29.8.10

Mengenal Hadramaut, Negeri Sejuta Wali


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman ada pada penduduk Yaman, hikmah dan kemuliaan ada pada penduduk Yaman” (Shahih Bukhari No Hadits 4037).

Yaman sebuah Negara di Jazirah Arab, terletak di Asia Barat Daya, tepatnya di bagian Timur Tengah. Negeri Yaman tak asing lagi di telinga kaum muslimin Indonesia. Terutama kota Hadramaut dan Tarimnya. Selain terkenal kentalnya dengan budaya keislamannya, negeri tersebut memiliki banyak madrasah yang menjadi tempat tujuan bagi para pelajar dari luar negeri. Saat ini negeri muslimin terbesar di dunia adalah Indonesia, dan yang membawa Islam ke Indonesia adalah kebanyakan dari negeri Yaman yang terkenal dengan Negeri Serbu Walinya.

Akhir-akhir ini, silaturahim antara Indonesia dan Yaman terutama Hadramaut terajut kian hangat dan mesra. Tingginya intensitas kedatangan ulama-ulama Hadarim – seperti Habib Umar bin Hafiz, Habib Salim as-Syathiri, Habib Zain bin Sumaith serta yang lainnya – seolah kian mendekatkan kedua negeri itu. Bahkan Habib Umar bin Hafiz dijadwalkan datang ke Indonesia setiap tahun. Beberapa ulama tanah air juga kerap mengikuti ziarah nabi Hud as dan ziarah tarim di bulan Sya’ban. Gejala ini sungguh positif, Hadramaut dan Indonesia adalah dua saudara sekandung yang tak bisa terpisahkan. Beberapa tahun belakangan ini, negeri Hadramaut menjadi buah bibir di tengah masyarakat muslim.http://ummati.wordpress.com

Ajaran Jihad di sebuah Sekolah; Secuil sentil untuk sebuah Doktrin



Guru Agama: Muridku, berjihadlah! Bule2 itu kafir laknatullah..pembawa bencana dan musuh Islam! Yahudi terkutuk haramullah! Hancurkan! Menurut ayat A dan ayat B : barangsiapa mati di jalan Tuhan maka Ia akan masuk surga dan mendapatkan jatah 72 bidadari ..ces pleng..!!!

Murid: Lalu kenapa bukan pak guru aja yang ces pleng ngebom terus masuk surga?

Guru Agama : Tuhan masih butuh orang seperti saya untuk berjuang nak…

Murid: Lalu menurut pak guru saya tidak lebih penting dari bapak untuk berjuang?

Guru Agama: Ya penting..tapi jatah kamu itu jadi tumbal

HTI, ANCAM KEDAULATAN NEGERI...!!!!


Dewasa ini, di negeri kita, muncul gerakan transisional yang menggulirkan wacana tegaknya khilafah. Wacana ini, didasari oleh paradigma mereka yang menilai sistem pemerintahan demokrasi yang dianut oleh negeri kita telah nyata-nyata gagal dalam menciptakan masayarakat makmur, sejahtera, aman, dan santosa seperti yang diidam-idamkan oleh seluruh rakyat Indonesia.1 Bahkan, mereka menganggap, sistem inilah yang menyebabkan kemerosotan bangsa ini dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari moral, ekonomi, sampai politik.2 Dengan demikian, mereka mengklaim bahwa satu-satunya sistem yang mampu mengatasi keterpurukan tersebut adalah sistem khilafah(versi Hizbut Tahrir) di bawah naungan daulah islamiyah.Sekilas, pemikiran tersebut sangat menjanjikan. Namun, khilafah seperti apa yang ingin mereka tegakkan? Apakah konsep yang mereka usung benar-benar sesuai dengan manhaj nubuwah, atau justru bertolak arah? Dan dapatkah sistem itu direalisasikan di tengah-tengah masyarakat plural seperti Indonesia, tentunya harus tanpa diawali dengan pertumpahan darah?

Inilah di antara pertanyaan-pertanyaan penting yang harus dihadapi oleh setiap penjaja konsep. Karena, bagaimanapun idealnya sebuah konsep, pada tataran selanjutnya ia tetap harus dihadapkan pada realita yang kompleks. Realita itulah yang selanjutnya yang akan menilai kelayakannya.



Pertahankan NKRI!

Upaya penegaan sistem pemerintahan khilafah ideal—seperti pada masa Khulafâ'ur-Rasyidîn—tidak lain hanyalah sebuah mimpi yang impossible untuk diwujudkan. Sebab, sistem pemerintahan khilafah ideal telah selesai pada tahun 40 Hijriyah atau tiga puluh tahun pasca wafatnya Rasulullah . Hal ini selaras dengan sabda beliau: "Khilafah setelahku berlangsung selama tiga puluh tahun. Kemudian (pemerintahan) akan berubah menjadi kerajaan".3



Di sampingitu, wacana ini justru ditengarai akan menimbulkan konflik besar dan pertumpahan darah. Sejarah mencatat tragedi memilukan di Karbala berupa tewasnya Sayidina Husein dan para pengikutnya serta perselisihan yang terjadi antara Abdullah bin Zubair bin Awam versus Malik bin Marwan yang berakhir dengan pembunuhan Abdullah bin Zubair di kota Mekah. Demikian juga, peristiwa yang terjadi di Al-Jazair dan Sudan yang telah menimbulkan genangan darah dan perpecahan penduduknya. Peristiwa-peristiwa tersebut dipicu oleh sebuah wacana yang menuntut tegaknya sistem pemerintahan ideal seperti pada masa Nabi dan Khulafâ'ur-Rasyidîn.



Memang dalam Islam, sejarah tidak menjadi sumber hukum. Tetapi, sejarah dapat menjadi pijakan dan tolok ukur dalam menentukan dan mengambil keputusan yang lebih bermanfaat dan berupaya menampik segala keburukan. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih yang telah dirumuskan ulama "Kemudaratan sedapat mungkain ditolak'' (baik sebelum terjadinya maupun sesudahnya).4

Karenanya, sistem pemerintahan Indonesia saat ini, sedapat mungkin terus dipertahankan untuk mencegah terjadinya perpecahan seperti peristiwa di atas. Bukankah dalam kaidah fikih telah diungkapkan menampik sesuatu keburukan lebih diutamakan daripada meraih kemaslahatan?



Di samping itu, mempertahankan persatuan dan kedaulatan NKRI merupakan tuntutan negara terhadap warganya sebagai wujud rasa cinta dan pengabdiannya pada negara. Mencintai negara adalah cermin dari seorang yang beriman sesuai dengan sesuai dengan Hadis Nabi : "Mencitai negara merupakan sebagian dari iman".5



NKRI Harga Mati

Ulama Indonesia sepakat bahwa persatuan dan kedaulatan NKRI wajib dipelihara dan dipertahankan. NKRI merupakan bangunan yang didirikan atas dasar kebersamaan melalui perjuangan dan pengorbanan yang tak terhingga. Lebih lanjut, mereka juga menegaskan bahwa NKRI adalah pemerintah Islam yang sah dan wajib dijunjung tinggi martabatnya serta wajib untuk ditaati.6

Kesepakatan ini merujuk pada pendapat Imam al-Ghazali—seorang tokoh dan pemikir Islam abad ke-V Hijriyah—yang mengatakan: keberadan khilafah yang memenuhi syarat secara lengkap sangatlah sulit pada masa kita saat ini. Dengan demikian, maka boleh melaksanakan semua keputusan yang telah ditetapkan oleh penguasa walaupun ia bodoh atau fasik. Hal ini diupayakan supaya kepentingan umat Islam tidak tersia-sia begitu saja. Menurut Imam ar-Rafi'i pandangan al-Ghazali tersebut merupakan yang paling baik dari kesekian pendapat politik Islam.7



NKRI sebagai bentuk negara tercinta kita merupakan pandangan final. Dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Maksud dari negara kesatuan adalah suatu negara yang terbentuk bukan karena adanya gabungan dari beberapa negara, serta kedaulatannya tidak terbagi.



Terbentuknya NKRI dengan sistem seperti sekarang, bukan berarti menghapus status NKRI sebagai negara Islam. Islam tidak terikat dengan simbol-simbol tertentu dalam mengatur sistem perpolitikannya. Sistem perpolitikan Islam tidak mengharuskan sebutan khilafah, imamah serta daulah sebagai satu-satunya simbol identitas negara. Sebab Islam telah meletakkan prinsip-prinsip yang dapat menjadikan status negara disebut negara Islam.



Ada beberapa prinsip yang dapat menjadikan sebuah negara dapat menyandang predikat sebagai negara Islam.

Pertama, apabila esensi tatanan sistem pemerintahan dalam prinsipnya mengadopsi hukum yang bermuara dari al-Qur'an dan Hadis sebagai sumber kebijakannya. Dengan demikian, negara bisa disebut dengan negara Islam, ketika konstitusinya menggunakan konsep Islam dan ideologinya berlandaskan Islam.

Kedua, tegaknya penerapan hukum dan syiar Islam selain yang berkaitan dengan masalah ibadah. Seperti, hukum rajam, had zina, dan lain-lainnya.8



Ketiga, apabila suatu negara dapat konsis dengan syariat Islam namun wadah kenegaraannya tidak lagi menggunakan istilah khilafah, imamah serta daulah Islamiyah, bahkan menyesuaikan dengan tuntutan alam modern, maka negara tersebut tetap berstatus Negara Islam. Secara faktual juga dapat disebut dengan istilah khilafah, imamah dan daulah Islamiyah. Konsis ini bukan berarti negara tersebut telah merealisasikan seluruh perundang-undangan agama Islam. Karena, untuk mencapai sektor tersebut masih butuh proses panjang dalam meniti langkah ke depan.9



Keempat, apabila negara tersebut mayoritas berpenduduk Islam, maka secara otomatis negara tesebut berstatus Negara Islam.10

Dari wacana di atas dapat disimpulkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara yang berstatus sebagai Negara Islam. Dengan demikian, wajib bagi seluruh warga Indonesia menjaga dan memelihara kedaulatan persatuan dan kesatuan NKRI dari kelompok radikalis yang mengusung wacana tegaknya khilafah di bumi pertiwi tercinta ini. Sebab wacana mengusung tegaknya khilafah di bumi Indonesia dikhawatirkan justru akan menyebabkan keretakan persatuan dan kesatuan NKRI, bahkan akan menimbulkan pertumpahan darah sesama warga Indonesia. Hal ini mengingat masyarakat negara ini dikenal dengan masyarakat plural dan berjuta warna. Wallahu a'lam.



