Said Aqil yang diberi nama Sa’d Muhammad.

Tampak hadir para pengurus PBNU terutama dari jajaran tanfidziyah dan para pengurus lembaga dan lajnah PBNU yang beberapa waktu lalu baru dilantik.
Rombongan ziarah dari Pekalongan-Jawa tengah yang kebetulan sowan ke rumahnya pun diajak mengikuti kegiatan ini.
“Orang NU yang shalawatan begini, juga tahlilan, Boleh- boleh saja kelompok lain mengatakan rokok itu haram.Tapi kalau sampai mengatakan shalawatan dan tahlil itu haram dan bid’ah, ini tidak bisa ditolelir,” kata Said Aqil kepada beberapa tamu menjelang acara.

Pembacaan barzanji dilakukan bergilir. Para tamu dari PBNU, tokoh masyarakat setempat dan santri senior yang mengikuti pengajian tasawuf di rumah Said Aqil setiap Selasa malam pun membaca Barzanji secara bergantian.
Tibalah giliran “ mahallul qiyam ” yakni pada saat para jamaah barzanjian berdiri membaca “ Ya Nabi salam alaika ”, Salam kepada Engkau wahai Nabi. Ini adalah saat-saat dimana Nabi seakan-akan dihadirkan dalam majelis yang disebutkan dengan kata ganti “Engkau”.

Dalam tradisi NU saat-saat mahalul qiyam itulah bayi yang diaqiqahi dibawa keluar,dibawa berkeliling dan para jamaah satu persatu mengusap kepala bayi sambil mendoakan. Sebagian memotong rambut bayi. Sementara shalawat “ mahallul qiyam ” tetap mengalun. (nam)http:nu.or.id

3.6.10

Krisis Palestina - Israel Bukan Berlatar Agama


Konflik yang terjadi antara israel dan Palestina bukanlah konflik antara Islam dan yahudi, melainkan antara penguasa Israel dengan bangsa Palestina. Namun hal ini bukan berarti membenarkan tindakan tentara Israel yang menyerang pengiriman bantuan untuk bangsa Palestina.

Demikian dinyatakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. DR.KH.Said Aqil Siraadj usai bertemu dengan Presiden SBY di istana Negara Jakarta, Rabu (2 /6). "Kita jelas-jelas sangat menyayangkan tindakan tentara Israel yang menyerang kapal Mavi Marmara," kata Said.

Menurut Said, Penyelesaian konflik Israel-Palestina harus dilakukan secara damai dan tidak mengedepankan sentimen agama. Sebagai bukti adalah banyaknya para aktivis yang berbeda-beda latar belakang dan agamanya. "Jadi PBNU atas nama bangsa Indonesia juga akan berkoordnasi dengan pemerintah untuk melakukan upaya-upaya yang mendukung bangsa palestina untuk mendapatkan hak-haknya," terang Said.

Ketika ditanya oleh wartawan, mengenai penyebutan yang benar apakah menggunakan Israel atau Yahudi, Kiai Said -sapaan akrab KH Said Aqil Siradj menjawab, " Penyebutan yang benar adalah Israel. Karena Yahudi sebagai agama, banyak dianut oleh banyak orang dengan berbagai macam warga negara yang berbeda-beda." terangnya.
(min)http://nu.or.id
image: okezone.com

2.6.10

KIAI SAID : Ibadah,Tidak Bisa Tanpa Ijma' dan Qiyas


Orang boleh saja beranggapan dalam hidup dan menjalankan ibadah cukup berpedoman kepada Al Qur'an dan as Sunnah saja, karena kedua pegangan itu yang murni dari Rasulullah, sedangkan lainnya seperti IJMA' dan QIYAS tidak mereka gunakan karena bukan dari Rasulullah.
Akan tetapi yang perlu diketahui,berpedoman kepada Al Qur'an dan As Sunnah saja kita tidak akan dapat menjalankan ibadah seperti sekarang ini. Contohnya, Al Qur'an di zaman Rasulullah tidak seperti apa yang ada sekarang ini, demikian pulan cara beribadah tidak satu haditspun yang menjelaskan secara detail tentang syarat dan rukun sholat, semua itu dijelaskan oleh para ulama setelah Rasulullah dan sahabat meninggal, dan detailnya terdapat dalam Ijma' dan Qiyas.

Demikian dikatakan Ketua Umum PBNU Prof. DR. KH. Said Agil Siradj MA sebulan lalu dalam acara pengajian umum peresmian pembukaan Pesantren Putri Syafi'i Akrom Kota Pekalongan Minggu Malam (20 / 5).
Dikatakan, mereka yang berteriak-teriak bahwa mengamalkan ajaran Islam selain apa yang telah diterangkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah adalah bid'ah, tetapi mereka tidak paham, sesungguhnya mereka bisa baca Al Qur'an dan bisa mengerti mana hadist asli dan mana hadits palsu, semua itu karena hasil karya para ulama.
Maka,berbahagialah warga Nahdlatul Ulama bisa mengamalkan ajaran islam dengan benar dengan tetap berpedoman kepada ajaran ahlus sunnah wal jama'ah, ujarnya.

Para ulama terdahulu, ujar Kang Said panggilan akrabnya, telah menciptakan berbagai metode dan disiplin ilmu yang sangat bermanfaat bagi perkembangan zaman.Tidak saja dalam ilmu agama, akan tetapi ilmu kedokteran, filsafat, sosilogi serta ratusan ilmu ilmu lainnya telah dilahirkan oleh para Ulama yang saat ini dipelajari oleh kalangan barat. Dan apa yang telah mereka ciptakan, tidak ada di zaman Rasulullah,apakah semua itu juga disebut bid'ah yang sesat ? Tentu saja tidak, karena sesungguhnya bagi mereka yang menganggap bid'ah sekalipun,saat ini banyak yang menggunakan dan mempraktekkannya.

Ketua Umum PBNU hasil Muktamar di Makassar itu mengajak kepada warga nahdliyyin untuk tidak mudah terprovokasi oleh berbagai bujuk dan rayuan. Karena saat ini sedang dilakukan upaya rayuan secara sistematis dan terorganisir,maka pendirian pesantren putri Syafi'i Akrom patut kita sambut dengan gembira, karena lembaga pesantren seperti ini mengajarkan kepada para santrinya untuk tetap santun,jujur dan berakhlaq mulia. (iz)http://nubatik.net

20.5.10

PB Nahdlatul Ulama Kecam Lomba Kartun Nabi di Facebook


Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraadj memprotes lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan pengelola situs jejaring sosial Facebook . " Itu haram, karena para ulama sedunia sepakat bahwa Nabi Muhammad SAW itu tidak boleh diimajinasikan," katanya di Surabaya, Kamis.
Ia mengemukakan hal itu setelah menyampaikan kuliah umum tentang Refleksi Hari Kebangkitan Nasional di hadapan mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Didampingi Ketua PBNU H.Saifullah Yusuf (Wagub Jatim), ia meminta pemerintah untuk bertindak agar tidak meresahkan masyarakat dunia, terutama umat Islam di Tanah Air. "Mungkin saja kami mengirim surat ke pengelola situs jejaring sosial 'Facebook' itu di Amerika, tapi pemerintah yang lebih tepat melakukan hal itu. Kami pasti akan mendukung," katanya.

