28.2.10

JELANG MUKTAMAR, Warga NU harus mewaspadai Intervensi dari "Luar".


Kembali suara imbauan agar warga Nahdlatul Ulama (NU) dan peserta Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan untuk mewaspadai intervensi dari luar. Alasannya, dikuatirkan peristiwa Muktamar NU di Tasikmalaya tahun 1994 terulang yang hasilnya melemahkan organisasi keagamaan besar itu. "Warga NU dan peserta Muktamar harus mewaspadai intervensi dari luar NU karena saat ini masih banyak pihak yang berkepentingan dengan NU. Saya khawatir, peristiwa Muktamar NU di Tasikmalaya tahun 1994 terulang, di mana penguasa saat itu memasang Abu Hasan untuk melawan Gus Dur dan menguasai sekaligus melemahkan NU," ungkap pengamat politik NU dan mantan politisi PKB, Taufikurrahman Saleh, dalam rilisnya yang diterima detikcom di Jakarta, Minggu (28 /2 /2010). Alasan kekuatiran Taufikurrahman terkait sejumlah alasan. Pertama, NU merupakan kekuatan besar dengan banyaknya kiai kharismatik dan jumlah warga NU menurut lembaga survei mencapai 70-80 juta. Banyak pihak khawatir, jika NU utuh dan kuat. "Karena itu, selalu ada upaya melemahkan NU dengan cara memecah belah, terutama saat Muktamar," jelasnya. Alasan kedua, NU tidak hanya menjadi salah satu kekuatan nasional, tapi juga internasional. Apalagi NU di bawah kepemimpinan KH Hasyim Muzadi mampu berperan dalam percaturan dunia, bukan tak mungkin Muktamar NU juga akan menjadi perhatian dunia. Yang perlu diingat, lanjut Taufikurrahman, saat ini banyak yang berkepentingan agar NU dipimpin oleh tokoh yang lemah dan mudah dikendalikan. Dengan demikian, mereka berharap kekuatan NU pada masa mendatang akan mudah tergerus oleh kekuatan- kekuatan lain. "Inilah yang harus diwaspadai. Peserta Muktamar harus punya ketahanan yang kuat agar tak mudah 'terbeli' oleh kepentingan pihak luar. Bagi kader NU yang biasa menjadi 'pemain', jangan sampai mau menjadi agen-agen pihak luar karena kepentingan pragmatis, karena dampaknya bisa merusak NU sendiri," tegasnya lagi.

KEKEJAMAN ISRA'EL BELUM BERHENTI !






بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

Pembantaian arogan dalam penjara terbesar di dunia, 1.500 warga Muslim Gaza Palestina oleh penjajah Israel > JANUARI 2009

Foto berikut adalah foto yang memperlihatkan beberapa akibat yang ditimbulkan oleh Agresi Militer Israel terhadap Palestina.



================
>>>>> P E M B A L A S A N DGN A Z A B A L A H SWT T E R H A D A P M E R E K A,….. SUNGGUH JANJI ALLAH BENAR ADANYA.....subhanallah…amin.<<<<<<<<<<<<<

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

Ar Ruum 60 :.
Dan bersabarlah kamu SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH ADALAH BENAR dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.

Qs. At Taubah :15
DAN MENGHILANGKAN PANAS HATI ORANG-ORANG MUKMIN. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.

Ali Imran :140 Jika kamu mendapat luka (dalam peperangan), MAKA SESUNGGUHNYA KAUM (KAFIR) ITUPUN MENDAPAT LUKA YANG SERUPA. Dan masa (kemenangan dan kekalahan) itu Kami pergantikan diantara manusia (kafir dan mumin ); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu (mumin) dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang orang yang zalim,

================

HAMPIR 4000 WARGA AMERIKA TEWAS AKIBAT FLU BABI,…TERMASUK LEBIH DARI 500 ANAK-ANAK > OKTOBER 2009

[http://www.kapanlagi.com/h/hampir-empat-ribu-warga-as-tewas-akibat-flu-babi.html

Jum'at, 13 November 2009 10:02]

Kapanlagi.com - Flu babi H1N1 telah menewaskan sekitar 3.900 warga Amerika dari April hingga Oktober, termasuk lebih dari 500 anak, beberapa pejabat kesehatan AS mengatakan, Kamis (12/11).

Data yang lebih baik dari data sebelumnya yang bisa didapat menunjukkan wabah flu itu telah menulari sekitar 22 juta orang Amerika dan memasukkan 98.000 orang ke rumah sakit, kata Pusat untuk Pengawasan dan Pencegahan Penyakit AS.

[Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"]

Anak-anak menerangkan 8 juta dari mereka yang tertular, 36.000 dari mereka yang diopname dan 540 mereka yang tewas.

"Kami pikir jumlah 540 itu adalah perkiraan yang lebih baik untuk gambaran besar yang kami dapatkan di sana," ujar Dr Anne Schuchat dari CDC pada wartawan.

Sekitar 82 anak AS meninggal dalam rata-rata musim flu. CDC menyatakan H1N1 telah menimbulkan musim flu terburuk di AS sejak 1997, ketika ukuran-ukuran sekarang ini dimulai.

"Apa yang kita saksikan pada 2009 tak pernah terjadi sebelumnya," kata Schuchat.

CDC menyatakan para dokter perlu merawat kasus-kasus berat secara cepat dengan obat antiviral seperti Tamiflu, yang dibuat oleh Roche AG (ROG.VX), Relenza, yang diproduksi oleh GlaxoSmithKline (GSK.L) atau untuk kasus berat yang diopname khususnya, yang dibuat oleh RioCryst.

Schuchat menekankan wabah itu tidak memburuk tapi menyebutkan bahwa pihaknya memerlukan waktu untuk mengumpulkan data dalam kasus dan kematian karena flu. Hitungan yang dikeluarkan Kamis bukanlah hitungan kematian yang sebenarnya tapi hitungan berdasar pada data terperinci dari 10 negara bagian.

Perkiraan CDC sebelunya mengenai kematian akibat flu babi di AS adalah 1.200 orang.

Dalam rata-rata musim flu, sekitar 36.000 orang Amerika meninggal dan 200.000 orang masuk rumah sakit dengan 90% di antara mereka yang meninggal dan yang diopname berusia di atas 65 tahun.

Dengan H1N1, 90% dari mereka yang tertular dan sakit serius adalah orang dewasa yang lebih muda dan anak-anak.

Schuchat mengatakan wabah itu mungkin akan terus melewati musim dingin dan awal musim semi. "Kita menghadapi musim flu yang panjang di hadapan kita," tegasnya.

Sebagian besar kasus flu yang dikonfirmasi adalah H1N1 dan sekitar 30% dari orang yang datang ke kantor dokter dan diuji benar-benar karena influenza menjadi mengidap flu, karena telah menghadapi beberapa infeksi lainnya. (ant/meg)

…………DAN KRISIS EKONOMI YANG PARAH………AMERIKA, ISRAEL DAN SEKUTUNYA…

27.2.10

Maulid Nabi : Sebuah Renungan


Ainur Rasyid Peneliti Center for Social Economic and Humanity Studies ( CSEHS) Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Tradisi tahunan Islam Indonesia, setiap tanggal 12 Rabiul Awal, selalu diperingati hari kelahiran Nabi Muhammad sang pembawa damai. Hari kelahiran seorang anak adalah hal biasa terjadi sebagai bentuk iradah ketuhanan dalam mencipta.Akan menjadi sangat istimewa apabila hadirnya sang bayi di tengah masyarakat mampu memecah kebuntuan problematika sosial umat. Lahirnya Muhammad dikenang karena perjalanan hidupnya mampu menjebol benteng sekat sosial antara si miskin dan kaya, penindas dan yang ditindas, penguasa dan yang dikuasai. Sehingga, tak terjadi diskriminasi yang berdasarkan kepada warna kulit, ras, suku dan kedaerahan. Ditegaskan, yang membedakan manusia bukanlah yang bersifat fisik, namun sejauh mana kecintaan dan ketakwaannya kepada Tuhan. Dalam mengikuti prosesi mengenang hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad, umat Islam menyatakan sebagai pengikut Nabi. Namun, banyak juga ditemui umat muslim yang mengenang Maulid Nabi hanya terjebak pada erotomania tanpa iman sosial. Kalau dalam bahasanya Emha Ainun Najib, salah satu kelemahan umat Islam adalah tidak bisa menaklukkan kehendak pribadi yang nyaris mendekati kepada nafsu. Sehingga, setiap kali melakukan ibadah ritual, ibadah sosialnya tidak didapat dan sebaliknya. Begitu juga dengan ritual maulid, kadang cuma mampu mengimajinasi kebesaran Muhammad, tidak ada transformasi sosial profetik perjuangan Muhammad dalam dirinya. Sudah berulang kali Maulid Nabi di negeri ini dilakukan, akan tetapi cita-cita Muhammad untuk mengangkat harkat martabat seseorang tanpa melihat tingkat keimanan dan status sosialnya, belum cukup tampak. Beberapa waktu sebelumnya, terjadi perusakan tempat ibadah, penyerangan terhadap pengikut aliran tertentu, sampai serangan terhadap demonstrasi yang dilakukan oleh pihak yang berseberangan. Jika ditilik lebih dalam, yang melakukan aksi itu mayoritas adalah orang-orang yang setiap tahun melakukan refleksi kelahiran Nabi Muhammad. Di mana sebenarnya letak keyakinan umat muslim yang meyakini bahwa Islam yang dibawa Muhammad adalah agama yang penuh cinta kasih, rahmat bagi seluruh alam jika masih ada kekerasan yang berbaju agama, saling membenci dan mencurigai satu sama lain. Kekerasan yang dilandasi kebencian tentu tidak dilakukan oleh seluruh umat muslim, tapi yang tidak memahami nilai-nilai universalitas perjuangannya. Sosio-kultur masyarakat Arab pra- Islam saat Muhammad dilahirkan, bukan tatanan masyarakat harmonis-dialektis, melainkan  kehidupan yang penuh gonjang- ganjing kebobrokan, baik dari segi agama, sosial-politik maupun budaya. Tapi Muhammad tidak pernah membenci siapa pun, beliau tetap melakukan dakwah dengan tenang dan menghargai pilihan umatnya.    Cinta kasih Maka, Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini, yang jatuh pada 26 Februari besok, yang dipercaya sebagai bulan cinta kasih, harus menjadi media merefleksi dan alat untuk membuang jauh-jauh sifat kebencian terhadap sesama. Proses maulid harus dijadikan pembacaan (iqra) sosial keagamaan dengan misi keharmonisan sosial secara keseluruhan. Seperti halnya yang diterangkan dalam firmannya QS al-Anbiya (21) :107 , “Kami tidak mengutusmu (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam”. Jika dalam memperingati Maulid Nabi, umat muslim belum bisa menghilangkan kebencian terhadap sesama, tidak ada keikhlasan, rasa cinta, mustahil disebut sebagai pengikut setia Muhammad.   Zuly Qodir (2009) menegaskan umat muslim yang meyakini perbedaan pandangan sebagai rahmat untuk semua umat manusia, memberikan paradigma bahwa Islam sudah seharusnya didakwahkan tidak untuk memberikan rasa takut pada umat manusia yang ada di muka bumi. Rahmat dalam makna yang lain adalah rasa halus (kasih) yang mendorong pada kebaikan kepada yang dikasihi, siapa pun itu, termasuk seluruh makhluk hidup, harus  mendapatkan kasih sayang dari Islam. Oleh sebab itu, Maulid Nabi tidak hanya tertuju sepenuhnya kepada Nabi Muhammad SAW, tapi memaulidkan keteduhan spiritual dalam diri kita masing-masing. Islam tidak hanya membahas soal spiritual namun mempunyai dimensi kemanusiaan. Dari sini, tafsir profetik harus dihadirkan sebagai perlawanan atas ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Dengan demikian, semangat baru Rasulullah Muhammad akan hadir memberi pencerahan dan perbaikan  dalam menyinergikan antara nilai-nilai keagamaan dan nilai universalitas diri manusia. - Oleh : Ainur Rasyid Peneliti/JIBI/Harian Jogja

25.2.10

NU harus Berpolitik Kebangsaan,bukan Politik Kekuasaan!