1 Al-Wa'ie, no. 42 tahun IV, 1-29 Pebruari 2004

2 Ibid.

3 Tim Kajian Ilmiah Abituren 2007 Madrasah Hidayatul Mubtadi'in Lirboyo Kediri, Simboisis Negara dan Agama, hal 148

4 M. Quraisy Syihab, Logika Agama, hal 61

5 Istinbat, edisi 182 tahun X, Jumadil Ula 1429 H

6 Solusi Problamatika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muknamar, Munas, dan Kombes Nahdhatul Ulama, hal 269

7 Imam Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad al-Husainiyi al-Hashani ad-Dimsyiqi as-Syafi'i, Kifâyatul-Akhyâr, hal 258

8 Tim Kodifikasi Abituren 2007 Madrasah Hidayatul Mubtadi'in Lirboyo Kediri, Manhaj Solusi Umat, hal 270

9 Buletin SIDOGIRI, edisi 32 tahun IV Syaban 1429 H

10 Tim Kodifikasi Abituren 2007 Madrasah Hidayatul Mubtadi'in Lirboyo Kediri, Manhaj Solusi Umat, hal 270



Sumber asli klik Tautan ini : http://sidogiri.net/index.php/artikel/view/115

AHLUSSUNNAH DAN REALITAS SOSIAL ;Sebuah Tinjauan



Oleh Cholil Nafis, Ph D


Realitas di masyarakat, banyak sekali kelompok Islam yang mengklaim dirinya termasuk golongan ahlussunnah wal jama’ah (aswaja). Bahkan, cenderung menyalahkan kelompok lain dan mengklaim hanya dirinya yang paling benar sebagai penganut aswaja, sehingga menimbulkan polemik dan konflik antarumat Islam. Ini tentu saja merugikan umat Islam sendiri. Memang, term aswaja mempunyai makna dan interpretasi yang luas. Pada awal kemunculannya, istilah ini diidentikkan kepada seluruh golongan umat Islam selain golongan Syi’ah.

Kemudian, istilah ini mengalami penyempitan sesuai dengan faham kelompok keislaman yang telah terkota-kotak di masyarakat. Fenomena belakangan, aswaja menjadi rebutan kelompok dan organisasi kemasyarakatan yang mengidentifikasi diri kepada faham Sunni. Istilah ini sebenarnya sudah dikenal sejak Nabi Muhammad ketika menyampaikan prediksinya bahwa kelak umat Islam akan terpecah secara aqidah menajdi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat dan benar, yaitu ahlussunnah wal jama’ah.

Aswaja dalam sabda Nabi itu didefinisikan sebagai faham yang mengikuti Nabi dan para sahabatnya (ma ana ‘alaihi wa ashabi). Tentu saja definisi ini menimbulkan perselisihan dikalangan umat Islam karena para sahabat mempunyai pandangan yang berbeda-beda, bahkan terjadi konflik demi menegakkan keyakinannya. Seperti peristiwa “tahkim” yang menjadi awal perpecahan dan munculnya beraneka ragam faham keislaman adalah fenomena yang mempersulit untuk mengidentifikasi sahabat mana yang harus di ikuti sebagai refresentasi aswaja.

Kata ahlussunnah mengandung makna pengikut sunnah, yaitu mengikuti apa yang diucapkan, diperbuat dan yang diakui oleh Nabi saw. Sedangkan kata Jama’ah berkonotasi golongan mayoritas karena merujuk kepada tafsir hadits Nabi saw. yang menyebutnya dengan istilah as-Sawad al-A’dzam (golongan yang terbanyak). Maka kelompok Sunni di dunia ini adalah kelompok muslim yang mengikuti sunnah Nabi dan kelompok mayoritas pemeluk agama Islam.

Di antara ormas Islam di Indonesia yang dengan tegas menyatakan mengikuti faham aswaja adalah Nahdlatul Ulama. NU merupakan penganut Islam Sunni yang bersumber dari pergulatan pemikiran yang telah dirumuskan oleh Imam al-Hasan Asy’ari (w. 260 H/ 873 M) dan Maturidi (w. 324 H/935 M) dibidang aqidah, mengikuti salah satu mazhab empat (Hanafi, Malaiki, Syafi’i dan Hanbali) pada bidang syariah, dan dalam bidang tasawwuf mengikuti imam al-Ghazali dan al-Junaid. Dengan begitu, Aswaja ala NU sebagaimana dirumuskan oleh Asy’ari bukan berarti menafikan ketentuan atau rumusan sahabat (ahl al-Atsar), tetapi pilihan ini sebenarnya untuk memudahkan pemahaman karena sudah terumuskan dan terkodifikasi. Sebab, rumusan Imam Asy’ari dan Imam Maturidi mengikuti ketentuan Nabi dan ajaran para sahabat. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyebut Abu Hasan al-Asy’ari sebagai Imam al mutakalimin.

Dari landasan itu, NU lalu mengidentifikasi dirinya sebagai ormas Islam yang bercorak moderat ( tawassuth), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), dan reformatif (ishlah). Karateristik ini termaktub dalam fikrah nahdliyah yang menjadi ciri-ciri (khashaish) faham aswaja ala NU sebagaimana dirumuskan pada Munas NU 2006 di Surabaya. Faham ini memandang bahwa “syariah” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai norma dan nilai untuk menciptakan kehidupan manusia yang bermartabat. Syariah bukan teks yang beku (jamid) yang secara otomatis langsung diserap menjadi aturan Negara. Syariah dalam faham NU tidak harus dipaksakan menjadi aturan Negara, tetapi perlu diinterpretasi dan disarikan nilai maslahah umum untuk kehidupan semua warga Negara.

Di Indonesia, dalam perspektif NU, syariah ditafsirkan sebagai nilai umum yang maslahah bagi semua warga negara, baik muslim maupun non muslim. Oleh karenanya, NU tidak pernah memaksakan tujuh kata “Piagam Jakarta” yang menginginkan Negara berdasarkan syariah. Peduduk Indonesia heterogen yang terdiri dari beberapa pemeluk agama yang juga ikut memperjuangkan kemerdekaan maka yang sesuai adalah berdasarkan Pancasila. Karena Pancasila telah memuat nilai-nilai agama dan menjadi perekat kesatuan bangsa.

Faham aswaja ala NU lebih akomodatif dan lebih memberi perdamaian. Sebab faham ini tidak pernah memaksakan keyakinan kelompok menjadi dasar negara yang kemudian akan memaksa selurun penduduk yang heterogen untuk mengikuti keyakinan tertentu. Faham NU tidak pernah berbenturan dengan negara apalagi sampai menjadi konflik. Sebab, konflik yang disebabkan oleh faham keagaman lebih banyak karena memaksakan ajara agama menjadi dasar Negara. Beberapa kasus konflik bersenjata berlatarbelakang agama di dunia modern mayoritas disebabkan pemahaman agama yang kaku dan tekstual. Bahkan ditingkat lokal, seringkali terjadi perpecahan dan konflik karena pemahan agama yang dogmatis dan kaku.

Aswaja ala NU adalah paham keislaman jalan tengah (tawassuthiyah) yang menekankan pada nilai persamaan dan kedamaian dalam kontek bernegara, tetapi menanamkan kesalehan dan kepatuhan menyeluruh dalam kontek kehidupan internal. Hal ini terlihat dari pelaksanaan syariah sebagai implementasi aqidah yang mengikuti salah satu imam Mazhab fiqh yang empat, di mana terdapat banyak perbedaan pendapat (khilafiyah). Dipilihnya empat mazhab ini karena sudah terkodifikasi dengan metode yang jelas dan lahir dari sosio-kultaral yang berbeda-beda, sehingga penerapan syariah ala NU mudah diterima disetiap situasi dan kondisi apapun, tanpa menimbulkan konflik.

Munculnya terorisme, pengkafiran dan membid’ahkan kelompok lain yang tidak sepaham dikarenakan pemahaman Islam yang sempit dan tidak kontekstual. Terjadinya konflik keagamaan di beberapa negara muslim karena penduduknya melihat syariah hanya dapat dilaksanakan jika menjadi dasar Negara. Pemahaman ini bertolak belakang dengan kandungan al-Qur’an yang menyerukan kedamaian untuk semua dan Piagam Madinah (shahifah) yang kandungannya mengemban misi menyatukan seluruh umat beragama dalam satu komunitas dan satu Negara (Ummatan wahidah).

Islam moderat ala NU bersifat dinamis (tathawwur) dan mudah beradpatasi dalam berbagai situasi dan kondisi, sehingga dapat terhindar dari benturan peradaban (clash of civilization, istilah yang dipopulerkan oleh Huntington). Hal ini dapat dilihat dari kiprah NU yang telah terbukti ikut mempengaruhi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menyatukan nilai-nilai agama dan budaya dalam Pancasila sebagai dasar Negara. Islam moderat ini perlu disosialisasikan ditingkat nasional untuk mencapai kedamaian dan eratnya kesatuan dan persatuan. Aswaja moderat ini juga perlu dikampanyekan ke seluruh dunia untuk menebarkan perdamaian menuju manusia bermartabat melalui International Conference of Islamic Scholars (ICIS).

