31.5.10

Mark Zuckerberg, Privasi facebook, dan Facebooker Bodoh !

Pendiri Facebook
Menyusul pengaturan privasi Facebook yang menuai banyak kritik,gerakan global ‘Hari Berhenti dari Facebook’ telah menjaring 25 ribu orang,namun hal itu tidak memberi gebrakan berarti pada situs jejaring sosial paling besar di dunia itu.
Meskipun para pendukung privasi mengritik fitur yang baru-baru ini diluncurkan Facebook yang mana memungkinkan informasi pribadi pada facebook bisa muncul di situs lain, hanya 0 ,006 % dari sekitar 400 juta pengguna yang telah tergabung dengan gerakan untuk berhenti dari Facebook.

ZUCKERBERG sebut Facebooker BODOH !

Pendiri dan Pemilik Facebook.Inc Mark Zuckerberg benar-benar menjadi sorotan setelah seorang mahasiswa Harvard University membocorkan bahwa Mark menyebut para pengguna Facebook 'bodoh'.

Minggu lalu,dalam sebuah pertemuan mendadak di markas utama perusahaan itu di Palo Alto San Francisco,Zuckerberg mengumumkan bahwa Facebook akan memberikan ‘batasan’ sebagai kontrol privasi.
Di lain pihak, pendiri Quit Facebook Day, Joseph Day mengatakan tampaknya ia tidak akan melanjutkan promosi kampanye itu. “Saya pikir, ini telah meluas dari pernyataan sederhana kami, dan ini tampak keluar dari cerita dan menjadi sesuatu yang lebih besar.Namun saya tidak berpikir akan memimpin sebuah gerakan atau menjadi juru bicara bagi orang-orang yang ingin berhenti menggunakan Facebook,” ujarnya kepada media Toronto.
Joseph Day juga mengatakan bahwa jika pengguna Facebook tidak menghapus akun mereka pada hari ini, setidaknya akan memerlukan waktu untuk mengatur kontrol privasi yang terbaru.
Sumber:inilah.com

Surat kaleng Warnai Kisruh di Pegundan

Logo kabupaten Pemalang
Konflik di Desa Pegundan tak kunjung mereda.Setelah warga yang tergabung dalam Forum Peduli Desa Pegundan mendatangi Kantor Kecamatan Petarukan untuk klarifikasi, kini di desa tersebut beredar fotokopi surat kaleng.Surat tersebut berisi pencabutan usulan pemberhentian Kepala Desa (Kades) Suherman yang ditujukan kepada bupati Pemalang.

Salah satu warga Desa Pegundan dr.Agus Gunawan mengatakan,surat tersebut dia temukan di depan rumahnya sudah dalam bentuk fotokopi dengan kop Badan Permusyawaratan Desa (BPD). ’’Surat tidak dantarkan ke rumah seperti umumnya surat-surat. Saya tidak tahu apakah surat itu terjatuh atau sengaja dikirim ke rumah saya secara tidak wajar," kata Agus,Kamis (27 /5). Surat tersebut hanya satu lembar dan ditandatangani oleh pimpinan BPD Desa Pegundan lengkap dengan capnya. Layaknya surat sesunguhnya, tembusan surat juga tidak main-main ada tujuh instansi, termasuk di antaranya adalah kades Pegundan. Bahkan, dalam surat yang bererdar tersebut, tembusan kepada kades diberi tanda ’V’ (cek) dengan menggunakan pena.
Instansi lain yang juga mendapatkan tembusan surat kaleng tersebut adalah Kepala Bagian (Kabag) Tata Pemerintahan Setda Pemalang Ahmad F. Gattah SIP. Ahmad saat dikonfirmasi menyatakan,pihaknya belum mendapat tembusan surat pencabutan usulan pemberhentian kepala desa tersebut. ’’Kalau surat usulan pemberhentian kami sudah menerima. tapi kalau pencabutan terhadap surat usulan tersebut sampai saat ini belum diterima staf kami," tandas dia.

Saat ditunjukkan fotokopi surat tersebut dan diteliti dengan seksama,dia menyatakan,kalau surat itu tidak memenuhi kaidah surat menyurat BPD. Kop surat yang resmi menggunakan kalimat yang lengkap mulai dari pemerintah kabupaten, kecamatan hingga desa disertai logo Pemkab Pemalang.Sedangkan dalam surat foto kopian itu hanya tertera BPD Pegundan. Demikian pula mengenai tanda tangan pimpinan BPD, saat dicermati terdapat kejanggalan pada salah satu garisnya.Salah satu pimpinan BPD dalam tandatangan resminya menggunakan garis lurus dari atas ke bawah,sedangkan dalam fotokopian dengan nama yang sama tandatangannya agak ragu-ragu sehingga tidak lurus lagi dan sedikit berkelok.

Belum diketahui siapa pembuat surat kaleng tersebut,namun diperkirakan adalah pihak-pihak yang ingin membuat suasana desa Pegundan semakin keruh.
sumber(Ali)http://radartegal.com

Kerusuhan Rawabuaya,beraroma SARA


Dua kelompok massa terlibat bentrok di kawasan Jalan Lingkar Luar Barat, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu malam (30/5). Menurut informasi,akibat bentrokan antara kelompok massa Betawi dengan warga asal Madura tersebut mengakibatkan jalan Lingkar Luar Barat dari Kembangan menuju Cengkareng ditutup.Kepala Polisi Sektor Cengkareng Komisaris Polisi Ruslan mengatakan puluhan polisi tengah berusaha mengamankan lokasi. Sampai menjelang dinihari,ratusan massa masih berkumpul dengan membawa senjata tajam dan kayu.
Sementara itu,pemadam Kebakaran masih terus berusaha memadamkan api yang berkobar di kawasan tersebut,kebakaran itu sedikitnya menghanguskan puluhan rumah dan kendaraan milik warga setempat.
Usaha pemadaman api dilakukan Dinas Pemadam Kebakaran dengan pengawalan ketat dari kepolisian, ditakutkan massa yang masih terbakar emosi malah mengambil tindakan yang membahayakan proses pemadaman api.
Api yang membakar seluas kurang lebih 100 meter lahan pemukiman di Rawabuaya, Jakarta Barat itu, belum dapat dihitung nilai kerugian materialnya, dan jumlah korban jiwa dalam kejadian tersebut juga belum dapat diprediksi. Namun sebagian warga yang panik dengan kejaian tersebut, mulai berusaha menyelamatkan barang-barang miliknya dari kobaran api, dan mengantisipasi terjadinya amuk massa susulan.
Namun,berdasarkan informasi terkini,Senin ( 31 /5) dini hari,tewasnya anggota Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) asal Pandeglang, Banten, di daerah Cengkareng itu diduga dilakukan oleh warga asal Madura. Sejumlah anggota Forkabi yang mengetahui hal tersebut langsung melakukan penyerangan ke pemukiman warga asal Madura di Rawa Buaya. Akibatnya, puluhan rumah yang juga digunakan sebagai usaha penjualan kayu-kayu itu hangus terbakar. Meski begitu, belum diketahui penyebab pasti insiden tersebut. [sumber:inilah.com]

Menjadi Produser, Ari Lasso 'nyontek' Ahmad Dhani


Penyanyi Ari Lasso ingin menjadi produser musik dan produser eksekutif musik. Ia mengaku, itu karena ia terinspirasi oleh Ahmad Dhani,yang selain menyanyi, memainkan alat musik,mencipta lagu, dan mengaransemen musik, juga bertindak menjadi produser dan produser eksekutif  musik.
"Ahmad Dhani itu sumber inspirasi saya. Jadi,saya niat jadi produser," tutur mantan vokalis Dewa19 itu di Jakarta, Minggu (30 /5 /2010).

Ari mengaku,sebenarnya ketika mendirikan Republik Cinta Management (RCM),Ahmad Dhani sempat mengajaknya untuk bekerja sama. Namun, tawaran itu terpaksa ditampiknya lantaran dirinya sedang tidak memiliki dana.
"Waktu Dhani bikin RCM,dia ajak saya sebagai partner.Tapi, waktu itu saya lagi bokek, kebetulan saya juga sedang bangun rumah," kenang Ari.
Akhirnya,kini ia merintis sendiri menjadi produser eksekutif untuk band yang dinilainya layak.Ia memastikan, dalam waktu dekat ini bakal merilis grup baru yang telah diproduseri olehnya. "Mereka kirim sampel lagu ke saya,terus saya dengar. Bagus, saya produksi. Nanti saya rilis band baru produksi saya," tandasnya.(sumber Kompas.Com)

Licik! Wahabi Mendistorsi Kitab-kitab Ahlussunnah


Sejak abad dua belas Hijriah yang lalu, dunia Islam dibuat heboh oleh lahirnya gerakan baru yang lahir di Najd. Gerakan ini dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi dan populer dengan gerakan Wahabi. Dalam bahasa para ulama gerakan ini juga dikenal dengan nama fitnah al-wahhabiyah, karena dimana ada orang-orang yang menjadi pengikut gerakan ini, maka di situ akan terjadi fitnah. Di sini kita akan membicarakan fitnah Wahabi terhadap kitab-kitab para ulama dahulu.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa aliran Wahabi berupaya keras untuk menyebarkan ideologi mereka ke seluruh dunia dengan menggunakan segala macam cara. Di antaranya dengan mentahrif kitab-kitab ulama terdahulu yang tidak menguntungkan bagi ajaran Wahhabi. Hal ini mereka lakukan juga tidak lepas dari tradisi pendahulu mereka, kaum Mujassimah yang memang lihai dalam men-tahrif kitab.

Pada masa dahulu ada seorang ulama Mujassimah, yaitu Ibn Baththah al-’Ukbari, penulis kitab al-Ibanah, sebuah kitab hadits yang menjadi salah satu rujukan utama akidah Wahabi. Menurut al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, Ibn Baththah pernah ketahuan menggosok nama pemilik dan perawi salinan kitab Mu’jam al-Baghawi, dan diganti dengan namanya sendiri, sehingga terkesan bahwa Ibn Baththah telah meriwayatkan kitab tersebut. Bahkan al-Hafizh Ibn Asakir juga bercerita, bahwa ia pernah diperlihatkan oleh gurunya, Abu al-Qasim al-Samarqandi, sebagian salinan Mu’jam al-Baghawi yang digosok oleh Ibn Baththah dan diperbaiki dengan diganti namanya sendiri.

Belakangan Ibn Taimiyah al-Harrani, ideolog pertama aliran Wahabi, seringkali memalsu pendapat para ulama dalam kitab-kitabnya. Misalnya ia pernah menyatakan dalam kitabnya al-Furqan Bayna al-Haqq wa al-Bathil, bahwa al-Imam Fakhruddin al-Razi ragu-ragu terhadap madzhab al-Asy’ari di akhir hayatnya dan lebih condong ke madzhab Mujassimah, yang diikuti Ibn Taimiyah. Ternyata setelah dilihat dalam kitab Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyyah, karya Ibn al-Qayyim, murid Ibn Taimiyah, ia telah men-tahrif pernyataan al-Razi dalam kitabnya Aqsam al-Ladzdzat.