Banyak tantangan yang akan dan harus dihadapi NU masa depan. Di antaranya perbaikan organisasi, peran NU dalam politik kebangsaan, serta mengembangkan pemikiran Aswaja dalam masalah perekonomian. Untuk perbaikan organisasi, hal-hal yang harus dilakukan di antaranya mengubah paradigma dari orpol menjadi ormas keagamaan; lalu menghilangkan pragmatisme dalam bentuk politik uang dan menumbuhkan kembali ruh jihad NU yang sudah amat merosot. Menumbuhkan rasa saling percaya antartokoh NU.Lalu mengevaluasi kelemahan organisasi NU dengan mengkaji keberhasilan sejumlah PCNU dan PWNU yang maju, serta keberhasilan Muslimat NU dan ormas Islam lain serta organisasi nirlaba Islam seperti dompet dhuafa, YDSF. Berikutnya mendayagunakan banom, lajnah dan lembaga di dalam NU dengan mendorong dan membantu di mana diperlukan. Para Ketua PBNU diberi tugas koordinasi banom, lembaga, lajnah dan wilayah. Mereka diminta menyusun program tahunan yang harus dievaluasi setiap tahun. Peran para ketua PBNU harus ditingkatkan, sedang Ketua Umum menjadi semacam kapten dalam kesebelasan sepakbola, bukan seperti pemain tunggal. Ketua lajnah dan lembaga yang dipilih haruslah orang yang punya rekam jejak dan prestasi yang nyata serta punya komitmen kuat. Untuk meredam dan mengurangi gesekan di antara tokoh NU di berbagai tempat, perlu penegasan posisi NU dalam politik kepartaian. Perlu rumusan khittah NU di bidang politik yang tidak multitafsir. NU harus berdiri di atas semua parpol. Struktur NU tidak boleh melibatkan diri ke dalam politik praktis. Kalau ada tokoh struktur NU menjadi calon dalam Pilpres/Pilkada, harus mundur dari posisi di dalam struktur NU. Struktur NU tidak boleh mendukung calon mana pun di dalam Pilpres/Pilkada. Kalau ada struktur NU yang melanggar ketentuan itu, perlu diatur adanya sanksi. Perbaikan berikutnya, yakni menegaskan posisi wilayah kewenangan Syuriyah dan Tanfidziyah. Harus diperjelas kegiatan mana yang termasuk kebijakan (wilayah Syuriyah), dan mana kegiatan yang termasuk operasional atau pelaksanaan kebijakan (wilayah Tanfidziyah). Organisasi juga harus memanfaatkan sebanyak mungkin potensi ilmuwan dan profesional di dalam kalangan Nahdliyin, khusunya di kalangan muda. Merumuskan sistem kaderisasi berjenjang dan melaksanakannya. Kaderisasi jangan seperti mencetak kader politisi yang pragmatis, tetapi kader pemimpin yang punya karakter dan integritas serta berorientasi karya nyata. NU juga harus aktif berpolitik kebangsaan/politik kemasyarakatan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan, bukan politik kepartaian/politik kekuasaan. Di sisi lain, menyampaikan pikiran atau gagasan untuk menyelesaikan masalah bangsa/daerah, tidak hanya dalam masalah agama tetapi juga dalam banyak masalah lain seperti masalah ekonomi, lingkungan, pendidikan, buruh migran, pertanian, dll. NU punya potensi untuk melakukan hal itu. Banyak sekali ilmuwan atau akademisi dari kalangan NU di dalam berbagai bidang keilmuan yang tersebar di berbagai PTN/PTS tetapi tidak terdata dan tidak dimanfaatkan. Juga menginventarisasi UU, peraturan dan kebijakan yang merugikan rakyat kecil (yang notabene sebagian besar adalah warga NU), lalu menyusun alternatif perbaikan dan memperjuangkannya melalui saluran warga NU yang aktif di dalam DPR dan DPRD.( Bersambung)

23.2.10

HAMAS Berharap ISRA'EL di Masukkan kelompok Pendukung Terorisme!


Hamas hari Senin mendesak para pemimpin Eropa memasukkan Israel ke dalam daftar negara pendukung terorisme karena keterlibatannya dalam pembunuhan seorang tokoh Hamas di Dubai bulan lalu. "Kami mendesak Uni Eropa (EU) memasukkan wilayah kesatuan Zionis (Israel) ke dalam daftar negara yang mendukung terorisme terorganisasi karena mereka membahayakan perdamaian internasional," kata Hamas dalam sebuah pernyataan. Uni Eropa sebelumnya mengungkapkan amarah atas pembunuhan komandan Hamas Mahmud Al-Mabhuh dan dugaan penggunaan paspor palsu EU dalam pembunuhan itu, yang dituduhkan pada badan intelijen Israel Mossad. Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman menekankan bahwa tidak ada bukti negara Yahudi itu mendalangi pembunuhan tersebut. Mabhuh, seorang pendiri sayap bersenjata Hamas, ditemukan tewas di kamar hotelnya di Dubai pada 20 Januari. Polisi Dubai, yang menuduh Mossad terlibat, mengeluarkan nama dan foto 11 tersangka yang memasuki Uni Emirat Arab dengan paspor Eropa --enam dari Inggris, tiga dari Irlandia, satu dari Jerman, dan satu dari Prancis. Paspor-paspor itu terutama milik orang-orang dengan kewarganegaraan ganda yang tinggal di Israel, yang terkejut mengetahui mereka dikait-kaitkan dengan kasus pembunuhan itu. Hamas hingga kini masih terlibat dalam konflik dengan Israel, yang menarik diri dari wilayah pesisir Gaza pada 2005 namun tetap memblokadenya. (afp)

Subhanallah...Indonesia didera Bencana sebanyak 6.632 kali selama 13 tahun terakhir!


Wilayah Indonesia dilanda sebanyak 6.632 kali bencana selama kurun waktu 13 tahun ( 1997-2009) yang menunjukan negara ini sebagai daerah rawan bencana di dunia. Bencana paling banyak terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 1.302 kali, kata programme Asociate Crisis Prevention and Rocovery Unit lembaga PBB, UNDP yang juga Koordinator Pusat Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ridwan Yunus di Padang, Senin. Hal itu disampaikannya dalam sosialisasi Daftar Informasi Bencana Indonesia (DIBI) kepada 90 orang perwakilan pihak terkait kebencanaan di Sumatra Barat. Ia menambahkan, setelah 2007 bencana paling banyak kedua terjadi pada 2004 mencapai 895 kali, disusul tahun 2007 sebanyak 888 kali, tahun 2006 (851) , tahun 2005 (693) , tahun 2003 (532) dan tahun 1998 (497). Sedangkan, jumlah bencana paling sedikit terjadi pada tahun 1997 yakni hanya empat kali, disusul tahun 2000 sebanyak 82 kali dan tahun 1999 sebanyak 101 kali, tambahnya. Sementara itu, jumlah bencana melanda Indonesia selama 2009 masih dalam pendataan dan telah terdata sebanyak 498 kali. Sedangkan jenis bencana yang melanda wilayah Indonesia didominasi banjir yang mencapai 35 persen dari total 6.632 kali bencana, disusul kekeringan (18 persen), tanah longsor, angin topan dan kebakaran, masing-masing 11 persen. Sementara itu bencana banjir yang disusul tanah longsor tercatat sebanyak 3 persen dari total jumlah bencana tersebut, katanya.

(sumber:ANTARA NEWS)

Mengenal Mario Teguh:Sang Motivator


Buat yang nge-fans Mario Teguh, semoga postingan yang di ambil dari milis ini bermanfaat.

Berikut ini adalah Petikan Wawancara Mario Teguh dengan SUFINEWS, untuk menjawab siapa sebetulnya beliau..

Pak Mario, saat memberikan terapi atau memotivasi, di antara Ilmu Kejiwaan Barat dan Ilmu Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?

Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, sebenarnya “peta” yang ada dalam Kecerdasan Emosional yang saya tawarkan merupakan gugusan pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi dalam realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang demikian manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap split personality atau kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira melalui apa manusia dapat menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati (haqiqi; red)? Dalam beragama bukan?!

Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?!

Ha…ha…ha…terimakasih, Mas. Tapi terus terang. Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal.

Kenapa ?

Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya !” terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal ketuhanan.. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan pertama.
Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loch. Berislam itu mbok yang keren abis gitu loch ! Maksudnya jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama loch. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulka n agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain.

Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?

Ha…ha…ha…ya jelas tidak sama toch, Mas. Tapi oleh Tuhan manusia diberi kebebasan memilih diantara ketidak samaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsof. Masih ada toch Mas orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas. Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak toch!? Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.

Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk agama ?

“Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri. Anda adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya, sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang akan terjadi pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas semuanya antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya diperusahaan kehidupan Anda.. Demikian pula Anda sendirilah yang menentukan berapa besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak puas dengan penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat cermin Anda dan menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang ada didalam cermin,” begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.

Apa yang anda contohkan bukan malah menujukkan bahwa manusia adalah segala-segalanya. Terkesan, seolah-olah Tuhan tak memiliki peran apa-apa disana ?

Di atas saya mengatakan bahwa alasan kita tersenyum di pagi hari kepada isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin mengabdi kepada-Nya. Begitu juga dengan contoh barusan, itu sebenarnya merupakan cermin atas pesan agama yang meminta totalitas kita dalam menjalankan sebuah amanah.. Apalagi jika kita bicara tentang “cermin”, akan sangat panjang pembicaraan kita. Dan setiap spirit tidak selalu harus ada embel-embel nama surat atau ayat dari kitab suci tertentu. Bukankah seorang jenderal paling ateis pun ketika melepaskan pasukannya ke medan perang tak dapat menghindarkan diri dari ucapan, “Semoga kalian sukses!”. Kalimat “Semoga” disitu menyimpan harapan campur tangan kekuatan dari Yang Maha Kuat. Biarlah Tuhan menjadi sesuatu yang tersembunyi dikedalaman relung hati kita yang paling dalam.

Apa arti sukses menurut anda ?

Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani menyimpulkan bahwa sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian, meski tak ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya. Hanya saja itu semua bukan kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian sulit menemukan kesuksesan-kesukses an yang pernah diraihnya.
Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.

Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, “Biarlah kita sekarang susah, asal nanti kita sukses”. Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya bertanya, dimana anak tangganya? Bukankah untuk meraih kesuksesan besar harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang?. Ada pepatah yang mengatakan, “Sukses akan melahirkan sukses yang lain.” Nah dari pepatah ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang lebih besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.

Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu ‘Atha’illah, yang mengatakan, “Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak sempurna hasilnya.” Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati dalam diri kita ?

O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan hati diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang kita punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya katakan pada diri sendiri, “Aku masih ingin belajar”, “Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku” , “Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik”. “Aku masih ingin belajar”, “Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku” , “Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik”. Jika ditilik dari kehidupan kita, umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda sampaikan masih menjadi problem besar tersendiri ya ?

Persis seperti yang saya perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, “Orang itu madzhabnya apa ?.” Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara “orang luar”), mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin. Kita, atau persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.

Anda punya pengalaman keberislaman Anda yang inclusive itu?

Iya. Pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya.

Pengalaman lain ?

Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, “Loch, koq ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario !?” Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.

Facebooker pun Mendukung Habib Luthfi


Dukungan bagi Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya untuk maju sebagai kandidat Rais Aam PBNU pada muktamar mendatang terus mengalir. Selain di dunia nyata, dukungan datang dari para pengguna situs jejaring sosial Facebook. Salah satunya bertajuk “Habib Luthfi bin Yahya for Rais Syuriah PBNU”. Hingga Senin (22/2) petang, sudah 1.038 Facebookers bergabung di grup ini.

Meluasnya dukungan ini tak lepas dari kesiapan Habib Luthfi menerima ‘pinangan’ Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan ke kediaman Habib Luthfi, di Noyontaan Gang 7 Pekalongan. Jajaran pengurus NU yang hadir antara lain Rais Syuriyah KH Musthofa Bakri, Wakil Rais KH Zaenuri Zainal Mustofa dan Katib KH Zakaria Ansor. Sedangkan dari jajaran tanfidziyah ada Ketua H Ahmad Rofiq, Wakil Ketua H Sulaiman, dan Wakil Bendahara H Imron Asfuri.

“Untuk kejayaan NU ke depan, saya menyatakan bersedia dicalonkan menjadi Rais Aam PBNU periode lima tahun ke depan,” kata Habib Luthfi, menanggapi ‘pinangan’ tersebut.