Di Pemalang, Penjualan Apem Meningkat Pada bulan Puasa


COMAL – Bulan puasa menjadi berkah tersendiri bagi penjual apem di Pasar Comal, karena jajanan khas Comal ini meningkat hingga 50 persen. Peningkatan penjualan, diperkirakan akan terus berlangsung hingga H+7 lebaran. Salah satu penjual apem, Yati (45), kepada Radar mengungkapkan, pada hari biasa jajanan berwarna coklat muda ini laku antara 200 hingga 300-an per hari. Namun sejak awal puasa lalu, penjualannya meningkat hingga 500-an apem per hari.

“Alhamdulillah, bisa buat lebaran sama anak-anak,” terang dia. Diungkapkan Yati, meningkatnya penjualan apem karena banyak warga di Kecamatan Comal yang menjadikan apem sebagai pembuka puasa. Dimana seiring berjalannya bulan puasa, warga banyak yang menjadikan jajanan berwarna coklat muda ini sebagai menu utama berbuka puasa.

“Apem sangat cocok untuk berbuka puasa, karena rasanya manis legit. Katanya kalau buka yang pas khan pakai yang manis-manis,” tuturnya setengah berpromosi. Apem Comal, lanjut dia, mempunyai cita rasa khas dibanding panganan lainnya. Karena meski adonannya menggunakan cara-cara tradisional, campurannya sangat pas di lidah.

Menurut dia, proses pembuatan apem menggunakan “perasaan” untuk hasil yang manis dan membuat pembelinya ketagihan. Bagaimana proses detailnya, Yati enggan menjelaskan lebih jauh. Hanya saja, ia mengatakan bahwa bahan utama apem Comal adalah tepung beras dan gula Jawa. “Meski manis, apem tidak membosankan. Justru pembeli bisa ketagihan kalau sudah mencicipinya,” tandas dia.

Mengenai harga, apem terbilang murah dibandingkan jajanan lain yang belakangan banyak bermunculan. Artinya bukan hanya mereka yang berkantong tebal saja yang bisa membeli, akan tetapi seluruh lapisan masyarakat. Karena dengan merogoh koceknya sebesar Rp 500 untuk apem sedang, dan Rp 600 untuk apem besar, pembeli bisa merasakan lezatnya apem Comal.

"Murah, sangat murah. Karena satu bijinya cuma Rp500,” ucap Yati. Menjelang datangnya lebaran sediri, ia bersama 30-an penjual apem lainnya berharap akan meningkat pesat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Yakni dengan kenaikan hingga 3 sampai 4 kali lipat. (cw2)Radar Tegal

23.8.10

Kapan Lailatul Qadar?


Tidak ada kepastian mengenai kapan datangnya Lailatul Qadar, suatu malam yang dikisahkan dalam Al-Qur’an "lebih baik dari seribu bulan". Ada Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, meyebutkan bahwa Nabi pernah ditanya tentang Lailatul Qadar. Beliau menjawab: “Lailatul Qadar ada pada setiap bulan Ramadhan." (HR Abu Dawud).

Namun menurut hadits lainnya yang diriwayatkan Aisyah, Nabi Muhammad SAW memerintahkan:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar itu pada tanggal ganjil dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Menurut pendapat yang lain, Lailatul Qadal itu terjadi pada 17 Ramadhan, 21 Ramadhan, 24 Ramadhan, tanggal gasal pada 10 akhir Ramadhan dan lain-lain.

Diantara hikmah tidak diberitahukannya tanggal yang pasti tentang Lailatul Qadar adalah untuk memotivasi umat agar terus beribadah, mencari rahmat dan ridha Allah kapan saja dan dimana saja, tanpa harus terpaku pada satu hari saja.

Jika malam Lailatul Qadar ini diberitahukan tanggal kepastiannya, maka orang akan beribadah sebanyak-banyaknya hanya pada tanggal tersebut dan tidak giat lagi beribadah ketika tanggal tersebut sudah lewat.

Umat Islam hanya ditunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Di antara tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar adalah:

1. Pada hari itu matahari bersinar tidak terlalu panas dengan cuaca sangat sejuk, sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim.

2. Pada malam harinya langit nampak bersih, tidak nampak awan sedikit pun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas. Hal ini berdasarkan riwayat, Imam Ahmad.

Dalam Mu'jam at- Thabari al-Kabir disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Malam Lailatul Qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak nampak dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas."

Amalan-amalan untuk Mendapatkan Laiatul Qadar

Para ulama kita mengajarkan, agar mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar, maka hendaknya kita memperbanyak ibadah selama bulan Ramadhan, diantaranya:

1. Senantiasa shalat fardhu lima waktu berjama'ah.
2. Mendirikan shalat malam atau qiyamul lail (shalat tarawih, tahajud, dll)
3. Membaca Al-Qur'an sebanyak-banyaknya dengan tartil.
4. Memperbanyak dzikir, istighfar dan berdoa.
5. Memperbanyak membaca:

اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فاَعْفُ عَنَّا

Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, senang pada ampunan, maka ampunilah kami, wahai Dzat yang Maha Pemurah.


KH A. Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

10.8.10

Islam dan Ke-INDONESIA-an


Oleh Marwan Ja'far
Jiwa kebangsaan dalam perspektif ahlussunnah wal-jama` ah selalu mengacu pada kekayaan sejarah dan budaya Nusantara. Paham ini dengan sendirinya mengandung semangat menghargai tradisi, pluralitas budaya, dan martabat manusia sebagai makhluk budaya.

Dalam perspektif kebangsaan semacam ini,lokalitas mendapatkan tempat terhormat yang dalam nasionalisme Eropa cenderung digeser atau bahkan disisihkan ke batas akhir kepunahan atas nama modernitas. Proses akulturasi terhadap tradisi telah melahirkan Islam dengan wajah yang ramah terhadap nilai budaya setempat serta menghargai perbedaan agama, tradisi, dan kepercayaan sebagai warisan budaya Nusantara.

Dalam kaitan ini, dengan sendirinya Islam ahlussunnah wal-jama`ah memiliki wawasan multikultural. Para wali (Wali Songo/Wali Sembilan) telah mengajarkan sebuah tradisi keagamaan yang transformatif (tahawwuly wa taghyiry).
Proses dakwah yang dilakukan Wali Songo di Pulau Jawa dan para wali di seluruh Nusantara pada umumnya bukan sekadar mengajak masyarakat masuk Islam, tetapi juga mengubah struktur sosial masyarakat menuju tata sosial yang lebih adil, manusiawi,dan berakar pada tradisi masyarakat setempat.

Inilah tradisi keagamaan model ahlussunnah waljama` ah dengan kekuatan basisnya pada ulama dan pesantren. Ulama sebagai pilar keagamaan ahlussunnah wal-jama`ah memegang peran penting dalam menguatkan ikatan kolektivitas bangsa ini. "Man la syaikha lahu fasysyaithanu syaikhun lahu" (siapa yang tidak punya guru,maka setanlah yang akan jadi gurunya) adalah warisan yang pernah dikembangkan Wali Songo dalam mempersatukan masyarakat.

Gerakan-gerakan sosial yang pernah muncul di masa kolonial Belanda selalu menjadikan pesantren sebagai basis perjuangan melawan kolonialisme dan eksploitasi penjajah. Selain menekankan penguasaan peralatan yang cukup untuk kebutuhan ritual ibadah,pesantren juga memiliki fungsi kemasyarakatan yang lebih luas.

Ia merupakan wadah transformasi kultural secara total. Kisah para kiai yang "babat hutan" mendirikan pesantren di daerah-daerah "hitam" di pinggiran kota adalah bukti nyata dari kecenderungan untuk menggunakan pendidikan di pesantren sebagai alat transformasi kultural yang berlangsung secara perlahan, tetapi menyeluruh.

Kemaslahatan Universal
Sikap kebangsaan model ahlussunnah wal-jama`ah bukan hanya dari segi toleransinya dalam beragama, tapi juga kontribusinya pada pembentukan identitas kebangsaan kita setelah merdeka dari kolonialisme Belanda. Kemampuan Islam ahlussunnah wal-jama`ah melakukan praksis, dalam arti memadukan ajaran Islam tekstual dengan konteks lokalitas dalam kebijakan hidup beragama, melahirkan wawasan dan orientasi politik substantif.

Cara Islam ahlussunnah wal-jama`ah membawa ajaran Islam tidak melalui jalan formalistis, lebih-lebih dengan cara membenturkannya dengan realitas secara frontal, tetapi dengan cara lentur. Dalam soal imamah, Islam ahlussunnah wal-jama`ah lebih melihat kriteria atau persyaratan yang dipenuhi oleh seorang imam atau khalifah daripada berdirinya suatu negara (daulah).

Selama prinsip al- 'adalah (keadilan), asy-syura (musyawarah), al-musawah(persamaan derajat), dan pemeliharaan lima prinsip universal manusia (ushul alkhams) dipenuhi pada diri seorang pemimpin, maka kalangan ahlussunnah wal-jama`ah akan menerima kepemimpinan tersebut.

Berdirinya suatu negara sesungguhnya dimaksudkan untuk mengayomi dan melayani kehidupan umat serta menjaga kemaslahatan bersama (mashlahah musytarakah). Ahlussunnah wal-jama`ah tidak memiliki patokan yang baku tentang negara, tetapi hanya memberikan kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu negara. Sepanjang persyaratan tegaknya negara tersebut terpenuhi,negara tersebut sebagai pemerintahan yang sah.

Politik Puritan
Dewasa ini, kita dihadapkan pada fakta munculnya kelompokkelompok puritan yang memperjuangkan Islam sebagai solusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Puritan di sini merujuk pada paham yang berupaya membersihkan ajaran Islam dari segala adat dan budaya dengan slogan kembali ke Alquran dan As-Sunnah.