Seperti diketahui, pada Rabu (19 /5) , di Jakarta Menkominfo Tifatul Sembiring menilai percuma kalau akun "facebook" dihapus, karena akan akan ada pihak lain yang memposting kembali.
"Lomba menggambar kartun di akun Facebook adalah celah untuk memprovokasi kerukunan umat beragama, karena itu kami minta masyarakat agar tidak terpancing oleh akun itu. Kita 'cooling down' saja," katanya.

Dalam refleksi Hari Kebangkitan Nasional di IAIN Surabaya, Said Aqil Siradj menyarankan pentingnya ilmu, iman, dan akhlak di kalangan mahasiswa, agar mereka bisa bangkit, seperti era keemasan Islam pada 14 abad silam.
"Umat Islam akan bangkit dengan ilmu, tapi kebangkitan itu akan bermanfaat bila ada iman dan perilaku yang mulia. Iman itu bukan hanya percaya kepada Allah SWT, tapi merasa 'diikuti' Allah SWT," kata kiai yang biasa di sapa Kang Said ini.
Menurutnya, sarjana yang berilmu hanya akan menjadi pintar, tapi bila tidak beriman dan nurani atau akhlaknya tidak selalu baik, maka bencana alam akan terjadi di mana-mana.
"Bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan sarjana yang pintar tapi tidak beriman dan berakhlak, sehingga 80 juta hektare dari 124 juta hektare hutan di Indonesia menjadi gundul," katanya memberi ilustrasi.
-(republika.co.id)-

17.5.10

Cara Jitu NU Menjaga Kondusifitas Bangsa (OLeh-oleh dari Brebes)


Zaman Jahiliyah atau kebodohan terjadi karena pemimpin dan rakyatnya tidak memiliki ilmu. Di dunia ini hanya orang yang berilmu saja yang benar.Islam mengharuskan manusia berilmu. Dengan ilmu,kita berada diatas garis yang benar.
Karena itu, saya menghimbau agar umat Islam tak bosan-bosannya mencari ilmu sepanjang hayatnya. Sedangkan untuk menjaga ketentraman, perlu dilestarikan budaya membaca sholawat, tahlil,managib, barzanji.NU mempunyai cara jitu untuk menjaga kondusifitas berbangsa dan bernegara, yakni dengan membudayakan tahlil, barzanji dan sholawatan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),Prof. DR. KH Said Aqil Siraadj saat menyampaikan tausiyah pada Khaul ke-23 KH Asyamsuriyah di Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Minggu 16 Mei 2010.
Menurutnya, dengan ilmu saja tidak cukup, perlu dukungan keimanan yang kuat. Orang yang berilmu saja tapi tidak beriman akan berbuat keangkara-murkaan di muka bumi. “Orang yang bodoh, kalau ‘ngapusi’ tanah paling hanya semeter dua meter. Tapi kalau yang berilmu, tapi tidak beriman, ‘ngapusinya’ sampai berhektar- hektar,” ujarnya mencontohkan.
Dijelaskannya, setelah berilmu dan beriman, orang Islam harus memiliki hati yang halus. Hal itu menurutnya akan tercipta budaya saling asah-asih dan asuh. "Bukan gontok-gontokan,” tandasnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua PBNU As’ad Said Ali, Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Drs. KH Nurul Yaqin, Suriyah PCNU Brebes KH Said Ali Basalamah dan Wakil Bupati Brebes H. Agung Widiyantoro SH MSi.
(PanturaNews)

16.5.10

Kiai Said Jamin Warga NU Tak Terlibat Terorisme


Ketua Umum PBNU,KH Said Aqil Siradj menjamin,dari puluhan ribu santri NU di seluruh Indonesia,tidak ada satupun yang ikut gerakan-gerakan terorisme.
Hal itu diungkapkan Said Aqil di Jakarta, Minggu (16/5)."Ya NU,yaMuhammadiyah, semua seharusnya ikut dilibatkan.Kalau dari NU,saya jamin, tidak ada santri yang terlibat teroris.Dari 14 ribu pesantren NU,tidak ada satupun yang terlibat, Saya jamin itu," tegasnya.
Sebelumnya, PBNU menilai maraknya terorisme yang mengatasnamakan agama merupakan bagian strategi pihak yang tidak bertanggung jawab dalam upaya memecah belah persatuan nasional.
Ia pun menilai, segala bentuk kegiatan teroris tersebut merupakan satu rancangan yang didesain khusus untuk satu tujuan tertentu.
"Saya percaya ini semua by design ," ujar Said Aqil.
Ia melihat, pengatasnamaan agama, khususnya Islam, dalam tiap aksi teror dan kekerasan yang dilakukan tersebut tak ayal membuat umat geram.Sebab,konteks keyakinan yang dianut para teroris tersebut dipandang sangat menyimpang dari ajaran Islam.
"Kekerasan ada di mana-mana,di setiap agama,di setiap peradaban.
Abad 16 antara katolik dan kristen protestan,kita tahu seperti apa sejarahnya.Kebetulan era sekarang kelompok garis keras ada di sebagian kecil umat islam.Saya akui. Mereka adalah saudra-saudara kita sesama agama. Tapi memang sudah menyimpang atau bertentangan dengan Islam itu sndiri," imbuhnya. [Inilah.Com]

14.5.10

Doktrin Aswaja Dalam Bidang Sosial - Politik


Berdirinya suatu negara merupakan suatu keharusan dalam suatu komunitas umat (Islam). Negara tersebut dimaksudkan untuk mengayomi kehidupan umat, melayani mereka serta menjaga kemaslahatan bersama (maslahah musytarakah). Keharusan ini bagi faham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) hanyalah sebatas kewajiban fakultatif (fardhu kifayah) saja, sehingga –sebagaimana mengurus jenazah– jika sebagian orang sudah mengurus berdirinya negara, maka gugurlah kewajiban lainnya.

Oleh karena itu, konsep berdirinya negara (imamah) dalam Aswaja tidaklah termasuk salah satu pilar (rukun) keimanan sebagaiman yang diyakini oleh Syi'ah. Namun, Aswaja juga tidak membiarkan yang diakui oleh umat (rakyat). Hal ini berbeda dengan Khawarij yang membolehkan komunitas umat Islam tanpa adanya seorang Imam apabila umat itu sudah bisa mengatur dirinya sendiri.

Aswaja tidak memiliki patokan yang baku tentang negara. Suatu negara diberi kebebasan menentukan bentuk pemerintahannya, bisa demokrasi, kerajaan, teokrasi ataupun bentuk yang lainnya. Aswaja hanya memberikan kriteria (syarat-syarat) yang harus dipenuhi oleh suatu negara. Sepanjang persyaratan tegaknya negara tersebut terpenuhi, maka negara tersebut bisa diterima sebagai pemerintahan yang sah dengan tidak mempedulikan bentuk negara tersebut. Sebaliknya, meskipun suatu negara memakai bendera Islam, tetapi di dalamnya terjadi banyak penyimpangan dan penyelewengan serta menginjak-injak sistem pemerintahan yang berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka praktik semacam itu tidaklah dibenarkan dalam Aswaja.