Tradisi tahrif ala Wahhabi terhadap kitab-kitab Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang mereka warisi dari pendahulunya, kaum Mujassimah itu, juga berlangsung hingga dewasa ini dalam skala yang cukup signifikan. Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar 300 kitab yang isinya telah mengalami tahrif dari tangan-tangan jahil orang-orang Wahabi.

Di antaranya adalah
* kitab al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah karya al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Kitab al-Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia, Beirut dan India disepakati telah mengalami tahrif dari kaum Wahhabi. Hal ini bisa dilihat dengan membandingkan isi kitab al-Ibanah tersebut dengan al-Ibanah edisi terbitan Mesir yang di-tahqiq oleh Fauqiyah Husain Nashr.
* Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Imam Mahmud al-Alusi juga mengalami nasib yang sama dengan al-Ibanah. Kitab tafsir setebal tiga puluh dua jilid ini telah di-tahrif oleh putra pengarangnya, Syaikh Nu’man al-Alusi yang terpengaruh ajaran Wahabi. Menurut Syaikh Muhammad Nuri al-Daitsuri, seandainya tafsir Ruh al-Ma’ani ini tidak mengalami tahrif, tentu akan menjadi tafsir terbaik di zaman ini.
* Tafsir al-Kasysyaf, karya al-Imam al-Zamakhsyari juga mengalami nasib yang sama. Dalam edisi terbitan Maktabah al-Ubaikan, Riyadh, Wahabi melakukan banyak tahrif terhadap kitab tersebut, antara lain ayat 22 dan 23 Surat al-Qiyamah, yang di-tahrif dan disesuaikan dengan ideologi Wahabi. Sehingga tafsir ini bukan lagi Tafsir al-Zamakhsyari, namun telah berubah menjadi tafsir Wahabi.
* Hasyiyah al-Shawi 'ala Tafsir al-Jalalain yang populer dengan Tafsir al-Shawi, mengalami nasib serupa. Tafsir al-Shawi yang beredar dewasa ini baik edisi terbitan Dar al-Fikr maupun Dar al-Kutub al-’Ilmiyah juga mengalami tahrif dari tangan-tangan jahil Wahabi, yakni penafsiran al-Shawi terhadap surat al-Baqarah ayat 230 dan surat Fathir ayat 7.
* Kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali, kitab fiqih terbaik dalam madzhab Hanbali, juga tidak lepas dari tahrif mereka. Wahabi telah membuang bahasan tentang istighatsah dalam kitab tersebut, karena tidak sejalan dengan ideologi mereka.
* Kitab al-Adzkar al-Nawawiyyah karya al-Imam al-Nawawi pernah mengalami nasib yang sama. Kitab al-Adzkar dalam edisi terbitan Darul Huda, 1409 H, Riyadh Saudi Arabia, yang di-tahqiq oleh Abdul Qadir al-Arna’uth dan di bawah bimbingan Direktorat Kajian Ilmiah dan Fatwa Saudi Arabia, telah di-tahrif sebagian judul babnya dan sebagian isinya dibuang. Yaitu Bab Ziyarat Qabr Rasulillah SAW diganti dengan Bab Ziyarat Masjid Rasulillah SAW dan isinya yang berkaitan dengan kisah al-’Utbi ketika ber-tawasul dan ber-istighatsah dengan Rasulullah saw, juga dibuang.

Demikianlah beberapa kitab yang telah ditahrif oleh orang-orang Wahabi. Tentu saja tulisan ini tidak mengupas berbagai cara tahrif dan perusakan Wahhabi terhadap kitab-kitab Ahlussunnah Wal Jama’ah peninggalan para ulama kita. Namun setidaknya, yang sedikit ini menjadi pelajaran bagi kita agar selalu berhati-hati dalam membaca atau membeli kitab-kitab terbitan baru. Wallahu a’lam.

Penulis: KH. Idrus Ramli
Pengurus Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Jember.
dikutip dari:www.solusiummat.org

30.5.10

Mati Syahid dan Pemahaman Impor ( ironi sebuah taklid buta )


Kesukaan meniru atau ‘mengimpor’ sesuatu dari luar negeri mungkin sudah menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang,termasuk bangsa kita.Pokoknya asal datang dari luar negeri,seolah-olah semua yang pasti hebat.Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah,bangsa kita rasanya memang keterlaluan bila meniru dari bangsa luar.

Sering hanya asal meniru; taklid buta, tanpa mempertimbangkan lebih jauh,termasuk kepatutannya dengan diri sendiri.Ingat,saat orang kita meniru mode pakaian misalnya,tidak peduli tubuh kerempeng atau gendut,pendek atau jangkung; semuanya memakai rok span atau celana cutbrai,meniru bintang atau artis luar negeri.
Pada waktu pak Harto dan orde barunya ingin membangun ekonomi,sepertinya juga asal meniru negara maju;tanpa melihat jatidiri bangsa ini sendiri yang pancasilais (Padahal waktu itu ada yang namanya Pedoman penghayatan dan pengamalan pancassila-P4).Maka, meski tanpa label kapital,selama lebih 30 tahun negeri kita seperti negeri kapitalis dan akibatnya,bangsa kita pun bahkan sampai sekarang sulit untuk tidak disebut bangsa yang materialistis.

Nah,ketika ada trend baru dari luar negeri yang berkaitan dengan keagamaan pun banyak diantara kita yang taklid buta. Kalau taklid soal mode,madzhabnya Amerika dan Eropa; soal tari dan nyanyi banyak yang berkiblat ke India,maka dalam tren keagamaan ini, agaknya banyak yang bertaklid kepada madzhab Timur Tengah,Iran,atau Afghanistan.
Seperti pentaklidan trend baru dari luar negeri yang selalu dimulai dari kota dan baru kemudian menjalar ke desa-desa,demikian pula tren yang berkaitan dengan keagamaan ini.
Seperti takjubnya orang kota terhadap trend mode dari luar negeri - atau takjubnya orang desa terhadap trend mode dari kota - dan langsung mengikutinya,orang-orang Islam kota atau mereka yang punya persinggungan dengan luar negeri, agaknya juga banyak yang demikian.

Mereka melihat dan takjub melihat keberagamaan yang mereka lihat di luar negeri,yang sama sekali lain dengan yang selama ini dianut orang-orang tua mereka disini. Maka,seperti halnya orang-orang yang mengikuti mode baru dari luar negeri, mereka ini pun bangga dengan model keberagamaan baru mereka.Termasuk kecenderungan merendahkan orang yang tidak mengikuti ‘trend baru’ mereka itu.
Karena taklid buta, karena asal meniru tanpa mempertimbangkan lebih jauh,sering kali lucu dan sekaligus memprihatinkan. Ambil contoh misalnya soal jihad. Ada beberapa orang yang hanya melihat perjuangan bangsa Palestina dan Afghanistan,misalnya, yang berjihad -seperti kita dulu ketika melawan kolonialis Belanda- dengan segala cara;termasuk mengorbankan nyawa sendiri. Lalu "para peniru mode ini ikut-ikutan melawan musuhnya Palestina dan Afghanistan di sini dengan cara yang sama.
Mereka lupa bahwa jihad seperti yang dilakukan dan diajarkan Rasulullah SAW ada aturan dan etikanya.Orang Palestina yang melakukan bom bunuh diri untuk melawan kolonialis Israel,bila terbunuh bisa disebut syahid. Dalam hadits riwayat imam Ahmad dari Sa’ied Ibn Zaid, disebutkan bahwa orang yang terbunuh membela haknya atau keluarganya atau agamanya,adalah syahid.Orang yang mati syahid seperti disebutkan dalam beberapa hadits, berhak mendapatkan enam anugerah:
1. Diampuni dosanya sejak tetes darahnya yang pertama.
2. Bisa melihat tempatnya di sorga.
3. Dihiasi dengan perhiasan iman.
4. Dikawinkan dengan bidadari.
5. Dijauhkan dari siksa kubur.
6. Aman dari kengerian Yaumil Faza’il akbar.

Tapi orang yang melakukan bom bunuh diri di Indonsia yang tidak dalam sedang berperang melawan siapa-siapa dan mayoritas penduduknya beragama Islam,jelas namanya bunuh diri yang dilarang oleh Allah SWT,apalagi ditambah dengan tindakan kriminalitas luar biasa yakni membuat kerusakan.

Banyak sekali ayat Al-Quran yang menunjukkan dilarangnya berbuat kerusakan di muka bumi.Dalam perang melawan orang-orang kafir sekali pun,ada batasan-batasannya; misalnya tidak boleh membunuh perempuan dan anak-anak,merusak lingkungan,dsb.
Allah berfirman: “Walaa taqtuluu anfusakum..” (Q. 4. An-Nisaa: 29). “ Dan janganlah kamu membunuh dirimu..” Menurut para mufassir,larangan membunuh diri ini termasuk juga membunuh orang lain;karena membunuh orang lain termasuk membunuh diri sendiri,sebab umat merupakan satu kesatuan.
Larangan ini sangat jelas sekali.Orang yang membunuh dirinya sendiri dan sekaligus orang- orang lain yang tidak berdosa,jelas sangat jauh untuk dapat disebut syahid !.
Sungguh keterlaluan mereka yang mencekokkan doktrin yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW.Apalagi hanya karena taklid buta terhadap trend dari luar negeri.Dan sungguh naïf mereka yang mengaku umat Muhammad dengan mudahnya terpikat oleh iming-iming bidadari,hingga mengabaikan akal sehat dan tega menghancurkan nilai agung kemanusiaan yang ditegakkan Rasulullah SAW.

KH A Musthofa Bisri (http://gusmus.net)

Syeikh Hisyam Kabbani dan Apresiasinya terhadap NU


Tokoh Muslim Amerika Serikat Syeikh Muhammad Hisyam Kabbani memberi apresiasi terhadap sikap dan kiprah Nahdlatul Ulama (NU) di dalam kehidupan berbangsa dan pergaulan internasional. “Kami sangat apresiatif dengan keberadaan dan sikap-sikap NU dalam kehidupan berbangsa dan pergaulan dunia,” katanya saat bersilaturahmi dengan jajaran PBNU di Jakarta, Rabu (26/5/10).

Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah kelahiran Lebanon itu menilai NU telah memberikan keteladanan yang baik dalam menyemai kerukunan hidup di tengah berbagai perbedaan.

Sementara itu,ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraadj menyatakan, NU selalu mengawal keberagaman umat dengan prinsip-prinsip ahlussunah wal jamaah, yakni lurus,toleran,moderat, dan seimbang. “NU selalu menghargai perbedaan-perbedaan, baik karena beda mazhab, suku,maupun agama,” katanya.

Menurutnya, Islam itu bukan sekedar aturan mengenai akidah dan syariah, namun juga melingkupi keilmuan, kebudayaan, sosial, dan peradaban.