Lalu, lahirlah model indoktrinasi dengan ajaran tentang ghazwul fikri––yang di dalamnya negara-negara Barat dan agama-agama bukan Islam dengan segala budaya,pemikiran,dan ajarannya dipandang sebagai "musuh". Muncul pula istilah jahiliyyah (yang memandang budaya dan tradisi lokal tidak mencerminkan Islam) serta syahadat di mana ajaran tauhidhanya ditekankan pada pendalaman rabbaniyyah dan uluhiyyah secara harfiah.

Islam puritan ini berbeda dengan Islam model ahlussunnah wal-jama`ah yang sangat akomodatif terhadap budaya dan tradisi lokal serta mendalami nilainilai sufistik. Islam ahlussunnah wal-jama`ah ini sesungguhnya sebagai representasi Islam Indonesia. Puritanisme Islam pada tingkat tertentu dan dengan wajah berbeda kerap mulai membuat gundah sejumlah kalangan Islam.

Banyak pendapat menyebut ini merupakan "ancaman" yang tidak kasatmata karena medan tempurnya adalah pemikiran dan epistemologi.Tarikan kutub pemikiran tersebut sedikit banyak menggoyahkan "Islam jalan tengah". Sekali lagi, model "Islam jalan tengah" inimeyakiniumat Islam sebagai bagian dari keindonesiaan, tapi juga tak lantas melepas tradisi keagamaannya. Mempertahankan identitas keislaman ibarat baju akan terlalu sempit jika hendak membicarakan kemenangan sebuah politik Islam dalam rumah keindonesiaan yang tumpah darahnya berwarna kebhinekaandan pluralistis.

Kembali ke Jalan Tengah
Selalu bisa beradaptasi dalam segala situasi dan kondisi, itulah salah satu watak ahlussunnah waljama'ah.Posisi tawassuth atau moderasi ini tentu bukanlah harga mati.Jalan tengah ini bisa diibaratkan dengan titik tengah biji kelereng yang bulat.Makin besar bulatannya, garis tengahnya pun kian besar pula.

Demikian pula makin berkembang konsep moderasi tersebut, makin berkembang pula daya jangkau dan potensinya mengikuti perkembangan zaman. Ini seperti dibuktikan dari elaborasi pemikiran yang digariskan oleh para pencetusnya.Kerja keras Imam al-Asy'ari mengelaborasi kembali ahlussunnah wal-jama`ah pascapemerintahan Al-Mutawakkil yang puluhan tahun mengikuti Mu'tazilah merupakan langkah cemerlang untuk kepentingan menyelamatkan umat Islam dari krisis saat itu.

Kemudian, muncul Imam al-Baqillani dan Imam al-Juwaini. Sebagai murid Al-Asy'ari, mereka meneruskan ajaran Sunni yang lebih condong kepada Mu'tazilah yang rasional, tetapi tetap dalam kerangka ahlussunnah wal-jama'ah sebagai motor penggeraknya. Begitu pula Imam al-Ghazali yang menolak filsafat dan membuat titik temu berbagai aliran dan mazhab dalam bentuk tasawuf.

Ajaran ahlussunnah wal-jama`ah tidaklah pernah jumud, tidak kaku, tidak eksklusif, tidak elitis, dan tidak mengenal status-quo. Ia bisa berkembang dengan fleksibel berkat potensi nahdlahyang dimilikinya.

Rangkaian historis-empiris fleksibilitas epistemologi dan metodologi yang sesuai dengan situasi politik dan sosial yang meliputi masyarakat muslim waktu itu, mulai dari Rasulullah sampai manhaj at-taghayyur al-ijtima'i yang terbingkai dalam landasan proporsional (at-tawazun), keadilan (atta'adul), dan toleran (at-tasamuh), merupakan pemaknaan ahlussunnah wal-jama`ah sebagai metode berpikir dan bertindak yang digariskan oleh para sahabat Nabi dan tabi'in yang sangat erat kaitannya dengan situasi politik dan sosial yang meliputi masyarakat muslim waktu itu. Dari sinilah lahir pemikiran dan tindakan keislaman dalam berbagai bidang, termasuk politik yang tetap berada dalam satu roh, yaitu senantiasa berada di jalan tengah, dan itulah ahlussunnah wal-jama`ah.(*)

Marwan Ja'far, Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR RI.
Naskah ini pernah dipublikasikan harian Seputar Indonesia edisi 24 Juli 2010.

Membangun Kesalehan Individual, Atau Perbaikan Sistem Pemerintahan? Debat Terbuka NU vs HTI


Pagi itu, Ahad tanggal 12 April 2009, jam dinding menunjukkan pukul 9.00. Suasana di Pondok Pesantren Syaikhona Kholil, Demangan Bangkalan sangat cerah. Tampak para santri mengerjakan aktifitasnya masing-masing, ada yang masuk sekolah dan ada yang berjalan ke sana ke mari. Sementara di ruangan Aula Pertemuan, sekitar 250 santri senior dan Mahasiswa STIT Syaikhona Kholil, telah menunggu acara yang akan segera digelar. Yaitu dialog terbuka antara Ustadz Muhammad Idrus Ramli, Sekretaris LBM NU Jember, dengan Ustadz Hisyam Hidayat, Ketua Pengurus HTI Jawa Timur yang tinggal di Ketintang Surabaya.
Jam menunjukkan pukul 9.00, Ustadz Hisyam Hidayat telah hadir bersama rombongan yang terdiri dari para tokoh dan aktivis HTI sekitar 15 orang. Sekitar 10 menit kemudian, Ustadz Idrus Ramli, yang masih alumni PP. Sidogiri Pasuruan ini datang menyusul dengan tanpa membawa teman. Segera Ustadz Idrus Ramli memasuki kantor Aula di lantai dua dan berjabatan tangan dengan Hisyam Hidayat dan rekan-rekannya.

15 menit kemudian, semuanya turun ke lantai dasar menuju ruangan Aula Pertemuan, pertanda acara yang digelar oleh M3 (Majlis Musyawarah Ma'hadiyah) PP. Syaikhona Kholil ini akan segera dimulai. Sambutan demi sambutanpun dimulai, pertama oleh Ketua Umum PP. Syaikhona Kholil, yaitu KH.R. Muhammad Nasih Aschol dan dilanjutkan oleh sambutan panitia, Ustadz Mardi. Setelah itu dilanjutkan dengan acara inti, dialog terbuka, antara Idrus Ramli dan Hisyam Hidayat, dengan dipandu oleh moderator, Ustadz Mauridi, yang masih pengurus Lajnah Falakiyah PWNU Jawa Timur.
Acara yang sebenarnya membawa tema, "KEMAJUAN DAN DEGRADASI ISLAM DARI MASA KE MASA" itu ternyata berjalan agak panas menjadi ajang perdebatan dan saling serang antara dua tokoh muda Islam tersebut. Sejak awal, sang moderator memang telah menggiring pembicaraan kedua nara sumber tersebut untuk memasuki ranah pemikiran dan ideologi yang menjadi perselisihan antara NU dan HTI.
Sesi pertama, moderator memberikan waktu kepada Hisyam Hidayat untuk memaparkan konsep kemajuan dan kemunduran Islam. Hisyam yang dibekali dengan laptop dan program power point tersebut menawarkan konsep yang sangat jitu dalam memajukan Islam, yaitu membangun kesadaran masyarakat tentang perlunya perbaikan system pemerintahan Islam dengan menegakkan khilafah dan penerapan syariat yang memang hal itu menjadi kewajiban umat Islam.

Pada bagian berikutnya, Ustadz Idrus Ramli memaparkan konsepnya tentang visi dan misi perjuangan para ulama dan kiai. Selama ini gerakan para ulama dan kiai bukan melalui jalur politik, dengan slogan dan misi perbaikan system pemerintahan, tegaknya khilafah dan penerapat syariat. Akan tetapi mereka bergerak dalam jalur dakwah dan pendidikan kemasyarakatan dengan mengajar mereka menunaikan shalat, zakat, puasa dan kewajiban-kewajiban agama yang lainnya dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut berangkat dari keyakinan para kiai bahwa, apabila masyarakat telah menjalankan ajaran agamanya dengan benar dan sempurna, maka dengan sendirinya akan terbangun kesalehan individual yang pada akhirnya akan membawa pada kesalehan social. Ketika kesalehan individual telah tercapai, maka dengan sendirinya masyarakat akan menerapkan syariat Islam dengan sempurna. Bukankah dalam al-Qur'an Allah telah berfirman, "Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran."

Berkaitan dengan system pemerintahan yang ada di dunia Islam dewasa ini, Idrus Ramli berpendapat, bahwa berdirinya pemerintahan dan penguasa yang sewenang-wenang dan keluar dari jalur syariat Islam, itu tidak terlepas dari kondisi rakyat yang memang jauh dari nilai-nilai agama. Dalam hal ini Allah berfirman, "Demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain akibat perbuatan mereka." Berdasarkan ayat ini, berdirinya pemerintahan dan penguasa yang zalim itu sebagai akibat dari kezaliman masyarakat itu sendiri baik secara individual maupun social. Apabila mereka menginginkan pemerintahan yang tidak zalim dan bertindak sesuai dengan aturan syariat, maka rakyat harus bertobat kepada Allah dari perbuatan mereka yang zalim. Ketika suatu masyarakat menjalankan perintah agama dengan paripurna, maka Allah akan memberi mereka seorang pemimpin sekaliber Sayidina Abu Bakar dan Umar.