Kesediaan Habib Luthfi dicalonkan menjadi Rais Aam PBNU didorong oleh keinginan untuk “ndandani” NU agar lebih baik dari yang sekarang ini. “Saya bersedia, karena ingin memperbaiki NU, agar lebih baik”, ujar Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah itu.

Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Ahmad Rofiq usai menghadap Habib Luthfi mengatakan, “Kedatangan PCNU ke rumah Habib dalam rangka memastikan kesediaan beliau untuk menjadi calon rais aam dan alhamdulillah beliau bersedia.”

Pilihan calon rais aam ke Habib Luthfi, kata Rofiq, karena selama ini ulama kharismatik ini dinilai telah mampu membuktikan diri membenahi Jam’iyyah Ahlit Thariqah An Nahdliyyah. Selain itu, di antara figur yang ada, Habib Luthfi dinilai paling tepat menjadi Rais Aam PBNU periode lima tahun ke depan.



BERIKUT PROFIL HABIB LUTHFI BIN YAHYA PEKALONGAN:

Maulana Habib dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M. Dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah al Karimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Bâ Alawi. Sementara nasab beliau dari jalur ayah: Rasulullah Muhammad SAW Sayidatina Fathimah az-Zahra + Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Imam Husein ash-Sibth Imam Ali Zainal Abiddin Imam Muhammad al-Baqir Imam Ja’far Shadiq Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib Imam Isa an-Naqib ar-Rumi Imam Ahmad Al-Muhajir Imam Ubaidullah Imam Alwy Ba’Alawy Imam Muhammad Imam Alwy Imam Ali Khali Qasam Imam Muhammad Shahib Marbath Imam Ali Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy Imam Alwy al-Ghuyyur Imam Ali Maula Darrak Imam Muhammad Maulad Dawileh Imam Alwy an-Nasiq Al-Habib Ali Al-Habib Alwy Al-Habib Hasan Al-Imam Yahya Ba’Alawy Al-Habib Ahmad Al-Habib Syekh Al-Habib Muhammad Al-Habib Thoha Al-Habib Muhammad al-Qodhi Al-Habib Thoha Al-Habib Hasan Al-Habib Thoha Al-Habib Umar Al-Habib Hasyim Al-Habib Ali Al-Habib Muhammad Luthfi Masa Pendidikan Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayahanda al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya: Al Alim al ‘Alamah Sayid Ahmad bin ‘Ali bin Al Alamah  al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas Sayid al Habib al ‘Alim Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri) Sayid al ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi Sayid ‘Al Alim Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi. Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun. Perjalanan Ilmiah Selanjutnya pada tahun 1959 M, beliau melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu beliau melaksanakan ibadah haji serta menjiarahi datuknya Rasulullah Saw., disamping menimba ilmu dari ulama dua tanah Haram; Mekah-Madinah. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali- wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi. Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus), dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tashawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan- bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah, sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at. Silsilah Thariqah dan Baiat: Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Yahya mengambil thariqah dan hirqah Muhammadiah dari para tokoh ulama. Dari guru-gurunya beliau mendapat ijazah untuk membaiat dan menjadi mursyid. Diantara guru-gurunya itu adalah: Thariqah Naqsyabandiah Khalidiyah dan Syadziliah al ‘Aliah Dari Al Hafidz al Muhadits al Mufasir al Musnid al Alim al Alamah Ghauts az Zaman Sayidi Syekh Muhammad Ash’ad Abd Malik bin Qutb al Kabir al Imam al Alamah Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid Sanad Naqsyabandiayah  al Khalidiyah: Sayidi Syekh ash’ad Abd Malik dari bapaknya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid dari Quth al Kabir Sayid Salaman Zuhdi dari Qutb al Arif Sulaiman al Quraimi dari Qutb al Arif Sayid Abdullah Afandi dari Qutb al Ghauts al Jami’ al Mujadid Maulana Muhammad Khalid sampai pada Qutb al Ghauts al Jami’ Sayidi Syah Muhammad Baha’udin an Naqsyabandi al Hasni. Syadziliyah : Dari Sayidi Syekh Muhammad Ash’Ad Abd Malik dari al Alim al al Alamah Ahmad an Nahrawi al Maki dari Mufti Mekah-Madinah al Kabir Sayid Shalih al Hanafi ra. Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah: Dari al Alim al Alamah Qutb al Kabir al Habib ‘Ali bin Husain al ‘Athas. Afrad Zamanihi Akabir Aulia al Alamah al habib Hasan bin Qutb al Ghauts Mufti al kabir al habib al Iamam ‘Utsman bin Abdullah bin ‘ Aqil bin Yahya Bâ ‘Alawi. Al Ustadz al kabir al Muhadits al Musnid Sayidi al Al Alamah al Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Bâ ‘Alawi. Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Ali bin Sayid Al Qutb Al Al Alamah Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi. Al Alim al Arif billah al Habib Hasan bin Salim al ‘Athas Singapura. Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim Bâ ‘Alawi. Dari guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah dan ijazah untuk baiat, talqin dzikir khas dan ‘Am. Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah: Dari Al Alim al Alamah tabahur dalam Ilmu syaria’at, thariqah, hakikat dan tashawuf Sayidi al Imam ‘Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Qutb al Ghauts al Habib ‘Alawi Bâfaqih Bâ ‘Alawi Negara Bali.  Sayid Ali bin Umar dari Al Alim al Alamah Auhad  Akabir Ulama Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan. ra. Dari kedua gurunya itu, al Habib Muhammad Luthfi mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah, talqin dzikir dan ijazah untuk bai’at talqin. Jami’uthuruq (semua thariqat) dengan sanad dan silsilahnya: Al Imam al Alim al Alamah al Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syekh Muhammad al Maliki bin Imam Sayid Mufti al Haramain ‘Alawi bin Abas al Maliki al Hasni al Husaini Mekah. Dari beliau, Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah mursyid, hirqah, talqin dzikir, bai’at khas, dan ‘Am, kitab-kitab karangan syekh Maliki, wirid-wirid, hizib-hizib, kitab-kitab hadis dan sanadnya. Thariqah Tijaniah: Al Alim al Alamah Akabir Aulia al Kiram ra’su al Muhibin Ahli bait Sayidi Sa’id bin Armiya Giren Tegal. Kiyai Sa’id menerima dari dua gurunya; pertama Syekh’Ali bin Abu Bakar Bâsalamah. Syekh Ali bin Abu Bakar Bâsalamah menerima dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Kedua Syekh Sa’id menerima langsung dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Dari Syekh Sa’id bin Armiya itu Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah, talqin dzikir, dan menjadi mursyid dan ijazah bai’at untuk khas dan ‘am. Kegiatan-kegiatan Maulana Habib: Pengajian Thariqah tiap jum’at Kliwon pagi (Jami'ul Usul thariq al Aulia). Pengajian Ihya Ulumidin tiap Selasa malam. Pengajian Fath Qarib tiap Rabu pagi(husus untuk ibu-ibu) Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah husus ibu-ibu. Pengajian tiap bulan Ramadhan (untuk santri tingkat Aliyah). Da’wah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara. Rangakain Maulid Kanzus (lebih dari 60 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya. Dan kegiatan lainnya. Jabatan Organisasi: Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah. Ketua Umum MUI Jawa Tengah dll.  

20.2.10

ANSOR dan Tantangan Gerakan Wahabiah


Gerakan Pemuda (GP) Ansor kini makin menghadapi tantangan yang berat. Pasalnya, gerakan Islam Transnasional makin terang-terangan menyerang paham ahlussunah wal jamaah. Apalagi dengan telah kembalinya tokoh panutan kita, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Untuk itu, Ansor di minta menjadi benteng terdepan untuk menghalau segala gerakan islam transnasional yang nota bene pelakunya juga para generasi muda. ” NU, juga perlu memiliki kesaktian mandraguna secara fisik yang bisa dilakoni oleh para Ansor,” ujar Mantan Rais Syuriyah Pengurus Cabang (PC) NU Brebes KH Mansyur Tarsudi saat menemui PC GP Ansor Brebes di rumahnya Jumat (19 /2). Menurutnya, Ansor juga perlu memiliki kesaktian batiniah. Wujudnya, dengan selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. ”Kendati masih muda, jangan lupakan tasbih sebagai alat untuk berdzikir,” pesannya. Dua kekuatan, lanjutnya, yakni kekuatan lahir dan batin akan menyeimbangkan gerak langkah Ansor. Sehingga ansor tidak bisa terombang-ambing dengan badai apapun yang menerpa kehidupan berorganisasi. Sedang KH Subekhan Makmun, menyarankan agar Ansor dalam kegiatannya lebih menyentuh pada kehidupan sosial. ”Selain berkutat dalam kegiatan taklim, ansor hendaknya menguatkan pada aktivitas mabarot ( kegiatan sosial, red),” pinta KH Subekhan yang juga mantan Rais Suriyah PC NU Brebes. Dia mengingatkan, bahwa kita akan ditolong bila menolong orang kecil. ”Ansor itu sendiri artinya penolong. Maka sangat tepat bila kegiatan sosial lebih di teguhkan lagi,” ujarnya.(http://nu.or.id)

'DUA HARI' Maulid Nabi. -Arif Menyikapi Perbedaan-


Awal Rabiul Awal 1431 H sudah ditetapkan. Tapi kali ini ada dua ketetapan yang berbeda, versi pemerintah dan pemerintah dan versi NU. Akibatnya jelas, Maulid Nabi 12 Rabiul Awal jatuh pada hari yang berbeda pula. Versi pemerintah hari Jumat 26 Februari 2010 , sedangkan versi NU hari Sabtu 27 Februari 2010. Bagaimana menyikapinya? Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A. Ghazalie Masroeri, berharap masyarakat bersikap arif dan mengedepankan ukhuwah islamiyah ataumengedepankan persaudaraan sesama muslim dalam menyikapi perbedaan penetapan awal Rabiul Awal 1431 H yang menyebabkan perbedaan peringatan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut. “Wong Idul Fitri saja bisa beda, apalagi Maulid Nabi. Ini tidak masalah. Yang penting adalah kapan saja dan di mana pun kita perlu melakukan perenungan dan mencari uswatun hasanah (teladan yang baik) dari peringatan Maulid Nabi ini,” katanya, kemarin. Perbedan penetapan awal bulan ini terjadi karena NU dan pemerintah memakai kriteria penetapan awal bulan berbeda. Pemerintah mengacu pada almanak yang menggunakan data hisab dengan kriteria wujudul hilal atau asal hilal sudah di atas ufuk, sementara NU selain menggunakan hisab dengan kriteria imkanurrukyah juga mengharuskan pembuktian di lapangan atau disebut dengan rukyatul hilal. Hasilnya, pemerintah menetapkan awal bulan jatuh pada Senin, 15 Februari 2010 , sehingga Maulid Nabi 12 Rabiul Awal jatuh pada 26 Februari 2010. Sedangkan NU menetapkan tanggal 1 Rabiul Awal jatuh pada Selasa 16 Februari 2010 , sehingga 12 Rabiul Awal jatuh pada 27 Februari 2010. Kiai Ghazalie berpendapat, perbedaan hitungan hisab dalam penentuan tanggal 1 Rabiul Awal 1431 H tahun ini menunjukkan bahwa hisab tidak dapat dijadikan dasar penyatuan penetapan awal bulan Qomariyah atau Hijriyah. “Ada lebih dari 20 manhaj (metode) hisab berkembang di Indonesia, dan perbedaan hitungan hisab selalu ada. Maka hisab tidak bisa dijadikan dasar, melainkan hanya sebagai pemandu pelaksanaan rukyatul hilal,” katanya. Perbedaan dalam hitungan menit, lanjut Kiai Ghazalie, masih dapat ditoleransi. Yang menjadi masalah adalah apabila perbedaan sudah pada hitungan derajat, lebih- lebih apabila perbedaan itu diterapkan pada hitungan hari. Menurut Kiai Ghazali, perbedaan almanak NU dengan almanak lain pernah terjadi di masa lalu, yakni ketika menteri agama dijabat oleh Said Aqil Munawwar pada 2003. Perbedaan juga terjadi baru-baru ini pada saat menteri agama dijabat oleh M. Maftuh Basyuni. “Tetapi perbedaan-perbedaan itu dapat teratasi dengan rukyah-rukyah yang diselenggarakan oleh NU dan berhasil melihat hilal. Sekiranya untuk penetapan hari Maulid Nabi Muhammad SAW diselenggarakan rukyah oleh negara, maka insyaallah yang benar adalah almanak NU yang menetapkan hari Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada hari Sabtu, 27 Februari 2010 ,” urai Kiai Ghazalie.