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu negara tersebut adalah:

a. Prinsip Syura (Musyawarah)

Prinsip ini didasarkan pada firman Allah QS asy-Syura 42: 36-39:

فَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ. وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ. وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنتَصِرُونَ

Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia, dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan lalim mereka membela diri.

Menurut ayat di atas, syura merupakan ajaran yang setara dengan iman kepada Allah (iman billah), tawakal, menghindari dosa-dosa besar (ijtinabul kaba'ir), memberi ma'af setelah marah, memenuhi titah ilahi, mendirikan shalat, memberikan sedekah, dan lain sebagainya. Seakan­-akan musyawarah merupakan suatu bagian integral dan hakekat Iman dan Islam.

b. Al-'Adl (Keadilan)

Menegakkan keadilan merupakan suatu keharusan dalam Islam terutama bagi penguasa (wulat) dan para pemimpin pemerintahan (hukkam) terhadap rakyat dan umat yang dipimpin. Hal ini didasarkan kepada QS An-Nisa' 4:58

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ إِنَّ اللّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ سَمِيعاً بَصِيراً

Sesungguhnya Allah meyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanyaa dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat.

c. Al-Hurriyyah (Kebebasan)

Kebebasan dimaksudkan sebagai suatu jaminan bagi rakyat (umat) agar dapat melakukan hak-hak mereka. Hak­hak tersebut dalam syari'at dikemas dalam al-Ushul al­Khams (lima prinsip pokok) yang menjadi kebutuhan primer (dharuri) bagi setiap insan. Kelima prinsip tersebut adalah:

a) Hifzhun Nafs, yaitu jaminan atas jiwa (kehidupan) yang dirniliki warga negara (rakyat).
b) Hifzhud Din, yaitu jaminan kepada warga negara untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya.
c) Hifzhul Mal, yaitu jaminan terhadap keselamatan harta benda yang dirniliki oleh warga negara.
d) Hifzhun Nasl, yaitu jaminan terhadap asal-usul, identitas, garis keturunan setiap warga negara.
e) Hifzhul 'lrdh, yaitu jaminan terhadap harga diri, kehormatan, profesi, pekerjaan ataupun kedudukan setiap warga negara.

Kelima prinsip di atas beserta uraian derivatifnya dalam era sekarang ini lebih menyerupai Hak Asasi Manusia (HAM).

d. Al-Musawah (Kesetaraan Derajat)

Semua warga negara haruslah mendapat perlakuan yang sama. Semua warga negara memiliki kewajiban dan hak yang sama pula. Sistem kasta atau pemihakan terhadap golongan, ras, jenis kelamin atau pemeluk agama tetlentu tidaklah dibenarkan.

Dari beberapa syarat tersebut tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa sebenarnya sistem pemerintahan yang mendekati kriteria di atas adalah sistem demokrasi. Demokrasi yang dimaksud adalah sistem pemerintahan yang bertumpu kepada kedaulatan rakyat. Jadi kekuasaan negara sepenuhnya berada di tangan rakyat (civil sociery) sebagai amanat dari Allah.

Harus kita akui, bahwa istilah "demokrasi" tidak pemah dijumpai dalam bahasa Al-Qur’an maupun wacana hukum Islam klasik. Istilah tersebut diadopsi dari para negarawan di Eropa. Namun, harus diakui bahwa nilai­nilai yang terkandung di dalamnya banyak menyerupai prinsip-prinsip yang harus ditegakkan dalam berbangsa dan bernegara menurut Aswaja.

Dalam era globalisasi di mana kondisi percaturan politik dan kehidupan umat manusia banyak mengalami perubahan yang mendasar, misalnya kalau dulu dikenal komunitas kabilah, saat ini sudah tidak dikenallagi bahkan kondisi umat manusia sudah menjadi "perkampungan dunia", maka demokrasi harus dapat ditegakkan.

Pada masa lalu banyak banyak ditemui ghanimah (harta rampasan perang) sebagai suatu perekonomian negara. Sedangkan pada saat ini sistem perekonomian tersebut sudah tidak dikenal lagi. Perekonomian negara banyak diambil dari pajak dan pungutan lainnya. Begitu pula jika pada tempo dulu aqidah merupakan sentral kekuatan pemikiran, maka saat ini aqidah bukanlah merupakan satu­satunya sumber pijakan. Umat sudah banyak berubah kepada pemahaman aqidah yang bersifat plural.

Dengan demikian, pemekaran pemikiran umat Islam haruslah tidak dianggap sebagai sesuatu hal yang remeh dan enteng, jika umat Islam tidak ingin tertinggal oleh bangsa-bangsa di muka bumi ini. Tentu hal ini mengundang konsekuensi yang mendasar bagi umat Islam sebab pemekaran terse but pasti banyak mengubah wacana pemikiran yang sudah ada (salaf/klasik) dan umat Islam harus secara dewasa menerima transformasi tersebut sepanjang tidak bertabrakan dengan hal-hal yang sudah paten (qath'iy). Sebagai contoh, dalam kehidupan bemegara (baca: demokrasi), umat Islam harus dapat menerima seorang pemimpin (presiden) dari kalangan non-muslim atau wanita.


KH Said Aqil Siradj
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

8.5.10

Said Aqil: Liberalisme Merusak Tradisi NU


Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menegaskan, liberalisme pemikiran Islam yang berkembang di Indonesia dapat merusak berbagai tradisi dan ubudiyah warga NU.

“Dalam sejahrahnya, liberalisme yang berkembang pesat di Eropa tidak pernah bersahabat dengan tradisi dan cenderung merusak tradisi itu sendiri,” kata Said Aqil di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Rabu (24/3) terkait munculnya kembali wacana liberalisme dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar.

Menurut Said Aqil yang juga kandidat ketua umum PBNU, liberalisme yang membawa semboyan kebebasan berfikir ingin melepaskan diri dari tradisi yang berkembang dalam masyarakat setempat.

Karenannya dirinya memahami penolakan para peserta muktamar atau muktamirin terhadap calon ketua umum PBNU yang terlibat dalam gerakan-gerakan Islam liberal di Indonesia.

“Saya memahami penolakan muktamirin terhadap gerakan Islam liberal, dan kalau saya ditanya apakah saya juga menolak libealisme, ya saya sejak awal memang telah menyatakan menolak liberalisme, baik itu berkaitan dengan liberalisme agama maupun liberalisme ekonomi,” katanya.

Katib Am PBNU era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid itu juga mengingatkan, liberalisme cenderung menganggap sepele terhadap persoalan akidah atau keimanan. Dirinya sempat mengkritik keras kelompok yang membela Mushoddeq yang mengaku sebagai nabi.

“Saya heran kog ada mengatakan Mushoddeq yang mengaku nabi itu tidak masalah. Pada waktu saya itu saya tegas, dan bersama beberapa tokoh saya menemui Mushaddeq dan mengajak berdialoq. Akhirnya dia mau bertobat dan kembali kepada syariat,” katanya.

