31.3.10

Keutamaan dari Kisah Waliyullah


Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘ aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’ du… Dunia tasawuf mengenal banyak cerita sufi. Sebagian dari cerita itu termuat dalam kitab Tadzkiratul Awliya, Kenangan Para Wali , yang ditulis oleh Fariduddin Attar . Buku ini ditulis dalam bahasa Persia, meskipun judulnya ditulis dalam bahasa Arab. Selain berarti kenangan atau ingatan, kata tadzkirah dalam bahasa Arab juga berarti pelajaran. Sehingga Tadzkiratul Awliya berarti pelajaran yang diberikan oleh para wali. Attar mengumpulkan kisah para wali; mulai dari Hasan Al-Bashri, sufi pertama, sampai Bayazid Al-Busthami. Dari Rabiah Al-Adawiah sampai Dzunnun Al-Mishri. Selain buku ini, Attar juga menulis buku cerita sufi berjudul Manthiquth Thayr, Musyawarah Para Burung. Berbeda dengan kitab pertama yang berisi cerita para tokoh sufi, kitab ini berbentuk novel dan puisi sufi. Sebagian besar ceritanya bersifat metaforis. Fariduddin dijuluki Attar (penjual wewangian), karena sebelum menjadi sufi ia memiliki hampir semua toko obat di Mashhad, Iran. Dahulu, orang yang menjadi ahli farmasi juga sekaligus menjadi penjual wewangian. Sebagai pemilik toko farmasi, Attar terkenal kaya raya. Sampai suatu hari, datanglah seorang lelaki tua. Kakek itu bertanya, “Dapatkah kau tentukan kapan kau meninggal dunia?” “Tidak,” jawab Attar kebingungan. “Aku dapat,” ucap kakek tua itu, “saksikan di hadapanmu bahwa aku akan mati sekarang juga.” Saat itu juga lelaki renta itu terjatuh dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Attar terkejut. Ia berpikir tentang seluruh kekayaan dan maut yang mengancamnya. Ia ingin sampai pada kedudukan seperti kakek tua itu; mengetahui kapan ajal akan menjemput. Attar lalu meninggalkan seluruh pekerjaannya dan belajar kepada guru-guru yang tidak diketahui. Menurut shahibul hikayat, ia pernah belajar di salah satu pesantren di samping makam Imam Ridha as, di Khurasan, Iran. Setelah pengembaraannya, Attar kembali ke tempat asalnya untuk menyusun sebuah kitab yang ia isi dengan cerita-cerita menarik. Tradisi mengajar melalui cerita telah ada dalam kebudayaan Persia. Jalaluddin Rumi mengajarkan tasawuf melalui cerita dalam kitabnya Matsnawi-e Ma’nawi. Penyair sufi Persia yang lain, Sa’di, juga menulis Gulistan, Taman Mawar, yang berisi cerita-cerita penuh pelajaran. Demikian pula Hafizh dan beberapa penyair lain. Tradisi bertutur menjadi salah satu pokok kebudayaan Persia. Kebudayaan Islam Indonesia juga mengenal tradisi bercerita. Islam yang pertama datang ke nusantara adalah Islam yang dibawa oleh orang-orang Persia lewat jalur perdagangan sehingga metode penyebaran Islam juga dilakukan dengan bercerita. Mereka menggunakan wayang sebagai media pengajaran Islam. Dalam pengantar Tadzkiratul Awliya, Attar menjelaskan mengapa ia menulis buku yang berisi cerita kehidupan para wali. Alasan pertama, tulis Attar, karena Al-Quran pun mengajar dengan cerita. Surat Yusuf, misalnya, lebih dari sembilan puluh persen isinya, merupakan cerita. Terkadang Al-Quran membangkitkan keingintahuan kita dengan cerita: Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang cerita yang dahsyat, yang mereka perselisihk an. (QS. An-Naba; 1-3). Bagian awal dari surat Al-Kahfi bercerita tentang para pemuda yang mempertahankan imannya: Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini. (QS. Al-Kahfi; 10) Surat ini dilanjutkan dengan kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidhir, diteruskan dengan riwayat Zulkarnain, dan diakhiri oleh cerita Rasulullah saw. Demikian pula surat sesudah Al-Kahfi, yaitu surat Maryam, yang penuh berisi ceritera; Dan kenanglah kisah Maryam dalam Al-Quran. Ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke satu tempat di sebelah timur . (QS. Maryam; 16) Al-Quran memakai kata udzkur yang selain berarti “ingatlah” atau “kenanglah” juga berarti “ ambillah pelajaran.” Attar mengikuti contoh Al-Quran dengan menamakan kitabnya Tadzkiratul Awliya. Alasan kedua mengapa cerita para wali itu dikumpulkan, tulis Attar, adalah karena Attar ingin mendapat keberkahan dari mereka. Dengan menghadirkan para wali, kita memberkahi diri dan tempat sekeliling kita. Sebuah hadis menyebutkan bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang amat dekat dengan Allah swt. Bila mereka tiba di suatu tempat, karena kehadiran mereka, Allah selamatkan tempat itu dari tujuh puluh macam bencana. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah mereka itu dan bagaimana mereka mencapai derajat itu?” Nabi yang mulia menjawab, “Mereka sampai ke tingkat yang tinggi itu bukan karena rajinnya mereka ibadat. Mereka memperoleh kedudukan itu karena dua hal; ketulusan hati mereka dan kedermawanan mereka pada sesama manusia.” Itulah karakteristik para wali. Mereka adalah orang yang berhati bersih dan senang berkhidmat pada sesamanya. Wali adalah makhluk yang hidup dalam paradigma cinta. Dan mereka ingin menyebarkan cinta itu pada seluruh makhluk di alam semesta. Attar yakin bahwa kehadiran para wali akan memberkahi kehidupan kita, baik kehadiran mereka secara jasmaniah maupun kehadiran secara ruhaniah. Dalam Syarah Sahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan dalil dianjurkannya menghadirkan orang-orang salih untuk memberkati tempat tinggal kita. Ia meriwayatkan kisah Anas bin Malik yang mengundang Rasulullah saw untuk jamuan makan. Tiba di rumah Anas, Rasulullah meminta keluarga itu untuk menyediakan semangkuk air. Beliau memasukkan jari jemarinya ke air lalu mencipratkannya ke sudut-sudut rumah. Nabi kemudian shalat dua rakaat di rumah itu meskipun bukan pada waktu shalat. Menurut Imam Nawawi, shalat Nabi itu adalah shalat untuk memberkati rumah Anas bin Malik. Imam Nawawi menulis, “Inilah keterangan tentang mengambil berkah dari atsar-nya orang-orang salih.” Sayangnya, tulis Attar dalam pengantar Tadzkiratul Awliya, sekarang ini kita sulit berjumpa dengan orang-orang salih secara jasmaniah. Kita sukar menemukan wali Allah di tengah kita, untuk kita ambil pelajaran dari mereka. Oleh karena itu, Attar menuliskan kisah-kisah para wali yang telah meninggal dunia. Attar memperkenalkan mereka agar kita dapat mengambil hikmah dari mereka. “Saya hanya pengantar hidangan,” lanjut Attar, “dan saya ingin ikut menikmati hidangan ini bersama Anda. Inilah hidangan para awliya.” Attar lalu menulis belasan alasan lain mengapa ia mengumpulkan ceritera para wali. Yang paling menarik untuk saya adalah alasan bahwa dengan menceritakan kehidupan para wali, kita akan memperoleh berkah dan pelajaran yang berharga dari mereka. Seakan-akan kita menemui para wali itu di alam ruhani, karena di alam jasmani kita sukar menjumpai mereka. Seringkali kita juga lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran dari cerita-cerita sederhana ketimbang uraian-uraian panjang yang ilmiah. Berikut ini sebuah cerita dari Bayazid Al-Busthami, yang insya Allah, dapat kita ambil pelajaran daripadanya; Di samping seorang sufi, Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu. Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Bayazid, “Tuan Guru, saya sudah beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun yang Tuan gambarkan.” Bayazid menjawab, “Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.” Murid itu heran, “Mengapa, ya Tuan Guru?” “Karena kau tertutup oleh dirimu,” jawab Bayazid. “Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?” pinta sang murid. “Bisa,” ucap Bayazid, “tapi kau takkan melakukannya.” “Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah murid itu. “Baiklah kalau begitu,” kata Bayazid, “sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping. Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, “Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang.” Lalu datangilah tempat di mana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, “Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!” “Subhanallah, masya Allah, lailahailallah,” kata murid itu terkejut. Bayazid berkata, “Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.” Murid itu keheranan, “Mengapa bisa begitu?” Bayazid menjawab, “Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci, seakan-akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.” “Kalau begitu,” murid itu kembali meminta, “berilah saya nasihat lain.” Bayazid menjawab, “Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!” Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Bayazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan takabur. “Hati-hatilah kalian dengan ujub,” pesan Iblis. Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya. Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Bayazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah swt. Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak. Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi saw, “Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?” Nabi menjawab, :”Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber-istiqamah-lah kamu.” Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadat sebagai investasi. Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadat, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama. Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw Abu Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar berkata kepada Nabi, “Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulallah.” Nabi hanya berkata, “Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya.” Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, “Bukankah kalau kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di majelis itu?” Sahabat yang ditanya menjawab, “ Allahumma, na’am. Ya Allah, memang begitulah aku.” Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi. Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang mau membunuh orang itu?” “Aku,” jawab Abu Bakar. Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, “Ya Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku’. ” Nabi tetap bertanya, “Siapa yang mau membunuh orang itu?” Umar bin Khaththab menjawab, “Aku.” Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu, “Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?” Nabi masih bertanya, “Siapa yang akan membunuh orang itu?” Imam Ali bangkit, “Aku.” Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, “Ia telah pergi, ya Rasulullah.” Nabi kemudian bersabda, “Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah sepeninggalku….” Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah: Selama di tengah- tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Bayazid Al-Busthami kepada santrinya. oleh : KH. Jalaluddin Rakhmat

30.3.10

Mengingat-ingat lagi Sang Master Mister (AHMAD DHANI)