Sejak berdiri tahun 1926, kata Said Aqil, NU telah melewati berbagai rintangan dalam mewujudkan cita-cita peradaban Islam. Bahkan, hingga saat ini Indonesia terus menghadapi berbagai dinamika kehidupan beragama. “Namun NU selalu berpegang teguh dengan prinsip-prinsip pokok agama dan bertoleransi terhadap masalah-masalah khilafiyah (perbedaan),” kata Said Aqil.

(sumber>http://ploso.net)

Menyingkap NU dan Perpolitikannya > Sebuah Kritik dari Gus Mus



KH A Musthofa Bisri

NAHDLATUL Ulama, seperti diketahui, merupakan jam'iyah atau organisasi yang didirikan para kiai pesantren.
Mengapa Nahdlatul Ulama, Kebangkitan Para Kiai, dan bukan Nahdlatul Umat? Sebab, tujuan semula organisasi ini memang untuk mempersatukan para kiai. Hadlratussyeikh dalam salah satu risalah beliau menyatakan antara lain: "Innal ghaayah allatii tarmii ilaihaa al-Jam'iyyah hiya tauhiidu shufuufi l ulamaa' warabthihim biraabithatin waahidah..." ("Tujuan jam'iyah ialah mempersatukan barisan para kiai dan menghimpun mereka dalam satu ikatan"). Sudah maklum bahwa kiai -terutama di zaman dulu- memiliki santri dan umat pengikut. Jadi, apabila para kiai "bangkit", otomatis para santri dan umumnya umat pengikut mereka akan ikut "bangkit". Para kiai merasa merekalah yang paling bertanggung jawab menciptakan kemaslahatan umat. Boleh jadi, karena kiai-kiai pesantren yang mendirikannya, struktur organisasi mereka ini pun disesuaikan dengan ''struktur'' pesantren.
Di pesantren, kiailah pemimpin tertinggi pengambil kebijaksanaan yang mengendalikan dan mengarahkan. Sementara, untuk urusan- urusan pelaksanaan kebijaksanaan sehari-hari, lurah pondok atau pengurus pesantren yang menanganinya. Lalu dari sinilah muncul struktur istimewa khas NU: Syuriah sebagai pihak pengambil kebijaksanaan, pengarah, dan pengendali organisasi dan Tanfidziyah sebagai pelaksana harian. Maka, ada ungkapan, "NU adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil."
Biasanya kiai memimpin pesantren seumur hidup. Meskipun putra, mantu, atau lurah pondoknya sudah qaari', bisa mengajar, tetap saja mereka semua tidak mungkin berebut kepemimpinan pesantren dengan kiainya. Barangkali ini sebabnya, para rais aam pendahulu " dipaksa" menjabat sampai wafatnya. Bahkan, ketika Kiai Abdul Wahab Hasbullah sudah dianggap uzur dan muktamirin lalu memilih Kiai Bisri Sansuri, Kiai Bisri dengan tegas menyatakan, selama masih ada Kiai A. Wahab, beliau hanya mau menjadi pembantunya.

Ketika Indonesia memasuki alam demokrasi dan NU dipaksa sejarah menjadi partai politik, peran tanfidziyah pun menjadi lebih dominan. Apalagi, tidak sedikit kiai pesantren (termasuk yang di syuriah) yang kurang sreg dengan politik praktis.
Sejak itu istilah syuriah- tanfidziyah mulai bergeser maknanya: Syuriah disamakan dengan legislatif dan tanfidziyah dengan eksekutif. Ketua umum sebagai orang pertama organisasi dan rais aam (yang arti harfiahnya juga ketua umum) tidak jelas atau sengaja tidak diperjelas perannya.
Tidak itu saja, pengaruh ''alam demokrasi'' (baca dunia perpolitikan) di Indonesia dengan segala kedegilan-perkembangannya, telah mempersempit ruang garapan NU yang sejak awal ingin berkhidmah kepada agama, bangsa, dan negara. Pendidikan, dakwah, dan ekonomi rakyat misalnya, nyaris terabaikan. Bahkan, NU yang semula dikenal dekat dan selalu membela kaum lemah, sebagaimana tradisi para kiai pesantren, menjadi organisasi yang tidak jelas keberpihakannya. Dirumuskan dan ditetapkannya khitah NU (dalam Muktamar XXVII di Situbondo) ternyata tidak banyak mempengaruhi 'aqliyah-politis-nya warga NU, termasuk para tokohnya. Jarang sekali yang memahami dan memanfaatkan khitah sebagai awal dari perbaikan diri serta pemulihan dan pengoptimalan amal-khidmahnya.
Alih-alih Khitah NU lagi-lagi hanya dijadikan alat politis untuk bertikai bagi sesama pemilik kepentingan. Parahnya lagi, orientasi dan praktik perpolitikan di NU hanya manjur untuk kalangan intern antar sesama orang NU. Seiring dengan perkembangan demokrasi (sekali lagi baca: perpolitikan) di Indonesia yang mengarah kepada ''demokrasi risywah'' akibat dipilihnya sistem pilihan-pilihan langsung seperti pilkades, pilkada, hingga pilpres, NU dan para tokohnya pun tidak luput dari pengaruh ''demokrasi risywah'' dan politik pragmatis.
Tokoh-tokoh NU muncul hampir di setiap kegiatan politik praktis. Dalam pemilihan umum (pileg, pilkada, pilpres) tokoh-tokoh NU tidak hanya terlibat, bahkan sering lebih menonjol keterlibatannya dari politisi: entah menjadi calon, tim sukses, atau sekadar menjadi broker (kosa kata baru di kalangan NU). Ingat waktu pilpres tempo hari, bagaimana para kiai dan tokoh-tokoh NU, termasuk mereka yang ada dalam struktur kepengurusan, dengan semangat jihad meneriakkan dukungan kepada salah satu calon.
Tidak itu saja. 'Aqliyah perpolitikan ala ''demokrasi risywah'' ternyata juga sudah menembus tubuh organisasi NU itu sendiri. Praktik-praktik yang biasa terjadi di pilihan-pilihan umum politik, seperti money politics, black compaign, dsb, sudah menjadi lumrah juga dalam pilihan-pilihan pengurus jam'iyah NU. Para calon ketua dan atau pendukungnya, sering dengan fasih menyebarkan keburukan-keburukan calon saingan; atau dengan tanpa risi, '' menyalami templek'' atau mengiming-imingi sesuatu kepada yang mau mendukung. Seolah-olah belum ada yang pernah membaca sabda pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW, yang menyatakan bahwa ada tiga orang yang tidak akan Allah lihat, tidak Allah sapa,dan akan mendapatkan azab yang sangat menyakitkan di Hari Kiamat; salah satunya ialah orang yang -"baaya'a imaamahu laa yubaayi'uhu illaa lid dunya; fain a'thaahu minhaa radhiya wainlam yu'thihi minhaa sakhitha..."- memilih pemimpin semata-mata karena harta dan fasilitas dunia.
Puncak pengaruh perpolitikan yang demikian itu adalah apa yang terjadi menjelang Muktamar Ke-32 NU ini. Baru sekarang ini -sejak Hadlratussyeikh Hasyim Asy'ari, KH A. Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansuri, KH Ali Maksum, KH Ahmad Siddiq, KHM Ilyas Ruhyat, sampai dengan KH M Ahmad Sahal Mahfuz- kedudukan rais aam disikapi seperti menyikapi jabatan-jabatan duniawi. Bahkan, -seperti umumnya orang memandang jabatan duniawi- jabatan itu seolah- olah sudah tidak dipandang lagi sebagai amanah, tapi anugerah. Mulai model pencalonan, dukung-mendukung, tim sukses, kampanye hitam, dan sebagainya, sudah mirip -kalau tidak persis- dengan model pilkada dan pilpres. (Saya menerima banyak sms yang menurut saya hanya pantas beredar menjelang pilihan lurah, pilkada, atau pilpres. Sama sekali tidak pantas beredar menjelang muktamar NU; apalagi sudah menyangkut pemimpin tertingginya).

Semoga Allah merahmati dan memberi hidayah kepada mereka yang menyebabkan dan membantu terjadinya hal musykil ini. Saya sedikit menitipkan penggalan pesan Rais Akbar Hadlratussyeikh Muhammad Hasyim Asy'ari yang beliau tulis 76 tahun lalu, tepatnya pada awal Syawal 1355 H untuk para kiai NU, ini: "Inna jam'iyyatanaa al- mubaarakah walillahil hamdu qad haazat iqbaalal 'awaam 'alaihaa... " (Sesungguhnya jam'iyah kita yang mubarak ini alhamdulillah telah mendapat sambutan baik dari masyarakat dan itu tidak lain karena jam'iyah kita bekerja bagi kemaslahatan mereka dan berjuang untuk kebaikan mereka, baik di dunia maupun di akhirat.  
Selain itu, karena jam'iyah kita ini merupakan organisasi yang berjalan di atas khitah As-Salafus Shalih ridhwaanullahi 'alaihim. Maka, wajib bagi setiap orang dari ulama kita untuk tidak lepas dari pikirannya masalah yang penting ini, yaitu mengupayakan kemaslahatan masyarakat, membimbing mereka, dan mengeluarkan mereka dari gelapnya kesesatan menuju cahaya hidayah dan mengentaskan mereka dari jurang kebodohan dan kehinaan menuju ke puncak ilmu dan keutamaan.
Semua itu merupakan tugas di pundak ulama kita; karena ulama adalah pembawa amanat Allah atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana tersebut dalam hadis Rasulullah SAW...).
* KH A Musthofa Bisri
(dikutip dari Jawa Pos)

Kisah pilu Dini : Balita Yang terserang Tumor mata

gambar ilustrasigambar ilustrasi
Betapa malangnya nasib seorang gadis kecil bernama Dini Fitrotul Hikmah, di usianya tiga tahun harus mengalami penderitaan yang teramat berat.

Pasalnya, balita asal Kelurahan Muarareja, Kota Tegal telah divonis menderita penyakit tumor mata ganas, dimana kondisinya setiap hari semakin parah benjolan tumor pada mata kirinya yang terus bertambah besar. Akibatnya, gadis malang ini tak bisa melihat dengan sempurna seperti teman-teman sebaya lainnya dan lebih sering mendekam di dalam rumah, karena malu dengan kondisinya sekarang.

Padahal, pihak keluarga selama ini sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan putrinya, dengan melakukan operasi mata di Rumah Sakit William Booth Semarang, yang menghabiskan biaya hingga jutaan rupiah.

"Dari hasil operasi mata itu pernah dinyatakan berhasil oleh dokter RS William Booth dan tidak akan tumbuh tumor lagi. Tapi pada kenyataannya, setelah sebulan berikutnya ternyata tumor ganas tersebut masih tetap tumbuh dan semakin membesar," kata Kurniasih salah seorang tante Dini.

Dini panggilan akrabnya, seorang balita usia 3 tahun yang menderita tumor mata ini dari hari ke hari tampak terus menangis karena merasakan kesakitan yang teramat pedih mendalam pada mata bagian kirinya, dimana terserang tumor ganas nan mematikan. Balita anak pasangan Warno (28) dan Ekawati (25) pada awal mulanya divonis menderita penyakit ganas tersebut sejak usianya 2 tahun 6 bulan.