Dan demikian pula sebaliknya, pada sesi berikutnya, moderator memberikan waktu kepada Hisyam Hidayat untuk menanggapi pernyataan Idrus Ramli. Dalam kesempatan tersebut, Hisyam tidak menyia-nyiakan waktunya untuk mengarahkan kritik terhadap pandangan Idrus Ramli. Menurut Hisyam, selama ini kelompok yang anti HTI banyak yang berdalil dengan sejarah. Padahal dalil dalam agama itu al-Qur'an, hadits, ijma' dan qiyas. Hisyam juga mengkritik pernyataan Idrus Ramli dalam beberapa majalah seperti Majalah Ijtihad Sidogiri beberapa waktu yang lalu, yang mengkritik HT tanpa memiliki sanad. Padahal menurut Abdullah bin al-Mubarak, salah satu ulama salaf, sanad itu termasuk bagian dari agama. Hisyam juga mengkritik Idrus yang tidak bersemangat memperjuangkan khilafah, padahal al-Imam al-Nawawi sendiri dalam beberapa kitabnya menyatakan wajibnya menegakkan khilafah berdasarkan kesepakatan para ulama.

Namuan kritikan-kritikan Hisyam tersebut berhasil dipatahkan dengan cukup baik oleh Idrus Ramli, dan bahkan dijadikan serangan balik yang mematikan terhadap HT. Menurut Idrus Ramli, sejarah memang bukan dalil dalam agama. Tapi bagaimanapun sejarah harus dijadikan pelajaran bagi kita dalam melangkah. Bukankah Nabi SAW telah bersabda, "Janganlah seorang Mukmin terperosok ke dalam jurang yang sama sampai dua kali." Menurut Idrus Ramli, dalam catatan sejarah, kelompok-kelompok revivalis yang membawa misi perbaikan system pemerintahan sejak awal Islam selalu memiliki akidah yang menyimpang dari mainstream Ahlussunnah Wal-Jama'ah. Pada masa Sayidina Utsman, kelompok Khawarij melakukan demonstrasi dan akhirnya membunuh Sayidina Utsman dengan kedok misi perbaikan system pemerintahan. Tetapi ternyata mereka membawa akidah yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Demikian pula pada masa-masa selanjutnya, kelompok-kelompok yang membawa misi serupa selalu dilatarbelakangi akidah yang menyimpang. Tidak terkecuali Hizbut Tahrir dewasa ini, yang dalam dalam bagian awal kitab al-Syakhshiyyat al-Islamiyyah, karya Taqiyuddin al-Nabhani, pendiri HT, banyak yang menyimpang dari ajaran Islam.

Terkait dengan pernyataan Hisyam, bahwa beberapa kritikan Idrus dalam Majalah Ijtihad Sidogiri, yang tidak memiliki sanad, Idrus menjawab, bahwa sanad dalam kritikan tersebut adalah beberapa guru Idrus dari Lebanon yang bertetangga dengan al-Nabhani, pendiri HT. disamping kitab-kitab al-Nabhani sendiri yang memang terang-terangan banyak yang menyimpang dari mainstream Ahlussunnah Wal-Jama'ah. Justru yang perlu dipertanyakan sanadnya adalah pandangan-pandangan al-Nabhani sendiri dalam al-Syakhshiyyat al-Islamiyyah dan lain-lain yang menyimpang tersebut. Seperti pernyataan al-Nabhani bahwa konsep qadha' dan qadar Ahlussunnah Wal-Jama'ah diadopsi dari para filosof Yunani.

Menurut Idrus, pernyataan al-Nabhani tersebut sama-sekali tidak benar dan sangat dibuat-buat. Karena para ulama yang menulis kitab-kitab akidah mereka seperti al-Imam al-Baihaqi dalam kitab al-I'tiqad, ketika menguraikan masalah qadha' dan qadar justru dasarnya dari al-Qur'an dan hadits semua. Para ulama tidak pernah menjelaskan konsep qadha' dan qadar dengan mengutip pernyataan Aristoteles, Plato dan lain-lain dari para filosof Yunani. "Jadi, pernyataan al-Nabhani bohong belaka dan tidak punya sanad", demikian kata Idrus dengan nada tinggi.

Sedangkan pernyataan Hisyam yang mengutip pernyataan al-Imam al-Nawawi dalam kitab Raudhat al-Thalibin, tentang wajibnya menegakkan khilafah, menurut Idrus itu kalau kaum Muslimin memang mampu melakukannya. "Sekarang kaum Muslimin tidak mampu melakukannya, sehingga dengan sendirinya kewajiban tersebut gugur bagi mereka", demikian menurut alumni Sidogiri tersebut. Menurut Idrus, orang-orang HTI banyak yang tidak memahami maksud para ulama dalam bab khilafah, bahwa hal tersebut sebenarnya diletakkan dalam kerangka yang idealistik. Kalau kriteria khalifah yang terdapat dalam kitab-kitab fiqih terpaksa kita terapkan sekarang, toh kaum Muslimin tetap tidak mungkin dapat melakukannya. Karena persyaratan khalifah itu harus seorang laki-laki Muslim, yang adil dan mujtahid dalam bidang hukum-hukum agama. "Dan ini sekarang tidak ada, meskipun di Negara-negara Arab sendiri," demikian katanya.

Dalam acara tersebut, Ustadz Idrus Ramli juga memberikan masukan terhadap Ustadz Hisyam Hidayat terkait dengan buletin mingguan Al-Islam, yang diterbitkan oleh HT. Dalam buletin tersebut, HT selalu mengkait-kaitkan penyelesaian problem yang dihadapi umat Islam dengan khilafah. Menurut Idrus, hal tersebut sangat tidak mendidik terhadap masyarakat. "Bagi orang yang melek sejarah, hal tersebut akan disalahkan. Karena khilafah dapat menjadi solusi bagi segala problem itu ketika khalifahnya rasyid (mengikuti petunjuk-petunjuk agama) dan adil seperti Khulafaur Rayisidin. Akan tetapi ketika yang menjadi khalifah tidak rasyid seperti Yazid bin Muawiyah, dan gubernurnya seperti al-Hajjaj bin Yusuf, yang terjadi bukan menyelesaikan problem. Justru rakyatnya sendiri yang dibunuh."

Acara seminar tahunan yang digelas oleh M3 (Majlis Musyawarah Ma'hadiyah) PP. Syaikhona Kholil Demangan Bangkalan, tersebut ternyata menjadi ajang perdebatan antara kedua nara sumber. Suasana panas, tepuk tangan dan suara huuuh.... dari para hadirin ketika jawaban atau serangan dikemukakan oleh salah seorang pembicara mewarnai acara seminar tersebut. Meskipun sebagian besar sanggahan-sanggahan Hisyam Hidayat berhasil dijawab dengan cukup bagus oleh Idrus Ramli dan bahkan dijadikan sanggahan balik yang mematikan terhadap Hisyam. Sementara sanggahan-sanggahan Idrus Ramli, tidak mampu direspon oleh Hisyam Hidayat. Menurut KH. Ali Ghafir, salah satu dosen STIT Syaikhona Kholil, yang menyaksikan acara seminar tersebut, "Perjalanan dialog sangat tidak seimbang. Karena semua sanggahan Hisyam Hidayat berhasil dijawab dengan baik oleh Ustadz Idrus Ramli dan bahkan dijadikan serangan balik yang cukup mematikan. Sementara sanggahan-sanggahan Ustadz Idrus, tidak mampu dijawab dengan baik." Acara dialog dihentikan setelah waktu menunjukkan pukul 13.45 menit.www.aswaja-nu.com

9.8.10

Dinilai Sarat Muatan Politik,Kongres Rakyat Pemalang Sepi Peserta


Acara Konggres Rakyat Pemalang di Gedung Olah Raga (GOR) Kridanggo, Minggu (08/08) kemarin,sepi peserta.
Hal itu dilihat dari sejumlah kursi yang disediakan oleh panitia dengan kapasitas kurang lebihnya mencapai ribuan peserta, ternyata hanya sebagian saja yang terisi.
Akibat kondisi tersebut,acara konggres juga nampak kurang greget.
Meskipun dalam acara tersebut panitai telah menghadirkan sejumlah nara sumber ternama dengan materi pembahasan yang cukup menarik yaitu Tekad dan Cinta serta komitmen untuk membuat perubahan di Pemalang oleh Prof DR Ir Agus Pritono serta menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap Pemalang oleh H. Muhammad Ali Sofro SH MSi.

Berdasarkan  pantauan Radar di acara Konggres Rakyat Pemalang, dalam agenda acara yang dimulai sejak tanggal 7 Agustus 2010 dengan diawali acara pemutaran film Babad Tanah Pemalang yang dilaksanakan pada Sabtu malam.
Keesokan harinya,  Minggu tanggal 8 Agustus 2010 agendanya telah memasuki acara inti konggres.
Sementara dari sejumlah undangan yang sebelumnya disebarluaskan kepada masyarakat, namun saat konggres itu dimulai peserta yang hadir nampaknya tidak memenuhi target karena yang hadir hanya sebagian saja.
Akibatnya banyak tempat duduk yang terpaksa kosong.

Minimnya peserta yang hadir dalam acara tersebut,membuat peserta yang hadir nampak kurang bersemangat. Sebagai bukti banyaknya peserta yang akhirnya memilih pulang dan tidak mengikuti jalannya acara tersebut hingga selesai meskipun sebagian peserta ada yang masih setia untuk terus mengikutinya.
Selain itu,acara yang gagal dihadiri oleh tokoh nasional asal Pemalang,yakni Kepala BIN (Badan Intelejen Negara) Jenderal Polisi Purnawirawan Sutanto,meskipun sebelumnya dikabarkan juga akan ikut hadir.