Ahmad Dhani , dikenal sebagai pentolan grup Dewa 19 , pencipta lagu dan juga sebagai produser rekaman. Sosok sebagai musisi dikenal penuh kontroversial dan sensasi, baik dalam syair lagunya maupun tingkah polah kehidupan sehari-harinya. Sosok kontroversinya diperlihatkan lewat syair-syair lagunya yang ' terlalu dalam' dan memiliki makna bias hingga memunculkan pertentangan. Terlahir di Surabaya pada 26 Mei 1972 , Dhani juga pernah menghadapi masalah saat album LASKAR CINTA menuai protes dari kelompok Islam garis keras. Ayah tiga anak ini dianggap melecehkan atas penggunaan logo albumnya yang dianggap suci. Meski tetap merasa tidak bermaksud melecehkan agama tertentu,Dhani akhirnya bersedia melakukan perubahan pada logo tersebut.Pria bernama lengkap Dhani Ahmad Prasetyo ini juga pernah diadukan ke Polisi oleh penulis, Yudhistira ANM Massardi, karena dianggap menjiplak judul Arjuna Mencari Cinta yang digunakan untuk salah satu judul album Dewa 19 . Meski melalui perseteruan panjang, Dhani akhirnya bersedia meminta maaf di media dan berakhir dengan perdamaian.
Dhani kini masih tetap eksis bersama Dewa 19 , meski beberapa kali terjadi penggantian personel. Bahkan semakin melebarkan sayap dengan bendera Republik Cinta Artis Management , yang menaungi grup-grup baru miliknya, The Rock, Dewi-Dewi, White Snow, Andra&The Backbone dan Dewa 19 sendiri. Dhani pernah menikah dengan Maya Estianty atau populer dengan nama Maia Ahmad . Dari perkawinannya dengan perempuan asal Surabaya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak laki-laki, yang diberi nama Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Ahmad Abdul Qodir Jaelani. Nama-nama tersebut diambil dari nama-nama tokoh sufi yang menjadi idola Dhani . Pernikahan Dhani - Maia mulai retak setelah Maia semakin populer bersama Ratu . Dhani mengklaim Maia terlalu sibuk dan menelantarkan anak-anak mereka. Setelah melalui perseteruan panjang di media dan pengadilan agama, mereka resmi bercerai pada 23 September 2008. Hak asuh ketiga anak mereka, Al, El, dan Dul jatuh ke tangan Maia . Untuk keputusan itu, Dhani berniat mengajukan banding. Meski hak asuh anak jatuh ke tangan Maia , namun sampai detik ini ketiga putra hasil pernikahannya dengan Maia , masih tinggal bersama Dhani . Dhani yang pernah dilaporkan oleh pakar telematika Roy Suryo terkait penggunaan bendera merah putih pada video klip Dewa 19 ini pada bulan Februari 2009 , menjelang hari kasih sayang menjadi sangat populer di dunia maya. Bersama nama Mulan Jameela , menjadi nama yang paling banyak dicari di internet. Menjelang Pemilu 2009 , banyak artis yang maju sebagai caleg ( calon legislatif) bahkan ada pula yang berniat menjadi presiden. Lewat partai PKB, nama Dhani menjadi salah calon yang akan diajukan sebagai calon presiden. Namun, Dhani sendiri lebih memilih berkarir di musik dan mengurus ketiga putranya ketimbang berkiprah di dunia politik. Bertepatan dengan ultahnya yang ke-37 tahun, Dhani digaet oleh produk asal Inggris, Lee Cooper untuk mengeluarkan t- shirt khusus yang bertajuk Lee Cooper - Ahmad Dhani Collaboration.

Awal Juni, lagi-lagi Dhani harus berurusan dengan hukum. Rumah milik Dhani dikabarkan diberitakan akan disegel oleh Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta, karena dianggap menyalahi tata kota. Rumah yang berlokasi di Jl. Pinang Emas III, Blok E1-2 , Pondok Indah, Jakarta Selatan itu akan mulai disegel. Dhani sendiri masih enggan berkomentar, dengan alasan belum menerima surat resmi dan masih berkonsultasi dengan pengacaranya. Tangan dingin Dhani dalam menghasilkan talenta-talenta baru di dunia musik Indonesia, patut diacungi jempol. Setelah The Virgin, kali ini giliran The Moon.
Selain itu masih ada band-band baru lainnya. Untuk itu, Dhani mengeluarkan album kompilasi bertajuk NEW BEGINNING 09 pada awal Juni 2009. Album ini sendiri menampilkan 9 band yang bernaung di bawahnya, The Virgin, The Law, Lucky Laki, The Moon, Zewex & The Cuncuzna, Airplay, Rafflesia, Kamusuka , dan Tiramizu . Gosip hubungan antara Dhani dan Mulan memang sudah lama berhembus. Pada Agustus 2009 , gosip ini kembali santer terdengar. Pemicunya Dhani yang mengatakan jika ia sudah memiliki istri baru. Dan banyak orang menghubungkan istri baru ini dengan nama Mulan . Padahal saat itu Dhani mengatakan sambil bercanda. Tak ada yang tahu hingga kini, mengenai kebenaran berita ini. Pertengahan Agustus 2009 , Dhani kembali jadi sorotan. Kala itu Dhani yang tidak menyetujui wartawan yang tengah mewawancarai Mulan sempat menghardik dan menepis kamera wartawan dari sebuah televisi swasta. Namun Dhani membantah jika melakukan pemukulan, dan ia siap melayani tuntutan jika ada. Mengawali tahun 2010 dibuka Dhani dengan berita pencarian babysitter untuk ketiga anaknya, Al , El dan Dul yang ditaruhnya di iklan sebuah harian ternama.
Bakat musik Dhani mulai bergejolak saat duduk di bangku SMPN 6 Surabaya . Dhani bersama 3 orang sahabatnya Andra Junaidi , Erwin Prasetya , dan Wawan Juniarso , kemudian mendirikan grup band DEWA pada tahun 1986. Dhani bertindak pada vokal dan keyboard. Saking tergilanya pada musik, tak jarang Dhani bolos sekolah untuk sekedar berkumpul bersama teman-temannya di DEWA untuk sekedar memainkan alat musik di rumah Wawan di kawasan komplek Universitas Airlangga . Dhani semula yang menteng di jalur rock , kemudian mencoba jalur musik jazz yang kemudian diikuti perubahan nama Dewa menjadi Downbeat . Bersama Downbeat, Dhani sempat menjuarai Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur , juara I Festival band SLTA ‘90 atau juara II Djarum Super Fiesta Musik . Namun akhirnya Dhani kembali ke jalur rock dan mengibarkan bendera DEWA 19 dengan tambahan Ari Lasso . Karena tidak ada studio yang memadai di Surabaya, pada tahun 1991 Ahmad Dhani hijrah ke Jakarta untuk mencari perusahaan rekaman yang akan melabeli Dewa 19. Dengan modal seadanya, Dhani menginjak rimba ibukota, gentayangan dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kota. Setelah sempat ditolak sejumlah label, akhirnya dhani dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records . Usaha Dhani tidak sia- sia, album perdana Dewa 19 (1992) sukses besar dengan melejitnya sejumlah hits seperti ”Kangen” dan ”Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi”. Album ini tercatat sebagai album terlaris 1993 dan Dewa dianugerahi sebagai pendatang baru terbaik. Sukses Dewa 19 berlanjut di album-album berikutnya. Hingga saat ini tak kurang dari sebelas album yang telah dirilis Dhani bersama Dewa, yaitu Dewa 19 (1992) , Format Masa Depan (1994) , Terbaik Terbaik (1995) , Pandawa Lima (1997) , The Best Of Dewa 19 ( 1999) , Bintang Lima (2000) , Cintailah Cinta (2002) , Atas Nama Cinta I & II (2004) , Laskar Cinta (2004) , Republik Cinta (2006) , dan Kerajaan Cinta (2007). Meski telah beberapa kali mengalami pergantian personel, sampai saat ini Dewa 19 masih tetap eksis di blantika musik Indonesia. Karir Lain Selain aktif di Dewa 19 , Dhani juga sibuk dengan kegiatan lain. Pada tahun 1999 , ia sempat melahirkan Ahmad Band, yang sempat dikenal dengan tembang ”Kuldesak” dan ”Aku Cinta Kau Dan Dia”. Selain itu Dhani juga menjadi memproduseri artis lain selain Dewa 19. Sejak kesuksesan Dhani melambungkan nama Reza Artamevia di tahun 1997 , ia mulai sering memproduseri artis lain, dan melahirkan bakat-bakat baru dalam dunia musik. The Rock Bermula dari perekaman album solonya di Australia, Dhani bertemu dengan 3 anggota band Hospital The Musical , yaitu Clancy Alexander Tucker , Zachary Haidee-Keene , Michael Bennett di Studio 301 , Sydney – Australia. Dari pertemuan itu munculah ide untuk berkolaborasi dalam sebuah grup musik. Dhani yang memiliki niat untuk go international menerima ajakan tersebut dan terbentuklah The Rock yang mana Hospital The Musical tidak bubar dan Dhani juga tidak meninggalkan Dewa 19 . Pada Agustus 2007 , lahirlah album pertama The Rock dengan tajuk Master Mister Ahmad Dhani I yang mencetak single ” Munajat Cinta”. Hospital The Musical pernah mengikuti tour Marlboro Kretek di Indonesia, pada bulan Agustus-September 2007. Saat itu mereka menggunakan nama Fire Shark, bersama vokalis Mark Williams Jazz Salah satu musik kegemaran Si Jenggot (panggilan akrab Dhani) adalah musik Jazz . Dia berkerja sama dengan Tim Oram, musisi Jazz di Sydney . Bersama Tim dia berkolaborasi dengan musisi- musisi jazz di Australia. Terdapat 4 lagu Jazz di album The Rock, dan April 2009 , dia merilis album 100 % Jazz dengan judul The Best Is Yet To Come .



Wafatnya Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, meninggalkan kesedihan bagi Ahmad Dhani. Pentolan grup band Dewa ini mengakui, presiden keempat RI itu adalah salah satu idolanya. Meski demikian, Dhani bersyukur sempat memboyong anak-anaknya ke kediaman Gus Dur, pada 2005. Mantan suami Maia Estianti ini mengaku bangga ketika ia memperkenalkan tiga anaknya, Al, El, Dul pada Gus Dur. Lebih berkesan lagi, Dhani bisa mengabadikan momen tersebut dalam pigura yang menempel di dinding rumah. "Saya berharap, pemikiran dan sikap Gus Dur bisa menurun ke Al, El dan Dul," harapnya, seperti dilansir Hot Shot SCTV , Jumat (1 /1). Kedekatan Dhani dan Gus Dur terjadi ketika dirinya tertimpa masalah terkait logo album Laskar Cinta pada 2005. Adalah Front Pembela Islam (FPI), organisasi pimpinan Habib Rizieq yang menyampaikan keberatan. Dewa dianggap melecehkan umat Islam karena kaligrafi Lafdhul Jalalah (Allah) lafad yang menjadi logo album dilukis pada lantai panggung pertunjukan Dewa. Di mata Gus Dur, persoalan tersebut hanyalah masalah kecil dan teknis. Gus Dur justru meminta Habib Rizieq dan FPI supaya tidak mempersoalkan lebih jauh masalah ini. Alasannya, masalah tersebut tidak terlalu prinsip. Karena itulah, Dhani meminta dukungan moril pada Gus Dur. "Gus Dur adalah dua orang yang terkenal di Indonesia, dua orang yang terpandai di Indonesia, terjenius di Indonesia," ungkap Dhani menganalisis tokoh idolanya. Satu tokoh lain yang dikagumi Dhani adalah presiden pertama RI, mendiang Soekarno.(OMI/ANS/liputan6. com)