Said Aqil menambahkan, selain persoalan libealisme yang perlu diwaspadai adalah perkembangan faham Wahabi yang mulai gencar masuk ke kalangan NU melalui masjid-masjid, sekolah dan kampus. Ia mensinyalir faham Wahabi ini telah diikuti oleh anak-anak dari warga NU.

“Wahabi ini sama berbahayanya dengan liberalisme. NU ini didirikan salah satunya ya untuk menghalau faham Wahabi ini yang ingin memberangus tradisi salafus shalih, seperti ziarah kubur dan lain sebagainya yang diamalkan orang NU,” pungkasnya. (nam)

5.5.10

Karena Berbiaya tinggi,PBNU meminta MPR RI kaji ulang Sistem Multipartai.


PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU) meminta MPR mengkaji ulang sistem multipartai di Indonesia.Pasalnya, sistem tersebut menelan biaya tinggi (high cost),bukan hanya menghabiskan anggaran tapi juga ongkos sosial.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj saat menerima rombongan pimpinan MPR dan Fraksi-fraksi MPR di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (4 /5) kemarin.
Rombongan dipimpin Ketua MPR Taufik Kiemas (TK).Selain TK, hadir dalam pertemuan itu Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saefuddin, Melani Leimena, dan Farhan Hamid serta pimpinan fraksi di DPR.
Menurut Kiai Said, Indonesia cukup memiliki paling banyak 6 partai. Karena itu MPR hendaknya memikirkan secara tata negara bagaimana agar sistem multipartai di Indonesia dibuat jalan keluarnya.
Menanggapi usulan tersebut,Taufik Kiemas menyambut baik saran itu. TK mengaku kunjungannya ke PBNU untuk silaturahim sekaligus mengucapkan selamat dengan terpilihnya Ketua Umum PBNU. “NU juga berkomitmen untuk tetap teguh pada UUD 1945,NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujar TK.

Seperti diketahui,Ketua MPR sedang giat melakukan sosialisasi ke berbagai pihak atas beberapa keputusan dan program MPR. Kali ini dia beserta pimpinan MPR lain memilih bersilaturahim ke PBNU untuk menemui Ketua Umum PBNU yang baru terpilih, KH Said Aqil Siradj. “Ya kita datangi Beliau untuk silaturahim,” katanya.
Taufik mengajak staf Setjen MPR dan sejumlah wartawan dalam rombongannya. TK pun berencana mensosialisasikan empat pilar NKRI kepada PBNU. “Kita sosialisasikan empat pilar,” paparnya.
Selama menjabat menjadi Ketua MPR per Oktober 2009 , Taufik sudah mensosialisasikan empat pilar itu ke seluruh Indonesia. Empat pilar yang dimaksud yakni Pancasila, UUD 45 , Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI adalah tugas MPR. “Kita kan sudah ke mana-mana, namanya juga sosialisasi,” tutupnya.

Dalam kesempatan itu Kiai Said juga memastikan tidak ada agenda partai koalisi atau pun oposisi. PBNU hanya meminta Utusan Golongan (UG) dalam MPR kembali dihidupkan.Utusan Golongan jauh dari kepentingan kekuasaan. “Kita berkomitmen untuk kembali ke khittah, tidak berkecimpung di dunia politik,” kata Kiai Said Aqil.
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana cair serta diselingi guyonan khas NU. Saat itu Kiai Said berpesan agar MPR mempertahankan pasal 33 UUD 1945 dan memantau praktik penerapannya dalam berbagai produk undang undang dan kebijakan.“Mumpung ketemu dengan pimpinan MPR. Dalam Undang Undang Dasar kita itu ada pasal 33 yang menyangkut perekonomian rakyat itu mohon dipertahankan sekuat-kuatnya apa pun yang terjadi itu harus dipertahankan,” katanya.
Mengutip sabda Rasulullah SAW, Kiai Said mengemukakan ada tiga hal yang tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang, yakni air, api dan rumput.Dijelaskan Kiai Said,air meliputi laut dan segala isinya, api adalah bahan bakar, dan rumput menyangkut persoalan hutan.
”Tiga hal itu harus dimiliki negara untuk kepentingan bersama. Tidak boleh diprivatisasi. Kalau dilanggar maka Allah tidak akan menurunkan barokah di negeri ini. Sesuai dengan pasal 33 kewajiban negara memikirkan masyarakat,dan memperjuangkan nasib kaum mustadz'afin (tertindas, red),” kata Said menjelaskan.
Terkait dengan keberadaan NU, Said Aqil menyampaikan, NU adalah ormas yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. NU akan bekerjasama dengan berbagai pihak, terutama pemerintah dalam membangun kehidupan berbangsa. “Pemerintahnya siapa saja, presidennya siapa saja, partainya apa saja asalkan untuk rakyat terutama sekali warga nahdliyin yang kebanyakan masih di bawah, kita harus mengambil bagian di situ. Kita siap memperkuat infrastruktur bangsa ini,” katanya di akhir perbincangan.
(sumber>http://dutamasyarakat.com)

28.4.10

ISLAM ADALAH PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN,bukan hanya Aqidah dan Syari'ah



Oleh : KH.Prof.Dr.Said Aqil Siraadj


Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala maulana wa syafiina wa habibina rasulillah, Muhammad saw. Wa man tabai’a sunnatahu wa jama’ana ila yaumina hadza, ila yaumil ba’tsi wa kafa.

Ashabal Fadhilah Sadatana Ahlal Baitil Mushtafa, Habibabana wa hamzakumullah, Wa ‘ala ru’usihim Assayiid Hasan Alai al-Idrus. Hadratsus Syaikh KH. Mahfudzh, KH. Hassan Kriyani, Rekan-Rekan Pengurus NU, Wawan Arwani, rekan-rekan pengurus PMII, pimpinan Forum Umat Islam se wilayah III, Bapak Syaihu, Sadati wa Sayidati ahlil kubur

Alhamdulillah pada malam hari ini, saya juga merasa berbahagia bisa menghadiri acara yang sangat mulia dzikra syahadati sebeti rasulillah saw, sayidina wa imamina Abi Abdillah al-Hussein as. Mudah-mudahan kita semua medapatkan berkahnya, syafaatnya, sehingga kita menjadi umat yang selamat bahagia dunia akhirat amin ya rabbal amin.

Soal ada halangan, tempatnya pindah, saya harap kepada seluruh panitia, jangan marah. Maafkan mereka yang memindahkan tempat acara ini. Maafkan yah, jangan marah, jangan dendam. Allahummahdihim fainnahum la ya’lamun. Alhamdulillahi al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa.