Menurut Kurniasih, adapun beberapa gejala yang ditimbulkan sehingga mengakibatkan penglihatan sebelah kirinya tak berfungsi lagi. Salah satunya seperti mata kucing dan bagian hitamnya (bola mata) ketutup dengan yang putih. Kemudian, kedua orang tua Dini langsung membawa putri semata wayang ke dokter spesialis mata di RSUD Kardinah, sebelum akhirnya dilakukan operasi mata di RS William Booth Semarang.

"Penyembuhan dengan operasi ternyata benar-benar tak bertahan lama, sehingga membuat semua harta benda yang dimilikinya telah habis. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, kedua orang Dini masih tetap berusaha untuk memulihkan anak semata wayangnya. Upaya kedua yang dilakukannya, yakni melalui pengobatan alternatif dengan membawa putrinya ke Banten, Jawa Barat pada 18 Mei kemarin," ujarnya.

Dari hasil pengobatan alternatif itu ternyata juga belum ada perubahan sama sekali. Bahkan, Dini makin sering menangis karena tidak tahan rasa sakitnya yang dideritanya.

"Kami tak tahu harus berbuat apa lagi demi menyembuhkan Dini, sebab semua upaya sudah dilakukan dan kini tidak memiliki uang lagi. Meskipun masih ada pengobatan gratis, tapi kami belum terdaftar sebagai anggota peserta Jamkesmas atau Jamkesda. Dan bahkan, surat keterangan tidak mampu (SKTM) pun belum mendapatkannya," terangnya.

"Diharapkan, dengan adanya media massa, semua donatur, dermawan atau bahkan pemkot bisa terketuk hatinya untuk memberikan pertolongan kepada balita berusia 3 tahun, yang menderita tumor mata ganas. Sebab, kami ingin melihat Dini bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya dan kembali bermain bersama teman sebayanya," pintanya.(suara merdeka cyber news/Susanti Retno/CN13 )

Kios Lama Pasar Pagi Pemalang Akhirnya Dibongkar


Keinginan eks pedagang kios lama Pasar Pagi di blok yang dikenal dengan sebutan SPN, hampir terwujud.

Janji instansi terkait untuk mengijinkan dimulainya pembangunan pada Bulan Juni 2010 juga terealisir. Kamis (27/5) sejumlah pedagang mulai membongkar sendiri bagian-bagian kiosnya.

Bangunan lama kios tersebut kondisinya memang sudah tidak layak lagi. Pada bagian atapnya banyak yang rusak. Sedangkan bagian pagarnya sudah tidak sedap lagi ditatap karena sudah lapuk. Kios-kios tersebut semula dipakai untuk berjualan komoditas non sayur dan buah.

Proses pembangunan kembali kios tersebut sudah melalui beberapa tahapan. Sebelumnya Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) mengundang puluhan pedagang Pasar Pagi Pemalang yang menyewa kios di blok tersebut, pada Bulan Maret yang lalu.

Kegiatan ini dilakukan untuk memasilitasi para pedagang dalam rangka renovasi kios tersebut. Renovasi ini menggandeng pihak ketiga dan akan dilakukan mulai April, namun baru akan dilakukan sebulan mendatang.

Pejabat Disperindagkop yang menemui para pedagang ini adalah Sekretaris Dinas (Sekdin) Drs Abah Sahma, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Drs Hepy Priyanto, dan Kabid Pasar Untung Pamungkas SH.

Kabid Perdagangan Drs Hepy Priyanto menjelaskan, kios blok itu tanahnya adalah milik Pemkab Pemalang. Selama ini disewakan ke pedagang dan telah berakhir perjanjiannya sejak tahun 1998. Namun, pemerintah menolerir pedagang untuk tetap menyewa kios tersebut secara bulanan.

Pedagang di blok tersebut jumlahnya adalah 25 orang, dan rencananya dibangun kios ukuran 3,5 x 5 meter dan pengembangnya ditunjuk oleh pedagang.

Sedangkan beberapa pedagang mengemukakan sudah siap dan sanggup menyewa kios dalam keadaan bangunan baru sesuai harga yang ditetapkan oleh pengembang. Harga dari pengembang itu ditentukan oleh konsultan Dinas Pekerjaan Umum sebesar Rp 50 jutaan. (ali)http://radartegal.com

29.5.10

HUMOR POLITIK : Tuhan Panggil Tiga Presiden

gambar ilustrasiGambar ilustrasi belaka

Tuhan memanggil presiden dari tiga negara, AS, Cina, dan Indonesia untuk dimarahi. Dari Amerika datanglah Barrack Obama. Dari Cina datang Presiden Hu Jintao. Dari Indonesia diutuslah Menkeu baru,pak Agus. lagi – lagi minta diwakili oleh menterinya sebagaimana biasanya kalau mendapat panggilan DPR.

Setelah habis-habisan mencela tindakan pemimpin dunia ini, Tuhan menyampaikan bahwa Ia sudah muak dan memutuskan dalam tiga hari dunia akan kiamat. Tiga pemimpin ini disuruh kembali ke negaranya untuk menyampaikan keputusan Tuhan kepada rakyat mereka masing.

Ketiga pemimpin pulang ke negara masing-masing sambil putar otak, bagaimana menyampaikan kabar buruk ini kepada rakyatnya.

Di depan Kongres Amerika dan disiarkan langsung oleh seluruh stasiun TV, presiden Obama mencoba menyampaikan dengan penuh hati-hati : ‘Congressmen, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu. Tuhan itu benar-benar ada, seperti yang kita yakini. Kabar buruk: Tuhan akan memusnahkan dunia ini dalam tiga hari’. Selesai menyampaikan informasi tersebut, hasilnya payah karena spontan saja terjadi kerusuhan dan penjarahan di mana-mana.

Di depan Kongres Partai Komunis Cina, Hu Jintao memodifikasi taktik Obama, ‘Kamerad, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu ya. Ternyata Marx, Stalin, Ketua Mao, dan para pendahulu kita salah, Tuhan itu benar-benar ada. Kabar buruk: Tiga hari lagi Tuhan akan mengkiamatkan dunia ini.’.

Hasilnya lumayan, orang-orang Cina lari, heboh dan menangis ketakutan dan membanjiri tempat ibadah, mau bertobat.

Yang paling sukses "berdiplomasi" adalah Indonesia . Karena setelah mendapat laporan dari pak Agus, pak SBY, di depan sidang paripurna DPR yang disiarkan langsung, tersenyum sumringah. ‘Saudara sebangsa dan setanah air, saya membawa dua kabar baik dari Tuhan melalui pak Agus.

Kabar baik pertama: Sila pertama Pancasila kita sudah benar,karena Tuhan itu benar-benar ada. Kabar baik kedua: dalam tiga hari semua masalah yang melilit bangsa kita, seperti energi, pangan, kemiskinan, terorisme dan penderitaan di Indonesia akan segera berakhir…’

Sukses besar, seluruh rakyat langsung larut dalam pesta dangdutan dan pawai dimana-mana. (di adaptasi dari ofisial website GP ANSOR)

Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi




Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin--ulama Wahabi kontemporer yang sangat populer--mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Whhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa'di, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa'di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahhabi. Meskipun Syaikh Ibnu Sa'di, termasuk ulama Wahabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid 'Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda Abuya al-Sayyid Muhammad bin 'Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjid al-Haram bersama halaqah pengajiannya. Sementara di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa'di juga duduk-duduk. Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah shalat dan tawaf yang mereka lakukan. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung yang menggelantung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka'bah mengalirkan airnya dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut, dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah SWT. Akhirnya para polisi pamong praja itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka'bah itu,

"Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik."

Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera berhamburan menuju halaqah al-Imam al-Sayyid 'Alwi al-Maliki al-Hasani dan menanyakan prihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka'bah itu. Ternyata Sayyid 'Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk melakukannya. Akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka'bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi baduwi tersebut. Bahkan mereka berkata kepada para polisi baduwi itu,

"Kami tidak akan memperhatikan teguran Anda, setelah Sayyid 'Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini."

Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi baduwi itu pun segera mendatangi halqah Syaikh Ibnu Sa'di, guru mereka. Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid 'Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa'di segera mengambil selendangnya dan bangkit menghampiri halqah Sayyid 'Alwi dan duduk di sebelahnya. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Dengan penuh sopan dan tata krama layaknya seorang ulama, Syaikh Ibnu Sa'di bertanya kepada Sayyid 'Alwi:

"Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka'bah itu ada berkahnya?"

Sayyid 'Alwi menjawab:

"Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah."

Syaikh Ibnu Sa'di berkata:

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"

Sayyid 'Alwi menjawab:

"Karena Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:

وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ مُّبَٟرَكًۭا

"Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah." (QS. 50:9).

Allah SWT juga berfirman mengenai Ka'bah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍۢ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًۭا وَهُدًۭى لِّلْعَٟلَمِينَ ﴿٩٦﴾

"Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah)." (QS. 3:96).

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka'bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini."

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa'di merasa heran dan kagum kepada Sayyid 'Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa'di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid 'Alwi:

"Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini."

Kemudian Syaikh Ibnu Sa'di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid 'Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halqah tersebut. Namun Sayyid 'Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa'di:

"Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa'di. Aku melihat para polisi Baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka'bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan orang dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang yang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka'bah itu, lalu ambillah air di situ di depan para polisi baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain."

Akhirnya mendengar saran Sayyid 'Alwi tersebut, Syaikh Ibnu Sa'di segera bangkit menuju saluran air di Ka'bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tingkah laku Syaikh Ibnu Sa'di ini, para polisi Baduwi itu pun pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.

Semoga Allah SWT merahmati Sayyidina al-Imam 'Alwi bin 'Abbas al-Maliki al-Hasani. Amin.

Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.

Penulis: KH. Idrus Ramli
Penulis adalah Pengurus Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Jember.
Sumber: http://www.azahera.net/showthread.php?t=2408

Akhirnya Terkuak,Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Pemalang


Setelah 12 hari sejak ditemukannya empat mayat wanita keluarga penjual dawet ayu Banjarnegara di Lingkungan Cokrah Utara, Kelurahan Mulyoharjo, Kabupaten Pemalang, Polisi berhasil mengungkap kasus tersebut.Sumber di instansi tersebut menyatakan,empat korban tewas karena dibunuh.Motif yang menyertai aksi tersebut adalah karena keinginan untuk menguasai harta benda korban.