Ancaman baru Terorisme


Setelah Noordin M Top tewas di tangan Densus 88,publik menganggap ancaman terorisme di Indonesia sudah berakhir.Keterangan resmi pemerintah yang menunjuk hubungan antara Aceh dan penyergapan mematikan terhadap Dulmatin di Pamulang (Kompas.com,10/03/2010) mematahkan anggapan itu.Aksi terorisme masih berbahaya.Pejabat keamanan menghubungkan perkembangan ancaman terbaru dengan Dulmatin dan Umar Patek,pentolan teroris paling dicari di AsiaTenggara bertahun-tahun. Pesannya jelas, kelompok ini masih jadi ancaman di kawasan ini. Sasaran yang dituju tampaknya Jemaah Islamiyah (JI), sempalannya, atau organisasi terkait. Aparat keamanan di wilayah ini menganggap tingkat bahaya sedang naik, seperti juga dilaporkan intelijen Singapura tentang ancaman teror di Selat Malaka. Laporan-laporan resmi menyebut JI organisasi jaringan teroris berbasis luas di Asia Tenggara. Meski tak mengontrol wilayah tertentu sebagai basis tetap operasi, JI dipercayai bergerak di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. JI juga dianggap sebagai tandem Al Qaeda di wilayah ini sehingga PBB menyebutnya sebagai organisasi teroris internasional. Sejak George W Bush meluncurkan Global War on Terror di bawah hegemoni Amerika Serikat sesudah serangan 9 /11 , JI dimasukkan sebagai musuh utama di Asia Tenggara. Kawasan ini dianggap second front perang melawan terorisme kendati sejumlah ahli mempersoalkan relevansi sebutan itu karena konteks historis, sosial, dan politik wilayah ini berbeda dengan Timur Tengah, misalnya. Pemerintah di kawasan ini, khususnya Indonesia, di bawah dukungan AS dalam bentuk latihan, peralatan, dan keuangan, lantas bekerja keras memerangi aksi terorisme. Kelemahan Ada dua hal terkait terorisme di Indonesia yang perlu diperhatikan. Pertama, pengetahuan kita mengenai aksi terorisme sangat terbatas. Studi tentang terorisme di Indonesia dan Asia Tenggara didominasi studi berbasis pendekatan tradisional, yang bersandar ke studi keamanan ortodoks dan studi tentang counter-insurgency. Studi semacam ini cenderung membatasi asumsi tentang sifat, penyebab, dan jalan keluar terhadap terorisme dengan bersandar pada negara. Problemnya, pengetahuan yang dihasilkan patut diperdebatkan karena kerap tak ditunjang data empiris kuat ( Jakcson, 2007) dan dangkal. Kelemahan karya-karya akademik tentang terorisme, khususnya tentang JI, pernah dipersoalkan oleh Hamilton-Hart (2005). Dia mengingatkan kualitas informasi dan penyederhanaan aksi terorisme sebagai masalah patologi pelakunya. Banyak studi yang dihasilkan ahli terorisme dipenuhi catatan kaki bersumber dari BAP polisi, dakwaan jaksa, pembelaan di pengadilan, keputusan hakim, dan laporan intelijen, tanpa investigasi konteks historis secara lebih luas. Ini diperburuk pemberitaan media mainstream yang secara berulang menerbitkan dan menyiarkan berita dengan bersandar pada laporan-laporan itu atau mengembangkan wawancara dengan pejabat keamanan yang dianggap memiliki otoritas. Masalah pokoknya, menurut Lafree & Dugan (2007) , data pemerintah sarat pertimbangan politik tentang terorisme. Studi semacam itu akan terjebak dalam apa yang oleh Herman & O’Sullivan (1989) dianggap bagian industri terorisme Dengan aktor beragam, seperti pejabat dan lembaga pemerintah, lembaga penelitian, analis, perusahaan keamanan swasta, industri ini sebenarnya bekerja melayani kepentingan pasar. Kedua, dengan basis pengetahuan seperti itu, kelemahan berikutnya adalah penyelesaian aksi terorisme oleh pemerintah yang mengandalkan pendekatan ”perang” semata. Hasilnya, penyergapan mematikan, penjara, surveillance, dan pendekatan karitatif dalam pemulihan eks-teroris ternyata tidak mengakhiri ancaman terorisme. Perlu studi komprehensif yang menghindar dari anggapan bahwa kekerasan sebagai sesuatu yang endemik di dalam ajaran agama dan hanya terjebak mengurai jejaring para aktor teror. Sebaliknya, kita memusatkan perhatian pada lingkungan politik dan ekonomi dalam kurun waktu tertentu di mana tindakan-tindakan teroris berlangsung. Fakta bahwa banyak di antara pimpinan JI terlibat dalam perang mujahidin di Afganistan pada 1980- an memberi isyarat, radikalisme disertai kekerasan yang muncul sesudahnya, kuat berakar di Perang Dingin. Para mujahidin, termasuk Bin Laden, yang ambil bagian dalam perang kontra- revolusi di negeri itu diagung-agungkan Ronald Reagan sebagai pahlawan. Perubahan setelah Perang Dingin, konteks ekonomi dan politik terorisme global bisa diinvestigasi. Penerapan neoliberalisme terutama lewat instrumen perang imperialis AS di Irak telah menyuburkan sentimen global melalui serangan teroris yang saling terkait. Di Indonesia, retorika anti-AS memperoleh lahan subur, sebagian tersalur lewat aksi terorisme dan ketidakpuasan terhadap imperialisme diungkapkan lewat perang berjubah agama. Soal global ini berbaur dengan proses exclusion secara politik dan ekonomi dalam 10 tahun ini. Terjadinya restorasi kelas, di mana proses pengerukan kekayaan tak saja terjadi lewat akumulasi kekayaan ke tangan segelintir orang, tetapi juga ke negara kaya, menimbulkan ketidakpuasan meluas. Kemiskinan, pengangguran, tersingkir secara sosial dan politik, jadi pemicu bangkitnya ilusi kekerasan berdalih agama. Pemerintah perlu mengubah pendekatan pemberantasan terorisme dari pendekatan ”perang” semata ke perubahan kebijakan ekonomi politik mendasar. Salah satu yang mendesak adalah pemerintah harus bisa mengatakan hal berbeda kepada AS dalam hubungan dengan perang Irak ataupun Afganistan sebagai akar dari aksi-aksi terorisme. Kunjungan Obama mestinya dimanfaatkan untuk menyampaikan nota politik baru tentang itu, bukan terjebak diplomasi datar, melaporkan ”keberhasilan” memerangi terorisme, apalagi sekadar untuk pencitraan politik. Arianto sangaji Penulis Buku ”Penanganan Terorisme”, Sedang Studi di Toronto, Kanada

JAKA TINGKIR


Asal-usul Nama aslinya adalah Mas Karèbèt , putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. [1] Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar . Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia. Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kesultanan Demak . Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus . Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir). Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga . Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela , dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani , Ki Ageng Pemanahan , dan Ki Panjawi. Silsilah Jaka Tingkir : Andayaningrat (tidak diketahui nasabnya) + Ratu Pembayun (Putri Raja Brawijaya)→ Kebo kenanga (Putra Andayaningrat)+ Nyai Ageng Pengging→ Mas Karebet/Jaka Tingkir Mengabdi ke Demak Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak . Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur . Jaka Tingkir pandai menarik simpati Sultan Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama . Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan SADAK KINANG. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak . Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro(saudara seperguruan ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil. Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai ke tujuan. Saat itu Sultan Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan Sultan di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya. Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Sultan Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama. Kisah dalam naskah-naskah babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak , dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati Sultan kembali. Menjadi Sultan Pajang Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi . Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempa, putri Sultan Trenggana . Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546 , putranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan sholat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan adik Kandung Sultan Trenggono sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara . Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang , tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang . Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto ) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus. Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/ Mataram sebagai hadiah. Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela , yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani ( kakak ipar Ki Ageng Pemanahan ) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang. Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai sultan pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Suan Prawoto yang menjadi Adipatinya Sultan Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi. Sumpah setia Ki Ageng Mataram Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Sultan Adiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram . Sampai tahun 1556 , tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang . Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi sultan usai kematian Arya Penangsang . Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang . Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu. Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani , membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram . Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti. Menundukkan Jawa Timur Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Sultan Trenggana , banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri. Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya . Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang , Madura , dan Blambangan . Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Sultan Adiwijaya dengan para adipati Bang Wetan. Sunan Prapen berhasil meyakinkan para adipati sehingga mereka bersedia mengakui kedaulatan Kesultanan Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya. Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya. Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut. Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir. Pemberontakan Sutawijaya Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Sultan Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575 , Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram , dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh. Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram . Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus. Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya . Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban ), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya . Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga. Maka sesampainya di Pajang , Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya , sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Sultan Adiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri. Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang , bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya. Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram . Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang . Kematian Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Sultan Adiwijaya untuk menyerang Mataram . Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut. Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba. Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang , datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah. Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya , karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela. Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya. Pengganti Sultan Adiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak . Arya Pangiri sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang menggantikan Sultan Trenggono menjadi Raja Demak. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus ) untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang , bergelar Sultan Ngawantipura.