Hadirin yang saya hormati, setelah al-khalifah al-rasyid yang keempat, al-Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibantai, dibunuh pagi Jum’at 17 Ramadhan th. 40 H. oleh seorang yang bernama Abdurrahman ibn Muljam. Pembunuh Sayyidina Ali ini orangnya qiyamul lail wa shiyamun nahar, hafidhul Qur’an. Orangnya tiap malam tahajud, sampai jidatnya hitam, tiap siang puasa, dan hafal al-Qur’an. Mengapa dia membunuh Sayyidina Ali? Karena menurutnya Sayyidina Ali itu kafir? Apa Kafir? Keluar dari Islam. Kenapa Ali kafir? Karena menurutnya, Ali menerima hasil rapat manusia. Hukum atau keputusan rapat manusia. Padahal, la hukma ilallah (tidak ada hukum selain hukum Allah), wa man lam yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun (maka barang siapa menggunakan selain hukum Allah, maka kafir). Ali tidak menggunakan hukum Allah, tetapi menggunakan hukum hasil kesepakatan rapat di Dummatul Jandal. Kalau kafir, maka harus dibunuh. Eh anak kemarin sore, mentang-mentang jidatnya hitam dan jenggotnya panjang, mengkafirkan man aslama min al-shibyan, shihru rasulillah, fatihu khaibar, min al-sabiqin al-mubasyirun bi al-jannah, bab al-ilm.

Anak kemarin sore berani mengkafirkan remaja yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali shalat jamaah di masjidil haram. Waktu itu ditertawakan oleh Abu Jahal dan teman-temannya. Waktu itu yang pertama kali shalat jama’ah di masjidil haram tiga orang. Saat itu imamnya Rasulillah, makmumnya sayyidah khadijah al-kubra dan Sayyidina Ali. Tiga orang itulah yang pertama kali shalat terang-terangan di dunia ini. Dikafirkan oleh anak kemarin sore, maklum pernah ikut pesantren kilat dua minggu.

Ali adalah shihru rasulillah, menantu rasul. Ia juga dijuluki bab al-ilmu, sahabat yang intelek dan cerdas. Ali juga adalah min al-sabiqin al-awwalin al-mubasyirun bi al-jannah, salah satu orang yang sudah dikasih tahu pasti masuk surga. Di samping sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Thaha, Zubair, Abdullah bin Auf, Abu Ubaidah, Amr bin Jarrah, sampai orang sepuluh yang dikasih tahu pasti masuk surga.

Sayyidina Ali juga dipercaya sebagai Fatihu Khaibar, yang memimpin perang mengalahkan benteng terakhirnya Yahudi di Khaibar. Dan Imam Ali juga selalu hadir dan ikut bersama rasul dalam peperangan perjuangan jihad fi sabililillah. Yang begini dikafirkan oleh anak kemarin sore, bernama Abdurrahman ibn Muljam.

Ini, penyakit seperti ini sudah mulai masuk ke Cirebon. ”Alah baca al-Qur’an juga plentang-plentong. Ngerti nggak itu asbab al-nuzul? Ngerti nggak itu tafsir? Negerti nggak itu mushtalah hadits? Shahih, hasan dan dha’if? Ngerti nggak itu qira’ah sab’ah? Apalagi qira’ah sab’ah, qira’ah yang biasa aja nggak bener kok! Ngerti nggak ushul fiqh? Ngerti nggak itu ilmu kalam? Tarikhu Tamaddun? Tarikhu Hadharah wa Tsaqafah? Ngerti nggak itu? Tahu-tahu mudah sekali mengkafirkan dan menyalah-nyalahkan orang. Alah, Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, Alhamdulillah al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa, juhala. Alah. ”

Setelah Sayyidina Ali terbunuh di Kuffah, maka gubernur Syam, Muawiyah ibn Abi Sufyan ibn Harb ibn Umayyah ibn Abdi Syams ibn Hasyim merasa plong, tidak ada saingan. Tidak ada yang diperhitungkan lagi. Maka ia mendeklarasikan diri sebagai penguasa tunggal. Lalu setelah itu buru-buru ia mengangkat anaknya yang bernama Yazid, diangkat menjadi putra mahkota, yang akan mewariskan tahta, artinya kalau ia mati, langsung digantikan anaknya, yang bernama Yazid. Yazid sendiri adalah anak seorang ibu yang bernama Maesun, orang Badui pedalaman, yang tidak suka tinggal di istana, dan suka hidup di padang pasir dan suka tidur di kemah. Yazid sendiri tidak pernah belajar ngaji dan belajar agama, ia hanya belajar berburu, naik kuda, memanah dan memainkan senjata.

Setelah Muawiyah meninggal, Yazid langsung menjadi penggantinya, penguasa umat Islam. Waktu itu diutus beberapa utusan berangkat dari Damaskus ke seluruh provinsi untuk mengambil sumpah setia dari tokoh-tokoh yang ada kepada Yazid. Utusan-utasan itu berangkat ke Mesir, ke Basrah, ke Kuffah dan juga diantaranya ke Madinah. Sampai di Madinah, para sahabat besar, seperti Abdullah ibn Umar dan lain-lainnya mau berbai’at karena dipaksa dan dibawah intimidasi. Meski yang lain bai’at, Imamuna Sayidina Husein meminta waktu untuk berfikir. ”Nanti saya fikir dulu malam ini”, katanya.

Lalu Sayyidina Husein pulang ke rumah. Di dalam kegelapan malam, beliau beserta seluruh keluarganya meninggalkan Madinah al-Munawarah berjalan kaki menuju Makkah al-Mukarramah. Masuk kota Makkah, ketika orang datang haji, orang-orang datang ke Minna, beliau beserta keluarganya keluar dari Makkah. Beliau saat itu sudah sering haji.

Ketika Sayyidina Husein keluar dari Makkah, di tengah jalan ia dinasihati oleh seorang penasihat, bahwa kalau mau melakukan perjuangan jangan pergi ke Kuffah. Karena orang Irak mudah berhianat. Sebaiknya kamu ke Yaman, karena orang Yaman jujur dan mudah tidak hianat.

Ditengah jalan lagi, Sayyidina Husein berjumpa seorang penyair bernama Farazdaq. Farazdaq bertanya mau kemana wahai yang mulia? Beliau menjawab, saya mau ke Kuffah, saya menerima lebih dari seratus surat, agar saya hijrah dan membangun peradaban di sana. Farazdaq berkata; ”Jangan percaya orang Kuffah, mulutnya bersama kita tetapi hatinya beserta Muawiyah”. Sayyidina Husein menjawab, saya akan tetap menuju Kuffah. Farrazdaq berkata lagi: ”Kalau begitu, perempuan dan anak-anak jangan kamu bawa”. Tetapi mereka tetap diajak bersama. Rupanya Allah sudah menentukan mati syahidnya Husein, sehingga Sayidina Husein tidak menerima masukan orang lain. Akhirnya beliau tetap berjalan bersama keluarga dan pengikutnya. Ada bukunya berjudul Ashabu Husein, sedikit sekali, yang bersenjata hanya berjumlah 54 orang.