Sumber di Polres Pemalang membenarkan adanya pengungkapan kasus tersebut,meskipun mereka masih menutup diri.
Pelaku pembunuhan, menurut sumber tadi, lebih dari satu orang dan merupakan warga Pemalang kota. Pembunuhan tersebut dilakukan pada sekitar Jumat (14 /5) malam lalu.Mayatnya baru diketahui warga pada Senin (17 /5) sore hari.Meski di rumah korban penghuninya adalah wanita semua, namun sumber mengatakan, aksi kejahatan itu tidak dilengkapi dengan aksi perkosaan kendati saat mayat ditemukan salah satu korbannya mengalami rusak pada alat kelamin.
Kapolres Pemalang AKBP Burhanudin SIK melalui Kasatreskrim AKP Suwarto saat dikonfirmasi melalui telepon belum mau membeberkan terungkapnya kasus tersebut.Namun,dia menjanjikan akan segera menggelar jumpa pers untuk gelar perkara.’’Kita akan melakukan gelar perkara dipimpin langsung oleh kapolres,tolong sabar dulu," pinta dia seraya menjelaskan, jumpa pers akan dilakukan dalam satu atau dua hari lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya,telah ditemukan empat mayat di dukuh Cokrah Utara,Kelurahan Mulyoharjo,Kecamatan Pemalang,kabupaten Pemalang.Empat korban itu adalah Sarminah (47), Winda Permatasari (19) , Gita (0 ,6), dan Mudri (70) pembantu rumah tangga di rumah tersebut.
Penemuan diawali dengan adanya bau bangkai yang tercium warga di sekitar rumah korban,pedagang es dawet Banjarnegara. Setelah diendus, ternyata bau tersebut berasal dari balik pintu rumah tersebut. Beberapa warga mendobrak pintu rumah dan tersebar bau menyengat yang ternyata berasal dari mayat Mudri.
Warga selanjutnya masuk ke ruangan lainnya dan ditemukan mayat Sarminah kemudian mayat Winda beserta anaknya,Gita.
Keluarga tersebut dalam beberapa hari terakhir memang jarang terlihat mondar-mandir, sehingga melihat kondisi mayatnya warga menduga sudah meninggal sejak beberapa hari yang lalu. Oleh warga sekitar keluarga tersebut dikenal sebagai warga yang baik.Sarminah adalah penjual dawet yang mangkal di depan Toko Tekstil Sinar, sedangkan Winda berjualan di kios Pasar Pagi Pemalang.Winda dikenal sebagai dawet primadona di pasar tersebut karena wajahnya yang imut dan sikapnya yang ramah.
Polisi memeriksa banyak saksi untuk mengungkap kasus tersebut hingga berkembang dan menuai hasil.(ali)
sumber http://radartegal.com
gambar http://pesisirnews.com

DPRD Pemalang Sepakat Tolak LPJ Bupati Jika LHP tak turun


Sikap Anggota DPRD Kabupaten Pemalang terhadap eksekutif nampaknya semakin keras dan tidak mau lagi kompromi. Pasalnya,dewan melalui Badan Anggaran telah sepakat tidak menyetujui Laporan Pertanggungjawaban Bupati dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2009, jika Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jawa Tengah tetap juga tidak turun.
Sikap keras dewan tersebut muncul dalam rapat internal Badan Anggaran yang digelar di gedung dewan, kemarin.  

“LHP itu wajib ada untuk pembahasan LPJ dan APBD tahun 2009 dan tidak bisa ditawar-tawar lagi,” kata Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pemalang H Noor Rosyadi SE MM kemarin.

Sikap untuk tidak menyetujui LPJ dan APBD tahun 2009 itu sendiri dari hasil rapat internal Badan Anggaran dewan yang diikutinya bersama semua anggota Badan Anggaran di gedung  dewan.

Tergantung LHP dari BPK Jateng.

Meski demikian lanjut Noor Rosyadi dewan tetap melalui prosedur dan masih akan memberikan toleransi kepada eskekutif sampai menjelang pembahasan di komisi-komisi pada tanggal 11 hingga 17 juni 2010.
“Namun  apabila pembahasan di komisi belum juga turun, maka diharapkan sebelum rapat badan anggaran tanggal 18 dan 21 Juni,LHP dari BPK Jawa tengah harus sudah turun,” paparnya.
Noor Rosyadi menegaskan, jika nanti LHP tetap tidak turun,dewan melalui rapat pariupurna, tidak akan menyepakati hasil pertanggungjawaban APBD tahun 2009 sesuai hasil kesepatan dalam rapati internal Badan Anggaran.
“Sikap dewan tidak menyetujui itu nantinya akan disampaikan dalam rapat paripurna tanggal 24 Juni melalui fraksi-fraksi DPRD Pemalang. Dan kemungkinan oleh fraksi-fraksi juga akan menyatakan sikap atau pendapatnya untuk tidak menyetujuinya,” tegasnya.
Tidak adanya LHP untuk pembahasan LPJ dan APBD tahun 2009 ini menurutnya ada dampak yang sangat berarti terutama dalam perhitungan APBD perubahan 2010 yaitu pada silva atau selisih pembiayaan APBD untuk sisa tahun lalu,karena nantinya akan terjadi perbedaan angka dalam penghitungan. “Oleh karena itu adanya LHP itu sangat penting dalam pembasahan LPJ dan APBD tersebut, karena melalui rapat Badan Anggaran akan dilakukan sinkronisasi, apabila LHP itu turun atau ada.Dengan harapan antara catatan eksekutif dengan dewan akan dicocokan,”ujarnya.(mg1)sumber http://radartegal.com

KH.Hasyim Muzadi : Indonesia Bisa menjadi Contoh baik Hubungan Agama - Negara


Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS), KH Hasyim Muzadi mengatakan, Indonesia bisa menjadi contoh yang baik dalam menata hubungan antara agama dan negara, dan hubungan antar umat bergama yang erat. "Selain itu, Indonesia juga bisa menjadi contoh yang baik bagi dunia dalam mendorong pemikiran keagamaan yang moderat," ungkapnya saat menjadi pembicara pada Interfaith Dialogue Indonesia-Czech Republic, di Hotel Hilton Old Town Praha, Ceko, Jumat (28 /5).

Menurutnya, terkait persoalan toleransi antar umat beragama, persamaan dalam ajaran agama perlu dikedepankan. Bersamaan dengan itu, perbedaan yang muncul jangan dicari-cari.
"Pada dasarnya, agama mengajarkan kejujuran, keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan," tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Hasyim juga mengatakan bahwa hal menarik dalam dialog antaragama di negara-negara Eropa Timur yang lama hidup dalam cengkeraman kekuasaan komunis, adalah seberapa besar peluang agama untuk masuk dalam proses reformasi dan transformasi.
"Jika agama bisa masuk, maka kemungkinan pengembangannya sebesar apa juga perlu diperhatikan," ungkapnya.

Ia mengatakan, transformasi dari negara komunis menuju negara demokrasi yang dilakukan negara-negara Eropa Timur hanya bertumpu pada pengembangan bidang ekonomi dan politik. Karena itu, menurutnya, dibutuhkan aksi dan tindakan yang berbeda. Sebab, dari sisi ekonomi, masyarakat dan negara merasa tidak butuh dengan agama. Sedangkan dalam bidang politik, negara-negara Timur maupun Barat banyak yang memilih menjadi sekuler.(http://suaramerdeka.com)

Keluar Dari Kemelut Kebangsaan

gambar ilustrasigambar ilustrasi
Pendekatan Sufistik
Sebuah kitab berjudul “Al-Munqidz minadh-Dhalal” karya Hujjatul Islam Al-Ghazali, Ulama besar abad VI hijriyah, telah mengilhami banyak kesadaran spiritual umat Islam, bahkan masyarakat dunia ketika itu. Makna dari judul itu adalah “Penyelamat dari kegelapan”.
Sebuah wacana yang mengingatkan kita semua, bahwa siklus moralitas manusia, akan menuju titik jenuhnya, dan secara dramatis telah memasuki abad-abad kegelapan yang mengerikan.

Dalam konteks kebangsaan kita dewasa ini, bentangan sejarah masa lalu merupakan mosaik yang memantulkan tiga wajah sejarah yang saling memperebutkan hegemoni, tanpa disadari hegemoni-hegemoni itu seringkali membiaskan gambaran, betapa drama para pemimpin negeri, konstelasi ideologi dan kepentingan pragmatis menjadi warna yang saling bergulungan satu sama lainnya. Lalu hari ini, tiba-tiba kita sudah berada di hamparan pulau asing, tanpa horison perspektif dan kaki langit yang jelas. Hari ini adalah kenyataan-kenyataan dari pantulan mosaik yang buram dari masa lalu yang kelam.

Kitab Al-Ghazali itu, tentu saja masih relevan untuk menimbang moralitas kebangsaan kita hari ini, untuk sebuah solusi besar yang mondial. Karena sesungguhnya, masalah-masalah kontemporer dari soal KKN, delegitimasi politik, dan konspirasi masih terus berlangsung.

Di satu sisi, ada lapisan generasi muda yang hendak bangkit mewarnai negeri ini harus tumbuh dengan situasi konflik horisontal dan ideologis, tanpa lahir dari kandungan “kasih sayang” kebudayaan politik generasi tua, sedangkan di lain pihak, desakan-desakan internasional yang sulit dibendung ketika globalisasi terus menggulung belahan bangsa yang belum sama sekali siap menyongsong suatu abad, dimana hegemoni masyarakat industri semakin liar menancapkan “penjajahan baru”.Tidak hanya generasi muda, tetapi juga generasi tua, tidak bisa bicara banyak, dalam menghadapi tantangan-tantangan internasional seperti itu, mengingat moralitas kebangsaan kita masih berada di dalam proses penyembuhan dari penyakit jiwanya.

Makanya, opini publik mengalami kontaminasi luar biasa, bahkan sampai pada tingkat paling maniak, publik harus memendam kekecewaan yang mendalam, karena lipatan-lipatan peristiwa yang terorganisir, dalam fluktuasi yang bergelombang, tanpa bisa diduga kemana arah angin yang menuntun kapal bersar bangsa ini tertuju. Situasinya sedemikian keruh, saling tumpang tindih peran, karena masing-masing kelompok sesungguhnya berada dalam jurang ketakutan, dengan saling membangun alibi yang sangat instan.

Drama Kemelut
Drama kebangsaan itulah yang menyebabkan hilangnya prioritas kerja besar yang mesti diagendakan, berbalik tanpa skenario ke depan yang menjanjikan, keculai perubahan skenario yang serba mendadak, dan membuat berbagai kebijakan terasa gagap. Padahal ada kata bijak yang sering diungkap oleh para Ulama, “Dar’ul Mafasid Muqaddamun ‘ala Jalbil Mashalih”, yang berarti meninggalkan atau membersihkan mafsadah bangsa ini harus diprioritaskan ketimbang reformasi. Kaidah arif ini sama seperti tergilas oleh usaha reformasi, yang muncul bukan karena sebuah TIB yang merespon masa depan, tetapi lebih sebagai eskapisme dan kekecewaan atas penidasan struktural maupun kultural di masa Orba.

Hari ini kita menghadapi tiga masalah besar yang mesti diselesaikan tanpa harus mempertimbangkan lagi toleransi-toleransi politis:

Masalah pertama, adalah robeknya spirit merah putih dalam compang camping sejarah hari ini. Merah putih yang menjadi simbol nasionalisme harus banyak ditarik oleh tangan-tangan ambisi yang sangat kotor: Kalau bukan tangan yang menginginkan merebut merah putih agar tergenggam erat di tangannya, sebagai legitimasi atas kekuasaan yang diraihnya, maka merah putih malah dirobek untuk ditambal dengan warna-warni lainnya atas nama aspirasi publik di negeri yang terbuka peluang-peluang demokrasi dan HAM-nya.