Muktamar NU,Gus Ulil dan JIL


Empat tahun “menghilang” ke Amerika Serikat, Ulil Abshar-Abdalla pulang ke Indonesia dan melempar kejutan. Dia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-32, Januari mendatang. Menurut Ulil, Nahdlatul Ulama sudah berubah dan saatnya dipimpin orang yang lebih muda. “Tentu dengan dukungan kiai-kiai senior,” katanya. Kepada para senior di Nahdlatul Ulama ini, Ulil juga siap menjelaskan berbagai pendapatnya yang dianggap kelewat liberal. Dia mengatakan pikiran dan kritiknya selama ini sebenarnya tak diarahkan ke NU, tapi dialamatkan ke kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Untuk melaksanakan niatnya, ia melakukan dialog dengan kalangan NU dan pesantren. Ulil berdialog bersama Forum Kiai Muda, di antaranya, KH Abdullah Syamsul Arifin dari Jember, Ustad Romli, Syaichul Islam, Dr M Mas’ud Said, dan KH Abdurrohman Navis. Setelah memberikan ceramah di Masjid At-Taqwa, Rewwin Waru Sidoarjo, menantu KH A Mustofa Bisri ini memanfaatkan sebuah forum yang digelar di Pesantren Bumi Sholawat asuhan KH Agoes Ali Masyhuri, Tulangan Sidoarjo, Minggu (11 /10) kemarin. Para kiai muda NU yang selama ini berbeda pendapat terkait JIL ( Jaringan Islam Liberal) yang dikomandoi Ulil dimaksudkan sebagai tabayun (penjelasan mengenai suatu masalah), dan debat terbuka. Tujuan dilaksanakan acara tersebut untuk membudayakan tabayun di kalangan warga nahdliyin sekaligus memberi pelajaran terkait berbagai perbedaan yang ada. “Sebagai orang tua, saya ini harus bisa mengayomi siapa saja. Salah satunya dengan membudayakan forum tabayun dan menjauhkan dari caci maki dan sejenisnya,” kata KH Agoes Ali Masyhuri, pada Duta, kemarin. Memang, lanjutnya, dalam pertemuan itu tidak diharapkan adanya titik temu, namun paling tidak sudah ada ruang untuk bertemu untuk berdialog. Di antara yang cukup menarik, adalah kehadiran Ustadz Romli dan Syaichul Islam yang tengah menimba ilmu di Mesir. Sedangkan Uli sendiri pada kesempatan tersebut melakukan debat dengan meyakinkan. “Berbagai perbedaan itu sangat biasa dan tidak perlu diributkan. Bila ada yang kurang tepat harus dibenarkan dan jauh dari pengadilan. Sebab, kesemuanya itu adalah aset NU. Namun yang perlu diketahui dan diingat terkait hal-hal yang bersifat aqidah dan konsep wahyu merupakan hal yang sangat sensitif. Hal ini perlu dimengerti. Kalau sudah ada pengertian dengan sendirinya tidak akan terjadi caci maki, namun terjadi tabayun,” kata Gus Ali, yang juga Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim. Ada yang menilai, Ulil nekat bila mengincar kursi PBNU. “Bukannya sombong, saya rasa modal saya memadai. Saya punya pendidikan pesantren yang baik, mengaji fikih sesuai dengan hierarki pesantren, punya pemahaman kitab kuning cukup baik. Saya lulus dari LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) dan punya pendidikan Barat. Saya juga lahir dari keluarga NU dan berkiprah di NU cukup lama,” tutur Ulil Abshar-Abdalla. Untuk maju sebagai ketua umum, memang perlu restu kiai, seperti kiai Langitan, Tebuireng, dan Asembagus. Bagaimana penerimaan pesantren-pesantren itu terhadapnya. Ia pun memang baru pergi ke Asembagus, Situbondo dan bertemu beberapa kiai. Ia yakin bakal mendapat restu dari kiai pesantren. Memang ada yang beranggapan Ulil berikiran terlalu bebas. Tapi, ia yakin mereka bisa paham kalau dijelaskan. Apalagi, sebagian kalangan NU merespons negatif Jaringan Islam Liberal (JIL). Dan itu, jelas tak menguntungkan pencalonan Ulil. “Pencitraan negatif itu datang dari luar NU dan merembes ke NU. Saya ingin mengubah citra itu. Pikiran dan kritik saya selama ini sebenarnya tak diarahkan ke NU, tapi dialamatkan ke kelompok- kelompok radikal di Indonesia. Bagi saya, liberal juga bukan berarti bebas tanpa batas. Saya akan berusaha mendekatkan ide-ide saya dengan bahasa NU. Di NU sendiri sebenarnya banyak sekali tradisi liberal. Dalam kasus bunga bank, misalnya, tak ada keputusan final bahwa bunga bank termasuk riba yang haram. Ada tiga pendapat di NU,” kata Ulil Abshar-Abdalla. Adakah ia punya pendapat soal perlunya reformasi di tubuh NU. “ Menurut saya, NU ke depan bukan hanya milik muslim tradisional. Tantangannya adalah bagaimana mendekatkan NU ke kelas menengah kota dan bagaimana berhadapan dengan kelompok radikal. Diaspora kaum muda NU juga sudah sedemikian luas, tak hanya di pedalaman, tapi juga di kota-kota besar. Jumlah mereka besar. Banyak juga yang bersekolah hingga ke berbagai negara, dari Mesir, Saudi, Pakistan, hingga Inggris dan Amerika. Ini yang harus diperhatikan NU di masa depan. Dan saya kira untuk merangkul mereka dibutuhkan pemimpin muda,” tuturnya seraya tertawa. Pada bagian lain, Ulil menilai kecenderungan NU yang kerap tergiur terjun ke politik. Menurutnya, hal Itu memang masalah besar. Aura partai memang merusak langgam NU. NU memang sulit berpisah dengan politik karena, sebagai ormas besar, bobot politiknya juga besar sekali. “Idealnya sih kiai memang tidak berpolitik. Seperti kata Arief Budiman, mereka harusnya menjadi cendekiawan di atas angin. Tapi okelah, tantangan ke depan, bagaimana NU menempatkan diri secara proporsional,” kata Ulil. Ulil Abshar-Abdalla (lahir di Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967) adalah seorang tokoh pemikir Islam di Indonesia. Ulil berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama. Ayahnya Abdullah Rifa’i dari pesantren Mansajul Ulum, Pati, sedang mertuanya, Mustofa Bisri, kyai dari pesantren Raudlatut Talibin, Rembang. Ulil menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (Rois Am PBNU periode 1994 1999). Pernah nyantri di Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Dia mendapat gelar Sarjananya di Fakultas Syari’ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Meraih gelar S2 di Universitas Boston, Massachussetts, AS. Saat ini menyelesaikan studi program Ph.D (doktor) di the Department of Near Eastern Languages and Civilizations, Universitas Harvard, AS. Gus Ulil pernah menjadi Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Maya Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta, sekaligus juga menjadi staf peneliti di Institut Studi Arus Informasi ( ISAI), Jakarta, serta Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Ia dikenal karena aktivitasnya sebagai Koordinator Jaringan Islam Liberal. Jaringan Islam Liberal yang dipimpinnya adalah sebuah kelompok diskusi yang sering menyuarakan upaya liberalisasi tafsir Islam. Dalam aktivitas di kelompok ini, Ulil menuai banyak simpati sekaligus kritik. Atas kiprahnya dalam mengusung gagasan pemikiran Islam ini, Ulil disebut sebagai pewaris pembaharu pemikiran Islam setelah Cak Nur (Nurcholish Madjid) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (sumber : dutamasyarakat.com)