19.2.10

Opsi "NON PENAL " Nikah Siri.


Kementerian Agama melalui salah satu dirjennya telah merilis bahwa bakal ada revisi terhadap Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Salah satu revisi yang sangat menarik perhatian masyarakat dan juga mendapat penekanan tersendiri dari Kementerian Agama adalah ancaman pidana bagi pelaku nikah siri berupa perampasan kemerdekaan selama enam bulan dan denda berupa uang.Politik hukum dari keluarnya ancaman pidana bagi pelaku nikah siri berdasarkan keterangan pejabat Kementerian Agama tersebut adalah untuk memberikan perlindungan hukum bagi wanita dan anak-anak dari hasil perkawinan siri tersebut, baik ketika rumah tangganya masih terjalin harmonis apalagi kalau terjadi perceraian di antara pasangan siri tersebut. Alasan agamis juga diberikan, yaitu untuk menghindarkan perbuatan dosa dari laki-laki yang melakukan penelantaran terhadap pasangan wanita sirinya. Sudah merupakan fenomena umum, hampir semua produk legislasi di Indonesia, baik itu berupa undang-undang, peraturan pemerintah sampai peraturan daerah, gemar mencantumkan sanksi pidana seringan apa pun. Kementerian Agama semestinya mengetahui pencantuman sanksi pidana dalam sebuah peraturan (apa pun bentuknya) berkaitan dengan apa yang disebut legislated environment yang mensyaratkan adanya penaatan terhadap asas legalitas, pilihan alternatif pemidanaan, dan prioritas yang akan dikriminalisasikan. Dalam legislated environment ini harus dipikirkan supaya tidak terjadi over criminalization, artinya jangan sampai suatu perbuatan yang tadinya bukan kejahatan/ tindak pidana (misalnya nikah siri) dijadikan suatu tindak pidana yang menyebabkan masalah baru, sebab salah menentukan kebijakan akan berakibat kebijakan tersebut menjadi faktor kriminogen (faktor timbulnya kejahatan). Secara kasat mata, pengenaan sanksi pidana bagi pelaku nikah siri memperlihatkan pemerintah c.q. Kementerian Agama lebih menitikberatkan pada sifat represif sesudah kejahatan terjadi. Alasan melindungi kepentingan hukum wanita dan anak-anak yang dihasilkan dari nikah siri menunjukkan kepanikan dan ketidakberdayaan negara dalam mengatur dan memberi kepastian kepada warganya. Pencantuman sanksi pidana bagi pelaku nikah siri menunjukkan pemerintah melakukan tindakan seperti membunuh tikus dalam lumbung padi, sebab akan timbul pertanyaan kenapa pemerintah tidak menjalankan opsi nonpenal ( di luar hukum pidana) dalam mengatur nikah siri. Mengingat nonpenal lebih bersifat tindakan pencegahan untuk terjadinya kejahatan (nikah siri), sasaran utamanya adalah menangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya nikah siri tersebut. Faktor kondusif tersebut antara lain berpusat pada masalah-masalah atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menumbuhsuburkan nikah siri. Dengan demikian, dilihat dari sudut politik kriminal secara makro dan global, upaya nonpenal menduduki posisi kunci dan strategis dari keseluruhan upaya politik kriminal. Tanpa memberikan pendapat tentang setuju dan tidak setuju terhadap perbuatan nikah siri, penulis berpendapat, upaya penggunaan jalur penal terhadap perbuatan nikah siri tidak sesuai dengan kecenderungan internasional yang sudah sedikit demi sedikit menghindari penggunaan hukum pidana dalam menanggulangi pelanggaran hukum di masyarakat. Dunia internasional sudah sepakat bahwa strategi pencegahan harus didasarkan kepada penghapusan sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menimbulkan kejahatan. Apabila selama ini merebak nikah siri di masyarakat dengan alasan takut berbuat zina, tentu saja alasan seperti ini dapat dibenarkan sebab zina adalah dosa besar yang menduduki peringkat ketiga dari dosa-dosa besar. Sekarang tinggal mencari alasan sosial mengapa banyak yang menikah siri? Pertama-tama kita harus melihat kepada aturan normatif dari UU Perkawinan, apakah UU ini sudah memenuhi rasa keadilan? Apakah UU ini dapat ditegakkan atau kalaupun ada pengaturan seperti dulu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 , apakah peraturan ini tidak mengatur hal-hal yang tidak mungkin dilaksanakan? Apabila hal ini terjadi, UU Perkawinan itu sendiri yang menyebabkan terjadinya perbuatan nikah siri. Apabila nikah siri ini nantinya dikatakan sebagai kejahatan karena diberi sanksi pidana, maka dapat disimpulkan, UU Perkawinan merupakan faktor kriminogen dari perbuatan nikah siri. Alangkah eloknya apabila pemerintah dalam merevisi UU Perkawinan in casu di dalamnya perbuatan nikah siri lebih memilih jalur nonpenal, yaitu melalui jalur kebijakan sosial  termasuk jalur prevention without punishment. Kebijakan sosial pada dasarnya adalah kebijakan atau upaya rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Kebijakan pengenaan sanksi pidana terhadap pelaku nikah siri semestinya diikuti dan melihat nilai-nilai kultural, mencakup strategi perlindungan masyarakat secara menyeluruh serta direncanakan secara rasional dan proposional, bukan hanya menutupi kelemahan negara dalam mengatur kehidupan warganya. Revisi UU Perkawinan semestinya diarahkan kepada hal-hal yang menghambat orang untuk berbuat baik yang dibenarkan agama tetapi masih dianggap sebagai pelanggaran hukum oleh negara atau sebaliknya, melakukan perbuatan yang tidak melanggar hukum negara tetapi dari sudut syara justru merupakan perbuatan dosa. Pencantuman sanksi pidana terhadap pelaku nikah siri harus didasarkan pada perhitungan apakah nikah siri menimbulkan korban yang besar dalam masyarakat dan menimbulkan kerugian yang tidak dapat dipulihkan kembali. Apabila tidak, sebaiknya pemerintah menempuh jalur nonpenal dan jalur kebijakan sosial dengan alasan jalur penal efektivitasnya diragukan dalam mencapai tujuan pemidanaan, bahkan untuk mencapai tujuan pemidanaan yang berupa prevensi umum dan prevensi khusus saja efektivitas penggunaan sanksi pidana diragukan. Efektivitas penanggulangan kejahatan lebih dipengaruhi oleh bekerjanya atau berfungsinya perubahan-perubahan.
***EDI SETIADI Penulis, Guru Besar Hukum Pidana dan Sistem Peradilan Pidana Kopertis Wilayah IV dpk Fakultas Hukum Unisba, Wakil Rektor I Unisba.

18.2.10

PRO KONTRA:Orang orang Bicara NIKAH SIRI


Soal Nikah Siri Rhoma Irama Meradang Pro-kontra tentang RUU Peradilan Agama beberapa hari ini membuat Raja Dangdut Rhoma Irama meradang. Katanya, pengusulnya ateis! Kamis, 18 Februari 2010 | 14 :05 WIB |

Atur Nikah Siri, Negara Tidak Melanggar Tuhan Dengan mengatur nikah siri, negara dinilai tidak mencampuri urusan agama dan tidak pula mengatur tata cara upacara pernikahan. Kamis, 18 Februari 2010 | 13 :46 WIB |

"Mahadewi": Nikah Siri? Ya Salah Perempuannya, Dong! Dua personel Mahadewi Tata dan Puri secara tegas mendukung RUU yang mempidanakan pelaku nikah siri. Kamis, 18 Februari 2010 | 13 :33 WIB

Syafii Maarif: Nikah Siri Sah, tapi Lebih Baik Dicatatkan Mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif menilai nikah siri sah secara agama. Rabu, 17 Februari 2010 | 20 :16 WIB |

Dinikah Siri Rhoma Irama, Angeliq Merasa "Dikadalin" Pernah menikah siri dengan Rhoma Irama, Angeliq mengaku merasa dikadali. "Pria itu mengumbar gombal atas nama cinta," ujarnya. Rabu, 17 Februari 2010 | 18 :41 WIB |

PKS: Nikah Siri Pengalihan Isu! Isu pernikahan siri dinilai PKS sebagai usaha untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap permasalahan Century dan Pengelolaan Haji. Rabu, 17 Februari 2010 | 18 :28 WIB |

Vidi Aldiano Dukung Sanksi Nikah Siri Vokalis muda Vidi Aldiano mendukung pemberian sanksi atas para pelaku nikah siri. Rabu, 17 Februari 2010 | 17 :21 WIB |

Luna Maya: Asal Jangan Kawin Kontrak... Kata Luna Maya, ia menganggap biasa kawin siri. Yang justru tak biasa adalah perihal fenomena maraknya kawin kontrak. Rabu, 17 Februari 2010 | 13 :51 WIB |


Kawin Siri dan Poligami Hambat Program KB Pernikahan siri dan poligami bisa menghambat program keluarga berencana (KB). Adanya draft Rancangan Undang Undang Hukum Materil Peradilan Agama Bidang Perkawinan dinilai menguntungkan. Rabu, 17 Februari 2010 | 13 :14 WIB |

Anang Hermansyah: Nikah Siri Tergantung Niatnya Menanggapi polemik terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) peradilan agama tentang perkawinan, Anang Hermansyah menilai apapun tergantung niatannya. Rabu, 17 Februari 2010 | 09 :17 WIB |

Anji "Drive" Pilih Nikah di KUA Anji, vokalis band Drive, memilih untuk tidak menikah siri kalau kelak ia menikah. Ia ingin menikah di KUA saja. Selasa, 16 Februari 2010 | 20 :46 WIB |

JE Sahetapy: Nikah Siri, Pemerintah Jangan Lancang Guru besar emiritus Unair JE Sahetapy tak setuju sanksi pidana bagi pelaku nikah siri. Pemerintah diminta tak lancang campur tangan urusan agama. Selasa, 16 Februari 2010 | 20 :03 WIB |

Indra Bekti Anjurkan Nikah di KUA Saja Ketimbang urusan jadi repot, Indra Bekti menyarankan agar pasangan menjalani proses pernikahan dengan benar, yakni mendaftarkannya di KUA. Selasa, 16 Februari 2010 | 18 :38 WIB |

Nikah Tercatat, Bentuk Perlindungan Perempuan Jika pernikahan dilakukan sebagai niat baik, maka prosesnya pun harus baik. Contohnya, dengan melakukan legalisasi pernikahan secara hukum. Selasa, 16 Februari 2010 | 18 :02 WIB |