Setelah Sayyidina Husein meninggalkan Farrazdaq, lalu ada orang yang bertanya. ”Wahai Farrazdaq, tadi kamu berbicara sama siapa, kok kelihatanya asyik banget”, tanya orang tersebut. Farrazdaqpun menjawab dengan lantunan bait-bait syair, yang artinya:

Tadi yang saya ajak ngomong itu, kamu ndak tahu? Kamu ndak tahu?
Dia sudah dikenal seluruh umat manusia
Baik penduduk tanah halal dan tanah haram
Ka’bah pun sudah kenal dia
Siapa dia itu?
Dia adalah anak orang yang paling mulia (Sayyidina Ali)
Dia adalah orang yang bertakwa, bersih dan suci
Kalau kamu ndak tahu? Dia putra Fatimah
Ketika orang Quraish melihatnya
Orang Quraish akan mengatakan, bahwa orang inilah
ujung orang yang mendapat kemuliaan
Dengan kakeknyalah para Rasul dan Nabi di akhiri
Karena kakeknya Nabi yang terakhir

Sayidina Husein beserta rombongan terus melanjutkan perjalanan. Dan sesampainya di padang Karbala dihadanglah oleh 400 pasukan penunggang kuda yang diperintah oleh Abdullah ibn Ziyad, yang dipimpin Umar ibn Sa’ad ibn Abd al-Waqas.

Terjadi peperangan yang tidak seimbang, termasuk hampir tentara Husein yang hanya berjumlah 54 orang. Semua yang ikut Sayidina Husein mati syahid, kecuali Imam Ali Zainal Abidin, tidak meninggal karena tidak keluar kemah karena sedang sakit demam. Dan juga istri Sayidina Husein, Fatimah, adiknya juga Sayidah Zainab dan kakaknya lagi. Kira-kira ada 4 orang yang selamat.

Sebenarnya mudah sekali untuk membunuh dan membantai Sayidina Husein, gampang. Tetapi tiap orang yang mendekat dan hendak membunuh beliau, maka akan berusaha menjauh, dan mengatakan kalau bisa jangan saya yang membunuh, tetapi yang lain saja. Kalau datang waktu adzan, waktu shalat, semuanya berhenti, lalu tidak ada yang berani menjadi Imam Shalat. Semua sepakat Sayidina Husein yang mengimami shalat. Jadi yang memusuhi juga makmum ke Sayidina Husein. Habis shalat lalu bertempur lagi.

Sampai akhirnya seorang yang menjadi jausyan (tentara, algojo), dengan berani menarik Sayidina Husein dari kudanya. Begitu jatuh, dinaikkin, diinjak, ditebas lehernya, dipisahkan kepala dan badannya. Badanya diinjak-injak oleh kuda sampai rata dan menyatu dengan tanah Karbala. Tinggallah kepalanya. Kepalanya ditancapkan di tombak, dibawa ke Kuffah, diarak keliling kota Kuffah, bersama 4 keluarganya tadi. Dari Kuffah lalu dibawa ke Syiria, Damaskus. Di kereta itu isinya, istrinya, adiknya, anaknya, dan saudaranya. Luar biasa sekali (kejamnya red.).

Sampai di Damaskus, kepala itu dipasang di depan istana Yazid. Dan setiap orang yang lewat diperintahkan oleh tentara untuk memaki-maki dan menjelek-jelekannya. Setelah kepala itu cukup lama terpajang di depan istana Yazid, Sayidah Zaynab memberanikan diri agar dizinkan membawa kepala itu pulang ke Madinah. Yazid mengizinkan. Tetapi di tengah jalan dicegat oleh tentara Yazid agar kepala tersebut tidak sampai ke Madinah. Karena takut dapat membangkitkan dan membakar emosi penduduk Madinah. Makanya kemudian kepala tersebut dibelokkan ke Mesir. Makanya makam Sayidina Husein ada di Kairo di Mesir. Ali Zainal Abidin, putra beliau, dipulangkan ke Madinah.

Saudara-saudara dan para hadirin sekalian, kenapa saya cerita demikian? Ini karena ideologi apa pun, agama apa pun, keyakinan apa pun tidak bisa besar tanpa ada pengorbanan, tanpa ada syahadah (kesyahidan). Ini terlepas dari agama apa saja. Kristen bisa maju karena banyak pengirbanan. Budha dan Hindu masih tetap ada karena banyak pengorbanan. Demikian juga Islam, berkembang sampai sekarang karena pengorbanan syuhada, banyak nyawa yang mengalir, demi mempertahankan agama Islam.

Pertama kali yang syahid dalam agama Islam adalah perempuan, namanya Sumayah. Istrinya Yasir, ibunya Amar bin Yasir, yang dibunuh oleh Abu Jahal. Lalu seminggu kemudian, suaminya dibunuh, Yasir. Seminggu kemudian, Amar akan dibunuh. Tetapi selamat, karena dalam keadaan terpaksa ia pura-pura murtad. Begitu pura-pura murtad, langsung menghadap Rasulullah saw, dan menyatakan bahwa dalam keadaan terpaksa, diancam dibunuh, ia pura-pura murtad, pura-pura mecaci maki Rasul. Rasul menanyakan, bagaimana isi hati Amar? Amar menjawab, hatinya tetap beriman. Rasul pun memaafkannya, karena memang dalam keadaan terpaksa. Jadi yang pertama syahid dalam Islam itu perempuan. Kalau laki-laki itu biasanya omongnya saja yang besar. Kalau perempuan itu buktinya ada.

Selanjutnya banyak lagi darah pengorbanan para syuhada tercurah demi mempertahankan Islam. Syuhada Badar, syuhada Uhud. Sayidina Hamzah ibn Abbas, Sayidina Hmzah ibn Abdi Muthalib, Mus’ab ibn Umay, Sayidina Khalid ibn Walid, dan yang lainnya. Darah syuhada mengalir demi melanggengkan ajaran Islam.

Syahadah Sayidina Husein tudak akan percuma, tidak sia-sia. Islam bisa sampai di Indonesia itu antara lain, disebabkan oleh syahadah Sayidina Husein. Bagitu Sayidina Husein, sebagai ahlu bait yang dibenci penguasa. Sayidina Husein memiliki putra, Ali Zainal Abidin. Zainal Abidin punya putra Muhammad al-Baqir. Muhammad al-Baqir punya putra Ja’far al-Shadiq. Ja’far al-Shadiq punya putra Musa al-Kadzim, Ismail. Musa al-Kadzim punya putra Ali al-Uraifi, yang kuburannya sekarang kuburannya di Madinah digusur dan dijadikan jalan tol. Imam al-’Uraifi punya putra namanya, ’Isha. ’Isha punya putra Ahmad. Ahmad hijrah dari Madinah ke Yaman. Dari Yamanlah Ahmad al-Muhajir punya keturunan sampai ke Kamboja, sampai ke Cirebon, Gresik. Para wali songo di pulau Jawa ini adalah kuturunan dari al-’Uraifi. Seandainya ahlu bait itu hidupnya enak, tidak dikejar-kejar mungkin Islam akan lambat datang ke Indonesia.