Sementara watak demokrasi TIB sendiri belum mendaratkan dirinya pada landasan kebangsaan yang kokoh, dalam wujudnya yang eksistensial sebagai demokrasi khas Indonesia, sehingga simbol-simbol ideologis di luar merah putih sangat antusias untuk turut mewarnai bendera nasional kita. Lebih sederhana, sesungguhnya ada masalah ideologis saling tarik menarik antar kekuatan politik di negeri ini, ditambah dengan kekuatan politik non ideologis yang opportunis.

Masalah kedua, berkait dengan etika dan etos penyelenggaraan negara. Sampai pada kesimpulan, bangsa kita telah “mati rasa” dengan ungkapan soal etika, mulai dari anak-anak remaja sampai kaum elit di Jakarta. Kita harus jujur dan terbuka, bahwa “akhlak bangsa” kita telah tersungkur dalam degradasi watak-watak kebangsaan dari bangsa-bangsa di dunia, dalam berbagai sektor kehidupan. Kalau boleh diungkapkan dengan satu kata saja, kita hanya bisa berucap, “Astaghfirullahal ‘Adzim”, sebagai ungkapan satu-satunya bagi ketidakberdayaan moral kita.

Sebab apa yang disebut sebagai perselingkuhan moral terjadi dimana-mana, di ketiak-ketiak birokrasi, dibalik kata-kata “perjuangan” di Senayan, bahkan yang paling mengerikan ketika moral dijualbelikan di balik api konflik SARA, lalu dimanage untuk hegemoni kepentingan, tanpa sedikit pun para pelakunya merasa bersalah, karena lembaga peradilan moral kita tak pernah bergeming kecuali hanya terbatas pada teriakan-teriakan protes atas pelanggaran HAM dan formalisme-formalisme hukum yang bisa dimainkan oleh para pemegang opsi hukum di lembaga peradilan.

Drama moral kebangsaan ini, kemudian bisa kita lihat dari tiga aspek yang nyata: moral individu, moral publik dan moral aparat negara, yang masing-masing diperlemah oleh sanksi-sanksi moral dalam ketidakpastian hukum. Lalu pertanyaan yang belum bisa terjawab, karakteristik bangsa seperti apakah yang menjadi predikat kita hari ini? Lalu kapankah kita bisa disebut sebagai sosok bangsa yang bangkit dari reruntuhan moral ini?

Masalah ketiga, mengadapi globalisasi, khususnya paska tragedi Sebelas September lalu hingga bom Bali, sampai krisis Irak, bahkan krisis global baru-baru ini, yang dicemaskan berdampak ke negeri kita, lalu muncul Drama Century yang dahsyat.

Menghadapi globalisasi berarti duduk bersama dalam Tata Dunia Baru, yang sejak awal Indonesia telah dipandang sebagai bangsa dan negara yang tidak begitu penting, sehingga tidak pernah terdengar sedikit pun perjuangan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan tentang arah Tata Dunia Baru tersebut. Kalau harus memilih untuk pengambilan keputusan sejarah, bangsa Indonesia lebih memilih menjadi bangsa yang “terhibur” oleh globalisasi, ketimbang sebagai bangsa yang dihargai sama, dengan bangsa-bangsa lain.

Sebagai bangsa yang terhibur, mereka tiba-tiba telah jatuh tersungkur dalam kubangan ekonomi dan mata uang dengan waktu yang singkat dan cepat. Faktanya, bangsa kita tidak pernah serius dalam soal hubungan internasional, lalu sekali lagi hanya bisa menghibur diri dengan ungakapn-ungkapan yang membius, sebagai “bangsa besar.” Bahkan apa sesungguhnya globalisasi itu, kemana arahnya, bangsa kita tidak pernah peduli, karena memang tidak tahu, skenario yang sesungguhnya.

Kacamata Sufistik
Keluar dari tiga masalah besar tersebut, kita perlu urai masing-masing pendekatan melalui kacamata Sufistik, sebuah pendekatan dimensi moral; terdalam dari pengalaman teosofis kita, agar ada kejernihan nurani dalam memandang dimensi ke-Indonesiaan dari sisi hakiki yang selama ini terabaikan, namun sesungguhnya sangat fundamental.

Untuk solusi benturan psikhologis dibalik tarik-menarik ideologi kebangsaan, dunia Sufi memandang dari proses pergumulan ini dengan dua kaidah Sufi yang tertera dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, Ulama Sufi besar satu abad paska Al-Ghazali, yang cukup relevan.

Kaidah Alhikam pertama, berbunyi, “Tanda-tanda sebuah bangsa terlalu mengandalkan nama besarnya, egoismenya, amaliahnya, adalah hilangnya optimisme masa depan di depan Allah ketika bangsa itu berbuat kesalahan.”

Kaidah Alhikam kedua, jika ditafsirkan lebih “berkebangsaan” bisa berbunyi, “Kehendak bangsa yang ingin memasuki dunia serba Ilahi, sementara Tuhan masih memposisikan bangsa itu di wilayah atau alam logika sebab akibat historis, sesungguhnya bangsa itu sedang terseret oleh emosi-emosinya yang masih tersembunyi didalam jiwa bangsa itu. Dan sebaliknya suatu bangsa yang telah diposisikan Allah untuk memandang perspektifnya dari serba Ilahi, tiba-tiba mereka memaksakan dirinya untuk terlibat dalam alam logika sebab akibat, sesungguhnya bangsa itu sedang berada dalam degradasi derajat kebangsaannya.”
Hikmah Sufi itu, menggambarkan tentang etika penyelenggaraan kekuasaan dan politik di negeri kita, agar kembali pada proporsi pandangan hidup berbangsa yang benar:

Manakah yang dijadikan dasar perjuangan ideologis, religius, hubungan-hubungan strategis dan kultur yang hendak dibangun, mengingat masing-masing saat ini berada dalam tumpang tindih yang satu sama lain saling mengintervensi. Tidak jelas dalam praktek kehidupan berbangsa, mana yang masuk sebagai wilayah Ketuhanan, wilayah kemanusiaan, wilayah interaksi kebangsaan yang plural, dan mana wilayah serta tarik menarik budaya dan ideologinya.

Dunia Sufi memandang persoalan lebih bersifat deduktif, dari wilayah kedalam hakikat kultural, kemudian diwujudkan dalam kerangka besar kebangsaan, mengingat sejarah kebangsaan kita sesungguhnya mendahului sejarah kenegaraan kita. Sehingga formalisme negara, tidak akan kokoh manakala tidak mendasarkan pada kultur kebangsaannya.

Nasionalisme modern yang dijadikan wacana Tata Indonesia Baru (TIB) tidak bisa melepaskan diri dari tiga masalah besar sebelumnya: Watak ideologis; Etika penyelenggaraan negara dan Tata Dunia Baru dalam pergumulan globalisasi. Ketiganya muncul dalam kerucut demokrasi yang harus dipraktekkan dalam watak kebudayaan kita, dengan etika-etika dan kepastian hukum yang berlaku. Jangan sampai kita terjebak oleh arus besar globalisasi tanpa menyertakan perimbangan dari berbagai dimensi kebangsaan kita secara lebih demokratik, mengingat kesepakatan tentang demokrasi yang hendak kita bangun masih dalam perdebatan konstelatif yang panjang.

Misalnya, bagaimana wujud demokrasi dalam praktek birokrasi pemerintahan kita, bagaimana pula model yang akan muncul dalam praktek peradilan kita, bahkan dalam hubungan antar partai dan lembaga-lembaga tinggi negara serta hubungan internasional. Pertanyaan berikut masih harus diselesaikan menyangkut keadilan ekonomi, prinsip-prinsip Hankam yang demokratik, dan hubungan antara daerah dengan pusat dalam kerangka Otonomi Daerah.

Tiga Pendekatan

Proses-proses horisontal kebangsaan itu, menurut dunia Sufi diposisikan menjadi tiga konstelasi besar.
Pertama, konstelasi yang berhubungan dengan sistem konstitusi, sistem politik, penegakan HAM serta sistem sosial yang pluralistik ini. Inilah yang disebut sebagai sistem syar’iyat, dimana lapisan-lapisan dunia lahiriyah berinteraksi untuk kepentingan publik.

Pada sistem syar’iyat, aturan hukum -- namun bukan sebagaimana digerakkan oleh kekuatan-kekuatan formalisme syariat Islam selama ini – , kita berpijak pada gagasan besar membangun kehidupan terbuka, adil dan memihak pada kepentingan rakyat. Pada level inilah Allah swt, memberikan kebebasan kepada publik untuk menentukan kebajikan publiknya, yang kelak memberi penguatan struktural pada sistem politik, penyelenggaraan negara, dan kemakmuran ekonomi rakyat. Inilah yang disebut kaum Sufi dengan penataan kehidupan lahiriyah (Ishlahudz-Dzowahir).

Kedua, konstelasi yang berhubungan dengan sistem kebudayaan, penguatan akan keyakinan moral dan akhlak bangsa. Sistem ini disebut sebagai metode Thariqat, dimana inspirasi teologis menggerakkan etika publik dan individu. Hubungan teologis dalam kehidupan sosial politik dan ekonomi, hanyalah hubungan inspiratif, karenanya tidak bisa diformulasikan dalam pasal-pasal formal konstitusi. Kelak secara langsung, hubungan ini akan membentuk watak kebangsaan kita dalam sistem kebudayaan.

Konstelasi ini diperlukan mengingat kultur teologis bangsa kita sangat beraneka, satu sama lain membutuhkan akomodasi yang proporsional. Tanpa akomodasi kultural seperti itu, demokratisasi yang kita kembangkan akan mengalami kebuntuan moral, karena demokrasi hanya akan menimbang mayoritas dan minoritas untuk menentukan kalah dan menang. Jika hal demikian diterapkan di negeri ini, kekuatan-kekuatan minoritas akan tertindas oleh diktator mayoritas, sekalipun mayoritas itu mengatasnamakan Tuhan untuk legitimasi politiknya. Cara ini untuk menghindari mafioso minoritas yang ekstrim dalam tata ekonomi dan kekuasaan, sebagaimana telah terjadi di masa Orde Baru dulu.

Etika kebangsaan akan berpijak pada tipikal “Thariqat” ini, yang bia dilaksanakan melalui sistem pendidikan nasional. Dengan demikian, sistem Diknas kita perlu perubahan reformatorik, bukan saja kualitas dunia kependidikan kita yang telah terdegradasi dari kualifikasi pendidikan internasional, mengingat peringkat kita telah turun derajatnya menjadi urutan sangat bawah, dibanding Vietnam yang sudah berada di urutan ke 40, dan Malaysia di urutan ke 12. Tetapi juga, dunia pendidikan kita telah kehilangan watak keluhurannya dalam membentuk watak budi pekerti generasi muda bangsa ini.