Nikah Siri: Perempuan Lebih Banyak Rugi Pernikahan siri lebih banyak ruginya, terutama kepada perempuan korban KDRT. Tanpa legalitas pernikahan, kasus KDRT tidak dapat diproses. Selasa, 16 Februari 2010 | 17 :53 WIB |
JE Sahetapy: Nikah Siri Dipidanakan, HAM Terlanggar JE Sahetapy berpendapat, hukuman pidana yang ditetapkan pemerintah terhadap pelaku nikah siri melanggar hak asasi manusia. Selasa, 16 Februari 2010 | 17 :08 WIB
Waspadai "Tipu-tipu" Kawin Siri! Bagi para wanita, terutama yang berstatus single, sebaiknya mulai harus lebih waspada karena ada aksi penipuan nikah siri. Ada apa? Selasa, 16 Februari 2010 | 16 :37 WIB
Perempuan Nikah Siri Rentan KDRT Perempuan yang terikat dalam hubungan pernikahan siri rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Selasa, 16 Februari 2010 | 16 :27 WIB
Telanjur Kawin Siri? Segera Daftar ke KUA! Menanggapi wacana lahirnya peraturan perundangan-undangan yang bakal memberikan sanksi pidana terhadap perkawinan siri, kontrak dan poligami, Menag angkat bicara. Selasa, 16 Februari 2010 | 15 :57 WIB
Menhuk dan HAM: Lelaki Jangan "Make Aja Dong" Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar mengatakan, pihaknya akan mengkaji lebih lanjut tentang aturan pemidanaan nikah siri. Selasa, 16 Februari 2010 | 15 :38 WIB
Pidana Kawin Siri, Bukan Solusi "Semata Wayang" Upaya pengkriminalan tindakan nikah siri sebenarnya bukan satu-satunya jalan yang tepat jika maksud dari RUU itu untuk melindungi perempuan sebagai pihak yang lemah Selasa, 16 Februari 2010 | 14 :27 WIB
Nikah Siri: Perempuan Perlu Tahu Hak-haknya Pernikahan dianggap sebagai solusi mengakhiri hidup kekurangan. Hal ini mengkondisikan perempuan untuk melakukan kewajiban tanpa mengetahui haknya. Selasa, 16 Februari 2010 | 13 :57 WIB
Nikah Siri: Motifnya Uang dan Rayuan Nikah siri cenderung dilandasi motif ketidakpuasan lelaki atas pernikahan sahnya, dan keinginan perempuan untuk hidup mewah tanpa susah. Selasa, 16 Februari 2010 | 13 :42 WIB |
Kawin Siri, Perempuan Selalu Jadi Korban Komnas Perempuan menyambut baik rencana pengesahan RUU peradilan agama tentang perkawinan yang membahas aturan kawin siri, poligami, dan kawin kontrak. Selasa, 16 Februari 2010 | 10 :54 WIB
Sanksi untuk Kawin Siri Harusnya Perdata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menyetujui adanya sanksi bagi pelaku pernikahan siri, tetapi bentuknya hukuman perdata. Selasa, 16 Februari 2010 | 07 :59 WIB |
MUI: Kawin Siri Haram kalau Ada Korban Pernikahan di bawah tangan yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama bisa menjadi haram apabila menimbulkan korban. Selasa, 16 Februari 2010 | 07 :16 WIB |
Haruskah Pelaku Nikah Siri Dikenai Pidana? Salah satu yang mendukung aturan sanksi pidana bagi pelaku nikah siri tersebut adalah Komisi Nasional (Komnas) Perempuan. Senin, 15 Februari 2010 | 20 :17 WIB |
Pelaku Nikah Siri Terancam Kurungan 3 Bulan Ketua Komisi Fatwa MUI Maaruf Amin menilai wajar apabila pelaku nikah siri dikenai sanksi pidana. Ancamannya kurungan 3 bulan. Senin, 15 Februari 2010 | 18 :18 WIB |
MUI Tak Keberatan Pelaku Nikah Siri Dipidanakan MUI mendukung rencana dikeluarkannya undang-undang peradilan agama mengenai perkawinan. Senin, 15 Februari 2010 | 17 :39 WIB

Mengenang kelahiran NU


Di Kampung Kertopaten, Surabaya, 84 tahun silam, tepatnya pada 31 Januari 1926 /16 Rajab 1344 H, terbentuklah organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama (NU) yang hingga kini mempunyai pengaruh besar di Tanah Air. NU yang secara harfiah bermakna kebangkitan para ulama ini mengamalkan ajaran ahlussunnah wal jamaah dengan memegang teguh salah satu dari empat mazhab (ahlussunnah wal jama'ah alamadzhibil arba'ah ), yaitu Imam Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hambali. Organisasi sosial keagamaan Islam (Jam'iyyah Diniyyah Islamiyyah) Nahdlatul Ulama yang di dirikan oleh Hadhratus Syekh K.H. M. Hasyim Asy'ari dan para ulama pesantren ini ibarat mewadahi suatu barang yang sudah ada, dengan kata lain NU didirikan untuk menjadi wadah bagi usaha mempersatukan dan menyatukan langkah para ulama dan kiai pesantren untuk mengabdikan yang tidak lagi terbatas pada soal kepesantrenan dan kegiatan ritual keagamaan semata, menurut Choirul Anam ( 1999 :19) bahwa pada saat itu, NU juga memperhatikan pada masalah-masalah sosial, ekonomi, perdagangan dan sebagainya dalam rangka pengabdian kepada bangsa, negara, dan umat manusia. Back to NU Perkembangan dunia pesantren belakangan ini menjadi sorotan berbagai media, isu mengenai munculnya para teroris dari pesantren dan munculnya politisi dari kalangan "kaum bersarung" menambah ramainya dialektika dan dinamika dalam tubuh pesantren. Jika dirunut kembali, pesantren dilahirkan atas dasar kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni kewajiban menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus sebagai tempat untuk mencetak kader-kader ulama atau mubaligh. Ketika zaman kolonial belanda, pesantren didirikan sebagai counter terhadap ekspansi Belanda terhadap pendidikan di Tanah Air, yang pada saat itu pendidikan diperbolehkan hanya untuk kalangan priyayi. Sehingga diharapkan pesantren dapat dijadikan jalan untuk mencetak santri pelopor pembaruan ( agent of changes ) yang mempunyai dasar pada kemampuan spiritual dan berpegang teguh dalam pada nilai-nilai etika dan moralitas universal yang tercatat dalam Alquran dan Hadist, yang kemudian tersirat dalam kajian kitab-kitab seperti Ihya Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali, Tafsir Al-Jalalain, Fathul Qorib, Ta'limul Muta'alim, Nahwu, Shorof, Balaghah, dan kitab kuning klasik lainnya. Jika meminjam istilah Kuntowijoyo, humanisme- teosentrik, yakni pesantren merupakan jalan pengabdian secara total kepada Allah swt., tetapi manfaatnya ditujukan bagi kesejahteraan alam semesta. Jika melihat kepemimpinan pondok pesantren sebagian besar menggunakan pola wilayatul imam , yakni kepemimpinan tidak hanya dilandasi kemampuan manajerial, akan tetapi diperlukan kemampuan spritual leader yang memiliki otoritas keimanan yang diikuti oleh masyarakat. Sehingga para kiai pengasuh pondok pesantren dapat meneruskan tradisi Nabi Muhammad saw. sebagai absolute frame of reference . Namun, melihat perkembangan pondok pesantren saat ini, secara struktural dan kultural sedang mengalami degradasi tingkat tinggi. Beberapa kiai pimpinan pondok pesantren kini malah sibuk di dunia politik ketimbang mengurus umatnya. Hal ini berbalik arah dengan perjuangan NU untuk kembali ke khitah yang diputuskan saat Muktamar ke-27 di Situbondo pada 1984 , yakni perjuangan NU lebih di fokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan, ekonomi, dan dakwah. Kemudian, masalah komunikasi yang dibangun baik pengurus dan warga NU (nahdliyin) kini sudah bias dan tak kenal arah, dapat diartikan mereka tersesat dalam kegelapan. Jika diambil benang merahnya, peran kiai dan pondok pesantren merupakan tempat untuk mengembangkan NU baik struktural dan kultural, sehingga pola pengembangan dan pemberdayaan NU ditingkat masyarakat bawah ( grass root ) lebih maksimal. Ada adagium di kalangan nahdliyin bahwa NU adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil. Melihat realita yang berkembang saat ini, Nahdlatul Ulama dengan amalan ahlussunnah wal jamaah harus mampu merespons dan memberikan solusi problematika kekinian (kontekstual) seperti digagas oleh K.H. Sahal Mahfudz dalam fikih sosialnya. Dari masalah keumatan hingga kebangsaan yang semakin kompleks menjadi pekerjaan utama Muktamar ke-84 NU di Makassar dalam waktu dekat ini. Sehingga, pembaruan NU dalam bidang manajerial dan gerakan perlu dilakukan karena melihat keadaan yang semakin memprihatinkan. Hal ini semestinya sejalan dengan resolusi yang dikeluarkan pada Muktamar NU ke-13 tahun 1935 , yaitu mabadi khayr al-ummah ( prinsip-prinsip membangun masyarakat yang unggul), yakni nilai kejujuran, akuntabilitas publik, kerja sama dan ketika Munas Alim Ulama di Bandar Lampung ditambah dengan keadilan dan konsisten. Kesepakatan para ulama tersebut merupakan tonggak gerakan kultural NU untuk meletakkan dirinya sebagai jamiyyah dinniyah yang bertujuan untuk memakmurkan dan membangkitkan umatnya. Jadi, harus diakui bahwa pondok pesantren telah mampu merekonstruksi nilai-nilai keislaman yang dinamis dan sejalan dengan napas keindonesiaan, sehingga pesantren kini menjadi bagian dari masyarakat yang tak bisa terlepas dari realita kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian, peran Nahdlatul Ulama dalam mempertahankan tradisi yang lama dan mengakomodasi tradisi baru yang lebih baik ( al-muhafadzah 'ala al qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah ) telah berhasil menjaga kemoderatan NU sehingga dapat diterima semua kalangan di seluruh penjuru dunia. Opini Lampung Post 5 Februari 2010

17.2.10

PCNU Pekalongan Resmi Lamar Habib Luthfi


*NU Online*


Mendekati pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Makasar 22-27 Maret mendatang, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan meminta Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya untuk bersedia dicalonkan menjadi Rais Aam PBNU periode lima tahun ke depan. Lamaran dilakukan PCNU Kota Pekalongan pada Ahad (14 /2) kemarin di kediaman Habib Luthfi Noyontaan Gang 7 Pekalongan dihadiri oleh jajaran pengurus NU antara lain Rais Syuriyah KH Musthofa Bakri, didampingi Wakil Rais KH Zaenuri Zainal Mustofa dan Katib KH Zakaria Ansor. Sedangkan dari tanfidziyah, ada Ketua H  Ahmad Rofiq, Wakil Ketua H Sulaiman dan Wakil Bendahara H Imron Asfuri. Menjawab permintaan PCNU Kota Pekalongan, Habib Luthfi menyatakan bersedia untuk menjadi orang pertama di jajaran syuriyah PBNU pada muktamar mendatang. "Untuk kejayaan NU ke depan, saya menyatakan bersedia dicalonkan menjadi rais aam", ujar Habib Luthfi sembari mengatakan proses pemilihan diserahkan kepada PCNU dan muktamirin. Kesediaan dirinya dicalonkan menjadi rais am didorong oleh keinginan untuk 'ndandani' NU agar lebih baik dari yang sekarang ini. "Saya bersedia, karena ingin memperbaiki NU, agar lebih baik", ujar Rais Am Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah. Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Ahmad Rofiq usai menghadap Habib Luthfi mengatakan, "Kedatangan PCNU ke rumah Habib dalam rangka memastikan kesediaan beliau untuk menjadi calon rais aam dan alhamdulillah beliau bersedia." Pilihan calon rais aam ke Habib Luthfi, kata Rofiq, karena selama ini ulama kharismatik ini dinilai telah mampu membuktikan diri untuk ' ndandani ' (membenahi) Jam'iyyah Ahlit Thariqah An Nahdliyyah dan di antara figur yang ada, Habib Luthfi paling tepat jika menjadi Rais Am PBNU periode lima tahun ke depan.

Pemuka Hindu di India Turut Mengkampanyekan NABI MUHAMMAD


Sebuah kampanye untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran Rasulullah Muhammad Saw tentang Islam diluncurkan di India. Uniknya, komunitas non-Muslim negeri itu berpartisipasi menyukseskan agenda tersebut. Presiden Jamaat Islami India, dalam acara peluncuran kampanye bertajuk “Nabi Muhammad untuk Semua”, Minggu (14/2), mengatakan, masyarakat India berasal dari beragam etnis dan agama dan komunitas Muslim berharap kalangan non-Muslim juga bisa menerima dan mau memahami agama Islam.“Untuk pertama kalinya, bukan hanya ulama dari berbagai aliran Islam, tapi juga saudara-saudara kami dari komunitas Bamcef, Maratha Samaj, Satya Shodak dan komunitas lainnya berpartisipasi dalam kampanye ini,” kata Madu. Para pemuka dari komunitas non-Muslim itu, bersama-sama dengan para pemuka Muslim India, akan melakukan perjalanan ke seluruh negeri untuk mengenalkan sosok Rasulullah Saw dan ajaran Islam yang dibawanya. Mereka akan meluruskan pandangan masyarakat yang salah tentang ajaran Islam antara lain dalam hal pembagian harta warisan, minuman keras, korupsi, buruh anak serta isu-isu kekerasan, terorisme dan pelanggaran hak asasi yang selalu dikait-kaitkan dengan Islam. Aktivis sosial dan pemuka agama Hindu, Purshottam Khedekar yang ikut dalam kampanye itu mengatakan, sosok Rasulullah Saw selayaknya tidak hanya diketahui oleh Muslim saja. “Nabi Muhammad Saw membawa pesan persaudaraan, perdamaian dan kesetaraan bagi seluruh umat manusia,” kata Presiden Hindu Maratha Seva Sangh itu. Di India, Khedekar adalah tokoh yang melakukan perlawanan terhadap sistem kasta dalam agama Hindu. Menurutnya, Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang telah memperbaiki tata pemerintahan dan sistem sosial umat manusia. “Sungguh mengagumkan, ajaran-ajaran Nabi Muhammad yang sudah berusia 1400 tahun masih relevan dengan situasi hari ini,” puji Khedekar. Kampanye “Nabi Muhammad untuk Semua” di India akan berlangsung hingga akhir Februari mendatang.