Syahadah Sayidina Husein tidak sia-sia. Dengan syahadah Sayidina Husein mempercepat Islam tersebar ke Timur. Pada malam hari ini kita mengenang kembali, menghormati pengorbanan cucu Rasul saw. Kita ini bukan saudaranya, bukan cucunya, bukan besannya, tetapi menghormati saja kok males banget. Malah ada yang tidak percaya, ”haul itu apa?”, ”kirim doa itu apa?” ”ndak akan nyampe”, katanya. Coba kalau kita balik doanya, doakan bahwa: ”mudah-mudahan Bapak sampean masuk neraka”. Nah kalau didoakan seperti ini maka orang itu marah juga. Berarti percaya bahwa doa itu sampai dong.

Islam yang datang ke Jawa ini adalah Islam ahli sunnah wal jama’ah, Islam yang selalu menjunjung tinggi tawasuth, berfikir moderat. Tidak ekstrem. Islam yang dibawah para habaib, sayyid, dan saddah, yang berdakwah dengan cara-cara damai. Dulu tidak ada para habaib yang galak. Mereka berdakwah dengan cara dan sarana-sarana kebudayaan yang ramah. Para wali dan Sunan itu kan para habaib, tidak ada yang galak. Tidak tahu kalau sekarang, dan akhir-akhir ini, apa ada habib yang galak. Yang jelas dulu tidak ada para habaib kalau berdakwah pakai cara-cara mengobrak-abrik rumah orang. Saya tidak tahu, kalau sekarang, mungkin ada habib yang berdakwah secara keras?

Dakwah para dakwah habib itu dengan cara-cara ramah, dan memasukkan bahasa dan budaya ke sini. Banyak kata dalam bahasa Arab masuk ke bahasa Indonesia. Dulu para ulama memoles sedemikian rupa, melalui cara-cara budaya, bahasa, yang damai. Tidak ada paksaan dalam agama. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam

Ada seorang namanya al-Hasyim dari Bani Salim al-Khazraj. Ia musyrik, punya dua anak beragama Kristen. Sewaktu Nabi masuk Madinah, ia masuk Islam. Ia pun memaksa dua anaknya agar masuk Islam. Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi: ”La ikraha fi al-din” (tidak ada paksaan dalam agama). Jadi asbab al-nuzul turunya ayat La ikraha fi al-din adalah karena kondisi berikut.

Oleh karena itu, mari kita yang ahli sunnah, dan para ahlu bait, dan para pecinta keluarga Nabi, kita tunjukkan bahwa kita berakhlak. Kita jauhi segala tindak kekerasan, kita jauhi cara-cara dakwah syiddah dan ikrah.

Rasulullah ketika Fathu Makkah, begitu masuk Makkah, lalu menyebarkan jargon bahwa hari ini adalah bukan hari pembalasan tetapi hari kembali membangun kasih sayang (yaumul marhamah). Dengan demikian sekonyong-konyong para musuh Quraisy Makkah datang ke Muhammad saw. Maka kemudian turunlah ayat yang menyeru agar Nabi pun memaafkan mereka dan meminta ampun mereka kepada Allah

Islam bukan hanya agama aqidah dan syariah. Tetapi Islam juga adalah agama Tamadun dan Tsaqafah, Islam adalah agama peradaban dan pengetahuan. Globalisasi yang di bawah islam dari timur ke Barat, adalah kemajuan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Bukan globalisasi fitnah dan fawahisy, yang seperti kita laksanakan sekarang ini

Oleh karena itu, agama tidak akan maju, bila tidak dibarengi dengan peradaban. Agama tidak akan maju bila tidak dibarengi dan diwarnai dengan budaya. Karena agama itu suci dari langit, akan langgeng bila disosialisasikan, bila dibumikan secara manusiawi, dan bukan melulu didoktrinkan. Aqidah, Iman dan Shalat serta Puasa memang dari ajaran langit. Tetapi tidak akan langgeng bila tidak dibarengi dengan budaya. Kita harus mempertahankan nilai ketuhanan dengan aktifitas manusia di bumi. Menjadikan peradaban sebuah doktrin.

Dulu kan ada tradisi sesajen, para ulama dan kyai tidak langsung menyatakannya sebagai syirik. Tetapi menyatakanya bahwa kalau kamu punya uang yah sedekahnya atau sesajennya jangan cuma di empat pojok. Tetapi ayo menyembelih kambing saja. Setelah kambing disembelih, lalu orang deramwan itu tanya mau taruh dipojok mana daging kambing itu? Maka kyai akan menjawab jangan ditaruh tetapi mari undang para tetangga untuk makan-makan dan doa serta tahlil bersama. Nah dakwah semacam ini kan ramah. Tidak langsung mengatakan ini itu syirik dan bid’ah, nanti umat lari.

Jangan sekali-kali menuding ini itu syirik atau bid’ah. Mengerti tidak apa itu bid’ah itu?. Apa yang tidak dilakukan dan diajarkan Nabi itu bid’ah Kalau tidak ngerti, diantara contoh bid’ah adalah tulisan Arab yang ada titiknya itu bid’ah. Nah titik itu ditemukan oleh Abu Aswad al-Dualy pada th. 65 H. Sudah ada titiknya juga masih banyak yang belum bisa baca al-Qur’an, maka, Imam Khalil ibn Ahmad al-Farahidi, gurunya Imam Syibawaih, bikin syakal (harakah), fathah, kasrah dan dhammah.

Sudah ada titik dan syakal, nyatanya masih banyak orang yang tidak bisa baca al-Qur’an, maka Imam Abu Ubay Qasim ibn Salam w. 242 H menyusun ilmu Tajwid, agar benar dalam membaca al-Qur’an. Mau bener baca al-Qur’an pakai ilmu Tajwid. Ilmu Tajwid itu bid’ah, karena memang semua ilmu pengetahuan itu bid’ah. Karena memang Rasul tidak mengajarkannya.

Contoh lagi, ada seorang gubernur dari Asia Tengah, Amir al-Mahdi kirim surat pada Muhammad ibn Idris ibn Syafi’i (Imam Syafi’i). Surat itu isinya tanya, saya kalau baca al-Qur’an dan Hadits, itu isinya nampak bertentangan? Lalu untuk menjawab ini Imam Syafi’i menyusun kitab Ar-Risalah, yang berisi kaidah-kaidah Ushul Fiqh. Serta ada Ushul Fiqh baru kemudian ada Ilmu Fiqh. Lalu kemudian ada penjelasan dalam Ilmu Fiqh mengenai rukun shalat. Kalau mau shalatnya benar yah mengikuti Ilmu Fiqh, yang susunannya ulama.Kalau Cuma lihat al-Qur’an dan Hadits tidak akan ketemu

Contoh satu lagi, biar jelas saja. Contohnya ada orang pergi haji, masuk hotel ambil kamar yang bagus. Begitu tanggal 8 mau ke Arafah, ia mau cari tahu berapa jarak hotel ke Arafah, ke mana arahnya, naiknya apa? Dia lalu buka al-Qur’an dan Hadits, yah tidak akan ketemu. Nah sebaiknya bagaimana, yah ikut saja rombongan yang ke Arafah. Nah ikut saja itu kan bahasa Indonesia, bahasa Arabnya yah taqlid saja.