Ketua Umum Komite Persiapan Konggres Rakyat Pemalang Munief Laredo saat memberikan kata sambutannya nampaknya melihat jumlah peserta yang hadir dalam acara itu tidak memenuhi harapan, menurutnya ada sedikit penyebabnya yaitu adanya penilaian bahwa acara Konggres Rakyat Pemalang sarat dengan muatan politik Pemilukada untuk mengarah salah satu balon bupati. Padahal tidak demikian.
“Kami sangat menyayangkan adanya pernyataan dari seorang pejabat yang saat ini akan maju sebagai balon bupati, bahwa acara ini akan diarahkan untuk mendukung salah satu balon bupati dan pernyataan itu adalah fitnah.Sebab dalam acara ini tidak seperak atau sepeserpun meminta kepada balon bupati,” katanya.

Sementara Ulil Albab yang juga sebagai panitia acara konggres menegaskan, bahwa dalam acara yang sedang diselenggarakannya tidak ada kaitannya dengan salah satu balon bupati dan dalam acara ini panitia juga tidak mengundang semua balon bupati,yang diundang adalah sejumlah eleman masyarakat dan ketua- ketua partai politik yang ada di Kabupaten Pemalang.
  “Kalau soal tujuan digelarnya acara ini  untuk menyusun sebuah buku yang isinya pemikiran dan gagasan serta menyatukan tekad untuk bersama-sama membangun Pemalang agar kedepan akan semakin baik lagi,” tandasnya. (mg1)www.radartegal.com

Biografi Al 'alamah Habib Mundzir bin Fuad Almusawa

Al -Allamah wal Fahamah Sayyidi Syarif Al -Habib Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Al -musawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali ’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib bin Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul SAW.
Nama beliau Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa , dilahirkan di Cipanas Cianjur Jawa barat , pada hari jum ’ at 23 februari 1973 , bertepatan 19 Muharram 1393H. Setelah beliau menyelesaikan sekolah menengah atas, beliau mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma ’ had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan , lalu mengambil kursus bhs. Arab di LPBA Assalafy Jakarta timur , lalu memperdalam lagi Ilmu Syari’ ah Islamiyah di Ma ’had Al Khairat , Bekasi Timur , kemudian beliau meneruskan untuk lebih mendalami Syari’ ah ke Ma’ had Darul Musthafa , Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994, selama empat tahun, disana beliau mendalami Ilmu Fiqh , Ilmu tafsir Al Qur ; an, Ilmu hadits , Ilmu sejarah , Ilmu tauhid, Ilmu tasawuf, mahabbaturrasul saw, Ilmu dakwah , dan ilmu ilmu syariah lainnya.
Habib Munzir Al- Musawa kembali ke Indonesia pada tahun 1998, dan mulai berdakwah, dengan mengunjungi rumah rumah , duduk dan bercengkerama dengan mereka , memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan , lalu atas permintaan mereka maka mulailah Habib Munzir membuka majlis , jumlah hadirin sekitar enam orang , beliau terus berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah swt, yang membuat hati pendengar sejuk , beliau tidak mencampuri urusan politik , dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah swt, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak gerik kita dengan kehidupan yang Nabawiy. kalau dia ahli politik , maka ia ahli politik yang Nabawiy, kalau konglomerat , maka dia konglomerat yang Nabawiy, pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan ummat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian , sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik , pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan , inilah Dakwah Nabi Muhammad saw yang hakiki, masing masing dg kesibukannya tapi hati mereka bergabung dg satu kemuliaan , inilah tujuan Nabi saw diutus , untuk membawa rahmat bagi sekalian alam.
Majelisnya mengalami pasang surut, awal berdakwah ia memakai kendaraan umum turun naik bus, menggunakan jubah dan surban, serta membawa kitab -kitab. Tak jarang beliau mendapat cemoohan dari orang- orang sekitar . Beliau bahkan pernah tidur di emperan toko ketika mencari murid dan berdakwah. Kini majlis taklim yang diasuhnya setiap malam selasa di Masjid Al - Munawar Pancoran Jakarta Selatan, yang dulu hanya dihadiri tiga sampai enam orang , sudah berjumlah sekitar 10. 000 hadirin setiap malam selasa. Habib Munzir sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta dan sekitarnya, beliau juga membuka majelis di rumahnya setiap malam jum ’ at bertempat di jalan kemiri cidodol kebayoran , juga sudah membuka majlis di seputar pulau jawa, yaitu:
Jawa barat :
Ujungkulon Banten, Cianjur, Bandung, Majalengka, Subang.
Jawa tengah :
Slawi , Tegal , Purwokerto , Wonosobo , Jogjakarta, Solo, Sukoharjo , Jepara , Semarang.
Jawa timur :
Mojokerto, Malang , Sukorejo, Tretes, Pasuruan, Sidoarjo , Probolinggo.
Bali :
Denpasar , Klungkung , Negara , Karangasem .
NTB :
Mataram, Ampenan
Luar Negeri :
Singapura, Johor, Kualalumpur .

Buku- buku yang sering menjadi rujukan beliau di majelisnya antara lain : kitab As- syifa ( Imam Fadliyat ) , Samailul Muhammadiyah ( Imam Tirmidzi) , Mukasyifatul Qulub ( Imam Ghazali ) , Tambili Mukhdarim ( Imam Sya ’ rani) , Al -Jami’ Ash - Shahih /Shahih Bukhari ( Imam Bukhari ) , Fathul Bari ’ fi Syarah Al -Bukhari ( Imam Al - Astqalani) , serta kitab karangan Imam Al - Haddad dan kitab serta pelajaran yang didapat dari guru beliau Habib Umar bin Hafidh .
Nama Rasulullah SAW sengaja digunakan untuk nama Majelisnya yaitu “Majelis Rasulullah SAW ”, agar apa -apa yang dicita -citakan oleh majelis taklim ini tercapai. Sebab beliau berharap, semua jamaahnya bisa meniru dan mencontoh Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai panutan hidup.

Adapun guru-guru beliau antara lain : Habib Umar bin Hud Al -Athas ( cipayung) , Habib Aqil bin Ahmad Alaydarus , Habib Umar bin Abdurahman Assegaf , Habib Hud Bagir Al -Athas, di pesantren Al-Khairat beliau belajar kepada Ustadz Al -Habib Nagib bin Syeikh Abu Bakar , dan di Hadramaut beliau belajar kepada Al -Imam Al- Allamah Al -Hafizh Al -Arifbillah Sayyidi Syarif Al -Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim ( Rubath Darul Mustafa ) , juga sering hadir di majelisnya Al - Allamah Al -Arifbillah Al -Habib Salim Asy - Syatiri ( Rubath Tarim ) .
Dan yang paling berpengaruh didalam membentuk kepribadian beliau adalah Guru mulia Al- Imam Al -Allamah Al -Hafizh Al - Arifbillah Sayyidi Syarif Al- Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim.
Salah satu sanad Guru beliau adalah :
Al -Habib Munzir bin fuad Al -Musawa berguru kepada Guru Mulia Al -Imam Al - Allamah Al- Hafizh Al -Musnid Al- Arifbillah Sayyidi Syarif Al -Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Musnid Al -Habib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf, Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Musnid Al- Habib Abdullah Assyatiri,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Hafizh Al -Habib Ali bin Muhammad Al - Habsyi ( simtuddurar ) ,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Musnid Al-Habib Abdurrahman Al -Masyhur ( shohibulfatawa ) ,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Hafizh Al- Habib Abdullah bin Husen bin Thohir,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Hafizh Al -Habib Umar bin Seggaf Assegaf,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Musnid Al- Habib Hamid bin Umar Ba’ alawiy,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Habib Al -Hafizh Ahmad bin Zein Al -Habsyi ,
Dan beliau berguru kepada Al -Imam Al - Allamah Al -Hafizh Al -Habib Abdullah bin Alawi Al -Haddad ( shohiburratib) ,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Musnid Al -Habib Husein bin Abubakar bin Salim,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Imam Al -Allamah Al -Habib Abubakar bin Salim ( fakhrulwujud ) ,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Hafizh Al- Habib Ahmad bin Abdurrahman Syahabuddin ,
Dan beliau berguru kepada Al- Allamah Al - Hafizh Al -Habib Abdurrahman bin Ali ( Ainulmukasyifiin),
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Musnid Al -Habib Ali bin Abubakar ( assakran ),
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Hafizh Al- Habib Abubakar bin Abdurrahman Assegaf ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Hafizh Al- Habib Abdurrahman Assegaf,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al- Musnid Al -Habib Muhammad Mauladdawilah ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Musnid Al -Habib Ali bin Alwi Al - ghayur,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Hafizh Al -Imam faqihilmuqaddam Muhammad bin Ali Ba’ alawiy,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbath,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Muhammad Shahib Marbath bin Ali,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Ali Khali ’ Qasam bin Alwi ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Alwi bin Muhammad ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Muhammad bin Alwi ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Alwi bin Ubaidillah ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Ubaidillah bin Ahmad Al - Muhajir ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Ahmad Al -Muhajir bin Isa Arrumiy,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Muhammad Annaqib bin Ali Al -Uraidhiy ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Ali Al- Uraidhiy bin Ja ’far Asshadiq ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Ja ’ far Asshadiq bin Muhammad Al -Baqir ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Muhammad Al -Baqir bin Ali Zainal Abidin,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Allamah Al -Imam Ali Zainal Abidin Assajjad ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Imam Husein ra ,
Dan beliau berguru kepada ayahnya Al - Imam Ali bin Abi Thalib ra ,
Dan beliau berguru kepada Semulia -mulia Guru, Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW, maka sebaik -baik bimbingan guru adalah bimbingan Rasulullah SAW.
Sanad guru beliau sampai kepada Rasulullah SAW, begitu pula nasabnya.
Demikian biografi singkat ini dibuat mohon maaf apabila ada kesalahan.