16.2.10

Aliran Sesat Dibalik Etos Ekonomi


FENOMENA aliran sesat yang belakangan muncul bersamaan menjadi catatan penting dalam laju agama di peradaban informasi ini. Hampir secara serentak aliran sesat itu muncul di Kudus, Pati, dan Polewati Sulawesi Barat. Semuanya mengatasnamakan sebagai juru selamat yang akan membawa manusia pada jalan kebenaran dan surga.
Sabdo Kusumo dengan pengakuannya sebagai nabi sekaligus rasul akhir zaman. Aliran ini heboh karena mencuat pada jantung relegius masyarakat Kudus, yakni kompleks Menara Kudus. Di Pati, muncul di daerah Sokopuluhan Puncak Wangi dengan nama A’maliyah. Aliran ini diduga sesat karena mengajarkan hal-hal di luar ketentuan Islam. Di Polewali muncul aliran keagamaan Pua Imma, dan tokoh aliran ini mengaku dirinya sebagai Nabi Khidir. Aliran sesat yang muncul di Indonesia telah lama terjadi. Sejak kemunculan paling ramai Kerajaan Langit Lia Aminuddin atau Lia Eden sampai paling singkat dan langsung bertobat, Ahmad Mushadeq. Aliran sempalan ini lahir dari kegelisahan akan ketidakpastian hidup. Lia dalam Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir (1998) mengaku bahwa dirinya bersama Malaikat Jibril dan Nabi Isa datang ke bumi menyelamatkan manusia dari kesesatan. Lia merasa bahwa dirinya telah mendapat titah dari langit sebagaimana nabi-nabi sebelumnya untuk menyampaikan kedamaian dan mengajak pada keselamatan hidup. Aliran sesat yang muncul ini menurut analisis Adi Ekopriyono ( 2005 : 150-152) menyitir pendapat John Naisbitt merupakan imbas dari gejolak globalisasi. Globalisasi yang ditandai dunia yang datar meyimpan gejolak kemunculan kembali nilai-nilai dasar kehidupan. Agar tak tercerabut dari akar agamanya maka muncul arus kuat refundamentalisasi agama dengan tujuan memperkuat basis komunitasnya. Pada titik ini munculnya aliran sesat adalah sebagai basis penguatan nilai-nilai kehidupan. Di sisi lain aliran sesat juga sebagai “pelarian” dari agama resmi yang dinilai tidak bisa menyelesaikan masalah. Agama resmi yang dianutnya sibuk dengan dirinya sendiri. Elite agama yang seharusnya menyambangi umatnya malah asyik berpolitik. Agama menjadi candu, seperti diungkap oleh Karl Marx. Agama tak menjalankan fungsinya sebagai the way of live. Permasalahan umat terbesar dan pelik adalah soal ekonomi yang tentunya dianggap tidak dijawab oleh agama. Aliran sesat yang muncul tak lepas dari kegelisahan kondisi ekonomi. Ekonomi dalam kehidupan global ini menjadi jantung kehidupan dan pusara ketentraman sehingga orang dengan tergesa-gesa ingin memilikinya dengan berbagai cara. Agama sebagai jalan kehidupan dituntut untuk mengeluarkan manusia tidak hanya dari kesesatan teologi tetapi duniawi dengan pemberdayaan ekonomi umatnya. Pergerakan agama yang bertumpu pada pemajuan etos ekonomi umatnya ini merupakan peleraian dari aliran sesat. Sebagai sebuah ideal, Zuly Qodir dalam Agama & Etos Dagang ( 2002) , merumuskan bahwa agama sejatinya memberikan pengaruh etos ekonomi kepada umatnya. Keberadaan agama diposisikan sebagai pendorong semangat ekonomi. Nilai-nilai agama digali, ditelaah, dan difungsikan sebagai pendobrak kejumudan ekonomi. Etos Ekonomi Zuly meneliti etos dagang masyarakat di Pekajangan, Pekalongan yang berakhir pada kesimpulan bahwa pengaruh agama sangat kuat dalam memotivasi etos ekonomi. Pengusaha di Pekajangan memanfaatkan gerakan sosial sebagai wadah elaborasi implementasi agama. Agama menjanjikan imabalan besar dan melimpah, ketika aktivitas sosial dengan pengeluaran harta untuk kemaslahatan umat. Di sini terlihat agama tidak hanya berorientasi vertikal, melainkan horisontal. Sifat agama sebagai pendorong ekonomi sebetulnya telah lama digemakan oleh Max Weber dengan buku terkenalnya The Protestant Ethicand Spirit of Capitalism. Weber membicarakan bahwa etika protestan menjadi kelahiran kapitalisme awal. Semangat agama melatari ekspansi ekonomi di barat. Ini sinkron dengan semboyan Belanda ketika menjajah Indonesia dengan semanat 3 G (gold, glory, dan gospel). Emas (gold) dan agama ( gospel) menjadi satu padu dalam semboyan itu. Ini tentunya mengartikulasikan kebutuhan gold dalam gospel sangat penting dan saling mengait. Pengokohan ekonomi umat dalam agama merupakan jalan terbaik dan solutif mengatasi aliran sesat. Aliran sesat yang kini bertebaran dan tidak menutup kemungkinan akan muncul lagi adalah bagian dari kehidupan agama kita. Dengan kata lain, kita pun secara tak langsung menyebabkan munculnya aliran sesat. Sikap sosial yang minim dan mengakarnya individualistis dalam kehidupan modern ini membuat sebagian orang yang kondisi ekonominya rendah mencari jalan alternatif yang lebih menjanjikan guna memperoleh ketentraman batin. Andai aspek ekonomi dari umat agama terpenuhi setidaknya ia merasa telah dianggap sebagai bagian integral dari agama. Pemenuhan aspek ekonomi adalah bagian dari ketentraman menjalankan agama. (10) — Zakki Amali, sedang meneliti orientasi keragamaan di Kudus, peneliti dari Paradigma Institut

Menjadi Muslim Moderat itu Tidak Mudah !.


Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU), Said Aqil Siradj, mengatakan, kezaliman terhadap umat Islam di dunia sudah sangat serius. Hal itu terjadi karena untuk bersifat moderat nampaknya merupakan hal yang sulit. “Ada dua kezaliman di hadapan umat Islam. Pertama kezaliman politik internasional melalui wajah Dewan Keamanan PBB dan kedua, kezaliman Moneter dengan mata Uang dollar sebagai kolateralnya,” katanya saat acara penutupan Rakernas I Majelis Alumni IPNU di Hotel Millenium, Jakarta, Senin (1 /2). Menurutnya, kezaliman politik, salah satunya, disebabkan keberadaan DewanKeamanan PBB. Keputusan yang telah dirumuskan bersama negara-negara anggota PBB kerap lenyap seketika ketika satu dari lima anggota DK PBB mem-veto. Ketidakadilan inilah kata dia, kerap merugikan umat Islam. “ Harusnya, DK PBB itu isinya organisasi-organisasi dunia seperti OKI, ASEAN, Uni Afrika, Uni Eropa, dan lain-lain, tidak hanya 5 negara saja,” katanya. Kezaliman kedua, katanya, berasal dari penggunaan mata uang dollar sebagai kolateral pengganti emas. “Indonesia misalnya mau mengeluarkan emas maka harus membeli dollar sebagai kolateralnya. Dua hal inilah yang menyebabkan umat Islam untuk berbuat moderat itu sulit. Bagaimana tidak berat, lha wong kita dizalimi. Sulit untuk mencegah itu,” katanya. Lebih lanjut, alumni universitas Ummul Quro ini mengatakan, kezaliman itulah yang melahirkan ekstrimisme di dunia. “Hal itu pula yang menyebabkan ekstrimisme berkembang, Bukan karena kebodohan mereka bersifat seperti itu, tapi karena kezaliman berada di depan mereka. Orang-orang ekstrimisme itu tidak bodoh,” ungkapnya. Karena itu, katanya, kedua hal inilah tantangan berat yang ada di depan mata umat Islam di seluruh Indonesia. Liberalisasi Pemikiran Pada bagian lain, Kang Said, demikian ia akrab disapa, menanggapi soal fenomena liberalisasi pemikiran keagamaan di kalangan anak muda NU. “Kalau sebatas bincang-bincang boleh lah. Tetapi jika sudah masuk dalam landasan berorganisasi ini bahaya,” ujarnya. Kang Said menjelaskan, liberalisasi pemikiran tak boleh diberi peluang secara luas karena akan merembet pada liberalisasi di bidang ekonomi, liberalisasi budaya, dan liberalisasi agama. “ Salah satu bentuk liberalisasi budaya adalah adanya pemahaman tidak pentingnya cium tangan pada kiai dan orang tua,” ungkapnya. menurutnya, tuntutan pencabutan UU tentang Penodaan Agama di Mahkamah Konstitusi, jelasnya adalah akibat adanya liberalisasi pemikiran keagamaan yang kebablasan, dan ini harus ditentang. Dalam kesempatan tersebut ia menegaskan pentingnya merawat pemikiran keagamaan yang tawassuth dan moderat. “ Radikalisme agama itu salah, demikian juga liberalisme agama juga salah,” tegasnya. Ia mengingatkan, NU berdiri di antara dua kutub yang ekstrem, kutub radikal yang sangat keras dan konfrontatif, serta kutub liberal yang kompromis, permissif dan hedonis. Sementara itu, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU, Hilmi Muhammadiyah, mengatakan, rakernas tersebut dalam rekomendasinya menegaskan pentingnya merawat tradisi pemikiran keagamaan yang mengedepankan “jalan tengah” dan mengaktualisasikan nilai kehidupan pesantren ke dalam perilaku organisasi. “Nilai kepesantrenan yang perlu diaktualkan adalah semangat kesederhanaan, kemandirian, dan paradigma pemikiran yang moderat jauh dari ekstrimitas dan liberalitas,” katanya.(*)

15.2.10

Menyongsong Seabad NU : Sebuah Renungan!