Jadi kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan baik tanpa ilmu Fiqh, yang bukan bikinan Rasul, bukan sahabat Abu Bakar, Utsman dan Ali. Sahabat Husein juga tidak bikin Ilmu Fiqh. Nah bila ada orang shalatnya bagus sekali, lalu kita tanya, Bapak kan shalatnya bagus sekali, dari mana belajarnya Pak? Lalu bila ia jawab, ia belajar dari al-Qur’an dan Hadits, itu bohong. Kalau mau jujur, ia sebenarnya belajar dari ayah atau gurunya, yang mentok-mentoknya merujuk pada kitab Safinah. Atau kalau Safinah terlalu besar, yah mentok merujuk pada Fashalatan, atau minimal buku Petunjuk Shalat Lengkap.

Yang namanya ibadah itu harus dengan ilmu. Sedangkan ilmu itu bukan karangan Rasul dan para sahabatnya. Ilmu Mushtalah Hadits itu disusun oleh Imam Syihabuddin Arrahumuruzi atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz, setelah mengingat banyakanya hadits dha’if dan palsu. Jadi Islam itu agama peradaban, akhlak dan pengetahuan. Bukan hanya doktrin yang sering ditampilkan sangar itu.

Karena itu mari mulai malam hari ini, tingkatkan ahlak kita, tingkatkan ilmu pengetahuan kita. Pahamilah Islan dengan baik dan benar. Kalau mau memahami al-Qur’an tidak bisa langsung, polosan. Harus mengerti asbab al-nuzul, ilmu tafsir, ilmu qira’ah, ilmu bahasa Arab, nahwu sharafnya. Kalau ingin memahami ilmu hadits maka harus memahami ilmu mushtalah al-hadits.

Pada kesempatan ini, mari kita rayakan jasa para habaib dalam menyebarkan agama Islam. Seandainya tidak ada habaib dan ahlu bait, mungkin kita akan jauh bisa meneladani akhlak Rasul saw. Imam Syafii pernah menyatakan, bahwa kalau ada orang yang mencintai Ahlu Bait, lalu dianggap Syiah, maka OK tidak apa-apa, silahkan saya dianggap Syiah.

Sesungguhnya, tragedi pembantaian di Karbala yang demikian bukan hanya tragedinya Syiah, tetapi tragedi kemanusiaan. Seharusnya ini bukan hanya milik Syiah tetapi yang lain juga.

Tulisan ini adalah rekaman ceramah KH. Said Aqiel Siradj [Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)] pada acara peringatan 10 Muharam di Keraton Kasepuhan Cirebon, 07/01/2009, yang dibayang-bayangi tindak intoleransi dan diskriminasi. Rekaman ini dituliskan oleh Ali Mursyid

11.4.10

Gus Dur dan Kepemimpinan Kang Sa'id


Pada peringatan 100 hari wafatnya KH.Abdurrahman Wahid di Ciganjur tadi malam,ada sebuah cerita tentang kewalian seorang Gus Dur yang di kisahkan oleh ketua umum Tanfidziah PBNU Prof.DR.KH.Said Agil Siraadj.Dalam sambutan ringkasnya,kang Said,demikian Kiai Sufi ini biasa disapa,menceritakan;Pada suatu kesempatan Gus Dur bertandang ke kediaman Kiai Cirebon ini dan minta kepada tuan rumah untuk membacakan kitab Ihya ,tanpa sungkan sungkan Kang Said menuruti permintaan Gus Dur.namun,baru kira2 dua halaman Kiai Said membacakan Ihya,Gus Dur tertidur (yang ini mah biasa ya?..) dan Kiai Saidpun menghentikan bacaannya.Tak berapa lama kemudian,Gus Dur terbangun dari tidurnya lalu berkata kepada Kiai Said "Sampeyan nanti akan memimpin NU setelah berusia 55 tahun",kata Gus Dur singkat seperti diungkapkan kembali oleh kang Said tadi malam.dan entah kebetulan atau tidak,beberapa tahun kemudian ketika muktamar NU di Makasar bulan kemarin berlangsung,Kang Said benar-benar terpilih menjadi ketua PBNU pada usia genap 56 tahun.padahal sebelumnya Kang Said tidak pernah menceritakan perihal "ramalan" Gus Dur tersebut kepada siapapun karena takut di anggap bagian dari kampanye dirinya untuk memenangkan perebutan kursi ketua umum PBNU.yang jelas,pernyataan Gus Dur tersebut membuat kiai Said "confident" pada muktamar NU kemarin dan yakin pasti jadi (ketua umum). "karena,kalau muktamar NU kemarin saya tidak terpilih jadi ketua umum,berarti kewalian Gus Dur patut dipertanyakan!" demikian kiai Said mengakhiri ceritanya dan disambut tepuk tangan dan riuh tawa hadirin yang memadati seluruh halaman rumah mantan presiden RI tersebut.selain dihadiri oleh habaib dan kiai,dubes dan perwakilan dari agama-agama,acara doa bersama tadi malam juga dihadiri beberapa tokoh diantaranya Mahfudh MD,Rizal Ramli,Addhi Massardi,Frans Magnis Suseno dan tentu saja ketua umum NU yang baru,Said Agil Siraadj.

28.3.10

Lebih Dekat Dengan KANG SA'ID


Nama : Prof Dr KH Said Agil Siradj
Nama lengkap : Said Aqil Siradj
Nama istri : Nur Hayati Abdul Qodir
Nama Anak:

1. Muhammad Said Aqil
2. Nisrin Said Aqil
3. Rihab Said Aqil
4. Aqil Said Aqil

Tempat dan tanggal lahir: Cirebon, 03 Juli 1953
Hobby: Membaca, Silaturrahmi dan Ibadah
Riwayat Pendidikan

- Pendidikan Formal
1. S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
2. S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
3. S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994

- Non-Formal

1. Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
2. Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
3. Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975)
- Pengalaman Organisasi

1. Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974)
2. Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah (1983-1987)
3. Wakil Katib ‘aam PBNU (1994-1998)
4. Katib ‘aam PBNU (1998-1999)
5. Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) (1998)
6. Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
7. Penasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
8. Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
9. Ketua TGPF Kasus pembantaian Dukun Santet Banyuwangi (1998)
10. Penasehat PMKRI (1999-sekarang)
11. Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
12. Anggota Kehormatan MATAKIN (1999-2002)
13. Rais Syuriah PBNU (1999-2004)
14. Ketua PBNU (2004-sekarang)
- Profesional Kegiatan

1. Tim ahli bahasa indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
2. Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995-1997)
3. Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995-sekarang)
4. Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997-1999)
5. MKDU penasihat fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998-sekarang)
6. Wakil ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
7. Komisi member (1998-1999)
8. Dosen luar biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
9. Majelis Permusyawaratan Rakyat anggota fraksi yang mewakili NU (1999-2004)
10. Lulusan Unisma direktur (1999-2003)
11. Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001-sekarang)
12. Dosen pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003-sekarang)
13. UNU Dosen lulusan Universitas NU Solo (2003-sekarang)
14. Lulusan Unisma dosen (2003-sekarang)
15. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) 2010-2015

Get this blog as a slideshow!