8.8.10

Pemutaran Film Dokumenter "BABAD TANAH PEMALANG" Di pendopo Pemalang


Film dokumenter ‘Babad Tanah Pemalang’ (BTP) produksi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Pemalang yang dilaunching Senin malam (2 /8) di pendopo kabupaten menjadi buah bibir masyarakat yang memang haus hiburan sekaligus masih awam terhadap latar belakang sejarah daerahnya.
Film garapan sutradara asal Pemalang, Torro Margens yang naskah cerita dan skenarionya diracik penulis dan sutradara kondang Imam Tantowi, dinilai mampu memberikan gambaran masyarakat Kota Ikhlas akan masa lalu kabupaten tertua di telatah pantura tersebut.

Dalam film yang dibintangi sejumlah aktor nasional dan diramaikan sekitar seratus pemain lokal tersebut dikisahkan keberadaan Pangeran Benowo paska kemelut kekuasaan di Kesultanan Pajang.
Putera Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir) dari istri selir itu kemudian memutuskan menetap di Kadipaten Pemalang yang sedang ‘komplang’ (tak mempunyai raja) setelah ditinggal sang adipati Anom Windugalbo.

Pemalang sendiri merupakan telatah gemah ripah dibawah rehrehan Kesultanan Pajang. Kadipaten Pemalang sebagaimana digambarkan dalam cerita sinea itu merupakan kawasan penting yang sepeninggal sang adipati hanya dipimpin seorang patih muda bernama Jiwonegoro. Patih yang bersahaja namun sakti mandraguna ini dengan rendah hati mengakui dirinya hanyalah seorang patih, sedang Pemalang ditinggalkan rajanya.

Terkisah di suatu malam Jiwonegoro yang dalam legenda dikenal dengan julukan Patih Sampun, mendapat wisik dari Gusti Kang Murbeng Dumadi berupa tengara hadirnya sebilah keris pusaka luk tigabelas. Ternyata dikemudian hari wisik itu menjadi kenyataan, Pangeran Benowo yang notabene pewaris pusaka keris luk tigabelas bernama Kyai Tapak, benar-benar datang untuk menjadi raja di Pemalang.
Kehadiran Pangeran Benowo bersama guru spiritualnya Ki Julung Wangi dan resi pengasuh Ki Buyut Jamur Apu disambut oleh Syeh Talabudin, ulama asal Cirebon yang mengasuh padepokan santri di Warung Asem dan Padurungan Taman.
Syeh Talabudin dan Ki Julung Wangi merupakan sahabat seperguruan ketika menimba ilmu pada seorang wali di Demak Bintoro. Oleh Syeh Talabudin, Pangeran Benowo yang kemudian menjadi muridnya disarankan tetirah untuk menenangkan diri sekaligus memimpin Kadipaten Pemalang yang telah komplang karena dua petingginya, yaitu Adipati Anom Windugalbo dan Patih Gede Murti, telah meninggal.
Pangeran Benowo memenuhi harapan ulama tersebut, kemudian ditabalkan menjuadi Adipati Pemalang di pendopo kadipaten. Penobatan tersebut berlangsung malam hari pada 1 Syawal bertepatan pada tanggal 24 Januari 1575 yang dikemudian hari ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Pemalang. (Ruslan Nolowijoyo)www.pesisirnews.com

7.8.10

LAILATUL IJTIMA' NU Ranting Petarukan Pemalang

Bertempat di musholla Nurulhuda Kapangsari Petarukan,Pemalang,Nahdlatul Ulama ranting Kelurahan Petarukan mengadakan Lailatul Ijtima' pada Sabtu (07/08/10). Acara dihadiri beberapa ulama Petarukan antara lain Kiai Asrori Ahmad Al hafid,Kiai Mahfudz Mi'ad,Kiai Mudhofir,Kiai Slamet Saiful,KH.Misbahuddin dan tentunya selaku "tuan rumah" KH.Masyhadi Zarkasi.

Dalam lailatul ijtima' yang digabung dengan haflah akhirissanah Madrasah diniyah Nurulhuda tersebut,KH. Masyhadi, pada sambutannya mengutarakan keprihatinannya mengenai pendidikan Diniyah yang makin dikalahkan dan di anaktirikan oleh pendidikan formal.
"dari empat mukhotim,semuanya tidak ada yang menghadiri acara wisuda khataman malam ini,karena keempat mukhotim sedang melaksanakan perkemahan pramuka." demikian Kata Kiai Masyhadi.

Sementara itu,ketua tanfidiyah NU ranting Petarukan KH.Misbahuddin dalam sambutannya menegaskan lagi bahwa Nahdlatul Ulama adalah jam'iyah diniyah (ormas keagamaan) dan bukan partai politik.
"NU itu bukan PKB atau PPP,NU itu organisai Islam yang berhaluan akidah Ahlussunnah wal jama'ah,jadi warga NU itu masih di bebaskan dalam memilih partai politik." Demikian kata kiai Misbah.

Pengajian yang juga dihadiri oleh kaum ibu tersebut sampai meluber hingga halaman musholla Nurulhuda penuh oleh pengunjung.
Acara berlangsung cukup khidmat namun sesekali di selingi tawa dan tepuk tangan pengunjung,apalagi ketika Kiai Slamet Saiful memberi sambutan.
Menurut kiai Slamet Saiful,dalam perang kemerdekaan melawan penjajah,keterlibatan KH.Hasyim Asy'ari, para ulama dan santri pesantren sangatlah dominan,termasuk penetapan tanggal 17 Agustus 1945 yang di jadikan hari dibacakannya naskah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia adalah atas inisiatif dan saran dari KH.Hasyim Asy'ari,pendiri Nahdlatul Ulama kepada presiden Soekarno.namun,sejarah sengaja menutup-nutupi keterlibatan dan kiprah ulama dalam memerdekakan bangsa.
"Dulu surban KH.Hasyim Asy'ari bisa buat menjatuhkan pesawat penjajah,dan menyuruh tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan,kalau saya gak ngomong sampeyan gak tahu,soalnya sejarah sengaja tidak menuliskan ini." Demikian urai kiai Slamet.

Sementara itu,sesepuh Petarukan, KH.Mubarok yang datang ditengah acara kebagian menutup acara dengan do'a.

6.8.10

Jelang Pemilukada Pemalang: Urusan Politik Jangan Sampai Mengganggu Kekhusukan Berpuasa


Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Kabupaten Pemalang, terutama para elit politik hendaknya bisa mengurangi syahwat politiknya.
Hal itu guna menghindari friksi horizontal atau ketegangan politik di saat warga masyarakat sedang menjalankan ibadah puasa,sehingga tidak mengganggu kekhusu'annya.
   “Semua elit politik diharapkan untuk bisa mengurangi syahwat politiknya dalam bulan suci ramadhan nanti,” kata anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Kabupaten Pemalang Ujianto MR kepada Radar, di gedung dewan, Kamis (5/8) kemarin.

Ujianto mengajak seluruh masyarakat Pemalang terutama para elit politik mengendapkan pikiran-pikiran politik, dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan.
“Suasana politik Pemilukada yang kini sedang terjadi, semua elit politik hendaknya menggunakan cara berpolitik santun yang berbekal pada persatuan dan kesatuan.Tanpa meninggalkan nilai- nilai kebersamaan yang ada di masyarakat Pemalang.” pesan Uut, panggilan akrab Ujianto.

Lebih lanjut Uut mengatakan, bicara soal ketegangan politik yang kerap kali terjadi dalam suasana Pemilukada itu semua kembali pada person atau sikap orang perorang, yang semestinya untuk tidak perlu terjadi. Apalagi untuk bisa menjaga situasi politik di bulan suci Ramadhan yang tetap kondusif. Itu adalah harapan semua masyarakat Pemalang.
“Moratorasi ini sebagai bentuk rasa kebersamaan untuk membuka atau menggalakan kegiatan-kegiatan bernilai positif guna mengisi bulan suci ramadhan tahun ini. Salah satunya menggalakan kegiatan tarawikh keliling (tarling),” ujarnya.
“Kegiatan tersebut, juga hendaknya jangan dijadikan sebagai alat politik, meskipun dilihat dari sisi politik kegiatan itu syah-syah saja, ” tambahnya.Tetapi,lanjut Uut, saat bulan suci ramadhan tentunya jangan hanya berfikir politik saja. Yang perlu diingatkan, pada bulan suci ramadhan harus ada pembatasan wilayah. Jangan sampai semua dirambah dengan urusan politik.
“Masyarakat jangan diracuni dengan urusan politik, agar mereka itu bisa menjalankan puasanya dengan baik dan khusu',” tandasnya. (mg1)radartegal.com

World Islamic Call Minta Umat Jauhi Islam Radikal


Direktur Utama World Islamic Call Society (WICS), Dr M Ahmad Syarif mengajak seluruh umat Islam di seluruh dunia khususnya para da’i yang diwisuda pada hari tersebut agar menghindari pola sikap yang ekstrim dan radikal.

Menurutnya, umat Islam saat ini sedang menghadapi berbagai macam tantangan dan serangan dari berbagai pihak, di dalam maupun di luar Islam.Ini terkait
dengan adanya kelompok Islam yang bersikap diluar aturan ajaran agamanya sendiri.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung tindakan penyelewengan terhadap Islam yang akhir-akhir ini dilakukan oleh Barat berupa pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW, tindakan yang sama sekali melecehkan Islam, tidak mengindahkan kebebasan beragama dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).
  “Kita seharusnya kembali mengevaluasi diri serta memperbaiki citra Islam yang selama ini telah dinodai oleh beberapa kalangan tertentu di seluruh belahan dunia,” katanya dalam acara wisuda mahasiswa kampus International Islamic Call College (IICC), Tripoli Libya, Rabu (04/08).

Dari sinilah ormas terbesar di Libya yang dipimpinnya saat ini terus berupaya untuk melakukan agenda-agenda perubahan demi memperbaiki kembali citra Islam di mata dunia, seperti mengusung adanya dialog antar agama.