Pendidikan kita tidak memberi garansi moral para calon pemimpin dan politisi untuk memiliki etika, juga tidak menjamin seorang pengusaha dan penguasa bisa bebas dari hasrat KKN. Jika ini dibiarkan akan muncul anarkhisme moral yang sangat mengancam seluruh elemen bangsa ini, ketika moral hanya dijadikan alibi untuk menipu publik. Masya Allah!

Ketiga, konstelasi hakikat, bahwa seluruh muara membangun kebersamaan dalam berbangsa ini harus didasari oleh sebuah tujuan mulia, yaitu memandang Cahaya Ketuhanan dibalik proses bersejarah, bahwa segala muara bangsa ini dariNya, bersamaNya, menuju padaNya, besertaNya, lebur padaNya, hanya bagiNya dan bersandar padaNya. Jika terjadi sungguh sangat bercahaya bangsa ini.

KHM Luqman Hakimhttp://sufinews.com

28.5.10

TAWASSUL, Apa itu?


Seorang pembaca NU Online menanyakan fasal tentang tawassul atau mendoakan melalui perantara orang yang sudah meninggal. “Apakah bertawasul/berdo’a dengan perantaraan orang yang sudah mati hukumnya haram atau termasuk syirik karena sudah meminta kepada sang mati (lewat perantaraan)? Saya gelisah, karena amalan ini banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Apalagi dilakukan sebelum bulan Ramadhan dengan mengunjungi makam-makam wali dan lain-lain sehingga untuk mendo’akan orang tua kita yang sudah meninggal pun seakan terlupakan,” katanya.

Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:
يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, ” (Al-Maidah:35).

Pengertian tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim selama ini bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.

Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan

Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul kepada Allah SWT dengan perantaraan amal sholeh, sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam hadits sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya; yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.

Adapun yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya bertawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di mata Allah SWT. Sebagaimana ketika seseorang mengatakan: “Ya Allah SWT aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad SAW atau Abu Bakar atau Umar dll”. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.

Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawassul pada amal perbuatannya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Pendapat ini berargumen dengan prilaku (atsar) sahabat Nabi SAW:
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ إِنَّ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اسْتَسْقَى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَلِّبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إَلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتُسْقِيْنَا وَإِنَّا نَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَافَيَسْقُوْنَ. أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137

“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: “Ya Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)

Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. “Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.”

Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah SWT menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah SWT bisa memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlarat sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.

Jadi kami tegaskan kembali bahwa sejatinya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

H M. Cholil Nafis
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU

(nu online) image : ariefdani.multiply.com

Para Pemenang SCTV Music Award 2010

logo SCTV Music Award
Selamat untuk para insan musik Indonesia yang menjadi pemenang SCTV Music Awards,yang acaranya digelar pada hari Kamis (27/05) malam.
Penganugerahan tahunan yang cukup di tunggu-tunggu pemerhati musik itu dimulai pukul 20.30 WIB hingga pukul 01 dini hari,bertempat di Jakarta Convention Center (JHCC).
Pada malam puncak SCTV Music Award 2010 itu dimeriahkan oleh band dan para penyanyi yang tak asing lagi seperti Ungu,Wali,The Virgin, Vierra,Ahmad Dhani, Goliath,Lyla,Hijau Daun,Kotak,Dewi Persik,Salju, Ridho Rhoma,Derby,Armada Rossa, Nindy, Pasto dan ST12 feat Charly’s Angels.
Acara yang dipandu oleh Gading Marten, Andhika Pratama,Farid Aja,Reza Bukan dan Andhara Early, adalah sebuah ajang penghargaan bagi para insan musik Indonesia yang pemenangnya di tentukan lewat polling pemirsa untuk memilih sendiri Penyanyi dan Band favorit mereka.polling para nominasi SCTV Music Awards 2010 itu dimulai dari 22 Maret sampai 3 Mei 2010 yang lalu.
penghargaan SCTV Music Awards 2010 memperebutkan enam kategori yaitu Album Pop Solo Pria, Album Pop Solo Wanita, Album Pop Duo/Band, Album Pendatang Baru Solo, Album Pendatang Baru Duo/Group dan Lagu Paling Ngetop Serta 5 Special Awards masing-masing Penyanyi Band Favorit,Pemain Gitar Favorit,Pemain Bass Favorit,Pemain Drum Favorit,dan Pemain Keyboard Favorit.
Berikut adalah Para Pemenang SCTV Music Awards 2010
Album Pop Solo Pria :
Afgan
Album Pop Solo Wanita :
Rossa
Album Pop Duo/Band :
Wali Band
Album Pendatang Baru Solo :
Ridho Rhoma
Album Pendatang Baru Duo/Group :
The Virgin
Lagu Paling Ngetop :
Baik-Baik Saja - Wali

Special Awards
Penyanyi Band Favorit:
Pasha Ungu
Pemain Gitar Favorit :
Mitha The Virgin
Pemain Bass Favorit :
Dennis Lyla
Pemain Drum Favorit :
Posan Kotak Band
Pemain Keyboard Favorit :
Kevin Vierra

Pada penganugerahan kali ini,group band Wali mendapat Penghargaan Khusus yaitu RBT Terlaris dengan jumlah RBT yang mencapai angka fantastis,,17 juta saudara-saudara,. Ck..ck..

Memperkenalkan Sate Loso,Sate khas Pemalang

sate loso
Seperti halnya Nasi grombyang,sate loso pun hanya bisa dijumpai di Pemalang.salah satunya adalah di jl.Urip Sumoharjo,samping rel kereta api.
"Saya adalah penerus keempat usaha ini. Pendirinya,Pak Loso, buyut saya, " jelas Indah, pemilik warung sate loso yang sekarang.
Sesuai dengan resep yang diperolehnya, Indah hanya berjualan sate dan sop.Tidak ada menu lain.Sate yang dijual Indah adalah satu-satunya sate yang sebelum dibakar di bacem dulu. "Tapi sebelumnya sudah dibacem dulu," ujar wanita berambut sebahu ini.
Sate yang dibuat dari daging sapi atau kerbau.Hampir semua bagian sapi diolah menjadi sate. "Makanya pembeli selalu milih sate yang diinginkan. Misalnya, daging saja atau jeroan saja, kata nenek dari 2 orang cucu ini.
Untuk menikmati sate loso,pembeli bebas memesan sesuai kebutuhan. Seporsi sate berisi 10 tusuk. Setengah porsi atau beberapa tusuk pun akan dilayani.Yang penting Anda membayar Rp 1.400 untuk tiap sate yang Anda santap.
Sedikitnya ada 300 tusuk sate dibuat Indah dari 10 kilogram daging dan jeroan diolah menjadi sate. "
Biasanya saat ramai sate sudah habis antara pukul 14.00 sampai pukul 15.00. Tapi kalau sepi,sore baru habis," terang lndah.(sumber:eresep.com)

Wauw..,,ada mobil berbahan bakar Singkong


KETELA atau singkong, banyak dikenal sebagai sumber karbohidrat yang bisa diolah menjadi berbagai bentuk penganan.Namun siapa sangka, singkong yang biasa digunakan sebagai bahan utama getuk lindri itu juga bisa diolah menjadi sumber bahan bakar pengganti bensin (bioetanol).
Namun,singkong ini tidak bisa langsung serta merta digunakan sebagai campuran atau pengganti bensin. Perlu proses atau fermentasi yang cukup panjang, hingga mengubah sari singkong tersebut menjadi sebuah cairan yang mampu menggerakkan mesin mobil,motor atau berbagai jenis mesin lainnya.Dan siapa sangka,bahan bakar yang disebut bioetanol ini justru mampu menandingi kemampuan bensin, dan dipastikan lebih efisien serta ramah lingkungan.
Kemampuan saripati singkong ini pun dibuktikan dengan diujicobanya enam mobil dari Jakarta-Surabaya,Senin hingga Rabu (26 /5) kemarin.
Uji coba energi terbaru yang mengusung bendera Ekspedisi Bahan Bakar Singkong (BBS) ini mampir di sejumlah kota,di antaranya Pekalongan dan Semarang.Enam unit mobil dari berbagi jenis teknologi digunakan untuk menguji efisiensi bahan bakar yang dikembangkan oleh S Adibrata, Direktur PT Energi Karya Madani tersebut.
Penggunaan singkong sebagai bahan bakar kendaraan ini merupakan hasil penemuan S Adibrata, yang kemudian dibantu proses produksinya oleh KNMI (Komite Nasional Masyarakat Indonesia).
Penelitian sudah dilangsungkan selama empat tahun dan telah diuji coba pada 1.200 kendaraan bermotor dengan hasil yang memuaskan.Tim ekspedisi tersebut sempat singgah di Kantor Redaksi Koran Sore Wawasan dan menunjukkan keunggulan serta rahasia di balik penemuan tersebut.
Tim diterima Pemimpin Redaksi Sriyanto Saputro.
Adibrata mengakui bahwa untuk menciptakan satu liter bioetanol hanya dibutuhkan enam kilo singkong dengan harga per kilonya hanya sekitar Rp 400. "Bayangkan satu hektare lahan ditanami 4.000 batang pohon singkong yang minimal bisa produksi 200 ton biopremium. Jadi modal Rp 25 juta bisa mendapat laba Rp 55 juta,itu sebelum pajak," ujarnya.

Proses

Ia memaparkan, bahan bakar etanol diproses dari singkong yang direkayasa dan diubah menjadi tepung.Hasil fermentasi singkong yang kemudian diberi enzim diolah menjadi gula merah.Hasil air dari gula merah cair kemudian diolah lagi menjadi etanol rendah 30 persen. Proses ini dilanjutkan lagi hingga mendapatkan etanol 96-99 persen.

Jarak Tempuh 14 km

Dia memastikan satu liter etanol bisa menempuh jarak hingga lebih 14 km.Bahkan dalam uji coba pada mobil dari teknologi lama hingga mobil dengan teknologi terbaru juga menunjukkan efisiensi bahan bakar tersebut dibandingkan premium.
Ia memperbandingkan semisal untuk mobil keluaran tahun 90- an satu liter bioetanol mampu menempuh jarak hingga 17 km,sedangkan menggunakan premium satu liter hanya digunakan untuk melaju hingga 11 km.
Sedangkan untuk mobil dengan teknologi sedang, seperti Toyota Avanza, satu liter etanol dapat digeber hingga 19 km,jika menggunakan premium hanya mampu mencapai 13 km. "Begitu juga dengan mobil dengan teknologi terbaru, seperti BMW satu liter mampu melaju hingga 20 km,dan itu menggunakan etanol 50 persen,yakni bahan campuran 50 persen premium dan 50 persen bioetanol.Bisa juga menggunakan 100 persen etanol,namun membutuhkan alat bantu yakni converter untuk mempercepat pembakaran," katanya.
Dalam ekspedisi itu dua unit mobil sengaja dipasang converter untuk mengetahui kemampuan mobil tersebut dengan menggunakan etanol murni 100 persen bahan bakar singkong tanpa tambahan premium.Uji coba 100 persen etanol ini merupakan kali pertama di Asia Tenggara,sedangkan di luar Asia Tenggara baru Jepang dan Brasil.
Menurut Koordinator Tim Ekspedisi Uji Coba Kendaraan,Suryokoco,enam unit kendaran yang diturunkan dalam uji coba dari Jakarta-Surabaya.Dua unit kendaraan yakni Toyota Avanza dan Innova menggunakan etanol 50 persen.satu kendaraan BMW dengan 75 persen etanol.Lainnya,Innova dan Kijang kapsul dengan etanol 100 persen.
"Dari hasil ujicoba sementara Jakarta-Semarang,menunjukkan tak ada bedanya dengan premium biasa.Namun hanya saja pemanasannya yang agak lama,dan ini tengah dalam perbaikan," katanya.
Saat ini tim tersebut juga tengah melakukan penelitian untuk penggunaan sari singkong sebagai bahan bakar mobil balap.Pihaknya berharap teknologi ini akan memberi banyak manfaat,termasuk kepada para petani. Secara politis jika nantinya program tersebut sukses,maka perlu digagas adanya Dirjen Energi Terbarukan.(wawasandigital.com)mun-pu

H.Muntoha : Pilkada Pemalang,Jangan Beli kucing Dalam karung!


Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah ( Pemilukada) sepatutnya masyarakat tidak keliru dalam memilih calon pemimpinnya. Harus benar- benar tahu siapa sosok pemimpin yang menjadi pilihannya.

“Sejak dulu sudah ada istilah jangan memilih kucing dalam karung, jadi harus tahu betul si pemimpin yang akan dipilih,” ujar Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kabupaten Pemalang, Muntoha, SH,MHum, di kantornya, Selasa (11 /5) siang.

Menurut politisi yang duduk sebagai salah satu Wakil Ketua DPRD Pemalang ini, ungkapan tersebut memiliki makna yang relatif dalam. “ Ketika akan memilih pemimpin kita harus tahu betul serta mengerti siapa yang akan kita pilih,” jelasnya. segala aspek kehidupannya harus dipahami dan dimengerti,bahkan perlu juga dimengerti mulai dari tutur kata dan perilaku calon dalam sehari-hari. Karena tingkah laku dan tutur kata juga bisa menunjukkan hati seseorang.

“Selama ini kita sebagai manusia hanya bisa melihat secara lahir, “ imbuhnya.

Mengenai sosok calon bupati Pemalang mendatang,masih menurut Muntoha, masyarakat sudah mengenal sosok H Junaedi baik dari tutur kata maupun tindakan sehari-harinya.

“Masyarakat Pemalang mulai dari pejabat hingga rakyat kecil pun tahu siapa Pak Junaedi,” katanya.

Yang penting, lanjutnya, dalam pilkada nanti jangan sampai salah pilih. “Kalau salah pilih bisa menyesal selama 5 tahun ke depan, bahkan selamanya,” pungkasnya.

Sumber=Ruslan Nolowijoyo http://pesisirnews.com

Mengenang HUMOR GUS DUR



TELAT DI CABUT

Suatu saat Dahlan Iskan menjenguk Gus Dur yang diopname karena stroke di RSCM Jakarta. Saat itu Dahlan Iskan memang presiden direktur PT Nusumma dan Gus Dur presiden komisarisnya. Terlihat Gus Dur berbaring miring karena memang belum boleh duduk. Setelah menyalaminya, Dahlan Iskan mengucapkan permintaan maaf karena baru hari itu bisa menjenguk.

“Saya sakit gigi berat, Gus,” ujarnya.

Tanpa siduga, Gus Dur ternyata men-cuekin keadaan kesehatannya. Dia langsung memberi Dahlan Iskan teka-teki yang ternyata humor segar.

“Sampeyan tahu nggak, apa yang menyebabkan sakit gigi?” tanyanya.

“Tidak, Gus,” jawab Dahlan Iskan.

“Penyebab sakit gigi itu sama dengan penyebab orang hamil dan sama juga dengan penyebab mengapa rumput sempat tumbuh tinggi,” katanya.

Dahlan Iskan masih melongo. Gus Dur menjawab sendiri teka-tekinya.

“Yaitu sama-sama terlambat dicabut,” ujarnya. Kontan Dahlan Iskan dan orang-orang yang ada di kamar perawatan itu tertawa terbahak-bahak.


TENTANG EKONOMI INDONESIA

Ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, beliau mengirim tim ekonominya ke AS untuk bertemu dan meminta pandangan Presiden Bill Clinton tentang Ekonomi Indonesia yang saat itu sedang didera krisis. Sesampainya di AS, tim ekonomi disambut di Gedung Putih namun dengan nada yang sangat pesimis.

“Kami di AS punya Johny CASH (aktor di Las Vegas), Stevie WONDER (penyanyi kondang), dan Bob HOPE (pelawak tenar)” demikian sambut Clinton.

“Anda di Indonesia, tidak punya CASH (uang tunai), tidak ada WONDER (keajaiban), jadi tidak ada HOPE (harapan) …. CASHLESS, WONDERLESS, dan HOPELESS!” Tegas Bill.

Tim ekonomi Indonesia pun pulang dengan wajah tertunduk lesu.Sesampainya di Istana Merdeka, Tim ekonomi melapor kepada Presiden Gus Dur.

“Gimana hasil kunjungan ke AS?” Sapa Gus Dur.

Ketua Tim ekonomi pun berkeluh kesah:“Wah, payah Gus! Menurut Clinton Indonesia tidak punya Johny CASH, Stevie WONDER, dan Bob HOPE. Jadi kita CASHLESS, WONDERLESS, dan HOPELESS! Pendeknya susah deh, Gus!

”Sambil senyum-senyum, Gus Dur menjawab dengan jenaka dan cerdik:”Gitu aja kok repot!!! Kita memang tidak punya Johny CASH, Stevie WONDER, dan Bob HOPE…. Tapi kita punya banyak SLAMET, HARTO, dan UNTUNG!!!” (Hernoe)




OTAK ASAL INDONESIA LEBIH MAHAL

USA Rp. 90.000,-
Inggris Rp. 1.000.000,-
Jerman Rp. 900.000,-
Jepang Rp. 100.000,-
… …
Indonesia Rp. 1.000.000.000,-

Melihat daftar harga yang semacam itu, seorang turis yang masuk toko tersebut menjadi heran, terus dia bertanya kepada yang empunya toko.

“Pak … maaf pak kelihatannya daftar harga anda itu salah dan terbalik.”

Yang punya toko: “Oh … tidak bung, harga otak tersebut memang betul, … otak yang termurah adalah otak USA dan Jepang karena sering digunakan jadi sudah rongsokan, … kalau anda membutuhkan otak, yang terbaik adalah otak Indonesia, karena masih orisinil, belum pernah dipakai selama hidup.



TITEL "PROV" ANGGOTA DEWAN

Gus Dur (almarhum) dalam pembicaraannya sering menyatakan bahwa Indonesia bukan negara agama. “Itu adalah hal yang final,” tegas Gus Dur.

Ia “tidak betah” jika masih ada anggota legislatif masih berkutat pada persoalan itu.

Gus Dur bercerita tentang seorang anggota legislatif yang ngotot ingin menjadikan Indonesia sebagai negara agama.

“Saat anggota dewan itu jadi pembicara disebuah seminar, ia dipanggil dengan titel Prof. di depannya,” kata Gus Dur.

“Ketika kembali ke kantornya, Satpam pun mempersilahkan masuk kepada anggota dewan kita itu dengan berkata, “Silahkan masuk prof.”

Nah, kolega-koleganya pun, kata Gus Dur, ternyata menyambut dengan berkata “Selamat pagi Prof, Assalamualaikum Prof…”

Si anggota dewan ini heran juga, padahal seumur-umur dia belum pernah dianugerahi gelar profesor. “Atau karena keberanian saya ya dia mendapat gelar terhormat itu?” kata si anggota dewan dalam hati.

Gus Dur melanjutkan, karena saking bangga dan penasarannya anggota dewan ini pun bertanya kepada kroninya. “Kenapa ya saya sekarang dimana-mana dipanggil Prof?”

“Wah…jangan bangga dulu pak!” kata si kroni. “Mereka itu nyebut prof bukan dengan akhiran huruf F tetapi dengan huruf V, jadi Prov gitu!”

“Lho, Prov apa artinya itu ?” tanya si anggota dewan penasaran.

Kroninya menjawab, “Provokator.”



SIAPA PRESIDEN PALING BERHASIL?

Jakarta (GP Ansor Online): SBY mengundang Gus Dur untuk makan malam di Puri Cikeas. Sambil bersantap, SBY menceritakan program-program yang telah dilakukan dan dilaksanakannya, dengan maksud agar Gus Dur mau mengakui keberhasilannya sebagai presiden. “Intinya, Gus,” kata SBY, “kenapa banyak yang tidak menghargai dan mengakui kalau saya lebih berhasil dibanding presiden lainnya…”
Bosan mendengar keluhan SBY, Gus Dur langsung memotong, “Gini lho. Kalau ngukur keberhasilan presiden itu gampang kok.”
“Apa ukurannya?” kata SBY penasaran.
“Kalau berhasil membuat lalu-lintas di Jakarta nggak macet. Nah, satu-satunya presiden yang mampu membuat Jakarta nggak macet ya saya…”
“Lho, apa buktinya, Gus?”
“Buktinya, dulu, sebelum saya jadi presiden, saya selalu kena macet. Tapi begitu saya jadi presiden, kemana-mana saya lancar-lancar saja. Tinggal duduk di mobil, tidur…dan tahu-tahu udah cepet nyampe… Nah, tapi begitu saya nggak jadi presiden lagi, ya langsung kena macet. Itu kan bukti, kalau presiden setelah saya nggak berhasil mengatasi kemacetan. Tadi, waktu jalan ke Cikeas sini saja kena macet berjam-jam kok…”
SBY cuman nyengir.


ARGOMETER JAPAN CEPAT SEKALI

Di luar Hotel Hilton, Gus Dur bersama sahabatnya yang seorang turis Jepang mau pergi ke Bandara. Mereka naik taksi di jalan, tiba-tiba saja ada mobil kencang banget, menyalip taksi tersebut. Dengan bangga si Jepang berteriak, “Aaaah Toyota made in Japan sangat cepat…!”

Enggak lama kemudian mobil lain nyalip juga taksi tersebut. Si Jepang teriak lagi “Aaaah Nissan made ini Japan sangat cepat.” Enggak lama kemudian lewat lagi satu mobil menyalip mobil tersebut dan si Jepang teriak lagi “Aaaah Mitsubishi made in Japan sangat cepat…!” Gus Dur dan sopir taksi itu merasa kesal melihat si Jepang ini bener-bener nasionalis.Kemudian, sesampainya di bandara, sopir taksi bilang ke si Jepang.

Supir taksi : “100 dolar please…”
Si Jepang : 100 dolars…?! Its not that far from the hotel…!!”
Gus Dur : “Aaaah… Argometer made in Japan kan? Sangat cepat sekali!!”

Get this blog as a slideshow!