Pada usia ke-84 , Nahdlatul Ulama masih berada di persimpangan. Faktanya, NU masih belum terbebas dari godaan politik praktis. Setelah lebih kurang 16 tahun mengukuhkan diri sebagai gerbong masyarakat sipil, dalam realitasnya hal itu tidak mengurangi sedikitpun syahwat politik sebagian elitenya, mulai dari pusat hingga daerah, untuk terlibat langsung dalam setiap perhelatan politik. Hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari merupakan momentum tepat untuk melakukan revitalisasimenyeluruh, terutama dalam rangka menyongsong seabad NU yang akan jatuh pada tahun 2016. Pertama, NU perlu melakukan reformasi orientasi program. Dalam satu dasawarsa terakhir, NU secara kasatmata telah terlibat dalam politik praktis, bukan politik kebangsaan sebagaimana diamanatkan dalam Khitah 1926 dan ditegaskan kembali dalam Muktamar 1984. Fakta itu terlihat dalam pemilihan gubernur di Jawa Timur dan pemilihan presiden yang lalu.   Hal tersebut bukanlah sebab, melainkan akibat dari ketidakmandirian NU sebagai kelompok masyarakat sipil. Seolah- olah ada kaidah yang mengatakan, jika tidak bermain mata dengan kekuasaan, NU akan terpuruk dalam lumpur kegagalan. Oleh karena itu, NU harus terlibat dalam pemihakan kekuasaan layaknya partai politik. Nalar seperti itu hampir menjadi alam bawah sadar sejumlah pihak, terutama para elitenya yang selama ini melakukan manuver-manuver politik. Ironisnya, kandidat yang disokong justru menuai kekalahan, menyebabkan lahir kekecewaan masif di kalangan internal NU. Reformasi orientasi program menjadi sangat penting, khususnya dalam rangka meletakkan NU sebagai organisasi yang bernuansa kebangsaan dan kerakyatan. Apa yang dipikirkan dan dilakukan elite NU pada hakikatnya harus mengacu pada pembinaan keagamaan dan pemberdayaan kesejahteraan warganya. Misalnya, program pertanian dan kelautanyang selama ini merupakan realitas dari basis warga NUhampir tidak disentuh dengan serius. Akhirnya mereka disentuh kelompok lain yang memang mempunyai kapasitas dan modal untuk melakukan itu. Begitu pula program permodalan dan koperasi. Bukannya NU tidak punya kapasitas. Kader-kader muda Anshar dan Fatayat NU di Kecamatan Gapura, Sumenep, punya Baitul Mal wat Tamwil yang sangat berhasil dengan omzet miliaran rupiah. Koperasi yang dikelola Muslimat NU di Kecamatan Pragaaan, Sumenep. Sayangnya, mereka tak pernah disapa induknya karena hal-hal semacam ini tak pernah menjadi perhatian elite. Reformasi orientasi program semacam itu mutlak diperlukan agar NU betul-betul hadir di tengah warganya sehingga mereka tidak tertarik pada godaan kelompok lain yang makin menggerogoti komunitas warga NU. Realitasnya, migrasi warga NU ke kelompok-kelompok lain bukannya isapan jempol. Hal tersebut terjadi di banyak daerah karena elitenya tidak punya agenda program yang memihak kemaslahatan warganya. Regenerasi kepemimpinan Kedua, regenerasi kepemimpinan. Harus diakui, ada capaian- capaian yang patut diapresiasi dari kepemimpinan 10 tahun terakhir, khususnya peran serta NU di kancah global. NU telah memainkan peran menunjukkan dirinya sebagai lokomotif Islam yang ramah untuk seluruh umat manusia ( rahmatan lil alamn) . Namun, dalam pemberdayaan umat, kepemimpinan NU satu dasawarsa gagal memerankan diri sebagai kelompok masyarakat sipil yang memberdayakan umat. Melihat besarnya perahu NU yang konon beranggotakan 60 juta orang, para pengurus NU terlihat lamban melakukan terobosan- terobosan pemberdayaan warga. Kecenderungannya mereka hanya menjemput bola, bukan melakukan langkah-langkah kreatif untuk memahami realitas kehidupan warga NU. Apa yang dilakukan umumnya berdasarkan asumsi politik, bukan pada asumsi problem keumatan. Padahal, NU tak kekurangan kader muda yang berkualitas hampir di berbagai bidang dan sektor kehidupan. Dalam lima tahun terakhir, sebenarnya NU sedang panen magister dan doktor dari Australia, Eropa, Amerika, Pakistan, Mesir, dan beberapa universitas ternama di Tanah Air, yang mempunyai komitmen mengabdi kepada NU. Hambatannya, mereka tidak mampu melakukan itu karena kepemimpinan yang ada tak punya passion untuk melakukan kreasi-kreasi pemberdayaan bagi kemajuan umat. Perlu pemikiran untuk menghidupkan kembali distingsi antara posisi Syuriah dan Tanfidziyah. Syuriah, wadah di mana para kiai merumuskan pandangan, konsep, dan strategi. Tanfidziyah, wadah kader muda yang diharapkan akan melaksanakan pemikiran cemerlang yang dirumuskan Syuriah sebagai lembaga tertinggi penentu kebijakan, terutama dalam rangka mengawal visi khitah untuk menyelamatkan NU dari godaan politik praktis. Regenerasi kepemimpinan sesuatu yang niscaya, di samping reformasi orientasi program yang benar-benar tulus dalam rangka mengabdi pada kesejahteraan warga NU dan keutuhan bangsa. Keduanya mutlak diperlukan. Muktamar NU pada akhir Maret harus menjadi momentum untuk kembali ke khitah, yaitu sebagai entitas masyarakat sipil yang mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, kedamaian, memberdayakan umat, dan penyeimbang efektif bagi negara. Juga dalam rangka membendung arus transnasionalisasi paham keagamaan yang kian mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. NU sejatinya dapat menggaungkan kembali gagasan KH Achmad Shiddiq perihal perlunya persaudaraan di republik ini. Tak sebatas persaudaraan sesama muslim ( ukhuwwah islamiyyah ) yang sudah mulai langka, tetapi juga persaudaraan dalam konteks kebangsaan ( ukhuwwah wathaniyyah ) dan persaudaraan dalam konteks kemanusiaan universal ( ukhuwwah basyariyyah) . Pemikiran seperti ini sudah mulai langka di republik ini karena semua tidak lagi memikirkan perlunya penyegaran pemikiran keislaman yang berorientasi kebangsaan dan kemanusiaan. Semua pihak berbondong-bondong masuk politik praktis sehingga tak ada tokoh agama yang menjadi inspirator untuk tegaknya nilai- nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Apalagi di tengah maraknya puritanisme, ekstremisme, dan terorisme, tak ada lagi tokoh agama yang secara tegas melakukan otokritik sembari mengembangkan pemahaman keislaman bernuansa kebangsaan dan kemanusiaan. Di samping itu, yang terpenting, memastikan gerakan masyarakat sipil seperti NU dapat menjadi salah satu kekuatan yang concern terhadap pemberdayaan masyarakat, terutama ekonomi dan pendidikan politik. Perlu program yang menyentuh langsung hajat masyarakat, yang dapat menyelamatkan mereka dari azab kemiskinan. Juga pendidikan politik agar mereka terlibat aktif dalam kebijakan publik yang berkaitan langsung dengan hak-hak warga negara. NU harus berada pada garda depan guna menghidupkan kembali nalar keagamaan yang berkebangsaan. Pemimpin NU yang akan datang adalah pemimpin yang benar-benar tulus untuk tidak lagi menjerumuskan NU dalam politik praktis dan sepenuhnya memikirkan kebangkitan umat, utamanya kaum miskin. Zuhairi Misrawi Intelektual Muda NU dan Ketua Moderate Muslim Society