Agenda ini bermaksud untuk meminimalisir kesalahpahaman diantara umat beragama sehingga kejahatan-kejahatan teroris yang mengatasnamakan agama bisa dicegah.
“Saat ini saja kita sedang berupaya melakukan kerja sama dengan organisasi Kristen dunia untuk terus membuka dialog antar agama,” jelasnya.

Di samping itu, ormas yang telah meresmikan Qadhafi Islamic Center di Sentul Bogor ini akan terus melakukan kerja sama dengan berbagai ormas lainnya di seluruh dunia guna membangun Islam yang rahmatan lil “alamin. (fhn/NU Online)

4.8.10

Mendampingi Imam Santoso,Artis Torro Margens Resmi Maju Jadi Cawabup Pemalang


Torro Margens artis ibu kota asal Pemalang, Senin (2/8) kemarin resmi maju dalam bursa pencalonan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) tahun 2010 di Kabupaten Pemalang.
Munculnya pasangan balon bupati dari kalangan artis melalui jalur Independent ini nampaknya akan membuat suasana Pemilukada ini semakin demokratis.

Sementara pencalonnya sebagai balon wakil bupati (G2) yang berpasangan dengan balon bupati Imam Santoso itu telah ditandai dengan bukti penyerahan berkas dukungan  pasangan balon bupati perseorang di KPU setempat.
Dalam pantaun Radar, Senin malam kemarin di KPU setempat,dalam memasuki tahapan penyerahan berkas dukungan balon perseorangan kali ini rupanya berlangsung cukup ramai. Sebab kehadiran tokoh film antagonis ini ternyata betul-betul serius maju dalam Pemilukada, meskipun sebelumnya sempat diisukan tidak jadi maju.
Namun pada hari itu saat batas waktu akhir penyerahan berkas dukungan, tiba-tiba muncul artis film Torro Margens yang asli orang Kelurahan Paduraksa,Kecamatan Pemalang dengan penuh semangat dan kesiapannya serta rasa keoptimisannya akan mampu memenangkan Pemilukada nanti.

Pasangan balon bupati kalangan artis ini mendapat kesempatan untuk menyerahkan berkas dukungan kepada KPU yang secara langsung diterima oleh Ketua KPU Pemalang HM Arief Efendi SSos.
Setelah berkas itu diterima,oleh KPU dilakukan ferifikasi faktual dengan menghitung rekapitulasi dukungan di masing-masing kecamatan dengan batas minimal 3 persen dari jumlah penduduk Kabupaten Pemalang sebesar 41.879 dukungan suaranya yang tersebar di minimal  8 kecamatan.

Balon wakil bupati Torro Margens mengatakan, alasan dirinya maju dalam Pemilukada ini tidak lain karena keinginan masyarakat Pemalang untuk maju bukan mencalonkan diri tetapi dicalonkan masyarakat melalui jalur independent atau perseorangan dengan menduduki posisi sebagai G 2.
  “Kami siap maju dalam pencalonan Pemilukada ini karena keinginan masyarakat bukan karena keinginan saya sendiri,” katanya.

Dalam tahapan penyerahan berkas dukungan pasangan balon bupati saat memasuki hari terakhir selain pasangan bupati Iman Santoso- Torro Margens  juga ada dua pasangan balon bupati lainnya yaitu pasangan Drs Heri Santosa-Agustina Sri Rahayu dan satunya lagi adalah Heru Gunawan- H Churaifisys.

Sementara dalam acara penyerahan berkas dukungan balon bupati perseorang tersebut cukup membuat KPU bersama jajaran sekretariatanya disibukan dengan pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan perlunya sikap kehati-hatian.
Sebab sesuai aturan berkas dukungan yang akan dilakukan ferifikasi  faktual secara fisik yang telah disiapkan balon dan tidak diperbolehkan menambah dukungan baru setelah batasan waktu ditentukan tepat pukul 00.00 WIB. Sehingga harus benar-benar teliti dan serius dalam melakukan pekerjaanya.

Disisi lain Panitia Pengawas Pemilukada Kabupaten Pemalang juga ikut mengawasi dalam jalannya tahapan penyerahyan berkas tersebut dengan ketat hingga tahapan itu selesai. (mg1)www.radartegal.com

Kiai Said Aqil di Petarukan Pemalang: Ahlussunnah Wal Jama'ah itu "Jalan Tengah" Para Ulama


"Ahlussunnah Wal Jama'ah itu diciptakan oleh ulama-ulama yang tidak berpolitik dan tujuannya untuk menjaga kelestarian ilmu agama Islam" Kata KH.Said Aqil Siradj dalam sambutannya pada acara Khotmil Qur'an dan Pelantikan pengurus NU ranting Petarukan di halaman Pondok pesantren Nurul yaqin Keboijo Petarukan pada Selasa (03/08/10).

Pada kesempatan itu kiai Said juga kembali menegaskan pentingnya seorang ulama untuk menjaga keberlangsungan pendidikan Agama Islam. "Jangan semuanya maju menjadi politisi,menjadi aktivis LSM,menjadi polisi dan lain,harus ada ulama yang tetap didalam rumah khusus untuk menjaga ilmu agama" tandas ketua umum PBNU tersebut.

Dalam sesi ceramahnya,Doktor lulusan universitas Ummul Quro Mesir itu juga menjelaskan secara rinci sejarah pembentukan Ahlussunnah wal jama'ah, serta carut marut politik-politik sempalan paska wafatnya sayyidina Ali ketika itu.
"Seharusnya begini seorang Da'i memberikan ceramah dalam pengajian,jangan melulu menceritakan malaikat Munkar-Nakir yang bermata besar serta membawa palu besar,semua orang Pemalang sudah tahu." Kata kiai Said disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.


Pada sesi terakhir mauidhohnya,Kiai sufi asal Kempek,Cirebon itu kembali mengingatkan pentingnya menafsirkan secara benar pemahaman tentang Jihad -mungkin Pak Said tahu betul beliau sedang ceramah di kampungnya Dulmatin-
Sembari menukil sebaris kalimat dari kitab Fathul Mu'in,Kiai yang juga mendalami Kristologi itu menjelaskan bahwa mengamalkan ajaran islam secara ikhlas tanpa paksaan adalah jihad,berpola hidup sehat,melaksanakan haji juga termasuk jihad.
"Jadi jihadnya Fathul mu'in itu berbeda dengan jihadnya Abu Bakar Baasyir!" Sindir kiai Said disambut tawa pengunjug.

2.8.10

HAFLAH AKHIRUSSANAH Ponpes Nurul Yaqin Bersama KH.Said Aqil Siradj Di Petarukan Pemalang

Dalam rangka Khotmil qur'an dan Haflah Akhirissanah Pondok Pesantren NURUL YAQIN Keboijo Petarukan sekaligus Pelantikan pengurus ranting NU Petarukan,Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH.Misbahudin tersebut di jadwalkan menghadirkan Ketua umum PBNU KH.Said Aqil Siradj.
Selain itu,dalam acara yang dikemas dalam pengajian akbar tersebut juga turut dimeriahkan oleh Hadhroh dari Jam'iyah maulid Simthudduror se-cabang Pemalang.
Rencananya,pengajian tersebut akan dilaksanakan pada Selasa (03/07/10) pada pukul 1 siang (ba'da dhuhur).pada pantauan hari Senin sehari sebelumnya,di lokasi bakal acara yang bertempat di Jalan Raden Saleh tampak panitia sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk kelancaran acara tersebut.

1.8.10

4 G Didepan Mata,Produsen Tetap Siapkan Modem WiMax


Meskipun operator Seluler bersiap dengan 4G, tetapi WiMax dinilai memiliki pasar tersendiri.Produsen pun siap-siap menyediakan modem WiMax.
“Indonesia masih miliki pangsa pasar yang besar untuk diberikan layanan internet. Internet akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.Kami sendiri telah berencana untuk bekerja sama dengan WiMax,” ujar Rahmad Widjaja Sakti, Direktur Produk dan Marketing perangkat modem merek SpeedUp, di Jakarta.

Gaya hidup mobil konsumen saat ini sudah lebih maju dibandingkan beberapa tahun yang lalu.
Menurut Rahmad, Saat ini orang sudah mampu mengoptimalkan penggunaan layanan-layanan internet dalam kehidupan sehari-hari.

Meski layanan 4G semakin di depan mata, namun Rahmad menilai bahwa maraknya teknologi yang ada tidak akan mengganggu satu dengan yang lain.
“Baik WiMax atau 4G akan meramaikan teknologi komunikasi di Indonesia.”

Agus Setia Budi, Deputy VP Channel Management Telkomsel menilai tren penggunaan internet untuk kehidupan sehari-hari ke depannya akan makin dominan.
”Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya pemakai layanan internet yang meningkat separuh dari jumlah konsumen tahun 2009 ".

Rahmad mengakui bahwa penetrasi internet di Indonesia masih kurang,dari 5 juta potensi market yang ada di Indonesia, Telkomsel berambisi untuk mendapatkan konsumen setidaknya 30 % potensi market tersebut.

WiMAX adalah salah satu teknologi broadband wireless access (BWA) seperti WiFi namun mempunyai kecepatan transfer data lebih tinggi (Max 75 Mbps) dan jangkauan yang lebih luas (Max 50 Km).

WiMAX merupakan teknologi BWA yang mengacu pada standar IEEE 802.16.
Ada beberapa teknologi pendukung yang menyebabkan WiMAX mempunyai datarate dan jangkauan yang lebih bagus dibanding WiFi maupun BWA yang lain, yaitu teknologi OFDM, OFDMA, SOFDMA, Smart antenna, power control, FEC, serta adaptive modulation.(inilah.com/sumber)

Get this blog as a slideshow!