'Sekte' Liberal dalam Muktamar NU di Makassar


Dalam muktamar Nahdatul Ulama (NU) kali ini, merupakan yang pertama kalinya diadakan di luar pulau Jawa, setidaknya mengisyaratkan bahwa orgnisasi Islam nomor wahid di Indonesia ini terus berbenah untuk maju kedepan dan tentu saja demi masa depan yang lebih baik toward a better future . Pada muktamar ke-32 yang berlangsung pada 22-27 Maret ini, akan dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Susilo Bambang Yudoyono di gedung Celebes Convension Centre (CCC), Makassar pada hari ini. Agenda terpenting pada muktamar kali ini adalah pemilihan calon ketua umum tanfidziyah lima tahun mendatang, dalam perebutan ketua umum ini setidaknya sedari awal telah memunculkan desas-desus hingga ke polemik. Setidaknya para kandidat ini terdiri dari dua kubu, yang pertama mereka adalah para sesepuh yang diwakili oleh Salahuddin Wahid dan yang kedua adalah Ulil Absar Abdalla yang mewakili tokoh muda NU. Hingga kini, tujuh kandidat Ketua Umum PBNU mencuat ke permukaan yakni KH Said Agil Siradj (ketua PBNU), KH Salahudin Wahid (Gus Solah/mantan ketua PBNU), Prof KH Ali Maschan Moesa MSi (mantan Ketua PWNU Jatim), Masdar F Mas’udi (ketua PBNU), Achmad Bagdja (ketua PBNU), Slamet Effendy Yusuf, dan Ulil Abshar Abdalla (aktivis Jaringan Islam Liberal/JIL). Hal yang paling dihindari dari muktamar ini adalah munculnya tokoh islam liberal yang dimotori oleh Ulil, bahkan jauh-jauh hari sejumlah kiai sepuh/senior Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur sepakat menolak faham liberalisme, karena itu mereka akan membendung terpilihnya kandidat Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) yang proliberal dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar. Tulisan ini setidaknya memberikan ‘pengayaan’ tentang makna liberal sesunggunya, serta konsekwensinya jika merasuk masuk pada nadi kaum muslimin pada umumnya dan nahdiyin pada khusunya. Istilah ‘liberalisme’ berasal dari bahasa Latin, liber, yang artinya ‘ bebas’ atau ‘merdeka’. Istilah ini terkait erat dengan konsep manusia merdeka, sejak lahir ataupun mantan budak. Dari sinilah muncul istilah ‘liberal arts’ di Eropa, yakni ilmu-ilmu yang patut dipelajari oleh orang merdeka: arithmetika, geometri, astronomi dan music ( quadrivium ), disamping grammatika, logika dan rhetorika ( trivium ). Pakar sejarah Barat biasanya menunjuk motto Revolusi Perancis 1789 - kebebasan, kesetaraan, persaudaraan ( liberté, égalité, fraternité ) sebagai piagam agung ( magna charta ) bagi liberalisme modern. Sebagaimana diungkapkan oleh H. Gruber, prinsip liberalisme yang paling mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas -apapun namanya- adalah bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia –yakni otoritas yang akarnya, aturannya, ukurannya, dan ketetapannya ada di luar dirinya ( it is contrary to the natural, innate, and inalienable right and liberty and dignity of man, to subject himself to anauthority, the root, rule, measure, and sanction of which is not in himself ). Di sini kita mencium bau sophisme dan relativisme àla falsafah Protagoras yang mengajarkan bahwa “ manusia adalah ukuran dari segalanya” – sebuah doktrin yang kemudian dirayakan oleh para penganut nihilisme semacam Nietzsche. Sebagai anak kandung Humanisme dan Reformasi abad ke-15 dan ke-16 , liberalisme  telah dikembangkan oleh para pemikir dan cendekiawan di Inggris (Locke dan Hume), di Perancis (Rousseau dan Diderot) dan di Jerman (Lessing dan Kant). Gagasan ini banyak diminati oleh elit terpelajar dan bangsawan yang menyukai kebebasan berpikir tanpa batas. Sebagaimana dinyatakan oleh Germaine de Staël dalam karyanya, Considérations sur les principaux événements de la Révolution française (1818) , kaum liberal menuntut kebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja maupun raja. Di abad ke-18 , kaum intelektual dan politisi Eropa memakai istilah liberal untuk membedakan diri mereka dari kelompok lain. Sebagai adjektif, kata ‘liberal’ melambangkan sikap anti feodal, anti kemapanan, rasional, bebas merdeka ( independent ), berpikiran luas lagi terbuka ( open-minded ) dan, oleh karena itu, hebat ( magnanimous ). Dalam ranah politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dan kecenderungan yang berlawanan dengan dan menentang ‘mati- matian’ sentralisasi dan absolutisme kekuasaan. Munculnya republik-republik menggantikan kerajaan-kerajaan konon tidak terlepas dari liberalisme ini. Sementara di bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar bebas dimana intervensi pemerintah dalam perekonomian dibatasi –jika tidak dibolehkan sama sekali. Dalam hal ini dan pada batasan tertentu, liberalisme identik dengan kapitalisme. Di wilayah sosial, gerakan liberal mencakup emansipasi wanita, penyetaraan gender, pupusnya kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya nilai-nilai kekeluargaan. Biarkan wanita menentukan nasibnya sendiri, sebab tak seorang pun kini berhak dan boleh memaksa ataupun melarangnya untuk melakukan sesuatu. Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan, kehendak dan selera masing-masing. Bahkan lebih jauh dari itu, liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat. Artinya, konsep amar ma’ruf maupun nahi munkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme. Asal tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama suka, menurut prinsip ini. Karena menggusur peran agama dan otoritas wahyu dari wilayah politik, ekonomi, maupun sosial, maka tidak salah jika liberalisme dipadankan dengan sekularisme. Pada awalnya, paham liberalisme berkembang di kalangan Protestan saja. Namun di kemudian hari, wabah liberalisme merasuki pengikut Katholik juga. Tokoh-tokoh Kristen liberal semacam Benjamin Constant antara lain menginginkan agar pola hubungan antara institusi Gereja, pemerintah, dan masyarakat ditinjau ulang dan diatur lagi. Mereka juga menuntut reformasi terhadap doktrin-doktrin dan disiplin yang dibuat oleh Gereja Katholik Roma, agar sesuai dengan semangat zaman yang sedang dan senantiasa berubah, agar sejalan dengan prinsip-prinsip humanisme dan tidak bertentangan dengan sains yang anti-Tuhan namun dianggap benar itu. Secara umum, yang dikehendaki ialah kebebasan bagi siapa saja untuk menafsirkan ajaran agama dan kitab sucinya, ketidak- terikatan dengan aturan-aturan maupun keputusan-keputusan yang dikeluarkan pihak Gereja, pengakuan otoritas pemerintah vis-à-vis otoritas Gereja, dan penghapusan sistem kependetaan ( clericalism ). Inilah yang kemudian dikecam oleh Paus Pius IX, Leo XIII dan Pius X. Kecenderungan-kecenderungan seperti ini mereka sebut “modernisme”. Di dunia Islam, virus liberalisme juga berhasil masuk ke kalangan cendekiawan yang konon dianggap sebagai “pembaharu” ( mujaddid ). Mereka yang menjadi liberal antara lain: Rifa‘ah at- Tahtawi ( 1801-1873 M), Qasim Amin ( 1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq ( 1888-1966 M) dari Mesir, dan Sayyid Ahmad Khan (1817- 1898 M) dari India. Di abad keduapuluh muncul pemikir-pemikir yang juga tidak kalah liberal seperti Fazlur Rahman, M. Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed Shahrour dan pengikut- pengikutnya di Indonesia. Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu sebenarnya kurang lebih sama saja. Ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, al-Qur’an dan Hadits mesti dikritisi dan ditafsirkan ulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan sebagainya, perlu dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama dan bernegara, tunduk pada aturan pergaulan internasional berlandaskan hak asasi manusia, pluralisme dan lain lain-lain. Pendek kata, meminjam ungkapan Binder: “ liberalism treats religion as opinion and, therefore tolerates diversity in precisely those realms that traditional belief insists upon without equivocation. ” Maka wajarlah jika kemudian ia menilai bahwa “ Islam and liberalism appear to be in contradiction. ” Dari uraian ringkas di atas dapat kita simpulkan bahwa paham liberalisme mencakup tiga hal. Pertama , kebebasan berpikir tanpa batas alias free thinking . Kedua, senantiasa meragukan dan menolak kebenaran dalam arti lain selalu meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan alias sophisme, skeptisisme , agnostisisme, dan relativistisme . Dan ketiga , sikap longgar dan semenamena dalam beragama ( no commitment and free exercise of religion ), para penganut sakte inilah yang mendukung tumbuhnya aliran-aliran sempalan yang jelas-jelas melakukan penistaan terhadap agama. Sangat gamblang bahwa liberalisme adalah salah satu sakte yang diimpor kedalam Islam yang hanya merusak, merugikan, dan  mendatangkan kedisharmonisan serta malapetaka pada umat. Wallahu a’lam. Penulis adalah ILHAM QADIR , Aktivis Lembaga Indonesia Bersih, Ketua forum Kajian Islamic Thought and Civilization (FITAC)  Makassar. Email: ilhamqadir@yahoo.comEmpat tahun “menghilang” ke Amerika Serikat, Ulil Abshar-Abdalla pulang ke Indonesia dan melempar kejutan. Dia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-32, Januari mendatang. Menurut Ulil, Nahdlatul Ulama sudah berubah dan saatnya dipimpin orang yang lebih muda. “Tentu dengan dukungan kiai-kiai senior,” katanya. Kepada para senior di Nahdlatul Ulama ini, Ulil juga siap menjelaskan berbagai pendapatnya yang dianggap kelewat liberal. Dia mengatakan pikiran dan kritiknya selama ini sebenarnya tak diarahkan ke NU, tapi dialamatkan ke kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Untuk melaksanakan niatnya, ia melakukan dialog dengan kalangan NU dan pesantren. Ulil berdialog bersama Forum Kiai Muda, di antaranya, KH Abdullah Syamsul Arifin dari Jember, Ustad Romli, Syaichul Islam, Dr M Mas’ud Said, dan KH Abdurrohman Navis. Setelah memberikan ceramah di Masjid At-Taqwa, Rewwin Waru Sidoarjo, menantu KH A Mustofa Bisri ini memanfaatkan sebuah forum yang digelar di Pesantren Bumi Sholawat asuhan KH Agoes Ali Masyhuri, Tulangan Sidoarjo, Minggu (11 /10) kemarin. Para kiai muda NU yang selama ini berbeda pendapat terkait JIL ( Jaringan Islam Liberal) yang dikomandoi Ulil dimaksudkan sebagai tabayun (penjelasan mengenai suatu masalah), dan debat terbuka. Tujuan dilaksanakan acara tersebut untuk membudayakan tabayun di kalangan warga nahdliyin sekaligus memberi pelajaran terkait berbagai perbedaan yang ada. “Sebagai orang tua, saya ini harus bisa mengayomi siapa saja. Salah satunya dengan membudayakan forum tabayun dan menjauhkan dari caci maki dan sejenisnya,” kata KH Agoes Ali Masyhuri, pada Duta, kemarin. Memang, lanjutnya, dalam pertemuan itu tidak diharapkan adanya titik temu, namun paling tidak sudah ada ruang untuk bertemu untuk berdialog. Di antara yang cukup menarik, adalah kehadiran Ustadz Romli dan Syaichul Islam yang tengah menimba ilmu di Mesir. Sedangkan Uli sendiri pada kesempatan tersebut melakukan debat dengan meyakinkan. “Berbagai perbedaan itu sangat biasa dan tidak perlu diributkan. Bila ada yang kurang tepat harus dibenarkan dan jauh dari pengadilan. Sebab, kesemuanya itu adalah aset NU. Namun yang perlu diketahui dan diingat terkait hal-hal yang bersifat aqidah dan konsep wahyu merupakan hal yang sangat sensitif. Hal ini perlu dimengerti. Kalau sudah ada pengertian dengan sendirinya tidak akan terjadi caci maki, namun terjadi tabayun,” kata Gus Ali, yang juga Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim. Ada yang menilai, Ulil nekat bila mengincar kursi PBNU. “Bukannya sombong, saya rasa modal saya memadai. Saya punya pendidikan pesantren yang baik, mengaji fikih sesuai dengan hierarki pesantren, punya pemahaman kitab kuning cukup baik. Saya lulus dari LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) dan punya pendidikan Barat. Saya juga lahir dari keluarga NU dan berkiprah di NU cukup lama,” tutur Ulil Abshar-Abdalla. Untuk maju sebagai ketua umum, memang perlu restu kiai, seperti kiai Langitan, Tebuireng, dan Asembagus. Bagaimana penerimaan pesantren-pesantren itu terhadapnya. Ia pun memang baru pergi ke Asembagus, Situbondo dan bertemu beberapa kiai. Ia yakin bakal mendapat restu dari kiai pesantren. Memang ada yang beranggapan Ulil berikiran terlalu bebas. Tapi, ia yakin mereka bisa paham kalau dijelaskan. Apalagi, sebagian kalangan NU merespons negatif Jaringan Islam Liberal (JIL). Dan itu, jelas tak menguntungkan pencalonan Ulil. “Pencitraan negatif itu datang dari luar NU dan merembes ke NU. Saya ingin mengubah citra itu. Pikiran dan kritik saya selama ini sebenarnya tak diarahkan ke NU, tapi dialamatkan ke kelompok- kelompok radikal di Indonesia. Bagi saya, liberal juga bukan berarti bebas tanpa batas. Saya akan berusaha mendekatkan ide-ide saya dengan bahasa NU. Di NU sendiri sebenarnya banyak sekali tradisi liberal. Dalam kasus bunga bank, misalnya, tak ada keputusan final bahwa bunga bank termasuk riba yang haram. Ada tiga pendapat di NU,” kata Ulil Abshar-Abdalla. Adakah ia punya pendapat soal perlunya reformasi di tubuh NU. “ Menurut saya, NU ke depan bukan hanya milik muslim tradisional. Tantangannya adalah bagaimana mendekatkan NU ke kelas menengah kota dan bagaimana berhadapan dengan kelompok radikal. Diaspora kaum muda NU juga sudah sedemikian luas, tak hanya di pedalaman, tapi juga di kota-kota besar. Jumlah mereka besar. Banyak juga yang bersekolah hingga ke berbagai negara, dari Mesir, Saudi, Pakistan, hingga Inggris dan Amerika. Ini yang harus diperhatikan NU di masa depan. Dan saya kira untuk merangkul mereka dibutuhkan pemimpin muda,” tuturnya seraya tertawa. Pada bagian lain, Ulil menilai kecenderungan NU yang kerap tergiur terjun ke politik. Menurutnya, hal Itu memang masalah besar. Aura partai memang merusak langgam NU. NU memang sulit berpisah dengan politik karena, sebagai ormas besar, bobot politiknya juga besar sekali. “Idealnya sih kiai memang tidak berpolitik. Seperti kata Arief Budiman, mereka harusnya menjadi cendekiawan di atas angin. Tapi okelah, tantangan ke depan, bagaimana NU menempatkan diri secara proporsional,” kata Ulil. Ulil Abshar-Abdalla (lahir di Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967) adalah seorang tokoh pemikir Islam di Indonesia. Ulil berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama. Ayahnya Abdullah Rifa’i dari pesantren Mansajul Ulum, Pati, sedang mertuanya, Mustofa Bisri, kyai dari pesantren Raudlatut Talibin, Rembang. Ulil menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (Rois Am PBNU periode 1994 1999). Pernah nyantri di Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Dia mendapat gelar Sarjananya di Fakultas Syari’ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Meraih gelar S2 di Universitas Boston, Massachussetts, AS. Saat ini menyelesaikan studi program Ph.D (doktor) di the Department of Near Eastern Languages and Civilizations, Universitas Harvard, AS. Gus Ulil pernah menjadi Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Maya Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta, sekaligus juga menjadi staf peneliti di Institut Studi Arus Informasi ( ISAI), Jakarta, serta Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Ia dikenal karena aktivitasnya sebagai Koordinator Jaringan Islam Liberal. Jaringan Islam Liberal yang dipimpinnya adalah sebuah kelompok diskusi yang sering menyuarakan upaya liberalisasi tafsir Islam. Dalam aktivitas di kelompok ini, Ulil menuai banyak simpati sekaligus kritik. Atas kiprahnya dalam mengusung gagasan pemikiran Islam ini, Ulil disebut sebagai pewaris pembaharu pemikiran Islam setelah Cak Nur (Nurcholish Madjid) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (sumber : dutamasyarakat.com)