WIMAR WITOELAR: Gus Dur mengangkat Derajat Rakyat Indonesia


Pada 30 Desember 2009 kita kehilangan seorang tokoh, panutan dan inspirasi yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Presiden Republik Indonesia ke-4. Gus Dur meninggalkan banyak kesan mendalam bagi banyak orang mengenai pemikirannya, perjuangannya dan sebagainya. Mengapa setelah Gus Dur wafat banyak yang mengelu-elukan sebagai pahlawan, apa memang dia cocok dengan sebutan itu? Menurut saya cocok, menurut orang lain mungkin ada yang lebih cocok. Wawancaraini saya kira tidak mungkin mencakup seluruh cerita mengenai Gus Dur. Jadi, kalau Anda berminat memang harus dengar dari beberapa sumber. Nah sekarang saya harus secara sangat pelan-pelan menjelaskan mengenai Gus Dur dianggap pahlawan. Setiap pahlawan tidak akan menjadi demikian hanya karena dirinya, tetapi selalu dalam konteks dan dinilai dari dampak yang dia hasilkan. Itu artinya sebuah “hero”. Banyak orang yang hebat tapi tidak pernah menjadi pahlawan, banyak orang yang tidak begitu hebat tapi menjadi pahlawan karena saatnya ada dalam sejarah. Nah, Gus Dur adalah orang yang sangat hadir dalam sejarah Indonesia. Bukan hanya selama dua tahun dia menjadi presiden, tapi selama kira-kira 20 tahun memimpin Nahdlatul Ulama (NU), sebelum jadi presiden, dan selama kira-kira sembilan tahun setelah lengser sebagai presiden. Dampaknya lebih besar daripada sewaktu dia menjadi presiden terutama di luar negeri. Kalau Anda sekarang berusia lebih dari 20 tahun berarti pada 1998 barangkali Anda masih ingat bagaimana kehidupan Indonesia pada waktu itu. Sebelum keributan pada 1998 , barangkali Anda masih ingat bahwa presiden kita adalah Soeharto.Nah, selama Soeharto memerintah 33 tahun banyak hal baik yang dilakukan, tapi banyak juga hal buruk yang dia lakukan. Tapi satu hal, saat itu orang tidak ada perbandingan karena tidak pernah mempunyai presiden lain kecuali Soekarno dimana orang sudah lupa. Pada akhir 1990- an sudah mulai kelihatan hal-hal yang buruk dari Presiden Soeharto karena dia memberikan hal yang terlalu baik untuk orang-orang sekitarnya, teman politik, keluarga dan sahabat karibnya. Kekayaan negara dihabiskan untuk kepentingan pribadi bernilai kira-kira US$ 30 miliar, lebih besar dari kekayaan Aburizal Bakrie. Itu yang dimakan sendiri. Yang dibagikan nilainya dua kali itu. Jadi, Indonesia sangat kokoh karena banyak yang sangat nyaman di sekitar kita. Ada persepsi bahwa tentara mendukung Soeharto, padahal tidak. Yang mendukung hanya pimpinannya. Jadi orang tidak punya perbandingan, yang terasa adalah Soeharto dan koleganya makin makmur. Ada mal, bioskop, Cinema 21 yang didirikan oleh sepupunya-saudaranya. Jalan tol didirikan oleh anaknya, mobil dibuat oleh Tomy Soeharto. Semua dibuat oleh keluarganya dan seakan-akan keluarganya itu kreatif. Padahal, yang membuat itu adalah orang luar negeri dengan menggunakan nama keluarga Soeharto. Selama 30 tahun orang tidak mempunyai perbandingan mengenai sosok presiden. Saya kebetulan mengalami semuanya, saya berusia 18 tahun sewaktu Soeharto menjadi presiden dan berusia 50- an tahun saat dia turun. Kehidupan saya lebih enak dengan adanya Soeharto karena tadi jalan berlubang menjadi baik, membeli beras yang semula antri menjadi tidak, sekolah yang semula jarang menjadi banyak, dan sebagainya. Kebetulan saya juga termasuk keluarga yang beruntung mendapat hak-hak istimewa dari Soeharto karena satu dan lain hal. Namun untuk rakyat kebanyakan, sebetulnya itu makin lama makin susah. Paling tidak dibandingkan dengan orang lain. Apalagi orang yang mempunyai sedikit masalah dengan Soeharto, sedikit punya pendapat lain, maka akan diasingkan lalu dibunuh. Pemerintahan Gus Dur itu tidak pernah membunuh warga negara. Di Era Soeharto, mereka dibunuh dalam skala ribuan. Ratusan orang dibunuh di Tanjung Priok, ratusan di Kedung Ombo, ribuan di Lampung, puluhan ribu di Aceh, kemudian di Timor Timur. Nah, untunglah di satu negara tidak pernah dikuasai satu orang sekaligus. Ada orang baik, ada orang jahat. Orang baiknya waktu itu ada tapi di bawah permukaan, ada di sekolah-sekolah, mahasiswa, perusahaan. Tidak berani muncul karena juga tidak bisa muncul. Kalau sekarang, walaupun ada TV yang memonopoli berita tapi orang bisa saja bicara di internet. Waktu itu arus informasi tertutup sama sekali. Jadi banyak anak muda waktu itu tidak tahu betapa jeleknya Indonesia di era Soeharto. Orang menjadi tahu hanya kalau dia ke luar negeri. Dari luar negeri citra Indonesia kelihatan jelek sekali, dipersepsikan orang Indonesia yang tenang-tenang ini seperti monyet di kebun binatang. Dikasih makan setiap hari tapi tidak mempunyai kemerdekaan, tidak menjadi pintar. Gus Dur termasuk orang yang mendidik orang Indonesia untuk berpikir sendiri, di samping orang-orang dari golongan lain. Dia dari basis NU. Akhirnya, karena Soeharto tidak beres mengurus ekonomi dan terlalu banyak tidak didukung oleh rakyatnya maka dia jatuh. Yang menjatuhkan Soeharto bukan Gus Dur, bukan mahasiswa dan bukan Megawati. Soeharto jatuh akibat dirinya sendiri karena terlalu korup dan terlalu kotor. Setelah Soeharto jatuh, orang sangat rajin membuat demokrasi dan secara bagus memilih presiden yang baru. Prosesnya panjang, tapi kita tahu mula-mula MPR condong ke Megawati akhirnya terpilih pasangan Gus Dur dan Megawati. Itu boleh dikatakan bulan madu bagi Indonesia karena ada pasangan dari golongan lain, NU dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI-P). Ada DPR yang istilahnya “pelangi” (berisi macam-macam golongan). Ada Amien Rais yang mendukung. Semuanya happy karena mereka tidak mau mengulangi masa rezim Soeharto yang mencekam. Apakah reaksi internasional terhadap pasangan Gus Dur dan Megawati ketika itu sangat positif? Pada waktu mereka terpilih, saya sedang berada di Amerika Serikat (AS), saya sedang menyetir mobil dari Madison ke Chicago pada pukul 21.00. Saya menyalakan radio lokal, saya kaget ketika disebut “Indonesia just elected its President Abdurrahman Wahid and Vice President Megawati.” mereka dikenal sebagai tokoh demokrasi dan “unbelievable” bahwa Indonesia yang adalah negara diktator yang korup sekarang menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Sampai sekarang kalau saya cerita mengenai hal itu, mata saya masih berlinang dengan airmata. Di tengah “kekelaman malam”, kalau saya pinjam kata-kata puisi dari twitter, muncul suara orang AS secara tulus memuji Indonesia, pasangan Gus Dur - Megawati. Sambutannya baik. Gus Dur disambut bukan karena akan memperbaiki ekonomi, tapi ia memberikan humanisme pada Indonesia. Artinya, Indonesia akan dibuat menjadi baik sebaik orangnya. Apakah selama ini tidak seperti itu? Tidak. Selama ini manusianya baik, tapi kalau sudah berkumpul seperti Golongan Karya (Golkar) sudah menjadi tidak benar, menjadi biadab, menekan, manipulasi dan merusak kesejahteraan orang. Itu adalah suatu optimisme yang besar, dan Gus Dur tidak mengecewakan. Masuk ke pertanyaan Anda, mengapa Gus Dur dianggap begitu hebat dan berhak mendapat gelar pahlawan. Itu karena Gus Dur masuk ke sendi-sendi kepentingan negara. Bukan soal Bank Century, bukan soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bukan soal dana pelabuhan tapi budi pekerti orang Indonesia. Bahwa orang Indonesia tidak boleh membedakan sesama atas dasar ras, suku, jender. Kalau antara laki-laki dan perempuan boleh dibedakan tapi haknya tidak boleh dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Selain, tidak boleh dibedakan atas dasar agama, turunan etnis, dan lain-lain. Kalau pembaca ada yang keturunan Tionghoa, mengaku saja bahwa dulu tidak enak zaman Soeharto karena nama saja harus diganti-ganti. Jadi sikap Gus Dur mengenai pluralisme, penegakan hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi betul-betul konsisten dilakukan baik sebelum, ketika menjadi presiden ataupun sesudah menjabat presiden, betulkah? Sebelum, selama dan sesudahnya oleh temannya, anak buahnya dan pengikutnya. Gus Dur percaya betul bahwa orang Tionghoa sama dengan siapa pun. Itu tentu saja termasuk Arab dan India juga, tapi mereka tidak terlalu tertindas. Yang tertindas sebetulnya orang Tionghoa. Hal kecil saja, Imlek sudah boleh dirayakan. Kalau Anda sebagai Muslim tidak diizinkan merayakan Lebaran maka tidak enak. Mengumpet-umpet di rumah, mau berkunjung susah. Jadi dengan dimerdekakannya merayakan Imlek membuat orang itu hidup. Masyarakat menilai bahwa keberhasilan seorang pemimpin dari sisi keberhasilan ekonomi, sedangkan Anda mengatakan penghargaan terhadap demokrasi dan pluralisme merupakan keberhasilan tersendiri. Mengapa? Orang sering salah menafsirkan bahwa pemerintah yang bisa menaikkan gaji dan menyediakan sembilan bahan pokok (Sembako) dan menyelenggarakan ekonomi. Saya ingin mencoba menjelaskan karena ini memang rumit tapi sebetulnya kita bisa melihat secara sederhana. Seperti Marsillam Simandjuntak mengatakan, “Kalau Anda tidak pintar setidaknya Anda berfikir jernih.” Kalaupun kita tidak mengerti ekonomi, tapi kita harus tahu bahwa ekonomi tidak dibuat oleh pemerintah atau kepala negara. Ekonomi dibuat oleh rakyat. Negara mengatur diri supaya dia tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi. Apalagi dalam sistem bebas seperti AS dan China dimana negara minggir supaya rakyat bisa berkarya. Kalau negara berkembang dibantu pemerintah supaya lebih cepat. Saat Gus Dur menjadi presiden, persoalan Indonesia bukan ekonomi. Persoalan Indonesia adalah keamanan jiwa dari tekanan. Keamanan dari diskriminasi, militerisme dan korupsi. Jadi kalau orang dibawa ke rumah sakit mungkin dia sakit pilek, tapi selain itu ia memiliki sakit liver. Gus Dur langsung kepada penyakit yang paling besar, yaitu saling menindas antara orang Indonesia. Militer menindas sipil kemudian Gus Dur mengganti beberapa pimpinan militer supaya orang jangan salah sangka bahwa militer itu kejam. Mereka baik sekali tetapi banyak pimpinan militer yang kurang baik. Jadi ia melakukan reformasi. Anda tadi mengatakan masyarakat tidak menyadari bahwa kekerasan negara melalui militer terhadap masyarakat sipil benar- benar terjadi berpuluh-puluh tahun, lalu kemudian Gus Dur mencoba membalikkan stigma melalui demiliterisasi. Apakah langkah radikal Gus Dur ini tepat di tengah hegemoni militer yang masih kuat ? Kalau saya analisa politik, mungkin saya bisa memikirkan ini. Sebagai orang Indonesia yang hidup di sini saat itu, saya lega saja bahwa tentara yang kejam dipinggirkan, Wiranto dan Prabowo dihilangkan dari peredaran sebelum dimunculkan lagi, bahwa orang Tionghoa menjadi bebas sampai sekarang, bahwa orang asing hormat lagi kepada kita. Saya hanya melihat itu sebagai hal-hal yang baik. Tentu tergantung dari posisi masing-masing orang. Tentang ekonomi, sekarang kondisinya baik. Padahal semua pemerintah dari Gus Dur sampai sekarang belum sempat melakukan inisiatif ekonomi yang besar. Namun sesuatu yang dilahirkan oleh Gus Dur dan kawan-kawan adalah meletakkan dasar ekonomi yang tidak mengganggu. Antara lain, menghilangkan ketidakefisienan, memberantas korupsi, mereformasi Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (BI) sehingga lembaga itu tidak korup. Orang sekarang tidak ingat bahwa dahulu yang paling korup adalah BI dan Departemen Keuangan, saya tidak mau sebut nama. Sedangkan anak muda sekarang hanya tahu Gus Dur jatuh dari jabatan kepresidenan karena kasus Bulog dan Bruneigate yang berupa indikasi korupsi. Apakah memang ini mengindikasikan bahwa Gus Dur tidak serius dalam menangani pemberantasan korupsi? Buloggate dan Bruneigate dituduhkan kepada Gus Dur dan dibuat Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk membongkar itu tapi tidak terbuktikan. Akhirnya mereka give up dan langsung minta turun Presiden. Ketika Gus Dur turun dan Amien Rais ditanya oleh wartawan asing, “Apa sebetulnya alasan Gus Dur diturunkan?” Jawabannya, “Yah tidak usah tanyalah, pokoknya turun.” Itu jawaban Amien Rais yang seorang Profesor, Doktor. Jadi tidak ada pembuktian dalam Buloggate. Barangkali kesalahan kami adalah tidak mempropagandakan Gus Dur. Kami dulu pikir, orang baik tidak perlu dipropagandakan. Jadi sewaktu menjabat presiden, Gus Dur tetap konsisten terhadap pemberantasan korupsi melalui kabinet dan kebijakannya? Satu-satunya kabinet yang berisi jaksa agung yang keras ada di kabinet Gus Dur yaitu Baharuddin Lopa dan Marsillam Simandjuntak. Itu bisa membuktikan bahwa Gus Dur memang presiden yang konsisten terhadap pemberantasan korupsi dengan memilih orang- orang yang bersih dan dapat dipercaya. Soal lain, stigma di anak muda yang mengatakan Gus Dur sering jalan-jalan ke luar negeri. Kalau di benak anak muda persepsi ke luar negeri itu wisata. Misalnya, saya lima menit konferensi selebihnya jalan-jalan. Bagaimana pandangan Anda yang waktu itu mendampingi Gus Dur sebagai juru bicara? Saya kira kalau mahasiswa cocoklah lima menit konferensi selebihnya jalan-jalan karena kalau serius itu anggota Pansus, tidak tahu cara hidup yang seimbang. Jalan-jalan dengan Gus Dur, pertama, tidak menghabiskan uang karena naik pesawat yang sudah bobrok sekali. Bahkan, dari sini ke Bangkok harus berhenti di Medan untuk mengisi bensin. Pulangnya ada yang harus naik Garuda karena bensinnya kurang. Di sana saya tinggal di hotel yang biasa. Saya tinggal berdua sekamar. Beda dengan sekarang saya di InterMatrix Communications tidak pernah berdua sekamar tapi sendiri karena cukup ada uang untuk bayar kamar hotel. Gus Dur hemat sekali. Di sana boro-boro jalan-jalan. Dari mulai bangun tidur pukul 05.00 sampai tidur pukul 23.00 , Gus Dur bergiliran menerima bermacam-macam tamu. Contoh, saat Sidang Umum ASEAN di Singapura. Saya selalu ikut karena Gus Dur kurang bisa melihat dan senang diajak bicara, saya selalu mendampinginya. Pukul 05.00 saya sudah di kamar Gus Dur menerima kunjungan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad. Sesudah itu, Lee Kuan Yew (mantan Perdana Menteri Singapura). Kalau di sarapan yang resmi, saya duduk agak jauh karena jabatan saya rendah, juru bicara. Kalau dalam pertemuan yang penting saya hadir. Kemudian di sidang, saya juga beruntung karena ruang sidang hanya kepala pemerintahan saja yang boleh masuk, tapi karena Gus Dur kurang bisa melihat maka ada izin khusus untuk saya menemani. Jadi saya selalu ikut sidang dengan kepala pemerintahan. Saya mengikutinya sangat serius, tanpa catatan tapi jauh lebih paham daripada beberapa perdana menteri yang lain. Apakah yang diperjuangkan adalah kepentingan nasional kita? Tidak, kepentingan manusia. Itulah kehebatan Gus Dur karena ia tidak membatasi diri semata pada kepentingan nasionalisme. Kita memerdekakan manusia agar sama-sama makmur. Juga memberantas kekerasan dan korupsi. Gus Dur percaya kalau kita meningkatkan derajat manusia, negaranya juga akan maju. Gus Dur bukan seperti orang yang misalnya mempropaganda Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau Merah Putih agar kita maju tapi orang lain sengsara. Jadi, Gus Dur selalu bertemu dengan tamu-tamu, saya juga buktinya. Kalau di luar negeri, Gus Dur dan rombongan sudah tidak bisa jalan- jalan. Misalnya, wartawan yang ikut 40 orang maka pulangnya pasti ada 10 orang sakit. Jadi Gus Dur ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan tapi untuk membersihkan nama Indonesia, betulkah? Gus Dur tidak perlu jalan-jalan karena sebelum menjadi presiden sudah 35 kali ke Australia, dan 20 kali ke AS. Barangkali presiden lain yang belum pernah ke luar negeri, kecuali Habibie yang memang belum pernah ke Indonesia karena tinggalnya di luar negeri. Itu adalah hal yang tidak dimengerti orang dikira jalan-jalan itu senang, padahal ini pekerjaan. Anak-anak Gus Dur misalnya, kalau ke Singapura tidak kemana- mana. Kalau ke luar hotel diam-diam dan saat kembali lalu saya tanya, “Belanja nih?” Mereka menjawab, “Iya nih Om.” Namun saat isi kantong belanjaan dibuka ternyata isinya buku bukan Barbie doll ataupun gadget. Masyarakat banyak yang punya persepsi negatif mengenai Gus Dur dan kepresidenannya. Kapan kira-kira masyarakat bisa melihat dengan perspektif jernih bahwa Gus Dur adalah aset bangsa, punya legasi kuat dan kita bisa menikmati hasilnya sampai sekarang? Gus Dur tidak akan meminta supaya orang melihat dia dengan baik. Ia hanya mengharapkan bahwa nilai-nilai yang dianut menjadi nilai bersama. Dia mengatakan, “Tidak penting saya menjadi presiden. Saya tidak care, saya dijatuhkan.” Yang dia care adalah bahwa koleksi CD Beethoven milik dia jangan hilang. Ide-ide dia berjalan atau tidak bagi dia tidak penting karena dunia ini terlalu banyak orang yang punya kebebasan pendapat, dan memang harus demikian. Jadi tidak ada gunanya untuk menyeragamkan pendapat. Yang penting adalah mengoptimalkanhasil bersama. n

Get this blog as a slideshow!