NU,Gus Dur dan Katalog Peradaban


Muhammadun A.S. Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta Di sela-sela perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama'(NU) yang ke-32 saat ini, terasa sekali ketiadaan sosok karismatik yang selama menjadi rujukan gerakan dan pemikiran di tubuh NU. Dialah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selama ini, Gus Dur selalu menjadi kunci gerakan dalam upaya dinamisasi di tubuh NU. Dialah yang melakukan gerakan modernisasitanpa melukai tradisi. Dialah yang menyeimbangkan gerakan dan pemikiran antara generasi muda dan generasi sepuh. Di tangan Gus Dur, gerakan pembaruan di tubuh NU membuktikan kesuksesannya. Yang terjadi sekarang justru pergerakan dalam arena politik. Menjelang pemilihan rais aam dan ketua umum, wacana politik praktis bahkan money politics terasa menyengat dan membuat mendung dalam arena Muktamar. Dalam suasana demikian, kehadiran Gus Dur sungguh amat dibutuhkan. Walaupun Gus Dur sudah tidak lagi datang, sosok Gus Dur mestinya bisa menjadi rujukan dan referensi kaum nahdliyin dalam membawa NU ke depan. Mari kita lihat sepak terjang Gus Dur sebagai teladan kaum muktamirin. Kala Gus Dur belum memimpin NU tahun 1984 , warga nahdliyin masih dibabtis publik sebagai kelompok tradisional dengan berbagai stereotip negatif; kelompok ekslusif, tidak beranjak dari kitab-kitab mu'tabaroh, mengagungkan tradisi, mendaur ulang pemikiran lama, serta basis komunitasnya pesantren dan komunitas ndeso. Stereotip-stereotip tersebut akhirnya pudar ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) naik tangga ketua umum PBNU dalam muktamar di Situbondo tahun 1984. Sosok Gus Dur yang darah biru dan kritis mengubah seratus delapan puluh derajat pola pemikiran dan pola gerakan NU. Gagasannya yang cerdas nan bernas serta gerakan politiknya yang zig-zag membuat dirinya menjadi figur utama lahirnya perubahan di tubuh NU. Kaum NU yang tadinya dianggap ndeso dan jauh dari sinar peradaban, ternyata bangkit menjadi komunitas besar yang menjadikan tradisi sebagai basis gerakan kulturalnya. Dengan berpegang tradisi, komunitas NU justru semakin eksesif, unik, dan menohok berbagai gerakan modern. NU bangkit di tengah gerakan modern kehilangan basis tradisinya. Sosok Gus Dur yang telah membangkitkan tradisi inilah kemudian yang melahirkan beragam pemikiran di lingkungan NU, khususnya kaum mudanya. Darah segar pemikiran yang mengalir dalam diri Gus Dur kemudian menjalar bagi kaum muda di bawahnya. Gagasan- gagasan segar kaum muda, walaupun sering mendapatkan petisi keras kaum tua, tetap saja berlangsung eskalatif menembus batas- batas pemikiran yang belum terjamah. Di bawah "perlindungan Gus Dur", kaum muda terus menggali tradisinya--sambil mengkritiknya-- untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer. Mereka melakukan dekonstruksi tradisi. Menurut Ali Riyadi (2006) setidaknya ada tiga problem krusial yang menyebabkan kaum muda melakukan perubahan. Pertama, kejumudan berpikir. Masyarakat NU selama ini hanya melakukan al- muhafadhotu ala al-qodimi al-sholih, melestarikan tradisi yang relevan. Kedua, kiprah NU dalam politik formal. Dalam berbagai kesempatan, NU selalu mengumandangkan politiknya sebagai politik kebangsaan. Politik yang memberikan kemaslahatan bagi seluruh warga bangsa. Bukan politik yang perorangan dan kelompok. Inilah manifesto kembalinya khitah NU 1926 di Situbondo tahun 1984. Tetapi realitas berbicara lain. Manifesto khitah ternyata banyak dibobol. Ketiga, pengelolaan organisasi. NU belum mampu mengelola dirinya sebagai jamiyyah (organisasi). Seperti dalam pesantren, NU lebih mengandalkan karisma kiai tertentu. Program-program struktural dan kultural tidak jalan. NU secara struktural seolah gagap. Di tengah problem tersebut kaum muda NU gelisah. Kaum muda di sini adalah mereka yang telah merasakan kuliah diberbagai perguruan tinggi, khususnya Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Dengan mendapat bekal akademis, bekal manajerial dan teori kritik sosial, kaum muda melanjutkan kegelisahan Gus Dur dalam menata kembali tradisi yang berserakan. Mereka mulai berkumpul, berdiskusi, dan merancang agenda-agenda pemberdayaan tradisi. Lahirlah Lakpesdam NU, P3 M, Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jakarta; LKiS dan LKPSM di Yogyakarta; dan Lembaga Kajian Sosial dan Agama (eLSA) di Surabaya; serta berbagai lingkar studi ke-Nu-an di berbagai tempat di Jawa. Banjir pemikiran yang melanda republik NU menghentakkan banyak kalangan. Kaget sekaligus bangga. Kaum muda semenjak akhir 1980- an mempelopori gerakan pembaruan pemikiran keislaman. Mereka bangga menyebut namanya Post Tradisonalisme Islam. Kekayaan tradisi pemikiran yang ada ditubuh NU dijadikan sebagai landasan gerakan kritik sosial dan kritik pergerakan. Lambat laun mereka mengatasnamakan dirinya sebagai pelopor kaum liberal yang dimotori Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya. Walaupun sering kiai sepuh melancarkan kritik pedas, bahkan ada yang sampai dikafirkan, tetapi masih banyak kiai sepuh yang memberikan angin segar pemikiran kritis dan progresif di tubuh NU. Peran Gus Dur, Kiai Sahal, Said Aqil, dan para kiai progresif akan terus membuka pintu perubahan. Cuma, kaum muda NU ke depan harus melakukan terobosan-terobosan baru yang lebih menggigit akan spirit pembaruan tidak mengekor dengan gerakan Gus Dur, Kiai Sahal, Masdar, dan Ulil. NU memiliki khazanah tradisi yang melimpah, berarti masih banyak peluang yang dapat dimasuki kaum muda dalam meneguhkan kekuatan tradisinya. Kini gus Dur telah tiada. Beliau merupakan katalog utama bagi kebangkitan peradaban NU. Warga NU harus berjuang kembali menegakkan peradaban yang telah ditinggalkan Gus Dur. Perjuangan Gus Dur belumlah usai. Saatnya kaum muda berinisiatif untuk melanjutkannya. n

29.3.10

Tingkatan-tingkatan wali Allah


Berikut di bawah ini Pangkat/ Maqom nya para Aulia Alloh yang diambil dari kitab Jami'u Karomatil Aulia: 1. Qutub Atau Ghauts ( 1 abad 1 Orang ) 2. Aimmah ( 1 Abad 2 orang ) 3. Autad ( 1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin ) 4. Abdal ( 1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang Apabila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita ) 5. Nuqoba’ ( Naqib ) ( 1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing2 pada tiap2 Bulan) 6. Nujaba’ ( 1 Abad 8 Orang ) 7. Hawariyyun ( 1 Abad 1 Orang ) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang ( Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi. 8. Rojabiyyun ( 1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun. 9. Khotam ( penutup Wali )( 1 Alam dunia hanya 1 orang ) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam ( Penutup ). 10. Qolbu Adam A.S ( 1 Abad 300 orang ) 11. Qolbu Nuh A.S ( 1 Abad 40 Orang ) 12. Qolbu Ibrohim A.S ( 1 Abad 7 Orang ) 13. Qolbu Jibril A.S ( 1 Abad 5 Orang ) 14. Qolbu Mikail A.S ( 1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat ) 15. Qolbu Isrofil A.S ( 1 Abad 1 Orang ) 16. Rizalul ‘Alamul Anfas ( 1 Abad 313 Orang ) 17. Rizalul Ghoib ( 1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib. 18. Adz-Dzohirun ( 1 Abad 18 orang ) 19. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang ) 20. Khomsatur Rizal ( 1 Abad 5 orang ) 21. Rizalul Hanan ( 1 Abad 15 Orang ) 22. Rizalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang ) 23. Rizalul Fath ( 1 Abad 24 Orang ) Alloh mewakilkannya di tiap Sa'ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin ) 23. Rizalul Ma'arijil 'Ula ( 1 Abad 7 Orang ) 24. Rizalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang ) 25. Rizalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang ) 26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang ) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal 27. Rozulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang ) 28. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang ) Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut " Rozulun Barzakh " Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA 'ALA KULLI SAY IN QODIRUN " Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa. 29. Syakhsun Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang ) 30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil 'Arsy ( 1 Abad 1 Orang ) 31. Rizalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang ) sesuai Nama Maqomnya ( Pangkatnya ) Rizalul Ghina " Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma'rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ). 31. Syakhsun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang ) 32. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang ) 33. Budala' ( 1 Abad 12 orang ) Budala' Jama' nya ( Jama' Sigoh Muntahal Jumu') dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal 34. Rizalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang ) 35. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang ) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-'Alim Al-'Allamah Ahmad As-Sibty 36. Rizalul Ma' ( 1 Abad 124 Orang ) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su' ud Ibni Syabil " Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku "Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan" Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata "akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air", Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku. 37. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang ) Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab " Berada di Dalam Hizabnya Alloh ", Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya

Inilah Para Pemenang PANASONIC AWARD 2010


Pemenang Panasonic Gobel Award 2010 telah di umumkan hasilnya, semarak Malam Puncak Panasonic Gobel Awards XIII hari Jumat Malam di Ball Room XXI, Jakarta Theater, Jakarta Pusat. Pengumuman tersebut disiarkan secara langsung di beberapa televisi lokal swasta Indonesia yaitu RCTI, Global TV dan TPI serentak. Sebut saja Olga Syahputra yang cukup naik daun di tahun ini, Olga berhasil tembus dan membawa pulang dua piala penghargaan dari panasonic gobel award ke 13 , penghargaan yang pertama Olga berhasil menjadi presenter terfavorit pilihan pemirsa indonesia dalam acara Dahsyat , dan yang kedua Olga juga dinobatkan sebagai pemenang Pelawak terfavorit di panasonic award 2010 ini. Belum lagi Putra Nababan yang kemarin sempat mewawancarai Presiden Amerika Barrack Obama atau Barry secara langsung atau live pun berhasil membawa pulang penghargaan dari panasonic gobel ke 13 tahun 2010 ini, 2 tahun beruturut-turut berhasil membawa pulang award bergengsi tersebut kerumahnya. Nikita Willy dan Dude Harlino ,  aktris dan aktor indonesia berhasil membawa penghargaan aktor terfavorit dan aktris terfavorit di tahun 2010 pilihan pemirsa, kerja mereka berdua di sinetron Indonesia memang tidak bisa dianggap remeh dan sudah pasti sangat menarik perhatian masyarakat indonesia. Berikut ini adalah daftar lengkap pemenang penghargaan Panasonic Gobel Awards 2010 : Pemenang Panasonic Gobel Award 2010 Kategori Individu 1. Aktor Favorit: Dude Herlino 2. Aktris Favorit: Nikita Willy 3. Presenter Kuis/Game Show Favorit: Choky Sitohang 4. Presenter Infotainment Favorit: Feni Rose 5. Presenter Acara Musik Favorit: Olga Syahputra 6. Presenter Berita Favorit: Putra Nababan 7. Presenter Talk Show Favorit: Andy F. Noya 8. Presenter Talent Show Favorit: Okky Lukman 9. Presenter Olahraga Favorit: Darius Sinathrya 10. Presenter Reality Show: Uya Kuya 11. Pelawak Favorit: Olga Syahputra 12. Golden Archievement Award: Ishadi SK. Daftar Pemenang Panasonic Gobel Award 2010 Kategori Program Acara 1. Program Musik Favorit: Dahsyat 2. Program Anak Favorit: Idola Cilik 3. Program Pencarian Bakat Favorit: The Master 4. Program Acara Favorit: Djarum ISL 5. Program Infotainment Favorit: Silet 6. Talk Show Berita Favorit: Debat 7. Talk Show Infotainment Favorit: Bukan Empat Mata 8. Program Komedi Favorit: Opera Van Java 9. Program Feature Favorit: Griya Unik 10. Program Berita Favorit: Seputar Indonesia 11. Drama Seri Favorit: Cinta Fitri 12. Program Kuis Dan Game Show: Gong show 13. Reality Show Favorit:  Take Me Out Indonesia

Pasca Muktamar>Tugas berat di depan mata:MENGEJAR KETINGGALAN!



PERSOALAN pendidikan, kesehatan dan ekonomi tampaknya benar-benar menjadi catatan penting bagi pengurus NU mendatang. Catatan ini disampaikan oleh Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr H Ridlwan Nasir MA untuk pelaksanaan Muktamar ke-32 NU di Makassar. Menurutnya, persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam perhelatan Muktamar tersebut diantaranya, lebih memantapkan pendataan para akademisi NU. “ Berapa sih SDM warga NU yang bergelar profesor, doktor maupun magister, sampai sekarang belum jelas padahal ini cukup penting untuk perjalanan NU ke depan,” jelasnya Kedua, kata mantan ketua Tim Seleksi anggota KPU Pusat ini mengatakan, pengurus NU harus benar-benar memperhatikan warga nahdliyin. Sebab mayoritas warga NU di pedesaan hingga kini masih jarang tersentuh. “Padahal ini penting untuk peningkatan ekonomi warga nahdliyin,” katanya. Selain itu, lanjut Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim ini, persoalan yang perlu diperbaiki adalah soal pendidikan di NU. Ke depan NU, Ia berharap NU memiliki Perguruan Tinggi (PT) yang baik dan berkualitas. “Soal PT NU ini, NU harus membuat lembaga sendiri untuk mengurusnya. Bukan diserahkan pada Maarif. Maarif cukup mengurus pendidikan dasar dan menengah,” tuturnya. Selain itu, lanjut Prof Ridlwan, NU harus menata manegerial pendidikan di bawah naungan NU. Salah satunya dengan mendata sekaligus melakuan penegasan terhadap labelisasi pendidikan NU. “Pendidikan adalah asset berharga bagi NU,” katanya. Untuk persoalan sosial kemasyarakatan? Prof Ridlwan berharap NU memiliki komitmen untuk membangun rumah sakit yang berkualitas dan berlabel NU. “Selama ini memang NU sudah memiliki beberapa rumah sakit. Tapi kualitasnya masih kalah dengan yang lain. Ini harus dibenahi,” ungkapnya. Masih banyaknya pengurus NU yang berjalan di luar rel dalam sisi kebijakan juga menjadi sorotan dari Prof Dr H Ridlwan Nasir MA. Menurutnya, selama ini sering kali terjadi tumpang tindih antar pengurus dalam mengeluarkan kebijakan. Ia mencontohkan kebijakan syuriyah dan tanfidziyah. Menurutnya, masih ada sejumlah pengurus tanfidziyah di lingkungan NU yang mengambil kewenangan syuriyah. Untuk itu, ia berharap, kepengurusan NU (PBNU) ke depan ada pengkaplingan dan pedisiplinan dalam job diskripsi pada masing- masing jabatan. “Ini terjadi karena kurangnya komunikasi antara tanfidziyah dan syuriah. Organisasi yang tak patuhi job diskripsi, pasti tak akan bisa maju,” cetusnya. Penyebab lainnya, kata Prof Ridlwan, dipicu persoalan politik karena masing-masing tidak bisa menahan diri.“Awal pergesekan satu sama lain dalam NU sering dipicu oleh godaan politik dan mereka tidak bisa menahan diri,” ungkapnya.

28.3.10

Lebih Dekat dengan KIAI SAHAL



Nama: KH Muhammad Achmad Sahal Mahfudz
Lahir: Kajen, Pati, 17 Desember 1937
Isteri: Dra Hj Nafisah Sahal
Anak: Abdul Ghofar Rozin ( 23)
Jabatan: -
*Pemimpin Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati 1963- sekarang -
*Rektor Institut Islam NU di Jepara 1989- sekarang -
*Ketua Dewan Pengawas Syariah AJB Putra (2002- skr) -
*Rais Aam Syuriah PB NU 1999-2004 dan 2004-2009 -
*Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ( 2000-2005 dan 2005- 2010)
Pendidikan: -
Madrasah Ibtidaiyah di Kajen, Pati (1943- 1949) -
Madrasah Tsanawiyah Mathaliul Falah ( 1950-1953) -
Kursus Ilmu Umum ( 1951-1953) -
Pondok Pesantren Bendo, Pare, Kediri -
Pondok Pesantren Sarang, Rembang ( 1957-1960) -
Pendidikan Islam di Mekah dibawah bimbingan langsung Syekh Yasin Al Fadani (1960)
Pekerjaan: -
Guru di Pesantren, Serang, Rembang ( 1958-1961) -
Dosen kuliah takhassus fiqh di Kajen ( 1966-1970) -
Dosen di Fakultas Tarbiyah UNCOK, Pati ( 1974-1976) -
Dosen di Fak. Syariah IAIN Walisongo,Semarang ( 1982-1985) -
Kolumnis tetap di Majalah AULA (1988- 1990) -
Kolumnis tetap di Suara Merdeka, Semarang (1991- skr)
Organisasi: -
Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( NU)-
10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah-
Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Juni 2000 sampai 2005.
Karya Tulis: - Thariqat al Hushul ila Ghayah al Ushul ( Surabaya: Diantama, 2000)-
Al Bayan al Mulamma an Alfaz al Luma (Semarang: Thoha Putra, 1999) -
Telaah Fiqh Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh ( Semarang: Suara Merdeka, 1997) - Nuansa Fiqh Sosial ( Yogyakarta: LkiS, 1994) - Pesantren Mencari Makna, Nuansa Fiqih Sosial 1990 ; - Ensiklopedi Ijma ( terjemah bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu’ah al Hajainiyah, 1960 ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987) - Ensiklopedi Ijma' ( 1985) ; - Faidhu Al Hijai ( 1962) , - Al Tsamarah al Hajainiyah, 1960 ( Nurussalam) - Intifakhu Al Wadajaini Fie Munadohorot Ulamai Al Hajain (1959) ; - Luma al Hikmah ila Musalsalat al Muhimmat (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati) - Kitab Usul Fiqih ( berbahasa Arab); - Penulis kolom Dialog dengan Kiai Sahal di harian Duta Masyarakat. - Al Faraid al Ajibah ( Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati) Alamat: Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah

KH.MA.Sahal Mahfudh> Pendobrak Pemikiran Tradisional NU


Sosoknya sangat bersahaja. Bicaranya tenang, lugas, tidak berpretensi mengajari. Padahal KH Muhammad Achmad Sahal Mahfudz sangat disegani. Dia dua periode menjabat Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( 1999-2009) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2000- 2010. Pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII (28 /7 / 2005) Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), itu terpilih kembali untuk periode kedua menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2005-2010. Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Donohudan, Boyolali, Jateng., Minggu (28 /11-2 /12 / 2004) , dia pun dipilih untuk periode kedua 2004- 2009 menjadi Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Pada 26 November 1999 , untuk pertama kalinya dia dipercaya menjadi Rais Aam Syuriah PB NU, mengetuai lembaga yang menentukan arah dan kebijaksanaan organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan lebih 30- an juta orang itu. KH Sahal yang sebelumnya selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, juga didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai tahun 2005. Di luar itu, KH Sahal adalah pemimpin Pondok Pesantren (Ponpes) Maslakul Huda sejak tahun 1963. Ponpes di Kajen Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910. Dalam Muktamar NU ke-31 di Bayolali itu, pemilihan Rois Aam dan Ketua Umum, sesuai tata tertib syogianya dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap pencalonan dan tahap pemilihan. Calon Rais Aam dan Ketua Umum dianggap sah apabila mendapat dukungan minimal 99 suara dari 465 suara muktamirin. Apabila hanya ada satu calon yang mencapai minimal 99 suara, calon tersebut bisa disahkan secara bulat atau aklamasi. Dalam tahap pencalonan Rais Aam pada Muktamar NU ke-31 , ini peserta muktamar mengajukan tujuh nama. Setelah dilakukan pemungutan dan penghitungan suara, KH Sahal Mahfudh mendapat 363 suara, KH Abdurrahman Wahid 75 suara, KH Hasyim Muzadi 5 suara, Said Agil Siradj 1 suara, Alwi Shihab 2 suara, KH Mustofa Bisri 3 suara, dan Rahman S 1 suara. Satu suara abstain dan satu suara tidak sah. Sehingga sesuai tata tertib, peserta muktamar secara aklamasi menerima Sahal Mahfudh sebagai Rais Aam. Pertama kali, KH Sahal Mahfudz terpilih sebagai Ketua Rais Aam dalam Muktamar XXX NU di Lirboyo, Kediri, 26 November 1999. Ketika itu KH Sahal antara lain mengatakan, sejak awal berdirinya NU, warga NU yang merupakan bagian dari masyarakat madani berada pada kutub yang berseberangan dengan negara, dan KH Sahal mencoba mempertahankan tradisi tersebut. Saat itu, konteksnya adalah naiknya KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pemimpin Ponpes Maslakul Huda, Rais Aam PB NU dan Ketua Umum MUI, KH Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput. Dia juga tidak sependapat dengan adanya keinginan sebagian orang untuk menghidupkan kembali Piagam Jakarta. Menurutnya, hal itu tidak perlu. Sebab, mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, tidak berarti perlu piagam. “Argumentasi itu malah ironis. Karena mayoritas sudah Muslim, maka mayoritas sudah akan melaksanakan syariat Islam sendiri-sendiri. Bila memang harus diatur pemerintah, yang kena aturan itu hanya orang Islam saja,” katanya. Dia pun menyatakan pemerintah tidak perlu ikut campur dalam hal agama. Menurutnya, pemerintah sebagai pengayom memang bertanggung jawab, berhak, dan berkewajiban membina, memberi fasilitas untuk semua agama, tetapi jangan intervensi terlalu jauh sebab itu hubungan manusia dengan Tuhan. Alasannya, katanya, agama itu tidak berorientasi pada kekuasaan, tidak ingin agama lebih dominan dari agama, tetapi juga negara jangan lebih dominan dari agama, memakai agama sebagai justifikasi. Agama itu harus mandiri. Sementara perihal Pancasila, dia menyatakan itu bukan ciri, tetapi visi. “Identitas artinya ciri intrinsik yang melekat pada sesuatu yang dicirikan. Identitas bangsa banyak dibicarakan orang, tetapi tidak banyak dikupas. Bila identitas bangsa sudah ditetapkan, daerah boleh memiliki ciri khasnya dengan koridornya tetap identitas bangsa. Dia mencontohkan daerah yang mayoritasnya Muslim yang ingin menerapkan ciri khas Islam, itu tidak mudah. Hal itu, menurutnya, perlu persiapan panjang karena setelah syariat semuanya harus tunduk pada syariat Islam. Sebab, bagaimana dengan penduduk yang bukan Muslim? Apa hukum yang dipakai untuk mereka? Bila hal ini tidak jelas, akan menimbulkan konflik, ada isolasi karena perbedaan agama. Menurutnya, ini tidak boleh, karena keragaman agama itu juga dibenarkan oleh Islam. Begitu pula soal globalisasi. Menurutnya, hal itu keniscayaan. “Siapa bisa menolak?’ tanyanya. Globalisasi , jelasnya, akan menimbulkan perubahan sikap hidup dan peri laku masyarakat. Sementara, di Indonesia sekarang yang menonjol konsumtivisme. Ini, antara lain, dampak iklan. Dalam hal ini, serunya, mental secara ekonomis harus ditanamkan. Mental ekonomis yang bagus itu seperti mental singkek, pedagang Cina yang ulet. Dia sama sekali tidak konsumtif melainkan hemat, dari nol, setelah kaya pun tidak menyombongkan kekayaannya, ulet. KH Sahal dilahirkan di Pati 17 Desember 1937. Hampir seluruh hidupnya dijalani di pesantren, mulai dari belajar, mengajar dan mengelolanya. KH Sahal hanya pernah menjalani kursus ilmu umum antara 1951-1953 , sebelum mondok di Pesantren Bendo, Kediri (JAtim), Sarang, Rembang (Jateng), lalu tinggal di Mekkah selama tiga tahun. Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Selain memiliki 500- an santri, Ponpes Maslakul Huda juga punya sekolah madrasah ibtidaiyah sampai madrasah aliyah dengan 2.500- an murid, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Arta Huda Abadi yang lima tahun lalu berdiri, koperasi, rumah sakit (RS) umum kelas C RS Islam Pati, memberi kredit tanpa bunga kelompok usaha mikro dengan dana bergulir, mengajar masyarakat membuat "asuransi" kesehatan dengan menabung setiap rumah tangga tiap bulan di kelompoknya, dan banyak lagi. KH Sahal yang menikah dengan Dra Hj Nafisah Sahal dan berputra Abdul Ghofar Rozin (23) , dilahirkan di Kajen, Pati, pada tanggal 17 Desember 1937. KH Sahal juga seorang intelektual yang ditunjukkan melalui tulisannya antara lain buku-buku Al Faroidlu Al Ajibah (1959) , Intifakhu Al Wadajaini Fie Munadohorot Ulamai Al Hajain (1959) , Faidhu Al Hijai (1962) , Ensiklopedi Ijma' (1985) , Pesantren Mencari Makna, Nuansa Fiqih Sosial, dan Kitab Usul Fiqih (berbahasa Arab), selain masih menulis kolom Dialog dengan Kiai Sahal di harian Duta Masyarakat yang isinya menjawab pertanyaan masyarakat. KH Sahal yang punya koleksi 1.800- an buku di rumahnya di Kajen, sudah lebih 10 tahun menjadi Rektor Institut Islam NU di Jepara. BPR Arta Huda Abadi Di pesantren ia punya lembaga khusus, Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, berdiri tahun 1977 sampai sekarang, yang menangani pengembangan masyarakat dari sisi menciptakan pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Mula-mula membina perajin kerupuk yang di sana disebut kerupuk tayamum karena digoreng pakai pasir. Hampir seluruh tetangga pesantrennya pada tahun 1977 itu bikin kerupuk. Modalnya Rp 5.000 , itu pun sudah terlalu banyak. Ia beri pinjaman bergulir tak berbunga. Modalnya dari saldo kegiatan internal pesantren seperti kegiatan belajar-mengajar, dari SPP, sedikit demi sedikit dikumpulkan. Ia jua memberikan kepada kelompok supaya ada kerja bersama, kerja kooperatif, karena mereka terlalu gurem. Mereka mencicil tiap minggu, setelah terkumpul Rp 5.000 diberikan kepada kelompok baru. Usaha mereka berkembang dan kemudian banyak yang merasa usaha itu terlalu kecil. Mereka pindah usaha. Karena usaha mereka semakin besar, perlu dana lebih banyak. Lalu ia mencoba membantu dengan mendirikan BPR Arta Huda Abadi pada tahun 1997. Modal awalnya pada masa itu cukup Rp 50 juta, juga dikumpulkan dari dana pesantren sendiri yang merupakan pemegang saham terbesar, tetapi BPR juga melibatkan alumni pesantren yang berminat mengembangkan BPR ini. Tahun 2002 asetnya sudah lebih dari Rp 10 milyar, dan terus berkembang. Sudah punya kas pembantu di Kota Juwana, Kota Pati, dan daerah perbatasan Jepara-Pati. Kantor pusatnya di Kajen, di dekat pesantren Maslakul Huda. Pesantren juga punya koperasi yang sudah lima bulan mengembangkan Unit Simpan-Pinjam Syariah yang sistem simpan-pinjamnya bagi hasil. Di daerah sekitar Pati, ini adalah koperasi syariah pertama. Modalnya juga berbentuk saham milik pesantren, staf koperasi, dan alumni. Wartel pun sahamnya kami bagi-bagi, tidak cuma pesantren. Prinsipnya, rezeki itu jangan dipek (dihaki) sendiri. Ketika ada program Jaring Pengaman Sosial saat krisis ekonomi tahun 1997-1998 , ada bantuan beras dari Jepang. Pesantren Maslakul Huda termasuk yang kebagian jatah membagi beras untuk orang miskin. Ia terima, dengan syarat tidak mau hanya membagi. Bila hanya membagi akan membuat mereka jadi lebih tergantung. Maka ia meminta mereka membentuk kelompok, tiap sepuluh keluarga jadi satu kelompok. Ada kira- kira 176 kelompok. Setiap keluarga dalam kelompok diminta menabung setiap hari, besarnya terserah kesepakatan anggota kelompok. Rata-rata per keluarga bisa menabung Rp 1.000 per hari. Itu tabungan milik mereka, mereka urus sendiri, dan setor sendiri ke BPR atas nama kelompok. Setelah proyek selesai dalam tiga bulan, masing- masing kelompok rata-rata punya tabungan Rp 900. 000. Ini lalu dipakai modal usaha kelompok. Jumlahnya ratusan kelompok, kebanyakan ibu-ibu. Ketika pihak Jepang dilapori, mereka terkejut. Lalu mereka bertanya, apa keinginannya selanjutnya. Ia katakan, ingin mereka dibina sebagai kelompok usaha. Pihak Jepang bersedia membantu biaya pelatihan Rp 500.000 per kelompok. Pelatihan disesuaikan kebutuhan kelompok, tetapi rata-rata minta pelatihan pembukuan keuangan karena akan berhubungan dengan bank nantinya. Selesai dilatih, pihak Jepang masih menambah bantuan Rp 500.000 per kelompok untuk modal. Jadi, tiap kelompok rata-rata punya Rp 1 ,4 juta, kalau dipakai untuk kulakan bayam uangnya sudah bisa bergulir. Ada kelompok perkebunan, ada kelompok rambutan binjai. Di sana rambutan binjai tumbuh bagus dan sudah panen berkali-kali. Ada kelompok tani kacang tanah yang memasok ke Kacang Garuda karena kami punya kerja sama. Lalu ada kelompok tani singkong tepung tapioka. Pesantren hanya memotivasi dan membimbing, tetapi untuk yang teknis pesantren memanggil ahlinya. Misalnya, untuk pengolahan limbah cair tapioka, mengundang Universitas Diponegoro. Dalam membina petani tersebut, pesantren menggunakan pendekatan dari bawah. Ditelusuri apa kebutuhan dasar mereka dengan bertemu dengan tokoh masyarakat, dan mencari tahu apa kesulitan mereka. Lalu dicarikan solusi, kemudian didiskusikan dengan masyarakat. Pendekatannya begitu. Ia mau masyarakat berdiskusi terbuka, dan mereka juga menyampaikan pikirannya. Tidak cuma inggih-inggih. Ia memang tidak hanya mengurusi pesantren. Tetapi juga sangat peduli kepada kepentingan masyarakat luas di luar pesantren. Menurutnya, hal itu aplikasi ajaran Islam bahwa manusia yang terbaik adalah yang banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Selain itu, kegiatan semacam ini otomatis memberi laboratorium sosial bagi santri. Mereka langsung berinteraksi dengan masyarakat. Sebenarnya pesantren dari dulu tidak pernah ada jarak dengan masyarakat, selalu menyatu, dalam bidang dakwah. Bidang dakwah ini selalu terfokus pada ritual. Bidang-bidang di luar ritual belum banyak disentuh. Bukankah harus ada keseimbangan antara ritual dan material? Cobalah bidang di luar ritual itu juga disentuh sebagai bagian dari aplikasi ajaran, dan karena kita dianjurkan untuk juga berikhtiar. Tidak hanya mengharapkan (bantuan), tangan di bawah. Lalu ia mencoba, ia kumpulkan teman-teman, dan mereka setuju.  ► mlp, d ari berbagai sumber, di antaranya PB NU dan Kompas
Get this blog as a slideshow!